Pembelajar Dewasa Berbeda dengan Pembelajar Anak

Pembelajar Dewasa Berbeda dengan Pembelajar Anak

Dalam sebuah buku berjudul Mendidik Anak Dengan Cinta, penulisnya mengumpamakan orang dewasa di mata anak-anak bak raksasa yang memagari pandangan sekeliling mereka. Dengan badan yang tinggi besar dan suara yang lantang, raksasa ini seringkali terlihat menakutkan. Para raksasa ini seringkali menyuruh, melarang dan memarahi, tiga aktivitas yang jika tidak dikemas apik oleh si raksasa, akan menciptakan pengalaman yang traumatis bagi si cebol. Baik orang tua maupun guru bisa menjelma menjadi raksasa-raksasa yang ditakuti oleh anak-anak, sehingga ketika keluar perintah dari mereka, anak-anak menuruti bukan karena paham, tapi karena takut. Dalam upaya membelajarkan tentu hal ini tidak ideal.
Artinya, walau bagaimanapun, kondisi ideal seseorang melakukan tugas pembelajaran adalah atas dasar keinginan untuk paham, bukan karena keterpaksaan atau ketakutan. Meski anak bersifat sangat imitatif, tidak mustahil mereka akan berhasil dipahamkan tentang sesuatu. Guru yang tugas utamanya adalah membelajarkan siswa, perlu kiranya memahami urgensi memahamkan siswa dengan cara memahami betul karakteristik siswanya agar selalu membuat keputusan-keputusan tepat mengenai apa yang diajarkan dan bagaimana cara mengajarkannya.
Manusia yang berlainan usia tentu saja memiliki kebutuhan, kompetensi, dan level kemampuan kognitif yang berlainan pula. Hal ini sangat penting dipertimbangkan dalam pengajaran; guru harus memetakan pikiran ketika mengatur segala hal untuk diajarkan berdasarkan pertimbangan usia siswa. Adalah sebuah hal yang signifikan pula bagi seorang pengajar untuk mengetahui siapa siswanya: bagaimana cara belajar mereka, latar belakang sosial-ekonominya, gaya belajarnya yang berbeda-beda, motivasi yang dimiliki, dan banyak faktor lainnya. Dengan memahami secara komprehensif terhadap faktor-faktor ini, seorang guru tidak akan memperoleh kesulitan yang berarti dalam membelajarkan siswanya. Untuk lebih menukik pada pembahasan, kita akan bahas faktor penting yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran bagi siswa yaitu usia.
A. PEMBELAJAR ANAK-ANAK
Pembelajar anak-anak adalah tipe pembelajaryang—pada titik tertentu—unik. Mereka memiliki karakteristik unik yang tentu berpengaruh pula pada proses mereka belajar, terutama dalam belajar bahasa. Inilah yang menjadi alasan tepat kenapa pembelajaranak-anak banyak menarik perhatian para ahli untuk meneliti mereka, terutama dalam wilayah pembelajaran bahasa. Banyak ahli setuju bahwa semakin dini anak diperkenalkan bahasa kedua, maka semakin besarlah kemungkinan anak tersebut menguasainya. Namun tetap saja, masalah ini masih diperdebatkan. Bahwa anak mudah sekali mengenal dan mengingat sesuatu, itu adalah sebuah fakta umum yang banyak terlihat buktinya. Namun, mempelajari bahasa terutama bahasa kedua, adalah sebuah proses kompleks yang melibatkan wajib hadirnya banyak faktor, yang mana faktor-faktor tersebut belum dimiliki oleh anak-anak.
Anak-anak, terutama di usia 5-10 tahun, memiliki gaya belajar yang sangat berbeda dengan anak yang usianya lebih tua dari mereka, dengan remaja ataupun orang dewasa. Perbedaan tersebut terletak pada:
a. Anak usia ini merespon makna dengan cepat meskipun tidak paham kata per katanya (Harmer, 2002; Gusrayani, 2006). Hal ini bisa diilustrasikan dengan konteks berikut. Sangat sering, guru bahasa Inggris di SD memberi contoh percakapan :how are you? dan siswa serempak menjawab I„m fine thank you, and you? Atau where do you live dijawab siswa dengan I live in…….(menyebutkan tempat tinggal). Anak tidak perlu mengetahui makna „how‟ atau „are‟ atau „you‟, karena mereka sudah mengetahui bahwa frase tersebut bermakna „apa kabar‟. Tidak perlu mereka mengetahui makna „where‟, „do‟, „you‟, dan „live‟, satu demi satu, melainkan cukup memahami bahwa frase tersebut digunakan untuk mempertanyakan tempat tinggal. Dan merekapun paham bagaimana cara meresponnya.
b. Anak seusia ini biasanya belajar secara tidak langsung—mereka mengambil informasi dari berbagai sisi, belajar dari berbagai hal dan tidak hanya terfokus kepada satu topik tertentu yang saat itu diajarkan. Khusus dalam belajar bahasa, jika anak diperkenalkan pada satu kosakata baru, maka ia akan mengaitkan dengan konteks yang ada dibenaknya, untuk mengukur ketepatan pemahaman mereka terhadap kata tersebut (Gusrayani, 2009). Contoh, seorang anak berusia 6 tahun mendengar kata „playboy‟ dari sinetron yang ditontonnya. Ia lalu bertanya kepada pengasuhnya, apa arti kata tersebut. Sang pengasuh menjelaskan bahwa kata yang dimaksud bermakna „suka mempermainkan perempuan‟. Di situasi lain, ketika ayah anak ini mengolok-oloknya dengan maksud bercanda, si anak langsung melabeli sang ayah sebagai „playboy‟, karena mempermainkannya sebagai perempuan.

c. Pemahaman mereka akan terbangun tidak hanya oleh penjelasan saja, tapi juga dari apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apapun yang mereka sentuh dan dengan siapa mereka terlibat berinteraksi berpengaruh signifikan juga dalam membangun pemahaman anak. Bisa kita lihat perbedaan yang sangat signifikan dari gaya bicara ataupun kosakata yang digunakan oleh anak-anak yang besar di lingkungan santun dan kaya pewajanan dengan anak-anak yang besar di lingkungan yang tak santun dan miskin pewajanan.
d. Pada umumnya, mereka menununjukkan antusiasme untuk belajar dan penasaran pada dunia di sekelilingnya. Pun dalam hal mengenal dan mengeksplorasi bahasa. Anak-anak cenderung antusias dalam menerapkannya pada konteks yang mereka tahu, sebatas yang mereka pahami.
e. Mereka penasaran dengan kosakata yang baru mereka dengar, berusaha mengeksplorasinya dengan berulang-ulang mengucapkannya, untuk mengetahui respon orang dewasa di sekitarnya. Apalagi jika orang dewasa menunjukkan respon kaget atau tidak suka, anak-anak cenderung sengaja mengulang-ulangnya. Contoh jika orang dewasa telanjur keceplosan mengeluarkan kata-kata tabu atau berkonotasi seksual. Anak-anak cenderung senang mengeksplorasinya dengan mengulang-ulangi pengucapan kata tersebut.
f. Mereka butuh perhatian intensif sebagai seorang individu, juga pengakuan dari sang guru. Konteks ini berlaku umum ketika seorang anak belajar apapun. Saat mempelajari bahasa baru, sangat mungkin anak melakukan kesalahan dalam menuliskan ataupun membacanya. Disini perhatian intensif guru ataupun orang dewasa di sekelilingnya sangat dibutuhkan. Terutama untuk menegaskan bahwa dalam mempelajari bahasa kedua, kesalahan yang diperbuat sebenarnya tak tepat jika disebut kesalahan, karena hal tersebut baru mereka ketahui, dan tidak pernah mereka temui sebelumnya. Contoh, jika anak mengucapkan one untuk satu dalam Bahasa Inggris, dan bukannya “wan‟, ini sangat bisa dipahami mengingat begitulah aturan pengucapan kata tersebut dalam bahasa Indonesia, sehingga apa yang mereka ucapkan sesungguhnya bukanlah kesalahan. Beberapa ahli cenderung memperkuat hal ini (Harmer, 2002; Pinter, 2006; Ellis, 1994).
g. Mereka suka membicarakan diri mereka, dan akan memberikan respon yang positif ketika pembelajaran melibatkan diri mereka dan kehidupan sehari-hari mereka sebagai topik utama di kelas. Dalam pembelajaran bahasa, setiap memperkenalkan tema kosakata yang akan diajarkan misalnya, pengajara bisa memulai keterlibatan kognitif siswa dengan membawa tema kosakata tersebut dengan hidup keseharian mereka. Misal, jika akan mengenalkan kosakata terkait binatang peliharaan, bisa dimulai dengan bertanya: do you have pets at home?
h. Rentang perhatian mereka sangat terbatas; artinya mereka tidak akan selalu memperhatikan. Mereka cepat lelah dan bosan, kecuali jika aktivitas yang melibatkan mereka benar-benar menarik. Mereka akan kehilangan minat setelah 10 menit atau lebih.
B. PEMBELAJAR REMAJA
Sudah merupakan hal yang tidak asing bahwa isu kunci pada kehidupan remaja adalah sisi pencarian identitas individu yang sangat kental sehingga berpengaruh kepada minat yang sangat besar terhadap pencarian tantangan. Berikut beberapa karakteristik khusus pembelajarremaja yang terkait dengan karakteristik individunya.
a. Pendapat teman sebaya lebih penting dibanding perhatian guru, dimana untuk pembelajaranak-anak justru perhatian guru yang lebih penting.
b. Banyak membawa problem di luar ke dalam kelas, sehingga berpengaruh kepada konsentrasi dalam belajar.
c. Jika guru mampu mengontrol mereka, tipe pembelajarseusia ini bisa sangat suportif dan konstruktif (Harmer, 2002).
d. Kapasitas belajar mereka sangat besar, potensi untuk kreatif sangat tinggi dan komitmen untuk terlibat dalam hal-hal yang menarik minat mereka sangat kuat.
C. PEMBELAJAR DEWASA
Pembelajar dewasa sangat kentara dalam beberapa karakteristik spesial sebagai berikut:
a. Mereka bisa terlibat dalam pemikiran yang abstrak.
b. Mereka memiliki sejumlah pengalaman hidup yang bisa dijadikan sebagai pengalaman belajar.
c. Mereka memiliki ekspektasi serius tentang proses pembelajaran dan mungkin telah memiliki pola pembelajaran sendiri.
d. Orang dewasa cenderung lebih disiplin daripada remaja dan anak-anak, dan secara krusial mereka siap untuk melawan kebosanan belajar.
e. Tidak seperti anak-anak dan remaja, mereka biasanya punya pemahaman yang utuh dan jelas tentang tujuan mereka belajar dan apa yang ingin mereka pelajari. Hal ini sangat penting untuk keberhasilan pembelajaran.
Mengajar anak usia pemula secara alami harus berbeda dengan mengajar anak SMA atau dewasa. Siswa SD memiliki karakteristik tersendiri—biologis, kognitif, afektif, kepribadian, dan sosial. Siswa SD senang beraktivitas, bermain, dan bernyanyi. Tujuan utama pelajaran bahasa Inggris pada tahap pembelajaran awal seperti ini adalah untuk memberi gambaran bahwa selain bahasa ibu dan bahasa daerah mereka, ada bahasa lain yang bisa mereka pelajari, yaitu bahasa asing. Diharapkan, mereka bisa tertarik mempelajari bahasa baru ini. Kemampuan yang dituntut pada jenjang ini pun masih sederhana,
siswa mampu memahami beberapa kosakata untuk mendukung kompetensi ekspresi tertulis dan ekspresi ucap yang sederhana.
Usia pemelajar, bakat bahasa yang dimiliki anak, strategi/gaya belajar, motivasi, dan latar belakang sosial ekonomi anak yang jelas berbeda antara anak yang satu dengan lainnya, adalah faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh pengembang program pembelajaran Bahasa Inggris ataupun pembuat kebijakan terkait pengajaran bahasa Inggris. Memformulasikan tujuan-tujuan pembelajaran dan selektif dalam memilih bahan ajar serta strategi yang tepat harus menjadi prioritas utama sebelum memutuskan untuk mengajarkan bahasa asing di sekolah dasar. Hal ini akan dibahas lebih lanjut di bab 4 mengenai pemilihan materi, metode dan media.
Sebenarnya, dibutuhkan pelatihan khusus untuk mengajar anak usia pemula; fitur-fitur kebahasaan seperti apa yang harus diajarkan, dan bagaimana membantu anak untuk mempelajarinya. Mengajarkan bahasa Inggris pada anak tidak akan semudah mengajarkan bahasa ibu mereka. Perbedaan sistem linguistik, pengejaan dan pengucapan akan mengundang banyak masalah di dalam kelas. Berikut dipaparkan beberapa karakteristik alamiah yang melekat pada anak dan bagaimana implikasinya pada pengajaran.
D. FITUR UMUM ANAK-ANAK DALAM MEMPELAJARI BAHASA
1. Perkembangan intelektual
Karena anak (sampai usia 8 tahun) masih dalam tahap intelektual yang disebut oleh Piaget (1972) operasional konkrit, guru harus selalu mengingat keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada anak di tahapan ini. Aturan, penjelasan, dan beberapa pembicaraan abstrak tentang bahasa harus betul-betul memakai pendekatan yang ekstra hati-hati. Anak-anak terfokus kepada apa yang terjadi saat ini, tidak terlalu mementingkan untuk tahu atau mengerti apa yang akan terjadi nanti, atau apa yang sudah mereka alami. Hal ini berimplikasi signifikan pada pembelajaran. Anak juga peduli pada tujuan fungsional bahasa (untuk apa kalimat itu dipakai) namun tidak terlalu peduli terhadap “kebenaran” (correctness) yang dikehendaki oleh orang dewasa dan tidak bisa memahami bahasa rumit yang digunakan orang dewasa untuk menjelaskan konsep-konsep linguistik (Harmer, 2002). Berikut adalah beberapa rambu-rambu umum yang bisa diterapkan guru di dalam kelas bahasa Inggris di SD (rambu-rambu detil akan Anda temukan di BAB berikutnya):
1) Jangan menjelaskan grammar secara eksplisit menggunakan istilah-istilah seperti past tense, relative clause, dsb. Alangkah lebih baiknya guru mencontohkan pola-pola kalimat termaksud dengan ilustrasi konkrit bisa berupa gambar, perilaku guru atau lainnya (Hadley, 2001). Hal inilah yang dinamakan konktretisasi dan kontekstualisasi (akan dibahas kemudian)
2) Aturan yang abstrak dan sulit dibayangkan siswa alasannya, mutlak harus dihindari, misal: untuk membuat pernyataan menjadi pertanyaan tambahkanlah do atau does. Lebih baik guru memberikan contoh kalimat dengan mengulang-ulangnya. Mengulang-ulang contoh kalimatnya lebih baik dibanding mengulang-ulang penjelasan/aturan yang dimaksud. Anak akan mampu memformulasikan sendiri aturan yang dimaksud jika contoh yang diberikan guru jelas.
3) Beberapa konsep gramatika bisa lebih menarik perhatian siswa jika guru mendemonstrasikannya, misal: sampai berjalan ke depan pintu, guru berkata I‟m walking to the door.
4) Beberapa konsep atau pola-pola yang sulit perlu diulang-ulang agar otak dan telinga anak mudah berkoordinasi.
2. Rentang Perhatian
Salah satu perbedaan menonjol anak dan orang dewasa adalah dari sisi rentang perhatiannya. Pertama, kita harus memahami apa itu rentang perhatian. Simpan anak di depan tivi yang menayangkan film kartun favoritnya, maka dia akan tahan berjam-jam di depan tivi. Jadi jangan membuat asumsi bahwa anak memiliki rentang perhatian yang pendek. Tapi rentang perhatian yang pendek akan muncul jika anak terlibat dalam satu aktivitas yang membosankan, tidak berguna atau terlalu sulit. Aktivitas belajar yang membosankan sangat mungkin tercipta di atmosfir pembelajaran kita, disadari ataupun tidak. Gaya mengajar guru di kelas misalnya, yang hanya memakai one way teaching, atau guru mentransfer apa yang diketahui kepada siswa dan siswa tidak aktif „memanipulasi‟ pembelajaran, bisa menjadi penyebab atmosfir kebosanan melanda suasana pembelajaran. Pembelajaran yang tidak memfasilitasi anak untuk bergerak dari tempat duduknya, memegang, meraba atau memanipulasi sesuatu melainkan hanya memaku mereka di tempat duduk, akan membuat rentang perhatian anak menjadi pendek, cepat bosan dan „terpicu‟ untuk membuat keributan. Lalu, gaya mengajar yang terlalu „dewasa‟ baik dari sisi bahasa yang digunakan guru maupun dari sisi penyajian konten pembelajaran (diilustrasikan pada bab 4) akan membuat siswa merasa aktivitas yang mereka lakukan tak berguna. Hal inipun akan memicu rentang perhatian yang pendek tadi. Lalu, kondisi pembelajaran yang tidak berhasil dikondisikan guru untuk sesuai dengan usia dan kemampuan siswa akan menjadikan pembelajaran terlalu sulit ataupun terlalu mudah. Pembelajaran yang terlalu sulit ataupun terlalu mudah bagi siswa, juga akan memicu rentang perhatian yang pendek. Karena belajar bahasa Inggris bisa jadi terlalu sulit untuk anak, maka tugas gurulah untuk membuat pembelajaran bahasa Inggris bisa terkemas menarik, hidup dan menyenangkan.
Bagaimana caranya? Lebih detilnya Anda bisa lihat di bab 4 mengenai pemilihan materi dan model pembelajaran bahasa Inggris. Secara umum, berikut beberapa gambaran tips sederhananya.

1) Karena anak selalu terfokus pada saat ini dan sekarang, maka aktivitas harus dirancang untuk menangkap minat mereka dengan segera. Hindari aktivitas yang membuat mereka harus mengingat kejadian lalu atau kejadian yang akan datang dalam durasi yang cukup lama. Ketikapun mereka mampu melakukannya, aktivitas sejenis ini tak akan terlalu menarik minat mereka.
2) Kegiatan harus beragam agar minat anak terjaga dan perhatian anak tetap ada. Anak secara umum memiliki beragam gaya belajar (dibahas secara rinci di bab 2). Pastikan kegiatan pembelajaran mengakomodir kebutuhan setiap siswa yang berbeda berdasarkan gaya belajarnya.
3) Guru harus “hidup” dan antusias terhadap pelajaran. Bayangkan ruang kelas itu adalah panggung dimana guru sebagai aktornya. Jika harus menjadi komedian, maka jadilah komedian, Pembelajaran mengharuskan guru menyanyi, mendongeng bahkan menari sekalipun, maka itu yang sebaiknya dilakukan demi untuk menjaga antusiasme siswa.
4) Guru harus memiliki rasa humor yang tinggi untuk tetap tertawa sambil belajar. Karena selera humor anak berbeda dengan orang dewasa, maka pastikan humor anda sesuai dengan selera anak. „Kesalahan‟ yang diperbuat siswa ketika belajar bahasa Inggris, bisa „diperbaiki‟ tanpa menyakiti si anak, dengan penuh candaan namun tidak menjadikannya bahan tertawaan.
5) Anak memiliki sejumlah besar rasa penasaran. Pastikan guru mengeksplorasi rasa itu sejauh mungkin agar perhatian anak tetap terfokus pada kegiatan pembelajaran. Rasa penasaran terkait erat dengan antusiasme siswa. Semakin ia penasaran dengan apa saja yang mungkin ia dapati di pembelajaran, semakin hal tersebut menunjukkan antusiasmenya terhadap pembelajaran. Jangan lewatkan rasa penasaran yang
sebenarnya ada si setiap anak, dengan menyajikan aktivitas yang monoton di setiap pembelajaran.
3. Input Sensor
Anak harus terstimulasi seluruh inderanya. Aktivitas guru harus melibatkan organ visual dan auditori anak, dengan porsi yang cukup. Caranya:
1) Berikan aktivitas fisik yang cukup dalam pembelajaran. Misal dengan aktivitas bermain peran (role play). Bermain peran untuk anak seusia SD tidak harus yang kompleks dan berdurasi lama. Percakapan sederhana untuk mengkontekstualisasikan kapan ekspresi-ekspresi tertentu digunakan, untuk apa fungsinya, bagaimana mengucapkannya, itu bisa dibelajarkan dengan role play. Aktivitas fisik bisa pula dieksplorasi dengan cara siswa diminta ke depan, memperagakan atau menunjuk kosa kata yang kita ajarkan. Atau aktivitas-aktivitas lain sejenis.
2) Aktivitas praktis yang lain harus sejalan dengan tujuan membantu anak menginternalisasi bahasa. Aktivitas berkelompok misalnya merupakan cara yang baik agar anak belajar kata dan struktur kata dan mempraktikan bahasa yang bermakna. Bahasa tidak akan lengkap dipelajari jika tidak diajarkan dengan konteks penggunaannya. Menggunakan bahasa membutuhkan partner sebagai pendengar. Aktivitas kelompok bisa diaplikasikan untuk membuat anak saling mengeksplorasi penggunaan bahasa yang mereka ketahui.
3) Alat sensor membantu anak menginternalisasi konsep-konsep. Misalnya: mencium harum bunga, menyentuh tumbuhan dan buah-buahan, merasai makanan, melihat video, gambar, mendengarkan tape recorder, musik—semuanya adalah elemen penting untuk pembelajaran bahasa bagi anak. Penting untuk diingat, bahasa verbal guru juga penting, karena anak akan tertarik juga pada mimik muka, gesture (gerak tubuh), serta sentuhan guru. Oleh karenanya, dalam pembelajaran, usahakan semua alat sensor ini dieksplorasi penggunaannya oleh guru melalui konteks-konteks pembelajaran yang menarik. Aktivitas penyampaian bahan ajar harus mengoptimalkan sebanyak mungkin input sensor siswa bekerja.
4. Faktor Afektif
Mitos yang sangat umum bahwa anak-anak relatif tidak terpengaruhi oleh rintangan-rintangan yang biasanya menghambat orang dewasa untuk belajar. Tidak selalu begitu! Anak-anak cenderung inovatif dalam produk bahasa, tapi tetap saja menghadapi banyak rintangan. Mereka sangat sensitif terutama kepada teman sebayanya: apa yang orang lain pikirkan tentang saya. Apa yang dipikirkan orang lain saat saya berbicara bahasa Inggris? Ketakutan jika ditertawakan atau diolok-olok saat salah mengucapkan satu kosakata misalnya, bisa mencegah mereka dari berlatih pronunciation. Seharusnya siswa SD yang belajar bahasa Inggris dihindarkan dari ketakutan semacam ini. Dalam beberapa hal anak cenderung lebih rentan dari orang dewasa. Ego mereka masih sedang terbentuk sehingga nuansa komunikasi yang tidak jelas bisa diinterpretasikan secara negatif. Guru harus menolong mereka untuk mengatasi rintangan tersebut yang sangat potensial akan menghambat mereka.
1) Bantu siswa anda untuk dengan ringan tertawa jika mereka membuat kesalahan. Jangan pojokkan mereka dengan kesalahan yang sebenar-benarnya—seperti diungkap di atas—bukan kesalahan.
2) Guru harus sabar dan supportif untuk membangun kepercayaan diri anak, tapi harus tegas dalam hal harapan-harapan terhadap siswa. Meski dalam satu dua hal guru menunjukkan kelembutan sikap dalam rangka menumbuhkan semangat siswa untuk belajar, namun tak lantas kesalahan siswa tak dikoreksi karena takut menyakiti hati, Tetap saja, upaya perbaikan harus menjadi targetan guru di setiap pembelajaran apapun kondisinya.
3) Rangsang partisipasi secara oral sebanyak mungkin terutama untuk siswa yang pendiam, agar mereka berkesempatan untuk mencoba sesuatu yang menarik. Eksplorasi antusiasme mereka dengan sebaik-baiknya. Desain bentuk pembelajaran yang membuat mereka banyak berlatih, terutama berlatih mengucapkan kosakata baru atau ekspresi-ekspresi sederhana dalam Bahasa Inggris. Pada saat mereka berpartisipasi secara oral, utamakan kesenangan mereka dalam hal mencoba hal-hal baru tersebut, luaskan toleransi dari guru jika mereka salah mengucapkan, karena memang sistem bunyi nyang sangat berbeda antara bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.
5. Bahasa yang Otentik dan Bermakna
Anak-anak terfokus kepada apa yang bisa dilakukan bahasa baru ini, disini dan saat ini. Mereka tidak tertarik untuk berurusan dengan bahasa yang tidak berguna bagi mereka saat itu. Bahasa-bahasa yang menurut mereka tidak akan mereka gunakan saat itu, tak begitu menarik minat mereka. Guru harus bekerja keras untuk memberikan pembelajaran bahasa yang bermakna bagi anak.
1) Anak memiliki sensitivitas tinggi terhadap bahasa yang tidak otentik, sehingga beberapa kosakata yang resmi atau kaku di dunia mereka, akan tertolak.
2) Bahasa harus benar-benar diberikan dengan konteksnya. Cerita, situasi dan karakter yang biasa dikenal anak, percakapan sehari-hari, tujuan-tujuan bermakna dalam penggunaan bahasa—semua ini akan memberikan konteks dimana bahasa bisa diterima dan dipahami sehingga hal ini bisa meningkatkan perhatian dan daya ingat. Oleh karenanya, sangat dianjurkan guru bahasa Inggris di SD untuk memberikan bantuan konteks terhadap apapun yang diajarkan melalui dukungan media; gambar, permainan, nyanyian dan bentuk-bentuk lain yang sekiranya menarik minat anak.
3) Pendekatan bahasa secara keseluruhan sangat penting. Jika bahasa dipecah-pecah menjadi potongan-potongan kecil maka siswa tidak akan melihat kaitannya terhadap keseluruhan. Contoh seperti chunk words yang dicontohkan di atas. Jangan pernah berpikir bahwa dalam konteks percakapan sederhana, mengenalkan kata demi kata lebih baik dibanding mengenalkan ekspresi-ekspresinya secara keseluruhan. Juga tekankan aktivitas yang berhubungan antar keempat skill (membaca, mendengar, menulis dan berbicara) agar anak melihat dengan jelas korelasinya satu sama lain.
6. Bakat
Beberapa siswa bisa belajar bahasa lebih baik dibanding yang lain. Pada tahun 1950-1960an, pandangan bahwa anak memiliki bakat linguistik menjadi semakin terkristal dan semakin banyak diyakini. Konsekuensi dari pandangan ini, maka kemampuan dan kemajuan berbahasa siswa di masa depan bisa diprediksi dengan apa yang disebut tes bakat. Namun tes bakat dalam linguistik nampaknya tidak mampu mengukur banyak hal selain kemampuan intelektual umum meskipun memang tes ini dimaksudkan untuk mencari bakat-bakat linguistik. Tes ini hanya tepat bila dihadapkan kepada mereka yang memiliki kemampuan grammar.
7. Sifat Pemelajar
Beberapa siswa usia sekolah dasar,
Beberapa ahli mencirikan kategori tipe pembelajaryang baik sbb:

1. Memiliki toleransi terhadap ambiguitas. Artinya, jika ada sesuatu yang tidak bisa langsung dia akomodasi (tidak sesuai dengan yang pernah ia terima sebelumnya) maka ia tidak lantas menolaknya, tetapi mencari cara untuk menemukan alasan ambiguitas tersebut dan baru menerima atau menolaknya.
2. Siap untuk menghadapi tugas-tugas dengan cara yang positif. Tidak takut atau gelisah menghadapi tugas-tugas, Tidak mengandalkan orang lain kecuali jika benar-benar membutuhkan. Tidak terpikir untuk mengerjakan tugas pembelajaran dengan cara yang negatif, misal mencontek dari teman.
3. Memiliki ego untuk sukses. Tidak puas dengan pencapaian yang minimal. Ingin senantiasa meningkatkan diri dan prestasi.
4. Memiliki aspirasi tinggi. Selalu ingin bertanya, menjawab, mengajukan pendapat, membantu, menginisisasi, mendorong, dan berkontribusi secara positif pada pembelajaran.
5. Berorientasi kepada tujuan.Tahu mengapa ia harus belajar sesuatu yang baru setiap waktu, dan bagaimana dampak hal yang dipelajarinya itu di kehidupannya yang akan datang.
6. Sabar menghadapi tantangan. Tidak lekas mengeluh, menyerah, bahkan berputus asa. Hal-hal sulit dianggapnya menjadi tantangan.
Ada pula yang menambahkan karakteristik pembelajaryang baik yaitu mereka yang:
1. Mampu mencari cara sendiri tanpa selalu dibimbing oleh guru saat mengerjakan tugas-tugas.
2. Kreatif.
3. Membuat tebakan-tebakan yang cerdik. Sebelum guru menyampaikan jawaban terhadap permasalahan apapaun, ia berusaha menebaknya.
4. Menciptakan kesempatan sendiri untuk berlatih. Tidak selalu harus disuruh oleh guru saat harus melatih kemampuan diri seperti mengerjakan tugas dan lain-lain.
5. Memanfaatkan kesalahan untuk memperbaiki diri. Tidak meratapi kesalahan secara berlebihan, melainkan menjadikannya titik awal (starting point) untuk berubah menjadi jauh lebih baik.
6. Menggunakan petunjuk-petunjuk kontekstual. Apapun yang ada di sekelilingnya (gambar, tulisan, poster, dll) bisa membantunya belajar sesuatu.
8. Level Kemampuan Berbahasa
Siswa yang memiliki latar belakang pernah tinggal bersama orangtuanya di negeri yang berbahasa Inggris, akan memiliki kemampuan berbahasa yang unggul dibanding siswa yang sama sekali tak memiliki pengalaman ataupun bersentuhan dengan Bahasa Inggris. Biasanya kemampuan siswa dideskripsikan kedalam tiga level: beginner (pemula), intermediate (menengah) dan advanced (mahir). Masalah yang muncul adalah, standar tingkatan ini untuk tiap sekolah atau lembaga tidak sama. Siswa yang terkategori mahir di satu sekolah, mungkin masih dianggap menengah oleh guru di sekolah lain. Beberapa isu yang terkait dengan levelitas kemampuan berbahasa ini adalah:
a. Efek Datar
Siswa yang berada di level pemula akan beroleh kemajuan yang pesat dan hal tersebut mereka rasakan secara nyata dengan mudah dari minggu ke minggu. Hal ini tidak berlaku pada siswa yang berada di level lebih tinggi, misal level menengah. Kemajuan yang didapat secara alamiah memang tak akan sama pesatnya dengan ketika ia masih menjadi pemula. Hal semacam ini disebut efek datar, dan akan menyebabkan penurunan prestasi belajar bahasanya karena terpengaruh secara psikologis. Guru harus sensitif terhadap adanya efek datar ini, dan jika memungkinkan, mengambil langkah-langkah antsipatif agar efek ini tidak terjadi. Upaya yang dilakukan semisal: memasang target dengan jelas tentang apa yang harus dicapai siswa dan mensosialisasikannya secara kontinyu pada siswa, menjelaskan hal-hal yang masih belum dicapai siswa, memastikan setiap aktivitas melibatkan partisipasi siswa dan bemakna bagi siswa, dan selalu menyalakan minat siswa dengan mngajarkan penggunaan bahasa secara variatif.
b. Metodologi Guru
Beberapa teknik dan latihan untuk pemula bisa jadi kurang tepat untuk siswa yang berada di atasnya. Misalnya penggunaan repetisi (pengulangan). Bagi pemula, penggunaan repetisi lebih efektif dan guru lebih mudah menggunakannya. Namun, bagi siswa di level menengah atau mahir, cara ini akan terasa aneh dan kaku. Untuk level yang lebih tinggi lebih baik guru memilih dan mengorganisir kegiatan semacam diskusi, role play dan sejenisnya.
c. Bahasa yang Digunakan Guru
Guru harus mengadaptasikan bahasa yang digunakan di kelas sesuai dengan level kemampuan siswa. Tidak bijak jika untuk pembelajarpemula guru menggunakan bahasa Inggris yang kompleks. Gunakan saja bahasa Inggris sederhana misalnya instruksi-instruksi sederhana yang diiringi gerak tubuh guru (“move forward”, sambil guru melambaikan tangannya pada siswa), Bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa untuk mengajarkan bahasa Inggris untuk pemula, di kelas sebaiknya guru mencampur bahasa pengantar dalam
pembelajaran, dengan bahasa ibu siswa. Hal ini, menurut beberapa penelitian, mampu mempermudah siswa menguasai bahasa Inggris.
d. Topik
Salah satu isu yang muncul pada pembelajartipe pemula adalah bahan ajar yang dipilihkan guru seringkali mengedepankan topik-topik yang kompleks sehingga sulit untuk mereka dalami karena keterbatasan kemampuan berbahasa mereka. Materi ajar yang kita berikan harus berbeda di setiap levelnya, bukan hanya dari sisi kompleksitasnya tapi juga pada jenis mata ajar, muatan, tingkat kesulitan dan banyaknya. Guru harus kreatif dan selektif dalam memilih bahan ajar sesuai dengan level kemampuan berbahasa anak.
e. Variasi Individu
Jika kita menemukan fakta bahwa seseorang bisa melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain—daya analisisnya lebih kuat, daya ingatnya lebih lama, daya pembedanya terhadap banyak hal lebih sensitif misalnya—hal ini mengindikasikan terdapat perbedaan pada cara kerja otak manusia. Hal ini juga menjelaskan bahwa respon orang terhadap rangsangan yang sama akan berbeda-beda pula. Bagaimana efeknya terhadap kesiapan belajar seorang individu? Bagaimana pula efeknya terhadap cara guru mengajar siswa? Ada dua teori yang mencoba menjelaskan variasi individu semacam ini dan dua teori ini menyajikan pilihan bagi guru terkait dengan apa yang ia harus usahakan agar siswanya mendapat yang terbaik.
1) Neuro-linguistic programming (NLP). Berdasarkan para praktisi NLP, untuk menghadapi dunia, manusia menggunakan sejumlah sistem representasi primer. Sistem ini dideskripsikan dengan akronim VAKOG yang merupakan singkatan dari Visual (kita lihat dan perhatikan) Auditory (kita dengar dan simak) Kinasthetic (kita rasakan secara eksternal, internal atau melalui gerakan) Olfactory
(kita membaui sesuatu) Gustatory (kita merasai sesuatu). Dalam menghadapi dunia, orang menggunakan satu sistem primer yang lebih menonjol. Seseorang akan terstimulasi oleh musik karena sistem primer yang menonjol dalam dirinya adalah sistem auditory. Sedangkan bagi orang lain, ketika sistem primer yang menonjolnya visual maka ia akan terstimulasi oleh gambar. VAKOG mengindikasikan juga beberapa siswa akan mendapatkan banyak hal dengan mendengar, sedangkan yang lain dengan cara melihat.
2) Teori kecerdasan berganda (Multiple Intelligence). Konsep ini diperkenalkan oleh seorang psikologis dari Harvard, Howard Gardner. Ia menegaskan bahwa manusia tidak hanya memiliki satu kecerdasan, tapi sejumlah kecerdasan. Ada 7 kecerdasan menurut Gardner: Kecerdasan Musik/Ritmis, Verbal/Linguistik, Visual/Spasial, Tubuh/Gerak, Logis/Matematis, Intrapersonal dan Interpersonal. Menurutnya, semua orang memiliki kecerdasan ini, namun penampakan yang menonjol dari tiap orang hanya satu atau dua jenis kecerdasan saja. Jika fakta ini memang jelas, implikasinya pada pengajaran adalah, jelas guru harus peka bahwa setiap tugas pembelajaran tidak akan berdampak sama pada setiap anak baik itu dari sisi proses maupun hasil. Guru harus pandai mengkreasikan berbagai media, model, maupun alat bantu pembelajaran agar setiap anak dengan potensi yang berbeda-beda tersebut akan mampu terakomodasi kebutuhannya di kelas sehingga ia belajar dalam atmosfir yang kondusif. Murray Loom, guru pada Sekolah Dasar Giralang di Canberra, Australia memberikan gambaran proses 7 kecerdasan ini dalam kerangka implikasinya terhadap siswa.

f. Motivasi
Dalam bidang apapun, semua orang sepakat bahwa motivasi adalah kunci menuju sukses. Sehingga siapapun orangnya akan berupaya keras untuk menumbuhkan motivasi dalam dirinya. Jika motivasi menjadi sedemikian penting, maka menjadi masuk akal ketika banyak sekali usaha diarahkan untuk menggali dan mengeksplorasi hal ini. Apakah siswa memiliki motivasi yang sama dalam belajar? Atau, apakah mereka akan termotivasi dengan cara yang sama?
Motivasi adalah dorongan internal yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu dalam rangka mencapai suatu tujuan (Harper, 1988). Marion Williams dan Richard Burden menyodorkan definisi yang sejalan dengan Harper, bahwa motivasi adalah „keadaan kesadaran kognitif‟ yang mampu memprovokasi „keputusan untuk bertindak‟ sebagai akibat dari adanya „upaya intelektual yang kuat‟ dan „upaya fisik‟, sehingga seseorang bisa mencapai „tujuan yang telah ditentukan‟ (Williams and Burden 1997:120). Selanjutnya mereka ungkapkan bahwa besar kecilnya motivasi akan sangat bergantung pada seberapa berharganya mereka memaknai hasil yang mereka harapkan. Motivasi biasa didikotomikan menjadi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik dilatarbelakangi oleh berbagai faktor luar. Misal, lulus ujian karena merupakan prasyarat masuk ke jenjang berikutnya, atau berharap dapat hadiah dari orangtua dan lain sebagainya. Motivasi instrinsik sebaliknya, datang dari dalam diri individu. Seseorang akan termotivasi belajar secara internal jika suasana pembelajaran yang diciptakan benar-benar membuatnya tertarik untuk belajar, berpikir, atau melakukan aktivitas pembelajaran tersebut. Pembelajaran yang menarik dapat membantu siswa belajar dengan lebih baik, disadari ataupun bahkan tidak oleh siswa tersebut.
Lingkungan dimana siswa tinggal, orang-orang terdekat, guru dan metode adalah 4 hal eksternal yang bisa menjadi sumber motivasi internal bagi siswa.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s