Berpuisi Ialah Perjalanan Mengasah Nurani

Oleh  Thobroni  (Dosen UBT)

Apakah kamu pernah membaca tulisan berjalan di bagian bawah layar televisi dalam sebuah acara konser musik? Acara itu disiarkan sebuah televisi swasta setiap minggu. Seringkali beberapa penyanyi atau grup band ternama dihadirkan untuk mendendangkan lagu-lagunya yang sedang hits. Nah, saat konser itu, di bagian bawah layar akan terlihat pesan atau kesan yang berjalan beriringan. Selain pesan dan kesan yang dikirim para pemirsa melalui short massage service (SMS), kata-kata di bagian bawah layar juga berisi request lagu, dan ucapan salam kepada sahabat, pacar, orang tua, penyanyi, atau tokoh yang mereka kenal. Kalian yang ingin kirim SMS, tinggal menulis nomor lagu dan kesan-pesan. Maka, di layar akan tertulis begini: “…(no. lagu), aku suka lagu ini karena lirik lagu ini sesuai banget ma suasana hatiku. …(nama penyanyi atau band) emang keren banget!” Kita juga sering menyaksikan kalimat-kalimat lain yang senada.

Apa hal menarik dari fenomena di atas? Ya. Ternyata banyak orang suka lagu karena syair lagu tersebut mencerminkan perasaan yang dialaminya. Nah, begitu pun dengan puisi, kita sering merasa sreg dengan puisi yang “mampu memahami jiwa kita”. Kita sering terhanyut saat membaca puisi, karena puisi seperti berkisah tentang masalah kita. Puisi juga serasa membawa kita menuju kenangan-kenangan, hari-hari yang telah lalu, atau memberi spirit untuk kehidupan yang lebih baik.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Karena berpuisi dapat membawa seseorang pada perjalanan mengasah nurani. Dengan menulis atau membaca puisi, seseorang dibawa menuju ruang sunyi. Di situ ia merangkum peristiwa, perasaan, idealisme, harapan, mimpi, bahkan “kegilaan”. Puisi menggugah kesadaran untuk peduli pada dunia sekitar.

Misalnya penggalan puisi berikut ini:

biarkan aku di sini

bersama kebebasan

yang kubuat sendiri

bersama bendera

yang kukibarkan tanpa

lagu kebangsaan

saat berlari mengejar bus kota,

saat menyanyi di tengah kota,

dan saat tertidur di sudut-sudut

jalan berdebu

aku sesungguhnya lelah

dan terpenjara

….

(Adde Marup WS)

 

Apa yang ingin disuarakan puisi tersebut? Yaitu menggugah kesadaran kita tentang nasib anak jalanan. Anak jalanan itu berlari mengejar bus kota/ menyanyi di tengah kota/ tertidur di sudut-sudut jalan berdebu. Di tengah penderitaan hidup, ia tetap merasakan adanya kebebasan. Mengapa bisa begitu? Karena puisi tidak dilahirkan dari ruang angkasa, tetapi diciptakan berdasar pergulatan penyair dengan keadaan di sekitarnya. Penyair juga menyimak dan merenungkan masalah sosial, politik, ekonomi, agama, dan sebagainya. Di zaman sekarang, anak jalanan dapat dengan mudah ditemukan di tengah kehidupan masyarakat kota. Keberadaan mereka semakin bertambah dari tahun ke tahun. Nah, puisi di atas, ingin mengajak kita untuk menyelami kehidupan mereka, ikut merasakan penderitaan mereka. Dengan menghayati puisi itu kita dididik untuk tidak hanya mampu mengutuk mereka sebagai peminta atau pengemis. Kata puisi di atas, anak jalanan adalah manusia yang lelah dan terpenjara.

Puisi di atas menunjukkan kepada kita, bahwa penyair adalah sosok yang berbeda dengan manusia biasa. Maksudnya, dalam melihat sesuatu, atau masalah tertentu, penyair memiliki cara pandang yang berbeda dengan manusia umumnya. Lantas, ia merenungkan dan menuliskannya dalam bentuk puisi. Seperti bungkus pasta gigi. Bagi orang biasa, mungkin dianggap sebagai benda biasa. Saat isinya habis, bungkus pasta lantas dibuang. Berbeda dengan seorang perajin, bungkus pasta gigi mungkin akan dijadikannya sebagai bahan kerajinan seperti tas dompet, keranjang, dan sebagainya.

Begitulah ibarat yang tepat bagi seorang penyair. Di tangan penyair, kata-kata yang dipungutnya dari kehidupan sehari-hari, dari perbincangan dengan orang lain, dapat digunakannya sebagai manik-manik perhiasan yang indah. Mungkin di mata kita, kata-kata yang berhubungan dengan pelacur, pedagang kaki lima, koruptor, demonstran, guru, dan sebagainya itu bermakna biasa. Tetapi, bila digunakan oleh penyair dalam sebuah puisi, kata-kata itu bisa berubah dahsyat, seperti mata pedang yang amat tajam, seperti pidato rahib yang menggetarkan jiwa, atau seperti lantunan lagu puitis yang indah menawan. Seperti kisah seorang ana jalanan yang meniti jembatan penyebarangan. Kita menangkapnya biasa. Tetapi, seorang penyair akan menangkap dan memaknainya sebagai perjalanan meniti perjuangan hidup. Itulah perjalanan mengubah takdir, meraih kehidupan yang lebih baik, bahkan mungkin surga. Nah, menakjubkan bukan?

Maka, sering disebut bahwa penyair adalah sosok pencari yang tak pernah usai. Atau peziarah yang tak pernah lelah. Ia akan selalu gelisah, galau, resah, menjelajahi alam ragawi (fisik) dan alam bathin (nonfisik). Ditelusurinya ruang dan waktu kehidupan hingga tersingkap tabir kehidupan. Berbagai kesan perjalanan hidup itu direkam, dihayati, dan direnungkan penyair. Lantas, dengan penuh emosional kesan itu dituangkannya dalam puisi yang dirangkum secara menakjubkan. Karena itu, sering dikatakan bahwa orang yang sedang jatuh cinta, putus cinta, atau sedang dilanda keprihatinan hidup yang amat hebat lebih mudah menciptakan puisi. Mengapa? Karena jiwanya sedang dilanda keresahan yang amat sangat, yang memudahkannya merangkai kata-kata penuh makna. Penyair tidak sembarangan mengambil kata yang ditemuinya dari setiap pengalaman, penglihatan dan perasaan. Sebagai sosok kreatif, ia harus memilah dan memilih mana kata yang bermakna untuk menimbulkan kesan imajinatif dalam puisi.

Untuk itu, rasanya tidak berlebihan bila Albert Einsten, fisikawan paling tersohor abad 20, menyatakan bahwa “Imajinasi lebih berarti dari ilmu pasti”. Mengapa? Karena ilmu pasti yang tidak dilandasi sikap arif bijaksana hanya menjadi sumber bencana. Sementara puisi adalah sumber kearifan yang tiada habis, yang mengajak orang melakukan perjalanan mengasah nurani. Melalui puisi itu, penyair mengabarkan kegelisahan dan keresahan agar dunia tidak kehilangan kebijaksanaan.

Upaya Meningkatkan Mutu Pembelajaran Sastra pada Jenjang Pendidikan Dasar

Upaya Meningkatkan Mutu Pembelajaran Sastra pada Jenjang Pendidikan Dasar
Oleh: Nenden Lilis A.

Mengapa generasi muda bangsa ini begitu gemar tawuran? Mengapa banyak dari warga negeri ini begitu mudah menumpahkan darah dan melakukan kekerasan terhadap
sesamanya? Dalam kehidupan kita, peristiwa-peristiwa semacam itu menjadi konsumsi sehari-hari, baik dari berita-berita di media massa, maupun yang kita saksikan langsung.

Bahkan, media televisi telah menjadikan tayangan-tayangan berupa berita-berita kriminal, kekerasan, dan kejahatan ini sebagai komoditas yang merupakan bagian bisnis perindustrian mereka. Dengan pengemasan sedemikian rupa, lengkap dengan iklan-iklan yang menjadi sponsornya, tayangan-tayangan itu tak lagi kita rasakan sebagai persoalan moral yang mencemaskan. Malah sebaliknya, sebagai hiburan di sela-sela aktivitas dan
rutinitas hidup sehari-hari.

Itu hanya sebagian cermin dari tumpukan cermin-cermin retak yang memantulkan permasalahan bangsa kita tentang keringnya rasa kemanusiaan di dalam diri masyarakat kita. Lalu, apakah penyebabnya? Banyak pihak mensinyalir bahwa pendidikan
merupakan salah satu faktor yang ikut menyumbang pada munculnya sikap-sikap berupa kurangnya kepekaan humanisme tersebut. Berpuluh-puluh tahun dari mulai berdirinya bangsa ini, pendidikan kita yang mengedepankan sains dan teknologi, cenderung mengabaikan dan menggeser aspek-aspek humaniora. Bidang-bidang seperti budaya dan seni (termasuk di dalamnya sastra) merupakan bidang-bidang yang cenderung dianak
tirikan. Padahal, melalui bidang-bidang inilah kepribadian dan kemanusiaan kita: kepekaan sosial, religi, kehalusan rasa, pembangunan nilai, moral, budi pekerti, dan sejenisnya, terolah dan terasah.
***
Ceritanya akan lain jika sejak awal pendidikan tidak mengabaikan bidang-bidang humaniora, terkhusus lagi sastra. Bukti pengabaian ini misalnya bisa dilihat dari sedikitnya porsi pembelajaran sastra sejak jenjang Sekolah Dasar (SD). Sastra, seperti pada jenjang-jenjang pendidikan di atasnya, merupakan bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Akan tetapi, kenyataan di lapangan memperlihatkan mata pelajaran ini lebih didominasi oleh pelajaran tata bahasa. Penelitian A. Chaedar Alwasilah, misalnya,
membuktikan bahwa di sekolah-sekolah, sastra hanya diajarkan sebanyak 23,6% saja.
Dan, dalam pembelajaran yang hanya 23,6% tersebut, pembelajaran lebih ditekankanpada aspek pengetahuan (kognitif), bukan afektif.

Titik berat pembelajaran sastra pada aspek pengetahuan (hafalan) tersebut sudah dikeluhkan banyak pihak sejak tahun 1955-an. Dari mulai H.B Jassin dan Wildan Yatim (Prisma, 1979), Ajip Rosidi (1970), hingga para pengamat dan ahli sastra, serta para pengajar sastra hari ini. Dan, kondisinya belum banyak berubah meski kurikulum telah berkali-kali berganti dengan perumusan tujuan pembelajaran sastra yang lebih ideal.

Sastra pada dasarnya adalah ungkapan sastrawan hasil pengalaman dan penghayatannya terhadap kehidupan. Oleh karena itu, dalam sastra terkandung pandangan, penilaian, dan penafsiran sastrawan tentang kehidupan. Kehidupan itu sendiri
sangat luas, meliputi persoalan-persoalan kemanusiaan, baik yang sifatnya individual, maupun persoalan sosial, politik, dan budaya yang lebih luas dengan berbagai dimensi dan berbagai nilainya.Sastra, meminjam ungkapan Mathew Arnold, adalah criticsm of life, senantiasa kritis terhadap persoalan-persoalan kehidupan dan selalu berupaya memancarkan pandangan-pandangan untuk memperbaikinya. Dengan demikian, sastra
pada dasarnya membantu pembacanya untuk lebih memahami kehidupan dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Tentu saja, pemahaman kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan melalui sastra tidak sama dengan pemahaman melalui sejarah, sosiologi, dan agama, sebab sastra disampaikan melalui unsur-unsur estetika.

Dengan karakteristik sastra tersebut, sudah sepatutnya pembelajaran sastra diarahkan untuk mereguk manfaat-manfaat sastra, yakni untuk lebih memahami dan memperkaya wawasan kehidupan, mempertajam watak dan kepribadian, memperhalus
budi pekerti, cipta, rasa, karsa, kepekaan sosial, budaya, religi, dan kepekaan pada nilai-nilai kemanusiaan. Ini semua akan tumbuh jika pembelajaran sastra diarahkan pada apresiasi sastra dengan lebih banyak menyentuh segi afeksi. Dalam hal ini, siswa diajak untuk menikmati, memahami, dan menghayati karya sastra. Dengan kata lain, siswa diajak mengalami langsung proses apresiasi sastra.

Untuk lebih mengkonkretkan hal di atas, saya beri ilustrasi bagaimana apresiasi sastra dapat membentuk watak, sikap, kepribadian, dan mempertajam rasa dan nilai-nilai kemanusiaan siswa. Melalui cerita, misalnya, apakah cerita yang langsung dibaca oleh siswa, maupun dibacakan guru/orang tua, siswa secara tidak langsung menyerap nilai-nilai.
Siswa bertemu dengan tokoh-tokoh cerita dengan berbagi watak, peristiwa, dan konflik yang dihadapinya. Pertemuan ini, meminjam istilah Sugihastuti, menimbulkan kontak dan reaksi kejiwaan dalam diri siswa. Reaksi kejiwaan ini misalnya perasaan turut merasakan penderitaan orang lain, penilaian akan watak tokoh yang pantas dan tidak pantas diteladani, pemahaman yang lebih tajam dan dalam tentang berbagai sifat manusia, dan lain-lain. Hal-hal seperti ini pada tahap selanjutnya dapat memperdalam
pemahaman siswa tentang manusia sehingga dalam kehidupan sehari-harinya, siswa akan lebih tepo saliro, menghargai sesama, mengasihi sesama, jembar dalam berpandangan dan bersikap. Pendek kata, budi pekerti siswa akan terbentuk dan terasah lewat bacaanbacaan berupa karya sastra tersebut.

Pembentukan watak dan sikap seperti ini tentu saja harus dimulai sejak dini; sejak masa kanak-kanak. Dalam tahapan jenjang pendidikan, hal ini dapat dimulai sejak Sekolah Dasar sebab masa tersebut merupakan masa yang penting dan menentukan
perjalanan hidup seseorang. Kehidupan masa kanak-kanak biasanya berpengaruh kuat pada perkembangan saat dewasa. Perilaku yang tertanam di masa kanak-kanak, akan menentukan perilakunya di masa dewasa. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan Erikson bahwa masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia, tempat kebaikan dan sifat buruk tertentu dengan lambat namun jelas, berkembang dan mewujudkan dirinya. Oleh karena itu, penanaman nilai dan pembentukan sikap/tingkah laku ini harus dilakukan sejak masa anak-anak, antara lain melalui pembelajaran sastra seperti digambarkan di atas.

Sejarah membuktikan, individu-individu yang sejak kecil akrab dengan sastra, memiliki rasa humanisme yang lebih besar di masa dewasanya. Apakah ia menjadi dokter, politisi, negarawan, atau tokoh revolusi sekalipun, watak dan kepekaan humanisme yang terolah sejak kecil melalui bacaan-bacaan sastranya, akan mewarnai sikap, pandangan, prilaku, keputusan dan kebijakannya di masa kemudian. Seperti banyak diketahui, Che Guevara, tokoh revolusi sosial Kuba, telah menjadi pahlawan legendaris terbesar abad dua puluh di hati banyak orang. Dengan kedalaman rasa
kemanusiaannya, ia mendedikasikan hidupnya secara teguh untuk pemajuan revolusi melawan penindasan. Dan, yang penting dicatat, ia penyuka puisi sepanjang hidupnya.
Pemuja penyair Pablo Neruda ini telah terbiasa membaca puisi sejak kecil. Begitu pula Vaclav Havel, presiden pertama Ceko-Slovakia, yang menduduki jabatan tersebut bukan karena ambisinya, melainkan karena terangkat oleh sejarah. Ia telah menjadi nahkoda dalam suatu peralihan revolusioner yang gawat. Seperti pernah dicatat budayawan Y.B. Mangunwijaya, negarawan ini berhasil memimpin negara dan nasionnya melewati
rintangan–rintangan berat berkat kepercayaannya kepada segala yang bermoral dan yang benar dalam diri manusia. Modal utama sang nahkoda di tengah badai peralihan zaman itu bukan kekuasaan dan senjata, tapi kemanusiaan. Warna kemanusiaan yang melekat kuat ini bukan tidak mungkin disebabkan oleh latar belakangnya sebagai budayawan, seniman: sastrawan.

Tentunya masih banyak contoh lainnya yang menjadi bukti tentang betapa berartinya pendidikan sastra sejak usia dini. Pentingnya menumbuhkan apresiasi sastra sejak usia SD ini juga akan menumbuhkan pembaca (konsumen) sastra di kemudian hari.
Jika kita lihat di negara-negara maju, buku-buku sastra bukan monopoli orang-orang yang berkecimpung dalam bidang sastra saja, tapi semua lapisan masyarakat. Tak mengherankan jika di negara-negara tersebut para penulis sastra bisa hidup makmur dari
profesinya sebagi penulis.
***

Gambaran di atas kiranya cukup menegaskan perlunya pengoptimalan pembelajaran sastra pada tingkat Sekolah Dasar. Demikian memang harapan yang diidealkan meskipun kita menyadari pelaksanaannya tidak seideal yang diinginkan.
Sejumlah kekurangan dan kendala yang muncul di lapangan memang bukan hal yang bisa dianggap sepele.

Selama ini, tatkala kita berbicara tentang kegagalan pembelajaran sastra pada umumnya, gurulah yang dijadikan lahan empuk sebagai pihak yang dipersalahkan.
Sementara, para guru sendiri mengeluhkan berbagai permasalahan yang mereka hadapi tatkala melaksanakan pembelajaran sastra yang menjadikan mereka tak dapat melaksanakan pembelajaran sastra seperti yang dicita-citakan. Keluhan para guru tersebut, seperti yang sering terlontar dalam berbagai seminar tentang pembelajaran sastra antara lain:

1) kebijakan pemerintah yang selalu berubah-ubah lewat pergantian kurikulum;
2) sistem ujian nasional yang berjenis soal objektif, memaksa guru mengambil jalan pintas melakukan pembelajaran dengan membahas soal-soal demi kelulusan siswanya;
3) adanya pembatasan lewat Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang membuat para guru lebih terfokus untuk mengajar SKL ini; dan
4) sarana dan prasarana yang tidak menunjang.

Dengan adanya keluhan-keluhan ini, persoalan pembelajaran sastra hendaknya tidak hanya menjadi beban para guru, tetapi harus dipecahkan dan mendapat bantuan serta perhatian dari berbagai pihak.
Mengenai perubahan kurikulum, perubahan kurikulum walau bagaimanapun adalah sebuah keniscayaan. Perkembangan zaman dan IPTEK, mau tidak mau menuntut perubahan tersebut. Kurikulum harus mampu menjawab tantangan dari perkembangan
yang terjadi.

Namun, kebijakan pemerintah dalam melakukan pergantian kurikulum hendaknya benar-benar didasarkan pada esensi bahwa perubahan itu betul-betul dibutuhkan, bukan sekedar kebijakan ganti menteri ganti kurikulum. Jika dasarnya seperti ini, yang akan
terjadi, perubahan itu akhirnya berputar-putar pada format. Munculnya istilah-istilah plesetan di kalangan guru-guru, seperti kurikulum baheula keneh (kurikulum masih seperti dulu) untuk Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mencerminkan hal itu.
Belum lagi uji coba dan sosialisasi setengah-setengah yang membuat konsep kurikulum tersebut tidak matang. Contoh pelaksanaan KBK (2004) yang kemudian sekarang diubah
lagi menjadi KTSP (2006) adalah bukti dari ketidakmatangan ini. Ujung-ujungnya para gurulah yang dibuat kebingungan.

Begitu pula dengan jenis soal ujian nasional yang tidak mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, dalam hal ini Bahasa dan Sastra Indonesia. Bagaimana keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra bisa tumbuh jika ujian akhirnya kembali lagi
pada hafalan. Dampaknya, dalam pelaksanaan pembelajaran, guru tidak akan mengajarkan keterampilan berbahasa dan apresiasi, tapi akan mencekoki siswa dengan hafalan-hafalan seperti yang diujikan dalam soal-soal UN. Ini artinya, segala yang diidealkan dari pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia itu hanya bulshit, nonsens belaka.

Kebijakan yang menyangkut Standar Kompetensi Lulusan (SKL) juga hendaknya ditinjau ulang. Kasus mutakhir tentang ditemukannya kepala sekolah yang mencuri kunci jawaban Ujian Nasional (mata pelajaran Bahasa Indonesia lagi!) atau kasus di sejumlah daerah tentang guru-guru yang memberi tahu jawaban ujian kepada siswa, adalah dampak dari kebijakan penetapan SKL yang terlalu menyederhanakan persoalan dan menyamaratakan kondisi berbagai daerah. Ujian Nasional menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa. Kebijakan ini, pada akhirnya hanya menghargai siswa dari hasil akhir.
Adapun penilaian terhadap proses diabaikan sama sekali. Dengan demikian, kurikulum yang dalam perumusan tentang komponen dan sistem penilaian pembelajaran cukup ideal, mati kutu di hadapan sistem Ujian Nasional dan Standar Kompetensi Lulusan ini.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang pada tahun ajaran 2006/2007 ini diberlakukan, diharapkan memberi pencerahan dalam persoalan di atas. KTSP menganut prinsip antara lain sejalan dengan konsep desentralisasi pendidikan dan
manajemen berbasis sekolah (school-based, management), juga menganut asas beragam dan terpadu. Dalam kebijakan ini, sekolah diberi otonomi dalam penyusunan kurikulum dan engembangannya. Akan tetapi, di ujungnya tetap diberlakukan ujian nasional.
Dengan semangat desentralisasi dan keberagaman seperti diuraikan di atas, kriteria kelulusan hendaknya ditentukan oleh sekolah masing-masing dengan menggabungkan hasil UN dengan ujian sekolah masing-masing. Dengan cara ini, penetapan kriteria
kelulusan menjadi lebih bijak.
***
Selain pada persoalan di atas, munculnya pencerahan dari pemberlakuan KTSP juga diharapkan dapat terjadi dalam penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran.
Tanpa sarana dan prasarana yang menunjang dan memadai, konsep dan cita-cita KTSP akan sulit terwujud. Sarana dan prasarana ini memang tidak mengharuskan penyediaan
buku teks baru. Dan buku teks hendaknya tidak dijadikan sumber utama dalam pembelajaran. Oleh karena itu, berbagai potensi yang ada bisa diberdayakan untuk memenuhinya.

Selama ini, sumber-sumber pembelajaran sastra di tingkat Sekolah Dasar sangat minim. Umumnya, guru pun lebih berpegang pada buku teks. Padahal selain buku teks, banyak sumber-sumber lain yang perlu dipergunakan untuk melaksanakan pembelajaran
sastra yang optimal. Hendaknya, sekolah dan guru-guru diberi akses yang mudah untuk mendapatkan sumber-sumber ini.

Sarana dan sumber belajar yang dapat dijadikan bahan pembelajaran sastra pada tingkat Sekolah Dasar, pertama-tama tentulah sastra anak, yakni karya tulis yang dibuat untuk menarik perhatian dan minat anak-anak pada dunia sastra. Karya sastra anak ini akan mudah dipahami dan digemari anak-anak karena isinya sesuai dengan dunia, tingkat psikologi, dan tingkat keterbacaan mereka. Jenisnya bermacam-macam: puisi lirik dan
epik, cerita pendek, novel, drama anak, dan bahkan sastra non-imajinatif seperti buku harian.

Sudah banyak karya sastra anak yang kita kenal karena merupakan canon sastra anak, seperti: cerita Kancil dan Buaya, Monyet jeung Kuya (Kera dan Kura-Kura), Bawang merah dan Bawang Putih, Cinderella, Puteri Tidur, Puteri Salju, dan lain-lain.
Di samping itu, meskipun tidak sebanyak sastra orang dewasa, banyak sastra anak, baik sudah diterbitkan dalam bentuk buku, maupun terpublikasi di media massa, yang ditulis para penulis kita, seperti Abdul Hadi W.M, Toha Muhtar, Mansur Samin, Titie Said,
Heroe Soekato, Adang Halim, Triwahyono, Nimas Heming, Dorothea Rosa Herliany, Arswendo Atmowiloto, Senny Alwasilah, Tetet Cahyati, dan lain-lain. Buku-buku terjemahan sastra anak pun, seperti karangan Enid Blyton, H.C. Anderson, atau bahkan
Oscar Wilde, sudah bisa didapatkan. Bahkan, sumber-sumber dari rubrik anak-anak di media massa seperti Republika, Pikiran Rakyat, Kompas, hadir setiap minggunya.
Khasanah yang kaya ini belum banyak dimanfaatkan dalam pembelajaran sastra di sekolah-sekolah dasar kita, padahal sangat bermanfaat dalam merangsang dan memperkaya daya imajinasi anak, dan dalam menumbuhkan wawasan dan kepekaan emosional, sosial, intelektual, dan rasa humanisme. Kehadiran sastra anak ini perlu mendapat perhatian yang lebih serius lagi dari pemerintah dan pihak-pihak yang terkait dengan penyediaan sarana pembelajaran.

Sumber lain yang juga tak kalah penting dalam pembelajaran sastra di SD adalah foklor. Sejumlah legenda, hikayat, mitos, fabel yang merupakan cerita rakyat ini begitu banyak bertebaran di berbagai daerah, yang oleh anak-anak generasi sekarang belum
tentu diketahui. Terkikisnya kebiasaan mendongeng dan merajalelanya media televisi tampaknya menjadi penyebabnya. Bahkan, di televisi, cerita-cerita rakyat tersebut seperti tampak dalam sinetron-sinetron (sinetron Malinkundang, sinetron tentang berbagai hikayat), sudah mengalami distorsi, termasuk distorsi terhadap nilai-nilai moral yang diusung cerita yang sebenarnya. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan prinsip desentralisasi dan manajemen berbasis sekolah sangat memungkinkan penyediaan sarana dan prasarana yang bersumber dari potensi lokal ini.

Selain mengenal dan menyerap nilai dari ragam sastra di atas, siswa SD pun hendaknya diperkenalkan dengan khasanah kesusastraan umum agar khasanah ini melekat di hati mereka sejak dini. Akan tetapi, bagaimanakah caranya? Apakah bukubuku
sastra tersebut tidak terlalu berat? Apa yang pernah diusulkan Ajip Rosidi untuk menyusun karya-karya berupa Edisi Mudah Sastra kiranya bisa menjadi solusi.
Edisi Mudah Sastra adalah bacaan yang dibuat berdasarkan karya sastra umum dengan pentransferan ke dalam bahasa yang lebih mudah dicerna anak-anak. Perlu dicatat, edisi mudah ini bukanlah ikhtisar, apalagi sinopsis, tapi merupakan penyederhanaan kadar bahasa dan pikiran yang termaktub di dalamnya yang bisa dicerna
pola pikir anak-anak, termasuk pemenggalan dan penyensoran terhadap bagian-bagian yang kurang sesuai dengan perkembangan psikologi anak. Karya sastra canon Indonesia,
seperti Siti Nurbaya, Para Priyayi, Tetralogi Bumi Manusia, dan banyak lagi, dengan demikian dapat diapresiasi anak-anak sejak dini. Dengan apresiasi ini, anak akan lebih tahu dan mengenal identitas, sejarah, dan budaya bangsanya sejak dini. Seperti kita
ketahui, di Rusia misalnya, anak-anak mengenal identitas bangsanya bukan dari penataran atau doktrin-doktrin, tapi dari karya sastra, salah satunya dari karya sastrawan besar mereka, Leo Tolstoy lewat buku Perang dan Damai, yang diwajibkan dibaca siswa pada tingkat pendidikan dasar.
Di Perancis, seperti dicatat Beni R.Budiman, terdapat buku Francais Facille, buku khusus anak-anak yang merupakan turunan dari karya-karya orang dewasa. Pada buku tersebut tercantum berapa jumlah kata yang digunakan dan untuk usia berapa buku-buku itu diperuntukkan. Buku tersebut mempunyai banyak tema dan cerita, mulai dari masalah politik, budaya, hingga pembangunan. Tak mengherankan jika di negeri tersebut,
banyak kelompok anak yang sudah memahami karya-karya dari khasanah kesusastraan mereka, seperti Balzac, Molliere, dan lain-lain.
Edisi mudah Sastra yang dibaca anak-anak sejak dini adalah upaya menumbuhkan bangsa yang apresiatif terhadap sastra di kemudian hari. Alangkah bijaknya apabila seiring pemberlakuan KTSP, upaya-upaya penyediaan sarana-prasarana tersebut
dilakukan.

Hal lain terkait dengan penyediaan sarana-prasarana ini, penyediaan tersebut hendaknya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan para pelaksana kurikulum. Hal ini membutuhkan pula peran dari para stakeholder pendidikan dan pihak-pihak lainnya, antara lain para ahli bahasa. Dalam mengatasi masalah pembelajaran sastra yang cenderung tergeser oleh tata bahasa (dikarenakan guru-gurunya kurang akrab dengan sastra), dan untuk mentradisikan sastra, alangkah bagus dan bijak jika dalam buku-buku kebahasaan yang mereka tulis, para pakar bahasa ini memasukkan serpihan-serpihan karya sastra, misalnya dalam contoh wacana atau kalimat (dengan tentu saja menyebutkan karya sastra yang dikutip dan pengarangnya). Hal ini bisa menginspirasi para guru untuk mengakrabkan sastra kepada siswa.

Begitulah, jika pembelajaran sastra ingin optimal dan mencapai harapan yang diidam-idamkan, perlu dilakukan secara bahu membahu antar berbagai pihak. Itu pula yang diharapkan untuk kemajuan pembelajaran sastra di Sekolah Dasar. Semoga.***

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Download e-Book Kamus Ilmiah Nama Latin Tumbuhan;>>>> Baca

Video Perkalian Pecahan Campuran;>>>> Baca

Kronologi Pembaharuan Pendidikan;>>>> Baca

Menambah Pengetahuan Tentang Parasitologi;>>>> Baca

Video Tutorial Merakit Komputer;>>>> Baca

Taksonomi Vertebrata;>>>>>>>>> Baca

VARIASI DAN JENIS MORFEM


VARIASI DAN JENIS MORFEM

1. Variasi Morfem
a. Morf : 1) anggota morfem yang belum ditentukan distribusinya; mis./i/ pada kenai adalah morf.
2) ujud konkret atau ujud fonemis dari morfem; mis. mem- adalah ujud konkret dari meN- yang bersifat abstrak (mem- adalah morf, sedangkan meN- adalah morfem). (Lihat Kridalaksana, 1982: 110)
b. Alomorf (allomorph/morpheme alternant): anggota morfem telah ditentukan posisinya: mis. /ber/, /be/, /bel/ adalah alomorf dari morfem ber-.
1) Alomorf fonologis (phonologically conditioned allomorph): varian morfem yang muncul dalam lingkungan fonologis tertentu; mis. alomorf /məm/ dan /məŋ/ dari morfem meN- terjadi karena pelbagai fonem yang terdapat pada morfem dasar yang mendahuluinya (kemunculannya teramalkan).
2) Alomorf morfologis (morphologically conditioned allomorph): varian morfem muncul dalam lingkungan morfem lain secara tak teramalkan; mis. alomorf /mən/ muncul dalam /meŋukur/ dan /meŋkukur/ karena ada keinginan untuk tetap mempertahankan identitas morfem ukur dan kukur. (Lihat Kridalaksana, 1982: 9).
3) Alomorf zero (zero; zero allomorph): alomorf yang tidak diujudkan dengan fonem, yang berada dalam satu paradigm bersama alomorf lain yang berujud fonem; mis. dalam kata sheep (ing.) terdapat alomorf plural yang dinyatakan dengan zero (alomorf lainnya ialah /s/, /z/, /ez/, dll.) (Lihat Kridalaksana, 1982: 181).

2. Jenis Morfem
a. Berdasarkan hubungan strukturalnya:
1) Morfem aditif (additive morpheme) ialah morfem yang biasanya ditempeli oleh atau ditempelkan kepada morfem lain, meliputi dasar, afiks (prefix, infiks, sufiks, konfiks, simulfiks, suprafiks) dan pengulangan.
2) Morfem replasif (replacive morpheme) ialah morfem yang menggantikan bagian dari dasar atau akar, biasanya berupa bentuk-bentuk fonemis; mis. dalam bah. Ing. /s/ menggantikan /z/; advise (verba) menjadi advice (nomina). Demikian juga /f/ menjadi /v/ dalal half (num.) dan halve (nom.). Bandingkan dengan kata pemuda dan pemudi, mahasiswa dan mahasiswi, dalam Bahasa Indonesia.
3) Morfem subtraktif (subtractive morpheme) ialah morfem yang berupa penanggalan fonem dari dasar atau akar; mis. dalam bahasa Perancis terdapat penanggalan fonem yang menandai perubahan bentuk feminine ke bentuk maskulin: mauvaise /mov z/ (fem.) menjadi mauvais /mov/ (mask.) ‘buruk, jelek’; `petite /ptit/ (fem.) menjadi petit /pti/ (mask.) ‘kecil’; `fausse /fos/ (fem.) menjadi faux /fo/ (mask.) ‘salah, palsu, sumbang’. (Lihat Kridalaksana, 1982: 110; Nida, 1978: 69-75)

b. Berdasarkan distribusi dan/atau fungsinya:
1) Morfem bebas (free morpheme): morfem yang secara potensional dapat berdiri sendiri: rumah, lari, tanah.
2) Morfem terikat (bound morpheme): morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri dan yang selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk ujaran; mis; juang dalam daya juang, temu dalam temu karya, mayur dalam sayur mayur.
3) Morfem dasar terikat: morfem dasar yang hanya dapat menjadi kata bila bergabung dengan afiks atau dengan morfem lain; mis. juang dalam perjuangan, olah dalam olahan, temu dalam bertemu.
4) Morfem kosong (empty morpheme): morfem yang tidak ikut memberikan makna dalam kalimat; mis. there dalam Bahasa Inggris: there is a cat on the roof. (bandingkan dengan A cat is on the roof).
5) Morfem penyambung (linking morpheme): unsure yang diletakkan antara dua kompositum atau dua morfem lain; mis. -o- dalam psikolinguistik atau sosiolonguistik.
6) Morfem leksikal (lexical morpheme): morfem yang jumlahnya tidak terbatas dan sangat produktif; mencakup kata penuh dan afiks derivative, seperti dalam bahasa Inggirs: fire, eat, un-, dan able-. (cari dalam Bahasa Indonesia!).
7) Morfem gramatikal (grammatical morpheme): morfem yang jumlahnya terbatas dan berfungsi sebagai penghubung antara morfem leksikal; mencakup partikel (function word) dan morfem inflektif, seperti dalam Bahasa Inggris: the (art.), when (part.), my (kli.), -s, -ing, -ed (infl.).

c. Berdasarkan wujudnya:
1) Morfem segmental (segmental morpheme): morfem yang terjadi dari fonem atau susunan fonem segmental.
2) Morfem suprasegmental (suprasegmental morpheme): morfem yang terjadi dari fonem suprasegmental; mis. tekanan dalam Bahasa Inggris: transfer (nomen), transfer (verbum); import (nomen), import (verbum). Dalam Bahasa Indonesia terdapat sendi dan nada yang bersifat morfemis; mis. pada contoh: bapak wartawan dan bapak/ /wartawan; ibu guru dan ibu/ / guru.

Diagnosis Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Sd/mi Melalui Analisis Reading Readiness;>>>> Baca

Hakikat Penelitian Kuantitatif;>>>> Baca

Pembelajaran Menulis Berita;>>>> Baca

Pengertian Menulis Wacana Fiksi;>>>> Baca

Karakteristik Anak Taman Kanak-kanak;>>>>>>>>> Baca buka semua

PROSES PEMBENTUKAN KATA BAHASA INDONESIA DAN ISTILAH-ISTILAH TEKNIS MORFOLOGI

PROSES PEMBENTUKAN KATA BAHASA INDONESIA DAN ISTILAH-ISTILAH TEKNIS MORFOLOGI

1. Pengertian Morfologi:
a. Bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dari arti kata.
b. Ilmu yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
c. Bagian atau cabang ilmu bahasa yang menitikberatkan perhatiannya kepada proses pembentukan kata-kata.
d. Bagian atau cabang ilmu bahasa yang mempelajari proses pembentukan kata dari morfem-morfem.

2. Pengertian Fonologi atau Fonemik:

Bagian atau cabang ilmu bahasa yang menyelidiki/mempelajari bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.
3. Pengertian Sintaksis:

Bagian atau cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan kata dengan kata dalam satuan yang lebih besar (frase, klausa, dan kalimat).
4. Pengertian Semantik:
a. Bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna dari ungkapan.
b. Cabang semiotika (ilmu lambang-lambang) yang mempelajari hubungan antara lambing dan referennya.

5. Pengertian Leksikologi:

Bagian atau cabang ilmu bahasa yang mempelajari komponenbahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa (leksikon). 2

6. Proses Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia

Dalam Bahasa Indonesia sekurang-kurangnya terdapat tujuh macam proses pembentukan kata (proses morfologis), yakni
a. Derivasi Zero: proses pembentukan kata yang menghasilkan bentuk yang sama dengan dasarnya.

D + DZ KATA (duduk + DZ DUDUK)
b. Afiksasi: proses pembentukan kata melalui penempelan afiks pada dasar.

D + AF KATA (kata + ber- BERKATA)
c. Reduplikasi: proses pembentukan kata melalui pengulangan dasar, baik seluruhnya maupun sebagian; baik disertai perubahan bunyi maupun tidak.

D + R KATA (balik + R BOLAK-BALIK)
d. Komposisi atau pemajemukan: Proses pembentukan kata melalui penggabungan dua buah dasar atau lebih.

D + D2 KATA (banting + tulang BANTING-TULANG)
e. Derivasi Balik: Proses pembentukan kata melalui analogi yang salah atas proses pembentukan kata yang lazim.

D + DB KATA (mungkir + DB PUNGKIR DIPUNGKIR)
f. Abreviasi: Proses pembentukan kata melalui penghilangan sebagian dasar, baik setelah melalui penggabungan maupun tidak.

D (D + D) + PEM KATA
1) Pemenggalan: ibu + PEM BU
2) Kontraksi : tak + akan TAKKAN
3) Akronim : peluru + kendali RUDAL
4) Penyingkatan: Republik + Indonesia RI

(Lihat Kridalaksana, 1988: 56) 2
g. Pergantian intern (internal change): Proses pembentukan kata melalui perubahan di dalam kata dasar.

D + PI KATA (pemuda + PI PEMUDI) (Lihat Parera, 1988: 19-20)

7. Istilah-istilah Teknis Morfologi
a. Satuan gramatik (Ramlan) atau satuan lingual (Sudaryanto): satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatikal.

b. Satuan gramatik bebas dan satuan gramatik terikat.
1) Satuan gramatik bebas adalah satuan gramatik yang pada tataran morfologi dapat berdiri sendiri sebagai kata, tidak bergantung pada kehadiran satuan lain.
2) Satuan gramatik terikat adalah satuan gramatik yang pada tataran morfologi baru dapat menjadi kata setelah ditempeli oleh atau ditempelkan kepada satuan lain (tergantung pada kehadiran satuan lain).

c. Bentuk tunggal dan bentuk kompleks (satuan gramatik tunggal dan satuan gramatik kompleks)
1) Bentuk tunggal adalah bentuk yang hanya terdiri atas satu satuan gramatik.

Bila satuan gramatik tersebut bebas secara morfologis, bentuk itu disebut kata tunggal (monomorphemic word).
2) Bentuk kompleks adalah bentuk yang terdiri atas dua atau lebih satuan gramatik.

Bila bentuk itu bebas secara mjorfologis, bentuk tersebut merupakan kata kompleks (polymorphemic word). Dengan demikian, pada tataran morfologi terdapat empat macam satuan gramatik, yaitu (1) satuan gramatik tunggal yang bebas, (2) satuan gramatik tunggal yang terikat, (3) satuan gramatik kompleks yang bebas, dan (4) satuan gramatik kompleks yang terikat

Diagnosis Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Sd/mi Melalui Analisis Reading Readiness;>>>> Baca

Teknologi Informasi Dan Dampak Sosial;>>>> Baca

Strategic Management untuk Humas;>>>> Baca

Segmentasi Pasar;>>>> Baca

Alat Bantu Mengukur dan Menghitung;>>>>>>>>> Baca buka semua

Reduplikas Bahasa Tidung di Desa Tanah Merah BAB I

Reduplikas Bahasa Tidung di Desa Tanah Merah Kalimantan Timur

oleh Taruna
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi, menyampaikan ide atau gagasan kepada lawan tutur. Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa pemersatu suku bangsa, karena di Indonesia terdapat beranekaragam bahasa yang kerap disebut dengan bahasa daerah. Salah satu bahasa daerah tersebut adalah bahasa Tidung yang digunakan oleh suku Tidung.
Bahasa Tidung terdapat di bagian utara Kalimantan Timur, yaitu di sepanjang sungai Sembakung, sungai Sebuku, sungai Bulungan, di pulau Tarakan, pulau Tanah Merah, dan sepanjang pesisir dari muara sungai Bulungan ke utara sampai ke daerah Tawau (Malaysia Timur). Khususnya di desa Tanah Merah, mayoritas penduduknya suku bangsa Tidung. Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa Tidung juga dijadikan sebagai bahasa utama oleh masyarakat desa Tanah Merah. Meskipun di desa tersebut sudah dimasuki oleh suku-suku bangsa lain, seperti suku Bugis, Jawa, Timor, Buton, namun bahasa Tidung tetap saja berkembang bahkan tidak sedikit suku-suku yang masuk dapat berbahasa Tidung.
Pada tahun 80-an telah dilakukan penelitian tentang Struktur Bahasa Tidung yang terdiri dari struktur fonologi, morfologi, dan sintaksis oleh tim peneliti Fakultas Keguruan Universitas Lambung Mangkurat yang bekerja sama

dengan Proyek Peneliti Pusat. Meskipun telah dilakukan penelitian tentang bahasa Tidung namun, data dan informasi tentang struktur morfologi bahasa Tidung terutama tentang pengulangan dalam bahasa Tidung yang lazim disebut dengan reduplikasi masih kurang. Pengulangan atau reduplikasi dalam bahasa Tidung hampir mirip dengan pengulangan pada bahasa Indonesia, namun yang menjadi pembeda hanyalah bentuk pengulangannya saja. Misalnya pengulangan kataya/aw —»jalan-jalan, sedangkan dalam bahasa Tidungnya yaitu makow —> mako-makow dari contoh tersebut terdapat perbedaan jenis pengulangan, pengulangan jalan-jalan merupakan jenis pengulangan seluruhnya, sedangkan mako-makow merupakan jenis pengulangan sebagian. Hal inilah yang mendorong penulis melakukan penelitan tentang reduplikasi bahasa Tidung khususnya bahasa Tidung yang digunakan masyarakat desa Tanah Merah guna menambah data dan informasi tentang struktur morfologi khususnya reduplikasi bahasa Tidung.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah perlu dikemukan agar pemecahan masalah dalam penelitian ini lebih terarah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagimanakah reduplikasi bahasa Tidung di desa Tanah Merah?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi mengenai reduplikasi bahasa Tidung di desa Tanah Merah.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data dan informasi bagi
masyarakat suku Tidung khususnya, dan para pembaca pada umumnya.
2. hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi atau kajian bagi
penelitian bahasa berikutnya.
E. Penegasan Judul
Judul dalam penelitian ini adalah “Reduplikasi Bahasa Tidung di Desa Tanah Merah”. Untuk memperjelas maksud yang disampaikan dalam penelitian ini, perlu adanya penegasan judul. Penegasan judul tersebut adalah sebagai berikut:
1. Reduplikasi
Reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak dengan variasi fonem. (Ramlan, 2001:63).
2. Bahasa Tidung
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. (KBBI, 2007: 88). Sedangkan yang dimaksud dengan bahasa Tidung adalah alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat suku Tidung.

Berdasarkan penjelasan judul di atas, penelitian ini bermasud mempelajari dan meneliti reduplikasi atau pengulangan dalam bahasa Tidung pada masyarakat suku Tidung di desa Tanah Merah.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan usulan penelitian ini terdiri atas tiga bagian. Bab I, yaitu pendahuluan. Bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan judul, dan sistematika penulisan. Bab II, yaitu kajian teori. Bab ini berisi pengertian bahasa, pengertian reduplikasi, macam-macam pengulangan, dan maksan dan fungsi reduplikasi. Bab III, yaitu metode penelitian. Bab ini berisi pengertian metode penelitian, populasi dan sampel, tempat dan waktu penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

Baca Artikel Lain

Bahasa Ragam Media Pada Kolom Coffee Break Harian Radar Tarakan Edisi Juli 2008 ( Bab Ii)>>>>> Baca

Belajar, Mengajar Dan Pembelajaran;>>>>> Baca

Prinsip-prinsip Belajar;>>>>>>>>>>>> Baca

Konsep-konsep Pokok Dalam Penelitian Polling;>>>>>>>>> Baca

Prinsip-prinsip Mengaktifkan Siswa Belajar;> Baca

Lahirnya Bahasa Indonesia

Lahirnya Bahasa Indonesia

Sebagaimana Anda ketahui, bahasa Indonesia yang sekarang ini berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Perjalanan yang ditempuh oleh bahasa Indonesia tak terpisahkan dengan perjalanan yang ditempuh oleh bangsa Indonesia untuk merdeka. Sejalan dengan hal tersebut, sejarah perkembangan bahasa Indonesia dapat ditinjau dari masa sebelum Indonesia merdeka dan masa sesudah merdeka.

Peristiwa bersejarah yang monumental bagi bangsa dan bahasa Indonesia adalah diikrarkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Jakarta. Ikrar Sumpah Pemuda itu terdiri atas tiga butir yang berbunyi sebagai berikut
Pertama Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang
satu, tanah Indonesia
Kedua Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Ketiga Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Tampak pada teks di atas bahwa ikrar pertama dan kedua berbeda dengan ikrar yang ketiga. Ikrar pertama dan kedua berupa pernyataan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu dan bangsa yang satu; sedangkan ikrar yang ketiga tidak berupa pengakuan, tetapi berupa kebulatan tekad untuk men¬junjung bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda tidak berbunyi:
Kami putra dan putri Indonesia mengaku
berbahasa yang satu, bahasa Indonesia.
Dengan demikian, ungkapan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa yang sering diucapkan orang tidak sesuai dengan aslinya. Memang, kita mengaku satu nusa dan satu bangsa, tetapi tidak mengaku hanya satu bahasa. Banyak orang salah sangka terhadap ikrar ketiga Sumpah Pemuda. Bangsa Indonesia tidak berkeinginan hanya memiliki satu bahasa dipertegas oleh penjelasan Pasal 36, UUD 1945, yang menyebutkan bahwa bahasa-bahasa daerah yang dipelihara dengan baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura, Bugis, Bali dan sebagainya), dihormati dan dipelihara juga oleh negara

Dalam pada itu, nama “bahasa Indonesia” baru dikenal sejak 28 Oktober 1928, yang sebelumnya bernama “bahasa Melayu.” Bahasa Melayulah yang mendasari bahasa Indonesia yang kemudian diangkat menjadi bahasa persatuan. Masalah yang menarik perhatian para ahli sosiologi bahasa adalah kondisi apa yang memungkinkan bahasa Melayu dipilih dan disepakati untuk diangkat menjadi bahasa nasional. Dan, mengapa bukan bahasa Jawa atau Sunda yang jumlah penuturnya lebih banyak daripada bahasa Melayu.
Berikut ini dikemukakan beberapa alasan sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.
1. Bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca (bahasa perhubungan) selama berabad-abad sebelumnya di seluruh kawasan tanah air kita. Hal tersebut tidak terjadi pada bahasa Jawa, Sunda, ataupun bahasa daerah lainnya.
2. Bahasa Melayu memiliki daerah persebaran yang paling luas dan yang
melampaui batas-batas wilayah bahasa lain meskipun jumlah penutur
aslinya tidak sebanyak penutur asli bahasa Jawa, Sunda, Madura, ataupun
bahasa daerah lainnya.
3. Bahasa Melayu .masih berkerabat dengan bahasa-bahasa Nusantara lainnya sehingga tidak dianggap sebagai bahasa asing.
4. Bahasa Melayu bersifat sederhana, tidak mengenal tingkat-tingkat bahasa sehingga mudah dipelajari. Berbeda dengan bahasa Jawa, Sunda, dan Madura yang mengenal tingkat-tingkat bahasa.
Bahasa Melayu mampu mengatasi perbedaan-perbedaan bahasa antarpenutur yang berasal dari berbagai daerah. Dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan tidak rnenimbulkan perasaan kalah terhadap golongan yang lebih kuat dan tidak ada persaingan antarbahasa daerah
Sehubungan dengan hal yang terakhir itu, kita wajib bersyukur atas kerelaan mereka membelakangkan bahasa ibunya demi cita-cita yang lebih tinggi, yakni cita-cita nasional. Hal seperti ini tidak terjadi di negara tetangga kita, misalnya Malaysia, Singapura, dan Filipina. Bahasa Filipina (Tagalog) yang diangkat menjadi bahasa nasional mendapat saingan keras dari bahasa Sebuano dan Hokano yang tidak rela bahasa Tagalog menang. Malaysia mencontoh Indonesia dalam kebijakan bahasa mereka dengan menetapkan bahasa Malaysia sebagai bahasa persatuan, yang sekarang sudah menjadi bahasa resmi. Singapura menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan dan menduduki bahasa kedua setelah bahasa Inggris.
Dalam pada itu, ada beberapa pendapat berkaitan dengan peristiwa Sumpah Pemuda yang perlu kita perhatikan. Muh. Yamin, penyusun ikrar Sumpah Pemuda, pada Kongres Pemuda Indonesia I tahun 1926, menyatakan keyakinannya bahwa bahasa Melayu lambat laun akan tertunjuk menjadi bahasa pergaulan umum ataupun bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia. Kebu-dayaan Indonesia di masa yang akan datang akan terjelma dalam bahasa itu. Selanjutnya dengan tegas dia menyatakan bahwa bahasa yang dahulu dinamakan bahasa Melayu sekarang sudah dikubur dan hidup menjelma menjadi bahasa Indonesia.
Tiga bulan menjelang diadakan Sumpah Pemuda, tepatnya pada 15 Agustus 1926, Soekarno dalam pidatonya menyatakan bahwa perbedaan bahasa di antara suku bangsa Indonesia tidak akan menghalangi persatuan, tetapi makin luas bahasa Melayu (bahasa Indonesia) itu tersebar, makin cepat kemerdekaan Indonesia akan terwujud.
Ada pendapat lain, sesudah, diikrarkan Sumpah Pemuda, terutama yang berkaitan dengan ikrar ketiga, St. Takdir Alisjahbana menjelaskan secara luas apa yang disebut bahasa Indonesia. Dia menyatakan, “bahasa Indonesia ialah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh perlahan-lahan di kalangan penduduk Asia Selatan dan setelah bangkitnya pergerakan kebangsaan rakyat Indonesia pada permulaan abad kedua puluh dengan insaf diangkat dan dijunjung sebagai bahasa persatuan”.
Dalam pernyataan itu dengan sengaja dicantumkan kata dengan zwa/untuk membedakan pengertian antara bahasa yang dahulu disebut bahasa Melayu dengan bahasa yang sekarang disebut bahasa Indonesia. Selanjutnya, St. Takdir Alisjahbana menyatakan bahwa bahasa Indonesia itu terusan, sambungan dari bahasa Melayu, tetapi ada bedanya dengan fase yang dahulu. Bahasa Indonesia itu dengan insaf diangkat dan dijunjung serta dipakai sebagai bahasa yang memperhubungkan dan mempersatukan rakyat Indonesia.
Sejalan dengan pendapat di atas, H.B. Yassin menyatakan bahwa Sumpah Pemuda adalah suatu manifesto politik yang juga mengenai bahasa. Penamaan bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia tidak berdasarkan perbedaan dalam struktur dan perbendaharaan bahasa pada masa itu, tetapi semata-mata dasar politik. Dalam bahasa tidak terjadi perubahan apa-apa, tetapi hanya berganti nama sebagai pernyataan suatu cita-cita kenegaraan, yaitu kesatuan, tanah air, bangsa dan bahasa.
Perlu Anda ketahui bahwa pada zaman penjajahan Belanda ketika Dewan Rakyat dibentuk, yakni pada 18 Mei 1918 bahasa Melayu memperoleh pengakuan sebagai bahasa resmi kedua, di samping bahasa Belanda yang berkedudukan sebagai bahasa resmi pertama di dalam sidang Dewan Rakyat. Sayangnya, anggota bumiputra tidak banyak yang memanfaatkannya.
Masalah bahasa resmi muncul lagi dalam Kongres Bahasa Indonesia yang pertama di Solo pada tahun 1938. Pada kongres itu ada dua hasil keputusan yang penting, yaitu bahasa Indonesia diusulkan menjadi (1) bahasa resmi dan (2) bahasa pengantar dalam badan-badan perwakilan dan perundang-undangan.
Demikianlah “lahir”nya bahasa Indonesia bukan sebagai sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit, tetapi melalui perjuangan panjang disertai keinsyafan, kebulatan tekad, dan semangat untuk bersatu. Dan, api perjuangan itu berkobar terus untuk mencapai Indonesia merdeka, yang sebelum itu harus berjuang melawan penjajah Jepang.
Pada tahun 1942 Jeparig menduduki Indonesia. Dalam keadaan tiba-tiba, Jepang tidak dapat memakai bahasa lain, selain bahasa Indonesia untuk berhubungan dengan rakyat Indonesia. Bahasa Belanda jatuh dari kedudukannya sebagai bahasa resmi. Bahkan, dilarang digunakan. Sebenarnya Jepang mengajarkan bahasa Jepang kepada orang Indonesia dan bermaksud membuat bahasa Jepang menjadi bahasa resmi di Indonesia sebagai pengganti bahasa Belanda. Akan tetapi, usaha itu tidak dapat dilakukan secara cepat seperti waktu dia menduduki Indonesia. Karena itu, untuk sementara Jepang memilih jalan yang praktis, yaitu memakai bahasa Indonesia yang sudah tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Perlu Anda catat bahwa selama zaman pendudukan Jepang 1942-1945 bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di semua tingkat pendidikan.
Demikianlah, Jepang terpaksa harus menumbuhkan dan mengembangkan bahasa Indonesia secepat-cepatnya agar pemerintahannya dapat berjalan dengan lancar. Bagi orang Indonesia hal itu merupakan keuntungan besar terutama bagi para pemimpin pergerakan kemerdekaan. Dalam waktu yang pendek dan mendesak mereka harus beralih dari berorientasi terhadap bahasa Belanda ke bahasa Indonesia. Selain itu, semua pegawai negeri dan masyarakat luas yang belum paham akan bahasa Indonesia, secara cepat dapat memakai bahasa Indonesia.
Waktu Jepang menyerah, tampak bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, makin kuat kedudukannya. Berkaitan dengan hal di atas, semua peristiwa tersebut menyadarkan kita tentang arti bahasa nasional. Bahasa nasional identik dengan bahasa persatuan yang didasari oleh nasionalisme, tekad, dan semangat kebangsaan. Bahasa nasional dapat terjadi meskipun eksistensi negara secara formal belum terwujud. Sejarah bahasa Indonesia berjalan terus seiring dengan sejarah bangsa pemiliknya.

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
Yang dimaksud dengan kedudukan adalah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya, yang dirumuskan atas dasar nilai sosial bahasa yang bersangkutan. Sedangkan fungsi adalah nilai pemakaian bahasa yang dirumuskan sebagai tugas pemakaian bahasa itu dalam kedudukan yang diberikan kepadanya.
Bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dimiliki sejak diikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, sedangkan kedudukan sebagai bahasa negara dimiliki sejak diresmikan Undang-Undang Dasar 1945 (18 Agustus 1945). Dalam UUD 1945, Bab XV, Pasal 36 tercantum “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) lambang kebangsaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3) alat pemersatu berbagai suku bangsa yang latar belakang sosial budaya dan bahasanya berbeda, dan (4) alatperhubungan antardaerah dan antarbudaya.
Sebagai lambang kebangsaan nasional, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Atas dasar kebangsaan itu, bahasa Indonesia selalu kita pelihara dan kita kembangkan. Begitu pula rasa bangga memakai bahasa Indonesia wajib kita bina terus. Rasa bangga merupakan wujud sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif itu terungkap jika kita lebih suka memakai bahasa Indonesia daripada kata bahasa asing. Orang dikatakan bersikap positif jika lebih suka memakai kata HOTEL INDAH, PENATU RAMA, dan PENJAHIT CITRA daripada kata SPLENDED HOTEL, RAMA LAUNDRY, dan CITRA TAILOR. Kecenderungan memakai kata-kata asing seperti di atas mungkin terdorong oleh ingin bergagah-gagahan
Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dapat menimbulkan wibawa, harga diri, dan teladan bagi bangsa lain. Hal ini dapat terjadi jika kita selalu berusaha membina dan mengembangkannya secara baik sehingga tidak tercampuri oleh unsur-unsur bahasa asing (terutama bahasa Inggris)) yang tidak benar-benar kita perlukan; Untuk itu kesadaran akan kaidah pemakaian bahasa Indonesia harus ditingkatkan. Bering kita jumpai pemakaian bahasa Indonesia -;. yang bercampur dengan bahasa Inggris seperti tampak pada contoh berikut ini.

Lembaga Pendidikan £ Training Computer ‘ Melayani: Pengetikan, Programming, Analisis Data

Pemakaian bahasa gado-gado seperti contoh di atas dapat menurunkan wibawa pemakainya. Agar dapat dijadikan teladan dan dihormati orang lain, bahasa gado-gado di atas harus bersih dari kata-kata asing, seperti dituliskan ‘: berikut ini.
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Komputer Melayani: Pengetikan, Pemrograrnah, dan Analisis Data

Sebagai alat perftersatu, bahasa Indonesia’memang mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang berbeda-beda suku, agarna, budaya, dan bahasa ibunya. Hal itu tampak jelas sejak diikrarkan Sumpah Pemiida.
Pada zaman penjajahan Jepang yang penuh dengan kekerasan dan penindasan bahasa Indonesia digembleng menjadi alat pemersatu yang ampuh bagi bangsa Indonesia. Dengan bahasa nasional itu kita letakkan kepentingan nasional di atas kepentingan daerah atau golongan.
Sebagai alat perhubungan, bahasa Indonesia mampu memperhubungkan bangsa Indonesia yang latar belakang sosial budaya dan bahasa ibunya berbeda-beda. Berkat bahasa nasional, suku-suku bangsa yang berbeda-beda bahasa ibunya itu dapat berkomunikasi secara akrab dan lancar sehingga kesa-lahpahaman antarmereka tidak terjadi. Selanjutnya, dengan menggunakan bahasa Indonesia kita dapat menjelajah ke seluruh pelosok tanah air kita ini tanpa ada hambatan.
Selanjutnya, sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, (3) alat perhubungan pada tingkat nasional, dan (4) alat pengembang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi
Sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai di dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik secara lisan maupun tertulis. Dokumen-dokumen resmi, keputusan-keputusan, surat-menyurat, yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan kenegaraan lainnya seperti DPR dan MPR wajib ditulis dalam bahasa Indonesia. Juga pidato-pidato resmi kenegaraan wajib ditulis dan diucapkan dalam bahasa Indonesia. Hanya dalam keadaan tertentu, demi kepentingan komunikasi antarbangsa, kadang-kadang pidato itu ditulis dan diucapkan dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Sejalan dengan itu, pemakaian bahasa dalam pelaksanaan administrasi pemerintahan, termasuk media massa perlu dibina, dikembangkan, dan ditingkatkan.
Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar pada semua jenis dan jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dalam hubungan ini, bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Makassar berfungsi sebagai bahasa pengantar di SD sampai dengan tahun ketiga; sedangkan bahasa asing, misalnya bahasa Inggris dipakai sebagai alat untuk membantu pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern.
Sebagai alat perhubungan tingkat nasional, bahasa Indonesia dipakai sebagai alat komunikasi timbal balik antara pemerintah dan masyarakat luas, alat perhubungan antardaerah dan antarsuku, dan juga sebagai alat perhubungan dalam masyarakat yang latar sosial budaya dan bahasanya sama. Jadi, jika pokok masalah yang diperkatakan itu berkaitan dengan masalah yang menyangkut tingkat nasional (bukan tingkat daerah), ada kecenderungan orang untuk memakai bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah. Dewasa ini terdapat kecenderungan memakai bahasa Indonesia meskipun yang dibicarakan itu masalah yang bertingkat daerah.
Sebagai alat pengembang kebudayaan nasional, ilmu pengetahuan, dan teknologi, bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa yang digunakan untuk membina dan mengembangkan kebudayaan nasional yang memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya dengan kebudayaan daerah. Di samping itu, bahasa Indonesia juga dipakai untuk memperluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi modern kepada masyarakat baik melalui penulisan buku-buku teks, penerjemahan, penyajian pelajaran di lembaga-lembaga pendidikan umum maupun melalui sarana-sarana lain di luar lembaga pendidikan.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terpenting di kawasan republik kita ini. Penting tidaknya suatu bahasa dapat didasari oleh tiga patokan, yaitu (1) jumlah penuturnya, (2) luas penyebarannya, dan (3) peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya lain yang bernilai tinggi. Jumlah penutur bahasa Indonesia menurut sensus penduduk tahun 1990 adalah 82,87%. Hendaknya disadari bahwa jumlah penutur asli bahasa Indonesia makin bertambah. Patokan kedua jelas sekali bahwa bahasa Indonesia memiliki penyebaran yang paling luas. Hal ini tentu mengingatkan Anda tentang luasnya penyebaran bahasa Melayu yang menjadi dasar bahasa Indonesia, Di samping susastra Indonesia modern yang dikembangkan oleh sastrawan yang beraneka ragam latar belakang bahasanya, dewasa ini bahasa Indonesia berperan sebagai sarana utama di bidang ilmu, teknologi, dan peradaban modern bagi bangsa Indonesia.
Perlu dicatat bahwa kedudukan bahasa yang demikian penting seperti bahasa Melayu dijunjung menjadi bahasa persatuan, kemudian bahasa Indonesia ditetapkan menjadi bahasa negara, dan bahasa Inggris menjadi bahasa internasional tidak didasarkan pada pertimbangan linguistik, logika, atau estetika, tetapi oleh patokan politik, ekonomi, atau demografi.
Perlu Anda ketahui bahwa satu negara memiliki lebih dari satu bahasa resmi, misalnya Singapura memiliki empat bahasa resmi, yaitu bahasa Inggris, Cina Mandarin, Tamil, dan Melayu; Malaysia memiliki dua bahasa resmi, yaitu bahasa Inggris dan Malaysia; Filipina mempunyai dua bahasa resmi, yaitu bahasa Inggris dan Filipino; Swiss memiliki tiga bahasa resmi (tidak memiliki bahasa nasional), yaitu bahasa Perancis, Jerman, dan Itali.
Dalam pada itu, sejarah perkembangan bahasa Indonesia berjalan terus. Dalam perjalanan sejarah dari tahun 1945 sampai sekarang ini banyak peristiwa penting yang berkaitan dengan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia, antara lain, Kongres Bahasa Indonesia II s.d. VI. Marilah kita kaji ulang peristiwa-peristiwa penting yang dimaksud.
Pada tahun 1954 diadakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Dalam Kongres itu ditegaskan bahwa politik bahasa harus mengatur kedudukan dan hubungan timbal balik antara bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Selain itu, politik bahasa harus membangkitkan rasa setia dan bangga akan bahasa Indonesia. Pernyataan kedua ini menyiratkan bahwa rasa setia dan bangga akan bahasa nasional belum tampak dalam perilaku berbahasa Indonesia. Mungkin sekali masih banyak orang Indonesia yang suka berbahasa asing daripada berbahasa Indonesia.
Selanjutnya, pada tahun 1975 di Jakarta diadakan Seminar Politik Bahasa Nasional. Politik bahasa nasional adalah kebijaksanaan nasional yang berisi perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar pengolahan keseluruhan kebahasaan. Dalam seminar itu diputuskan ihwal kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.
Dalam hubungannya dengan kedudukan bahasa Indonesia, bahasa-bahasa daerah yang terdapat di wilayah Republik Indonesia, misalnya bahasa Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali, dan Bugis, berkedudukan sebagai bahasa daerah. Kedudukan ini berdasarkan kenyataan bahwa bahasa-bahasa daerah merupakan salah satu unsur kebudayaan nasional, yang dilindungi oleh negara. Hal ini sesuai dengan penjelasan Pasal 36 Bab XV, UUD 1945 (sebelum amandemen), yang berbunyi:

Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya) bahasa-bahasa itu dipelihara juga oleh negara. Bahasa-bahasa itupun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup.
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali, dan Bugis berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, dan (3) alat perhubungan dalam keluarga dan masyarakat daerah. Adapun dalam hubungannya dengan fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi sebagai (1) pendukung bahasa nasional, (2) bahasa pengantar di SD di daerah tertentu pada tingkat permulaan untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lainnya, dan (c) alat pengembangan dan pendukung kebudayaan daerah.
Dalam hubungannya dengan bahasa Indonesia, bahasa-bahasa seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Jepang, dan Cina berkedudukan sebagai bahasa asing. Kedudukan ini didasarkan atas kenyataan bahwa bahasa asing tertentu itu diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan pada tingkat tertentu. Di dalam kedudukan yang demikian, bahasa-bahasa asing itu tidak bersaingan, baik dengan bahasa Indonesia maupun dengan bahasa daerah. Di dalam kedudukannya sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa seperti bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Jepang dan Cina berfungsi sebagai alat perhubungan antarbangsa, (2) alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern, dan (3) alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk pembangunan nasional.
Selanjutnya, pada tahun 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-50. Kongres itu bertujuan memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia baik sebagai bahasa nasional sesuai dengan isi dan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, maupun sebagai bahasa negara, sesuai dengan Bab XV, Pasal 36, UUD 1945 (sebelum amandemen) Keputusan dan kesimpulan kongres itu menyangkut kepentingan segenap lapisan masyarakat. Masalah bahasa adalah masalah nasional..
Sementara itu, pada tahun (1983) di Jakarta diadakan Kongres Bahasa Indonesia IV. Dalam kesimpulan umum dikatakan bahwa fungsi bahasa Indonesia makin mantap, baik sebagai alat komunikasi sosial administratif maupun sebagai alat komunikasi ilmu pengetahuan dan keagamaan. Dan, sebagai alat penyebarluasan ilmu, bahasa Indonesia telah dapat pula menjalankan fungsinya dengan baik. Hal ini terbukti dengan makin banyaknya buku-buku ilmu pengetahuan yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Kongres Bahasa Indonesia V diadakan pada tahun 1988 di Jakarta. Kongres itu menghasilkan sejumlah putusan yang meliputi bidang bahasa, pengajaran bahasa, dan pengajaran sastra. Dalam simpulan umum dinyatakan bahwa kedudukan bahasa Indonesia makin mantap, baik sebagai bahasa nasional maupun sebagai bahasa negara. Meskipun demikian, pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar masih perlu ditingkatkan. Sebagai tindak lanjutnya, perlu diperhatikan dan dilaksanakan hal-hal berikut ini.

Para pejabat diimbau berbahasa Indonesia ‘ Secara baik dan benar karena mereka menjadi anutan masyarakat. Para peneliti hendaklah membiasakan menggunakan bahasa Indonesia ragam ilmiah secara logis, lugas, cermat, dan tepat.
Dalam menyampaikan pesan tentang konsep-konsep pembangunan kepada masyarakat hendaknya digunakan bahasa yang akrab dan sederhana sesuai dengan daya tangkap masyarakat. Penggunaan bahasa asing pada papan-papan nama gedung umum,
hendaknya diganti dengan bahasa Indonesia. Pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmiah dan modern masih perlu menyerap kata-kata baru, baik yang berasal dari bahasa serumpun maupun dari bahasa asing, sesuai dengan keperluan. Oleh sebab itu, penutur bahasa Indonesia diimbau tidak bersikap nasionalisme sempit yang
berlebihan. Sikap positif terhadap bahasa Indonesia, yang meliputi kebanggaan dan kesetiaan pada bahasa Indonesia serta kesadaran akan kaidah bahasa perludipupuk terus

Bahasa Indonesia VI diadakan pada tahun 1998 di Jakarta. Kongres dengan tema “Bahasa Indonesia Menjelang Tahun 2000” itu bertujuan memantapkan peran bahasa Indonesia sebagai sarana pembangunan bangsa, sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sarana pembinaan kehidupan bangsa. Adapun subtemanya adalah (1) Bahasa Indonesia Merupakan Sarana yang Kukuh dalam Pembangunan Bangsa, (2) Peningkatan Mutu Bahasa Indonesia Memperlancar Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan (3) Peningkatan Kemampuan Masyarakat Berbahasa Indonesia Memperkaya Kehidupan Budaya Bangsa.
Sebagaimana Anda ketahui, jaringan masalah kebahasaan di Indonesia memang sangat kompleks. Hal itu disebabkan oleh adanya persentuhan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah, juga adanya persentuhan antara bahasa Indonesia dan bahasa asing, ditambah pula datangnya berbagai tuntutan agar hanya didasarkan pada eksistensi bahasa Indonesia sebagai sistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantis, tetapi juga harus mempertimbangkan faktor-faktor nonkebahasaan seperti politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan.

Permasalahan dalam Analisis Kesalahan Berbahasa dan Analisis Kontrastif

Permasalahan dalam  Analisis Kesalahan Berbahasa dan Analisis Kontrastif

 

Kesalahan yang dibuat oleh siswa pada saat mempelajari atau menggunakan B2 menarik   perhatian   para   ahli, terutama para ahli yang bergerak dalam bidang pengajaran bahasa. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku yang  ditulis untuk memperkenalkan pendekatan baru  dalam pengajaran bahasa.  Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan analisis sesalahan berbahasa dan analisis kontrastif.

Tujuan yang hendak dicapai dengan penyajian kegiatan belajar dua dalam modul ini adalah harapan agar Anda dapat membedakan sekaligus memahami hubungan antara analisis kesalahan berbahasa dengan analisis kontrastif. Untuk tujuan tersebut, marilah kita cermati sajian berikut ini.

Permasalahan  

Baik analisis kesalahan berbahasa maupun analisis kontrastif, masing-masing mempunyai  permasalahan sendiri-sendiri. Permasalahan-permasalahan yang  dimaksud dapat dilihat pada uraian di bawah ini.

 

Permasalahan dalam Analisis Kesalahan Berbahasa      

Sebagai seorang guru atau calon guru yang sedang berpraktik mengajarkan bahasa Indonesia, apabila diperhatikan dengan saksama, Anda akan menemukan kesalahan-kesalahan yang dibuat siswa. Kesalahan-kesalahan itu ternyata dapat Anda pilah dalam dua kategori, yaitu kategori kesalahan dalam bidang keterampilan dan kesalahan dalam bidang linguistik. Kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan terjadi pada saat siswa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sedangkan kesalahan dalam bidang linguistik meliputi tata bunyi, tata bentuk kata, dan tata kalimat.

Temuan-temuan Anda ini sangat menarik dan segera diatasi agar proses belajar-mengajar berhasil dengan baik. Dengan demikian permasalahan yang ditangani analisis kesalahan berbahasa itu berkisar pada kesalahan dalam keterampilan berbahasa dan kesalahan dalam kebahasaan (linguistik).

Permasalahan dalam Analisis Kontrastif

Berdasarkan kenyataan menunjukkan bahwa orang Indonesia umumnya dan para siswa khususnya tergolong dwibahasawan. Bahasa Indonesia dianggap sebagai B2 bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Pengajaran bahasa Indonesia dimulai sejak taman kanak-kanak. Ini berarti bahwa pembinaan bahasa telah dimulai sejak dini. Namun ternyata masih terdapat banyak kesalahan dan persoalan dalam berbahasa Indonesia. Persoalan kebahasaan yang dihadapi dalam pengajaran bahasa Indonesia ialah adanya pengaruh Bl (bahasa daerah atau bahasa ibu) terhadap B2 (bahasa Indonesia atau bahasa yang dipelajari). Pengaruh itu ada yang berkaitan dengan tata bunyi, tata bentuk kata, dan ada pula yang berhubungan dengan tata kalimat. Persoalan yang muncul bagaimana seorang guru bahasa dapat memberantas atau mengurangai pengaruh Bl terhadap bahasa yang sedang dipelajari para siswa? Salah satu cara yang diajukan melalui analisis kontrastif.

Batasan

Batasan dalam uraian ini diartikan sama dengan pengertian. Untuk jelasnya batasan antara analisis kesalahan dengan analisis kontrastif dapat Anda simak

uraian di bawah ini.

Analisis Kesalahan

Batasan atau pengertian analisis kesalahan sudah Anda pelajari pada kegiatan belajar satu modul ini. Namun tidak ada jeleknya jika dalam kegiatan belajar dua ini kita ulas kembali.

Jika kita perhatikan, maka salah satu pekerjaan guru (yang paling tidak disukai?) ialah mengoreksi pekerjaan siswa. Kegiatan mengoreksi ini tidak lain menilai kompetensi bahasa siswa yang muncul dalam performansinya. Pada saat guru menilai (mengoreksi) pasti menemui kesalahan. Kesalahan tersebut dianalisis dengan cara mengategorikan, menentukan sifat, jenis, dan daerah kesalahannya. Kegiatan guru semacam inilah  yang sebenarnya  disebut analisis kesalahan (Pateda. 1989-32)

Coba Anda bandingkan apa yang dikemukakan Pateda di atas dengan yang dikemukakan Ellis (daiam Tarigan, 1990:68) tenfang analisis kesalahan ini. EIUs memberi batasan bahwa yang dimaksud dengan analisis kesalahan adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para peneliti dan guru bahasa, me! pengumpulan data, pengidentifikasian kesalahan yang terdapat dalam data, penjelasan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan pen\e-babnya, serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan itu.

 

Kesalahan dibedakan dengan kekeliruan dan keseleo. Kesalahan mengacu pada kompetensi, kekeliruan mengacu pada performansi, sedangkan keseleo mengacu pada situasi pengucapan yang keliru, misalnya karena lupa atau adanya tekanan kejiwaan.

Analisis Kontrastif

Guru sering menghadapi kesulitan dalam mengajarkan B2 kepada para siswanya. Untuk itu guru harus mengenal analisis kontrastif. Analisis ini dapat membantu guru bahasa menolong dan sekaligus memperbaiki kesalahan siswa. Dengan demikian para siswa dapat segera menguasai bahasa sasaran (B2) yang dipelajari. Analisis kontrastif sebagai suatu pendekatan pengajaran bahasa mengasumsikan bahwa Bl mempengaruhi siswa ketika mempelajari B2. Pengaruh Bl sering kita dengar atau bahkan kita alami sendiri ketika belajar atau menggunakan B2. Kadang-kadang kata-kata tertentu atau konstruksi Bl mempengaruhi secara tidak disadari. Bahkan dengan mendengarkan pembicaraan orang, kita dapat menebak daerah asal si pembicara. Pengaruh yang dimaksud dapat terjadi pada ujaran bahasa, pilihan kata atau struktur kalimat.

Analisis kontrastif sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa menggunakan metode perbandingan, yaitu membandingkan antara unsur yang berbeda dengan unsur yang sama. Meskipun demikian titik berat analisis kontrastif ditekankan pada unsur-unsur kebahasaan yang berbeda.

Bertolak dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa analisis kontrastif adalah pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara Bl (bahasa ibu) dengan B2 (bahasa sasaran, yaitu bahasa yang dipeljari) sehingga guru dapat meramalkan kesalahan siswa dan si siswa segera menguasai bahasa yang dipelajari (Pateda, 1989:18).

Agar pengertian analisis kontrastif itu lebih jelas, Tarigan (1990:59) dengan nafas yang sama tetapi dengan kata-kata yang sedikit berbeda mengatakan bahwa analisis kontrastif adalah kegiatan membandingkan struktur Bl dengan B2 dengan langkah-langkah membandingkan struktur Bl dengan B2, memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan belajar, menyusun bahan pengajaran, dan mempersiapkan cara-cara menyampaikan bahan pengajaran.

Psikologi behavioris mendominasi analisis kontrastif. Teori ini menyatakan bahwa kesalahan berbahasa dalam menggunakan B2 disebabkan oleh adanya transfer negatif atau interferensi Bl siswa terhadap B2 yang sedang dipelajari siswa. Inti teori belajar psikologi behavioris adalah kebiasaan dan kesalahan. Analisis kontrastif dapat digunakan sebagai landasan dalam meramalkan kesulitan siswa yang sedang belajar B2.

 

Ruang Lingkup Analisis

 

Setiap permasalahan mempunyai ruang lingkup atau cakupan sendiri-sendiri. Demikian juga persoalan analisis kesalahan dan analisis kontrastif. Untuk mengetahui ruang lingkup masing-masing, ikutilah penjelasan di bawah ini.

Ruang Lingkup Analisis Kesalahan

Anda pasti tahu bahwa setiap orang apakah dia orang tua, remaja, ataupun anak-anak, dalam kegiatan berkomunikasi lisan maupun tulis (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) setiap hari menggunakan bahasa. Dalam berkomunikasi dengan bahasa itu pasti membuat kesalahan. Kesalahan itu ada yang sistematis dan ada yang tidak sistematis. Dalam kaitannya dengan analisis kesalahan, yang disoroti adalah kesalahan yang bersifat sistematis. Kesalahan sistematis berarti kesalahan yang berhubungan dengan kompetensi. Kompetensi dalam pembicaraan ini adalah kemampuan pembicara atau penulis untuk melahirkan pikiran dan perasaannya melalui bahasa sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Bahasa yang digunakan itu berwujud kata, kalimat, dan makna yang mendukungnya. Kata dan kalimat berunsurkan bunyi-bunyi yang membedakan yang disebut fonem.

Memperhatikan penjelasan di atas, kesalahan yang perlu dianalisis mencakup tataran tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi) tata kalimat (sintaksis), dan tataran tata makna (semantik). Analisis kesalahan bidang tata bunyi berhubungan dengan kesalahan ujaran atau pelafalan, grafemik, pungtuasi, dan silabisasi. Analisis kesalahan dalam tata bentuk tentu saja kesalahan dalam membentuk kata terutarna pada afiksasi. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat. Dan yang berikutnya analisis kesalahan bidang semantik berkaitan dengan ketepatan penggunaan kata, frase atau kalimat yang didukung oleh makna baik makna gramatikal maupun makna leksikal.

 

Ruang Lingkup Analisis Kontrastif

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa analisis kontrastif muncul karena adanya kenyataan yang dialami siswa ketika mempelajari B2. Analisis kontrastif mencoba ingin menolong guru bahasa sekaligus menolong siswa yang sedang mempela­jari B2 agar segera menguasai bahasa sasaran tersebut. Analisis kontrastif terbatas hanya menganalisis dua bahasa dengan jalan membandingkannya, yakni membandingkan B2 dengan Bl atau antara bahasa yang dipelajari dengan bahasa ibu. Hasilnya terutarna perbandingan unsur kebahasaan yang berbeda akan membantu guru bahasa untuk meramalkan kesalahan yang kemungkinan dilakukan siswa dan sekaligus menolong siswa agar segera menguasai bahasa sasaran (B2).

 

Analisis Kesalahan Bertahasa

Materi yang dibandingkan berhubungan dengan tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi), dan tata kalimat (sintaksis). Bidang tata bunyi berhubungan  dengan bunyi (fonem) dan pelafalannya. Bidang tata bentuk berhubungan dengan  imbuhan, kata dan pembentukannya. Bidang tata kalimat menyangkut urutan kata  dan frase dikaitkan dengan hukum-hukumnya (DM, MD). Untuk keperluan itu semua perlu adanya deskripsi yang jelas antara bahasa Bl dan B2.       

Objek merupakan sasaran yang digarap suatu kegiatan. Apa dan bagaimana objek analisis kesalahan dan analisis kontrastif dapat dibaca pada uraian berikut.

Objek analisis kesalahan adalah bahasa. Oleh sebab itu analisis kesalahan

dalam pembicaraan ini identik dengan analisis kesalahan berbahasa. Analisis kesalahan menitikberatkan analisisnya pada bahasa ragam formal. Seperti kita ketahui dilihat dari ragam pemakaiannya bahasa itu dibedakan atas bahasa ragam santai dan bahasa ragam formal. Bahasa ragam formal digunakan orang pada situasi formal seperti berpidato, berceramah, khotbah, berdiskusi, berseminar, berkongres, berkonferensi, bermusyawarah, dosen memberikan kuliah, guru mengajar di depan kelas, dan sebagainya yang jelas bahasa yang digunakan dalam situasi resmi.

Analisis kesalahan ditekankan pada proses belajar B2 (termasuk bahasa asing). Dengan demikian objek analisis kesalahan adalah bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing. Objek yang lebih khusus lagi adalah kesalahan bahasa siswa yang bersifat sistematis dan menyangkut analisis kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), tata bunyi, tata bentuk kata, tata kalimat, dan tata makna.

Objek Analisis Kontrastif

Objek analisis kontrastif adalah bahasa. Meskipun yang menjadi objek adalah bahasa, tetapi hasil analisisnya bukan untuk kepentingan bahasa itu sendiri melainkan untuk kepentingan pengajaran bahasa. Dengan begitu, bahasa sebagai objek dapat dilihat dari bahasa itu sendiri atau sebagai bahan pengajaran. Sebagai bahan pengajaran berkaitan erat dengan guru dan siswa, sebab guru yang bertindak sebagai pelaksana pengajaran bahasa dan siswa sebagai sasaran yang mempelajari bahasa.

Dilihat dari sudut bahasa, bahasalah yang dibandingkan. Dilihat dari guru, guru sebagai pelaksana perbandingan. Dan dilihat dari siswa diharapkan siswa segera menguasai bahasa yang dipelajarinya, sebab kesalahan-kesalahan yangmungkin akan dibuatnya segera dapat diramalkan berdasarkan perbandingan bahasa sebelumnya.

Tujuan

Akhirnya sampailah kita pada pembicaraan tujuan. Oleh karena analisis itu merupakan suatu kegiatan, maka ada tujuan yang hendak dicapai. Tujuan analisis kesalahan maupun analisis kontrastif dapat dibaca pada uraian di bawah ini.

 

Telah dikatakan di atas bahwa analisis kesalahan dapat membantu guru untuk mengetahui jenis kesalahan yang dibuat, daerah kesalahan, sifat kesalahan, sumber kesalahan, serta penyebab kesalahan. Bila guru telah menemukan kesalahan-ke-salahan, guru dapat mengubah metode dan teknik mengajar yang digunakan, dapat menekankan aspek bahasa yang perlu diperjelas, dapat menyusun rencana pengajaran remedial, dan dapat menyusun program pengajaran bahasa itu sendiri. Dengan demikian jelas bahwa antara analisis kesalahan dengan bidang kajian yang lain, misalnya pengelolaan kelas, interaksi belajar-mengajar, perencanaan pengajaran, pengajaran remedial, penyusunan ujian bahasa, dan bahkan pemberian pekerjaan rumah ada hubungan timbal balik.

Khusus untuk guru, analisis kesalahan dapat digunakan untuk (1) menentukan urutan sajian, (2) menentukan penekanan-penekanan dalam penjelasan dan latihan, (3) memperbaiki pengajaran remedial, (4) memilih butir-butir yang tepat untuk mengevaluasi penggunaan bahasa siswa (Pateda, 1989:36).

Corder (dalam Baraja, 1981:12) mengatakan bahwa analisis kesalahan itu mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan teoretis dan tujuan praktis. Tujuan yang bersifat praktis tidak berbeda dengan tujuan analisis tradisional, sedangkan tujuan yang bersifat teoretis ialah adanya usaha untuk memahami proses belajar bahasa kedua. Bagi seorang guru, yang penting menemukan kesalahan itu kemudian menganalisisnya. Hasil analisis sangat berguna untuk tindak lanjut proses belajar-mengajar yang dilakukan.

Dengan memperhatikan tujuan di atas, seorang guru yang akan menerapkan analisis kesalahan tentu hams memiliki pengetahuan kebahasaan yang memadai. Dia harus paham benar tata bahasa yang baku dan berlaku. Misalnya tentang kebakuan pelafalari, tulisan (ejaan), bentukan kata, dan tata kalimatnya. Dalam hal ini guru dihadapkan pada dua persoalan, yaitu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya.

Pengetahuan yang cukup memadai sangat diperlukan oleh seorang guru. Lebih-lebih pengetahuan dan pemahaman tata bahasa. Sebagai ilustrasi perhatikanlah contoh kalimat di bawah ini.

 

Pohon itu syarat dengan buah.

la tidak memenuhi sarat menjadi ABRI.

Salatnya tetap syah meskipun tidak memakai peci.

Sah Iran yang terakhir adalah Mohammed Reza Pahlevi.

 

Jika sekiranya guru tidak memahami perbedaan antara “syarat” dan “sarat”, “syah” dan “sah” tentu guru tidak dapat menjelaskan kepada siswanya bahwa penggunaan keempat kata tersebut salah.

Senada dengan yang diucapkan Corder, Tarigan (1990:77) mengatakan bahwa tujuan analisis kesalahan itu bersifat aplikatif dan teoretis. Aplikatif mengurangi dan memperbaiki kesalahan berbahasa siswa. Teoretis mengharapkan pemeroleh-an bahasa siswa pada gilirannya dapat memberikan pemahaman ke arah proses pemerolehan bahasa secara umum.

Tujuan Analisis Kontrastif

Seperti halnya analisis kesalahan memiliki tujuan, demikian pula analisis kontrastif. Pateda (1989:20) menjelaskan bahwa analisis kontrastif bertujuan:

1.  menganalisis   perbedaan antara Bl (bahasa ibu) dengan B2 (bahasa yang sedang
dipelajari) agar pengajaran bahasa berhasil baik;

2.              menganalisis   perbedaan   antara Bl   dengan B2 agar kesalahan berbahasa siswa
dapat diramalkan dan pengaruh Bl  itu dapat diperbaiki;

3.              hasil analisis digunakan untuk memmtaskan keterampilan berbahasa siswa;

4.              membantu    siswa untuk    menyadari kesalahannya Jalam berbahasa sehingga
siswa dapat menguasai bahasa yang sedang dipelajarinya dalam waktu yang
tidak terlalu lama.

Berdasarkan uraian di atas ternyata analisis kesalahan dengan analisis kontrastif itu sangat erat hubungannya. Analisis kontrastif merupakan salah satu bagian dari analisis kesalahan. Jika analisis kesalahan melihat kesalahan itu secara umum, analisis kontrastif melihat kesalahan itu secara khusus. Dikatakan demikian sebab analisis kontrastif melihat kesalahan dengan cara membandingkan antara Bl dengan B2. Hasil membandingkan itu dapat diketahui adanya pengaruh (in-terferensi) Bl ke dalam B2 yang sedang dipelajari siswa.