Kajian Wacana Bahasa Indonesia

WACANA BAHASA INDONESIA

Sejarah Singkat Kajian Wacana

Pada mulanya linguistik merupakan bagian dari filsafat. Linguistik modern, yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure pada akhir abad ke-19, mengkaji bahasa secara ilmiah. Kajian lingusitik modern pada umumnya terbatas pada masalah unsur-unsur bahasa, seperti bunyi, kata, frase, dan kalimat serta unsur makna (semantik). Kajian linguistik rupanya belum memuaskan. Banyak permasalahan bahasa yang belum dapat diselesaikan. Akibatnya, para ahli mencoba untuk mengembangkan disiplin kajian baru yang disebut analisis wacana.

Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa.

Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.

Pengertian Wacana dan Analisis Wacana

Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.

Persyaratan Terbentuknya Wacana

Penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).

Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan padu apabila kalimat-kalimatnya disusun secara teratur dan sistematis, sehingga menunjukkan keruntututan ide yang diungkapkan.

STRUKTUR WACANA BAHASA INDONESIA
Elemen-elemen Wacana

Elemen-elemen wacana adalah unsur-unsur pembentuk teks wacana. Elemen-elemen itu tertata secara sistematis dan hierarkis. Berdasarkan nilai informasinya ada elemen inti dan elemen luar inti. Elemen inti adalah elemen yang berisi informasi utama, informasi yang paling penting. Elemen luar inti adalah elemen yang berisi informasi tambahan, informasi yang tidak sepenting informasi utama.

Berdasarkan sifat kehadirannya, elemen wacana terbagi menjadi dua kategori, yakni elemen wajib dan elemen manasuka. Elemen wajib bersifat wajib hadir, sedangkan elemen manasuka bersifat boleh hadir dan boleh juga tidak hadir bergantung pada kebutuhan komunikasi.

Relasi Antarelemen dalam Wacana

Ada berbagai relasi antarelemen dalam wacana. Relasi koordinatif adalah relasi antarelemen yang memiliki kedudukan setara. Relasi subordinatif adalah relasi antarelemen yang kedudukannya tidak setara. Dalam relasi subordinatif itu terdapat atasan dan elemen bawahan. Relasi atribut adalah relasi antara elemen inti dengan atribut. Relasi atribut berkaitan dengan relasi subordinatif karena relasi atribut juga berarti relasi antara elemen atasan dengan elemen bawahan.

Relasi komplementatif adalah relasi antarelemen yang bersifat saling melengkapi. Dalam relasi itu, masing-masing elemen memiliki kedudukan yang otonom dalam membentuk teks. Dalam jenis ini tidak ada elemen atasan dan bawahan.


Struktur Wacana Bahasa Indonesia

Struktur wacana adalah bangun konstruksi wacana, yakni organisasi elemen-elemen wacana dalam membentuk wacana. Struktur wacana dapat diperikan berdasarkan peringkat keutamaan atau pentingnya informasi dan pola pertukaran. Berdasarkan peringkat keutamaan informasi ada wacana yang mengikuti pola segitiga tegak dan ada wacana yang mengikuti pola segitiga terbalik. Berdasarkan mekanisme pertukaran dapat dikemukakan pola-pola pertukaran berikut: (1) P-S, (2) T-J, (3) P-T, (4) T-T, (5) Pr-S, dan (6) Pr-T.

REFERENSI DAN INFERENSI SERTA KOHESI DAN KOHERENSI WACANA BAHASA INDONESIA

Referensi dan Inferensi Wacana Bahasa Indonesia

Referensi dalam analisis wacana lebih luas dari telaah referensi dalam kajian sintaksis dan semantik. Istilah referensi dalam analisis wacana adalah ungkapan kebahasaan yang dipakai seorang pembicara/penulis untuk mengacu pada suatu hal yang dibicarakan, baik dalam konteks linguistik maupun dalam konteks nonlinguistik. Dalam menafsirkan acuan perlu diperhatikan, (a) adanya acuan yang bergeser, (b) ungkapan berbeda tetapi acuannya sama, dan (c) ungkapan yang sama mengacu pada hal yang berbeda.

Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur).

Kohesi dan Koherensi Wacana Bahasa Indonesia

Istilah kohesi mengacu pada hubungan antarbagian dalam sebuah teks yang ditandai oleh penggunaan unsur bahasa sebagai pengikatnya. Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk koherensi. Oleh sebab itu, dalam sebuah teks koherensi lebih penting dari kohesi. Namun bukan berarti kohesi tidak penting, Jenis alat kohesi ada tiga, yaitu substitusi, konjungsi, dan leksikal.

Koherensi adalah kepaduan gagasan antarbagian dalam wacana. Kohesi merupakan salah satu cara untuk membentuk koherensi. Cara lain adalah menggunakan bentuk-bentuk yang mempunyai hubungan parataksis dan hipotaksis (parataxis and hypotaxis). Hubungan parataksis itu dapat diciptakan dengan menggunakan pernyataan atau gagasan yang sejajar (coordinative) dan subordinatif. Penataan koordinatif berarti menata ide yang sejajar secara beruntun.

 

JENIS-JENIS WACANA BAHASA INDONESIA

Wacana Lisan dan Tulis

Berdasarkan saluran yang digunakan dalam berkomunikasi, wacana dibedakan atas wacana tulis dan wacana lisan. Wacana lisan berbeda dari wacana tulis. Wacana lisan cenderung kurang terstruktur (gramatikal), penataan subordinatif lebih sedikit, jarang menggunakan piranti hubung (alat kohesi), frasa benda tidak panjang, dan berstruktur topik-komen. Sebaliknya wacana tulis cenderung gramatikal, penataan subordinatif lebih banyak, menggunakan piranti hubung, frasa benda panjang, dan berstruktur subjek-predikat.


Wacana Monolog, Dialog, dan Polilog

Berdasarkan jumlah peserta yang terlibat pembicaraan dalam komunikasi, ada tiga jenis wacana, yaitu wacana monolog, dialog, dan polilog. Bila dalam suatu komunikasi hanya ada satu pembicara dan tidak ada balikan langsung dari peserta yang lain, maka wacana yang dihasilkan disebut monolog. Dengan demikian, pembicara tidak berganti peran sebagai pendengar. Bila peserta dalam komunikasi itu dua orang dan terjadi pergantian peran (dari pembicara menjadi pendengar atau sebaliknya), maka wacana yang dibentuknya disebut dialog. Jika peserta dalam komunikasi lebih dari dua orang dan terjadi pergantian peran, maka wacana yang dihasilkan disebut polilog.


Wacana Deskripsi, Eksposisi, Argumentasi, Persuasi dan Narasi

Dilihat dari sudut pandang tujuan berkomunikasi, dikenal ada wacana dekripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi, dan narasi. Wacana deskripsi bertujuan membentuk suatu citra (imajinasi) tentang sesuatu hal pada penerima pesan. Aspek kejiwaan yang dapat mencerna wacana narasi adalah emosi. Sedangkan wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima agar yang bersangkutan memahaminya. Wacana eksposisi dapat berisi konsep-konsep dan logika yang harus diikuti oleh penerima pesan. Oleh sebab itu, untuk memahami wacana eksposisi diperlukan proses berpikir. Wacana argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan pada pertimbangan logika maupun emosional. Untuk mempertahankan argumen diperlukan bukti yang mendukung. Wacana persuasi bertujuan mempengaruhi penerima pesan agar melakukan tindakan sesuai yang diharapkan penyampai pesan. Untuk mernpengaruhi ini, digunakan segala upaya yang memungkinkan penerima pesan terpengaruh. Untuk mencapai tujuan tersebut, wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasional. Wacana narasi merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita. Oleh karena itu, unsur-unsur yang biasa ada dalam narasi adalah unsur waktu, pelaku, dan peristiwa.

KONTEKS WACANA BAHASA INDONESIA
Hakikat Konteks

Konteks adalah benda atau hal yang berada bersama teks dan menjadi lingkungan atau situasi penggunaan bahasa. Konteks tersebut dapat berupa konteks linguistik dan dapat pula berupa konteks ekstralinguistik. Konteks linguistik yang juga berupa teks atau bagian teks dan menjadi lingkungan sebuah teks dalam wacana yang sama dapat disebut konteks ekstralinguistik berupa hal-hal yang bukan unsur bahasa, seperti partisipan, topik, latar atau setting (tempat, waktu, dan peristiwa), saluran (bahasa lisan atau tulis), bentuk komunikasi (dialog, monolog, atau polilog)

Pengguna bahasa harus memperhatikan konteks agar dapat menggunakan bahasa secara tepat dan menentukan makna secara tepat pula. Dengan kata lain, pengguna bahasa senantiasa terikat konteks dalam menggunakan bahasa. Konteks yang harus diperhatikan adalah konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik.

Macam-macam Konteks

Konteks adalah sesuatu yang menyertai atau yang bersama teks. Secara garis besar, konteks wacana dibedakan atas dua kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. Konteks linguistik itu mencakup penyebutan depan, sifat kata kerja, kata kerja bantu, dan proposisi positif

Di samping konteks ada juga koteks. Koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks yang lain. Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks.Wujud koteks bermacam-macam, dapat berupa kalimat, pargraf, dan bahkan wacana.

Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang bukan berupa unsur-unsur bahasa. Konteks ekstralinguistik itu mencakup praanggapan, partisipan, topik atau kerangka topik, latar, saluran, dan kode. Partisipan adalah pelaku atau orang yang berpartisipasi dalam peristiwa komunikasi berbahasa. Partisipan mencakup penutur, mitra tutur. dan pendengar. Latar adalah tempat dan waktu serta peristiwa beradanya komunikasi. Saluran adalah ragam bahasa dan sarana yang digunakan dalam penggunaan wacana. Kode adalah bahasa atau dialek yang digunakan dalam wacana.

Dalam menganalisis wancana sasaran utamanya bukan pada struktur kalimat tetapi pada status dan nilai fungsional kalimat dalam konteks, baik itu konteks linguistik ataupun konteks ekstralinguistik.

Tiga manfaat konteks dalam analisis wancana.

  1. Penggunaan konteks untuk mencari acuan, yaitu pembentukan acuan berdasarkan konteks linguistik.

  2. Penggunaan konteks untuk menentukan maksud tuturan, yaitu bahwa maksud sebuah tuturan ditentukan oleh konteks wancana.

  3. Penggunaan konteks untuk mencari bentuk tak terujar yaitu bentuk yang memiliki unsur tak terujar atau bentuk eliptis adalah bentuk yang hanya dapat ditentukan berdasarkan konteks.


ANALISIS WACANA

Prinsip Interpretasi Lokal dan Prinsip Analisis

Dalam analisis wacana berlaku dua prinsip, yakni prinsip interpretasi lokal dan prinsip analogi. Prinsip interpretasi lokal adalah prinsip interpretasi berdasarkan konteks, baik konteks linguistik atau koteks maupun konteks nonlinguistik. Konteks nonlinguistik yang merupakan konteks lokal tidak hanya berupa tempat, tetapi juga dapat berupa waktu, ranah penggunaan wacana, dan partisipan.

Prinsip interpretasi analogi adalah prinsip interpretasi suatu wacana berdasarkan pengalaman terdahulu yang sama atau yang sesuai. Dengan interpretasi analogi itu, analis sudah dapat memahami wacana dengan konteks yang relevan saja. Hal itu berarti bahwa analis tidak harus memperhitungkan semua konteks wancana.

Skemata dalam Analisis Wacana

Skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. Skemata itu memiliki struktur pengendalian, yakni cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan. Ada dua cara yang disebut pengaktifan dalam struktur itu, yakni (1) cara pengaktifan dari atas ke bawah dan (2) cara pengaktifan dari bawah ke atas. Pengaktifan atas ke bawah adalah proses pengendalian skemata dari konsep ke data atau dari keutuhan ke bagian. Pengaktifan bawah ke atas adalah proses pengendalian skemata dari data ke konsep atau dari bagian ke keutuhan.

Skemata berfungsi baik bagi pembaca/pendengar wacana maupun bagi analis wacana. Bagi pendengar/pembaca, skemata berfungsi untuk memahami wacana. Bagi analis wacana, di samping berfungsi untuk memahami wacana, skemata juga berfungsi untuk melakukan analisis berbagai aspek wacana: elemen wacana, struktur wacana, acuan kewacanaan, koherensi dan kohesi wacana, dan lain-lain.

Kegagalan pemahaman wacana terjadi karena tiga kemungkinan. Pertama, pendengar/pembaca mungkin tidak mempunyai skemata yang sesuai dengan teks yang dihadapinya. Kedua, pendengar/pembaca mungkin sudah mempunyai skemata yang sesuai, tetapi petunjuk-petunjuk yang disajikan oleb penulis tidak cukup memberikan saran tentang skemata yang dibutuhkan. Ketiga, pembaca, mungkin mendapatkan penafsiran wacana secara tetap sehingga gagal memahami maksud penutur.

Analisis Kohesi dan Koherensi

Praktik analisis wacana dilaksanakan dengan menerapkan prinsip interpretasi lokal dan prinsip interpretasi analogi. Analisis wacana dapat diarahkan pada: struktur, kohesi, dan koherensi, yang dapat dioperasionalkan antara lain untuk menetapkan hubungan antarelemen wacana dan alat-alat kohesi yang berlaku dalam sebuah teks. Dalam analisis itu diterapkan konteks yang relevan dengan kebutuhan analisis.

Sumber Buku Wacana Bahasa Indonesia, karya Suparno dan Martutik

About these ads

59 Tanggapan

  1. bisa minta tolong terangkan jenis kohesi ga?

  2. tolong dijelaskan apa arti atau maksud dari praanggapan. untuk diketahui, ini ada dalam bahasan diskurs

  3. aq lagi nyusun tesis ttg analisis novel, tapi masih kurang info ttg analisis wacana. bantuin ya pak, trims

  4. bisa minta tolong berikan contoh WACANA gak tolong ya????????

  5. bisa minta tolong jelasin prinsip analogi dan penafsiran lokal gak????

  6. harusnya kajian wacana tersebut d sertai dengan contoh analisis wacananya, baik dari media koran maupun dari buku bacaan. Terimakasih

  7. As. nama saya doang. Saya cuma mau beri saran. Kalau bisa kajian wacana tersebut disertai dengan contoh analisis waca biar yang baca tambah mengerti. Terimakasih

  8. [...] lagi dalam http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kajian-wacana-bahasa-indonesia/) analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks [...]

  9. trmksh infonya, kutunggu info selanjutnya

  10. pak aku nyari macam-macam teks bahasa indonesia seperti fabel, legenda, dan lainnya kug sy search d google ktmu website bapak tp bapak tidak membahasnya ..

    pak tlong carikan definisi dan penjelasannya !!
    kirm k email sy ato blog sy ….

  11. mohon tolong dikirimkan contoh wacana argumentasi, eksposisi, persuasi ke alamat email di atas.

    terima kasih

  12. tlg bantu saya memberi analisis wacana tulis berdasarkan poin of view dan intrepetasi wacana tulis

  13. pak, klo mengutip dari buku tolong dunk dicantumin referinsinya, setelah saya baca artikel di atas ttg wacana anda banyak megutip dari buku karangan Rani, dkk. (2006) tentang analisis wacana. nanti dikira plagiat lho..terima kasih

  14. bagaimana menganalisis keutuhan karangan siswa SMP? Apa bisa dengan kojesi dan koherensi?? Tolong jelaskan penerapannya. Tlg balas ke email saya leeya_geg@yahoo.com
    Thanks. Saya sedang menyusun skripsi tentang keutuhan karangan siswa SMP di kota denpasar.

  15. dosen aku kasi tugas utk buat contoh wacna lisan dalam bentuk tulisan. Gimana? n ada contoh ga?klo ada, tlg ya…tengkyu so much

  16. oke2 banget.. bisa minta teori tentang dasar-dasar kajian prosa fiksi ga? soalnya susah bgt nyari bukunya,..

  17. Masih pusing mencari analisis yang cocok, apakah analisis wacana, analisis semiotik ataukah analisis isi.

  18. PAK saya mau tanya, pendekatan metode penelitian kualitatif dialectical documentation approach itu penjelasannya apa ya?
    mohon dibalas

  19. PAK saya mau tanya, pendekatan metode penelitian kualitatif dialectical documentation approach itu penjelasannya apa ya?
    mohon dibala ya…penting

  20. contoh referensi

  21. [...] Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa (Massofa, 2008). [...]

  22. jelaskan hubungan bahasa dengan kebudayaan baik secara koordinatif maupun subordinatif

  23. tolong carikn dl skripsi yg membhas tntang wacana …thnks sblmx

  24. pak tambah lagi tentang konteks wacana ya. trims

  25. [...] Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa (Massofa, 2008). [...]

  26. lenkap banget. numpang baca ya pak. makasi

  27. lu..mau tau jwbnya mknya ke stkip pgri bandar lampung

  28. apa maksud struktur wacanapola segitiga tegak dan pola segitiga terbalik? makasih pak

  29. bsa gk nunjukkin gmna itu wacana kohesi dan koherensi,dan bagaimana membedakan kedua wacana tersebut.

  30. wacana monolog, dialog, dan pipilog. itu seperti apa ?, bisa gak dituangkan contoh atau pun defenisinya juga, so saya kurang paham tentang wacana ini.

  31. cici-ciri dari wacana narasi,deskripsi,argumentasi,narasi,eksposisi itu gimna y?..

    aku tunggu balasannya y?……….

  32. Sbuah pnjlsan mngkn prluh dtambah dngan sbuah contoh..Agar memudahkn pmbca mmahaminya….N ap pngertian wacana secara umum.?

  33. terima kasih pak, blog bapak sangat membantu tugas kuliah saya….. Smoga sukses selalu…! kalau bapak bisa juga menuliskan blog tentang perbedaan wacana, topik, dan tema.

  34. saya sedang mencari referensi ttg analisis wacana bahasa perancis,,apakah struktur wacana semua bahasa itu sama?? terima kasih,,

  35. Tlong berikan contoh wacana analogi donk……..please……..!

  36. tolong jelaskan sejarah dan fungsi wcana donk? terima kasih

  37. kalau koteks itu apa pak?saya masih bingung dengan arti yang sesungguhnya?

  38. pak ni eka wahyuni anak semester 10, pak eka lagi meneliti mengenai wacana dalam novel. bapak punya ga referensi mengenai wacana kalo ada eka boleh pinjem ga……thanks pak

  39. Pak, bisa tidak bapak menjelaskan tentang jenis-jenis wacana secara rinci, dan bagaimana wacana persuasi dal khotbah, dan wacana persuasi terbagi atas apa saja? terima kasih saya sangat mengharapkan jawaban bapak

  40. oh iya lupa, kalau bisa jawabannya kirim ke email saya, naba.habit@yahoo.com

  41. apa ada pnjelasan ttg analisis konteks berita??
    trims

  42. Tolong lah contoh2 perbedaan situasi,pembicara,pendengar,waktu,tempat,adegan,bentuk amanat,sasaran dan kode dalam konteks wacana

  43. bagaimana menentukan wacana yang baik

  44. tolonglh contoh hubungan parataksis koordinatif dan subordinatif serta contoh hubungan hipotaksis yang diungkpkn dengn syart, penambahan dan laporan. terimakasih.

  45. Tolong dong buatin paragraf yang ada kohesi dan koherensinya….
    tx yaa…

  46. tolong buatin contoh hubungan parataksis koordinatif dan subordinatif serta contoh hubungan hipotaksis yang diungkpkn dengn syart, penambahan dan laporan. terimakasih.

  47. tolong dong bwtkan materi yang menyangkut penyusunan cawana yang lengakap……….!!!!!!!
    terimah kasih

  48. kasih contoh2 wacan nya, sama rincian wacana….. y…?

  49. hmmmmzzzz,, informasi nya cukup ,menarik ne….

  50. Pak aku masih bingung antara analisi pragmatik bahasa dengan analisi semantik dan letak perbedaannya dimana? tlng jelaskan pak! makasih..

  51. Makasi atas penjelasanx,tpi bisa minta tlg nga..,aspek yg sama dan membedakan pada ragam wacana narasi,deskripsi,eksposisi,argumentasi dan persuai,tlg yaaa

  52. Membaca pertanyaan2 yang ada, bayak sekali jauh dari nilai etika, bertanya..tapi terkesan perintah..kalau seperti ini digolongkan wacana apa ya…? Maaf pak…gemes aja lihat pertanyaan anak2 muda..kayaknya struktur kalimat bertanya yang baik perlu juga diberikan contoh dalam blog ini. Salam hormat.

  53. tolong jelaskan hubungan wacana dengan empat aspek keterampilan berbahasa

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 305 pengikut lainnya.