Teknik Negosiasi dalam Bisnis Retail

Teknik Negosiasi dalam Bisnis Retail

Hubungan antara pengecer, dalam hal ini pengelola toko dengan pemasok  atau suplier merupakan tahapan yang sangat penting, karena berhubungan  langsung dengan ketersediaan barang-barang yang akan dijual. Berikut ini  beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai hubungan pengecer dengan  pemasok :

1. Kedua belah pihak perlu bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan  konsumen

2. Pengecer profesional mencari sumber barang yang dapat memenuhi kebutuhan akan barang-barang yang diminati oleh konsumen

3. Pengecer perlu membeli barang-barang dalam jumlah yang tepat, harga yangtepat dan di bawah perjanjian yang pantas

4. Pengecer memerlukan pemasok-pemasok yang kuat secara finansial dandapat membantu menawarkan bantuan promosi dan pelayanan yangbermanfaat

5. Pengecer membutuhkan hubungan yang lebih dekat dan dalam jangka panjang dengan pemasok

6. Pengecer bersedia mengkonsentrasikan pembelian mereka dengan pemasok yang dapat enak diajak bekerjasama

II. Potensi konflik antara pengecer dengan pemasok

Antara pengecer dengan pemasok kadangkala terjadi permasalahan atau konflik yang tidak dapat dihindarkan. Potensi konflik yang dapat ditimbulkan dari pihak pengecer yaitu :

1. Pengecer kurang mendorong penjualan barang pemasok

2. Pengecer lebih mengutamakan produk pesaing

3. Pengecer tidak menyediakan stock sebagaimana yang telah disepakati bersama

4. Pengecer menginginkan syarat-syarat perjanjian yang lebih menguntungkan

dan minta pengiriman yang sesering mungkin

5. Pengecer minta diskon yang lebih besar dan konsesi-konsesi lain

6. Pengecer sering terlambat membayar tagihan

Sedangkan potensi konflik dari pihak pemasok yaitu :

1. Pemasok hanya sedikit memberikan dukungan promosi

2. Sistem pengambilan barang kurang baik

3. Mutu barang kurang baik

4. Jaminan penyediaan barang tidak sesuai dengan yang di butuhkan

Hal –hal yang perlu disepakati

Dengan memperhatikan potensi konflik tersebut di atas, maka antara pihak pemasok dengan pengecer perlu membuat kesepakatan untuk beberapa hal yang menyangkut mengenai barang. Hal-hal tersebut yaitu :

1. Sistem pengiriman barang

2. Siapa yang menanggung biaya pengiriman

3. Bagaimana menangani pengembalian barang

4. Garansi macam apa yang dapat diberikan

5. Sistem pembayaran

6. Harga

7. Jumlah pembelian

8. Diskon

Beberapa pertimbangan dalam berhubungan dengan pemasok

Pengecer dengan pemasok tentunya menginginkan hubungan kerjasama yang saling menguntungkan dan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Untuk dapat mewujudkan keinginan tersebut maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

1. Kepercayaan

2. Harga

3. Pengiriman

4. Informasi

5. Order ulang

6. Mark up

7. Risiko

V. Teknik Negosiasi

Bernegosiasi dengan pihak pemasok merupakan salah satu dari mata rantai pelaksanaan bisnis eceran. Cara bernegosiasi yang benar dan efektif sebenarnya tidak ada aturan yang baku, hal ini disebabkan oleh banyaknya faktor yang mempengaruhi seseorang dalam bernegosiasi. Faktor-faktor tersebut antara lain yaitu pengalaman dalam bernegosiasi, kemampuan berkomunikasidan lain-lain. Berikut ini beberapa petunjuk praktis mengenai teknik negosiasi yang secara umum telah diterapkan oleh para pengelola bisnis eceran.

1. Persiapkan diri anda

Sebelum negosiasi di mulai, analisislah situasi dengan cermat dan rencanakanstrategi negosiasi anda

2. Masukilah meja perundingan dengan orientasi “menang-menang” (win-win)

Menang dengan mengorbankan pihak lawan pada akhirnya akan menghantui kita. Secara konsisten dan tekun tunjukkanlah sikap bahwa kedua pihak dapat memperoleh manfaat dari persetujuan ini. Memangnegosiasi yang benar-benar sukses adalah negosiasi yang memenuhi kebutuhan semua pihak.

3. Binalah kepercayaan pribadi dan iklim yang postif Kita akan mendapatkan lebih banyak orang yang merasa senang kepada kita

4. Namun bila terbukti sebaliknya, anggaplah bahwa pihak lawan dapat

dipercaya

Berpeganglah pada asumsi ini, sampai perilaku pihak lawan terbukti tidak demikian , rasa mempercayai merupakan faktor terpenting yang membedakan negosiasi dengan tawar menawar

5. Pastikan bahwa pihak lawan memang mempunyai otoritas untuk menandatangani kontrak

6. Ketahuilah apa yang kita inginkan, mintalah yang kita inginkan serta siapkanlah memberikan imbalannya

Tentukan batas minimum posisi kita. Komunikasikan kebutuhan kita secara jelas kepada pihak lawan. Sadarilah bahwa pihak lawan tentu akan menilai tukar menukar ini seperti yang juga kita lakukan.

7. Pusatkan pada kebutuhan, bukan pada posisi atau pada pribadi

8. Dengarkan baik-baik dan ajukan pertanyaan

Pusatkan bukan pada apa yang mereka inginkan, melainkan pada mengapa mereka menginginkannya

9. Carilah peluang untuk mencocokkan “mata uang alternatif” dengan pihak lawan

Uang adalah alat tukar, tetapi adakalanya alat tukar lain dapat mempunyaini lai yang setara atau bahkan lebih besar

10. Bernegosiasi untuk jangka panjang, bukan jangka pendek Kita tentu tidak ingin melakukannya kembali dalam waktu dekat

11. Jangan takut mengambil jeda

Mengusulkan reses bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, kita hampir selalu kembali dengan tenaga baru yang lebih kuat.

12. Bila kita menghadapi jalan buntu, kemukakanlah informasi baru tetapkan baras waktu yang disepakati bersama atau buatlah konsesi akhir.

13. Jangan pernah memberikan konsesi tanpa mendapatkan imbalannya

Bila kita menyerahkan sesuatu kepada pihak lawan, kita segera berada dalam posisi negosiasi yang sangat kuat

14. Bantulah pihak lawan untuk menjaga martabatnya

Sediakan jalan untuk menyelamatkan muka, jika perlu. Jika kita telah berhasilbaik dalam negosiasi, kita dapat berusaha untuk bermurah hati

15. Tetapkan kesepakatan yang spesifik dan jelas yang tidak memungkinkanpengingkaranJika negosiasi telah selesai, kita masih tetap mempunyai kontrak untukdinegosiasikan

16. Pantaulah kesepakatan setelah tercapainya persetujuan

Jika harapan kita tidak terpenuhi, carilah tahu mengapa. Barangkalikesepakatan perlu direvisi, atau pihak lawan tidak benar-benarmemahaminya. Janganlah cepat berprasangka terhadap pihak lawan

 

 

Tentang Persepsi

Tentang Persepsi

Pengertian persepsi menurut Davidoff adalah stimulus yang diindera oleh individu dan diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diinderanya itu. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya. Namun proses itu tidak berhenti sampai disitu saja melainkan stimulus itu diteruskan ke pusat susunan syaraf yaitu otak, dan terjadilah proses psikologis sehingga individu menyadari apa yang ia dengar dan sebagainya.

Adapun menurut Dimyati mengemukakan bahwa persepsi adalah penafsiran stimulus yang telah ada dalam otak. Sedangkan menurut Jalaluddin Rahmat persepsi adalah pengalaman tentang obyek peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi berarti memberikan makna pada stimulus inderawi (Sensory Stimulus).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, nampak jelas bahwa di dalam pengertian persepsi mengandung muatan :
(1)adanya proses penerimaan stimulus melalui alat indera,
(2)adanya proses psikologis di dalam otak,
(3)adanya kesadaran dari apa yang telah diinderakan,
(4)memberikan makna pada stimulus.

Dengan demikian pengertian persepsi dapat disimpulkan sebagai suatu tanggapan atau penilaian terhadap suatu obyek tersebut, yang kemudian dilanjutkan dengan proses psikologis di dalam otak, sehingga individu dapat menyadari dan memberikan makna terhadap obyek yang telah diinderakan tersebut.

Persepsi seseorang selalu didasarkan pada kejiwaan berdasarkan rangsangan yang diterima oleh inderanya. Disamping itu persepsi juga didasarkan pada pengalaman dan tujuan seseorang pada saat terjadi persepsi. Persepsi merupakan suatu pengalaman tentang suatu obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan mengumpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Organisme dirangsang oleh suatu masukan tertentu (obyek dari luar peristiwa dan lain-lain) dan organisme itu merespon dan menggabungkan masukan itu dengan salah satu kategori obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa. Obyek-obyek disekitar kita dapat ditangkap dengan indera dan diproyeksikan pada bagian-bagian tertentu diotak sehingga tubuh dapat mengamati obyek tersebut. Sebagian tingkah laku dan penyesuaian individu ditentukan oleh persepsinya. Teori diatas dapat dikatakan bahwa persepsi merupakan proses aktif dimana yang memegang peran bukan hanya stimulus yang mengenai, tetapi juga individu sebagai kesatuan dengan pengalaman baik yang di dapat secara langsung maupun melalui proses belajar.

Individu dalam melakukan pengalaman untuk mengartikan rangsangan yang diterima, agar proses pengamatan tersebut terjadi maka perlu obyek yang diamati, alat indera yang cukup baik dan perhatian. Itu semua merupakan langkahlangkah sebagai suatu persiapan dalam pengamatan yang ditujukan dengan tahap demi tahap, yaitu tahap pertama merupakan tanggapan yang dikenal sebagai proses kealaman atau proses fisik, merupakan ditangkapnya stimulus dengan alat indera manusia. Sedangkan tahap kedua adalah tahap yang dikenal orang dengan proses fisiologi merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh perseptor ke otak melalui syaraf-syaraf sensorik, dan tahap ketiga dikenal dengan proses psikologi merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima oleh perseptor1.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Persepsi
Ada tiga faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi yaitu perhatian, karakteristik orang yang mempersepsi dan sifat stimuli yang dipersepsi. Adapun uraian dari ketiga faktor itu adalah :

a. Faktor Perhatian
Perhatian adalah pemusatan indera kepada hal-hal tertentu yang terjadi dalam pengalaman dan mengabaikan masalah-masalah lain. Perhatian menyaring atau menyeleksi informasi inderawi yang diterima. Dengan demikian yang dipersepsikan bukan semua stimuli inderawi, namun yang menarik perhatian.

b. Faktor karakteristik yang dipersepsi
Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli saja, melainkan juga karakteristik orang yang menerima stimuli dan memberi respon stimuli tersebut. Misalnya kebutuhan dan pengalaman masa lalu dan faktor-faktor personal.

c. Faktor sifat stimuli yang dipersepsi
Pengaruh terbentuknya persepsi selain perhatian dan karakteristik orang yang mempersepsi juga berasal dari sifat stimuli semata-mata. Jadi sebagaimana adanya stimuli yang diterima oleh indera manusia juga mempengaruhi terbentuknya persepsi.

Persepsi adalah merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari Individu mengamati obyek psikologik dengan persepsinya sendiri.
Persepsi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya. Faktor pengalaman dan proses belajar member bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat, sedang cakrawala dan pengetahuan memberi arti terhadap obyek psikologis. Melalui komponen kognisi akan timbul ide, kemudian konsep apa yang dilihat. Melalui komponen afeksi memberi evaluasi emosional terhadap obyek, komponen konasi menentukan kesiapan jawaban berupa tindakan terhadap obyek. Atas dasar ini situasi yang semula tidak seimbang menjadi seimbang kembali. Keseimbangan dalam situasi ini berarti bahwa antara obyek yang dilihat sesuai dengan penghayatannya dimana unsur nilai dan norma dirinya dapat menerima secara rasional dan emosional. Jika situasi ini tidak tercapai, maka individu menolak dan reaksi yang timbul adalah sikap apatis, acuh tak acuh, atau menentang sampai ekstrim memberontak. Keseimbangan ini dapat kembali jika persepsi bisa diubah melalui komponen kognisi.

David Krench dan Richard S. Crutchfield membagi faktor-faktor yang menentukan persepsi menjadi dua yaitu :

a. Faktor Fungsional
Yang dimaksud faktor fungsional adalah faktor yang berasal dari
kebutuhan, pengalaman, masa lalu dan hal-hal yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Faktor personal yang menentukan persepsi adalah obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.

b. Faktor Struktural
Faktor struktural adalah faktor yang berasal semata-mata dari sifat.
Stimulus fisik efek-efek syaraf yang timbul pada sistem syaraf individu. Faktor struktural yang menentukan persepsi, menurut teori gestalt bila kita ingin persepsikan sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Bila kita ingin memahami suatu peristiwa kita tidak dapat meneliti faktor-faktor yang terpisah, kita harus memandangnya dengan hubungan keseluruhan.

Syarat-Syarat Terjadinya Persepsi Beberapa syarat sebelum individu mengadakan persepsi adalah :

a. Adanya Obyek (sasaran yang dituju)
Obyek atau sasaran yang diamati akan menimbulkan stimulus atau
rangsangan yang mengenai alat indera. Obyek dalam hal ini adalah nilai-nilai kepahlawanan Mohammad Hatta dalam proses belajar mengajar akan memberikan stimulus yang akan ditanggapi oleh siswa.

b. Alat Indera atau Reseptor
Alat indera atau reseptor yang dimaksud adalah alat indera untuk
menerima stimulus kemudian diterima dan diteruskan oleh syaraf sensorik yang selanjutnya akan disimpan dalam susunan syaraf pusat yaitu otak sebagai pusat kesadaran.

c. Adanya Perhatian
Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya
perhatian yaitu langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi, tanpa perhatian tidak akan terjadi persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan obyek.

Pada proses persepsi terdapat komponen-komponen dan kegiatan-kegiatan
kognisi dengan memberikan bentuk dan struktur bagi obyek yang ditangkap oleh panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap obyek yang ditangkap atau dipersepsikan individu, dan akhirnya konasi individu akan berperan dalam menentukan terjadinya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap obyek yang ada.

Syarat individu untuk mempersepsi suatu obyek atau peristiwa adanya
obyek yang dijadikan sasaran pengamatan, dimana obyek tersebut harus benarbenar diamati dengan seksama, dan untuk mengamati suatu obyek atau peristiwa perlu adanya indera yang baik karena kalau tidak individu tersebut menjadi salah mempersepsi. Demikian pula dalam mempersepsi penokohan Mohammad Hatta, ia memerlukan pengamatan, pengenalan yang seksama melalui alat inderanya terhadap obyek persepsi, sehingga dengan pengamatan dan pengenalan yangmendalam dan seksama itulah diharapkan siswa akan mempersepsi obyek tersebut dengan benar atau positif.

Peranan Orang Tua Dalam Pendidikan Anak

Sebagaimana kita ketahui bahwa penyelenggaraan pendidikan itu
dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karna itu tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, pemerintah, dan tokoh-tokoh masyarakat.
Sesuai dengan pembahasan itu maka menitik beratkan pada tanggung
jawab pendidikan di lingkungan keluarga khususnya orang tua. Yang dimaksud orang tua di sini adalah : ibu dan ayah, ibu dan ayah sebagai orang tua, baik secara perseorangan ataupun bersama-sama mempunyai peranan yang tak terhingga dalam kehidupan anak, secara luas, baik yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan anak dari psikologis ataupun pertumbuhan dan perkembangan psikologisnya dapat dikatakan bahwa hampir sepenuhnya anak menggantungkan hidup dan kehidupannya pada orang tua, apakah hidupnya bahagia atau sengsara, sukses atau gagal dalam hidup selalu bergantung pada orang tua, oleh karnanya tak dapat disangkal akan peranan orang tua dalam kehidupan anak (siswa) secara luas (umum).

Mengenai peranan orang tua terhadap anaknya dalam pendidikan yaitu
meliputi :
a. Kebutuhan akan rasa kasih sayang
b. Kebutuhan akan rasa aman
c. Kebutuhan akan harga diri
d. Kebutuhan akan rasa kebebasan
e. Kebutuhan akan rasa sukses
f. Kebutuhan akan mengenal

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa peranan
orang tua dalam kaitannya dengan pendidikan anak adalah sebagai pendidik pertama dan utama, di mana tanggung jawab pendidikan anak, utamanya pendidikan dalam keluarga dipegang oleh orang tua, tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak antara lain meliputi :
a. Dorongan/motivasi cinta kasih sayang yang menjiwai hubungan orang tua dengan anak. Cinta kasih ini mendorong sikap dan tindakan rela menerima tanggung jawab dan mengabdikan hidupnya untuk sang anak.
b. Dorongan/motivasi kewajiban moral, sebagai konsekwensi kedudukan
orang tua dengan anak atau terhadap keturunannya. Tanggung jawab moral ini meliputi nilai- nilai relegius spiritual yang dijiwai ketuhanan yang Maha Esa dan agama masing-masing, disamping didorong oleh kesadaran memelihara martabat dan kehormatan. Keluarga
c. Tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keluarga yang pada gilirannya juga menjadi bagian dari masyarakat. Bangsa dan negaranya, bahkan kemanusiaan, tanggung jawab sosial ini merupakan perwujudan kesadaran tanggung jawab kekeluargaan yang diikuti oleh darah keturunan dan kesatuan keyakinan.

“Dari Ibu Umar RA, Saya mendengar Rosulullah bersabda setiap kamu
adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai tentang kepemimpinan,
seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya, seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin atas rumah
tangganya ditanya tentang kepemimpinannya, seorang istri adalah pemimpin keluarganya dan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin harta tuannya dan ditanya tentang kepemimpinannya, dan setiap kamu adalah pemimpin dan ditanya tentang kepemimpinannya” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam rangka kepemimpinannya ini, orang tua berkewajiban dan
bertanggung jawab atas kesejahteraan anak lahir dan batin serta
kebahagiaannya di dunia dan di akhirat, orang tua harus dapat membimbing dan mengarahkan anak kepada pendidikan yang baik sesuai dengan normanorma agama, dan adab sopan santun dalam hidup bermasyarakat. Dengan adanya bimbingan dan pengarahan yang baik dari orang tua terhadap anak sejak masa kanak-kanak maka dapat diharapkan setelah dewasa nanti segala tindakannya akan selalu didasari norma-norma agama dan sopan santun.

Dengan demikian secara tidak langsung orang tua telah memberikan
sumbangan dalam menciptakan suasana masyarakat aman dan tentram.
Berdasarkan kondisi dan masalah di atas, perlu adanya pengembangan
kebijakan yang memungkinkan tokoh agama dan lembaga keagamaan
mengambil peran dan fungsi yang proaktif dalam pembinaan akhlak anak,
langkah ini bukan saja karena motivasi agama, tetapai sebagai langkah
antisipatif terhadap kondisi masyarakat moderen yang mengarah kepada
perusakan sendi-sendi moral anak.

Dalam hubungannya dengan skripsi ini maka perlu diketahui
sebelumnya bagaimana peranan orang tua dalam pendidikan secara umum.
Adapun peranan orang tua dalam keluarga yang paling menonjol adalah
penanggung jawab anggota keluarga termasuk anak.

Hal ini sesuai dengan firman Allah At Tahrim 6 yang berbunyi ;
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (Attahrim : 6)

Ayat tersebut memberikan perintah kepada kita untuk memelihara dirinya sendiri dan keluarga agar tidak terjerumus ke dalam api neraka atau hal-hal negatif, salah satu upaya untuk mewujudkan perintah tersebut adalah melalui pendidikan. Karena dengan memperoleh pendidikan seorang akan dapat membedakan hal-hal yang baik dan buruk, ayat tersebut juga menggambarkan bahwa orang tua berkewajiban memberikan pelajaran agar anak tidak terjerumus dalam kemungkaran.

“Dan orang-orang berkata : “Ya tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”

3. Kondisi-Kondisi Orang Tua Yang Berpengaruh Terhadap Pendidikan Anak

Kondisi-kondisi orang tua yang sekiranya dapat berpengaruh terhadap
pendidikan anak secara garis besarnya terbagi menjadi dua bagian yaitu, kondisi obyektif orang tua dan kondisi subyektif orang tua.

a. Kondisi Obyektif Orang Tua

Yang dimaksud dengan kondisi obyektif orang tua di sini adalah
antara lain berupa keutuhan oang tua, kondisi ekonomi orang tua, tingkat pendidikan orang tua dan status sosial orang tua.

1) Keutuhan Orang Tua

Keutuhan orang tua ditandai dengan lengkapnya anggota keluarga khususnya ibu dan ayah dan tak pernah atau jarang tejadi percekcokan dan pertengkaran antara anggota keluarga serta semua anggota keluarga dapat saling berkomunikasi dan berkumpul dengan mudah dan sering.

Keutuhan orang tua ini juga dapat berpengaruh terhadap ketenangan belajar siswa/anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan sebagai berikut : “untuk kelancaran pendidikan dalam keluarga, maka perlu ditetapkan acara yang terperinci mengenai materi, waktu.tempat
dan lain- lain.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keutuhan keluarga merupakan salah satu faktor yang ikut mempengaruhi proses dan hasil belajar anak di sekolah.

2) Kondisi Ekonomi Orang Tua

Pada zaman sekarang ini boleh dikatakan bahwa biaya
pendidikan (menuntut ilmu) terutama pada lembaga-lembaga pendidikan
formal adalah cukup besar. Hal ini dapat dilihat pada besarnya biaya
penyelenggaraan pendidikan spp yang diwajibkan pada para siswa, dan
juga keharusan memenuhi sarana dan alat-alat pendidikan terutama saran dalam alat-alat belajar anak. Hal-hal seperti ini tersebut di atas membutuhkan tersedianya perekonomian yang mencukupi dari rasa
orang tua agar para siswa dapat mengikuti pend idikan dan belajar dengan baik sesuai dengan tuntutan yang ada.
Kualitas pendidikan banyak tergantung pada tersedianya
pembiayaan yang memadai dalam penyelenggaraannya. Bahkan
seringkali terjadi keberhasilan pendidikan anak tergantung pada cukup
tidaknya atau tinggi rendahnya perekonomian. Orang tua dengan
demikian orang tua yang mempunyai atau termasuk status ekonominya
yang cukup akan lebih memungkinkan untuk berhasil dalam pendidikan
dari pada orang tua anak yang ekonominya rendah. Oleh sebab itu
dengan ekonominya yag mencukupi akan dapat memenuhi tuntutantuntutan
pendidikan yang membutuhkan pembiayaan seperti sarana dan
prasarana.

Pendidikan berkaitan dengan pernyataan : “Status ekonomi
banyak menentukan kemampuan keluarga dalam menyediakan fasilitas
sarana yang diperlukan anak dalam menelaah bahan pelajaran di sekolah
dari soal buku pelajaran”.
Selain itu bila status ekonomi orang tua tergolong cukup maka
orang tua akan lebih dapat mencurahkan perhatiannya terhadap
pendidikan anak. Di samping itu siswa sendiri tidak banyak memperoleh
kesulitan dalam rangka pengabdian dan pemenuhan sarana, fasilitas serta saran alat-alat belajar yang diperlukan demi kelancaran proses pendidikannya. Hal ini juga berkaitan dengan kenyataan sebagai berikut :

“Orang tua harus memberikan pelayanan yang sebaik mungkin menurut
kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak”.
Telah dibuat berbagai pernyataan mengenai cara memperlakukan anak-anak seperti misalnya anak-anak harus diawasi dan bukannya didengarkan suaranya saja mereka hanya mengalami masa muda sekali saja, biarkan mereka menikmantinya,singkirkan rotan dan memanjakan anak: anak-anak harus dilindungi, anak harus dibiarkan
bebas berbuat; bukanlah persoalan sesungguhnya ialah, bagaimana kita membesarkan anak-anak selama mereka tetap memperoleh keperluan dasar, yaitu makanan, air, dan perlindungan.

3) Tingkat Pendidikan Orang Tua

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak ini, orang tua yang tergolong berpendidikan akan sangat berarti bagi pendidikan siswa. Di mana seringkali tingkat pendidikan orang tua dapat mempengaruhi pandangan dan sikap orang terhadap pendidikan anak-anaknya. Orang tua yang tergolong berpendidikan akan dapat membimbing, membantu serta pengetahuan pendidikan anaknya hingga ke tingkat yang lebih tinggi sebesar kemampuan yang dimilikinya, bahkan merasa cukup menyekolahkan anaknya sebatas sekolah dasar saja.

4) Status Sosial Orang Tua

Status sosial yang dimaksud di sini adalah kedudukan orang tua
dalam jajaran interaksi pergaulan sosial dalam masyarakat di mana orang tua itu hidup. Status sosial orang tua ini dapat mempengaruhi pendidikan para anak, antara lain dapat mempengaruhi bagaimana orang
memperlihatkan, memikirkan serta memberikan wawasan kependidikan
kepada anak-anaknya mengatakan sebagai berikut : “Status sosial orang
tua pada suatu ketika dapat menentukan sikap mereka terhadap
pendidikan atau peranan pendidikan dalam kehidupan manusia”

b. Kondisi Subyektif Orang Tua

Yang dimaksud dengan kondisi subyektif di sini adalah kondisikondisi
yang berkaitan dengan kepribadian orang tua, yang antara lain
meliputi : sikap kepemimpinan orang tua, cara orang tua mendidik anak, cara memberi pelayanan dan lain- lain.
Sebagai pemimpin keluarga, maka sikap kepemimpinannya
seringkali dominan dalam mempengaruhi pendidikan anak atau pendidikan
anak-anaknya. Dalam hal ini kita mengenai adanya tiga macam sikap
kepemimpinan orang yang dapat mempengaruhi pendidikan anak, yaitu :
sikap otoriter, sikap demokratis, dan sikap laisser faire. Penelitianpenelitian yang dilakukan oleh para ahli seperti : Mueller, Frnkel, Lawin, membuktikan sikap kepemimpinan yang lebih efektif adalah :
Sikap demokratis, dimana orang tua di samping memegang
kendali dan mengarahkan secara maksimal perkembangan anak, juga
memberikan kesempatan anak-anaknya untuk berkreasi sesuai dengan
kemampuan yang ada pada diri anak-anak.

Adapun secara jelasnya kondisi subyektif orang tua itu antara lain
sebgai berikut :

a) Sikap Kemimpinan Orang Tua

Yang dimaksud dengan sikap kepemimpinan orang tua di sini adalah sikap dan cara-cara serta kebijaksanaan yang ditempuh orang tua untuk membimbing dan mendidik anaknya. Hal- hal tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar.
Sikap orang tua dalam mendidik anak-anaknya besar pengaruhnya terhadap kepribadian anak, dibandingkan dengan sikap otoriter dan laissez faire, maka sikap demokrasi orang tualah yang lebih menguntungkan dan memberikan hasil yang lebih baik, dengan
sikap yang demokrasi.
Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial di dalam rumah keluarga yaitu menyangkut interaksi antar golongan keluarga : ayah-ibu dan anak-anak yang berpengaruh terhadap berhasil tidaknya proses belajar anak di sekolah Demi kelancaran serta keberhasilan anak-anak, perlu diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga anak tersebut hubungan yang penuh pengertian dan kasih sayang disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman untuk menyukseskan belajar anak sendiri.

b) Cara Orang Tua Mendidik Anak

Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya tehadap
belajar anaknya. Hal ini sesuai dengan pernyataan sebagai berikut :
Pengaruh lingkungan keluarga terhadap lingkungan anak sejak kecil adalah sangat mendalam dan menentukan perkembangan pribadi anak selanjutnya hal ini disebabkan :

1) Pengaruh itu merupakan pengala man yang pertama-tama.
2) Pengaruh yang diterima anak itu masih terbatas jumlah dan luasnya.
3) Intensitas pengaruh itu tinggi karena berlangsung terus-menerus
siang dan malam.

4) Umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman yang bersifat intim.

Di manapun proses pendidikan berlangsung alasan utama kehadiran guru adalah untuk membantu siswa agar belajar sebaikbaiknya. Oleh karena itu, adalah hal esensial (pokok, dasar) bagi guru untuk memahami sepenuhnya cara dan tahapan belajar yang terjadi
pada diri siswanya.

Keluarga dalam hal ini orang tua yang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya acuh tak acuh terhadap belajar anaknya tidak mau tahu bagaimana kemajuan anaknya, kesulitan-kesulitan yang dialami anaknya dalam belajar dan lain- lain,
dapat menyebabkan anak kurang berhasil dalam melaksanakan studinya, untuk itu pendidikan anak dalam keluarga mempunyai peranan penting dalam mengembangkan anak terutama teladan dari orang tua sikap dan tingkah laku sehari-hari kemudian menjelaskan :

Usaha untuk memupuk rasa hormat anak terhadap orang tuanya. Antara lain:
1) Pupuklah rasa kasih sayang di antara suami istri.
2)Tunjukkanlah kepercayaan orang tua terhadap anaknya
3)Hargailah karya anak dan perhatikanlah keinginan dan kebutuhannya.
4)Kenalkanlah nilai- nilai yang dapat menjadikan kegembiraan kesenangan seluruh anggota keluarga
5)Bila anak-anak kurang berakhlak kurang baik nasehatilah dengan penuh kebijaksanaan dan pendidikan yang baik.

Daftar Bacaan
Departemen Agama Al-Qur’an dan Terjemahan,(Jakarta : Yayasan Penterjemah,1985)
Ishak Soleh Manajemen Rumah Tangga, (Bandung : Angkasa,1994)
Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung : Eresco, 1996)
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidik an, (Bandung : Remaja Karya,1988
Moh Amin, Moral Remaja (Pasuruan Garuda : Buana Indah,1992
Tim Dosen IKIP Malang Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan(Surabaya ; Usaha Nasional,1981),
Slamento, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta Bina Aksara,1988)
Zakiah Dradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta : Haji Mas Agung,1990),

Perbedaan Komunikasi Massa dan Privat

Perbedaan Komunikasi Massa dan Privat

Pengertian Komunikasi Massa menurut Jallaludin Rakhmat adalah jenis/bentuk komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim, melalui media cetak maupun elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Suatu proses yang melukiskan bagaimana komunikator menggunakan teknologi media massa secara proporsional guna menyebarluaskan pengalamannya melampaui jarak untuk mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang banyak.

Sehingga jelas bahwa komunikasi massa memiliki komponen-komponen sebagai
berikut:
1. Komunikator komunikasi massa.
2. Pesan komunikasi massa.
3. Media komunikasi massa.
Media yang dimaksud dalam proses komunikasi massa yaitu media yang
memiliki ciri khas, kemampuan untuk memikat perhatian khalayak secara serempak dan serentak. (pers, radio, televisi dan film).
4. Khalayak komunikasi massa.
5. Filter/regulator komunikasi massa.
Regulator adalah lembaga atau individu yang mewakili lembaga berwenang untuk memberi perhatian atau tekanan kepada media masa. Bedanya dengan filter, regulator berada di luar lembaga media massa. Filter utama yang dimiliki khalayak adalah indera yang dipengaruhi tiga kondisi:
a. budaya
b. psychological (frame of reference dan experience)
c. physical/fisik (internal dan eksternal)
6. Gatekeeper
Gatekeepers dapat berupa seseorang atau kelompok yang dilalui oleh suatu
pesan dari pengirim ke penerima. Fungsi utamanya adalah menyaring pesan
yang diterima seseorang dan menyeleksi isi pesan yang akan dikomunikasikan.
7. Feedback.
Umpan balik yang diberikan penerima pesan kepada penyampai pesan adalah
feedback. Terdiri dari internal feedback, eksternal feedback, representatif
feedback, kumulatif feedback, kuantitatif feedback, institusional feedback.

Setiap komponen di atas memiliki sifat-sifat yang berbeda dari jenis
komunikasi lainnya. Karena itu, kita dapat melihat ciri-ciri khusus dalam komunikasi massa, yaitu:
1. Komunikasi massa berlangsung satu arah.
Ini berarti tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator.
2. Komunikator pada komunikasi massa melembaga.
Misalnya wartawan surat kabar atau penyiar televisi, karena media yang digunakannya adalah suatu institusi, maka dalam menyebarkan pesan mereka bertindak atas nama lembaga. Berarti sejalan dengan kebijaksanaan (policy) surat kabar atau stasiun televisi yang diwakilinya.
3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum.
Mereka tidak akan menyiarkan pesan yang tidak menyangkut kepentingan
umum.
4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan.
Mereka memiliki kemampuan untuk menyebarkan pesan secara serempak dan diterima khalayak secara serempak pula.
5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen
Dalam keberadaannya, komunikan terpencar-pencar, dimana satu sama
lainnya tidak saling kenal dan memiliki beragam perbedaan seperti lokasi,jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita, dan sebagainya.
Jika dilihat dari sisi masyarakat, maka media massa memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan mereka. Yosehp R. Dominick, dalam bukunya Dynamics of Mass Communication menyebutkan fungsi komunikasi massa tersebut, terdiri dari:

1. Pengawasan
Hal ini mengacu pada peran berita dan informasi bagi masyarakat. Orangorang media, yakni para wartawan surat kabar dan majalah, reporter radio dan televisi, koresponden kantor berita, dan lain-lain berada dimana-mana di seluruh belahan bumi demi mengumpulkan informasi untuk masyarakat. Pengawasan yang diberikan dapat terbagi ke dalam dua bentuk pengawasan:

a. Pengawasan peringatan
Bentuk ini terjadi jika media menyampaikan informasi kepada kita
mengenai ancaman letusan gunung api, tsunami, gempa, kondisi ekonomi, inflasi, dan keamanan negara.

b. Pengawasan instrumental
Bentuk ini berkaitan dengan penyebaran informasi yang berguna untuk
kehidupan sehari-hari. Berita tentang harga kebutuhan di pasar, produk anyar, dan pertunjukan/acara suatu wilayah adalah contoh-contoh dari pengawasan ini.

2. Interpretasi
Yang erat kaitannya dengan fungsi pengawasan adalah fungsi interpretasi. Di sini, media massa tidak hanya menyajikan fakta dan data, tetapi juga informasi beserta interpretasi mengenai peristiwa tertentu.
Karena itu di negara maju yang pers-nya sudah diakui keampuhannya dalam menjalani fungsi ini, sering dijuluki sebaga the watchdog. Anjing penjaga yang menggonggong apabila pemerintah/perusahaan/organisasi ingkar terhadap janji mereka pada masyarakat.
3. Hubungan
Media massa mampu menghubungkan unsur-unsur yang terdapat di dalam
masyarakat yang tidak bisa dilakukan secara langsung oleh saluran
perorangan. Hal ini erat kaitannya dengan perilaku seseorang, baik yang positif konstruktif maupun yang negatif destruktif, yang apabila diberitakan oleh media massa, maka segera seluruh masyarakat mengetahuinya.
Jadi, orang-orang yang memiliki kesamaan, tetapi terpisah secara geografis dapat dihubungkan dengan media massa.
4. Sosialisasi
Sosialisasi merupakan transmisi nilai-nilai (values). Media massa menyajikan penggambaran masyarakat. Dan dengan membaca, mendengarkan, dan menonton, maka seseorang dapat mempelajari bagaimana perilaku dan nilainilai yang penting.
5. Hiburan
Fungsi ini memang jelas pada media televisi, film, dan rekaman suara. Namun media seperti surat kabar dan majalah, walaupun fungsi utamanya adalah informasi dalam bentuk pemberitaan, namun rubrik-rubrik hiburan selalu ada, apakah itu cerita pendek, atau bergambar.

Bahkan saat ini media massa sudah ada yang mengkhususkan fungsinya
menyampaikan hal-hal yang dapat menghibur khalayaknya.
Hal lain yang perlu dipahami dari komunikasi massa ini adalah pengertian ranah privat (private domain) dan ranah publik (public domain).
Kedua hal ini umumnya sering disalahartikan. Orang beranggapan bahwa ranah privat berarti informasi-informasi yang sifatnya pribadi. Sehingga tidak harus atau tidak penting untuk menjadi milik masyarakat luas. Sedangkan ranah publik berarti
informasi-informasi yang sifatnya harus diketahui publik. Sehingga kita tidak boleh menahan informasi tersebut, apapun alasannya.
Pemahaman di atas salah. Karena pengertian ranah privat dan ranah publik sebenarnya tidak mengacu pada ‘sifat informasi’ yang dimiliki media massa.
Namun kepada ‘sifat kepemilikan medium’ yang digunakan pengelola suatu media massa tersebut.

Ranah privat mengacu kepada kepemilikan pribadi atas media massa. Dengan kata lain, media cetak merupakan ranah privat, karena pengelola media memproduksi dan memiliki sendiri koran/majalah tersebut sebagai medium mereka. Misalnya:
pemilik Majalah Gatra adalah pemilik tidak hanya lembaga usahanya, tetapi juga fisik majalah tersebut sampai khalayak membelinya sehingga kepemilikan fisik menjadi berpindah tangan.

Sedangkan ranah publik mengacu kepada kepemilikan publik. Dengan kata lain, media radio dan televisi merupakan ranah publik, karena pengelola media hanya memiliki isi siarannya. Namun udara atau frekuensi yang dipakai radio dan televisi sebagai medium penyiarannya adalah milik publik. Misalnya: pemilik Trans TV
hanyalah memiliki lembaga usaha dan isi penyiaran, tetapi frekuensi radio yang digunakan bukanlah miliknya, melainkan milik publik yang diwakili oleh pemerintah.

Karena itulah ranah publik selalu menuntut pengelola siaran untuk menaati peraturan dan mendapatkan ijin terlebih dahulu –dari publik yang diwakilkan pemerintah, sebagai pemilik medium– untuk menggunakan ranah ini. Selain itu,
pengelola siaran juga dituntut untuk mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat agar dapat merebut hati dan perhatian mereka. Hal ini harus dilakukan agar isi siaran yang telah mereka buat tidak terbuang sia-sia.
Sementara pemerintah –yang diwakilkan lembaga tertentu– harus berperan sebagai wakil publik atau filter/regulator, untuk menyaring kepentingan pengelola media yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat.

Bagaimana Berkomunikasi yang Manusiawi

Bagaimana Berkomunikasi yang Manusiawi

Komunikasi manusia itu adalah proses simbolik yang
melibatkan pemberian makna oleh masing-masing peserta komunikasi. Dengan cara pandang demikian, kita akan melihat implikasi yang terjadi dari proses komunikasi tersebut.
1. Faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan komunikasi
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan kita sulit melakukan komunikasi, yaitu:
a. Kurangnya informasi atau pengetahuan (tidak bisa menentukan dengan tepat fokus komunikasi).
b. Tidak menjelaskan prioritas dengan gamblang (tidak bisa menjelaskan mana yang paling penting diantara sejumlah hal).
c. Tidak menyimak (bukan hanya mendengar, tetapi juga meresapkannya
dalam kesadaran diri serta melibatkan diri dalam proses komunikasi
tersebut).
d. Tidak memahami sepenuhnya dan tidak mengajukan pertanyaan.
e. Dalam mengambil keputusan, terlalu menaruh prasangka (hanya berpikir berdasarkan apa yang baik bagi dirinya).
f. Tidak memahami kebutuhan orang lain.
g. Tidak memikirkannya dalam-dalam, terlalu cepat menarik kesimpulan.
h. Kehilangan kesabaran, membiarkan diskusi berubah menjadi ajang debat kusir.
i. Waktu yang singkat (tidak cukup waktu untuk mempertimbangkan dan
memahami cara berpikir orang lain).
j. Suasana hati yang buruk.
Demikianlah, jika salah satu atau lebih faktor di atas terjadi dalam komunikasi kita, maka bisa dipastikan komunikasi kita akan menjadi berat dan sulit. Lebih jauh lagi, komunikasi kita berpotensi untuk gagal (communication breakdown). Sejumlah hal akan kita alami jika ini terjadi.
2. Akibat Kegagalan Komunikasi
Jika kegagalan komunikasi terjadi, maka ada sejumlah masalah yang akan muncul sebagai implikasinya, yaitu:
a. Kegagalan berusaha.
b. Kehilangan niat baik (kegagalan komunikasi terbawa dalam perasaan
sehingga memunculkan kecurigaan).
c. Menurunkan citra perusahaan/lembaga.
d. Tidur berkurang (karena tegang dan dipikirkan terlalu dalam).
e. Antusiasme berkurang (malas untuk melakukan komunikasi selanjutnya).
f. Kesalahan, ketidakefektifan kerja.
g. Produktifitas berkurang dan bermalas-malasan.
h. Harga diri dan kepercayaan diri menurun.
i. Frustrasi dan rasa permusuhan yang memuncak.
j. Ketidaksukaan staf kepada pimpinan.
k. Kreatifitas berkurang.
l. Semangat kerja dan kekompakan tim berkurang.
m. Ketidakhadiran dan apatisme atas pekerjaan.

3. Saringan/filter dalam berkomunikasi
Agar kesulitan komunikasi bisa dihindari, selain faktor yang bisa
menyulitkan, maka kita harus mewaspadai sejumlah filter yang secara
potensial bisa menghambat komunikasi tersebut, yaitu:
a. Evaluasi yang terlalu dini (menilai tanpa bekal informasi yang cukup).
b. Ada hal lain dalam benak anda (tidak berkonsentrasi dan cenderung
membagi perhatian pada hal lain).
c. Kecenderungan untuk cepat mengambil kesimpulan (keterburu-buruan
sebelum semua informasi lengkap diterima dan ditelaah).
d. Prasangka (munculnya stereotype/praduga yang bisa menyebabkan sikap diskriminatif).
e. Pikiran anda mudah menerawang (sulit berkonsentrasi dan cenderung
memanjakan imajinasi daripada memperhatikan komunikasi orang lain).
f. Tidak perhatian (tidak memberikan kadar perhatian yang memadai untuk komunikasi yang sedang dihadapi).
g. Asumsi-asumsi (kita adalah seperti yang kita pikirkan. Kita berpikir, bersikap dan berperilaku seperti apa yang ingin kita pikir, sikap dan perilakukan).
h. Berada dalam situasi penuh tekanan/stress.
i. Kemampuan mendengar yang lemah (tidak melulu melihat siapa yang
berbicara, tetapi lebih menekankan pada apa yang dibicarakan).
j. Memiliki rentang perhatian yang singkat.
k. Gangguan pendengaran.
l. Gagasan-gagasan yang tak dapat diubah (sulit merubah sikap dasar, yang bisa kita lakukan adalah mencoba mengarahkan sikap dasar pada sikap lain yang masih dalam jalurnya).

4. Perbedaan antara apatis, empatik dan simpatik
Dengan melihat pada saringan-saringan yang dihadapi, maka ada suatu sikap dasar dalam berkomunikasi yang penting untuk dikuasai yaitu sikap empatik.Sikap empatik ini, sering disebut dengan prinsip platina (platinum principle),
untuk menunjukkan nilai yang lebih tinggi dari sikap simpatik, yang sering disebut sebagai prinsip emas (golden principle). Sementara yang harus dihindari adalah sikap apatis. Berikut pengertiannya masing-masing:
a. Apatis
“Aku sama sekali tidak perduli”.
Kita tidak dapat berkomunikasi dalam waktu lama atau dengan sangat
baik terhadap seseorang yang sama sekali tidak mempedulikan apapun
yang kita katakan.
b. Simpatik
Kita memperlakukan seseorang sebagaimana kita ingin diperlakukan.
c. Empatik
Kita memperlakukan seseorang sebagaimana orang tersebut ingin
diperlakukan.
Sebagai contoh, misalnya si A, adalah seorang suami yang bekerja sepanjang siang dan malam. Ia keluar rumah pukul 06.00 pagi dan baru kembali ke rumah pukul 21.00 malam. Begitu setiap hari dilakukannya. Pada Selasa pagi, badannya agak meriang, hidungnya tersumbat, dan batuk kecil mulai sering terdengar. Jika si B adalah istri A, apa yang harus dilakukan B?
Jika B apatis, tentu B akan acuh tak acuh saja dan membiarkan suaminya terbaring di tempat tidur.
Jika B simpatik, B akan menyediakan sop hangat, lalu meminta A
memakannya, tidak lama B membawakan obat flu, berikutnya menawarkan
air hangat untuk mandi serta berbagai tawaran dan permintaan yang
menurutnya ‘begitulah seharusnya’ orang yang sakit flu.
Jika B empatik, maka B akan bertanya terlebih dahulu apa yang diinginkan A hari itu, dan B akan membiarkan pilihan A karena bisa jadi dengan kondisi A saat itu merupakan kesempatan yang mahal baginya untuk bisa beristirahat dan tidur seharian.
Bagaimana? Jelas bagi Anda, kenapa sikap empatik lebih tinggi nilainya dari sikap simpatik? Sikap seperti inilah yang cocok diterapkan dalam komunikasi yang mengandung kesetaraan gender. Karena komunikasi seperti ini, menempatkan siapapun dalam perspektif harus kita pahami dengan informasi
yang cukup, jika komunikasi kita ingin efektif, tak peduli apapun atribut sosialnya, termasuk perbedaan gender.

5. Prinsip dasar konsep menang-menang (win-win solution) jika
menghadapi konflik
Sebelum menguraikan bagaimana melakukan konsep “menang-menang” jika
menghadapi konflik, terlebih dahulu akan dikemukakan tiga cara pandang terhadap konflik, yaitu:
a. Cara Pandang Tradisional
Dalam cara pandang ini, konflik adalah sesuatu yang buruk, merugikan
dan menghancurkan. Oleh karena itu, sebaiknya dihindari.
b. Cara Pandang Manusiawi
Dalam cara pandang ini, konflik dipandang sebagai sesuatu yang wajar
karena pada dasarnya manusia itu berbeda. Jadi konflik tidak dihindari, tetapi dihadapi, namun jangan mengundang konflik. Dalam perspektif ini, setiap perbedaan berpotensi menjadi konflik. Perbedaan gender, perimbangan kekuasaan, dan anggaran pusat-daerah, kelas sosial, dan banyak perbedaan lainnya.
c. Cara Pandang Interaksionis
Cara pandang ini melihat konflik sebagai sesuatu yang bukan hanya
wajar, namun baik dan perlu. Sehingga ketiadaan konflik justru
meresahkan. Cara pandang seperti inilah yang relevan dengan konsep
‘manajemen konflik’, karena di dalamnya akan terdiri dari tidak hanya bagaimana menyelesaikan konflik, namun juga merekayasa konflik untuk tujuan menguatkan organisasi atau hubungan yang terjadi. Dalam menghadapi konflik, ada beberapa cara yang biasanya dipilih, yaitu:
a. Menghindar
Cara ini umumnya biasa berada dalam cara pandang tradisional.
b. Mengalah (Akomodatif)
Di sini kita memilih untuk mementingkan kepentingan orang lain dan
meminimalkan kepentingan kita sendiri. Dengan begitu, yang terjadi
adalah ‘kalah-menang,’ dimana kita adalah pihak yang kalah.
c. Bersaing (Kompetitif)
Di sini kita memilih untuk bersaing/berkompetisi dan berusaha untuk
menjadi pemenang, yaitu menempatkan kepentingan kita sebagai yang
utama, dan meminimalkan kepentingan orang lain. Dengan begitu yang
terjadi adalah ‘menang-kalah,’ dimana kitalah yang menjadi pemenang.

d. Berkompromi
Di sini kita memilih untuk sama-sama mengalah dengan pihak lain yang
berkonflik dengan kita. Dengan begitu yang terjadi adalah ‘kalah-kalah,’
dengan kedua belah pihak menjadi pihak yang kalah.
c. Memecahkan Masalah (Problem Solving)
Di sini kita memilih untuk sama-sama menempatkan kepentingan pihak
lain sebagai pemenang. Dengan kata lain, kedua belah pihak bersepakat untuk ‘menang-menang.’
Agar prinsip menang-menang itu terwujud, maka perlu dilakukan cara-cara berikut ini:
a. Saling menghargai, tidak bersifat ego-sentris, baik atas dasar kekuasaan, gender, atau pendidikan.
b. Mencari persamaan dasar, kepentingan apa yang bisa mempertemukan
tujuan bersama.
c. Menetapkan kepentingan, keinginan, dan kekhawatiran bersama.
d. Jika perlu, definisikan kembali permasalahan atau hal yang tidak
disepakati.
e. Memusatkan perhatian pada suatu hasil yang dapat diterima semua pihak.
f. Memberikan pilihan-pilihan dan tetap fleksibel atas kemungkinan untuk berubah.
g. Biarkan pikiran Anda selalu terbuka, terutama atas alternatif-alternatif penyelesaian dari kedua belah pihak.
h. Bersikap positif, tidak negatif.
i. Bekerjasama menyelesaikan masalah.
j. Hapus kata ‘tetapi’ dari kosa kata Anda. Orang lain pasti akan tidak nyaman jika Anda selalu menyatakan ‘tetapi’ atas pendapatnya.
k. Jika pendekatan Anda tidak berhasil, gantilah. Jangan putus asa untuk mencoba argumentasi baru yang lebih meyakinkan.
l. Tarik napas panjang. Barangkali itu akan membuat ketegangan Anda
mengendur.

6. Tingkah laku yang dapat mempengaruhi situasi komunikasi menjadi
sulit atau tidak.
Dengan memperhatikan pembahasan sebelumnya, maka dalam berkomunikasi
sebaiknya kita membuat situasi komunikasi menjadi menyenangkan bagi
pihak lain yang berkomunikasi dengan kita. Kita berusaha agar tingkah laku kita dalam berkomunikasi, tidak membawa kita ke dalam situasi komunikasi
yang menyulitkan. Berikut perbedaan antara tingkah laku yang menolong dan yang tidak menolong terhadap situasi komunikasi yang menyenangkan.
a. Tingkah laku menolong
1) Memusatkan pembicaraan hanya pada satu topik.
2) Bersabar.
3) Menjelaskan apa yang sedang didiskusikan dan mengapa.
4) Menyimak.
5) Menghormati pendapat orang lain.
6) Membuka segala keluhan dan permasalahan.
7) Ingin mencapai kesepakatan.
8) Memusatkan perhatian pada apa yang Anda setujui.
9) Memusatkan perhatian pada apa yang Anda berdua harapkan.
b. Tingkah laku tidak menolong
1) Bertahan pada pendapat sendiri.
2) Tidak siap untuk mengakui bahwa orang lain memang benar.
3) Menginterupsi.
4) Semua orang bicara pada saat yang bersamaan.
5) Sasaran tidak jelas.
6) Berteriak, marah.
7) Terlalu cepat mengambil kesimpulan.
8) Memaksakan “cara penyelesaian” kita kepada orang lain.
9) Memusatkan diri hanya pada kepentingan sendiri.
7. Deadly sin dalam sebuah kegiatan komunikas

Jika kita coba rangkum dari apa yang telah kita perbincangkan tentang komunikasi ini, maka kita akan menemukan sejumlah hal yang benar-benar harus kita hindari agar komunikasi kita tidak mengarah kepada ketidakefektifan. Maka, bolehlah hal-hal yang harus kita hindari itu kita sebut sebagai ‘dosa mematikan’ (deadly sin) dalam sebuah kegiatan komunikasi.
a. Mengevaluasi (menghakimi orang lain).
b. Menghibur (yang malah membuat komunikasi menjadi tidak terfokus).
c. ‘Coba-coba jadi Psikolog’ atau menjuluki, mudah memberikan penilaian terhadap orang lain.
d. Memberikan pernyataan yang sarkastik atau menyindir.
e. Mengajukan pertanyaan yang berlebihan.
f. Mengatur dan ‘menuntun,’ mengarahkan perbincangan hanya ke arah
yang kita inginkan.
g. Mengancam atau memberikan tekanan berdasar kekuasaan yang dimiliki.
h. Memberikan nasihat yang tidak diminta.
i. Bersikap tersamar atau ambigu yang membuat orang lain bingung
menetapkan komunikasinya.
j. Tidak mau membagi informasi.
k. Mengalihkan (memindahkan obyek pembicaraan karena tersudut).

Aksioma Dasar Komnikasi

Aksioma Dasar Komnikasi

Persoalan komunikasi yang paling menjadi perhatian adalah bagaimana
komunikasi yang kita lakukan bisa efektif terhadap orang lain. Itu bisa berarti mencari dukungan, membina hubungan, mempengaruhi orang lain agar mau melakukan apa yang kita inginkan, menetapkan keputusan, meminta anggota masyarakat untuk melakukan program pemerintah, dan berbagai hubungan profesional lainnya.
Sebelum kita membahas lebih jauh dan dalam berbagai hal tentang komunikasi ini, mari kita cermati terlebih dahulu mengapa komunikasi dapat berlangsung begitu rupa, diawali dengan membahas aksioma dasar komunikasinya. Istilah aksioma dipakai di sini untuk menunjukkan bahwa prinsip dasar ini merupakan hal yang hampir tak terbantahkan lagi kebenarannya. Aksioma dasar tersebut adalah

1. Segala yang kita lakukan adalah komunikasi
Sangat tidak wajar jika kita berkomunikasi hanya karena ‘kita ingin
berkomunikasi’, sehingga semua komunikasi memiliki tujuan, manfaat, dan secara sadar memiliki motivasi tertentu. Meski hal itu benar adanya, namun seringkali kita berkomunikasi tanpa kesadaran untuk melakukannya dan pada saat yang sama bahkan kita tak menginginkannya.
Kapanpun kita terlibat dalam suatu situasi interaksi, kita pasti akan memberikan tanggapan. Bahkan, jika kita memilih untuk tidak menanggapi secara verbal atau kita memilih diam dan tak menggerakkan satu pun otot kita, maka itu pun sudah berarti sebuah tanggapan. Tanggapan tersebut, tentu saja, memiliki pesannya sendiri, juga dapat mempengaruhi orang lain. Dengan kata lain, kita tidak dapat secara sukarela untuk berhenti bertingkah laku, karena perilaku tak memiliki lawan.
Pada dasarnya, kita memperlihatkan banyak tanda (petunjuk) baik verbal maupun non-verbal sebagai bentuk komunikasi kita. Oleh karenanya, seberapa besar upaya kita, kita tak dapat untuk tidak berkomunikasi (we cannot not to communicate), karena seluruh perilaku kita adalah komunikasi dan memiliki nilai pesannya sendiri.

2. Cara pesan disampaikan selalu mempengaruhi bagaimana pesan
tersebut diterima Dalam berkomunikasi terdapat dua dimensi, yaitu dimensi isi dan dimensi hubungan. Dimensi isi komunikasi berkaitan dengan tingkat data atau informasi dan menggambarkan perilaku yang diharapkan sebagai respon (tanggapan). Berlawanan dengan itu, dimensi hubungan komunikasi menunjukkan bagaimana pertukaran itu diterjemahkan, serta sinyal apa yang dipikirkan seseorang tentang orang lain. Misalnya kalimat, “Tutup Pintu!” Isi kalimat itu mengharapkan orang lain untuk melakukan suatu tindakan yaitu menutup pintu. Namun, kalimat tersebut bisa disampaikan dalam nada perintah, permohonan atau imbauan. Perbedaan cara menyampaikan itu akan
menandakan hakikat hubungan antar peserta komunikasi. Berdasarkan caracara tersebut, kita memberikan petunjuk kepada orang lain tentang bagaimana kita memandang hubungan kita dengan orang tersebut.
3. Komunikasi yang sebenarnya adalah pesan yang diterima, bukan yang
diharapkan untuk diterima.
Siapapun bisa mendengar atau melihat pesan yang disampaikan oleh orang lain. Namun, persoalan dasarnya adalah apakah orang lain tersebut mengerti apa yang kita komunikasikan, sesuai dengan harapan kita. Di sini persoalan menjadi lebih rumit. Hanya pada pesan yang dimengerti itulah kita bisa menyebutnya sebagai komunikasi, bukan seberapa banyak kita melemparkan pesan.
4. Cara kita memulai pesan seringkali menentukan hasil komunikasi.
Seringkali kita mengalami tanggapan yang tidak menyenangkan dari kawan komunikasi kita. Hal itu, seringkali, disebabkan oleh awal komunikasi yang kita lakukan. Pilihan kata dan nada suara pada awal komunikasi kita, dapat menyebabkan orang lain tersinggung dan menjaga jarak, bahkan menolak
komunikasi kita. Sehingga keberhasilan komunikasi kita akan ditentukan oleh bagaimana kita memulainya.
5. Komunikasi merupakan jalan dua arah, kita harus dapat memberi tidak
hanya menerima.
“Seorang pembicara yang baik (a good speaker) muncul dari seorang
penyimak yang baik (a good listener).” Jika komunikasi kita ingin berhasil, maka kita tidak hanya menyampaikan komunikasi dengan jelas, namun kita juga harus menyimak komunikasi orang lain, sehingga komunikasi itu menjadi jelas. Pada akhirnya, pengertian dan kesepahaman akan didapat.

6. Komunikasi adalah ‘tarian’
Komunikasi tidak hanya sekedar memberi dan menerima. Namun lebih dari itu, kita harus melakukannya bersama-sama. Suatu proses dua arah. Kita tidak bicara ‘kepada’ kawan bicara kita, namun kita bicara ‘dengan’ mereka. Oleh karenanya, tidak akan ada komunikasi yang sama. Karena pengalaman
komunikasi kita dengan mereka akan berbeda setiap saat. Seperti sebuah tarian bersama, maka semua penari harus menyelaraskan gerakannya agar terlihat indah, tidak atas kemauan pribadinya sendiri.
Dari pemahaman mengenai kenyataan dalam berkomunikasi di atas, dapat
dirumuskan hal-hal yang harus disadari oleh seorang komunikator, jika ingin melakukan komunikasi dengan baik. Seorang komunikator harus sadar bahwa:
1. Komunikasi sebenarnya tidak akan pernah terjadi, kecuali jika ada khalayak
yang mau melihat atau mendengar apa yang kita sampaikan.
2. Kita tidak hanya berkomunikasi semata-mata melalui serangkaian kata-kata,tetapi juga m s, penampilan media, dan sebagainya).
3. Berkomunikasilah kepada khalayak dalam pengalaman mereka, jika ingin mereka perhatikan.
4. Jika proses komunikasi ini menemui kesulitan, itu menjadi pertanda bahwa strategi kitalah yang salah, bukan pikiran khalayak yang salah.
5. Dan jika akhirnya kita gagal dalam proses komunikasi tersebut, maka bukan sekedar kata-kata yang harus diperbaiki, melainkan semua pikiran atau pertimbangan di balik kata-kata tersebut.
6. Sebelum mulai berkomunikasi, kita harus mengetahui persis apa yang diharapkan khalayak dari proses komunikasi tersebut.
7. Komunikasi kita akan semakin efektif jika melibatkan nilai dan aspirasikhalayak.
8. Jika yang kita nyatakan berlawanan dengan keyakinan, aspirasi, serta motivasi khalayak, maka hampir bisa dipastikan bahwa komunikasi kita gagal sama
sekali.
9. Yang menjadi masalah bukan yang ada dalam pikiran kita, melainkan apa yang
diterima dan diserap oleh khalayak.

Pembelajar Dewasa Berbeda dengan Pembelajar Anak

Pembelajar Dewasa Berbeda dengan Pembelajar Anak

Dalam sebuah buku berjudul Mendidik Anak Dengan Cinta, penulisnya mengumpamakan orang dewasa di mata anak-anak bak raksasa yang memagari pandangan sekeliling mereka. Dengan badan yang tinggi besar dan suara yang lantang, raksasa ini seringkali terlihat menakutkan. Para raksasa ini seringkali menyuruh, melarang dan memarahi, tiga aktivitas yang jika tidak dikemas apik oleh si raksasa, akan menciptakan pengalaman yang traumatis bagi si cebol. Baik orang tua maupun guru bisa menjelma menjadi raksasa-raksasa yang ditakuti oleh anak-anak, sehingga ketika keluar perintah dari mereka, anak-anak menuruti bukan karena paham, tapi karena takut. Dalam upaya membelajarkan tentu hal ini tidak ideal.
Artinya, walau bagaimanapun, kondisi ideal seseorang melakukan tugas pembelajaran adalah atas dasar keinginan untuk paham, bukan karena keterpaksaan atau ketakutan. Meski anak bersifat sangat imitatif, tidak mustahil mereka akan berhasil dipahamkan tentang sesuatu. Guru yang tugas utamanya adalah membelajarkan siswa, perlu kiranya memahami urgensi memahamkan siswa dengan cara memahami betul karakteristik siswanya agar selalu membuat keputusan-keputusan tepat mengenai apa yang diajarkan dan bagaimana cara mengajarkannya.
Manusia yang berlainan usia tentu saja memiliki kebutuhan, kompetensi, dan level kemampuan kognitif yang berlainan pula. Hal ini sangat penting dipertimbangkan dalam pengajaran; guru harus memetakan pikiran ketika mengatur segala hal untuk diajarkan berdasarkan pertimbangan usia siswa. Adalah sebuah hal yang signifikan pula bagi seorang pengajar untuk mengetahui siapa siswanya: bagaimana cara belajar mereka, latar belakang sosial-ekonominya, gaya belajarnya yang berbeda-beda, motivasi yang dimiliki, dan banyak faktor lainnya. Dengan memahami secara komprehensif terhadap faktor-faktor ini, seorang guru tidak akan memperoleh kesulitan yang berarti dalam membelajarkan siswanya. Untuk lebih menukik pada pembahasan, kita akan bahas faktor penting yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran bagi siswa yaitu usia.
A. PEMBELAJAR ANAK-ANAK
Pembelajar anak-anak adalah tipe pembelajaryang—pada titik tertentu—unik. Mereka memiliki karakteristik unik yang tentu berpengaruh pula pada proses mereka belajar, terutama dalam belajar bahasa. Inilah yang menjadi alasan tepat kenapa pembelajaranak-anak banyak menarik perhatian para ahli untuk meneliti mereka, terutama dalam wilayah pembelajaran bahasa. Banyak ahli setuju bahwa semakin dini anak diperkenalkan bahasa kedua, maka semakin besarlah kemungkinan anak tersebut menguasainya. Namun tetap saja, masalah ini masih diperdebatkan. Bahwa anak mudah sekali mengenal dan mengingat sesuatu, itu adalah sebuah fakta umum yang banyak terlihat buktinya. Namun, mempelajari bahasa terutama bahasa kedua, adalah sebuah proses kompleks yang melibatkan wajib hadirnya banyak faktor, yang mana faktor-faktor tersebut belum dimiliki oleh anak-anak.
Anak-anak, terutama di usia 5-10 tahun, memiliki gaya belajar yang sangat berbeda dengan anak yang usianya lebih tua dari mereka, dengan remaja ataupun orang dewasa. Perbedaan tersebut terletak pada:
a. Anak usia ini merespon makna dengan cepat meskipun tidak paham kata per katanya (Harmer, 2002; Gusrayani, 2006). Hal ini bisa diilustrasikan dengan konteks berikut. Sangat sering, guru bahasa Inggris di SD memberi contoh percakapan :how are you? dan siswa serempak menjawab I„m fine thank you, and you? Atau where do you live dijawab siswa dengan I live in…….(menyebutkan tempat tinggal). Anak tidak perlu mengetahui makna „how‟ atau „are‟ atau „you‟, karena mereka sudah mengetahui bahwa frase tersebut bermakna „apa kabar‟. Tidak perlu mereka mengetahui makna „where‟, „do‟, „you‟, dan „live‟, satu demi satu, melainkan cukup memahami bahwa frase tersebut digunakan untuk mempertanyakan tempat tinggal. Dan merekapun paham bagaimana cara meresponnya.
b. Anak seusia ini biasanya belajar secara tidak langsung—mereka mengambil informasi dari berbagai sisi, belajar dari berbagai hal dan tidak hanya terfokus kepada satu topik tertentu yang saat itu diajarkan. Khusus dalam belajar bahasa, jika anak diperkenalkan pada satu kosakata baru, maka ia akan mengaitkan dengan konteks yang ada dibenaknya, untuk mengukur ketepatan pemahaman mereka terhadap kata tersebut (Gusrayani, 2009). Contoh, seorang anak berusia 6 tahun mendengar kata „playboy‟ dari sinetron yang ditontonnya. Ia lalu bertanya kepada pengasuhnya, apa arti kata tersebut. Sang pengasuh menjelaskan bahwa kata yang dimaksud bermakna „suka mempermainkan perempuan‟. Di situasi lain, ketika ayah anak ini mengolok-oloknya dengan maksud bercanda, si anak langsung melabeli sang ayah sebagai „playboy‟, karena mempermainkannya sebagai perempuan.

c. Pemahaman mereka akan terbangun tidak hanya oleh penjelasan saja, tapi juga dari apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apapun yang mereka sentuh dan dengan siapa mereka terlibat berinteraksi berpengaruh signifikan juga dalam membangun pemahaman anak. Bisa kita lihat perbedaan yang sangat signifikan dari gaya bicara ataupun kosakata yang digunakan oleh anak-anak yang besar di lingkungan santun dan kaya pewajanan dengan anak-anak yang besar di lingkungan yang tak santun dan miskin pewajanan.
d. Pada umumnya, mereka menununjukkan antusiasme untuk belajar dan penasaran pada dunia di sekelilingnya. Pun dalam hal mengenal dan mengeksplorasi bahasa. Anak-anak cenderung antusias dalam menerapkannya pada konteks yang mereka tahu, sebatas yang mereka pahami.
e. Mereka penasaran dengan kosakata yang baru mereka dengar, berusaha mengeksplorasinya dengan berulang-ulang mengucapkannya, untuk mengetahui respon orang dewasa di sekitarnya. Apalagi jika orang dewasa menunjukkan respon kaget atau tidak suka, anak-anak cenderung sengaja mengulang-ulangnya. Contoh jika orang dewasa telanjur keceplosan mengeluarkan kata-kata tabu atau berkonotasi seksual. Anak-anak cenderung senang mengeksplorasinya dengan mengulang-ulangi pengucapan kata tersebut.
f. Mereka butuh perhatian intensif sebagai seorang individu, juga pengakuan dari sang guru. Konteks ini berlaku umum ketika seorang anak belajar apapun. Saat mempelajari bahasa baru, sangat mungkin anak melakukan kesalahan dalam menuliskan ataupun membacanya. Disini perhatian intensif guru ataupun orang dewasa di sekelilingnya sangat dibutuhkan. Terutama untuk menegaskan bahwa dalam mempelajari bahasa kedua, kesalahan yang diperbuat sebenarnya tak tepat jika disebut kesalahan, karena hal tersebut baru mereka ketahui, dan tidak pernah mereka temui sebelumnya. Contoh, jika anak mengucapkan one untuk satu dalam Bahasa Inggris, dan bukannya “wan‟, ini sangat bisa dipahami mengingat begitulah aturan pengucapan kata tersebut dalam bahasa Indonesia, sehingga apa yang mereka ucapkan sesungguhnya bukanlah kesalahan. Beberapa ahli cenderung memperkuat hal ini (Harmer, 2002; Pinter, 2006; Ellis, 1994).
g. Mereka suka membicarakan diri mereka, dan akan memberikan respon yang positif ketika pembelajaran melibatkan diri mereka dan kehidupan sehari-hari mereka sebagai topik utama di kelas. Dalam pembelajaran bahasa, setiap memperkenalkan tema kosakata yang akan diajarkan misalnya, pengajara bisa memulai keterlibatan kognitif siswa dengan membawa tema kosakata tersebut dengan hidup keseharian mereka. Misal, jika akan mengenalkan kosakata terkait binatang peliharaan, bisa dimulai dengan bertanya: do you have pets at home?
h. Rentang perhatian mereka sangat terbatas; artinya mereka tidak akan selalu memperhatikan. Mereka cepat lelah dan bosan, kecuali jika aktivitas yang melibatkan mereka benar-benar menarik. Mereka akan kehilangan minat setelah 10 menit atau lebih.
B. PEMBELAJAR REMAJA
Sudah merupakan hal yang tidak asing bahwa isu kunci pada kehidupan remaja adalah sisi pencarian identitas individu yang sangat kental sehingga berpengaruh kepada minat yang sangat besar terhadap pencarian tantangan. Berikut beberapa karakteristik khusus pembelajarremaja yang terkait dengan karakteristik individunya.
a. Pendapat teman sebaya lebih penting dibanding perhatian guru, dimana untuk pembelajaranak-anak justru perhatian guru yang lebih penting.
b. Banyak membawa problem di luar ke dalam kelas, sehingga berpengaruh kepada konsentrasi dalam belajar.
c. Jika guru mampu mengontrol mereka, tipe pembelajarseusia ini bisa sangat suportif dan konstruktif (Harmer, 2002).
d. Kapasitas belajar mereka sangat besar, potensi untuk kreatif sangat tinggi dan komitmen untuk terlibat dalam hal-hal yang menarik minat mereka sangat kuat.
C. PEMBELAJAR DEWASA
Pembelajar dewasa sangat kentara dalam beberapa karakteristik spesial sebagai berikut:
a. Mereka bisa terlibat dalam pemikiran yang abstrak.
b. Mereka memiliki sejumlah pengalaman hidup yang bisa dijadikan sebagai pengalaman belajar.
c. Mereka memiliki ekspektasi serius tentang proses pembelajaran dan mungkin telah memiliki pola pembelajaran sendiri.
d. Orang dewasa cenderung lebih disiplin daripada remaja dan anak-anak, dan secara krusial mereka siap untuk melawan kebosanan belajar.
e. Tidak seperti anak-anak dan remaja, mereka biasanya punya pemahaman yang utuh dan jelas tentang tujuan mereka belajar dan apa yang ingin mereka pelajari. Hal ini sangat penting untuk keberhasilan pembelajaran.
Mengajar anak usia pemula secara alami harus berbeda dengan mengajar anak SMA atau dewasa. Siswa SD memiliki karakteristik tersendiri—biologis, kognitif, afektif, kepribadian, dan sosial. Siswa SD senang beraktivitas, bermain, dan bernyanyi. Tujuan utama pelajaran bahasa Inggris pada tahap pembelajaran awal seperti ini adalah untuk memberi gambaran bahwa selain bahasa ibu dan bahasa daerah mereka, ada bahasa lain yang bisa mereka pelajari, yaitu bahasa asing. Diharapkan, mereka bisa tertarik mempelajari bahasa baru ini. Kemampuan yang dituntut pada jenjang ini pun masih sederhana,
siswa mampu memahami beberapa kosakata untuk mendukung kompetensi ekspresi tertulis dan ekspresi ucap yang sederhana.
Usia pemelajar, bakat bahasa yang dimiliki anak, strategi/gaya belajar, motivasi, dan latar belakang sosial ekonomi anak yang jelas berbeda antara anak yang satu dengan lainnya, adalah faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh pengembang program pembelajaran Bahasa Inggris ataupun pembuat kebijakan terkait pengajaran bahasa Inggris. Memformulasikan tujuan-tujuan pembelajaran dan selektif dalam memilih bahan ajar serta strategi yang tepat harus menjadi prioritas utama sebelum memutuskan untuk mengajarkan bahasa asing di sekolah dasar. Hal ini akan dibahas lebih lanjut di bab 4 mengenai pemilihan materi, metode dan media.
Sebenarnya, dibutuhkan pelatihan khusus untuk mengajar anak usia pemula; fitur-fitur kebahasaan seperti apa yang harus diajarkan, dan bagaimana membantu anak untuk mempelajarinya. Mengajarkan bahasa Inggris pada anak tidak akan semudah mengajarkan bahasa ibu mereka. Perbedaan sistem linguistik, pengejaan dan pengucapan akan mengundang banyak masalah di dalam kelas. Berikut dipaparkan beberapa karakteristik alamiah yang melekat pada anak dan bagaimana implikasinya pada pengajaran.
D. FITUR UMUM ANAK-ANAK DALAM MEMPELAJARI BAHASA
1. Perkembangan intelektual
Karena anak (sampai usia 8 tahun) masih dalam tahap intelektual yang disebut oleh Piaget (1972) operasional konkrit, guru harus selalu mengingat keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada anak di tahapan ini. Aturan, penjelasan, dan beberapa pembicaraan abstrak tentang bahasa harus betul-betul memakai pendekatan yang ekstra hati-hati. Anak-anak terfokus kepada apa yang terjadi saat ini, tidak terlalu mementingkan untuk tahu atau mengerti apa yang akan terjadi nanti, atau apa yang sudah mereka alami. Hal ini berimplikasi signifikan pada pembelajaran. Anak juga peduli pada tujuan fungsional bahasa (untuk apa kalimat itu dipakai) namun tidak terlalu peduli terhadap “kebenaran” (correctness) yang dikehendaki oleh orang dewasa dan tidak bisa memahami bahasa rumit yang digunakan orang dewasa untuk menjelaskan konsep-konsep linguistik (Harmer, 2002). Berikut adalah beberapa rambu-rambu umum yang bisa diterapkan guru di dalam kelas bahasa Inggris di SD (rambu-rambu detil akan Anda temukan di BAB berikutnya):
1) Jangan menjelaskan grammar secara eksplisit menggunakan istilah-istilah seperti past tense, relative clause, dsb. Alangkah lebih baiknya guru mencontohkan pola-pola kalimat termaksud dengan ilustrasi konkrit bisa berupa gambar, perilaku guru atau lainnya (Hadley, 2001). Hal inilah yang dinamakan konktretisasi dan kontekstualisasi (akan dibahas kemudian)
2) Aturan yang abstrak dan sulit dibayangkan siswa alasannya, mutlak harus dihindari, misal: untuk membuat pernyataan menjadi pertanyaan tambahkanlah do atau does. Lebih baik guru memberikan contoh kalimat dengan mengulang-ulangnya. Mengulang-ulang contoh kalimatnya lebih baik dibanding mengulang-ulang penjelasan/aturan yang dimaksud. Anak akan mampu memformulasikan sendiri aturan yang dimaksud jika contoh yang diberikan guru jelas.
3) Beberapa konsep gramatika bisa lebih menarik perhatian siswa jika guru mendemonstrasikannya, misal: sampai berjalan ke depan pintu, guru berkata I‟m walking to the door.
4) Beberapa konsep atau pola-pola yang sulit perlu diulang-ulang agar otak dan telinga anak mudah berkoordinasi.
2. Rentang Perhatian
Salah satu perbedaan menonjol anak dan orang dewasa adalah dari sisi rentang perhatiannya. Pertama, kita harus memahami apa itu rentang perhatian. Simpan anak di depan tivi yang menayangkan film kartun favoritnya, maka dia akan tahan berjam-jam di depan tivi. Jadi jangan membuat asumsi bahwa anak memiliki rentang perhatian yang pendek. Tapi rentang perhatian yang pendek akan muncul jika anak terlibat dalam satu aktivitas yang membosankan, tidak berguna atau terlalu sulit. Aktivitas belajar yang membosankan sangat mungkin tercipta di atmosfir pembelajaran kita, disadari ataupun tidak. Gaya mengajar guru di kelas misalnya, yang hanya memakai one way teaching, atau guru mentransfer apa yang diketahui kepada siswa dan siswa tidak aktif „memanipulasi‟ pembelajaran, bisa menjadi penyebab atmosfir kebosanan melanda suasana pembelajaran. Pembelajaran yang tidak memfasilitasi anak untuk bergerak dari tempat duduknya, memegang, meraba atau memanipulasi sesuatu melainkan hanya memaku mereka di tempat duduk, akan membuat rentang perhatian anak menjadi pendek, cepat bosan dan „terpicu‟ untuk membuat keributan. Lalu, gaya mengajar yang terlalu „dewasa‟ baik dari sisi bahasa yang digunakan guru maupun dari sisi penyajian konten pembelajaran (diilustrasikan pada bab 4) akan membuat siswa merasa aktivitas yang mereka lakukan tak berguna. Hal inipun akan memicu rentang perhatian yang pendek tadi. Lalu, kondisi pembelajaran yang tidak berhasil dikondisikan guru untuk sesuai dengan usia dan kemampuan siswa akan menjadikan pembelajaran terlalu sulit ataupun terlalu mudah. Pembelajaran yang terlalu sulit ataupun terlalu mudah bagi siswa, juga akan memicu rentang perhatian yang pendek. Karena belajar bahasa Inggris bisa jadi terlalu sulit untuk anak, maka tugas gurulah untuk membuat pembelajaran bahasa Inggris bisa terkemas menarik, hidup dan menyenangkan.
Bagaimana caranya? Lebih detilnya Anda bisa lihat di bab 4 mengenai pemilihan materi dan model pembelajaran bahasa Inggris. Secara umum, berikut beberapa gambaran tips sederhananya.

1) Karena anak selalu terfokus pada saat ini dan sekarang, maka aktivitas harus dirancang untuk menangkap minat mereka dengan segera. Hindari aktivitas yang membuat mereka harus mengingat kejadian lalu atau kejadian yang akan datang dalam durasi yang cukup lama. Ketikapun mereka mampu melakukannya, aktivitas sejenis ini tak akan terlalu menarik minat mereka.
2) Kegiatan harus beragam agar minat anak terjaga dan perhatian anak tetap ada. Anak secara umum memiliki beragam gaya belajar (dibahas secara rinci di bab 2). Pastikan kegiatan pembelajaran mengakomodir kebutuhan setiap siswa yang berbeda berdasarkan gaya belajarnya.
3) Guru harus “hidup” dan antusias terhadap pelajaran. Bayangkan ruang kelas itu adalah panggung dimana guru sebagai aktornya. Jika harus menjadi komedian, maka jadilah komedian, Pembelajaran mengharuskan guru menyanyi, mendongeng bahkan menari sekalipun, maka itu yang sebaiknya dilakukan demi untuk menjaga antusiasme siswa.
4) Guru harus memiliki rasa humor yang tinggi untuk tetap tertawa sambil belajar. Karena selera humor anak berbeda dengan orang dewasa, maka pastikan humor anda sesuai dengan selera anak. „Kesalahan‟ yang diperbuat siswa ketika belajar bahasa Inggris, bisa „diperbaiki‟ tanpa menyakiti si anak, dengan penuh candaan namun tidak menjadikannya bahan tertawaan.
5) Anak memiliki sejumlah besar rasa penasaran. Pastikan guru mengeksplorasi rasa itu sejauh mungkin agar perhatian anak tetap terfokus pada kegiatan pembelajaran. Rasa penasaran terkait erat dengan antusiasme siswa. Semakin ia penasaran dengan apa saja yang mungkin ia dapati di pembelajaran, semakin hal tersebut menunjukkan antusiasmenya terhadap pembelajaran. Jangan lewatkan rasa penasaran yang
sebenarnya ada si setiap anak, dengan menyajikan aktivitas yang monoton di setiap pembelajaran.
3. Input Sensor
Anak harus terstimulasi seluruh inderanya. Aktivitas guru harus melibatkan organ visual dan auditori anak, dengan porsi yang cukup. Caranya:
1) Berikan aktivitas fisik yang cukup dalam pembelajaran. Misal dengan aktivitas bermain peran (role play). Bermain peran untuk anak seusia SD tidak harus yang kompleks dan berdurasi lama. Percakapan sederhana untuk mengkontekstualisasikan kapan ekspresi-ekspresi tertentu digunakan, untuk apa fungsinya, bagaimana mengucapkannya, itu bisa dibelajarkan dengan role play. Aktivitas fisik bisa pula dieksplorasi dengan cara siswa diminta ke depan, memperagakan atau menunjuk kosa kata yang kita ajarkan. Atau aktivitas-aktivitas lain sejenis.
2) Aktivitas praktis yang lain harus sejalan dengan tujuan membantu anak menginternalisasi bahasa. Aktivitas berkelompok misalnya merupakan cara yang baik agar anak belajar kata dan struktur kata dan mempraktikan bahasa yang bermakna. Bahasa tidak akan lengkap dipelajari jika tidak diajarkan dengan konteks penggunaannya. Menggunakan bahasa membutuhkan partner sebagai pendengar. Aktivitas kelompok bisa diaplikasikan untuk membuat anak saling mengeksplorasi penggunaan bahasa yang mereka ketahui.
3) Alat sensor membantu anak menginternalisasi konsep-konsep. Misalnya: mencium harum bunga, menyentuh tumbuhan dan buah-buahan, merasai makanan, melihat video, gambar, mendengarkan tape recorder, musik—semuanya adalah elemen penting untuk pembelajaran bahasa bagi anak. Penting untuk diingat, bahasa verbal guru juga penting, karena anak akan tertarik juga pada mimik muka, gesture (gerak tubuh), serta sentuhan guru. Oleh karenanya, dalam pembelajaran, usahakan semua alat sensor ini dieksplorasi penggunaannya oleh guru melalui konteks-konteks pembelajaran yang menarik. Aktivitas penyampaian bahan ajar harus mengoptimalkan sebanyak mungkin input sensor siswa bekerja.
4. Faktor Afektif
Mitos yang sangat umum bahwa anak-anak relatif tidak terpengaruhi oleh rintangan-rintangan yang biasanya menghambat orang dewasa untuk belajar. Tidak selalu begitu! Anak-anak cenderung inovatif dalam produk bahasa, tapi tetap saja menghadapi banyak rintangan. Mereka sangat sensitif terutama kepada teman sebayanya: apa yang orang lain pikirkan tentang saya. Apa yang dipikirkan orang lain saat saya berbicara bahasa Inggris? Ketakutan jika ditertawakan atau diolok-olok saat salah mengucapkan satu kosakata misalnya, bisa mencegah mereka dari berlatih pronunciation. Seharusnya siswa SD yang belajar bahasa Inggris dihindarkan dari ketakutan semacam ini. Dalam beberapa hal anak cenderung lebih rentan dari orang dewasa. Ego mereka masih sedang terbentuk sehingga nuansa komunikasi yang tidak jelas bisa diinterpretasikan secara negatif. Guru harus menolong mereka untuk mengatasi rintangan tersebut yang sangat potensial akan menghambat mereka.
1) Bantu siswa anda untuk dengan ringan tertawa jika mereka membuat kesalahan. Jangan pojokkan mereka dengan kesalahan yang sebenar-benarnya—seperti diungkap di atas—bukan kesalahan.
2) Guru harus sabar dan supportif untuk membangun kepercayaan diri anak, tapi harus tegas dalam hal harapan-harapan terhadap siswa. Meski dalam satu dua hal guru menunjukkan kelembutan sikap dalam rangka menumbuhkan semangat siswa untuk belajar, namun tak lantas kesalahan siswa tak dikoreksi karena takut menyakiti hati, Tetap saja, upaya perbaikan harus menjadi targetan guru di setiap pembelajaran apapun kondisinya.
3) Rangsang partisipasi secara oral sebanyak mungkin terutama untuk siswa yang pendiam, agar mereka berkesempatan untuk mencoba sesuatu yang menarik. Eksplorasi antusiasme mereka dengan sebaik-baiknya. Desain bentuk pembelajaran yang membuat mereka banyak berlatih, terutama berlatih mengucapkan kosakata baru atau ekspresi-ekspresi sederhana dalam Bahasa Inggris. Pada saat mereka berpartisipasi secara oral, utamakan kesenangan mereka dalam hal mencoba hal-hal baru tersebut, luaskan toleransi dari guru jika mereka salah mengucapkan, karena memang sistem bunyi nyang sangat berbeda antara bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.
5. Bahasa yang Otentik dan Bermakna
Anak-anak terfokus kepada apa yang bisa dilakukan bahasa baru ini, disini dan saat ini. Mereka tidak tertarik untuk berurusan dengan bahasa yang tidak berguna bagi mereka saat itu. Bahasa-bahasa yang menurut mereka tidak akan mereka gunakan saat itu, tak begitu menarik minat mereka. Guru harus bekerja keras untuk memberikan pembelajaran bahasa yang bermakna bagi anak.
1) Anak memiliki sensitivitas tinggi terhadap bahasa yang tidak otentik, sehingga beberapa kosakata yang resmi atau kaku di dunia mereka, akan tertolak.
2) Bahasa harus benar-benar diberikan dengan konteksnya. Cerita, situasi dan karakter yang biasa dikenal anak, percakapan sehari-hari, tujuan-tujuan bermakna dalam penggunaan bahasa—semua ini akan memberikan konteks dimana bahasa bisa diterima dan dipahami sehingga hal ini bisa meningkatkan perhatian dan daya ingat. Oleh karenanya, sangat dianjurkan guru bahasa Inggris di SD untuk memberikan bantuan konteks terhadap apapun yang diajarkan melalui dukungan media; gambar, permainan, nyanyian dan bentuk-bentuk lain yang sekiranya menarik minat anak.
3) Pendekatan bahasa secara keseluruhan sangat penting. Jika bahasa dipecah-pecah menjadi potongan-potongan kecil maka siswa tidak akan melihat kaitannya terhadap keseluruhan. Contoh seperti chunk words yang dicontohkan di atas. Jangan pernah berpikir bahwa dalam konteks percakapan sederhana, mengenalkan kata demi kata lebih baik dibanding mengenalkan ekspresi-ekspresinya secara keseluruhan. Juga tekankan aktivitas yang berhubungan antar keempat skill (membaca, mendengar, menulis dan berbicara) agar anak melihat dengan jelas korelasinya satu sama lain.
6. Bakat
Beberapa siswa bisa belajar bahasa lebih baik dibanding yang lain. Pada tahun 1950-1960an, pandangan bahwa anak memiliki bakat linguistik menjadi semakin terkristal dan semakin banyak diyakini. Konsekuensi dari pandangan ini, maka kemampuan dan kemajuan berbahasa siswa di masa depan bisa diprediksi dengan apa yang disebut tes bakat. Namun tes bakat dalam linguistik nampaknya tidak mampu mengukur banyak hal selain kemampuan intelektual umum meskipun memang tes ini dimaksudkan untuk mencari bakat-bakat linguistik. Tes ini hanya tepat bila dihadapkan kepada mereka yang memiliki kemampuan grammar.
7. Sifat Pemelajar
Beberapa siswa usia sekolah dasar,
Beberapa ahli mencirikan kategori tipe pembelajaryang baik sbb:

1. Memiliki toleransi terhadap ambiguitas. Artinya, jika ada sesuatu yang tidak bisa langsung dia akomodasi (tidak sesuai dengan yang pernah ia terima sebelumnya) maka ia tidak lantas menolaknya, tetapi mencari cara untuk menemukan alasan ambiguitas tersebut dan baru menerima atau menolaknya.
2. Siap untuk menghadapi tugas-tugas dengan cara yang positif. Tidak takut atau gelisah menghadapi tugas-tugas, Tidak mengandalkan orang lain kecuali jika benar-benar membutuhkan. Tidak terpikir untuk mengerjakan tugas pembelajaran dengan cara yang negatif, misal mencontek dari teman.
3. Memiliki ego untuk sukses. Tidak puas dengan pencapaian yang minimal. Ingin senantiasa meningkatkan diri dan prestasi.
4. Memiliki aspirasi tinggi. Selalu ingin bertanya, menjawab, mengajukan pendapat, membantu, menginisisasi, mendorong, dan berkontribusi secara positif pada pembelajaran.
5. Berorientasi kepada tujuan.Tahu mengapa ia harus belajar sesuatu yang baru setiap waktu, dan bagaimana dampak hal yang dipelajarinya itu di kehidupannya yang akan datang.
6. Sabar menghadapi tantangan. Tidak lekas mengeluh, menyerah, bahkan berputus asa. Hal-hal sulit dianggapnya menjadi tantangan.
Ada pula yang menambahkan karakteristik pembelajaryang baik yaitu mereka yang:
1. Mampu mencari cara sendiri tanpa selalu dibimbing oleh guru saat mengerjakan tugas-tugas.
2. Kreatif.
3. Membuat tebakan-tebakan yang cerdik. Sebelum guru menyampaikan jawaban terhadap permasalahan apapaun, ia berusaha menebaknya.
4. Menciptakan kesempatan sendiri untuk berlatih. Tidak selalu harus disuruh oleh guru saat harus melatih kemampuan diri seperti mengerjakan tugas dan lain-lain.
5. Memanfaatkan kesalahan untuk memperbaiki diri. Tidak meratapi kesalahan secara berlebihan, melainkan menjadikannya titik awal (starting point) untuk berubah menjadi jauh lebih baik.
6. Menggunakan petunjuk-petunjuk kontekstual. Apapun yang ada di sekelilingnya (gambar, tulisan, poster, dll) bisa membantunya belajar sesuatu.
8. Level Kemampuan Berbahasa
Siswa yang memiliki latar belakang pernah tinggal bersama orangtuanya di negeri yang berbahasa Inggris, akan memiliki kemampuan berbahasa yang unggul dibanding siswa yang sama sekali tak memiliki pengalaman ataupun bersentuhan dengan Bahasa Inggris. Biasanya kemampuan siswa dideskripsikan kedalam tiga level: beginner (pemula), intermediate (menengah) dan advanced (mahir). Masalah yang muncul adalah, standar tingkatan ini untuk tiap sekolah atau lembaga tidak sama. Siswa yang terkategori mahir di satu sekolah, mungkin masih dianggap menengah oleh guru di sekolah lain. Beberapa isu yang terkait dengan levelitas kemampuan berbahasa ini adalah:
a. Efek Datar
Siswa yang berada di level pemula akan beroleh kemajuan yang pesat dan hal tersebut mereka rasakan secara nyata dengan mudah dari minggu ke minggu. Hal ini tidak berlaku pada siswa yang berada di level lebih tinggi, misal level menengah. Kemajuan yang didapat secara alamiah memang tak akan sama pesatnya dengan ketika ia masih menjadi pemula. Hal semacam ini disebut efek datar, dan akan menyebabkan penurunan prestasi belajar bahasanya karena terpengaruh secara psikologis. Guru harus sensitif terhadap adanya efek datar ini, dan jika memungkinkan, mengambil langkah-langkah antsipatif agar efek ini tidak terjadi. Upaya yang dilakukan semisal: memasang target dengan jelas tentang apa yang harus dicapai siswa dan mensosialisasikannya secara kontinyu pada siswa, menjelaskan hal-hal yang masih belum dicapai siswa, memastikan setiap aktivitas melibatkan partisipasi siswa dan bemakna bagi siswa, dan selalu menyalakan minat siswa dengan mngajarkan penggunaan bahasa secara variatif.
b. Metodologi Guru
Beberapa teknik dan latihan untuk pemula bisa jadi kurang tepat untuk siswa yang berada di atasnya. Misalnya penggunaan repetisi (pengulangan). Bagi pemula, penggunaan repetisi lebih efektif dan guru lebih mudah menggunakannya. Namun, bagi siswa di level menengah atau mahir, cara ini akan terasa aneh dan kaku. Untuk level yang lebih tinggi lebih baik guru memilih dan mengorganisir kegiatan semacam diskusi, role play dan sejenisnya.
c. Bahasa yang Digunakan Guru
Guru harus mengadaptasikan bahasa yang digunakan di kelas sesuai dengan level kemampuan siswa. Tidak bijak jika untuk pembelajarpemula guru menggunakan bahasa Inggris yang kompleks. Gunakan saja bahasa Inggris sederhana misalnya instruksi-instruksi sederhana yang diiringi gerak tubuh guru (“move forward”, sambil guru melambaikan tangannya pada siswa), Bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa untuk mengajarkan bahasa Inggris untuk pemula, di kelas sebaiknya guru mencampur bahasa pengantar dalam
pembelajaran, dengan bahasa ibu siswa. Hal ini, menurut beberapa penelitian, mampu mempermudah siswa menguasai bahasa Inggris.
d. Topik
Salah satu isu yang muncul pada pembelajartipe pemula adalah bahan ajar yang dipilihkan guru seringkali mengedepankan topik-topik yang kompleks sehingga sulit untuk mereka dalami karena keterbatasan kemampuan berbahasa mereka. Materi ajar yang kita berikan harus berbeda di setiap levelnya, bukan hanya dari sisi kompleksitasnya tapi juga pada jenis mata ajar, muatan, tingkat kesulitan dan banyaknya. Guru harus kreatif dan selektif dalam memilih bahan ajar sesuai dengan level kemampuan berbahasa anak.
e. Variasi Individu
Jika kita menemukan fakta bahwa seseorang bisa melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain—daya analisisnya lebih kuat, daya ingatnya lebih lama, daya pembedanya terhadap banyak hal lebih sensitif misalnya—hal ini mengindikasikan terdapat perbedaan pada cara kerja otak manusia. Hal ini juga menjelaskan bahwa respon orang terhadap rangsangan yang sama akan berbeda-beda pula. Bagaimana efeknya terhadap kesiapan belajar seorang individu? Bagaimana pula efeknya terhadap cara guru mengajar siswa? Ada dua teori yang mencoba menjelaskan variasi individu semacam ini dan dua teori ini menyajikan pilihan bagi guru terkait dengan apa yang ia harus usahakan agar siswanya mendapat yang terbaik.
1) Neuro-linguistic programming (NLP). Berdasarkan para praktisi NLP, untuk menghadapi dunia, manusia menggunakan sejumlah sistem representasi primer. Sistem ini dideskripsikan dengan akronim VAKOG yang merupakan singkatan dari Visual (kita lihat dan perhatikan) Auditory (kita dengar dan simak) Kinasthetic (kita rasakan secara eksternal, internal atau melalui gerakan) Olfactory
(kita membaui sesuatu) Gustatory (kita merasai sesuatu). Dalam menghadapi dunia, orang menggunakan satu sistem primer yang lebih menonjol. Seseorang akan terstimulasi oleh musik karena sistem primer yang menonjol dalam dirinya adalah sistem auditory. Sedangkan bagi orang lain, ketika sistem primer yang menonjolnya visual maka ia akan terstimulasi oleh gambar. VAKOG mengindikasikan juga beberapa siswa akan mendapatkan banyak hal dengan mendengar, sedangkan yang lain dengan cara melihat.
2) Teori kecerdasan berganda (Multiple Intelligence). Konsep ini diperkenalkan oleh seorang psikologis dari Harvard, Howard Gardner. Ia menegaskan bahwa manusia tidak hanya memiliki satu kecerdasan, tapi sejumlah kecerdasan. Ada 7 kecerdasan menurut Gardner: Kecerdasan Musik/Ritmis, Verbal/Linguistik, Visual/Spasial, Tubuh/Gerak, Logis/Matematis, Intrapersonal dan Interpersonal. Menurutnya, semua orang memiliki kecerdasan ini, namun penampakan yang menonjol dari tiap orang hanya satu atau dua jenis kecerdasan saja. Jika fakta ini memang jelas, implikasinya pada pengajaran adalah, jelas guru harus peka bahwa setiap tugas pembelajaran tidak akan berdampak sama pada setiap anak baik itu dari sisi proses maupun hasil. Guru harus pandai mengkreasikan berbagai media, model, maupun alat bantu pembelajaran agar setiap anak dengan potensi yang berbeda-beda tersebut akan mampu terakomodasi kebutuhannya di kelas sehingga ia belajar dalam atmosfir yang kondusif. Murray Loom, guru pada Sekolah Dasar Giralang di Canberra, Australia memberikan gambaran proses 7 kecerdasan ini dalam kerangka implikasinya terhadap siswa.

f. Motivasi
Dalam bidang apapun, semua orang sepakat bahwa motivasi adalah kunci menuju sukses. Sehingga siapapun orangnya akan berupaya keras untuk menumbuhkan motivasi dalam dirinya. Jika motivasi menjadi sedemikian penting, maka menjadi masuk akal ketika banyak sekali usaha diarahkan untuk menggali dan mengeksplorasi hal ini. Apakah siswa memiliki motivasi yang sama dalam belajar? Atau, apakah mereka akan termotivasi dengan cara yang sama?
Motivasi adalah dorongan internal yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu dalam rangka mencapai suatu tujuan (Harper, 1988). Marion Williams dan Richard Burden menyodorkan definisi yang sejalan dengan Harper, bahwa motivasi adalah „keadaan kesadaran kognitif‟ yang mampu memprovokasi „keputusan untuk bertindak‟ sebagai akibat dari adanya „upaya intelektual yang kuat‟ dan „upaya fisik‟, sehingga seseorang bisa mencapai „tujuan yang telah ditentukan‟ (Williams and Burden 1997:120). Selanjutnya mereka ungkapkan bahwa besar kecilnya motivasi akan sangat bergantung pada seberapa berharganya mereka memaknai hasil yang mereka harapkan. Motivasi biasa didikotomikan menjadi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik dilatarbelakangi oleh berbagai faktor luar. Misal, lulus ujian karena merupakan prasyarat masuk ke jenjang berikutnya, atau berharap dapat hadiah dari orangtua dan lain sebagainya. Motivasi instrinsik sebaliknya, datang dari dalam diri individu. Seseorang akan termotivasi belajar secara internal jika suasana pembelajaran yang diciptakan benar-benar membuatnya tertarik untuk belajar, berpikir, atau melakukan aktivitas pembelajaran tersebut. Pembelajaran yang menarik dapat membantu siswa belajar dengan lebih baik, disadari ataupun bahkan tidak oleh siswa tersebut.
Lingkungan dimana siswa tinggal, orang-orang terdekat, guru dan metode adalah 4 hal eksternal yang bisa menjadi sumber motivasi internal bagi siswa.