Apakah Puisi Bisa Dibatasi

Apakah Puisi Bisa Dibatasi?  (Oleh  Thobroni dosen UBT)

Kita sering melihat sebuah ungkapan yang indah, baik kata-kata tokoh, ujaran bijaksana, atau peribahasa. Lantas kita menulis dan menempelkannya di buku tulis, kertas, atau dinding kamar. Apakah tulisan itu bisa disebut puisi? Ketika kamu menerima SMS dari pacar yang berisi rangkaian kata indah, yang membuatmu terus memikirkannya sepanjang hari, apakah itu yang disebut puisi? Atau, kamu bertemu puisi itu ketika berbicara dengan Taufik Ismail dan Rendra, meskipun yang mereka ucapkan adalah sekadar sapaan?

Banyak puisi menari-nari di dunia yang dihuni manusia ini. Kita seringkali mendengar atau membaca puisi di buku-buku, koran, majalah, pentas drama, iklan, film. Bahkan kita membaca puisi dalam pikiran kita. Begitu banyak puisi yang kita temui, tapi apakah pandangan semua orang tentang puisi sama? Apakah kita punya batasan untuk sesuatu yang pantas disebut puisi? Atau mengapa sebuah puisi disebut indah sementara puisi yang lain disebut kurang indah atau tidak indah? Banyak pertanyaan yang akan muncul seputar puisi, yang semuanya bermula dari pertanyaan: Sebenarnya apa sih puisi itu?

Pertanyaan itu terdengar mudah, tetapi sebenarnya sulit. Kita dengan mudah dapat menentukan sesuatu sebagai puisi, bukan cerpen atau pantun. Alas an yang kita ajukan ialah ciri khas tipografi (bentuk rangkaian kata dan tulisan) dan jumlah serta pilihan kata yang menyusunnya. Pada puisi lama seperti pantun, kita menjumpai bahwa puisi disusun atas beberapa bait yang tiap bait terdiri dari empat baris, bersajak a-a-a-a, keseluruhannya berupa isi.

Misalnya puisi karya Hamzah Fansuri berikut:

BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM

Subhanallah terlalu kamil

Menjadikan insan alim dan jahil,

Dengan hambanya daim Ia wasil

Itulah Mahbub bernama Adil.

Mahbub itu tiada berlawan,

Lagi alim lagi bangsawan,

Kasihnya banyak lagi gunawan,

Aulad itu bisa tertawan.

Dunia nan kau sandang-sandang,

Manakan dapat ke bukit rentang,

Angan-anganmu terlalu panjang,

Manakan dapat segera memandang.

Hamzah miskin hina dan karam,

Bermain mata dengan Rabbul Alam,

Selamanya sangat terlalu dalam,

Seperti mayat sudah tertanam.

Rupamu zahir kau sangka tanah,

Itulah cermin sudah terasah,

Jangan kau pandang jauh berpayah,

Mahbubmu hampir serta ramah.

                   (Hamzah Fansuri)

 Pada zaman yang lebih mutakhir, puisi biasanya bersusun dalam baris-baris yang tidak penuh, terpenggal-penggal. Kalimatnya tidak utuh. Menggunakan bahasa yang indah, penuh metafora, dan jika dibacakan akan membangkitkan efek tertentu, perasaan tertentu, yang dalam sastra disebut intuisi estetis.

            Bila definisi seperti itu yang dilekatkan pada puisi, lantas bagaimana dengan puisi berikut ini?

KARENA JAJANG

tuhan

saya minta duit

buat beli sugus

karena jajang

lagi doyan sugus

                 (Selamat Pagi, Jajang, Afirin C. Noor)

 

Puisi ini ditulis Arifin C. Noor untuk istrinya, Jajang C. Noor, dikumpulkan bersama 17 puisi lainnya dalam antologi Selamat Pagi, Jajang. Antologi puisi ini adalah mas kawin yang diberikan Arifin C. Noor ketika menikahi Jajang. Tidak ada bahasa-bahasa yang indah, tidak pula tertulis metafora, apa yang dimaksudkan oleh penyair tertulis dengan lugas, padat dimengerti dalam sekali baca. Namun tetap saja rangkaian kata itu disebut puisi.

Bahkan sebuah puisi tidak selalu berupa kata. Danarto menuliskan puisinya dalam bentuk kotak segi empat yang di dalamnya mengandung sembilan kotak segi empat. Seiring dengan berkembangnya zaman, penyair pun berkeinginan untuk keluar dari belenggu “kesepakatan umum alias konvensi sastra”. Para sastrawan ingin terbang liar dengan imajinasinya dan melakukan eksperimen meramu komposisi puisinya sendiri. Pada akhirnya sastra berkembang secara dinamis. Karena itu, banyak pula yang mengatakan bahwa tidak ada batasan pasti dalam puisi. Seorang budayawan, dosen, sekaligus penyair bernama Suminto A. Sayuti mengungkapkan bahwa ‘puisi merupakan karya yang terikat’. Namun, tidak ada penjelasan mengenai keterikatan itu, batasan itu tidak dapat mencakupi semua ragam dan corak puisi yang ada.

Sebagian penyair menulis sendiri definisi puisi bagi mereka. Definisi ini tentu saja bersifat terbatas, tidak universal.

INTERPRETASI

Sajak adalah tangan-tangan yang bekerja

Sajak adalah parang penebas hutan

Sajak adalah cerana

Sajak adalah kelapangan

Sajak adalah kerendah-hatian

Sajak adalah angin menepuk kuping

Sajak adalah suara jangkrik malam hari

Sajak adalah kabut di pelupuk mata

                   (Rusli Marzuki Saria)

Puisi tersebut mengungkapkan bahwa sajak adalah buah kerja tangan yang mampu menebas lebatnya hutan rimba. Ia adalah cerana (tempat ludah) para penyair untuk meludahkan imajinasi dan gagasan. Ia adalah kelapangan dan kerendah-hatian jiwa, ia serupa angin yang menepuk kuping atau merdu suara jangkrik di malam hari bagi pendengarnya. Ia juga merupakan kabut di pelupuk mata yang melihatnya.

Pada dasarnya puisi adalah pernyataan jiwa dan refleksi pengalaman batin setelah diolah secara total dan berkesinambungan. Karena itu, karya sastra yang dapat bertahan lama dan menjadi masterpiece pada hakikatnya adalah suatu moral, baik dalam hubungannya dengan sumbernya maupun dengan orang-seorang. Ssatra terlibat dalam kehidupan dan menampilkan tanggapan evaluatif terhadapnya, dan dengan demikian sastra adalah eksperimen moral. Oleh karena itu pula sastra dapat didekati sebagai kekuatan material yang istimewa dan sebagai tradisi, yaitu suatu kecenderungan spiritual maupun kultural yang bersifat kolektif. Bentuk dan isi karya sastra yang demikian dapat mencerminkan perkembangan perubahan yang halus dalam watak kebudayaan.

Puisi di bawah ini kiranya dapat merangkum pembicaraan kita.

BELANTARA INI TERLALU GELAP UNTUK DIJELAJAH

apa yang kaucari?

dalam belantara ini?

sebuah nama

atau sebuah makna?

belantara ini terlalu gelap

untuk dijelajah.

                        (Dinullah Rayes)

Antara Penyair dan Puisi

Penyair adalah orang yang menulis puisi, itu sudah pasti. Namun bagaimana hubungan antara penyair dan puisi? Bagaimana penulis menulis puisi? Untuk apa? Mengapa? Hal inilah yang menjadi pokok pembahasan kita selanjutnya.

Karya sastra merupakan media bagi pengarang untuk memberikan tanggapan terhadap lingkungannya, selain itu juga dapat memberikan pengertian yang dalam bagi penikmatnya tentang realitas-realitas yang disajikannya. Kenyataan demikian akan tampak semakin penting jika karya sastra yang hadir dapat dinikmati secara lebih meluas dan intensif oleh anggota masyarakat.

Penyair menangkap peristiwa, menghayati, kemudian menuliskannya dalam sebuah puisi. Sebuah puisi tidak mungkin berasal dari ketiadaan. Seorang pakar bernama A. Teeuw menyatakan, sastra tidak pernah ditulis dari kekosongan budaya. Selalu ada stimulus yang memicu seorang penyair menulis puisi. Pada umumnya penyair selalu menghayati hidup dan kehidupan ini dengan intens. Karena itu ia sering menemukan misteri-misteri kehidupan itu dan mencatat dalam puisi-puisinya. Pengalaman-pengalaman hidup yang dilalui dan dihayatinya itu dituangkan dalam lirik-lirik puisi yang manis, yang menyenandungkan gerak sukmanya yang dekat dengan alam.

Setiap orang cenderung hendak mengekalkan berbagai pengalaman; merekamnya dalam wujud estetik. Contoh nyatanya, ketika seseorang sedang jatuh cinta, ia tiba-tiba menjadi romantis, puitis, gemar menulis kata-kata indah, merangkai hingga membentuk puisi. Dengan demikian, praktis dia seorang penyair. Meskipun seringkali puisi-puisi ini disebut picisan oleh kritikus. Mengapa? Karena puisi tersebut tidak melalui proses perenungan yang mendalam, hanya menuangkan gejolak jiwa. Namun keberadaannya tidak bisa dipungkiri. Ungkapan kejujuran seseorang menjadi dasar terbentuknya puisi.

Slamet Muljono mengungkapkan bahwa keindahan dalam seni adalah kenikmatan yang diterima oleh pikiran; dan kenikmatan itu bisa hadir bila ada keakraban antara subjek dan objek, antara pesona pemikat dan yang dinikmati. Jadi bahasa sendiri yang merupakan sarana komunikasi selalu ditandai oleh unsur rasa yang mengacu kepada pengalaman dan ekspresi estetik, dan unsur pikiran yang mengacu pada kerja intelektualitas. Lebih jauh lagi, NG Chernysevski mengemukakan bahwa ide penciptaan artistik biasanya tidak dibangkitkan dalam pikiran si seniman oleh hasrat menciptakan keindahan semata; seniman yang pantas disebut seniman selalu berkeinginan menyampaikan kepada kita lewat karya-karyanya itu: pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, perasaan-perasaan. Sebab bukan hanya keindahan yang diciptakannya.

Seluruh umur hidup manusia merupakan perjuangan yang tak habis-habisnya, perjuangan untuk memenangkan suatu ideal, suatu cita-cita yang dirancang demi indahnya hari depan. Namun perjuangan itu bukan satu-satunya yang ditempuh dan dijalani, sebab manusia sendiri terdiri dari badan jasmani dan badan rohani. Penyair menuangkan perjalanan fisik dan batin dalam bentuk yang kreatif, di mana penyair menampilkan tanggapan dan renungannya terhadap suatu masalah atau kejadian, terhadap peristiwa alam dan situasi sosial tertentu.

     TELAH BANYAK KUTULIS
Telah banyak kutulis tentang langit
tentang laut, angin dan gunung
telah banyak kutulis tentang hidup,
tentang maut, lara dan untung;
Telah banyak
Dan masih akan kutulis tentang langit,
tentang laut, angin dan burun-burung;
tentang hidup, mati dan tentang cinta
yang memberikan harapan dan kepercayaan
membangkitkan manusia
dai lembah putusasa
dan menjalankan hidup lebih berwarna
                                         (Ajip Rosidi)

Sutan Takdir Alisahbana mendefinisikan puisi sebagai seni perkataan yang mesra. Mengapa? Sebab puisi merupakan ekspresi jiwa penyairnya secara merdeka. Penyair bisa menyatakan pengalaman fisik dan batinnya dalam kata-kata yang ekonomis, intens, magis atau bertuah; persaksian dirinya sebagai kreator dan inovator. Seorang penyair tidak begitu saja membiarkan setiap peristiwa berlalu, mereka sadar bahwa detik yang berlalu tak mungkin kembali. Maka mereka berusaha merekonstruksi kejadian dalam imajinasi.

Banyak alasan untuk menulis puisi. Seorang yang sedang jatuh cinta menuangkan perasaannya yang menggelora dalam rangkaian kata hingga menjadi puisi. Orang yang baru ditinggal seseorang yang dicintainya, menggambarkan duka lara dalam bait-bait puisi. Kegelisahan ketika melihat anak jalanan terpanggang matahari menjelma jadi puisi. Melihat senja membakar cakrawala, lahirlah puisi. Dan lebih banyak lagi alasan untuk menulis puisi.

Ketika ditanya mengapa menulis puisi, Taufik Ismail selalu menjawabnya dengan puisi:

DENGAN PUISI, AKU

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk

Nafas zaman yang busuk

Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya

(Taufik Ismail)

 

Puisi bukan hanya rangkaian kata tanpa arti atau rayuan gombal. Puisi adalah nyanyian yang terus disenandungkan hingga menutup mata. Puisi adalah sarana untuk mengungkapkan cinta yang tak pernah sirna. Cakrawala tidak punya batas; ia adalah lambang keindahan yang abadi. Masa setelah kehidupan adalah misteri. Manusia tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi ketika menghadap Sang Pemilik. Maka dengan puisi, Taufik Ismail coba meraba bagaimana kira-kira ia akan menghadap Sang Penguasa Jiwa. Ketika bersedih, manusia butuh penopang untuk membuatnya tetap berdiri. Dan puisi adalah kawan yang tak pernah mengeluh. Senada dengan Rusli Marzuki Saria, puisi adalah cerana, sebuah wadah untuk memuntahkan berbagai kegelisahan dan kutukan. Itu bisa terjadi ketika seorang penyair tidak dapat mengubah zaman dengan kekuasaannya. Sebagai penutup, Taufik Ismail menulis, Dengan puisi aku berdoa/ Perkenankanlah kiranya. Kita pun berdoa, semoga para penyair tidak kehilangan kepekaan untuk mengkritisi zaman ini.

Berpuisi Ialah Perjalanan Mengasah Nurani

Oleh  Thobroni  (Dosen UBT)

Apakah kamu pernah membaca tulisan berjalan di bagian bawah layar televisi dalam sebuah acara konser musik? Acara itu disiarkan sebuah televisi swasta setiap minggu. Seringkali beberapa penyanyi atau grup band ternama dihadirkan untuk mendendangkan lagu-lagunya yang sedang hits. Nah, saat konser itu, di bagian bawah layar akan terlihat pesan atau kesan yang berjalan beriringan. Selain pesan dan kesan yang dikirim para pemirsa melalui short massage service (SMS), kata-kata di bagian bawah layar juga berisi request lagu, dan ucapan salam kepada sahabat, pacar, orang tua, penyanyi, atau tokoh yang mereka kenal. Kalian yang ingin kirim SMS, tinggal menulis nomor lagu dan kesan-pesan. Maka, di layar akan tertulis begini: “…(no. lagu), aku suka lagu ini karena lirik lagu ini sesuai banget ma suasana hatiku. …(nama penyanyi atau band) emang keren banget!” Kita juga sering menyaksikan kalimat-kalimat lain yang senada.

Apa hal menarik dari fenomena di atas? Ya. Ternyata banyak orang suka lagu karena syair lagu tersebut mencerminkan perasaan yang dialaminya. Nah, begitu pun dengan puisi, kita sering merasa sreg dengan puisi yang “mampu memahami jiwa kita”. Kita sering terhanyut saat membaca puisi, karena puisi seperti berkisah tentang masalah kita. Puisi juga serasa membawa kita menuju kenangan-kenangan, hari-hari yang telah lalu, atau memberi spirit untuk kehidupan yang lebih baik.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Karena berpuisi dapat membawa seseorang pada perjalanan mengasah nurani. Dengan menulis atau membaca puisi, seseorang dibawa menuju ruang sunyi. Di situ ia merangkum peristiwa, perasaan, idealisme, harapan, mimpi, bahkan “kegilaan”. Puisi menggugah kesadaran untuk peduli pada dunia sekitar.

Misalnya penggalan puisi berikut ini:

biarkan aku di sini

bersama kebebasan

yang kubuat sendiri

bersama bendera

yang kukibarkan tanpa

lagu kebangsaan

saat berlari mengejar bus kota,

saat menyanyi di tengah kota,

dan saat tertidur di sudut-sudut

jalan berdebu

aku sesungguhnya lelah

dan terpenjara

….

(Adde Marup WS)

 

Apa yang ingin disuarakan puisi tersebut? Yaitu menggugah kesadaran kita tentang nasib anak jalanan. Anak jalanan itu berlari mengejar bus kota/ menyanyi di tengah kota/ tertidur di sudut-sudut jalan berdebu. Di tengah penderitaan hidup, ia tetap merasakan adanya kebebasan. Mengapa bisa begitu? Karena puisi tidak dilahirkan dari ruang angkasa, tetapi diciptakan berdasar pergulatan penyair dengan keadaan di sekitarnya. Penyair juga menyimak dan merenungkan masalah sosial, politik, ekonomi, agama, dan sebagainya. Di zaman sekarang, anak jalanan dapat dengan mudah ditemukan di tengah kehidupan masyarakat kota. Keberadaan mereka semakin bertambah dari tahun ke tahun. Nah, puisi di atas, ingin mengajak kita untuk menyelami kehidupan mereka, ikut merasakan penderitaan mereka. Dengan menghayati puisi itu kita dididik untuk tidak hanya mampu mengutuk mereka sebagai peminta atau pengemis. Kata puisi di atas, anak jalanan adalah manusia yang lelah dan terpenjara.

Puisi di atas menunjukkan kepada kita, bahwa penyair adalah sosok yang berbeda dengan manusia biasa. Maksudnya, dalam melihat sesuatu, atau masalah tertentu, penyair memiliki cara pandang yang berbeda dengan manusia umumnya. Lantas, ia merenungkan dan menuliskannya dalam bentuk puisi. Seperti bungkus pasta gigi. Bagi orang biasa, mungkin dianggap sebagai benda biasa. Saat isinya habis, bungkus pasta lantas dibuang. Berbeda dengan seorang perajin, bungkus pasta gigi mungkin akan dijadikannya sebagai bahan kerajinan seperti tas dompet, keranjang, dan sebagainya.

Begitulah ibarat yang tepat bagi seorang penyair. Di tangan penyair, kata-kata yang dipungutnya dari kehidupan sehari-hari, dari perbincangan dengan orang lain, dapat digunakannya sebagai manik-manik perhiasan yang indah. Mungkin di mata kita, kata-kata yang berhubungan dengan pelacur, pedagang kaki lima, koruptor, demonstran, guru, dan sebagainya itu bermakna biasa. Tetapi, bila digunakan oleh penyair dalam sebuah puisi, kata-kata itu bisa berubah dahsyat, seperti mata pedang yang amat tajam, seperti pidato rahib yang menggetarkan jiwa, atau seperti lantunan lagu puitis yang indah menawan. Seperti kisah seorang ana jalanan yang meniti jembatan penyebarangan. Kita menangkapnya biasa. Tetapi, seorang penyair akan menangkap dan memaknainya sebagai perjalanan meniti perjuangan hidup. Itulah perjalanan mengubah takdir, meraih kehidupan yang lebih baik, bahkan mungkin surga. Nah, menakjubkan bukan?

Maka, sering disebut bahwa penyair adalah sosok pencari yang tak pernah usai. Atau peziarah yang tak pernah lelah. Ia akan selalu gelisah, galau, resah, menjelajahi alam ragawi (fisik) dan alam bathin (nonfisik). Ditelusurinya ruang dan waktu kehidupan hingga tersingkap tabir kehidupan. Berbagai kesan perjalanan hidup itu direkam, dihayati, dan direnungkan penyair. Lantas, dengan penuh emosional kesan itu dituangkannya dalam puisi yang dirangkum secara menakjubkan. Karena itu, sering dikatakan bahwa orang yang sedang jatuh cinta, putus cinta, atau sedang dilanda keprihatinan hidup yang amat hebat lebih mudah menciptakan puisi. Mengapa? Karena jiwanya sedang dilanda keresahan yang amat sangat, yang memudahkannya merangkai kata-kata penuh makna. Penyair tidak sembarangan mengambil kata yang ditemuinya dari setiap pengalaman, penglihatan dan perasaan. Sebagai sosok kreatif, ia harus memilah dan memilih mana kata yang bermakna untuk menimbulkan kesan imajinatif dalam puisi.

Untuk itu, rasanya tidak berlebihan bila Albert Einsten, fisikawan paling tersohor abad 20, menyatakan bahwa “Imajinasi lebih berarti dari ilmu pasti”. Mengapa? Karena ilmu pasti yang tidak dilandasi sikap arif bijaksana hanya menjadi sumber bencana. Sementara puisi adalah sumber kearifan yang tiada habis, yang mengajak orang melakukan perjalanan mengasah nurani. Melalui puisi itu, penyair mengabarkan kegelisahan dan keresahan agar dunia tidak kehilangan kebijaksanaan.

Perbedaan Komunikasi Massa dan Privat

Perbedaan Komunikasi Massa dan Privat

Pengertian Komunikasi Massa menurut Jallaludin Rakhmat adalah jenis/bentuk komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim, melalui media cetak maupun elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Suatu proses yang melukiskan bagaimana komunikator menggunakan teknologi media massa secara proporsional guna menyebarluaskan pengalamannya melampaui jarak untuk mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang banyak.

Sehingga jelas bahwa komunikasi massa memiliki komponen-komponen sebagai
berikut:
1. Komunikator komunikasi massa.
2. Pesan komunikasi massa.
3. Media komunikasi massa.
Media yang dimaksud dalam proses komunikasi massa yaitu media yang
memiliki ciri khas, kemampuan untuk memikat perhatian khalayak secara serempak dan serentak. (pers, radio, televisi dan film).
4. Khalayak komunikasi massa.
5. Filter/regulator komunikasi massa.
Regulator adalah lembaga atau individu yang mewakili lembaga berwenang untuk memberi perhatian atau tekanan kepada media masa. Bedanya dengan filter, regulator berada di luar lembaga media massa. Filter utama yang dimiliki khalayak adalah indera yang dipengaruhi tiga kondisi:
a. budaya
b. psychological (frame of reference dan experience)
c. physical/fisik (internal dan eksternal)
6. Gatekeeper
Gatekeepers dapat berupa seseorang atau kelompok yang dilalui oleh suatu
pesan dari pengirim ke penerima. Fungsi utamanya adalah menyaring pesan
yang diterima seseorang dan menyeleksi isi pesan yang akan dikomunikasikan.
7. Feedback.
Umpan balik yang diberikan penerima pesan kepada penyampai pesan adalah
feedback. Terdiri dari internal feedback, eksternal feedback, representatif
feedback, kumulatif feedback, kuantitatif feedback, institusional feedback.

Setiap komponen di atas memiliki sifat-sifat yang berbeda dari jenis
komunikasi lainnya. Karena itu, kita dapat melihat ciri-ciri khusus dalam komunikasi massa, yaitu:
1. Komunikasi massa berlangsung satu arah.
Ini berarti tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator.
2. Komunikator pada komunikasi massa melembaga.
Misalnya wartawan surat kabar atau penyiar televisi, karena media yang digunakannya adalah suatu institusi, maka dalam menyebarkan pesan mereka bertindak atas nama lembaga. Berarti sejalan dengan kebijaksanaan (policy) surat kabar atau stasiun televisi yang diwakilinya.
3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum.
Mereka tidak akan menyiarkan pesan yang tidak menyangkut kepentingan
umum.
4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan.
Mereka memiliki kemampuan untuk menyebarkan pesan secara serempak dan diterima khalayak secara serempak pula.
5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen
Dalam keberadaannya, komunikan terpencar-pencar, dimana satu sama
lainnya tidak saling kenal dan memiliki beragam perbedaan seperti lokasi,jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita, dan sebagainya.
Jika dilihat dari sisi masyarakat, maka media massa memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan mereka. Yosehp R. Dominick, dalam bukunya Dynamics of Mass Communication menyebutkan fungsi komunikasi massa tersebut, terdiri dari:

1. Pengawasan
Hal ini mengacu pada peran berita dan informasi bagi masyarakat. Orangorang media, yakni para wartawan surat kabar dan majalah, reporter radio dan televisi, koresponden kantor berita, dan lain-lain berada dimana-mana di seluruh belahan bumi demi mengumpulkan informasi untuk masyarakat. Pengawasan yang diberikan dapat terbagi ke dalam dua bentuk pengawasan:

a. Pengawasan peringatan
Bentuk ini terjadi jika media menyampaikan informasi kepada kita
mengenai ancaman letusan gunung api, tsunami, gempa, kondisi ekonomi, inflasi, dan keamanan negara.

b. Pengawasan instrumental
Bentuk ini berkaitan dengan penyebaran informasi yang berguna untuk
kehidupan sehari-hari. Berita tentang harga kebutuhan di pasar, produk anyar, dan pertunjukan/acara suatu wilayah adalah contoh-contoh dari pengawasan ini.

2. Interpretasi
Yang erat kaitannya dengan fungsi pengawasan adalah fungsi interpretasi. Di sini, media massa tidak hanya menyajikan fakta dan data, tetapi juga informasi beserta interpretasi mengenai peristiwa tertentu.
Karena itu di negara maju yang pers-nya sudah diakui keampuhannya dalam menjalani fungsi ini, sering dijuluki sebaga the watchdog. Anjing penjaga yang menggonggong apabila pemerintah/perusahaan/organisasi ingkar terhadap janji mereka pada masyarakat.
3. Hubungan
Media massa mampu menghubungkan unsur-unsur yang terdapat di dalam
masyarakat yang tidak bisa dilakukan secara langsung oleh saluran
perorangan. Hal ini erat kaitannya dengan perilaku seseorang, baik yang positif konstruktif maupun yang negatif destruktif, yang apabila diberitakan oleh media massa, maka segera seluruh masyarakat mengetahuinya.
Jadi, orang-orang yang memiliki kesamaan, tetapi terpisah secara geografis dapat dihubungkan dengan media massa.
4. Sosialisasi
Sosialisasi merupakan transmisi nilai-nilai (values). Media massa menyajikan penggambaran masyarakat. Dan dengan membaca, mendengarkan, dan menonton, maka seseorang dapat mempelajari bagaimana perilaku dan nilainilai yang penting.
5. Hiburan
Fungsi ini memang jelas pada media televisi, film, dan rekaman suara. Namun media seperti surat kabar dan majalah, walaupun fungsi utamanya adalah informasi dalam bentuk pemberitaan, namun rubrik-rubrik hiburan selalu ada, apakah itu cerita pendek, atau bergambar.

Bahkan saat ini media massa sudah ada yang mengkhususkan fungsinya
menyampaikan hal-hal yang dapat menghibur khalayaknya.
Hal lain yang perlu dipahami dari komunikasi massa ini adalah pengertian ranah privat (private domain) dan ranah publik (public domain).
Kedua hal ini umumnya sering disalahartikan. Orang beranggapan bahwa ranah privat berarti informasi-informasi yang sifatnya pribadi. Sehingga tidak harus atau tidak penting untuk menjadi milik masyarakat luas. Sedangkan ranah publik berarti
informasi-informasi yang sifatnya harus diketahui publik. Sehingga kita tidak boleh menahan informasi tersebut, apapun alasannya.
Pemahaman di atas salah. Karena pengertian ranah privat dan ranah publik sebenarnya tidak mengacu pada ‘sifat informasi’ yang dimiliki media massa.
Namun kepada ‘sifat kepemilikan medium’ yang digunakan pengelola suatu media massa tersebut.

Ranah privat mengacu kepada kepemilikan pribadi atas media massa. Dengan kata lain, media cetak merupakan ranah privat, karena pengelola media memproduksi dan memiliki sendiri koran/majalah tersebut sebagai medium mereka. Misalnya:
pemilik Majalah Gatra adalah pemilik tidak hanya lembaga usahanya, tetapi juga fisik majalah tersebut sampai khalayak membelinya sehingga kepemilikan fisik menjadi berpindah tangan.

Sedangkan ranah publik mengacu kepada kepemilikan publik. Dengan kata lain, media radio dan televisi merupakan ranah publik, karena pengelola media hanya memiliki isi siarannya. Namun udara atau frekuensi yang dipakai radio dan televisi sebagai medium penyiarannya adalah milik publik. Misalnya: pemilik Trans TV
hanyalah memiliki lembaga usaha dan isi penyiaran, tetapi frekuensi radio yang digunakan bukanlah miliknya, melainkan milik publik yang diwakili oleh pemerintah.

Karena itulah ranah publik selalu menuntut pengelola siaran untuk menaati peraturan dan mendapatkan ijin terlebih dahulu –dari publik yang diwakilkan pemerintah, sebagai pemilik medium– untuk menggunakan ranah ini. Selain itu,
pengelola siaran juga dituntut untuk mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat agar dapat merebut hati dan perhatian mereka. Hal ini harus dilakukan agar isi siaran yang telah mereka buat tidak terbuang sia-sia.
Sementara pemerintah –yang diwakilkan lembaga tertentu– harus berperan sebagai wakil publik atau filter/regulator, untuk menyaring kepentingan pengelola media yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat.

Bagaimana Berkomunikasi yang Manusiawi

Bagaimana Berkomunikasi yang Manusiawi

Komunikasi manusia itu adalah proses simbolik yang
melibatkan pemberian makna oleh masing-masing peserta komunikasi. Dengan cara pandang demikian, kita akan melihat implikasi yang terjadi dari proses komunikasi tersebut.
1. Faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan komunikasi
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan kita sulit melakukan komunikasi, yaitu:
a. Kurangnya informasi atau pengetahuan (tidak bisa menentukan dengan tepat fokus komunikasi).
b. Tidak menjelaskan prioritas dengan gamblang (tidak bisa menjelaskan mana yang paling penting diantara sejumlah hal).
c. Tidak menyimak (bukan hanya mendengar, tetapi juga meresapkannya
dalam kesadaran diri serta melibatkan diri dalam proses komunikasi
tersebut).
d. Tidak memahami sepenuhnya dan tidak mengajukan pertanyaan.
e. Dalam mengambil keputusan, terlalu menaruh prasangka (hanya berpikir berdasarkan apa yang baik bagi dirinya).
f. Tidak memahami kebutuhan orang lain.
g. Tidak memikirkannya dalam-dalam, terlalu cepat menarik kesimpulan.
h. Kehilangan kesabaran, membiarkan diskusi berubah menjadi ajang debat kusir.
i. Waktu yang singkat (tidak cukup waktu untuk mempertimbangkan dan
memahami cara berpikir orang lain).
j. Suasana hati yang buruk.
Demikianlah, jika salah satu atau lebih faktor di atas terjadi dalam komunikasi kita, maka bisa dipastikan komunikasi kita akan menjadi berat dan sulit. Lebih jauh lagi, komunikasi kita berpotensi untuk gagal (communication breakdown). Sejumlah hal akan kita alami jika ini terjadi.
2. Akibat Kegagalan Komunikasi
Jika kegagalan komunikasi terjadi, maka ada sejumlah masalah yang akan muncul sebagai implikasinya, yaitu:
a. Kegagalan berusaha.
b. Kehilangan niat baik (kegagalan komunikasi terbawa dalam perasaan
sehingga memunculkan kecurigaan).
c. Menurunkan citra perusahaan/lembaga.
d. Tidur berkurang (karena tegang dan dipikirkan terlalu dalam).
e. Antusiasme berkurang (malas untuk melakukan komunikasi selanjutnya).
f. Kesalahan, ketidakefektifan kerja.
g. Produktifitas berkurang dan bermalas-malasan.
h. Harga diri dan kepercayaan diri menurun.
i. Frustrasi dan rasa permusuhan yang memuncak.
j. Ketidaksukaan staf kepada pimpinan.
k. Kreatifitas berkurang.
l. Semangat kerja dan kekompakan tim berkurang.
m. Ketidakhadiran dan apatisme atas pekerjaan.

3. Saringan/filter dalam berkomunikasi
Agar kesulitan komunikasi bisa dihindari, selain faktor yang bisa
menyulitkan, maka kita harus mewaspadai sejumlah filter yang secara
potensial bisa menghambat komunikasi tersebut, yaitu:
a. Evaluasi yang terlalu dini (menilai tanpa bekal informasi yang cukup).
b. Ada hal lain dalam benak anda (tidak berkonsentrasi dan cenderung
membagi perhatian pada hal lain).
c. Kecenderungan untuk cepat mengambil kesimpulan (keterburu-buruan
sebelum semua informasi lengkap diterima dan ditelaah).
d. Prasangka (munculnya stereotype/praduga yang bisa menyebabkan sikap diskriminatif).
e. Pikiran anda mudah menerawang (sulit berkonsentrasi dan cenderung
memanjakan imajinasi daripada memperhatikan komunikasi orang lain).
f. Tidak perhatian (tidak memberikan kadar perhatian yang memadai untuk komunikasi yang sedang dihadapi).
g. Asumsi-asumsi (kita adalah seperti yang kita pikirkan. Kita berpikir, bersikap dan berperilaku seperti apa yang ingin kita pikir, sikap dan perilakukan).
h. Berada dalam situasi penuh tekanan/stress.
i. Kemampuan mendengar yang lemah (tidak melulu melihat siapa yang
berbicara, tetapi lebih menekankan pada apa yang dibicarakan).
j. Memiliki rentang perhatian yang singkat.
k. Gangguan pendengaran.
l. Gagasan-gagasan yang tak dapat diubah (sulit merubah sikap dasar, yang bisa kita lakukan adalah mencoba mengarahkan sikap dasar pada sikap lain yang masih dalam jalurnya).

4. Perbedaan antara apatis, empatik dan simpatik
Dengan melihat pada saringan-saringan yang dihadapi, maka ada suatu sikap dasar dalam berkomunikasi yang penting untuk dikuasai yaitu sikap empatik.Sikap empatik ini, sering disebut dengan prinsip platina (platinum principle),
untuk menunjukkan nilai yang lebih tinggi dari sikap simpatik, yang sering disebut sebagai prinsip emas (golden principle). Sementara yang harus dihindari adalah sikap apatis. Berikut pengertiannya masing-masing:
a. Apatis
“Aku sama sekali tidak perduli”.
Kita tidak dapat berkomunikasi dalam waktu lama atau dengan sangat
baik terhadap seseorang yang sama sekali tidak mempedulikan apapun
yang kita katakan.
b. Simpatik
Kita memperlakukan seseorang sebagaimana kita ingin diperlakukan.
c. Empatik
Kita memperlakukan seseorang sebagaimana orang tersebut ingin
diperlakukan.
Sebagai contoh, misalnya si A, adalah seorang suami yang bekerja sepanjang siang dan malam. Ia keluar rumah pukul 06.00 pagi dan baru kembali ke rumah pukul 21.00 malam. Begitu setiap hari dilakukannya. Pada Selasa pagi, badannya agak meriang, hidungnya tersumbat, dan batuk kecil mulai sering terdengar. Jika si B adalah istri A, apa yang harus dilakukan B?
Jika B apatis, tentu B akan acuh tak acuh saja dan membiarkan suaminya terbaring di tempat tidur.
Jika B simpatik, B akan menyediakan sop hangat, lalu meminta A
memakannya, tidak lama B membawakan obat flu, berikutnya menawarkan
air hangat untuk mandi serta berbagai tawaran dan permintaan yang
menurutnya ‘begitulah seharusnya’ orang yang sakit flu.
Jika B empatik, maka B akan bertanya terlebih dahulu apa yang diinginkan A hari itu, dan B akan membiarkan pilihan A karena bisa jadi dengan kondisi A saat itu merupakan kesempatan yang mahal baginya untuk bisa beristirahat dan tidur seharian.
Bagaimana? Jelas bagi Anda, kenapa sikap empatik lebih tinggi nilainya dari sikap simpatik? Sikap seperti inilah yang cocok diterapkan dalam komunikasi yang mengandung kesetaraan gender. Karena komunikasi seperti ini, menempatkan siapapun dalam perspektif harus kita pahami dengan informasi
yang cukup, jika komunikasi kita ingin efektif, tak peduli apapun atribut sosialnya, termasuk perbedaan gender.

5. Prinsip dasar konsep menang-menang (win-win solution) jika
menghadapi konflik
Sebelum menguraikan bagaimana melakukan konsep “menang-menang” jika
menghadapi konflik, terlebih dahulu akan dikemukakan tiga cara pandang terhadap konflik, yaitu:
a. Cara Pandang Tradisional
Dalam cara pandang ini, konflik adalah sesuatu yang buruk, merugikan
dan menghancurkan. Oleh karena itu, sebaiknya dihindari.
b. Cara Pandang Manusiawi
Dalam cara pandang ini, konflik dipandang sebagai sesuatu yang wajar
karena pada dasarnya manusia itu berbeda. Jadi konflik tidak dihindari, tetapi dihadapi, namun jangan mengundang konflik. Dalam perspektif ini, setiap perbedaan berpotensi menjadi konflik. Perbedaan gender, perimbangan kekuasaan, dan anggaran pusat-daerah, kelas sosial, dan banyak perbedaan lainnya.
c. Cara Pandang Interaksionis
Cara pandang ini melihat konflik sebagai sesuatu yang bukan hanya
wajar, namun baik dan perlu. Sehingga ketiadaan konflik justru
meresahkan. Cara pandang seperti inilah yang relevan dengan konsep
‘manajemen konflik’, karena di dalamnya akan terdiri dari tidak hanya bagaimana menyelesaikan konflik, namun juga merekayasa konflik untuk tujuan menguatkan organisasi atau hubungan yang terjadi. Dalam menghadapi konflik, ada beberapa cara yang biasanya dipilih, yaitu:
a. Menghindar
Cara ini umumnya biasa berada dalam cara pandang tradisional.
b. Mengalah (Akomodatif)
Di sini kita memilih untuk mementingkan kepentingan orang lain dan
meminimalkan kepentingan kita sendiri. Dengan begitu, yang terjadi
adalah ‘kalah-menang,’ dimana kita adalah pihak yang kalah.
c. Bersaing (Kompetitif)
Di sini kita memilih untuk bersaing/berkompetisi dan berusaha untuk
menjadi pemenang, yaitu menempatkan kepentingan kita sebagai yang
utama, dan meminimalkan kepentingan orang lain. Dengan begitu yang
terjadi adalah ‘menang-kalah,’ dimana kitalah yang menjadi pemenang.

d. Berkompromi
Di sini kita memilih untuk sama-sama mengalah dengan pihak lain yang
berkonflik dengan kita. Dengan begitu yang terjadi adalah ‘kalah-kalah,’
dengan kedua belah pihak menjadi pihak yang kalah.
c. Memecahkan Masalah (Problem Solving)
Di sini kita memilih untuk sama-sama menempatkan kepentingan pihak
lain sebagai pemenang. Dengan kata lain, kedua belah pihak bersepakat untuk ‘menang-menang.’
Agar prinsip menang-menang itu terwujud, maka perlu dilakukan cara-cara berikut ini:
a. Saling menghargai, tidak bersifat ego-sentris, baik atas dasar kekuasaan, gender, atau pendidikan.
b. Mencari persamaan dasar, kepentingan apa yang bisa mempertemukan
tujuan bersama.
c. Menetapkan kepentingan, keinginan, dan kekhawatiran bersama.
d. Jika perlu, definisikan kembali permasalahan atau hal yang tidak
disepakati.
e. Memusatkan perhatian pada suatu hasil yang dapat diterima semua pihak.
f. Memberikan pilihan-pilihan dan tetap fleksibel atas kemungkinan untuk berubah.
g. Biarkan pikiran Anda selalu terbuka, terutama atas alternatif-alternatif penyelesaian dari kedua belah pihak.
h. Bersikap positif, tidak negatif.
i. Bekerjasama menyelesaikan masalah.
j. Hapus kata ‘tetapi’ dari kosa kata Anda. Orang lain pasti akan tidak nyaman jika Anda selalu menyatakan ‘tetapi’ atas pendapatnya.
k. Jika pendekatan Anda tidak berhasil, gantilah. Jangan putus asa untuk mencoba argumentasi baru yang lebih meyakinkan.
l. Tarik napas panjang. Barangkali itu akan membuat ketegangan Anda
mengendur.

6. Tingkah laku yang dapat mempengaruhi situasi komunikasi menjadi
sulit atau tidak.
Dengan memperhatikan pembahasan sebelumnya, maka dalam berkomunikasi
sebaiknya kita membuat situasi komunikasi menjadi menyenangkan bagi
pihak lain yang berkomunikasi dengan kita. Kita berusaha agar tingkah laku kita dalam berkomunikasi, tidak membawa kita ke dalam situasi komunikasi
yang menyulitkan. Berikut perbedaan antara tingkah laku yang menolong dan yang tidak menolong terhadap situasi komunikasi yang menyenangkan.
a. Tingkah laku menolong
1) Memusatkan pembicaraan hanya pada satu topik.
2) Bersabar.
3) Menjelaskan apa yang sedang didiskusikan dan mengapa.
4) Menyimak.
5) Menghormati pendapat orang lain.
6) Membuka segala keluhan dan permasalahan.
7) Ingin mencapai kesepakatan.
8) Memusatkan perhatian pada apa yang Anda setujui.
9) Memusatkan perhatian pada apa yang Anda berdua harapkan.
b. Tingkah laku tidak menolong
1) Bertahan pada pendapat sendiri.
2) Tidak siap untuk mengakui bahwa orang lain memang benar.
3) Menginterupsi.
4) Semua orang bicara pada saat yang bersamaan.
5) Sasaran tidak jelas.
6) Berteriak, marah.
7) Terlalu cepat mengambil kesimpulan.
8) Memaksakan “cara penyelesaian” kita kepada orang lain.
9) Memusatkan diri hanya pada kepentingan sendiri.
7. Deadly sin dalam sebuah kegiatan komunikas

Jika kita coba rangkum dari apa yang telah kita perbincangkan tentang komunikasi ini, maka kita akan menemukan sejumlah hal yang benar-benar harus kita hindari agar komunikasi kita tidak mengarah kepada ketidakefektifan. Maka, bolehlah hal-hal yang harus kita hindari itu kita sebut sebagai ‘dosa mematikan’ (deadly sin) dalam sebuah kegiatan komunikasi.
a. Mengevaluasi (menghakimi orang lain).
b. Menghibur (yang malah membuat komunikasi menjadi tidak terfokus).
c. ‘Coba-coba jadi Psikolog’ atau menjuluki, mudah memberikan penilaian terhadap orang lain.
d. Memberikan pernyataan yang sarkastik atau menyindir.
e. Mengajukan pertanyaan yang berlebihan.
f. Mengatur dan ‘menuntun,’ mengarahkan perbincangan hanya ke arah
yang kita inginkan.
g. Mengancam atau memberikan tekanan berdasar kekuasaan yang dimiliki.
h. Memberikan nasihat yang tidak diminta.
i. Bersikap tersamar atau ambigu yang membuat orang lain bingung
menetapkan komunikasinya.
j. Tidak mau membagi informasi.
k. Mengalihkan (memindahkan obyek pembicaraan karena tersudut).

Pembelajar Dewasa Berbeda dengan Pembelajar Anak

Pembelajar Dewasa Berbeda dengan Pembelajar Anak

Dalam sebuah buku berjudul Mendidik Anak Dengan Cinta, penulisnya mengumpamakan orang dewasa di mata anak-anak bak raksasa yang memagari pandangan sekeliling mereka. Dengan badan yang tinggi besar dan suara yang lantang, raksasa ini seringkali terlihat menakutkan. Para raksasa ini seringkali menyuruh, melarang dan memarahi, tiga aktivitas yang jika tidak dikemas apik oleh si raksasa, akan menciptakan pengalaman yang traumatis bagi si cebol. Baik orang tua maupun guru bisa menjelma menjadi raksasa-raksasa yang ditakuti oleh anak-anak, sehingga ketika keluar perintah dari mereka, anak-anak menuruti bukan karena paham, tapi karena takut. Dalam upaya membelajarkan tentu hal ini tidak ideal.
Artinya, walau bagaimanapun, kondisi ideal seseorang melakukan tugas pembelajaran adalah atas dasar keinginan untuk paham, bukan karena keterpaksaan atau ketakutan. Meski anak bersifat sangat imitatif, tidak mustahil mereka akan berhasil dipahamkan tentang sesuatu. Guru yang tugas utamanya adalah membelajarkan siswa, perlu kiranya memahami urgensi memahamkan siswa dengan cara memahami betul karakteristik siswanya agar selalu membuat keputusan-keputusan tepat mengenai apa yang diajarkan dan bagaimana cara mengajarkannya.
Manusia yang berlainan usia tentu saja memiliki kebutuhan, kompetensi, dan level kemampuan kognitif yang berlainan pula. Hal ini sangat penting dipertimbangkan dalam pengajaran; guru harus memetakan pikiran ketika mengatur segala hal untuk diajarkan berdasarkan pertimbangan usia siswa. Adalah sebuah hal yang signifikan pula bagi seorang pengajar untuk mengetahui siapa siswanya: bagaimana cara belajar mereka, latar belakang sosial-ekonominya, gaya belajarnya yang berbeda-beda, motivasi yang dimiliki, dan banyak faktor lainnya. Dengan memahami secara komprehensif terhadap faktor-faktor ini, seorang guru tidak akan memperoleh kesulitan yang berarti dalam membelajarkan siswanya. Untuk lebih menukik pada pembahasan, kita akan bahas faktor penting yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran bagi siswa yaitu usia.
A. PEMBELAJAR ANAK-ANAK
Pembelajar anak-anak adalah tipe pembelajaryang—pada titik tertentu—unik. Mereka memiliki karakteristik unik yang tentu berpengaruh pula pada proses mereka belajar, terutama dalam belajar bahasa. Inilah yang menjadi alasan tepat kenapa pembelajaranak-anak banyak menarik perhatian para ahli untuk meneliti mereka, terutama dalam wilayah pembelajaran bahasa. Banyak ahli setuju bahwa semakin dini anak diperkenalkan bahasa kedua, maka semakin besarlah kemungkinan anak tersebut menguasainya. Namun tetap saja, masalah ini masih diperdebatkan. Bahwa anak mudah sekali mengenal dan mengingat sesuatu, itu adalah sebuah fakta umum yang banyak terlihat buktinya. Namun, mempelajari bahasa terutama bahasa kedua, adalah sebuah proses kompleks yang melibatkan wajib hadirnya banyak faktor, yang mana faktor-faktor tersebut belum dimiliki oleh anak-anak.
Anak-anak, terutama di usia 5-10 tahun, memiliki gaya belajar yang sangat berbeda dengan anak yang usianya lebih tua dari mereka, dengan remaja ataupun orang dewasa. Perbedaan tersebut terletak pada:
a. Anak usia ini merespon makna dengan cepat meskipun tidak paham kata per katanya (Harmer, 2002; Gusrayani, 2006). Hal ini bisa diilustrasikan dengan konteks berikut. Sangat sering, guru bahasa Inggris di SD memberi contoh percakapan :how are you? dan siswa serempak menjawab I„m fine thank you, and you? Atau where do you live dijawab siswa dengan I live in…….(menyebutkan tempat tinggal). Anak tidak perlu mengetahui makna „how‟ atau „are‟ atau „you‟, karena mereka sudah mengetahui bahwa frase tersebut bermakna „apa kabar‟. Tidak perlu mereka mengetahui makna „where‟, „do‟, „you‟, dan „live‟, satu demi satu, melainkan cukup memahami bahwa frase tersebut digunakan untuk mempertanyakan tempat tinggal. Dan merekapun paham bagaimana cara meresponnya.
b. Anak seusia ini biasanya belajar secara tidak langsung—mereka mengambil informasi dari berbagai sisi, belajar dari berbagai hal dan tidak hanya terfokus kepada satu topik tertentu yang saat itu diajarkan. Khusus dalam belajar bahasa, jika anak diperkenalkan pada satu kosakata baru, maka ia akan mengaitkan dengan konteks yang ada dibenaknya, untuk mengukur ketepatan pemahaman mereka terhadap kata tersebut (Gusrayani, 2009). Contoh, seorang anak berusia 6 tahun mendengar kata „playboy‟ dari sinetron yang ditontonnya. Ia lalu bertanya kepada pengasuhnya, apa arti kata tersebut. Sang pengasuh menjelaskan bahwa kata yang dimaksud bermakna „suka mempermainkan perempuan‟. Di situasi lain, ketika ayah anak ini mengolok-oloknya dengan maksud bercanda, si anak langsung melabeli sang ayah sebagai „playboy‟, karena mempermainkannya sebagai perempuan.

c. Pemahaman mereka akan terbangun tidak hanya oleh penjelasan saja, tapi juga dari apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apapun yang mereka sentuh dan dengan siapa mereka terlibat berinteraksi berpengaruh signifikan juga dalam membangun pemahaman anak. Bisa kita lihat perbedaan yang sangat signifikan dari gaya bicara ataupun kosakata yang digunakan oleh anak-anak yang besar di lingkungan santun dan kaya pewajanan dengan anak-anak yang besar di lingkungan yang tak santun dan miskin pewajanan.
d. Pada umumnya, mereka menununjukkan antusiasme untuk belajar dan penasaran pada dunia di sekelilingnya. Pun dalam hal mengenal dan mengeksplorasi bahasa. Anak-anak cenderung antusias dalam menerapkannya pada konteks yang mereka tahu, sebatas yang mereka pahami.
e. Mereka penasaran dengan kosakata yang baru mereka dengar, berusaha mengeksplorasinya dengan berulang-ulang mengucapkannya, untuk mengetahui respon orang dewasa di sekitarnya. Apalagi jika orang dewasa menunjukkan respon kaget atau tidak suka, anak-anak cenderung sengaja mengulang-ulangnya. Contoh jika orang dewasa telanjur keceplosan mengeluarkan kata-kata tabu atau berkonotasi seksual. Anak-anak cenderung senang mengeksplorasinya dengan mengulang-ulangi pengucapan kata tersebut.
f. Mereka butuh perhatian intensif sebagai seorang individu, juga pengakuan dari sang guru. Konteks ini berlaku umum ketika seorang anak belajar apapun. Saat mempelajari bahasa baru, sangat mungkin anak melakukan kesalahan dalam menuliskan ataupun membacanya. Disini perhatian intensif guru ataupun orang dewasa di sekelilingnya sangat dibutuhkan. Terutama untuk menegaskan bahwa dalam mempelajari bahasa kedua, kesalahan yang diperbuat sebenarnya tak tepat jika disebut kesalahan, karena hal tersebut baru mereka ketahui, dan tidak pernah mereka temui sebelumnya. Contoh, jika anak mengucapkan one untuk satu dalam Bahasa Inggris, dan bukannya “wan‟, ini sangat bisa dipahami mengingat begitulah aturan pengucapan kata tersebut dalam bahasa Indonesia, sehingga apa yang mereka ucapkan sesungguhnya bukanlah kesalahan. Beberapa ahli cenderung memperkuat hal ini (Harmer, 2002; Pinter, 2006; Ellis, 1994).
g. Mereka suka membicarakan diri mereka, dan akan memberikan respon yang positif ketika pembelajaran melibatkan diri mereka dan kehidupan sehari-hari mereka sebagai topik utama di kelas. Dalam pembelajaran bahasa, setiap memperkenalkan tema kosakata yang akan diajarkan misalnya, pengajara bisa memulai keterlibatan kognitif siswa dengan membawa tema kosakata tersebut dengan hidup keseharian mereka. Misal, jika akan mengenalkan kosakata terkait binatang peliharaan, bisa dimulai dengan bertanya: do you have pets at home?
h. Rentang perhatian mereka sangat terbatas; artinya mereka tidak akan selalu memperhatikan. Mereka cepat lelah dan bosan, kecuali jika aktivitas yang melibatkan mereka benar-benar menarik. Mereka akan kehilangan minat setelah 10 menit atau lebih.
B. PEMBELAJAR REMAJA
Sudah merupakan hal yang tidak asing bahwa isu kunci pada kehidupan remaja adalah sisi pencarian identitas individu yang sangat kental sehingga berpengaruh kepada minat yang sangat besar terhadap pencarian tantangan. Berikut beberapa karakteristik khusus pembelajarremaja yang terkait dengan karakteristik individunya.
a. Pendapat teman sebaya lebih penting dibanding perhatian guru, dimana untuk pembelajaranak-anak justru perhatian guru yang lebih penting.
b. Banyak membawa problem di luar ke dalam kelas, sehingga berpengaruh kepada konsentrasi dalam belajar.
c. Jika guru mampu mengontrol mereka, tipe pembelajarseusia ini bisa sangat suportif dan konstruktif (Harmer, 2002).
d. Kapasitas belajar mereka sangat besar, potensi untuk kreatif sangat tinggi dan komitmen untuk terlibat dalam hal-hal yang menarik minat mereka sangat kuat.
C. PEMBELAJAR DEWASA
Pembelajar dewasa sangat kentara dalam beberapa karakteristik spesial sebagai berikut:
a. Mereka bisa terlibat dalam pemikiran yang abstrak.
b. Mereka memiliki sejumlah pengalaman hidup yang bisa dijadikan sebagai pengalaman belajar.
c. Mereka memiliki ekspektasi serius tentang proses pembelajaran dan mungkin telah memiliki pola pembelajaran sendiri.
d. Orang dewasa cenderung lebih disiplin daripada remaja dan anak-anak, dan secara krusial mereka siap untuk melawan kebosanan belajar.
e. Tidak seperti anak-anak dan remaja, mereka biasanya punya pemahaman yang utuh dan jelas tentang tujuan mereka belajar dan apa yang ingin mereka pelajari. Hal ini sangat penting untuk keberhasilan pembelajaran.
Mengajar anak usia pemula secara alami harus berbeda dengan mengajar anak SMA atau dewasa. Siswa SD memiliki karakteristik tersendiri—biologis, kognitif, afektif, kepribadian, dan sosial. Siswa SD senang beraktivitas, bermain, dan bernyanyi. Tujuan utama pelajaran bahasa Inggris pada tahap pembelajaran awal seperti ini adalah untuk memberi gambaran bahwa selain bahasa ibu dan bahasa daerah mereka, ada bahasa lain yang bisa mereka pelajari, yaitu bahasa asing. Diharapkan, mereka bisa tertarik mempelajari bahasa baru ini. Kemampuan yang dituntut pada jenjang ini pun masih sederhana,
siswa mampu memahami beberapa kosakata untuk mendukung kompetensi ekspresi tertulis dan ekspresi ucap yang sederhana.
Usia pemelajar, bakat bahasa yang dimiliki anak, strategi/gaya belajar, motivasi, dan latar belakang sosial ekonomi anak yang jelas berbeda antara anak yang satu dengan lainnya, adalah faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh pengembang program pembelajaran Bahasa Inggris ataupun pembuat kebijakan terkait pengajaran bahasa Inggris. Memformulasikan tujuan-tujuan pembelajaran dan selektif dalam memilih bahan ajar serta strategi yang tepat harus menjadi prioritas utama sebelum memutuskan untuk mengajarkan bahasa asing di sekolah dasar. Hal ini akan dibahas lebih lanjut di bab 4 mengenai pemilihan materi, metode dan media.
Sebenarnya, dibutuhkan pelatihan khusus untuk mengajar anak usia pemula; fitur-fitur kebahasaan seperti apa yang harus diajarkan, dan bagaimana membantu anak untuk mempelajarinya. Mengajarkan bahasa Inggris pada anak tidak akan semudah mengajarkan bahasa ibu mereka. Perbedaan sistem linguistik, pengejaan dan pengucapan akan mengundang banyak masalah di dalam kelas. Berikut dipaparkan beberapa karakteristik alamiah yang melekat pada anak dan bagaimana implikasinya pada pengajaran.
D. FITUR UMUM ANAK-ANAK DALAM MEMPELAJARI BAHASA
1. Perkembangan intelektual
Karena anak (sampai usia 8 tahun) masih dalam tahap intelektual yang disebut oleh Piaget (1972) operasional konkrit, guru harus selalu mengingat keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada anak di tahapan ini. Aturan, penjelasan, dan beberapa pembicaraan abstrak tentang bahasa harus betul-betul memakai pendekatan yang ekstra hati-hati. Anak-anak terfokus kepada apa yang terjadi saat ini, tidak terlalu mementingkan untuk tahu atau mengerti apa yang akan terjadi nanti, atau apa yang sudah mereka alami. Hal ini berimplikasi signifikan pada pembelajaran. Anak juga peduli pada tujuan fungsional bahasa (untuk apa kalimat itu dipakai) namun tidak terlalu peduli terhadap “kebenaran” (correctness) yang dikehendaki oleh orang dewasa dan tidak bisa memahami bahasa rumit yang digunakan orang dewasa untuk menjelaskan konsep-konsep linguistik (Harmer, 2002). Berikut adalah beberapa rambu-rambu umum yang bisa diterapkan guru di dalam kelas bahasa Inggris di SD (rambu-rambu detil akan Anda temukan di BAB berikutnya):
1) Jangan menjelaskan grammar secara eksplisit menggunakan istilah-istilah seperti past tense, relative clause, dsb. Alangkah lebih baiknya guru mencontohkan pola-pola kalimat termaksud dengan ilustrasi konkrit bisa berupa gambar, perilaku guru atau lainnya (Hadley, 2001). Hal inilah yang dinamakan konktretisasi dan kontekstualisasi (akan dibahas kemudian)
2) Aturan yang abstrak dan sulit dibayangkan siswa alasannya, mutlak harus dihindari, misal: untuk membuat pernyataan menjadi pertanyaan tambahkanlah do atau does. Lebih baik guru memberikan contoh kalimat dengan mengulang-ulangnya. Mengulang-ulang contoh kalimatnya lebih baik dibanding mengulang-ulang penjelasan/aturan yang dimaksud. Anak akan mampu memformulasikan sendiri aturan yang dimaksud jika contoh yang diberikan guru jelas.
3) Beberapa konsep gramatika bisa lebih menarik perhatian siswa jika guru mendemonstrasikannya, misal: sampai berjalan ke depan pintu, guru berkata I‟m walking to the door.
4) Beberapa konsep atau pola-pola yang sulit perlu diulang-ulang agar otak dan telinga anak mudah berkoordinasi.
2. Rentang Perhatian
Salah satu perbedaan menonjol anak dan orang dewasa adalah dari sisi rentang perhatiannya. Pertama, kita harus memahami apa itu rentang perhatian. Simpan anak di depan tivi yang menayangkan film kartun favoritnya, maka dia akan tahan berjam-jam di depan tivi. Jadi jangan membuat asumsi bahwa anak memiliki rentang perhatian yang pendek. Tapi rentang perhatian yang pendek akan muncul jika anak terlibat dalam satu aktivitas yang membosankan, tidak berguna atau terlalu sulit. Aktivitas belajar yang membosankan sangat mungkin tercipta di atmosfir pembelajaran kita, disadari ataupun tidak. Gaya mengajar guru di kelas misalnya, yang hanya memakai one way teaching, atau guru mentransfer apa yang diketahui kepada siswa dan siswa tidak aktif „memanipulasi‟ pembelajaran, bisa menjadi penyebab atmosfir kebosanan melanda suasana pembelajaran. Pembelajaran yang tidak memfasilitasi anak untuk bergerak dari tempat duduknya, memegang, meraba atau memanipulasi sesuatu melainkan hanya memaku mereka di tempat duduk, akan membuat rentang perhatian anak menjadi pendek, cepat bosan dan „terpicu‟ untuk membuat keributan. Lalu, gaya mengajar yang terlalu „dewasa‟ baik dari sisi bahasa yang digunakan guru maupun dari sisi penyajian konten pembelajaran (diilustrasikan pada bab 4) akan membuat siswa merasa aktivitas yang mereka lakukan tak berguna. Hal inipun akan memicu rentang perhatian yang pendek tadi. Lalu, kondisi pembelajaran yang tidak berhasil dikondisikan guru untuk sesuai dengan usia dan kemampuan siswa akan menjadikan pembelajaran terlalu sulit ataupun terlalu mudah. Pembelajaran yang terlalu sulit ataupun terlalu mudah bagi siswa, juga akan memicu rentang perhatian yang pendek. Karena belajar bahasa Inggris bisa jadi terlalu sulit untuk anak, maka tugas gurulah untuk membuat pembelajaran bahasa Inggris bisa terkemas menarik, hidup dan menyenangkan.
Bagaimana caranya? Lebih detilnya Anda bisa lihat di bab 4 mengenai pemilihan materi dan model pembelajaran bahasa Inggris. Secara umum, berikut beberapa gambaran tips sederhananya.

1) Karena anak selalu terfokus pada saat ini dan sekarang, maka aktivitas harus dirancang untuk menangkap minat mereka dengan segera. Hindari aktivitas yang membuat mereka harus mengingat kejadian lalu atau kejadian yang akan datang dalam durasi yang cukup lama. Ketikapun mereka mampu melakukannya, aktivitas sejenis ini tak akan terlalu menarik minat mereka.
2) Kegiatan harus beragam agar minat anak terjaga dan perhatian anak tetap ada. Anak secara umum memiliki beragam gaya belajar (dibahas secara rinci di bab 2). Pastikan kegiatan pembelajaran mengakomodir kebutuhan setiap siswa yang berbeda berdasarkan gaya belajarnya.
3) Guru harus “hidup” dan antusias terhadap pelajaran. Bayangkan ruang kelas itu adalah panggung dimana guru sebagai aktornya. Jika harus menjadi komedian, maka jadilah komedian, Pembelajaran mengharuskan guru menyanyi, mendongeng bahkan menari sekalipun, maka itu yang sebaiknya dilakukan demi untuk menjaga antusiasme siswa.
4) Guru harus memiliki rasa humor yang tinggi untuk tetap tertawa sambil belajar. Karena selera humor anak berbeda dengan orang dewasa, maka pastikan humor anda sesuai dengan selera anak. „Kesalahan‟ yang diperbuat siswa ketika belajar bahasa Inggris, bisa „diperbaiki‟ tanpa menyakiti si anak, dengan penuh candaan namun tidak menjadikannya bahan tertawaan.
5) Anak memiliki sejumlah besar rasa penasaran. Pastikan guru mengeksplorasi rasa itu sejauh mungkin agar perhatian anak tetap terfokus pada kegiatan pembelajaran. Rasa penasaran terkait erat dengan antusiasme siswa. Semakin ia penasaran dengan apa saja yang mungkin ia dapati di pembelajaran, semakin hal tersebut menunjukkan antusiasmenya terhadap pembelajaran. Jangan lewatkan rasa penasaran yang
sebenarnya ada si setiap anak, dengan menyajikan aktivitas yang monoton di setiap pembelajaran.
3. Input Sensor
Anak harus terstimulasi seluruh inderanya. Aktivitas guru harus melibatkan organ visual dan auditori anak, dengan porsi yang cukup. Caranya:
1) Berikan aktivitas fisik yang cukup dalam pembelajaran. Misal dengan aktivitas bermain peran (role play). Bermain peran untuk anak seusia SD tidak harus yang kompleks dan berdurasi lama. Percakapan sederhana untuk mengkontekstualisasikan kapan ekspresi-ekspresi tertentu digunakan, untuk apa fungsinya, bagaimana mengucapkannya, itu bisa dibelajarkan dengan role play. Aktivitas fisik bisa pula dieksplorasi dengan cara siswa diminta ke depan, memperagakan atau menunjuk kosa kata yang kita ajarkan. Atau aktivitas-aktivitas lain sejenis.
2) Aktivitas praktis yang lain harus sejalan dengan tujuan membantu anak menginternalisasi bahasa. Aktivitas berkelompok misalnya merupakan cara yang baik agar anak belajar kata dan struktur kata dan mempraktikan bahasa yang bermakna. Bahasa tidak akan lengkap dipelajari jika tidak diajarkan dengan konteks penggunaannya. Menggunakan bahasa membutuhkan partner sebagai pendengar. Aktivitas kelompok bisa diaplikasikan untuk membuat anak saling mengeksplorasi penggunaan bahasa yang mereka ketahui.
3) Alat sensor membantu anak menginternalisasi konsep-konsep. Misalnya: mencium harum bunga, menyentuh tumbuhan dan buah-buahan, merasai makanan, melihat video, gambar, mendengarkan tape recorder, musik—semuanya adalah elemen penting untuk pembelajaran bahasa bagi anak. Penting untuk diingat, bahasa verbal guru juga penting, karena anak akan tertarik juga pada mimik muka, gesture (gerak tubuh), serta sentuhan guru. Oleh karenanya, dalam pembelajaran, usahakan semua alat sensor ini dieksplorasi penggunaannya oleh guru melalui konteks-konteks pembelajaran yang menarik. Aktivitas penyampaian bahan ajar harus mengoptimalkan sebanyak mungkin input sensor siswa bekerja.
4. Faktor Afektif
Mitos yang sangat umum bahwa anak-anak relatif tidak terpengaruhi oleh rintangan-rintangan yang biasanya menghambat orang dewasa untuk belajar. Tidak selalu begitu! Anak-anak cenderung inovatif dalam produk bahasa, tapi tetap saja menghadapi banyak rintangan. Mereka sangat sensitif terutama kepada teman sebayanya: apa yang orang lain pikirkan tentang saya. Apa yang dipikirkan orang lain saat saya berbicara bahasa Inggris? Ketakutan jika ditertawakan atau diolok-olok saat salah mengucapkan satu kosakata misalnya, bisa mencegah mereka dari berlatih pronunciation. Seharusnya siswa SD yang belajar bahasa Inggris dihindarkan dari ketakutan semacam ini. Dalam beberapa hal anak cenderung lebih rentan dari orang dewasa. Ego mereka masih sedang terbentuk sehingga nuansa komunikasi yang tidak jelas bisa diinterpretasikan secara negatif. Guru harus menolong mereka untuk mengatasi rintangan tersebut yang sangat potensial akan menghambat mereka.
1) Bantu siswa anda untuk dengan ringan tertawa jika mereka membuat kesalahan. Jangan pojokkan mereka dengan kesalahan yang sebenar-benarnya—seperti diungkap di atas—bukan kesalahan.
2) Guru harus sabar dan supportif untuk membangun kepercayaan diri anak, tapi harus tegas dalam hal harapan-harapan terhadap siswa. Meski dalam satu dua hal guru menunjukkan kelembutan sikap dalam rangka menumbuhkan semangat siswa untuk belajar, namun tak lantas kesalahan siswa tak dikoreksi karena takut menyakiti hati, Tetap saja, upaya perbaikan harus menjadi targetan guru di setiap pembelajaran apapun kondisinya.
3) Rangsang partisipasi secara oral sebanyak mungkin terutama untuk siswa yang pendiam, agar mereka berkesempatan untuk mencoba sesuatu yang menarik. Eksplorasi antusiasme mereka dengan sebaik-baiknya. Desain bentuk pembelajaran yang membuat mereka banyak berlatih, terutama berlatih mengucapkan kosakata baru atau ekspresi-ekspresi sederhana dalam Bahasa Inggris. Pada saat mereka berpartisipasi secara oral, utamakan kesenangan mereka dalam hal mencoba hal-hal baru tersebut, luaskan toleransi dari guru jika mereka salah mengucapkan, karena memang sistem bunyi nyang sangat berbeda antara bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.
5. Bahasa yang Otentik dan Bermakna
Anak-anak terfokus kepada apa yang bisa dilakukan bahasa baru ini, disini dan saat ini. Mereka tidak tertarik untuk berurusan dengan bahasa yang tidak berguna bagi mereka saat itu. Bahasa-bahasa yang menurut mereka tidak akan mereka gunakan saat itu, tak begitu menarik minat mereka. Guru harus bekerja keras untuk memberikan pembelajaran bahasa yang bermakna bagi anak.
1) Anak memiliki sensitivitas tinggi terhadap bahasa yang tidak otentik, sehingga beberapa kosakata yang resmi atau kaku di dunia mereka, akan tertolak.
2) Bahasa harus benar-benar diberikan dengan konteksnya. Cerita, situasi dan karakter yang biasa dikenal anak, percakapan sehari-hari, tujuan-tujuan bermakna dalam penggunaan bahasa—semua ini akan memberikan konteks dimana bahasa bisa diterima dan dipahami sehingga hal ini bisa meningkatkan perhatian dan daya ingat. Oleh karenanya, sangat dianjurkan guru bahasa Inggris di SD untuk memberikan bantuan konteks terhadap apapun yang diajarkan melalui dukungan media; gambar, permainan, nyanyian dan bentuk-bentuk lain yang sekiranya menarik minat anak.
3) Pendekatan bahasa secara keseluruhan sangat penting. Jika bahasa dipecah-pecah menjadi potongan-potongan kecil maka siswa tidak akan melihat kaitannya terhadap keseluruhan. Contoh seperti chunk words yang dicontohkan di atas. Jangan pernah berpikir bahwa dalam konteks percakapan sederhana, mengenalkan kata demi kata lebih baik dibanding mengenalkan ekspresi-ekspresinya secara keseluruhan. Juga tekankan aktivitas yang berhubungan antar keempat skill (membaca, mendengar, menulis dan berbicara) agar anak melihat dengan jelas korelasinya satu sama lain.
6. Bakat
Beberapa siswa bisa belajar bahasa lebih baik dibanding yang lain. Pada tahun 1950-1960an, pandangan bahwa anak memiliki bakat linguistik menjadi semakin terkristal dan semakin banyak diyakini. Konsekuensi dari pandangan ini, maka kemampuan dan kemajuan berbahasa siswa di masa depan bisa diprediksi dengan apa yang disebut tes bakat. Namun tes bakat dalam linguistik nampaknya tidak mampu mengukur banyak hal selain kemampuan intelektual umum meskipun memang tes ini dimaksudkan untuk mencari bakat-bakat linguistik. Tes ini hanya tepat bila dihadapkan kepada mereka yang memiliki kemampuan grammar.
7. Sifat Pemelajar
Beberapa siswa usia sekolah dasar,
Beberapa ahli mencirikan kategori tipe pembelajaryang baik sbb:

1. Memiliki toleransi terhadap ambiguitas. Artinya, jika ada sesuatu yang tidak bisa langsung dia akomodasi (tidak sesuai dengan yang pernah ia terima sebelumnya) maka ia tidak lantas menolaknya, tetapi mencari cara untuk menemukan alasan ambiguitas tersebut dan baru menerima atau menolaknya.
2. Siap untuk menghadapi tugas-tugas dengan cara yang positif. Tidak takut atau gelisah menghadapi tugas-tugas, Tidak mengandalkan orang lain kecuali jika benar-benar membutuhkan. Tidak terpikir untuk mengerjakan tugas pembelajaran dengan cara yang negatif, misal mencontek dari teman.
3. Memiliki ego untuk sukses. Tidak puas dengan pencapaian yang minimal. Ingin senantiasa meningkatkan diri dan prestasi.
4. Memiliki aspirasi tinggi. Selalu ingin bertanya, menjawab, mengajukan pendapat, membantu, menginisisasi, mendorong, dan berkontribusi secara positif pada pembelajaran.
5. Berorientasi kepada tujuan.Tahu mengapa ia harus belajar sesuatu yang baru setiap waktu, dan bagaimana dampak hal yang dipelajarinya itu di kehidupannya yang akan datang.
6. Sabar menghadapi tantangan. Tidak lekas mengeluh, menyerah, bahkan berputus asa. Hal-hal sulit dianggapnya menjadi tantangan.
Ada pula yang menambahkan karakteristik pembelajaryang baik yaitu mereka yang:
1. Mampu mencari cara sendiri tanpa selalu dibimbing oleh guru saat mengerjakan tugas-tugas.
2. Kreatif.
3. Membuat tebakan-tebakan yang cerdik. Sebelum guru menyampaikan jawaban terhadap permasalahan apapaun, ia berusaha menebaknya.
4. Menciptakan kesempatan sendiri untuk berlatih. Tidak selalu harus disuruh oleh guru saat harus melatih kemampuan diri seperti mengerjakan tugas dan lain-lain.
5. Memanfaatkan kesalahan untuk memperbaiki diri. Tidak meratapi kesalahan secara berlebihan, melainkan menjadikannya titik awal (starting point) untuk berubah menjadi jauh lebih baik.
6. Menggunakan petunjuk-petunjuk kontekstual. Apapun yang ada di sekelilingnya (gambar, tulisan, poster, dll) bisa membantunya belajar sesuatu.
8. Level Kemampuan Berbahasa
Siswa yang memiliki latar belakang pernah tinggal bersama orangtuanya di negeri yang berbahasa Inggris, akan memiliki kemampuan berbahasa yang unggul dibanding siswa yang sama sekali tak memiliki pengalaman ataupun bersentuhan dengan Bahasa Inggris. Biasanya kemampuan siswa dideskripsikan kedalam tiga level: beginner (pemula), intermediate (menengah) dan advanced (mahir). Masalah yang muncul adalah, standar tingkatan ini untuk tiap sekolah atau lembaga tidak sama. Siswa yang terkategori mahir di satu sekolah, mungkin masih dianggap menengah oleh guru di sekolah lain. Beberapa isu yang terkait dengan levelitas kemampuan berbahasa ini adalah:
a. Efek Datar
Siswa yang berada di level pemula akan beroleh kemajuan yang pesat dan hal tersebut mereka rasakan secara nyata dengan mudah dari minggu ke minggu. Hal ini tidak berlaku pada siswa yang berada di level lebih tinggi, misal level menengah. Kemajuan yang didapat secara alamiah memang tak akan sama pesatnya dengan ketika ia masih menjadi pemula. Hal semacam ini disebut efek datar, dan akan menyebabkan penurunan prestasi belajar bahasanya karena terpengaruh secara psikologis. Guru harus sensitif terhadap adanya efek datar ini, dan jika memungkinkan, mengambil langkah-langkah antsipatif agar efek ini tidak terjadi. Upaya yang dilakukan semisal: memasang target dengan jelas tentang apa yang harus dicapai siswa dan mensosialisasikannya secara kontinyu pada siswa, menjelaskan hal-hal yang masih belum dicapai siswa, memastikan setiap aktivitas melibatkan partisipasi siswa dan bemakna bagi siswa, dan selalu menyalakan minat siswa dengan mngajarkan penggunaan bahasa secara variatif.
b. Metodologi Guru
Beberapa teknik dan latihan untuk pemula bisa jadi kurang tepat untuk siswa yang berada di atasnya. Misalnya penggunaan repetisi (pengulangan). Bagi pemula, penggunaan repetisi lebih efektif dan guru lebih mudah menggunakannya. Namun, bagi siswa di level menengah atau mahir, cara ini akan terasa aneh dan kaku. Untuk level yang lebih tinggi lebih baik guru memilih dan mengorganisir kegiatan semacam diskusi, role play dan sejenisnya.
c. Bahasa yang Digunakan Guru
Guru harus mengadaptasikan bahasa yang digunakan di kelas sesuai dengan level kemampuan siswa. Tidak bijak jika untuk pembelajarpemula guru menggunakan bahasa Inggris yang kompleks. Gunakan saja bahasa Inggris sederhana misalnya instruksi-instruksi sederhana yang diiringi gerak tubuh guru (“move forward”, sambil guru melambaikan tangannya pada siswa), Bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa untuk mengajarkan bahasa Inggris untuk pemula, di kelas sebaiknya guru mencampur bahasa pengantar dalam
pembelajaran, dengan bahasa ibu siswa. Hal ini, menurut beberapa penelitian, mampu mempermudah siswa menguasai bahasa Inggris.
d. Topik
Salah satu isu yang muncul pada pembelajartipe pemula adalah bahan ajar yang dipilihkan guru seringkali mengedepankan topik-topik yang kompleks sehingga sulit untuk mereka dalami karena keterbatasan kemampuan berbahasa mereka. Materi ajar yang kita berikan harus berbeda di setiap levelnya, bukan hanya dari sisi kompleksitasnya tapi juga pada jenis mata ajar, muatan, tingkat kesulitan dan banyaknya. Guru harus kreatif dan selektif dalam memilih bahan ajar sesuai dengan level kemampuan berbahasa anak.
e. Variasi Individu
Jika kita menemukan fakta bahwa seseorang bisa melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain—daya analisisnya lebih kuat, daya ingatnya lebih lama, daya pembedanya terhadap banyak hal lebih sensitif misalnya—hal ini mengindikasikan terdapat perbedaan pada cara kerja otak manusia. Hal ini juga menjelaskan bahwa respon orang terhadap rangsangan yang sama akan berbeda-beda pula. Bagaimana efeknya terhadap kesiapan belajar seorang individu? Bagaimana pula efeknya terhadap cara guru mengajar siswa? Ada dua teori yang mencoba menjelaskan variasi individu semacam ini dan dua teori ini menyajikan pilihan bagi guru terkait dengan apa yang ia harus usahakan agar siswanya mendapat yang terbaik.
1) Neuro-linguistic programming (NLP). Berdasarkan para praktisi NLP, untuk menghadapi dunia, manusia menggunakan sejumlah sistem representasi primer. Sistem ini dideskripsikan dengan akronim VAKOG yang merupakan singkatan dari Visual (kita lihat dan perhatikan) Auditory (kita dengar dan simak) Kinasthetic (kita rasakan secara eksternal, internal atau melalui gerakan) Olfactory
(kita membaui sesuatu) Gustatory (kita merasai sesuatu). Dalam menghadapi dunia, orang menggunakan satu sistem primer yang lebih menonjol. Seseorang akan terstimulasi oleh musik karena sistem primer yang menonjol dalam dirinya adalah sistem auditory. Sedangkan bagi orang lain, ketika sistem primer yang menonjolnya visual maka ia akan terstimulasi oleh gambar. VAKOG mengindikasikan juga beberapa siswa akan mendapatkan banyak hal dengan mendengar, sedangkan yang lain dengan cara melihat.
2) Teori kecerdasan berganda (Multiple Intelligence). Konsep ini diperkenalkan oleh seorang psikologis dari Harvard, Howard Gardner. Ia menegaskan bahwa manusia tidak hanya memiliki satu kecerdasan, tapi sejumlah kecerdasan. Ada 7 kecerdasan menurut Gardner: Kecerdasan Musik/Ritmis, Verbal/Linguistik, Visual/Spasial, Tubuh/Gerak, Logis/Matematis, Intrapersonal dan Interpersonal. Menurutnya, semua orang memiliki kecerdasan ini, namun penampakan yang menonjol dari tiap orang hanya satu atau dua jenis kecerdasan saja. Jika fakta ini memang jelas, implikasinya pada pengajaran adalah, jelas guru harus peka bahwa setiap tugas pembelajaran tidak akan berdampak sama pada setiap anak baik itu dari sisi proses maupun hasil. Guru harus pandai mengkreasikan berbagai media, model, maupun alat bantu pembelajaran agar setiap anak dengan potensi yang berbeda-beda tersebut akan mampu terakomodasi kebutuhannya di kelas sehingga ia belajar dalam atmosfir yang kondusif. Murray Loom, guru pada Sekolah Dasar Giralang di Canberra, Australia memberikan gambaran proses 7 kecerdasan ini dalam kerangka implikasinya terhadap siswa.

f. Motivasi
Dalam bidang apapun, semua orang sepakat bahwa motivasi adalah kunci menuju sukses. Sehingga siapapun orangnya akan berupaya keras untuk menumbuhkan motivasi dalam dirinya. Jika motivasi menjadi sedemikian penting, maka menjadi masuk akal ketika banyak sekali usaha diarahkan untuk menggali dan mengeksplorasi hal ini. Apakah siswa memiliki motivasi yang sama dalam belajar? Atau, apakah mereka akan termotivasi dengan cara yang sama?
Motivasi adalah dorongan internal yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu dalam rangka mencapai suatu tujuan (Harper, 1988). Marion Williams dan Richard Burden menyodorkan definisi yang sejalan dengan Harper, bahwa motivasi adalah „keadaan kesadaran kognitif‟ yang mampu memprovokasi „keputusan untuk bertindak‟ sebagai akibat dari adanya „upaya intelektual yang kuat‟ dan „upaya fisik‟, sehingga seseorang bisa mencapai „tujuan yang telah ditentukan‟ (Williams and Burden 1997:120). Selanjutnya mereka ungkapkan bahwa besar kecilnya motivasi akan sangat bergantung pada seberapa berharganya mereka memaknai hasil yang mereka harapkan. Motivasi biasa didikotomikan menjadi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik dilatarbelakangi oleh berbagai faktor luar. Misal, lulus ujian karena merupakan prasyarat masuk ke jenjang berikutnya, atau berharap dapat hadiah dari orangtua dan lain sebagainya. Motivasi instrinsik sebaliknya, datang dari dalam diri individu. Seseorang akan termotivasi belajar secara internal jika suasana pembelajaran yang diciptakan benar-benar membuatnya tertarik untuk belajar, berpikir, atau melakukan aktivitas pembelajaran tersebut. Pembelajaran yang menarik dapat membantu siswa belajar dengan lebih baik, disadari ataupun bahkan tidak oleh siswa tersebut.
Lingkungan dimana siswa tinggal, orang-orang terdekat, guru dan metode adalah 4 hal eksternal yang bisa menjadi sumber motivasi internal bagi siswa.