Tentang Persepsi

Tentang Persepsi

Pengertian persepsi menurut Davidoff adalah stimulus yang diindera oleh individu dan diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diinderanya itu. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya. Namun proses itu tidak berhenti sampai disitu saja melainkan stimulus itu diteruskan ke pusat susunan syaraf yaitu otak, dan terjadilah proses psikologis sehingga individu menyadari apa yang ia dengar dan sebagainya.

Adapun menurut Dimyati mengemukakan bahwa persepsi adalah penafsiran stimulus yang telah ada dalam otak. Sedangkan menurut Jalaluddin Rahmat persepsi adalah pengalaman tentang obyek peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi berarti memberikan makna pada stimulus inderawi (Sensory Stimulus).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, nampak jelas bahwa di dalam pengertian persepsi mengandung muatan :
(1)adanya proses penerimaan stimulus melalui alat indera,
(2)adanya proses psikologis di dalam otak,
(3)adanya kesadaran dari apa yang telah diinderakan,
(4)memberikan makna pada stimulus.

Dengan demikian pengertian persepsi dapat disimpulkan sebagai suatu tanggapan atau penilaian terhadap suatu obyek tersebut, yang kemudian dilanjutkan dengan proses psikologis di dalam otak, sehingga individu dapat menyadari dan memberikan makna terhadap obyek yang telah diinderakan tersebut.

Persepsi seseorang selalu didasarkan pada kejiwaan berdasarkan rangsangan yang diterima oleh inderanya. Disamping itu persepsi juga didasarkan pada pengalaman dan tujuan seseorang pada saat terjadi persepsi. Persepsi merupakan suatu pengalaman tentang suatu obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan mengumpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Organisme dirangsang oleh suatu masukan tertentu (obyek dari luar peristiwa dan lain-lain) dan organisme itu merespon dan menggabungkan masukan itu dengan salah satu kategori obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa. Obyek-obyek disekitar kita dapat ditangkap dengan indera dan diproyeksikan pada bagian-bagian tertentu diotak sehingga tubuh dapat mengamati obyek tersebut. Sebagian tingkah laku dan penyesuaian individu ditentukan oleh persepsinya. Teori diatas dapat dikatakan bahwa persepsi merupakan proses aktif dimana yang memegang peran bukan hanya stimulus yang mengenai, tetapi juga individu sebagai kesatuan dengan pengalaman baik yang di dapat secara langsung maupun melalui proses belajar.

Individu dalam melakukan pengalaman untuk mengartikan rangsangan yang diterima, agar proses pengamatan tersebut terjadi maka perlu obyek yang diamati, alat indera yang cukup baik dan perhatian. Itu semua merupakan langkahlangkah sebagai suatu persiapan dalam pengamatan yang ditujukan dengan tahap demi tahap, yaitu tahap pertama merupakan tanggapan yang dikenal sebagai proses kealaman atau proses fisik, merupakan ditangkapnya stimulus dengan alat indera manusia. Sedangkan tahap kedua adalah tahap yang dikenal orang dengan proses fisiologi merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh perseptor ke otak melalui syaraf-syaraf sensorik, dan tahap ketiga dikenal dengan proses psikologi merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima oleh perseptor1.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Persepsi
Ada tiga faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi yaitu perhatian, karakteristik orang yang mempersepsi dan sifat stimuli yang dipersepsi. Adapun uraian dari ketiga faktor itu adalah :

a. Faktor Perhatian
Perhatian adalah pemusatan indera kepada hal-hal tertentu yang terjadi dalam pengalaman dan mengabaikan masalah-masalah lain. Perhatian menyaring atau menyeleksi informasi inderawi yang diterima. Dengan demikian yang dipersepsikan bukan semua stimuli inderawi, namun yang menarik perhatian.

b. Faktor karakteristik yang dipersepsi
Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli saja, melainkan juga karakteristik orang yang menerima stimuli dan memberi respon stimuli tersebut. Misalnya kebutuhan dan pengalaman masa lalu dan faktor-faktor personal.

c. Faktor sifat stimuli yang dipersepsi
Pengaruh terbentuknya persepsi selain perhatian dan karakteristik orang yang mempersepsi juga berasal dari sifat stimuli semata-mata. Jadi sebagaimana adanya stimuli yang diterima oleh indera manusia juga mempengaruhi terbentuknya persepsi.

Persepsi adalah merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari Individu mengamati obyek psikologik dengan persepsinya sendiri.
Persepsi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya. Faktor pengalaman dan proses belajar member bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat, sedang cakrawala dan pengetahuan memberi arti terhadap obyek psikologis. Melalui komponen kognisi akan timbul ide, kemudian konsep apa yang dilihat. Melalui komponen afeksi memberi evaluasi emosional terhadap obyek, komponen konasi menentukan kesiapan jawaban berupa tindakan terhadap obyek. Atas dasar ini situasi yang semula tidak seimbang menjadi seimbang kembali. Keseimbangan dalam situasi ini berarti bahwa antara obyek yang dilihat sesuai dengan penghayatannya dimana unsur nilai dan norma dirinya dapat menerima secara rasional dan emosional. Jika situasi ini tidak tercapai, maka individu menolak dan reaksi yang timbul adalah sikap apatis, acuh tak acuh, atau menentang sampai ekstrim memberontak. Keseimbangan ini dapat kembali jika persepsi bisa diubah melalui komponen kognisi.

David Krench dan Richard S. Crutchfield membagi faktor-faktor yang menentukan persepsi menjadi dua yaitu :

a. Faktor Fungsional
Yang dimaksud faktor fungsional adalah faktor yang berasal dari
kebutuhan, pengalaman, masa lalu dan hal-hal yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Faktor personal yang menentukan persepsi adalah obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.

b. Faktor Struktural
Faktor struktural adalah faktor yang berasal semata-mata dari sifat.
Stimulus fisik efek-efek syaraf yang timbul pada sistem syaraf individu. Faktor struktural yang menentukan persepsi, menurut teori gestalt bila kita ingin persepsikan sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Bila kita ingin memahami suatu peristiwa kita tidak dapat meneliti faktor-faktor yang terpisah, kita harus memandangnya dengan hubungan keseluruhan.

Syarat-Syarat Terjadinya Persepsi Beberapa syarat sebelum individu mengadakan persepsi adalah :

a. Adanya Obyek (sasaran yang dituju)
Obyek atau sasaran yang diamati akan menimbulkan stimulus atau
rangsangan yang mengenai alat indera. Obyek dalam hal ini adalah nilai-nilai kepahlawanan Mohammad Hatta dalam proses belajar mengajar akan memberikan stimulus yang akan ditanggapi oleh siswa.

b. Alat Indera atau Reseptor
Alat indera atau reseptor yang dimaksud adalah alat indera untuk
menerima stimulus kemudian diterima dan diteruskan oleh syaraf sensorik yang selanjutnya akan disimpan dalam susunan syaraf pusat yaitu otak sebagai pusat kesadaran.

c. Adanya Perhatian
Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya
perhatian yaitu langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi, tanpa perhatian tidak akan terjadi persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan obyek.

Pada proses persepsi terdapat komponen-komponen dan kegiatan-kegiatan
kognisi dengan memberikan bentuk dan struktur bagi obyek yang ditangkap oleh panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap obyek yang ditangkap atau dipersepsikan individu, dan akhirnya konasi individu akan berperan dalam menentukan terjadinya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap obyek yang ada.

Syarat individu untuk mempersepsi suatu obyek atau peristiwa adanya
obyek yang dijadikan sasaran pengamatan, dimana obyek tersebut harus benarbenar diamati dengan seksama, dan untuk mengamati suatu obyek atau peristiwa perlu adanya indera yang baik karena kalau tidak individu tersebut menjadi salah mempersepsi. Demikian pula dalam mempersepsi penokohan Mohammad Hatta, ia memerlukan pengamatan, pengenalan yang seksama melalui alat inderanya terhadap obyek persepsi, sehingga dengan pengamatan dan pengenalan yangmendalam dan seksama itulah diharapkan siswa akan mempersepsi obyek tersebut dengan benar atau positif.

Pengajaran Remedial untuk Siswa yang Mengalami Kesulitan dalam Pembelajaran

Pengajaran Remedial untuk Siswa yang Mengalami Kesulitan dalam Pembelajaran

Dalam keseluruhan proses pendidikan disekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok, ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung bagaimana proses yang dialami oleh siswa.

Menurut para ahli belajar mempunyai beberapa arti yaitu :

1. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

2. Menurut Gagne belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai
akibat dari pengalaman.

3. Menurut Morris L Bigge belajar ialah perubahan yang menetapkan dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara grafis.

4. Sedangkan menurut Marle J Moskowitz dan Arthur R Orgel belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil langsung dari pengalaman dan bukan akibat dari hubungan dalam system syaraf yang di bawa sejak lahir.

Dari definisi diatas belajar adalah terjadi perubahan dari diri orang yang belajar karena pengalaman. Belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang sering terkait sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku. Menurut Gagne dikutip Unsurunsur dari belajar antara lain :

a. Pembelajaran berupa peserta didik, pembelajaran warga belajar dan peserta pelatihan,

b. Rangsangan yaitu peristiwa yang merangsang penginderaan pembelajaran,
c. Memori berisi berbagai kemampuan yang berupa pengetahuan keterampilan dan sikap yang dihasilkan dari aktivitas belajar sebelumnya,

d. Respon adalah tindakan yang dihasilkan dari aktivitas memori.

Aktivitas belajar akan terjadi pada diri siswa apabila terdapat interaksi secara sadar situasi stimulus dengan isi memori sebagai perilakunya berubah dari waktu sebelumnya dan setelah adanya situasi stimulus. Mengenai ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar sebagai berikut :

1. Perubahan yang terjadi secara sadar.
Individu yang belajar akan menyadari dan merasakan adanya perubahan dalam dirinya,

2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional.
Sebagai hasil belajar perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan dan berguna bagi proses belajar berikutnya,

3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan negatif.
Dalam belajar perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan bertujuan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan bersifat aktif artinya perubahan itu terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri,

4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap,

5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
Perubahan tingkah laku itu terjadi karena tujuan yang akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari,

6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar, meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku baik dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya. Dengan memperhatikan ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam belajar berarti belajar menyangkut proses belajar dan hasil belajar. Hasil dari belajar sangat terkait dengan prestasi belajar pada individu. Hasil belajar merupakan cerminan pencapaian prestasi individu dalam proses belajar dan pembelajaran. Secara umum prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

1. Faktor internal
Yang termasuk faktor internal adalah :
a. Faktor jasmaniah (fisiologis), misalnya : penglihatan, pendengaran, struktur tubuh dan sebagainya.

b. Faktor Psikologis, terdiri atas:
1) Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat dan faktor kecakapan yaitu prestasi yang telah dimiliki.
2) Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi emosi dan penyesuaian diri.

c. Faktor kematangan fisik dan psikis.
2. Faktor eksternal yang meliputi faktor sosial, budaya, lingkungan fisik dan lingkungan fisik dan lingkungan spiritual atau keagamaan.
Faktor-faktor tersebut diatas saling berinteraksi secara langsung ataupun tidak langsung pada diri individu untuk mencapai prestasi belajar.

Pembelajaran

Sesuai dengan pengertian belajar secara umum, bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku, maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik.

Arti khusus pembelajaran dapat didefinisikan sebagai berikut :

1. Behavioristik
Pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan, dan setiap yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan)

2. Kognitif
Pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari. Ini sesuai dengan pengertian belajar menurut aliran kognitif yang menekankan pada kemampuan kognisi (mengenal) pada individu yang belajar.

3. Gestalt
Pembelajaran menurut Gestalt adalah usah guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).
Bantuan guru diperlukan untuk mengaktualkan potensi mengorganisir yang terdapat dalam diri siswa.

4. Humanistik
Belajar akan membawa perubahan bila orang yang belajar bebas menentukan bahan pelajaran dan cara yang dipakai untuk mempelajarinya. Dengan demikian pemelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya tentu saja kebebasan yang dimaksud tidak keluar dari kerangka belajar. Dalam penelitian pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran dengan arti kognitif yaitu siswa diberi kesempatan berfikir dan memahami tentang apa yang diajarkan.

Ciriciri pembelajaran yang sesuai dengan ciri-ciri dari belajar yaitu :
1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.
2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa.
4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.
6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun psikologis.

Sedangkan pembelajaran mempunyai tujuan yaitu membantu siswa agar memperoleh berbagi pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah, baik kualitas maupun kuantitas. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.

Kesulitan Belajar

Dalam proses belajar dan pembelajaran di sekolah, tidak sedikit factor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan yang dialami siswa untuk mencapai hasil yang diharapkan. Kegagalan yang dialami siswa dimungkinkan adanya berbagai faktor hambatan atau kesulitan belajar, gejala atau pertanda yang dapat dilihat karena adanya kesulitan belajar adalah :

1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah yaitu nilai yang dicapai dibawah ratarata kelompok atas.
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan yaitu siswa sudah berusaha dengan giat tetapi nilai yang dicapai selalu rendah..
3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar yaitu selalu tertinggal dengan teman-teman dalam menyelesaikan tugas dengan waktu yang tersedia.
4. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan seperti suka membolos, datang terlambat dan tidak mengerjakan pekerjaan rumah.
5. Menunjukkan gejala emosi yang tidak wajar seperti pemurung dan udah tersinggung.
Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu :
1. Faktor Intern yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, meliputi :

a. Faktor Fisiologis seperti kurang sehat atau sakit, bisa juga karena cacat tubuh
b. Faktor Psikologis meliputi : Intelegensi, bakat, minat, motivasi dan factor kesehatan mental.

2. Faktor Ekstern yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa yaitu keluarga, sekolah,dan lingkungan
Dari faktor-faktor diatas bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Disamping gejala dan faktor diatas untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan dapat dilihat dari :

1. Tingkat pencapaian tujuan pendidikan
Tiap-tiap mata pelajaran mempunyai tujuan tertentu yang diharapkan dapat tercapai dalam waktu tertentu, siswa yang tidak dapat mencapai tujuan pengajaran mungkin tidak menguasai materi pembelajaran dengan baik dikatakan siswa itu mengalami kesulitan belajar.

2. Kedudukan dalam kelompok
Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar kalau mereka memperoleh prestasi yang memduduki urutan paling bawah dalam kelompoknya atau mereka yang mendapatkan nilai dibawah rata-rata kelompok baik secara keseluruhan maupun setiap mata pelajaran.

3. Perbandingan antara potensi dan prestasi
Siswa dikatakan kesulitan belajar jika dia tidak dapat mencapai hasil belajar sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya.

4. Tingkah laku
Siswa yang mengalami kesulitan belajar akan menunjukkan pola pola tingkah laku yang menyimpang seperti sikap acuh tak acuh, menentang, menyendiri, sering membolos, kurang motivasi dan sebagainya.

Identifikasi Kesulitan Belajar

Pada dasarnya siswa mengalami kesulitan belajar akan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Oleh karena itu identifikasi kesulitan belajar merupakan langkah awal dalam serangkaian proses untuk menyembuhkan kesulitan belajar siswa dan meningkatkan prestasi belajar siswa

1. Teknik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa

a. Observasi
Yaitu cara memperoleh data dengan langsung mengamati terhadap obyek, mencatat gejala-gejala yang tampak pada diri subyek, kemudian diseleksi untuk dipilih yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

b. Teknik Tes
Tes dalam penelitian ini merupakan salah satu teknik identifikasi kesulitan belajar yang dirancang, sehingga setiap soal mempunyai tujuan untuk mengukur penguasaan materi tertentu.

c. Dokumenter
Adalah dengan cara mengetahui sesuatu dengan melihat catatan-catatan, arsip-arsip, dokumen-dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.

2. Prosedur identifikasi kesulitan belajar
Prosedur identifikasi kesulitan belajar adalah langkah-langkah untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa. Adapun langkah yang dilakukan adalah dengan cara :

a. Mengidentifikasi gejala-gejala kesulitan belajar yaitu:

1) Menunjukkan prestasi yang rendah/dibawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas.
2) Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
3) Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
4) Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti : acuh tak acuh, berpura-pura dan lain-lain.
5) Menunjukkan tingkah laku yang berlainan.
b. Mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa yang meliputi :

1) Faktor Intern yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, meliputi :
a) Faktor Fisiologis seperti kurang sehat atau sakit, bisa juga karena cacat tubuh
b) Faktor Psikologis meliputi : Intelegensi, bakat, minat, motivasi dan faktor kesehatan mental.

2) Faktor Ekstern yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan

c. Mengetahui kriteria kesulitan yang dialami oleh siswa :
1) Siswa tidak memahami konsep sehingga kurang terampil dalam mengerjakan soal.
2) Siswa tidak dapat menerapkan konsep dalam menyelesaikan soal,
3) Siswa kurang cermat dalam penggunaan konsep.

Pengajaran Remedial

Remedial artinya bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau membuat menjadi baik. Dalam pengajaran remedial yang disembuhkan, yang diperbaiki adalah keseluruhan proses belajar mengajar yang meliputi cara belajar, metode pengajaran, materi pengajaran, alat pengajaran dan lingkungan yang turut serta dalam mempengaruhi proses belajar mengajar.

Proses pengajaran remedial secara langsung ataupun tidak langsung juga menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar. Sehingga remidial dapat diarahkan sebagai bentuk khusus pengajaran yang ditujukan untuk menyembuhkan atau memperbaiki sebagian atau keseluruhan kesulitan belajar siswa.

Tujuan dari pengajaran remedial yaitu agar setiap siswa dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Remidial merupakan fungsi yang sangat penting dari keseluruhan proses belajar mengajar.

Fungsi dari pengajaran remedial adalah :
1. Fungsi Korektif
Melalui pengajaran remedial dapat diadakan pembetulan atau perbaikan
terhadap suatu yang di pandang masih belum tercapai apa yang diharapkan
dalam keseluruhan proses belajar mengajar.

2. Fungsi Pemahaman
Pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa dan pihak-pihak lain dapat
memperoleh pemahaman yang lebih baik.

3. Fungsi Penyesuaian
Dapat membantu siswa untuk lebih dapat menyesuaikan dirinya terhadap tuntutan kegiatan belajar.

4. Fungsi pengayaan
Remedial dapat memperkaya proses belajar mengajar, materi yang tidak diperoleh dalam pengajaran reguler dapat diperoleh dalam pengajaran remidial.

5. Fungsi ekseterasi
Pengajaran ini dapat membantu mempercepat proses belajar baik dalam waktu maupun materi.

6. Fungsi terapeutik
Pengajaran dapat menyembuhkan atau memperbaiki kondisi–kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan. Pengajaran remedial ini dapat diterapkan sebagai salah satu cara untuk menanggulangi permasalahan kesulitan belajar.

Pengajaran remidial merupakan suatu bentuk khusus pengajaran yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui suatu pendekatan dan teknik tertentu, hal ini dimaksudkan untuk membetulkan dan memperbaiki atau menyembuhkan sebagian atau keseluruhan (ketidaklengkapan) proses belajar mengajar, sehingga siswa dapat mencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam keseluruhan proses belajar mengajar disekolah, pengajaran remedial memegang peranan penting terutama dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Pengajaran remidial merupakan pelengkap pengajaran secara keseluruhan karena beberapa hal dibawah ini :

1. Adanya perbedaan individu.

Prestasi belajar yang setingkat tidaklah selalu sama. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan sebagai berikut “setiap individu yang ada didalam sekolah bahkan ada didalam kelas mempunyai pengalaman yang berbeda, mempunyai persepsi belajar yang tidak sama, mempunyai kelebihan dan kekurangan yang bervariasai, mempunyai minat dan perhatian yang berbeda”.
Akibat perbedaan pengalaman individu siswa didalam kelasnya timbul beberapa perbedaan persepsi terhadap materi yang diberikan, sehingga akan mempengaruhi perbedaan prestasi belajar.

2. Guru mempunyai peranan dan tanggung jawab yang besar dalam proses perkembangan siswa. Disamping sebagai pengajar guru juga sebagai pembimbing.

3. Pengertian belajar yang lengkap mengandung arti bahwa dalam proses belajar siswa diharapkan mencapai perubahan tingkah laku secara keseluruhan dan utuh.

4. Pelaksanaan bimbingan disekolah perlu ditunjang oleh kegiatan belajar mengajar sebaik-baiknya

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem based learning)

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem based learning)

Pembelajaran sebagai suatu sistem instruksional mengacu pada pengertian sebagai perangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan Pembelajaran terjemahan dari kata “instruction” yang terdiri dari self instruction (dari dalam internal) dan eksternal instruction (dari eksternal). Pembelajaran yang bersifat internal antara lain datang dari guru yang disebut teaching atau pengajaran. Dalam pembelajaran yang bersifat eksternal prinsip-prinsip belajar dengan sendirinya akan menjadi prinsipprinsip pembelajaran .

Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa pembelajaran dapat berhasil jika ada feed back atau balikan yang baik antara guru dengan peserta didik atau siswa. Seorang guru harus berusaha sebaik mungkin agar siswa dapat membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan memahami apa yang dipelajari, sehingga akan membentuk suatu perubahan pada diri siswa sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Jika sudah terjadi feed back antara guru dan siswa maka diharapkan tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai.

Pada hakekatnya pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik secara terprogram agar siswa mampu belajar secara aktif. Proses pembelajaran dilakukan untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa. Sebagai suatu sistem, pembelajaran meliputi suatu komponen, antara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga antar semua komponen terjadi kerjasama, karena itu guru tidak hanya memperhatikan komponen-komponen tertentu saja, tetapi ia harus memperhatikan dan mempertimbangkan komponen secara keseluruhan.

Salah satu model yang dilakukan untuk menarik perhatian siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung yaitu melalui pembelajaran dengan melakukan apersepsi atau pembukaan dengan menghubungkan materi yang telah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan. Apersepsi ini dilakukan untuk menarik perhatian siswa sehingga siswa fokus pada materi yang diberikan dan dalam pemberian materi sebaiknya harus disertai media yang mendukung sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien, kemudian mengakhiri pelajaran dengan menarik kesimpulan. Variasi gaya penyajian, model pembelajaran, menggunakan media yang menarik disesuaikan dengan materi pelajaran, maka diharapkan proses pembelajaran tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan dan dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan merubah tingkah laku siswa, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Perubahan tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan prilaku siswa Dalam rangka mencapai tujuan kurikuler lembaga menyelenggarakan serangkaian kegiatan pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Setiap kegiatan mengandung tujuan tertentu, yaitu suatu tuntutan agar subjek belajar setelah mengikuti proses pembelajaran menguasai sejumlah pengetahuan, ketrampilan dan sikap sesuai dengan isi
proses pembelajaran tersebut.

Komponen-Komponen Pembelajaran

Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran untuk menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. kegiatan belajar mengajar sebagai suatu sistem mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber serta evaluasi.

a. Tujuan
Dalam kegiatan belajar mengajar, tujuan adalah cita-cita yang ingin disampaikan dalam kegiatannya. Dimana terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik.

b. Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Bahan sebagai sumber belajar membawa pesan untuk tujuan pengajaran.

c. Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.

d. Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.

e. Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Alat mempunyai fungsi yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan.

f. Sumber Pelajaran
Sumber belajar merupakan bahan / materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar.
Segala sesuatu dapat dipergunakan sebagai sumber belajar sesuai dengan kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

g. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dan sesuatu.

Model Pembelajaran
Istilah Model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi, metode, dan prinsip pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode , dan prinsip pembelajaran. Model pembelajaran adalah suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam setting tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lainlain.

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melakukan aktivitas pembelajaran. Kegiatan belajar yang telah dirancang dan dilaksanakan dengan penuh keahlian guru dapat menghasilkan suasana dan proses pembelajaran yang efektif.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematik dalam mengkoordinasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar, yang berfungsi sebagai pedoman guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengelola lingkungan pembelajaran dan mengelola kelas. Dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran diperlukan perangkat pembelajaran yang dapat disusun dan dikembangkan oleh guru.

Macam-Macam Model Pembelajaran

Model pembelajaran terdiri dari model pembelajaran langsung (Direct instruction), model pembelajaran kooperatif, (Cooperatif learning), model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem based learning), model pembelajaran diskusi (Discussion), dan model pembelajaran strategi (Learning strategi).

a. Pembelajaran langsung (Direct Instruction)
Pembelajaran langsung (direct instruction) adalah pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural, yang disusun dengan baik dan diajarkan secara bertahap (step by step). Yang dimaksud pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan untuk mengetahui tentang sesuatu sedangkan pengetahuan prosedual adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu

b. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Kauchak dan Eggen mendefinisikan belajar kooperatif sebagai bagian dari strategi mengajar yang digunakan siswa untuk membantu satu dengan yang lain dalam mempelajari sesuatu. Pembelajaran kooperatif juga dinamakan ”pengajaran teman sebaya”

c. Pembelajaran berdasarkan masalah (Problem-Base Instruction)
Pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuan sendiri , menumbuhkan ketrampilan yang lebih tinggi dan inquiri, memandirikan siswa, dan dapat meningkatkan kepercayaan diri sendiri

Masalah autentik diartikan sebagai masalah kehidupan nyata yang ditemukan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

d. Diskusi (Discussion)
Diskusi adalah suatu model pembelajaran yang memungkinkan berlangsungnya dialog antar guru dan siswa , serta antara siswa dengan siswa.

e. Learning Strategis
Pengajaran yang baik meliputi mengajarkan siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir dan bagaimana memotivasi diri sendiri.

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Sebagai landasan pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan pembelajaran berbasis masalah:
Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh
pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah

Pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang cirri utamanya pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama dan
menghasilkan karya atau hasil peraga. Model pembelajaran menyajikan masalah autentik dan bermakna sehingga siswa dapat melakukan penyelidikan dan menemukan sendiri.

Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan menyelesaikan masalah, serta mendapat pengetahuan konsep-konsep penting. Pendekatan pembelajaran ini mengutamakan proses belajar dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai ketrampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan masalah penggunaannya di dalam tingkat berfikir lebih, dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar.
Guru dalam pembelajaran berdasarkan masalah berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog membantu menyelesaikan masalah, dan memberi fasilitas penelitian. Selain itu guru menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan intelektual siswa. Pembelajaran berdasarkan masalah hanya dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan membimbing pertukaran gagasan.

Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah

a. Membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan ketrampilan intelektual.
b. Melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran melalui pengalaman nyata atau simulasi sehingga ia dapat mandiri

Ciri-Ciri Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran Berbasis Masalah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Pengajuan Masalah atau Pertanyaan
Pengaturan pembelajaran masalah berkisar pada masalah ataunpertanyaan yang penting bagi siswa maupun masyarakat. Pertanyaan dan masalah yang diajukan itu haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:
1 Autentik. Yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata dari pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu.

2 Jelas. Yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.

3 Mudah dipahami. Yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain itu, masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

4 Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

5 Bermanfaat. Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik bagi siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah siswa serta membangkitkan motivasi belajar siswa.

b. Keterkaitan dengan Berbagai Masalah Disiplin Ilmu
Masalah yang diajukan dalam pembelajaran berbasis masalah hendaknya mengaitkan atau melibatkan berbagai disiplin ilmu.

c. Penyelidikan yang Autentik
Penyelidikan yang diperlukan dalam pembelajaran berbasis masalah bersifat autentik. Selain itu penyelidikan diperlukan untuk mencari penyelesaian masalah yang bersifat nyata. Siswa menganalisis dan merumuskan masalah, mengembangkan dan meramalkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, menarik kesimpulan dan menggambarkan hasil akhir.

d. Menghasilkan dan Memamerkan Hasil/Karya
Pada pembelajaran berbasis masalah, siswa bertugas menyusun hasil penelitiannya dalam bentuk karya dan memamerkan hasil karyanya. Artinya hasil penyelesaian masalah siswa ditampilkan atau dibuatkan laporannya.

e. Kolaborasi
Pada pembelajaran masalah, tugas-tugas belajar berupa masalah harus diselesaikan bersama-sama antar siswa dengan siswa , baik dalam kelompok kecil maupun besar, dan bersama-sama antar siswa dengan guru.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terdiri dari lima langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

Tahap 1 Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan,
memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.

Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya.

Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu berbagai tugas dengan temannya

Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan

Penerapan Model Pembelajaran Sentra Untuk Anak Usia Dini

1. Pengertian Model Pembelajaran Sentra

Model pembelajaran sentra dan saat lingkaran atau “Beyond Center
and Circle Time” (Lebih Jauh Tentang Sentra dan Saat Lingkaran) atau lebih dikenal dengan model pembelajaran sentra, sentra belajar (learning center atau learning areas)1 merupakan model pembelajaran yang berfokus pada anak. Pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran.

Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan
seperangkat alat main, berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam tiga jenis permainan, yakni main sensorimotor (fungsional), main peran dan main pembangunan.
Sedangkan saat lingkaran adalah saat pendidik duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main.

Pada pembelajarannya dengan menggunakan 4 jenis pijakan
(scaffolding) untuk mendukung perkembangan anak, yaitu (1) pijakan
lingkungan main; (2) pijakan sebelum main; (3) pijakan selama main; dan (4) pijakan setelah main. Pijakan adalah dukungan yang berubah-ubah,disesuaikan dengan perkembangan yang dicapai anak dan diberikan sebagai pijakan untuk mencapai perkembangan yang lebih tinggi.
Pembelajaran sentra merupakan model pembelajaran yang telah
dikembangkan oleh Creative Center for Childhood Research and Training
(CCCRT) yang berkedudukan di Florida, Amerika Serikat, selama 25 tahun dan telah terakreditasi oleh National Association Early Young Childhood (NAEYC) sebagai model pembelajaran yang direkomendasikan dapat diterapkan di Amerika Serikat. Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini telah menerjemahkan bahan-bahan pelatihan model pembelajaran sentra dan telah memperoleh copyright dari CCCRT selama lima tahun (2004-2009). Model pembelajaran sentra dan saat lingkaran merupakan pengembangan dari metode Montessory, High Scope dan Reggio Emilio, yang memfokuskan kegiatan anak di sentra-sentra atau area-area untuk mengoptimalkan seluruh kecerdasan anak (sembilan kecerdasan jamak).
Model pembelajaran sentra dianggap paling ideal diterapkan di Tanah Air, selain tidak memerlukan peralatan yang banyak, tapi kecerdasan anak tetap bisa dioptimalkan. Model pembelajaran sentra mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (multiple intelligent) melalui bermain yang terarah. Setting pembelajaran mampu merangsang anak saling aktif, kreatif, dan terus berfikir dengan menggali pengalaman sendiri. Jelas berbeda dengan pembelajaran masa silam yang menghendaki murid mengikuti perintah, meniru, atau menghafal.

2. Landasan Model Pembelajaran Sentra

Pelaksanaan model pembelajaran sentra pada anak usia dini berlandaskan pada :
a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 Tentang
Kesejahteraan Anak, diantaranya Pasal 2 Ayat (1) Tentang Hak Anak
yang berbunyi:
Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan
berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam
asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.

b. Undang-undang Republik Indonesia 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan
Anak, diantaranya pada BAB III pasal 9 dan 11.
Pasal 9 yang berbunyi:
Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam
rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai
dengan minat dan bakatnya.

Pasal 11 yang berbunyi:
Setiap anak berhak beristirahat dan memanfatkan waktu luang, bergaul
dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai
dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannta demi pengembangannya.

3. Prinsip Dasar Model Pembelajaran Sentra

Filosofi dari program pembelajaran sentra berasal dari berbagai ahli
psikologi perkembangan yang telah mengamati pertumbuhan dan
perkembangan anak selama bertahun-tahun. Diantaranya adalah teori dan
model pembelajaran dari Helen Parkhust dengan sekolah Dalton, dimana tidak digunakannya program klasikal, tetapi menggunakan sentra-sentra sebagai tempat belajar.

Menurut Helen Parkhust yang lahir di Amerika pada tahun 1807 M, kegiatan pembelajaran harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan individu yang mempunyai tempat dan irama perkembangan berbeda satu dengan yang lain. Kegiatan pembelajaran harus memberikan kemungkinan kepada siswa untuk berinteraksi, bersosialisasi dan bekerja sama dengan siswa lain dalam mengerjakan tugas tertentu secara mandiri. Pandangan Helen Parkhust ini, tidak hanya mementingkan aspek individu, tetapi juga aspek sosial, sedangkan bentuk pembelajarannya memadukan klasikal dan individual.

Adapun program pembelajaran yang digunakan dalam model sentra ini,
mengadopsi dan mengembangkan teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget,
Lev Vigotsky, Anna Freud, dan Sarah Smilansky. Para ahli psikolog tersebut percaya bahwa ada empat unsur atau konsep dasar yang harus diperhatikan dalam menyelenggarakan pembelajaran untuk anak usia dini, yaitu teori pengetahuan (theory of knowledge), teori perkembangan (theory of development), teori belajar (theory of learning), dan teori mengajar (theory of teaching). Adapun teori-teori tersebut adalah :

a. Teori pengetahuan
Piaget mengatakan bahwa manusia itu mempunyai pengetahuan
yang dimiliki oleh setiap individu dalam menjalani hidupnya. Pengetahuan ini sudah ada dalam diri manusia dan tinggal mengkonstruk saja.

b. Teori Perkembangan (Theory of Development)
Manusia memiliki pola perkembangan dan karakteristik dari bayi
hingga dewasa. Para ahli psikologi berpendapat bahwa manusia dalam
perkembangannya memiliki karakteristik tertentu.

c. Teori Belajar (Learning Theory)
Sesuai dengan program pendidikan bagi anak usia dini yaitu
penerapan pembelajaran yang tepat dengan pendekatan bermain, bahwa
dari teori pengembangan tersebut dapat dilihat anak memperoleh
pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya melalui
kegiatan bermain sambil belajar (learning by playing). Pada hakikatnya anak senang bermain, anak sangat menikmati permainan, tanpa terkecuali.
Melalui bermain, anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya
dan dapat menjadi lebih dewasa.
Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam bermain adalah :

1) Bermain harus muncul dalam diri anak.
2) Bermain harus bebas dari aturan yang mengikat.
3) Bermain adalah aktivitas yang nyata dan sesungguhnya.
4) Bermain harus difokuskan pada proses dari pada hasil.
5) Bermain harus didominasi oleh pemain.
6) Bermain harus melibatkan peran aktif dari pemain.

Peran orang dewasa dalam bermain sangat penting, dimana orang
dewasa memberikan makna pada permainan si anak, agar dalam bermain
anak dapat memperoleh pengetahuan.
Adapun jenis-jenis main yang dikembangkan adalah :

1). Sensorimotor atau main fungsional
Kebutuhan sensorimotor anak didukung ketika mereka diberi
kesempatan untuk bergerak secara bebas, bermain di halaman atau di
lantai atau di meja dan di kursi. Kebutuhan bermain sensorimotor
anak didukung bila lingkungan baik di dalam maupun di luar ruangan
menyediakan kesempatan untuk berhubungan dengan banyak tekstur
dan barbagai jenis bahan bermain yang berbeda yang mendukung
setiap kebutuhan perkembangan anak.

2). Main peran (mikro dan makro)
Main peran juga disebut main simbolik, pura-pura, make
believe, fantasi, imajinasi, atau main drama sangat penting untuk
perkembangan kognisi, sosial dan emosi anak pada usia tiga sampai
enam tahun (Vigotsky, 1967, Erikson, 1962). Fungsi main peran
menunjukkan kemampuan berpikir anak yang lebih tinggi. Sebab
anak mampu menahan pengalaman yang didapatnya melalui panca
indra dan menampilkannya kembali dalam bentuk perilaku berpurapura.
Main peran membolehkan anak memproyeksikan diri ke masa
depan, menciptakan kembali ke masa lalu dan mengembangkan
ketrampilan khayalan.

3). Main Pembangunan
Main pembangunan juga dibahas dalam kerja Piaget (1962)
dan Smilansky (1968). Piaget menjelaskan bahwa kesempatan main
pembangunan membantu anak untuk mengembangkan
keterampilannya yang akan mendukung keberhasilan sekolahnya di
kemudian hari. 13 Main pembangunan bertujuan merangsang
kemampuan anak mewujudkan pikiran, ide, dan gagasannya menjadi
karya nyata. Selain itu, anak menghadirkan dunia mereka melalui main
pembangunan, mereka berada di posisi tengah antara main dan
kecerdasan menampilkan kembali. Ketika anak bermain pembangunan,
anak terbantu mengembangkan keterampilam koordinasi motorik
halus juga berkembangnya kognisi ke arah berpikir operasional, dan
membangun keberhasilan sekolah di kemudian hari, contoh bahan
main berupa bahan pembagunan yang terstruktur, seperti balok unit,
balok berongga, balok berwarna, logo, puzzle, cat, pulpen hingga
pensil.

d. Teori Pembelajaran (Theory of Instruction)
Pembelajaran pada anak usia dini selalu menggunakan pendekatan
bermain anak. Program ini memberikan kesempatan pada anak untuk
bermain dan mengeksplorasi permainannya seluas-luasnya sesuai dengan
tahapan perkembangan yang dimiliki oleh individu masing-masing anak.
Pada model pembelajaran sentra, seorang guru lebih sebagai
pengkonstruksi pemikiran anak dan pengobserver perkembangan anak
serta sebagai model bagi anak.
Agar tercapai pelaksanaan pembelajaran, tentu saja yang harus
diperhatikan adalah karakteristik perkembangan anak, karena dalam
pembelajaran model sentra ini, yang diharapkan adalah tercapainya
perkembangan psikologis anak sesuai dengan usia biologisnya secara
natural sesuai dengan irama perkembangan masing-masing anak.

4. Tujuan Model Pembelajaran Sentra

Model pembelajaran sentra merupakan model pembelajaran yang
menitikberatkan sentra bermain pada saat pembelajaran. Sentra bermain
merupakan area kegiatan yang dirancang di dalam atau di luar kelas, berisi berbagai kegiatan bermain dengan bahan-bahan yang dibutuhkan dan disusun berdasarkan kemampuan anak serta sesuai dengan tema yang dikembangkan dan dirancang terlebih dahulu.
Sentra memungkinkan anak untuk melakukan manipulasi terhadap
berbagi obyek, terlibat dalam role playing saling bercakap-cakap dengan teman-temannya, bereksplorasi, berinteraksi secara fisik, emosional, sosial dan secara kognitif serta kegiatan variatif yang menarik lainnya.
Sentra memberikan kesempatan pada anak untuk bermain baik secara
individual, kelompok kecil maupun kelompok besar dan bahkan secara
klasikal. Anak diperbolehkan memilih kegiatan yang menarik baginya dan akhirnya akan menjadikan anak sebagai pembelajar yang aktif dan interaktif.

Kegiatan bermain dilakukan anak dalam kelompok kecil di sentra atau
area yang di dalamnya terdapat berbagai material bermain. Setiap sentra bermain telah disiapkan oleh guru sesuai dengan program pengembangan
yang akan diajarkan kepada anak dengan jadwal yang telah ditentukan. Semua kegiatan bermain diarahkan untuk mencapai target yang disesuaikan dengan kemampuan dengan minat anak (child oriented).
Dengan menggunakan sentra bermain aktif, anak akan terlibat secara
aktif baik secara fisik maupun mental karena akan mendapatkan berbagai pengalaman belajar dengan melihat, mendengar dan mengerjakan secara langsung atau praktek langsung (learning by doing).
Adapun tujuan dari pada pembelajaran sentra dapat disimpulkan
sebagai berikut:
a. Meningkatkan pelayanan pengalaman belajar kepada anak secara lebih
mendalam dengan memberikan kebebasan bereksplorasi dalam setiap
sentranya.
b. Dengan adanya sentra melatih anak-anak untuk lebih mandiri karena tidak bergantung pada guru kelasnya saja, tetapi akan lebih diarahkan untuk melakukan kegiatan dengan guru-guru yang lain terutama yang menjadi guru sentra.

c. Dengan adanya guru sentra, maka guru sentra akan lebih fokus dalam
mengembangkan sentra yang menjadi tanggung jawabnya dengan
menuangkan segala pengembangan ide kreatifnya.
d. Proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk
kegiatan anak bekerja mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru
ke anak.

e. Dalam konteks itu, anak mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana pencapaiannya, mereka sadar
bahwa apa yang mereka pelajari akan berguna bagi hidupnya nanti.
f. Anak dapat memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu
bekal untuk hidupnya nanti, dalam hal ini guru sentra bertugas sebagai pengarah dan pembimbing atau inspirator.

5. Karakteristik Model Pembelajaran Sentra

Model pembelajaran sentra merupakan model pembelajaran yang
mempunyai karakteristik yang tidak dimiliki oleh pembelajaran lainnya. Adapun karakteristiknya dapat dilihat dari beberapa aspek, sebagai berikut:

a. Ruangan Kelas
Ruangan kelas dapat dimodifikasi menjadi kelas-kelas kecil, yang
disebut ruangan vak atau sentra-sentra. Setiap ruangan vak atau sentra terdiri atas satu bidang pengembangan. Ada sentra bahasa, sentra daya pikir, sentra daya cipta, sentra agama (imtaq), sentra seni, sentra kemampuan motorik. Dengan menggunakan kegiatan main yang mencakup tiga jenis main (sensorimotor, peran dan pembangunan). Rasio cukup, ukuran kelompok ideal (maksimal 10 anak), ruang cukup luas (5-7 meter persegi per anak).

b. Guru
Setiap guru harus mencintai dan menguasai bidang pengembangan
masing-masing. Guru harus memberi penjelasan secara umum kepada
anak-anak yang mengunjungi sentranya sesuai dengan tema yang
dipelajari, memberi pengarahan, mengawasi dan memperhatikan anakanak
ketika menggunakan alat-alat sesuai dengan materi yang
dipelajarinya, selanjutnya menanyakan kesulitan yang dialami oleh muridmurid dalam mengerjakan materi tersebut. Selain itu, guru sentra harus menguasai perkembangan setiap anak dalam mengerjakan berbagai tugas sehingga dapat mengikuti tempo dan irama perkembangan setiap anak dalam menguasai bahan-bahan pengajaran atau tugas perkembangannya.
Dalam pembelajaran sentra ini, satu guru sentra hanya bertanggung jawab pada 7 sampai 12 anak saja dengan moving class setiap hari dari satu sentra ke sentra lain.

c. Bermain
Menjadikan kegiatan “bermain” sebagai kegiatan inti, anak belajar
melalui permainan mereka.

d. Pijakan
Ada pijakan-pijakan yang mengantarkan anak maju atau naik
sendiri ke tahap perkembangan berikutnya. Ada ”circle times” (saat lingkaran)

e. Intensitas dan densitas
Intensitas adalah sejumlah waktu yang dibutuhkan anak untuk
pengalaman tiga jenis main sepanjang hari dan sepanjang tahun.
Sedangkan densitas adalah berbagai macam cara setiap jenis main yang
disediakan untuk mendukung pengalaman anak.

f. Bahan dan Tugas
Bahan pengajaran setiap sentra terdiri dari bahan minimal dan
bahan tambahan. Bahan minimal yaitu bahan pengajaran yang berisi
uraian perkembangan kemampuan minimal yang harus dikuasai setiap
anak sesuai tingkat usianya. Bahan ini harus dikuasai anak dan merupakan target kemampuan minimal dalam mempelajari setiap sentra tertentu.

g. Anak dan Tugasnya
Setiap anak akan mendapat tugas dan penjelasan secara klasikal.
Masing-masing anak dapat memilih sentra yang akan diikutinya. Ia bebas menentukan waktu dan alat-alat untuk menyelesaikan tugasnya. Setiap anak tidak boleh mengerjakan tugas lain sebelum tugas yang
dikerjakannya selesai. Untuk mengembangkan sosiobilitas, anak boleh
mengerjakan tugas tertentu bersama-sama. Dengan cara ini, anak akan
mempunyai kesempatan bersosialisasi, bekerja sama, tolong menolong
satu dengan lainnya.

h. Evaluasi Kemajuan Perkembangan Anak
Pencatatan kegiatan belajar anak dilakukan setiap pertemuan dengan
cara mencatat perkembangan kemampuan anak dalam hal motorik kasar,
halus, berbahasa, sosial dan aspek-aspek lainnya.
Pencatatan kegiatan main anak dilakukan oleh guru (pendidik).
Selain mencatat kemajuan belajar anak, guru juga dapat menggunakan
lembaran check list perkembangan anak, dilihat dari hasil kerja anak-anak, karena itu, semua hasil karya anak dijadikan sebagai bahan evaluasi dan laporan perkembangan belajar anak kepada orang tua masing-masing.

6. Macam-macam Sentra dalam Model Pembelajaran Sentra

Pada model pembelajaran sentra ada beberapa macam sentra. Pemilihan
sentra yang akan dikembangkan sangat disesuaikan dengan berbagai multi kecerdasan yang akan dikembangkan antara lain :

a. Sentra Imtaq (Keimanan dan Ketaqwaan)

Pada sentra ini berisi berbagai kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai
agama, keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sentra ini
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan beragama pada anak sejak dini
dan membentuk pribadi yang cerdas berperilaku sesuai dengan norma-norma agama. Kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan yang sederhana dan menyenangkan bagi anak mengingat bahwa pengenalan dan pemahaman terhadap agama merupakan suatu konsep yang abstrak, perlu diterjemahkan menjadi aktivitas yang konkret bagi anak. Bahan-bahan yang disiapkan adalah berbagai bangunan ibadah berbentuk mini, alat-alat beribadah dan kitab berbagai agama, buku-buku cerita, gambar-gambar dan alat permainanlain yang bernuansa agama.
Dalam sentra ini anak melakukan kegiatan bermain untuk mengenal
agama Islam seperti; rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat, haji), rukun iman/akidah (iman kepada Allah, malaikat, nabi dan rasul, kitab Allah, hari akhir), al-Qur’an (mengaji) dan akhlak (mengucapkan kalimat thayyibah, akhlakul karimah, salam, dan lain-lain)

b. Sentra Bahan Alam
Sentra bahan alam memiliki tujuan untuk memberikan pengalaman
pada anak untuk bereksplorasi dengan berbagai materi. Di sentra ini, anak bermain sambil belajar untuk dapat menunjukkan kemampuan menunjukkan, mengenali, membandingkan, menghubungkan dan membedakan. Dengan bereksplorasi dan bereksperimen anak akan memiliki ide dan kepekaan terhadap pengetahuan dan alam sekitar sehingga tumbuh motivasi dan kepercayaan diri dalam belajar.

c. Sentra Seni
Sentra seni memiliki fokus memberikan kesempatan pada anak untuk
mengembangkan berbagai keterampilannya., terutama keterampilan tangan
dengan menggunakan berbagai bahan dan alat, seperti: melipat, menggunting, mewarnai, membuat prakarya, melukis dan membuat prakarya dengan menggunakan adonan. Di sentra ini, anak bermain sambil belajar mengasah rasa keindahan, membangun kemandirian, kerja sama, tanggung jawab, bersosialisasi, melatih koordinasi mata, tangan, kaki dan pikiran.

d. Sentra Bermain Peran Sesungguhnya (Macro Play)
Sentra bermain peran makro mendukung sepenuhnya pada
perkembangan bahasa dan interaksi sosial. Bermain peran makro adalah
bermain peran yang seakan-akan anak bermain sesuai dengan yang
sesungguhnya.

e. Sentra bermain peran (micro play)
Sentra bermain peran mikro (micro play) sama dengan bermain
peran makro, tetapi pada mikro anak menggunakan miniatur dari kehidupan sosial manusia, misalnya anak menggunakan rumah Barbie dan boneka untuk bermain.

f. Sentra balok
Sentra balok membantu perkembangan anak dalam keterampilan
berkonstruksi. Sentra ini terutama untuk mengembangkan kemampuan
visual spasial dan matematika anak usia dini.

g. Sentra Persiapan
Sentra persiapan berfokus untuk memberikan kesempatan pada anak
mengembangkan kemampuan matematika, pra menulis dan pra membaca,
dengan kegiatan antara lain: mengurutkan, mengklasifikasikan, dan
mengelompokkan berbagai aktivitas lainnya yang mendukung
perkembangan kognitif anak.

Kepustakaan

Abdul Majid, Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi,

Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma’arif, 1978),

Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Praktis Penyelenggaraan POS PAUD,

Departemen Pendidikan Nasional, Pengenalan Pendekatan

Departemen Pendidikan Nasional, Metode Pembelajaran.

Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Penerapan Pendekatan Beyond Centers and Circle Times (Pendekatan Sentra dan Saat Lingkaran)

Dewi Salma Prawiradilaga, Eviline siregar, Mozaik Teknologi

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Metode Pembelajaran

Dipo Handoko, Mengajar Dengan Sentra dan Lingkaran

Rustika sugiarti, Pembelajaran Pendidikan Usia Dini Nasima dengan Pola Sentra,

Slamet Suyanto, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Hikayat Publishing,2005

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Pelaksanaan KBM dengan Team Teaching

Team teaching adalah salah satu metode mengajar sebuah mata pelajaran yang dilakukan oleh lebih dari seorang guru. Pengajaran dengan menggunakan metode ini, dapat dilakukan oleh dua orang guru hingga lima orang guru. Jadi besar kecilnya team yang tergabung didalamnya disesuaikan dengan objek siswa yang akan diajar.
Atau dapat dikatakan bahwa, metode pembelajaran team teaching adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.

Quinn dan Kanter, mengartikan Team Teaching (tim mengajar) sebagai “Bekerja antara dua tim instruktur yang berkualitas, bersamasama, dalam membuat presentasi”
Sedangkan definisi Team Teaching menurut Ahmadi dan Prasetya,
bahwa Team Teaching (pengajaran beregu) adalah suatu pengajaran yang
dilaksanakan bersama oleh beberapa orang.Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. Para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa.
Pelaksanaan belajarnya dapat dilakukan secara bergilir dengan metode
ceramah atau bersama-sama dengan metode diskusi panel.
Maka melihat konsep mendasar dari team teaching, maka metode
ini dapat dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan. Mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA, atau pada jenjang Perguruan Tinggi.

Motode ini mulai dikembangkan dengan dasar piker bahwa pengajaran
sebuah mata pelajaran dengan banyak guru akan lebih efektif
dibandingkan dengan seorang guru saja.
Demikian yang dipaparkan oleh Barbara Leigh Smith, bahwa team
teaching adalah sebuah upaya untuk lebih memberi kesempatan para anak
didik dalam mendapatkan perhatian yang cukup dari guru yang
mengajar.21 Dengan pengertian diatas, maka tujuan dari pelaksanaan team teaching adalah mengajar dengan lebih maksimal kepada anak didik. Hal ini sangat mungkin, karena pelaksanaan metode ini adalah dengan dua orang pengajar atau lebih.

1. Langkah Metode Team Teaching.

Metode Team Teaching adalah metode yang dapat digunakan
dalam pembelajaran berbagai mata pelajaran. Pendidikan Agama Islam
(PAI) adalah salah satu pelajaran yang baru-baru ini sudah mulai diajarkan dengan menggunakan metode team teaching. Penggunaan metode ini dalam pembelajaran PAI ini, bisa dijadikan sebagai alternatif untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar di kelas. Karena team teaching merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran yang melibatkan dua orang guru atau lebih dalam proses pembelajaran siswanya. Maka dengan pembagian peran dan tanggung jawab secara jelas dan seimbang didalamnya, metode team teaching diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi mitra team untuk saling bekerja sama dan saling melengkapi dalam mengelola proses pembelajaran. Sehingga setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran dapat diatasi secara bersama-sama.

Menurut pendapat Burden&Byrd:
There are several advantage of Team Teaching: (1) Group can help
complement the talent of each team member. each person has strengths
weakness and ideal coming from others in group may help cover a
weakness from an individual member.
(2) Team teaching can enhanceclassroom management. Finally team can help establish colleality among teacher, which provide support and encouragement for all team members

Jadi menurut Burden&Byrd, ada beberapa keuntungan dari metode
Team Teaching ini, yaitu: (1) Kelompok dapat saling melengkapi bakat
atau keahlian dari tiap anggota tim. Karena setiap manusia memiliki
kekurangan dan kelebihan. Maka idealnya, satu anggota yang lain dalam
sebuah tim dalam melengkapi kelemahan dari seorang individu lainnya.
(2) Team Teaching dapat meningkatkan manajemen/ pengaturan ruang
kelas. Pada akhirnya, suatu kelompok dapat menjaga “colleality” diantara para guru dengan senantiasa memberikan dukungan dan “ encouragement”
setiap anggota kelompok lainnya (guru).
Keuntungan lain yang diberikan oleh metode Team Teaching ini
adalah peningkatan kerjasama antar guru yang berdampak terhadap
keefektifan kerjasama.23 Yang dalam tugasnya nanti, sebuah kelompok
guru akan menjadi semakin solid dan menyatu, dalam melakukan proses
mengajar terhadap siswa.
Sejauh ini team teaching dapat dikatakan berhasil dalam
mengupayakan sebuah pembelajaran yang efektif terhadap para siswa.
Dengan team teaching terbangun budaya kemitraan yang positif diantara
guru sehingga terjalin kerja sama (kolaborasi) dalam meningkatkan proses
pembelajaran yang lebih baik. Team-teaching juga dapat lebih
mematangkan kegiatan perencanaan dan persiapan mengajar. Dua orang
guru atau lebih bisa saling berdiskusi untuk menyusun perencanaan
pembelajaran, sehingga dapat mengantisipasi berbagai kendala dalam
pelaksanaan pembelajaran.
Team-teaching juga dapat menjamin pengawasan pembelajaran
secara lebih efektif. Dengan melibatkan lebih dari satu orang guru di
dalam satu kelas, maka masing-masing siswa bisa mendapatkan perhatian
yang cukup dalam memahami pelajaran yang diberikan. Hal ini membuat
guru semakin peka terhadap situasi-situasi faktual di kelas. Dengan
motode team-teaching ini, dapat menjalin komunikasi yang intensif antar guru. Apabila team-teaching ini terdiri guru senior dan pemula, maka guru yang berpengalaman (senior) dapat membagi pengalamannya kepada guru pemula dan masing-masing juga saling melengkapi kekurangannya.
Sehingga team-teaching ini secara tidak langsung bisa menjadi sarana
pelatihan dan bimbingan bagi guru pemula yang baru dalam menjalankan
tugasnya.
Sementara itu menurut Wardani, ada beberapa alasan mengapa kita
membutuhkan implementasi atau pelaksanaan Team teaching pada setiap
tingkatan dan jenjang pendidikan di Indonesia. Antara lain adalah sebagai berikut:

a. Team Teaching memberikan keuntungan bagi para guru mengenai
bagaimana agar mereka mampu untuk mengubah teknik pengajaran
sehingga para guru dapat meningkatkan teknik mengajarnya.
b. Team Teaching sesuai dengan perubahan pendidikan dunia yang
membutuhkan kerjasama atau kolaborasi antar guru.
c. Team Teaching adalah salah satu bentuk pelatihan yang memberikan
kesempatan bagi para guru pemula untuk belerja-sama secara
bekelompok dengan guru yang berpengalaman.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dari implementasi metode
team teaching dalam pembelajaran PAI ini, maka ada beberapa langkah
yang harus dikonkretkan bagi guru yang tergabung didalam regu mengajar tersebut. Langkah langkah ini dimulai dari menyusun perencanaan pembelajaran secara bersama, sehingga setiap guru yang tergabung dalam team teaching memahami tentang apa-apa yang tercantum dalam isi perencanaan itu dan sistem evaluasi yang akan dilakukan. Menyusun metode pembelajaran secara bersama, sehingga diharapkan setiap anggota tim mengetahui alur proses pembelajaran dan mengetahui tujuan serta arah pembelajaran. Membedah dan mendiskusikan materi dan isi pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa, agar setiap anggota tim dapat saling melengkapi kekurangan pengetahuan yang ada pada diri masing-masing.

Selain itu juga, anggota tim dapat memprediksi berbagai kemungkinan
kesulitan siswa. Dan langkah yang terakhir adalah membagi peran dan
tanggung jawab masing-masing anggota tim, agar dalam proses
pembelajaran di dalam kelas, masing-masing mengetahui peran dan
tugasnya dan dapat saling membantu dalam melaksanakan pembelajaran.
Dan apabila telah selesai dalam melaksanakan pembelajaran, semua
anggota tim dapat duduk bersama untuk mengevaluasi pelaksanaan
pembelajaran, sehingga dapat merumuskan perbaikan-perbaikan untuk
pembelajaran berikutnya.

2. Jenis-jenis Motode Team Teaching

Secara garis besar, metode team teaching terbagi menjadi dua,
yaitu semi team teaching dan team teaching penuh. Semi Team Teaching : yaitu sejumlah guru mengajar mata pelajaran yang sama di kelas yang berbeda. Perencanaan
materi dan metode disepakati dan dirumuskan secara bersama. Atau satu
mata pelajaran yang disajikan oleh sejumlah guru secara bergantian
dengan pembagian tugas, materi dan evaluasi oleh guru masing-masing.
Atau dengan model yang ketiga, yaitu satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru dengan mendesain siswa secara berkelompok.25
Jenis yang kedua adalah team teaching penuh, yaitu satu tim
pengajar yang terdiri dari dua orang guru atau lebih, didalam waktu dan kelas yang sama, dan dengan pembelajaran mata pelajaran / materi
tertentu. Dalam jenis team teaching penuh ini, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara bersama dan sepakat.

Dalam jenis team teaching penuh ini, pelaksanaan tugas dan
pencapaian tujuan dilakukan secara bersama-sama. Yaitu mulai
dariperencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi terhadap apa yang telah dilaksanakan.

Karin Goetz dalam jurnalnya Perspectives on Team Teaching
membagi jenis team teaching sebagai berikut:

a. “Supported Instruction”, adalah sebuah bentuk team teaching dimana
salah seorang guru menyampaikan materi ajar dan satu guru lainnya
melakukan kegiatan tindak lanjut dari materi yang telah disampaikan
rekan satu timnya tadi.
b. “Parallel Instruction”, adalah sebuah bentuk team teaching yang
pelaksanaannya siswa dibagi menjadi dua kelompok dan masingmasing
guru dalam kelas tersebut bertanggungjawab untuk mengajar
masing-masing kelompok.
c. “Differencaiated Split Class”, adalah team teaching yang
pelaksanaannya dengan cara membagi siswa ke dalam dua kelompok
berdasarkan tingkat ketercapaiannya. Salah satu guru melakukan
pengajaran remedial kepada siswa yang tingkat pencapaian
kompetensinya kurang (tidak mencapai KKM) sedang guru yang lain
melakukan pengayaan kapada mereka yang telah mencapai dan/atau
yang telah melampaui tingkat ketercapaian kompetensinya (mencapai
atau melebihi KKM).

d. The “Monitoring Teacher”, adalah model lain dari team teaching.
Model ini dilaksanakan dengan cara salah satu guru dipastikan
melakukan peran sebagai pengajar yang memberikan pembelajaran di
kelas, sedangkan yang lainnya berkeliling kelas memonitor perilaku
dan kemajuan siswa.
Di dalam satu jam pelajaran team teaching dapat diterapkan lebih
dari satu model yang berbeda dari model-model team teaching yang telah disebutkan di atas tadi.
Dari penjelasan mengenai team teaching dan model-modelnya
tersebut di atas guru dapat memilih model mana yang dapat dianut
dipersilahkan saja berunding dengan teman satu teamnya kemudian
dirancang bagaiman pembelajaran di kelas sesuai dengan kondisi dan
matapelajaran yang diampunya. Dengan demikian maka team teaching
yang berhasil guna dan berdaya guna akan terwujud tidak hanya sekedar
untuk memenuhi beban tatap muka guru sehingga kurang ada manfaatnya.
Lebih lanjut Wardani mengatakan, bahwa didalam Team Teaching
terdapat dua variasi (jenis). Yang pertama, dua atau lebih guru
merencanakan bersama, tetapi mengajar secara individu, jenis yang
pertama ini dinamakan joint planning. Yang kedua adalah satu kelompok
guru yang terdiri dari dua atau lebih guru, yang mengajar pada jam dan kelas yang sama. jenis yang kedua ini dinamakan full team teaching, Yang terpenting disini adalah guru yang tergabung dalam team harus bekerja bersama-sama untuk menetukan tujuan pembelajaran,
mendisain silabus, menyiapkan RPP beserta skenario pembelajarannya,
bagaimana mengelola kelas bersama-sama, dan mengevaluasi hasil belajar siswa secara bersama-sama pula. Mereka bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, berdiskusi, dan bahkan memberikan tantangan kepada siswa agar dapat menentukan pendekatan yang mana yang cocok dalam melakukan proses pembelajaran pada materi-materi yang disepakati dan sesuai dengan tuntutan Standar Isi. Intinya sebuah team teaching harus bersedia berkomunikasi dan bekerjasama di dalam maupun di luar kelas.

Jangan sampai pada saat pembelajaran berlangsung terjadi hal-hal yang
bertentangan yang menyebabkan dampak negatif kepada para siswa.
Untuk menuju kepada team teaching yang solid dan sukses tentunya team
tersebut harus banyak latihan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk melakukan team teaching di dalam kelas.
Jadi untuk melaksanakan team teaching para guru dituntut untuk
mempunyai waktu ekstra dalam sinkronisasi pemikiran, pendapat dan ideide cemerlang agar dalam menghadapi kelas mereka adalah satu kesatuan yang kompak dan solid, dan ini perlu pembiasaan serta kedisiplinan yang tinggi. Sebab apabila salah satu anggota team tidak disiplin dan tidak mau

Bahan Pustaka
Ahmadi, A. dan Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, Bandung, CV. Pustaka Mulia,

Burden, P. R & Byrd, D. M, 2000, Methods For Effective Teaching (2nd Ed.), Massachusetts: Allyn and Bacon,

Wardani, IGAK. 2001, Team Teaching. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Karin Goetz, Perspectives on Team Teaching, Volume 1, Number 4, 2000,

Keith W Pricards & R. Mc Laren Sawyer, Handbook College: Theory and
Applications, Greenwood Press, ConnecticutLondon, 1994

Quinn, S. & Kanter, S., 1984, Team Teaching: An Alternative to Lecture Fatigue, Paper
in an abstract: Innovation Abstracts

Soewalni, S. (2007). Team Teaching. Makalah Program Pelatihan Applied Approach
2007 di Lembaga Pengembangan Pendidikan UNAS

Peranan Orang Tua Dalam Pendidikan Anak

Sebagaimana kita ketahui bahwa penyelenggaraan pendidikan itu
dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karna itu tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, pemerintah, dan tokoh-tokoh masyarakat.
Sesuai dengan pembahasan itu maka menitik beratkan pada tanggung
jawab pendidikan di lingkungan keluarga khususnya orang tua. Yang dimaksud orang tua di sini adalah : ibu dan ayah, ibu dan ayah sebagai orang tua, baik secara perseorangan ataupun bersama-sama mempunyai peranan yang tak terhingga dalam kehidupan anak, secara luas, baik yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan anak dari psikologis ataupun pertumbuhan dan perkembangan psikologisnya dapat dikatakan bahwa hampir sepenuhnya anak menggantungkan hidup dan kehidupannya pada orang tua, apakah hidupnya bahagia atau sengsara, sukses atau gagal dalam hidup selalu bergantung pada orang tua, oleh karnanya tak dapat disangkal akan peranan orang tua dalam kehidupan anak (siswa) secara luas (umum).

Mengenai peranan orang tua terhadap anaknya dalam pendidikan yaitu
meliputi :
a. Kebutuhan akan rasa kasih sayang
b. Kebutuhan akan rasa aman
c. Kebutuhan akan harga diri
d. Kebutuhan akan rasa kebebasan
e. Kebutuhan akan rasa sukses
f. Kebutuhan akan mengenal

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa peranan
orang tua dalam kaitannya dengan pendidikan anak adalah sebagai pendidik pertama dan utama, di mana tanggung jawab pendidikan anak, utamanya pendidikan dalam keluarga dipegang oleh orang tua, tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak antara lain meliputi :
a. Dorongan/motivasi cinta kasih sayang yang menjiwai hubungan orang tua dengan anak. Cinta kasih ini mendorong sikap dan tindakan rela menerima tanggung jawab dan mengabdikan hidupnya untuk sang anak.
b. Dorongan/motivasi kewajiban moral, sebagai konsekwensi kedudukan
orang tua dengan anak atau terhadap keturunannya. Tanggung jawab moral ini meliputi nilai- nilai relegius spiritual yang dijiwai ketuhanan yang Maha Esa dan agama masing-masing, disamping didorong oleh kesadaran memelihara martabat dan kehormatan. Keluarga
c. Tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keluarga yang pada gilirannya juga menjadi bagian dari masyarakat. Bangsa dan negaranya, bahkan kemanusiaan, tanggung jawab sosial ini merupakan perwujudan kesadaran tanggung jawab kekeluargaan yang diikuti oleh darah keturunan dan kesatuan keyakinan.

“Dari Ibu Umar RA, Saya mendengar Rosulullah bersabda setiap kamu
adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai tentang kepemimpinan,
seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya, seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin atas rumah
tangganya ditanya tentang kepemimpinannya, seorang istri adalah pemimpin keluarganya dan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin harta tuannya dan ditanya tentang kepemimpinannya, dan setiap kamu adalah pemimpin dan ditanya tentang kepemimpinannya” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam rangka kepemimpinannya ini, orang tua berkewajiban dan
bertanggung jawab atas kesejahteraan anak lahir dan batin serta
kebahagiaannya di dunia dan di akhirat, orang tua harus dapat membimbing dan mengarahkan anak kepada pendidikan yang baik sesuai dengan normanorma agama, dan adab sopan santun dalam hidup bermasyarakat. Dengan adanya bimbingan dan pengarahan yang baik dari orang tua terhadap anak sejak masa kanak-kanak maka dapat diharapkan setelah dewasa nanti segala tindakannya akan selalu didasari norma-norma agama dan sopan santun.

Dengan demikian secara tidak langsung orang tua telah memberikan
sumbangan dalam menciptakan suasana masyarakat aman dan tentram.
Berdasarkan kondisi dan masalah di atas, perlu adanya pengembangan
kebijakan yang memungkinkan tokoh agama dan lembaga keagamaan
mengambil peran dan fungsi yang proaktif dalam pembinaan akhlak anak,
langkah ini bukan saja karena motivasi agama, tetapai sebagai langkah
antisipatif terhadap kondisi masyarakat moderen yang mengarah kepada
perusakan sendi-sendi moral anak.

Dalam hubungannya dengan skripsi ini maka perlu diketahui
sebelumnya bagaimana peranan orang tua dalam pendidikan secara umum.
Adapun peranan orang tua dalam keluarga yang paling menonjol adalah
penanggung jawab anggota keluarga termasuk anak.

Hal ini sesuai dengan firman Allah At Tahrim 6 yang berbunyi ;
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (Attahrim : 6)

Ayat tersebut memberikan perintah kepada kita untuk memelihara dirinya sendiri dan keluarga agar tidak terjerumus ke dalam api neraka atau hal-hal negatif, salah satu upaya untuk mewujudkan perintah tersebut adalah melalui pendidikan. Karena dengan memperoleh pendidikan seorang akan dapat membedakan hal-hal yang baik dan buruk, ayat tersebut juga menggambarkan bahwa orang tua berkewajiban memberikan pelajaran agar anak tidak terjerumus dalam kemungkaran.

“Dan orang-orang berkata : “Ya tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”

3. Kondisi-Kondisi Orang Tua Yang Berpengaruh Terhadap Pendidikan Anak

Kondisi-kondisi orang tua yang sekiranya dapat berpengaruh terhadap
pendidikan anak secara garis besarnya terbagi menjadi dua bagian yaitu, kondisi obyektif orang tua dan kondisi subyektif orang tua.

a. Kondisi Obyektif Orang Tua

Yang dimaksud dengan kondisi obyektif orang tua di sini adalah
antara lain berupa keutuhan oang tua, kondisi ekonomi orang tua, tingkat pendidikan orang tua dan status sosial orang tua.

1) Keutuhan Orang Tua

Keutuhan orang tua ditandai dengan lengkapnya anggota keluarga khususnya ibu dan ayah dan tak pernah atau jarang tejadi percekcokan dan pertengkaran antara anggota keluarga serta semua anggota keluarga dapat saling berkomunikasi dan berkumpul dengan mudah dan sering.

Keutuhan orang tua ini juga dapat berpengaruh terhadap ketenangan belajar siswa/anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan sebagai berikut : “untuk kelancaran pendidikan dalam keluarga, maka perlu ditetapkan acara yang terperinci mengenai materi, waktu.tempat
dan lain- lain.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keutuhan keluarga merupakan salah satu faktor yang ikut mempengaruhi proses dan hasil belajar anak di sekolah.

2) Kondisi Ekonomi Orang Tua

Pada zaman sekarang ini boleh dikatakan bahwa biaya
pendidikan (menuntut ilmu) terutama pada lembaga-lembaga pendidikan
formal adalah cukup besar. Hal ini dapat dilihat pada besarnya biaya
penyelenggaraan pendidikan spp yang diwajibkan pada para siswa, dan
juga keharusan memenuhi sarana dan alat-alat pendidikan terutama saran dalam alat-alat belajar anak. Hal-hal seperti ini tersebut di atas membutuhkan tersedianya perekonomian yang mencukupi dari rasa
orang tua agar para siswa dapat mengikuti pend idikan dan belajar dengan baik sesuai dengan tuntutan yang ada.
Kualitas pendidikan banyak tergantung pada tersedianya
pembiayaan yang memadai dalam penyelenggaraannya. Bahkan
seringkali terjadi keberhasilan pendidikan anak tergantung pada cukup
tidaknya atau tinggi rendahnya perekonomian. Orang tua dengan
demikian orang tua yang mempunyai atau termasuk status ekonominya
yang cukup akan lebih memungkinkan untuk berhasil dalam pendidikan
dari pada orang tua anak yang ekonominya rendah. Oleh sebab itu
dengan ekonominya yag mencukupi akan dapat memenuhi tuntutantuntutan
pendidikan yang membutuhkan pembiayaan seperti sarana dan
prasarana.

Pendidikan berkaitan dengan pernyataan : “Status ekonomi
banyak menentukan kemampuan keluarga dalam menyediakan fasilitas
sarana yang diperlukan anak dalam menelaah bahan pelajaran di sekolah
dari soal buku pelajaran”.
Selain itu bila status ekonomi orang tua tergolong cukup maka
orang tua akan lebih dapat mencurahkan perhatiannya terhadap
pendidikan anak. Di samping itu siswa sendiri tidak banyak memperoleh
kesulitan dalam rangka pengabdian dan pemenuhan sarana, fasilitas serta saran alat-alat belajar yang diperlukan demi kelancaran proses pendidikannya. Hal ini juga berkaitan dengan kenyataan sebagai berikut :

“Orang tua harus memberikan pelayanan yang sebaik mungkin menurut
kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak”.
Telah dibuat berbagai pernyataan mengenai cara memperlakukan anak-anak seperti misalnya anak-anak harus diawasi dan bukannya didengarkan suaranya saja mereka hanya mengalami masa muda sekali saja, biarkan mereka menikmantinya,singkirkan rotan dan memanjakan anak: anak-anak harus dilindungi, anak harus dibiarkan
bebas berbuat; bukanlah persoalan sesungguhnya ialah, bagaimana kita membesarkan anak-anak selama mereka tetap memperoleh keperluan dasar, yaitu makanan, air, dan perlindungan.

3) Tingkat Pendidikan Orang Tua

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak ini, orang tua yang tergolong berpendidikan akan sangat berarti bagi pendidikan siswa. Di mana seringkali tingkat pendidikan orang tua dapat mempengaruhi pandangan dan sikap orang terhadap pendidikan anak-anaknya. Orang tua yang tergolong berpendidikan akan dapat membimbing, membantu serta pengetahuan pendidikan anaknya hingga ke tingkat yang lebih tinggi sebesar kemampuan yang dimilikinya, bahkan merasa cukup menyekolahkan anaknya sebatas sekolah dasar saja.

4) Status Sosial Orang Tua

Status sosial yang dimaksud di sini adalah kedudukan orang tua
dalam jajaran interaksi pergaulan sosial dalam masyarakat di mana orang tua itu hidup. Status sosial orang tua ini dapat mempengaruhi pendidikan para anak, antara lain dapat mempengaruhi bagaimana orang
memperlihatkan, memikirkan serta memberikan wawasan kependidikan
kepada anak-anaknya mengatakan sebagai berikut : “Status sosial orang
tua pada suatu ketika dapat menentukan sikap mereka terhadap
pendidikan atau peranan pendidikan dalam kehidupan manusia”

b. Kondisi Subyektif Orang Tua

Yang dimaksud dengan kondisi subyektif di sini adalah kondisikondisi
yang berkaitan dengan kepribadian orang tua, yang antara lain
meliputi : sikap kepemimpinan orang tua, cara orang tua mendidik anak, cara memberi pelayanan dan lain- lain.
Sebagai pemimpin keluarga, maka sikap kepemimpinannya
seringkali dominan dalam mempengaruhi pendidikan anak atau pendidikan
anak-anaknya. Dalam hal ini kita mengenai adanya tiga macam sikap
kepemimpinan orang yang dapat mempengaruhi pendidikan anak, yaitu :
sikap otoriter, sikap demokratis, dan sikap laisser faire. Penelitianpenelitian yang dilakukan oleh para ahli seperti : Mueller, Frnkel, Lawin, membuktikan sikap kepemimpinan yang lebih efektif adalah :
Sikap demokratis, dimana orang tua di samping memegang
kendali dan mengarahkan secara maksimal perkembangan anak, juga
memberikan kesempatan anak-anaknya untuk berkreasi sesuai dengan
kemampuan yang ada pada diri anak-anak.

Adapun secara jelasnya kondisi subyektif orang tua itu antara lain
sebgai berikut :

a) Sikap Kemimpinan Orang Tua

Yang dimaksud dengan sikap kepemimpinan orang tua di sini adalah sikap dan cara-cara serta kebijaksanaan yang ditempuh orang tua untuk membimbing dan mendidik anaknya. Hal- hal tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar.
Sikap orang tua dalam mendidik anak-anaknya besar pengaruhnya terhadap kepribadian anak, dibandingkan dengan sikap otoriter dan laissez faire, maka sikap demokrasi orang tualah yang lebih menguntungkan dan memberikan hasil yang lebih baik, dengan
sikap yang demokrasi.
Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial di dalam rumah keluarga yaitu menyangkut interaksi antar golongan keluarga : ayah-ibu dan anak-anak yang berpengaruh terhadap berhasil tidaknya proses belajar anak di sekolah Demi kelancaran serta keberhasilan anak-anak, perlu diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga anak tersebut hubungan yang penuh pengertian dan kasih sayang disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman untuk menyukseskan belajar anak sendiri.

b) Cara Orang Tua Mendidik Anak

Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya tehadap
belajar anaknya. Hal ini sesuai dengan pernyataan sebagai berikut :
Pengaruh lingkungan keluarga terhadap lingkungan anak sejak kecil adalah sangat mendalam dan menentukan perkembangan pribadi anak selanjutnya hal ini disebabkan :

1) Pengaruh itu merupakan pengala man yang pertama-tama.
2) Pengaruh yang diterima anak itu masih terbatas jumlah dan luasnya.
3) Intensitas pengaruh itu tinggi karena berlangsung terus-menerus
siang dan malam.

4) Umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman yang bersifat intim.

Di manapun proses pendidikan berlangsung alasan utama kehadiran guru adalah untuk membantu siswa agar belajar sebaikbaiknya. Oleh karena itu, adalah hal esensial (pokok, dasar) bagi guru untuk memahami sepenuhnya cara dan tahapan belajar yang terjadi
pada diri siswanya.

Keluarga dalam hal ini orang tua yang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya acuh tak acuh terhadap belajar anaknya tidak mau tahu bagaimana kemajuan anaknya, kesulitan-kesulitan yang dialami anaknya dalam belajar dan lain- lain,
dapat menyebabkan anak kurang berhasil dalam melaksanakan studinya, untuk itu pendidikan anak dalam keluarga mempunyai peranan penting dalam mengembangkan anak terutama teladan dari orang tua sikap dan tingkah laku sehari-hari kemudian menjelaskan :

Usaha untuk memupuk rasa hormat anak terhadap orang tuanya. Antara lain:
1) Pupuklah rasa kasih sayang di antara suami istri.
2)Tunjukkanlah kepercayaan orang tua terhadap anaknya
3)Hargailah karya anak dan perhatikanlah keinginan dan kebutuhannya.
4)Kenalkanlah nilai- nilai yang dapat menjadikan kegembiraan kesenangan seluruh anggota keluarga
5)Bila anak-anak kurang berakhlak kurang baik nasehatilah dengan penuh kebijaksanaan dan pendidikan yang baik.

Daftar Bacaan
Departemen Agama Al-Qur’an dan Terjemahan,(Jakarta : Yayasan Penterjemah,1985)
Ishak Soleh Manajemen Rumah Tangga, (Bandung : Angkasa,1994)
Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung : Eresco, 1996)
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidik an, (Bandung : Remaja Karya,1988
Moh Amin, Moral Remaja (Pasuruan Garuda : Buana Indah,1992
Tim Dosen IKIP Malang Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan(Surabaya ; Usaha Nasional,1981),
Slamento, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta Bina Aksara,1988)
Zakiah Dradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta : Haji Mas Agung,1990),

Pembelajar Dewasa Berbeda dengan Pembelajar Anak

Pembelajar Dewasa Berbeda dengan Pembelajar Anak

Dalam sebuah buku berjudul Mendidik Anak Dengan Cinta, penulisnya mengumpamakan orang dewasa di mata anak-anak bak raksasa yang memagari pandangan sekeliling mereka. Dengan badan yang tinggi besar dan suara yang lantang, raksasa ini seringkali terlihat menakutkan. Para raksasa ini seringkali menyuruh, melarang dan memarahi, tiga aktivitas yang jika tidak dikemas apik oleh si raksasa, akan menciptakan pengalaman yang traumatis bagi si cebol. Baik orang tua maupun guru bisa menjelma menjadi raksasa-raksasa yang ditakuti oleh anak-anak, sehingga ketika keluar perintah dari mereka, anak-anak menuruti bukan karena paham, tapi karena takut. Dalam upaya membelajarkan tentu hal ini tidak ideal.
Artinya, walau bagaimanapun, kondisi ideal seseorang melakukan tugas pembelajaran adalah atas dasar keinginan untuk paham, bukan karena keterpaksaan atau ketakutan. Meski anak bersifat sangat imitatif, tidak mustahil mereka akan berhasil dipahamkan tentang sesuatu. Guru yang tugas utamanya adalah membelajarkan siswa, perlu kiranya memahami urgensi memahamkan siswa dengan cara memahami betul karakteristik siswanya agar selalu membuat keputusan-keputusan tepat mengenai apa yang diajarkan dan bagaimana cara mengajarkannya.
Manusia yang berlainan usia tentu saja memiliki kebutuhan, kompetensi, dan level kemampuan kognitif yang berlainan pula. Hal ini sangat penting dipertimbangkan dalam pengajaran; guru harus memetakan pikiran ketika mengatur segala hal untuk diajarkan berdasarkan pertimbangan usia siswa. Adalah sebuah hal yang signifikan pula bagi seorang pengajar untuk mengetahui siapa siswanya: bagaimana cara belajar mereka, latar belakang sosial-ekonominya, gaya belajarnya yang berbeda-beda, motivasi yang dimiliki, dan banyak faktor lainnya. Dengan memahami secara komprehensif terhadap faktor-faktor ini, seorang guru tidak akan memperoleh kesulitan yang berarti dalam membelajarkan siswanya. Untuk lebih menukik pada pembahasan, kita akan bahas faktor penting yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran bagi siswa yaitu usia.
A. PEMBELAJAR ANAK-ANAK
Pembelajar anak-anak adalah tipe pembelajaryang—pada titik tertentu—unik. Mereka memiliki karakteristik unik yang tentu berpengaruh pula pada proses mereka belajar, terutama dalam belajar bahasa. Inilah yang menjadi alasan tepat kenapa pembelajaranak-anak banyak menarik perhatian para ahli untuk meneliti mereka, terutama dalam wilayah pembelajaran bahasa. Banyak ahli setuju bahwa semakin dini anak diperkenalkan bahasa kedua, maka semakin besarlah kemungkinan anak tersebut menguasainya. Namun tetap saja, masalah ini masih diperdebatkan. Bahwa anak mudah sekali mengenal dan mengingat sesuatu, itu adalah sebuah fakta umum yang banyak terlihat buktinya. Namun, mempelajari bahasa terutama bahasa kedua, adalah sebuah proses kompleks yang melibatkan wajib hadirnya banyak faktor, yang mana faktor-faktor tersebut belum dimiliki oleh anak-anak.
Anak-anak, terutama di usia 5-10 tahun, memiliki gaya belajar yang sangat berbeda dengan anak yang usianya lebih tua dari mereka, dengan remaja ataupun orang dewasa. Perbedaan tersebut terletak pada:
a. Anak usia ini merespon makna dengan cepat meskipun tidak paham kata per katanya (Harmer, 2002; Gusrayani, 2006). Hal ini bisa diilustrasikan dengan konteks berikut. Sangat sering, guru bahasa Inggris di SD memberi contoh percakapan :how are you? dan siswa serempak menjawab I„m fine thank you, and you? Atau where do you live dijawab siswa dengan I live in…….(menyebutkan tempat tinggal). Anak tidak perlu mengetahui makna „how‟ atau „are‟ atau „you‟, karena mereka sudah mengetahui bahwa frase tersebut bermakna „apa kabar‟. Tidak perlu mereka mengetahui makna „where‟, „do‟, „you‟, dan „live‟, satu demi satu, melainkan cukup memahami bahwa frase tersebut digunakan untuk mempertanyakan tempat tinggal. Dan merekapun paham bagaimana cara meresponnya.
b. Anak seusia ini biasanya belajar secara tidak langsung—mereka mengambil informasi dari berbagai sisi, belajar dari berbagai hal dan tidak hanya terfokus kepada satu topik tertentu yang saat itu diajarkan. Khusus dalam belajar bahasa, jika anak diperkenalkan pada satu kosakata baru, maka ia akan mengaitkan dengan konteks yang ada dibenaknya, untuk mengukur ketepatan pemahaman mereka terhadap kata tersebut (Gusrayani, 2009). Contoh, seorang anak berusia 6 tahun mendengar kata „playboy‟ dari sinetron yang ditontonnya. Ia lalu bertanya kepada pengasuhnya, apa arti kata tersebut. Sang pengasuh menjelaskan bahwa kata yang dimaksud bermakna „suka mempermainkan perempuan‟. Di situasi lain, ketika ayah anak ini mengolok-oloknya dengan maksud bercanda, si anak langsung melabeli sang ayah sebagai „playboy‟, karena mempermainkannya sebagai perempuan.

c. Pemahaman mereka akan terbangun tidak hanya oleh penjelasan saja, tapi juga dari apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apapun yang mereka sentuh dan dengan siapa mereka terlibat berinteraksi berpengaruh signifikan juga dalam membangun pemahaman anak. Bisa kita lihat perbedaan yang sangat signifikan dari gaya bicara ataupun kosakata yang digunakan oleh anak-anak yang besar di lingkungan santun dan kaya pewajanan dengan anak-anak yang besar di lingkungan yang tak santun dan miskin pewajanan.
d. Pada umumnya, mereka menununjukkan antusiasme untuk belajar dan penasaran pada dunia di sekelilingnya. Pun dalam hal mengenal dan mengeksplorasi bahasa. Anak-anak cenderung antusias dalam menerapkannya pada konteks yang mereka tahu, sebatas yang mereka pahami.
e. Mereka penasaran dengan kosakata yang baru mereka dengar, berusaha mengeksplorasinya dengan berulang-ulang mengucapkannya, untuk mengetahui respon orang dewasa di sekitarnya. Apalagi jika orang dewasa menunjukkan respon kaget atau tidak suka, anak-anak cenderung sengaja mengulang-ulangnya. Contoh jika orang dewasa telanjur keceplosan mengeluarkan kata-kata tabu atau berkonotasi seksual. Anak-anak cenderung senang mengeksplorasinya dengan mengulang-ulangi pengucapan kata tersebut.
f. Mereka butuh perhatian intensif sebagai seorang individu, juga pengakuan dari sang guru. Konteks ini berlaku umum ketika seorang anak belajar apapun. Saat mempelajari bahasa baru, sangat mungkin anak melakukan kesalahan dalam menuliskan ataupun membacanya. Disini perhatian intensif guru ataupun orang dewasa di sekelilingnya sangat dibutuhkan. Terutama untuk menegaskan bahwa dalam mempelajari bahasa kedua, kesalahan yang diperbuat sebenarnya tak tepat jika disebut kesalahan, karena hal tersebut baru mereka ketahui, dan tidak pernah mereka temui sebelumnya. Contoh, jika anak mengucapkan one untuk satu dalam Bahasa Inggris, dan bukannya “wan‟, ini sangat bisa dipahami mengingat begitulah aturan pengucapan kata tersebut dalam bahasa Indonesia, sehingga apa yang mereka ucapkan sesungguhnya bukanlah kesalahan. Beberapa ahli cenderung memperkuat hal ini (Harmer, 2002; Pinter, 2006; Ellis, 1994).
g. Mereka suka membicarakan diri mereka, dan akan memberikan respon yang positif ketika pembelajaran melibatkan diri mereka dan kehidupan sehari-hari mereka sebagai topik utama di kelas. Dalam pembelajaran bahasa, setiap memperkenalkan tema kosakata yang akan diajarkan misalnya, pengajara bisa memulai keterlibatan kognitif siswa dengan membawa tema kosakata tersebut dengan hidup keseharian mereka. Misal, jika akan mengenalkan kosakata terkait binatang peliharaan, bisa dimulai dengan bertanya: do you have pets at home?
h. Rentang perhatian mereka sangat terbatas; artinya mereka tidak akan selalu memperhatikan. Mereka cepat lelah dan bosan, kecuali jika aktivitas yang melibatkan mereka benar-benar menarik. Mereka akan kehilangan minat setelah 10 menit atau lebih.
B. PEMBELAJAR REMAJA
Sudah merupakan hal yang tidak asing bahwa isu kunci pada kehidupan remaja adalah sisi pencarian identitas individu yang sangat kental sehingga berpengaruh kepada minat yang sangat besar terhadap pencarian tantangan. Berikut beberapa karakteristik khusus pembelajarremaja yang terkait dengan karakteristik individunya.
a. Pendapat teman sebaya lebih penting dibanding perhatian guru, dimana untuk pembelajaranak-anak justru perhatian guru yang lebih penting.
b. Banyak membawa problem di luar ke dalam kelas, sehingga berpengaruh kepada konsentrasi dalam belajar.
c. Jika guru mampu mengontrol mereka, tipe pembelajarseusia ini bisa sangat suportif dan konstruktif (Harmer, 2002).
d. Kapasitas belajar mereka sangat besar, potensi untuk kreatif sangat tinggi dan komitmen untuk terlibat dalam hal-hal yang menarik minat mereka sangat kuat.
C. PEMBELAJAR DEWASA
Pembelajar dewasa sangat kentara dalam beberapa karakteristik spesial sebagai berikut:
a. Mereka bisa terlibat dalam pemikiran yang abstrak.
b. Mereka memiliki sejumlah pengalaman hidup yang bisa dijadikan sebagai pengalaman belajar.
c. Mereka memiliki ekspektasi serius tentang proses pembelajaran dan mungkin telah memiliki pola pembelajaran sendiri.
d. Orang dewasa cenderung lebih disiplin daripada remaja dan anak-anak, dan secara krusial mereka siap untuk melawan kebosanan belajar.
e. Tidak seperti anak-anak dan remaja, mereka biasanya punya pemahaman yang utuh dan jelas tentang tujuan mereka belajar dan apa yang ingin mereka pelajari. Hal ini sangat penting untuk keberhasilan pembelajaran.
Mengajar anak usia pemula secara alami harus berbeda dengan mengajar anak SMA atau dewasa. Siswa SD memiliki karakteristik tersendiri—biologis, kognitif, afektif, kepribadian, dan sosial. Siswa SD senang beraktivitas, bermain, dan bernyanyi. Tujuan utama pelajaran bahasa Inggris pada tahap pembelajaran awal seperti ini adalah untuk memberi gambaran bahwa selain bahasa ibu dan bahasa daerah mereka, ada bahasa lain yang bisa mereka pelajari, yaitu bahasa asing. Diharapkan, mereka bisa tertarik mempelajari bahasa baru ini. Kemampuan yang dituntut pada jenjang ini pun masih sederhana,
siswa mampu memahami beberapa kosakata untuk mendukung kompetensi ekspresi tertulis dan ekspresi ucap yang sederhana.
Usia pemelajar, bakat bahasa yang dimiliki anak, strategi/gaya belajar, motivasi, dan latar belakang sosial ekonomi anak yang jelas berbeda antara anak yang satu dengan lainnya, adalah faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh pengembang program pembelajaran Bahasa Inggris ataupun pembuat kebijakan terkait pengajaran bahasa Inggris. Memformulasikan tujuan-tujuan pembelajaran dan selektif dalam memilih bahan ajar serta strategi yang tepat harus menjadi prioritas utama sebelum memutuskan untuk mengajarkan bahasa asing di sekolah dasar. Hal ini akan dibahas lebih lanjut di bab 4 mengenai pemilihan materi, metode dan media.
Sebenarnya, dibutuhkan pelatihan khusus untuk mengajar anak usia pemula; fitur-fitur kebahasaan seperti apa yang harus diajarkan, dan bagaimana membantu anak untuk mempelajarinya. Mengajarkan bahasa Inggris pada anak tidak akan semudah mengajarkan bahasa ibu mereka. Perbedaan sistem linguistik, pengejaan dan pengucapan akan mengundang banyak masalah di dalam kelas. Berikut dipaparkan beberapa karakteristik alamiah yang melekat pada anak dan bagaimana implikasinya pada pengajaran.
D. FITUR UMUM ANAK-ANAK DALAM MEMPELAJARI BAHASA
1. Perkembangan intelektual
Karena anak (sampai usia 8 tahun) masih dalam tahap intelektual yang disebut oleh Piaget (1972) operasional konkrit, guru harus selalu mengingat keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada anak di tahapan ini. Aturan, penjelasan, dan beberapa pembicaraan abstrak tentang bahasa harus betul-betul memakai pendekatan yang ekstra hati-hati. Anak-anak terfokus kepada apa yang terjadi saat ini, tidak terlalu mementingkan untuk tahu atau mengerti apa yang akan terjadi nanti, atau apa yang sudah mereka alami. Hal ini berimplikasi signifikan pada pembelajaran. Anak juga peduli pada tujuan fungsional bahasa (untuk apa kalimat itu dipakai) namun tidak terlalu peduli terhadap “kebenaran” (correctness) yang dikehendaki oleh orang dewasa dan tidak bisa memahami bahasa rumit yang digunakan orang dewasa untuk menjelaskan konsep-konsep linguistik (Harmer, 2002). Berikut adalah beberapa rambu-rambu umum yang bisa diterapkan guru di dalam kelas bahasa Inggris di SD (rambu-rambu detil akan Anda temukan di BAB berikutnya):
1) Jangan menjelaskan grammar secara eksplisit menggunakan istilah-istilah seperti past tense, relative clause, dsb. Alangkah lebih baiknya guru mencontohkan pola-pola kalimat termaksud dengan ilustrasi konkrit bisa berupa gambar, perilaku guru atau lainnya (Hadley, 2001). Hal inilah yang dinamakan konktretisasi dan kontekstualisasi (akan dibahas kemudian)
2) Aturan yang abstrak dan sulit dibayangkan siswa alasannya, mutlak harus dihindari, misal: untuk membuat pernyataan menjadi pertanyaan tambahkanlah do atau does. Lebih baik guru memberikan contoh kalimat dengan mengulang-ulangnya. Mengulang-ulang contoh kalimatnya lebih baik dibanding mengulang-ulang penjelasan/aturan yang dimaksud. Anak akan mampu memformulasikan sendiri aturan yang dimaksud jika contoh yang diberikan guru jelas.
3) Beberapa konsep gramatika bisa lebih menarik perhatian siswa jika guru mendemonstrasikannya, misal: sampai berjalan ke depan pintu, guru berkata I‟m walking to the door.
4) Beberapa konsep atau pola-pola yang sulit perlu diulang-ulang agar otak dan telinga anak mudah berkoordinasi.
2. Rentang Perhatian
Salah satu perbedaan menonjol anak dan orang dewasa adalah dari sisi rentang perhatiannya. Pertama, kita harus memahami apa itu rentang perhatian. Simpan anak di depan tivi yang menayangkan film kartun favoritnya, maka dia akan tahan berjam-jam di depan tivi. Jadi jangan membuat asumsi bahwa anak memiliki rentang perhatian yang pendek. Tapi rentang perhatian yang pendek akan muncul jika anak terlibat dalam satu aktivitas yang membosankan, tidak berguna atau terlalu sulit. Aktivitas belajar yang membosankan sangat mungkin tercipta di atmosfir pembelajaran kita, disadari ataupun tidak. Gaya mengajar guru di kelas misalnya, yang hanya memakai one way teaching, atau guru mentransfer apa yang diketahui kepada siswa dan siswa tidak aktif „memanipulasi‟ pembelajaran, bisa menjadi penyebab atmosfir kebosanan melanda suasana pembelajaran. Pembelajaran yang tidak memfasilitasi anak untuk bergerak dari tempat duduknya, memegang, meraba atau memanipulasi sesuatu melainkan hanya memaku mereka di tempat duduk, akan membuat rentang perhatian anak menjadi pendek, cepat bosan dan „terpicu‟ untuk membuat keributan. Lalu, gaya mengajar yang terlalu „dewasa‟ baik dari sisi bahasa yang digunakan guru maupun dari sisi penyajian konten pembelajaran (diilustrasikan pada bab 4) akan membuat siswa merasa aktivitas yang mereka lakukan tak berguna. Hal inipun akan memicu rentang perhatian yang pendek tadi. Lalu, kondisi pembelajaran yang tidak berhasil dikondisikan guru untuk sesuai dengan usia dan kemampuan siswa akan menjadikan pembelajaran terlalu sulit ataupun terlalu mudah. Pembelajaran yang terlalu sulit ataupun terlalu mudah bagi siswa, juga akan memicu rentang perhatian yang pendek. Karena belajar bahasa Inggris bisa jadi terlalu sulit untuk anak, maka tugas gurulah untuk membuat pembelajaran bahasa Inggris bisa terkemas menarik, hidup dan menyenangkan.
Bagaimana caranya? Lebih detilnya Anda bisa lihat di bab 4 mengenai pemilihan materi dan model pembelajaran bahasa Inggris. Secara umum, berikut beberapa gambaran tips sederhananya.

1) Karena anak selalu terfokus pada saat ini dan sekarang, maka aktivitas harus dirancang untuk menangkap minat mereka dengan segera. Hindari aktivitas yang membuat mereka harus mengingat kejadian lalu atau kejadian yang akan datang dalam durasi yang cukup lama. Ketikapun mereka mampu melakukannya, aktivitas sejenis ini tak akan terlalu menarik minat mereka.
2) Kegiatan harus beragam agar minat anak terjaga dan perhatian anak tetap ada. Anak secara umum memiliki beragam gaya belajar (dibahas secara rinci di bab 2). Pastikan kegiatan pembelajaran mengakomodir kebutuhan setiap siswa yang berbeda berdasarkan gaya belajarnya.
3) Guru harus “hidup” dan antusias terhadap pelajaran. Bayangkan ruang kelas itu adalah panggung dimana guru sebagai aktornya. Jika harus menjadi komedian, maka jadilah komedian, Pembelajaran mengharuskan guru menyanyi, mendongeng bahkan menari sekalipun, maka itu yang sebaiknya dilakukan demi untuk menjaga antusiasme siswa.
4) Guru harus memiliki rasa humor yang tinggi untuk tetap tertawa sambil belajar. Karena selera humor anak berbeda dengan orang dewasa, maka pastikan humor anda sesuai dengan selera anak. „Kesalahan‟ yang diperbuat siswa ketika belajar bahasa Inggris, bisa „diperbaiki‟ tanpa menyakiti si anak, dengan penuh candaan namun tidak menjadikannya bahan tertawaan.
5) Anak memiliki sejumlah besar rasa penasaran. Pastikan guru mengeksplorasi rasa itu sejauh mungkin agar perhatian anak tetap terfokus pada kegiatan pembelajaran. Rasa penasaran terkait erat dengan antusiasme siswa. Semakin ia penasaran dengan apa saja yang mungkin ia dapati di pembelajaran, semakin hal tersebut menunjukkan antusiasmenya terhadap pembelajaran. Jangan lewatkan rasa penasaran yang
sebenarnya ada si setiap anak, dengan menyajikan aktivitas yang monoton di setiap pembelajaran.
3. Input Sensor
Anak harus terstimulasi seluruh inderanya. Aktivitas guru harus melibatkan organ visual dan auditori anak, dengan porsi yang cukup. Caranya:
1) Berikan aktivitas fisik yang cukup dalam pembelajaran. Misal dengan aktivitas bermain peran (role play). Bermain peran untuk anak seusia SD tidak harus yang kompleks dan berdurasi lama. Percakapan sederhana untuk mengkontekstualisasikan kapan ekspresi-ekspresi tertentu digunakan, untuk apa fungsinya, bagaimana mengucapkannya, itu bisa dibelajarkan dengan role play. Aktivitas fisik bisa pula dieksplorasi dengan cara siswa diminta ke depan, memperagakan atau menunjuk kosa kata yang kita ajarkan. Atau aktivitas-aktivitas lain sejenis.
2) Aktivitas praktis yang lain harus sejalan dengan tujuan membantu anak menginternalisasi bahasa. Aktivitas berkelompok misalnya merupakan cara yang baik agar anak belajar kata dan struktur kata dan mempraktikan bahasa yang bermakna. Bahasa tidak akan lengkap dipelajari jika tidak diajarkan dengan konteks penggunaannya. Menggunakan bahasa membutuhkan partner sebagai pendengar. Aktivitas kelompok bisa diaplikasikan untuk membuat anak saling mengeksplorasi penggunaan bahasa yang mereka ketahui.
3) Alat sensor membantu anak menginternalisasi konsep-konsep. Misalnya: mencium harum bunga, menyentuh tumbuhan dan buah-buahan, merasai makanan, melihat video, gambar, mendengarkan tape recorder, musik—semuanya adalah elemen penting untuk pembelajaran bahasa bagi anak. Penting untuk diingat, bahasa verbal guru juga penting, karena anak akan tertarik juga pada mimik muka, gesture (gerak tubuh), serta sentuhan guru. Oleh karenanya, dalam pembelajaran, usahakan semua alat sensor ini dieksplorasi penggunaannya oleh guru melalui konteks-konteks pembelajaran yang menarik. Aktivitas penyampaian bahan ajar harus mengoptimalkan sebanyak mungkin input sensor siswa bekerja.
4. Faktor Afektif
Mitos yang sangat umum bahwa anak-anak relatif tidak terpengaruhi oleh rintangan-rintangan yang biasanya menghambat orang dewasa untuk belajar. Tidak selalu begitu! Anak-anak cenderung inovatif dalam produk bahasa, tapi tetap saja menghadapi banyak rintangan. Mereka sangat sensitif terutama kepada teman sebayanya: apa yang orang lain pikirkan tentang saya. Apa yang dipikirkan orang lain saat saya berbicara bahasa Inggris? Ketakutan jika ditertawakan atau diolok-olok saat salah mengucapkan satu kosakata misalnya, bisa mencegah mereka dari berlatih pronunciation. Seharusnya siswa SD yang belajar bahasa Inggris dihindarkan dari ketakutan semacam ini. Dalam beberapa hal anak cenderung lebih rentan dari orang dewasa. Ego mereka masih sedang terbentuk sehingga nuansa komunikasi yang tidak jelas bisa diinterpretasikan secara negatif. Guru harus menolong mereka untuk mengatasi rintangan tersebut yang sangat potensial akan menghambat mereka.
1) Bantu siswa anda untuk dengan ringan tertawa jika mereka membuat kesalahan. Jangan pojokkan mereka dengan kesalahan yang sebenar-benarnya—seperti diungkap di atas—bukan kesalahan.
2) Guru harus sabar dan supportif untuk membangun kepercayaan diri anak, tapi harus tegas dalam hal harapan-harapan terhadap siswa. Meski dalam satu dua hal guru menunjukkan kelembutan sikap dalam rangka menumbuhkan semangat siswa untuk belajar, namun tak lantas kesalahan siswa tak dikoreksi karena takut menyakiti hati, Tetap saja, upaya perbaikan harus menjadi targetan guru di setiap pembelajaran apapun kondisinya.
3) Rangsang partisipasi secara oral sebanyak mungkin terutama untuk siswa yang pendiam, agar mereka berkesempatan untuk mencoba sesuatu yang menarik. Eksplorasi antusiasme mereka dengan sebaik-baiknya. Desain bentuk pembelajaran yang membuat mereka banyak berlatih, terutama berlatih mengucapkan kosakata baru atau ekspresi-ekspresi sederhana dalam Bahasa Inggris. Pada saat mereka berpartisipasi secara oral, utamakan kesenangan mereka dalam hal mencoba hal-hal baru tersebut, luaskan toleransi dari guru jika mereka salah mengucapkan, karena memang sistem bunyi nyang sangat berbeda antara bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.
5. Bahasa yang Otentik dan Bermakna
Anak-anak terfokus kepada apa yang bisa dilakukan bahasa baru ini, disini dan saat ini. Mereka tidak tertarik untuk berurusan dengan bahasa yang tidak berguna bagi mereka saat itu. Bahasa-bahasa yang menurut mereka tidak akan mereka gunakan saat itu, tak begitu menarik minat mereka. Guru harus bekerja keras untuk memberikan pembelajaran bahasa yang bermakna bagi anak.
1) Anak memiliki sensitivitas tinggi terhadap bahasa yang tidak otentik, sehingga beberapa kosakata yang resmi atau kaku di dunia mereka, akan tertolak.
2) Bahasa harus benar-benar diberikan dengan konteksnya. Cerita, situasi dan karakter yang biasa dikenal anak, percakapan sehari-hari, tujuan-tujuan bermakna dalam penggunaan bahasa—semua ini akan memberikan konteks dimana bahasa bisa diterima dan dipahami sehingga hal ini bisa meningkatkan perhatian dan daya ingat. Oleh karenanya, sangat dianjurkan guru bahasa Inggris di SD untuk memberikan bantuan konteks terhadap apapun yang diajarkan melalui dukungan media; gambar, permainan, nyanyian dan bentuk-bentuk lain yang sekiranya menarik minat anak.
3) Pendekatan bahasa secara keseluruhan sangat penting. Jika bahasa dipecah-pecah menjadi potongan-potongan kecil maka siswa tidak akan melihat kaitannya terhadap keseluruhan. Contoh seperti chunk words yang dicontohkan di atas. Jangan pernah berpikir bahwa dalam konteks percakapan sederhana, mengenalkan kata demi kata lebih baik dibanding mengenalkan ekspresi-ekspresinya secara keseluruhan. Juga tekankan aktivitas yang berhubungan antar keempat skill (membaca, mendengar, menulis dan berbicara) agar anak melihat dengan jelas korelasinya satu sama lain.
6. Bakat
Beberapa siswa bisa belajar bahasa lebih baik dibanding yang lain. Pada tahun 1950-1960an, pandangan bahwa anak memiliki bakat linguistik menjadi semakin terkristal dan semakin banyak diyakini. Konsekuensi dari pandangan ini, maka kemampuan dan kemajuan berbahasa siswa di masa depan bisa diprediksi dengan apa yang disebut tes bakat. Namun tes bakat dalam linguistik nampaknya tidak mampu mengukur banyak hal selain kemampuan intelektual umum meskipun memang tes ini dimaksudkan untuk mencari bakat-bakat linguistik. Tes ini hanya tepat bila dihadapkan kepada mereka yang memiliki kemampuan grammar.
7. Sifat Pemelajar
Beberapa siswa usia sekolah dasar,
Beberapa ahli mencirikan kategori tipe pembelajaryang baik sbb:

1. Memiliki toleransi terhadap ambiguitas. Artinya, jika ada sesuatu yang tidak bisa langsung dia akomodasi (tidak sesuai dengan yang pernah ia terima sebelumnya) maka ia tidak lantas menolaknya, tetapi mencari cara untuk menemukan alasan ambiguitas tersebut dan baru menerima atau menolaknya.
2. Siap untuk menghadapi tugas-tugas dengan cara yang positif. Tidak takut atau gelisah menghadapi tugas-tugas, Tidak mengandalkan orang lain kecuali jika benar-benar membutuhkan. Tidak terpikir untuk mengerjakan tugas pembelajaran dengan cara yang negatif, misal mencontek dari teman.
3. Memiliki ego untuk sukses. Tidak puas dengan pencapaian yang minimal. Ingin senantiasa meningkatkan diri dan prestasi.
4. Memiliki aspirasi tinggi. Selalu ingin bertanya, menjawab, mengajukan pendapat, membantu, menginisisasi, mendorong, dan berkontribusi secara positif pada pembelajaran.
5. Berorientasi kepada tujuan.Tahu mengapa ia harus belajar sesuatu yang baru setiap waktu, dan bagaimana dampak hal yang dipelajarinya itu di kehidupannya yang akan datang.
6. Sabar menghadapi tantangan. Tidak lekas mengeluh, menyerah, bahkan berputus asa. Hal-hal sulit dianggapnya menjadi tantangan.
Ada pula yang menambahkan karakteristik pembelajaryang baik yaitu mereka yang:
1. Mampu mencari cara sendiri tanpa selalu dibimbing oleh guru saat mengerjakan tugas-tugas.
2. Kreatif.
3. Membuat tebakan-tebakan yang cerdik. Sebelum guru menyampaikan jawaban terhadap permasalahan apapaun, ia berusaha menebaknya.
4. Menciptakan kesempatan sendiri untuk berlatih. Tidak selalu harus disuruh oleh guru saat harus melatih kemampuan diri seperti mengerjakan tugas dan lain-lain.
5. Memanfaatkan kesalahan untuk memperbaiki diri. Tidak meratapi kesalahan secara berlebihan, melainkan menjadikannya titik awal (starting point) untuk berubah menjadi jauh lebih baik.
6. Menggunakan petunjuk-petunjuk kontekstual. Apapun yang ada di sekelilingnya (gambar, tulisan, poster, dll) bisa membantunya belajar sesuatu.
8. Level Kemampuan Berbahasa
Siswa yang memiliki latar belakang pernah tinggal bersama orangtuanya di negeri yang berbahasa Inggris, akan memiliki kemampuan berbahasa yang unggul dibanding siswa yang sama sekali tak memiliki pengalaman ataupun bersentuhan dengan Bahasa Inggris. Biasanya kemampuan siswa dideskripsikan kedalam tiga level: beginner (pemula), intermediate (menengah) dan advanced (mahir). Masalah yang muncul adalah, standar tingkatan ini untuk tiap sekolah atau lembaga tidak sama. Siswa yang terkategori mahir di satu sekolah, mungkin masih dianggap menengah oleh guru di sekolah lain. Beberapa isu yang terkait dengan levelitas kemampuan berbahasa ini adalah:
a. Efek Datar
Siswa yang berada di level pemula akan beroleh kemajuan yang pesat dan hal tersebut mereka rasakan secara nyata dengan mudah dari minggu ke minggu. Hal ini tidak berlaku pada siswa yang berada di level lebih tinggi, misal level menengah. Kemajuan yang didapat secara alamiah memang tak akan sama pesatnya dengan ketika ia masih menjadi pemula. Hal semacam ini disebut efek datar, dan akan menyebabkan penurunan prestasi belajar bahasanya karena terpengaruh secara psikologis. Guru harus sensitif terhadap adanya efek datar ini, dan jika memungkinkan, mengambil langkah-langkah antsipatif agar efek ini tidak terjadi. Upaya yang dilakukan semisal: memasang target dengan jelas tentang apa yang harus dicapai siswa dan mensosialisasikannya secara kontinyu pada siswa, menjelaskan hal-hal yang masih belum dicapai siswa, memastikan setiap aktivitas melibatkan partisipasi siswa dan bemakna bagi siswa, dan selalu menyalakan minat siswa dengan mngajarkan penggunaan bahasa secara variatif.
b. Metodologi Guru
Beberapa teknik dan latihan untuk pemula bisa jadi kurang tepat untuk siswa yang berada di atasnya. Misalnya penggunaan repetisi (pengulangan). Bagi pemula, penggunaan repetisi lebih efektif dan guru lebih mudah menggunakannya. Namun, bagi siswa di level menengah atau mahir, cara ini akan terasa aneh dan kaku. Untuk level yang lebih tinggi lebih baik guru memilih dan mengorganisir kegiatan semacam diskusi, role play dan sejenisnya.
c. Bahasa yang Digunakan Guru
Guru harus mengadaptasikan bahasa yang digunakan di kelas sesuai dengan level kemampuan siswa. Tidak bijak jika untuk pembelajarpemula guru menggunakan bahasa Inggris yang kompleks. Gunakan saja bahasa Inggris sederhana misalnya instruksi-instruksi sederhana yang diiringi gerak tubuh guru (“move forward”, sambil guru melambaikan tangannya pada siswa), Bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa untuk mengajarkan bahasa Inggris untuk pemula, di kelas sebaiknya guru mencampur bahasa pengantar dalam
pembelajaran, dengan bahasa ibu siswa. Hal ini, menurut beberapa penelitian, mampu mempermudah siswa menguasai bahasa Inggris.
d. Topik
Salah satu isu yang muncul pada pembelajartipe pemula adalah bahan ajar yang dipilihkan guru seringkali mengedepankan topik-topik yang kompleks sehingga sulit untuk mereka dalami karena keterbatasan kemampuan berbahasa mereka. Materi ajar yang kita berikan harus berbeda di setiap levelnya, bukan hanya dari sisi kompleksitasnya tapi juga pada jenis mata ajar, muatan, tingkat kesulitan dan banyaknya. Guru harus kreatif dan selektif dalam memilih bahan ajar sesuai dengan level kemampuan berbahasa anak.
e. Variasi Individu
Jika kita menemukan fakta bahwa seseorang bisa melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain—daya analisisnya lebih kuat, daya ingatnya lebih lama, daya pembedanya terhadap banyak hal lebih sensitif misalnya—hal ini mengindikasikan terdapat perbedaan pada cara kerja otak manusia. Hal ini juga menjelaskan bahwa respon orang terhadap rangsangan yang sama akan berbeda-beda pula. Bagaimana efeknya terhadap kesiapan belajar seorang individu? Bagaimana pula efeknya terhadap cara guru mengajar siswa? Ada dua teori yang mencoba menjelaskan variasi individu semacam ini dan dua teori ini menyajikan pilihan bagi guru terkait dengan apa yang ia harus usahakan agar siswanya mendapat yang terbaik.
1) Neuro-linguistic programming (NLP). Berdasarkan para praktisi NLP, untuk menghadapi dunia, manusia menggunakan sejumlah sistem representasi primer. Sistem ini dideskripsikan dengan akronim VAKOG yang merupakan singkatan dari Visual (kita lihat dan perhatikan) Auditory (kita dengar dan simak) Kinasthetic (kita rasakan secara eksternal, internal atau melalui gerakan) Olfactory
(kita membaui sesuatu) Gustatory (kita merasai sesuatu). Dalam menghadapi dunia, orang menggunakan satu sistem primer yang lebih menonjol. Seseorang akan terstimulasi oleh musik karena sistem primer yang menonjol dalam dirinya adalah sistem auditory. Sedangkan bagi orang lain, ketika sistem primer yang menonjolnya visual maka ia akan terstimulasi oleh gambar. VAKOG mengindikasikan juga beberapa siswa akan mendapatkan banyak hal dengan mendengar, sedangkan yang lain dengan cara melihat.
2) Teori kecerdasan berganda (Multiple Intelligence). Konsep ini diperkenalkan oleh seorang psikologis dari Harvard, Howard Gardner. Ia menegaskan bahwa manusia tidak hanya memiliki satu kecerdasan, tapi sejumlah kecerdasan. Ada 7 kecerdasan menurut Gardner: Kecerdasan Musik/Ritmis, Verbal/Linguistik, Visual/Spasial, Tubuh/Gerak, Logis/Matematis, Intrapersonal dan Interpersonal. Menurutnya, semua orang memiliki kecerdasan ini, namun penampakan yang menonjol dari tiap orang hanya satu atau dua jenis kecerdasan saja. Jika fakta ini memang jelas, implikasinya pada pengajaran adalah, jelas guru harus peka bahwa setiap tugas pembelajaran tidak akan berdampak sama pada setiap anak baik itu dari sisi proses maupun hasil. Guru harus pandai mengkreasikan berbagai media, model, maupun alat bantu pembelajaran agar setiap anak dengan potensi yang berbeda-beda tersebut akan mampu terakomodasi kebutuhannya di kelas sehingga ia belajar dalam atmosfir yang kondusif. Murray Loom, guru pada Sekolah Dasar Giralang di Canberra, Australia memberikan gambaran proses 7 kecerdasan ini dalam kerangka implikasinya terhadap siswa.

f. Motivasi
Dalam bidang apapun, semua orang sepakat bahwa motivasi adalah kunci menuju sukses. Sehingga siapapun orangnya akan berupaya keras untuk menumbuhkan motivasi dalam dirinya. Jika motivasi menjadi sedemikian penting, maka menjadi masuk akal ketika banyak sekali usaha diarahkan untuk menggali dan mengeksplorasi hal ini. Apakah siswa memiliki motivasi yang sama dalam belajar? Atau, apakah mereka akan termotivasi dengan cara yang sama?
Motivasi adalah dorongan internal yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu dalam rangka mencapai suatu tujuan (Harper, 1988). Marion Williams dan Richard Burden menyodorkan definisi yang sejalan dengan Harper, bahwa motivasi adalah „keadaan kesadaran kognitif‟ yang mampu memprovokasi „keputusan untuk bertindak‟ sebagai akibat dari adanya „upaya intelektual yang kuat‟ dan „upaya fisik‟, sehingga seseorang bisa mencapai „tujuan yang telah ditentukan‟ (Williams and Burden 1997:120). Selanjutnya mereka ungkapkan bahwa besar kecilnya motivasi akan sangat bergantung pada seberapa berharganya mereka memaknai hasil yang mereka harapkan. Motivasi biasa didikotomikan menjadi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik dilatarbelakangi oleh berbagai faktor luar. Misal, lulus ujian karena merupakan prasyarat masuk ke jenjang berikutnya, atau berharap dapat hadiah dari orangtua dan lain sebagainya. Motivasi instrinsik sebaliknya, datang dari dalam diri individu. Seseorang akan termotivasi belajar secara internal jika suasana pembelajaran yang diciptakan benar-benar membuatnya tertarik untuk belajar, berpikir, atau melakukan aktivitas pembelajaran tersebut. Pembelajaran yang menarik dapat membantu siswa belajar dengan lebih baik, disadari ataupun bahkan tidak oleh siswa tersebut.
Lingkungan dimana siswa tinggal, orang-orang terdekat, guru dan metode adalah 4 hal eksternal yang bisa menjadi sumber motivasi internal bagi siswa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 308 pengikut lainnya.