Pembangunan Masyarakat

Pembangunan Masyarakat
Oleh Suripto

A. Pendahuluan

Paradigma pembangunan nasional Indonesia dewasa ini sudah semakin berorientasi pada upaya penanggulangan kemiskinan, dengan sasaran penyelesaian masalahnya dalam. 10 tahun. Ini antara lain dapat dibuktikan dengan masuknya program khusus penanggulangan kemiskinan dan penyediaan anggaran yang relatif besar untuk mencapai sasaran yang ditetapkan. Misalnya, program IDT yang menyediakan anggaran hampir Rp 2 triliun selama 3 tahun sejak 1994/1995. Namun, sudah diterimanya paradigma pembangunan yang berorientasi pada penanggulangan kemiskinan, tidak berarti bahwa semua pihak, termasuk para ilmuwan dari berbagai bidang sudah ikhlas menerima dan sungguh sungguh berusaha mengamalkannya.

Namun, masalahnya bukanlah bahwa paradigma pembangunan ekonomi harus atau perlu berubah, karena sebenarnya memang sudah berubah. Konsep konsep dasar (atau teori-teori) yang berasal dari Barat tidak usah terlalu kita “puja-puja”, tetapi sebaliknya kita harus terus mencari konsep/teori yang lebih realistik dan lebih relevan, yang dapat membantu para penentu kebijaksanaan menghasilkan rumusan rumusan kebijaksanaan dan program yang dapat menghindarkan kita dari masalah masalah kesenjangan sosial ekonomi nasional seperti yang kita hadapi dewasa ini.

B. Kemakmuran, Kesejahteraan, dan Keadilan

Tujuan akhir pembangunan nasional adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena ini merupakan sila terakhir Pancasila, maka kita tekankan bahwa pembangunan harus selalu merupakan pengamalan Pancasila. Mengamalkan Pancasila sebagai ideologi bangsa berarti setiap sila harus dapat kita amalkan, yaitu sila pertama dan kedua sebagai landasan moralnya, sila ketiga dan keempat sebagai cara atau metode kerjanya, dan sila kelima sebagai tujuan akhirnya.

Jalan menuju terwujudnya keadilan sosial bukanlah merupakan jalan yang mudah dan lurus, tetapi melalui berbagai tahap. Pertama, jalan/tahap ekonomi, yaitu peningkatan kemakmuran materil. Kedua, jalan/tahap kesejahteraan sosial. Ketiga, tahap keadilan sosial.

Dalam Bab XIV UUD 1945 yang berjudul “Kesejahteraan Sosial, ditegaskan bahwa (sistem) perekonomian berdasar atas asas kekeluargaan, di mana sumber daya alam sebagai “pokok-pokok kemakmuran rakyat dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Selanjutnya apabila kemakmuran bagi seluruh rakyat belum tercapai, maka Pasal 34 UUD 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

C. Negara dan Sistem Ekonomi

Para ahli ekonomi yang tergabung dalarn ISEI pernah secara eksplisit diminta menjabarkan pengertian demokrasi ekonomi. Sejumlah seminar kemudian digelar di pusat pemikiran oleh anggotaanggota ISEI, yang kemudian melahirkan konsep tentang “ekonomi terkendali”, dan selanjutnya pada kongres Medan, Oktober 1996 dikembangkan lebih lanjut menjadi konsep “ekonomi terkelola”.
Baik dalam konsep “ekonomi terkendali” maupun “ekonomi terkelola” arah pemikiran para ekonom selalu berkisar pada dikotomi antara peranan ekonomi pemerintah atau negara yang besar (ekonomi komando sosialistis) dengan yang sebaliknya di mana peranan pemerintah bersifat sangat minimal, yang untuk mudahnya disebut sebagai ekonomi yang “liberal kapitalistis”. Karena diskusi diskusi antar para ahli ini lebih sering dilakukan secara umum, dan jarang yang disertai atau menunjuk pada hasil penelitian empirik yang khusus dilakukan untuk tujuantujuan ini, maka kesimpulan kesimpulannya juga jarang meyakinkan, terutama bagi ahli-ahli disiplin lain yang terkait.

D. Ekonomi Rakyat

Paradigma pembangunan ekonomi Indonesia dewasa ini adalah pembangunan yang bertumpu pada kekuatan ekonomi rakyat, yaitu pembangunan yang semakin memperkuatnya dan memberdayakannya. Paradigma pembangunan ekonomi yang demikian sudah terkandung jelas dalam suara hati nurani rakyat Indonesia sebagaimana dimuat dalam. GBHN 1993.

Pengertian ekonomi rakyat adalah pengertian/konsep asli bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pengertian ekonomi kekeluargaan dan ekonomi kerakyatan. Pengertian ekonomi kekeluargaan tidak dilawankan dengan pengertian ekonomi konglomerat, tetapi menunjuk pada konsep-konsep ilmu penyuluhan pertanian yang membedakan pengertian pertanian rakyat dengan sistem pertanian dan perkebunan besar yang dikembangkan oleh para pemodal asing dengan modal besar dan teknologi modern pada abad XIX. Maka “ekonomi rakyat” adalah satu kata (konsep) bukan sekadar rangkaian dari kata ekonomi dan rakyat.

E. Penutup

Visi kita menghadapi Era Pembangunan Awal abad XXI cukup jelas, yaitu globalisasi tetapi dengan bertumpu pada kekuatan ekonomi rakyat. Ini tidak berarti meremehkan kekuatan ekonomi para pengusaha besar yang sudah “menjagat” yang dapat diandalkan. Namun, kedua kekuatan ekonomi nasional ini, konglomerat dan ekonomi rakyat tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri, lebih-lebih bersaing dan saling mematikan. Bahkan tidak diragukan sama sekali bahwa ketangguhan, keandalan, dan kemandirian ekonomi nasional kita amat ditentukan oleh kemanunggalan keduanya, baik ke luar maupun terutama ke dalam. Di dalam negeri stabilitas perekonomian nasional hanya dapat digalang apabila kedua “sektor” ekonomi ini bermitra, saling mendukung, dan saling menghidupi. Artinya, ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial yang kini tampak menganga lebar harus benar-benar ditutup dan diciutkan, atau dicegah jangan sampai melebar, jika kita tidak menginginkan berlanjutnya keresahan-keresahan sosial yang bisa berkembang menjadi kerusuhan-kerusuhan yang sudah banyak terjadi. Kesenjangan ekonomi-sosial, perlu kita atasi dengan mengenali sumber-sumber permasalahannya.

Baca Artikel Lain

Menambah Pengetahuan Tentang Parasitologi;>>>> Baca

Investasi Dalam Bentuk Saham;>>> Baca

Apakah Anak Saya Bermasalah ?;>>>>>>>> Baca


Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik;>>>>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Self-disclosure

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Self-disclosure

Menurut Joseph A. Devito adalah sebagai berikut.
1.Efek Diadik
Pada bahasan di atas sudah kita tegaskan bahwa self-disclosure itu bersifat timbal balik. Oleh karena itu, keterbukaan diri kita yang ditanggapi dengan keterbukaan lawan komunikasi yang membuat interaksi antara kita dan lawan komunikasi bisa berlangsung. Keterbukaan diri kita mendorong lawan komunikasi kita dalam komunikasi atau interaksi di antara dua orang (dyad) untuk membuka diri juga. Inilah yang dinamakan efek diadik itu
2. Ukuran Khalayak
Tadi juga kita sudah membahas, self-disclosure itu merupakan salah satu karakteristik komunikasi antarpribadi. Oleh karena itu, self-disclosure lebih besar kemungkinannya terjadi dalam komunikasi dengan khalayak kecil, misalnya dalam komunikasi antarpribadi atau komunikasi kelompok kecil. Alasannya sederhana saja. Jika khalayak komunikasi itu besar jumlahnya maka kita akan sulit mengontrol dan menerima umpan balik dari lawan komunikasi kita. Apabila khalayaknya kecil saja maka kita bisa mengontrol situasi komunikasi dan bisa melihat umpan balik itu. Apabila lawan komunikasi kita memberikan respons yang baik terhadap self-disclosure kita, dengan melakukan self-disclosure juga maka proses komunikasi yang menyingkapkan diri kita itu akan terus berlangsung.
3. Topik Bahasan
Kita ingat kembali lapisan bawang dalam Gambar 3.2. tadi. Pada awalnya orang akan selalu berbicara hal-hal yang umum saja. Makin akrab maka akan makin mendalam topik pembicaraan kita. Tidak mungkin kita berbicara soal-soal yang sangat pribadi, misalnya kehidupan seksual kita, pada orang yang baru kita kenal atau orang yang tidak kita akrabi. Kita akan lebih memilih topik percakapan yang umum, seperti soal cuaca, politik secara umum, kondisi keuangan negara atau kondisi sosial.
4.Valensi
Ini terkait dengan sifat positif atau negatif self-disclosure. Pada umumnya, manusia cenderung lebih menyukai valensi positif atau self-disclosure positif dibandingkan dengan self-disclosure negatif. Apalagi apabila lawan komunikasi kita bukanlah orang yang kita akrabi betul. Namun, apabila lawan komunikasi kita itu adalah orang yang sudah kita akrabi betul maka self-disclosure negatif bisa saja dilakukan.
5. Jenis Kelamin
Wanita lebih terbuka dibandingkan dengan pria. Bisa saja ungkapan tersebut merupakan ungkapan stereotipikal. Namun, beberapa penelitian menunjukkan ternyata wanita memang lebih terbuka dibandingkan dengan pria. Meski bukan berarti pria juga tidak melakukan self-disclosure. Bedanya, apabila wanita mengungkapkan dirinya pada orang yang dia sukai maka pria mengungkapkan dirinya pada orang yang dipercayainya.
6. Ras, Nasionalitas, dan Usia
Ini juga bisa saja dipandang sebagai bentuk stereotip atas ras, nasionalitas, dan usia. Namun, kenyataan menunjukkan memang ada ras-ras tertentu yang lebih sering melakukan self-disclosure dibandingkan dengan ras lainnya. Misalnya kulit putih Amerika lebih sering melakukan self-disclosure dibandingkan dengan orang negro. Begitu juga dengan usia, self-disclosure lebih banyak dilakukan oleh pasangan yang berusia antara 17-50 tahun dibandingkan dengan orang yang lebih muda atau lebih tua.
7.Mitra dalam Hubungan
Dengan mengingat tingkat keakraban sebagai penentu kedalaman self-disclosure maka lawan komunikasi atau mitra dalam hubungan akan menentukan self-disclosure itu. Kita melakukan self-disclosure kepada mereka yang kita anggap sebagai orang yang dekat misalnya suami/istri, teman dekat atau sesama anggota keluarga. Di samping itu, kita juga akan memandang bagaimana respon mereka. Apabila kita pandang mereka itu orang yang hangat dan penuh perhatian maka kita akan melakukan self-disclosure, apabila sebaliknya yang terjadi maka kita akan lebih memilih untuk menutup diri.

Baca Artikel Lain

Melatih Tanggung Jawab;>>>> Baca

Komunikasi Dan Self-disclosure;>>>> Baca

Remaja Dan Perilaku Konsumtif;>>>>>>>> Baca

Komunikasi Persuasif Dalam Iklan;>>>>>>>>> Baca

Partai Politik Dan Sistem Kepartaian;>>>>>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

BEBAN KERJA GURU

BEBAN KERJA GURU

Kewajiban guru sesuai Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 35 ayat (1) mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. Pasal 35 ayat (2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dan sebanyakbanyaknya 40 jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.
Dalam melaksanakan tugas pokok yang terkait langsung dengan proses pembelajaran, guru hanya melaksanakan tugas mengampu 1 (satu) jenis mata pelajaran saja, sesuai dengan kewenangan yang tercantum dalam sertifikat pendidiknya.

Disamping itu, guru sebagai bagian dari manajemen sekolah, akan terlibat langsung dalam kegiatan manajerial tahunan sekolah, yang terdiri dari siklus kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Rincian kegiatan tersebut antara lain penerimaan siswa baru, penyusunan kurikulum dan perangkat lainnya, pelaksanaan pembelajaran termasuk tes/ulangan, Ujian Nasional (UN), ujian sekolah, dan kegiatan lain. Tugas tiap guru dalam siklus tahunan tersebut secara spesifik ditentukan oleh manajemen sekolah tempat guru bekerja.

Jam Kerja

Sebagai tenaga profesional, guru baik PNS maupun bukan PNS dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban memenuhi jam kerja yang setara dengan beban kerja pegawai lainnya yaitu 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja (@ 60 menit) per minggu. Dalam melaksanakan tugas, guru mengacu pada jadwal tahunan atau kalender akademik dan jadwal pelajaran. Kegiatan tatap muka dalam satu tahun dilakukan kurang lebih 38 minggu atau 19 minggu per semester. Kegiatan tatap muka guru dialokasikan dalam jadwal pelajaran yang disusun secara mingguan. Khusus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ada kalanya jadwal pelajaran tidak disusun secara mingguan, tapi mengunakan sistim blok atau perpaduan antara sistim mingguan dan blok. Pada kondisi ini, maka jadwal pelajaran disusun berbasis semester, tahunan, atau bahkan per tiga tahunan. Diluar kegiatan tatap muka, guru akan terlibat dalam aktifitas persiapan tahunan/semester , ujian sekolah maupun Ujian Nasional (UN), dan kegiatan lain akhir tahun/semester.

Uraian Tugas Guru
1 Merencanakan Pembelajaran
Guru wajib membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada awal tahun atau awal semester, sesuai dengan rencana kerja sekolah. Kegiatan penyusunan RPP ini diperkirakan berlangsung selama 2 (dua) minggu atau 12 hari kerja. Kegiatan ini dapat diperhitungkan sebagai kegiatan tatap muka.

2 Melaksanakan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan dimana terjadi interaksi edukatif antara peserta didik dengan guru, kegiatan ini adalah kegiatan tatap muka yang sebenarnya. Guru melaksanakan tatap muka atau pembelajaran dengan tahapan kegiatan berikut.
a. Kegiatan awal tatap muka
• Kegiatan awal tatap muka antara lain mencakup kegiatan pengecekan dan atau penyiapan fisik kelas, bahan pelajaran, modul, media, dan perangkat administrasi.
• Kegiatan awal tatap muka dilakukan sebelum jadwal pelajaran yang ditentukan, bisa sesaat sebelum jadwal waktu atau beberapa waktu sebelumnya tergantung masalah yang perlu disiapkan,
• Kegiatan awal tatap muka diperhitungan setara dengan 1 jam pelajaran.

b. Kegiatan tatap muka
• Dalam kegiatan tatap muka terjadi interaksi edukatif antara peserta didik dengan guru dapat dilakukan secara face to face atau menggunakan media lain seperti video, modul mandiri, kegiatan observasi/ekplorasi.
• Kegiatan tatap muka atau pelaksanaan pembelajaran yang dimaksud dapat dilaksanakan antara lain di ruang teori/kelas, laboratorium, studio, bengkel atau di luar ruangan.
• Waktu pelaksanaan atau beban kegiatan pelaksanaan pembelajaran atau tatap muka sesuai dengan durasi waktu yang tercantum dalam struktur kurikulum sekolah.

c. Membuat resume proses tatap muka
• Resume merupakan catatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tatap muka yang telah dilaksanakan. Catatan tersebut dapat merupakan refleksi, rangkuman, dan rencana tindak lanjut.
• Penyusunan resume dapat dilaksanakan di ruang guru atau ruang lain yang disediakan di sekolah dan dilaksanakan setelah kegiatan tatap muka,
• Kegiatan resume proses tatap muka diperhitungan setara dengan 1 jam pelajaran.

3 Menilai Hasil Pembelajaran
Menilai hasil pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan
hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna untuk menilai peserta didik maupun dalam pengambilan keputusan lainnya. Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes. Penilaian non tes dapat dibagi menjadi pengamatan dan pengukuran sikap serta penilaian hasil karya dalam bentuk tugas, proyek fisik, atau produk jasa.

a. Penilaian dengan tes.
• Tes dilakukan secara tertulis atau lisan, dalam bentuk ujian akhir semester, tengah semester atau ulangan harian, dilaksanakan sesuai kalender akademik atau jadwal yang telah ditentukan,
• Tes tertulis dan lisan dilakukan di dalam kelas,
• Penilaian hasil test, dilakukan diluar jadwal pelaksanaan test, dilakukan di ruang guru atau ruang lain.
• Penilaian test tidak dihitung sebagai kegiatan tatap muka karena waktu pelaksanaan tes dan penilaiannya menggunakan waktu tatap muka.

b. Penilaian non tes berupa pengamatan dan pengukuran sikap.
• Pengamatan dan pengukuran sikap dilaksanakan oleh semua guru sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses pendidikan, untuk melihat hasil pendidikan yang tidak dapat diukur lewat test tertulis atau lisan,
• Pengamatan dan pengukuran sikap dapat dilakukan di dalam kelas menyatu dalam proses tatapmuka pada jadwal yang ditentukan, dan atau di luar kelas,
• Pengamatan dan pengukuran sikap, dilaksanakan diluar jadual pembelajaran atau tatap muka yang resmi, dikategorikan sebagai kegiatan tatap muka.

c. Penilaian non tes berupa penilaian hasil karya.
• Hasil karya siswa dalam bentuk tugas, proyek dan atau produk,portofolio, atau bentuk lain dilakukan di ruang guru atau ruang lain dengan jadwal tersendiri,
• Penilaian ada kalanya harus menghadirkan peserta didik agar tidak terjadi kesalahan pemahanan dari guru mengingat cara penyampaian informasi dari siswa yang belum sempurna,
• Penilaian hasil karya ini dapat dikategorikan sebagai kegiatan tatap muka, dengan beban yang berbeda antara satu mata pelajaran dengan yang lain. Tidak tertutup kemungkinan ada mata pelajaran yang nilai beban non tesnya sama dengan nol.

4 Membimbing dan Melatih Peserta Didik
Membimbing dan melatih peserta didik dibedakan menjadi tiga yaitu membimbing atau melatih peserta didik dalam pembelajaran, intrakurikuler dan ekstrakurikuler.
a. Bimbingan dan latihan pada kegiatan pembelajaran
• Bimbingan dan latihan pada kegiatan pembelajaran adalah bimbingan dan latihan yang dilakukan menyatu dengan proses pembelajaran atau tatap muka di kelas,

b. Bimbingan dan latihan pada kegiatan intrakurikuler
• Bimbingan kegiatan intrakurikuler terdiri dari remedial dan pengayaan pada mata pelajaran yang diampu guru.
• Kegiatan remedial merupakan kegiatan bimbingan dan latihan kepada peserta didik yang belum menguasai kompetensi yang harus dicapai,

• Kegiatan pengayaan merupakan kegiatan bimbingan dan latihan kepada peserta didik yang telah mencapai kompetensi,
• Pelaksanaan bimbingan dan latihan intrakurikuler dilakukan dalam kelas pada jadwal khusus, disesuaikan kebutuhan, tidak harus dilaksanakan dengan jadwal tetap setiap minggu,
• Beban kerja intrakurikuler sudah masuk dalam beban kerja tatap muka.

c. Bimbingan dan latihan dalam kegiatan ekstrakurikuler.
• Ekstrakurikuler bersifat pilihan dan wajib diikuti peserta didik,
• Dapat disetarakan dengan mata pelajaran wajib lainnya,
• Pelaksanaan ekstrakurikuler dilakukan dalam kelas dan atau ruang/tempat lain sesuai jadwal mingguan yang telah ditentukan dan biasanya dilakukan pada sore hari,
• Jenis kegiatan ekstrakurikuler antara lain adalah.
– Pramuka
– Olimpiade/Lomba Kompetensi Siswa
– Olahraga
– Kesenian
– Karya Ilmiah Remaja
– Kerohanian
– Paskibra
– Pecinta Alam
– PMR
– Jurnalistik/Fotografi
– UKS
– dan sebagainya
• Kegiatan ekstrakurikuler dapat disebut sebagai kegiatan tatap muka

5 Melaksanakan Tugas Tambahan

Tugas-tugas tambahan guru dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kategori yaitu tugas struktural, dan tugas khusus.

a. Tugas tambahan struktural
• Tugas tambahan struktural sesuai dengan ketentuan tentang struktur organisasi sekolah,
b. Tugas tambahan khusus
• Tugas tambahan khusus hanya berlaku pada jenis sekolah tertentu, untuk menangani masalah khusus yang belum diatur dalam peraturan yang mengatur organisasi sekolah.
Sumber Buku Pedoman Penghitungan Beban Kerja Guru, 2008, Penerbit Dirjen PMPTK Depdiknas

Anda Ingin memiliki buku tersebut, Berikut Buku Pedoman Penghitungan Beban Kerja Guru yang dikemas dalam file PDF, silakan download disini

Permasalahan Guru di Indonesia

Permasalahan Guru di Indonesia

Dalam dunia pendidikan, keberadaan peran dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di jalur pendidikan formal, informal maupun nonformal. Oleh sebab itu, dalam setiap upaya peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, guru tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal yang berkaitan dengan eksistensi mereka.

Filosofi sosial budaya dalam pendidikan di Indonesia, telah menempatkan fungsi dan peran guru sedemikian rupa sehingga para guru di Indonesia tidak jarang telah di posisikan mempunyai peran ganda bahkan multi fungsi. Mereka di tuntut tidak hanya sebagai pendidik yang harus mampu mentransformasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai penjaga moral bagi anak didik. Bahkan tidak jarang, para guru dianggap sebagai orang kedua, setelah orang tua anak didik dalam proses pendidikan secara global.

Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia, yaitu : pertama, masalah kualitas/mutu guru, kedua, jumlah guru yang dirasakan masih kurang, ketiga, masalah distribusi guru dan masalah kesejahteraan guru.

1. Masalah Kualitas Guru
Kualitas guru Indonesia, saat ini disinyalir sangat memprihatinkan. Berdasarkan data tahun 2002/2003, dari 1,2 juta guru SD saat ini, hanya 8,3%nya yang berijasah sarjana. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan. Belum lagi masalah, dimana seorang guru (khususnya SD), sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran (guru kelas) yang tidak jarang, bukan merupakan inti dari pengetahuan yang dimilikinya, hal seperti ini tentu saja dapat mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal.

2. Jumlah Guru yang Masih Kurang

Jumlah guru di Indonesia saat ini masih dirasakan kurang, apabila dikaitkan dengan jumlah anak didik yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yag tersedia saat ini, dirasakan masih kurang proporsional, sehingga tidak jarang satu raung kelas sering di isi lebih dari 30 anak didik. Sebuah angka yang jauh dari ideal untuk sebuah proses belajar dan mengajar yang di anggap efektif. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 15-20 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.

3. Masalah Distribusi Guru

Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di daerah-daerah terpencil, masing sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam suatu wilayah, baik karena alasan keamanan maupun faktor-faktor lain, seperti masalah fasilitas dan kesejahteraan guru yang dianggap masih jauh yang diharapkan.

4. Masalah Kesejahteraan Guru

Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru kita sangat memprihatinkan. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi seperti ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, diluar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan sekolah dimana mereka mengajar. Peningkatan kesejahteaan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesinalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.

Kedudukan, Fungsi, Tugas, dan Tujuan Seorang Guru

Bab II Pasal 2 Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa: (1) Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud.

Maksud dari ayat di atas menyebutkan bahwa guru adalah orang yang mendalami profesi sebagai pengajar dan pendidik, mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk memberikan kontribusi. Umumnya guru merujuk pada pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi hasil belajar siswa peserta didiknya. Tugas guru yang diemban timbul dari rasa percaya masyarakat terdiri dari mentransfer kebudayaan dalam arti yang luas, ketrampilan menjalani kehidupan (Life skills), terlibat dalam kegiatan-kegiatan menjelaskan, mendefinisikan, membuktikan dan mengklasifikasikan, selain harus menunjukkan sebagai orang yang berpengetahuan luas, trampil dan sikap yang bisa dijadikan panutan. Maka dari itu, guru harus memiliki kompetensi dalam membimbing siswa untuk siap menghadapi kehidupan yang sebenarnya (The real life) dan bahkan mampu memberikan keteladanan yang baik.

Undang-Undang No 14 tahun 2005, pasal 4 mengisyaratkan bahwa Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran yang berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Pasal 6 menyebutkan bahwa Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Di samping itu guru mempunyai tugas utama sebagai berikut:

a) menyusun perencanaan pembelajaran;
b) menyampaikan perencanaan;
c) melakukan hubungan baik dengan sesama teman seprofesi, maupun dengan masyarakat;
d) mengelola kelas yang disesuaikan dengan karakterstik peserta didik;
e) melakukan penelitian dan inovasi dalam pendidikan, dan memanfaatkan hasilnya untuk kemajuan pendidikan;
f) mendidik siswa sehingga mereka menjadi manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika, bangsa, masyarakat, dan agama;
g) melaksanakan program bimbingan konseling, dan administrasi pendidikan;
h) mengembangkan diri dalam wawasan, sikap, dan ketrampilan profesi; dan
i) memanfaatkan teknologi, lingkungan, budaya, dan sosial, serta lingkungan alam dalam proses belajar.

MENGENAL ANAK DIDIK ADALAH BAGIAN DARI STRATEGI MENGAJAR

MENGENAL ANAK DIDIK ADALAH BAGIAN DARI STRATEGI MENGAJAR

Guru yang bijak merasa wajib untuk mengenal anak didiknya dengan baik tanpa itu, amat sulit bagi kita untuk membuat keputusan yang terkait dengan pembelajaran yang akan kita pilih. Uraian berikut ini diambil dari Dot Walker (1995) sebagai bahan pertimbangan bagi Anda.

Salah atau betulkan pernyataan berikut ini?

Keberagaman atau “diversity” adalah kreatif?

Etnisiti adalah sesuatu yang berkaitan dengan dimana Anda tinggal?

Diskriminasi perlu ditantang?

Pengajaran hendaknya sebagai respon terhadap konteks sosial dan kultural ?

Warganegara yang aktif dan informed (mempunyai informasi yang benar dan lengkap) adalah yang mengerti mengenai politik dan pemerintah?

Anak didik yang cacat tidak belajar sebaik anak-anak yang normal?

Para guru perlu menghadapi tantangan (challenge) dan mempunyai harapan yang realistis terhadap semua siswa?

Satu bagian terpenting dalam pembelajaran adalah menjadikan siswa mampu dalam merespon perubahan yang terjadi?

Gaya Belajar

Jika Anda amati dengan seksama bagaimana siswa-siswa Anda belajar, maka Anda sampai pada empat gaya belajar. Coba Anda simak skenario pembelajaran berikut ini.

Anda baru saja membeli alat dapur yang modern dari sebuah toko elektronik. Alat ini multiguna, dapat dipakai mulai dari membuka kaleng, memasukkan buah dalam botol, sampai dengan menimbang makan melalui sistem digital. Sebagai percobaan, alat ini Anda bawa ke kelas dan meminta siswa Anda mencoba bagaimana cara menggunakannya.

a) Active learners atau pembelajar aktif

Siswa yang termasuk kategori ini tidak suka menggunakan buku petunjuk. Mereka lebih senang mencari sendiri, trial and error – coba-coba, bagaimana mengoperasikan alat tersebut.

b) Structured learners atau pembelajar terstruktur

Siswa termasuk kategori ini mengikuti satu per satu, langkah demi langkah sebagaimana yang tercantum dalam manual.

c) Pembelajar personal

Siswa termasuk kategori ini lebih senang belajar dengan cara berbincang-bincang dan bertanya pada orang lain. Ia memerlukan seseorang berada di sampingnya.

d) Pembelajar terfokus

Siswa kategori ini senang dengan adanya tantangan. Dengan atau tanpa menggunakan manual ia ingin melakukan sesuatu yang memukau, diluar dugaan.

Contoh Kasus

Simaklah dengan seksama, kemudian pikirkanlah strategi pembelajaran yang tepat untuk memecahkan kasus-kasus tersebut. Kalau Anda cermati, kasus-kasus ini mengangkat berbagai isu yang terkait dengan hak asasi manusia, toleransi, kerja sama, dan gender. Semua isu ini akan dapat Anda tangani dengan baik, jika masyarakat sekolah Anda berwawasan luas, mengakui kenyataan adanya keberagaman dan perbedaan.

Kasus 1

Anda diminta untuk menerima seorang anak yang menderita penyakit lumpuh, yang terpaksa menggunakan kursi roda. Sejumlah siswa di kelas Anda berkomentar sangat negatif ketika Anda memberitahukan kedatangan anak yang kurang beruntung itu. Tentu saja anak ini tidak mampu berbuat apa-apa. Ini bakal menyeret anak cacat ini ke keadaan sangat tidak menyenangkan, bahkan merasa terhinakan.

Strategi apakah yang bakal Anda pakai untuk mendorong para siswa yang bersikap tidak pada tempatnya ini, sehingga bisa menerima anak itu sebagaimana adanya?

Kasus 2

Seorang siswa di kelas Anda terus-menerus mencuri alat-alat tulis teman-temannya. Anda tahu anak ini mencuri karena ia tidak mempunyai alat tulis yang ia perlukan. Keadaan keluarganya begitu rupa sehingga kalau Anda memberitahu orang tuanya, maka kemungkinan besar anak itu akan dipukul. Sementara itu siswa-siswa Anda yang lain semakin marah dengan keadaan ini dan tidak mau lagi bertegur sapa dengan anak tersebut.

Bagaimana caranya Anda menangani masalah ini dengan cara yang ekuitabel yaitu adil dan tidak memihak?

Kasus 3

Sebuah keluarga Kubu dari pedalaman, dengan 5 anak-anaknya baru saja pindah ke sebuah sekolah di sebuah desa kecil. Anda pernah mendengar siswa-siswa di kelas Anda memanggil keluarga yang baru pindah ini dengan sebutan-sebutan yang bernada menghina seperti “orang hutan, tarzan kampung, dan sebagainya.

Apa yang dapat Anda lakukan agar anak-anak di kelas 5 ini dapat menerima adanya perbedaan kebudayaan?

Kasus 4

Anda seorang guru kelas 6 yang prestasi akademik siswa-siswanya di atas rata-rata. Namun ada seorang anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, dan hambatan dalam berbicara yang sangat serius. Tidak satupun siswa-siswa yang ingin bekerja sama dengan anak ini. Oleh beberapa teman-temannya sekelas, anak ini sering dikatai-katai sebagai anak bebal.

Bagaimana Anda meyakinkan siswa-siswa lainnya bahwa anak inipun mempunyai kesempatan dan hak yang sama dengan mereka dalam mengikuti proses belajar?

Kasus 5

Dalam kelas 6 yang Anda ajar hanya ada tiga siswa perempuan. Anak laki-laki mendominir hampir semua kerja kelompok dan diskusi kelas. Dalam pendidikan olahraga anak perempuan ini selalu yang terakhir untuk dipilih sebagai anggota tim. Anda juga mengamati sering kali ada komentar yang bernada anti gender dari siswa laki-laki.

Strategi mengajar apakah yang dapat Anda terapkan untuk memperbaiki keadaan ini?

PERLUNYA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN DI TINGKAT MAKRO DAN MIKRO

PERLUNYA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN DI TINGKAT MAKRO DAN MIKRO

Pembaharuan pendidikan di Indonesia sudah berkali-kali, sedikitnya enam sampai tujuh kali pembaharuan. Pembaharuan pendidikan lebih banyak memusatkan perhatian untuk memperbaharui ‘mobil’ (kurikulum, bahan ajar, sistim evaluasi, perbaikan dan pengadaan gedung dan alat). Kemudian melatih ‘pengemudi’nya (tenaga pendidikan dan staf administrasi). ‘Penumpang’ di dalamnya (murid, orangtua, dan pemakai lulusan). Tidak banyak disentuh dalam praktik kependidikan. Jalan raya dan lingkungan sepanjang jalan (lingkungan, dukungan semua pihak termasuk dukungan politik terhadap pendidikan) yang dilewati mobil yang tidak dirancang dan dibangun dengan baik.

Ada pepatah menyatakan : “more often, the journey is more important then the destination” yang bermakna, dalam banyak hal, pengalaman selama di jalan lebih penting daripada tempat tujuan. Terkait dengan tujuan (tujuan pendidikan, tujuan sekolah, tujuan kelas dan pembelajaran) masih banyak supir yang tidak tahu kemana mobil dan penumpangnya akan dibawa. Lebih parah lagi, penumpangnya sendiri belum terbiasa untuk menyampaikan maksud dan tujuan mereka, karena berpuluh-puluh tahun mereka terbiasa mengatakan “terserah yang membuat mobil dan pak sopir saja”. Para penumpang ini tidak dikondisikan untuk menyampaikan dan menjelaskan tujuan mereka dengan terbuka, maka jika :
Kurikulum (mobil) kita tidak layak;
Guru (sopir) kurang berkualitas;
Murid, orang tua, pemakain lulusan (penumpang) belum berperan aktif.
Dukungan masyarakat, pemerintah (jalan raya dan alam sekitarnya) minim dan
Visi, filosofi dan tujuan pendidikan (tempat tujuan) belum terumuskan dan disepakati oleh semua pihak, dapatkah anda membayangkan apa yang bakal terjadi dengan SDM Indonesia.

PEMBAHARUAN PENDIDIKAN TINGKAT MIKRO

Dengan pengibaratan di muka, mudah-mudahan perencanaaan dan pembuat mobil (pengambil kebijakan, pengembang kurikulum, bahan ajar, teknik, dan media pembelajaran) dan pengemudi (kepala sekolah dan guru) akan memperoleh gambaran mengenai bagaimana agar penumpang selamat, puas, damai, dan bahagia selama mereka mengikuti dalam perjalanan. Lebih-lebih lagi ketika sampai di tempat tujuan. Lebih lengkap lagi jika mereka merasa tetap puas walaupun mereka telah meninggalkan mobil dan pengemudinya.

a. Prinsip yang menggaris bawahi pembaharuan pembelajaran

Dalam uraian berikut ini kita akan memasuki aspek-aspek pendidikan dan pengajaran yang sedikit lebih teknis dari pada uraian sebelumnya, yang langsung atau tidak langsung berkaitan dengan pembahasan pembelajaran.

Kita akan mulai dengan makna pendidikan atau “education”. Asal usul kata “education” adalah “edueo”, yang mengandung makna “to lead out;to take out with one to on’s province; to bring to monsish and support “Lewis and Short Latin Dictionary)

Peran kita sebagai guru di lukiskan sebagai pemimpin, membingbng, mendorong, membantu, memelihara, dan mendukung.Kalau peran-peran itu kita laksanakan maka kita layak untuk disebut sebagai pembaharu dalam pembelajaran dan semkin maklum betapa mulianya tugas seorang pendidik.

Menjadi guru masa kini perlu memberi bentuk baru dalam hubungannya dengan anak didiknya, yaitu dari bentuk “power relationshif” kebentuk “Shaud relationship” yaitu dari posisi mengontrol keposisi kerja sama. Isu yang kiritikal dalam pendidikan bukan bagai mana aja guru mampu mengontrol belajarnya, tetapi bagaimana saja anak didik kita terlibat langsung dalam pembelajaran dan termasuk prinsip penting sebagai landasan menuju pembaharuan pembelajaran.

Prinsip ini mengingatkan kita bahwa anak didik hanya tertarik untuk ilmu aktif dalam pembelajaran jika pengajaran kita relevan. Pengajaran yang kita sampaikan hanya ada relevan jika dibingbingkan dengan konteks social dimana kita hidup yang berarti “globalisasi” hidup Dallam era globalisasi menuntut semua ummat manusia mampu merespon dan proses yang sedang terjadi, yakni “rapid pervasive change” increasing interconnectedness” (meningkatnya saling keterkaitan antara actor-aktor globalisasi dan isu yang menjadi perkataan mereka).

Berikut ini beberapa kiat bagaimana kita bersikap dan bertindak agar anak didik kita terlibat aktif secara konstruktif dalam proses pembelajaran,dengan kata lain bagaimana agar terjadi “effective instruction” atau pengajaran yan efektif (Townsend and Oteno,1999)

Pembelajaran terjadi pada puncaknya jika ekspektasi tau kalaupun dipusatkan pada keberhasilan (lihat juga A. Djalil:1984)

Rasa takut bukanlah pemicu belajar yang efektif

Perubahan harus diyakini sebagai sesuatu yang selalu mungkin dicapai

Kontrol hanyalah suatu ilusi

Saling tergantung atau “interdepensi” merupakan kunci menuju sukses

Diantara lima kiat diatas, penulis akan memberikan penjelasan tambahan pada kiat pertama yaitu yang berkaitan dengan “ekspektasi” karena kata ekpecrasi memuat konsep yang sangat penting didalam pembelajaran Collin Roger (2002) mengungkapkan, selama sekutu 30 tahun, psikologi social pendidikan tak henti-hentinya menempatkan ‘teacher expectation” (harapan guru) sebagai pemegang pearan yang sentral. Peran peneliti yang memusatkan permasalahan penelitian mereka pada isu sekolah yang efektif dan berkembang” mengamati “ekpektasi” sebagai kuas pendidikan dan pengajaran yangb efektif umumnya mereka berkesimpulan adanya hubungan yang kuat (powerful relationship) antara harapan yang tinggi dengan belajar yang efektif.

Roger mengungkapkan “harapan yang tinggi” antara lain ditandai oleh adanya ketentuan minimal mengenai “grade” atau nilai yang harus dicapai anak didik dan jumlah dari kehadiran murid di kelas guru dan sekolah yang menetapkan criteria harapan yang tinggi bagi kinerja murid, biasanya akan membuat perencanaan strategi aturan dan tindakan yang efektif untuk memenuhi harapan tersebut

b. Gambaran sekolah pada masa mendatang

Berikut ini kutipan dan ungkapan Townssend (1998) ketika ia membayangkan bagaimana sebaliknya sekolah dimasa yang akan datang.

“Dalam pandangan saya pendidikan terbaik yang kita harapkan bagi anak-anak kita, bagi keluarga kita. adalah lokal, yaitu yang berakar pada masyarakat setempat, juga global, yang menyediakan akses terhadap sumber ilmu pengetahuan di seluruh dunia. Pendidikan yang berpijak dimasyrakat dimana saya hidup, tetapi juga menghadirkan sebuah dunia yang menjanjikan kemungkinan yang hampir melampui batas. Sifatnya juga sosial. Pendidikan itu memberi saya keterampilan yang saya butuhkan dan memungkinkan saya untuk mengaksesnya lagi di belakang hari. Jika ada keterampilan yang saya perlukan, setiap saat dimanapun saya berada dimuka planet bumi ini. Saya selalu dipertautkan dengan pendidkan anak-anak. Seusia saya, seluruh keluarga, tetangga, dan teman-teman saya dapat berpartisipasi. Kami semua menginginkan agar sekolah yang terbaik ada di daerah kami. Pendidikan lembaga yang benar ini menjadi sebuah persyaratan masyarakat dan dalam saat tertentu juga digunakan bagi pendidikan untuk menggantikan sekolah yang tidak berfungsi sebagai fasilitas masyarakat, yang pada masa lalu hanya dipakai sekali-kalinya untuk pendidikan anak-anak.

Cita-cita Townsend tentang sekolah masa depan jelas skalai adalah sekolah dengan basis yang luas

Dengan mengkaji secara seksama profit sekolah dimasa depan, maka kita dapat membayangkan bagaimana pembaharuan pembelajaran sebagainya dilakukan bagaimana kita memposisi peran serta sebagai pendidik agar tidak menjadi obseht atau uasang, jika obsoht maka akan ditinggalkan oleh perubahan.

Menurut Townsend and Oten (1999) Pembaharuan pendidkan dan pengajaran hendajknya didudukan diatas empat pilar:

Pendidikan untuk kelangsungan hidup

Pemahaman terhadap kedudukan atau tempat kita didunia

Pemahaman tentang hakikat masyrakat bagaimana dan lainnya saling terkait dan

Pemahaman terhadap tanggaung jawab diri memahami bahwa setiap anggota masyarakat dunia membawa tanggung jawab dan hak-haknya masing-masing

1. Pendidikan untuk kelangsungan hidup terdiri atas :
Literari dan numeran

Kemampuan teknologi

Kemampuan komunikasi

Kemampuan dalam menyusun dan mengembangkan rencana

Keterampilan berfikir kritis

Penyesuaian atas adat istiadat

2. Pemahaman terhadap kedudukan atau tempat kita didunia terdiri atas
Tukar menukar gagasan

Pengalaman kerja dan sikap wira swasta

Kesadaran dan apresiasi terhadap budaya

Pengembangan social ansosial dan fisikal

Kemampuan berkreasi

Berwawasan luas dan berpandangan terbuka

Kesadaran bahwa adalah hak seeorang untuk menentukan pilihannya

3. Pemahaman tentang hakikat masyarakat terdiri dari :
Kemampuan untuk bekerja sama dalam suatu tim

Bagian kewarga negaraan

Pengabdian masyarakat

Pendidikan masyarakat

Kesadaran global

Pengembangan asset anak didik misalnya kemampuan, kecerdasan, hoby yang dimasuki murid

4. Pemahaman terhadap tanggung jawab diri terdiri atas :
Konsisten terhadap pengembangan diri melalui proses belajar seumur hidup

Pengembangan sitim nilai diri

Kemampuan kepemimpinan

Komitmen terhadap pengembangan masyrakat dan perkembangan global

Komitmen terhadap kesehatan diri dan kesehatan masyarakat.

Membaca sederetan daftar panjang di atas, betapa pentingnnya pendidikan dengan basis-basis luar. Luar singkat,jika dikaitka dengan pembaharuan pembelajaran maka proses pembelajaran masa kini dan yang akan datang harus di antaranya :

Mengembangkan “collaborative communities ” atau pembelajaran berbasisi pada tingkat lokaal dan global

Menerima dan menerapakan konsep belajar seumur hidup

Mengembangkan “learning communities “bukan “communities of lerning” ( Masyarakat yang gemar bekerja,bukan sekedar sekedar kesimpulan para pembelajar)

Mengembangkan keterampilan proses lebih tinggi dan pada sekedar penguasaan ilmu yang spesifik leih menekankan keterampilan pada jenjang yang lebih tinggi dalam pula sekedar penguasaan tektual

c. Riset tentang pembelajaran yang efektif

Pembaharuan pembelajaran selain dilandsi oleh prinsip yang filosofis. T namun juga dilandasi oleh temuan-temuan empiris yaitu riset yang merisekkan belajarnya. Pada sekolah scheren (1990 dalam townseend and otero ) Mengidentifkasi empat kategori bisa riset persekolahan :

Yang mengkaji “oktiomos” pendidikan

Yang mengkaji pungsi produksi pendidikan

Yang mengkaji sekolah yang efektif

Yang mengkaji intruksional yang efektif

Kategori pertama biasanya mengkaji hubungan antara latar belakang social ekonomi murid dapat hasil bealajar salah satu yang terbaik adalah: laporan yang disampaikan oleh Coleman dkk (1966) menyimpulkan pengaruh yang paling dominant terhadap prestasi akademik murid adalah latar belakang status ekonomi siswa

Kategori kedua mengkaji hubungan antara rapat (sarana prasarana, alam dan perlengkapan, dll) dengan hasil belajar yang kurang berguna intuk pembaharuan pembelajaran prestasi murid akan kasih suatu signifikan jika sedang sekolah bertambah bosan dengan pengalaman bertambah luas, perpustakaanya lengkap, lemari bukunya bagus bahkan gaji guru akan naik lima kali lipat.

Kategori ketiga ditujukan untuk membuka atau “black box” (lihat juga Delamont, 1976; A. Djalil, 2003) apa yang terjadi di sekolah dan di kelas) jika ada sebuah pesawat terbang yang jatuh,maka yang paling dicari adalah “black boxnya” karena disitulah terekam informasi yang dapat di pakai untuk mengetahui mengapa pesawat itu jatuh.Begitu pula halnya dengan pendidikan. Dikelaslah banyak terekam informasi mengenai mengapa mutu pendidikan dan pengajaran kita jadi terjerembab, kelas adalah ibarat sebuah black box bagi sebuah pesawat terbang.

Kategori keempat bahkan lebih dalam lagi memasuki kotak hitam kelas. Karena memecahkan perkaranya untuk menemukan cara-cara mengajar (Instructional strategies) yang berpengaruh positip dan signifikan terhadap hasil belajar dan pembelajaran akan banyak memtik mamfaat dari riset kategori empat ini.

Hasil kajian Schaenans (1990-1991) antara lain mengungkapkan bahwa budaya sekolah,organisasi sekolah, dan aplikasi teknologi kependidikan efektif untuk menungkatkan hasil belajar murid sekolah yang menjungjung tinggi disiplin waktu, menaruh respek tyerhadap murid yang berprestasi bukan karena ia diantar jemput dengan mobil yang mewah, atau karena menaruh kuat dalam memberikan kado bagi guru, menjadikan sekolah dan kelasnya tertata rapih dan sekaligus menjadi sumber belajar, maka budaya sekolah seperti akan cenderung mendorong prestasi belajar murid.

Scheren juga mengungkapkan: pengajaran yang struktur jumlah jam belajar efektif yang tinggi (lihat juga A. Djalil 1989), peluang belajar yang yang besar dorongan untuk berhasil yang kuat, harapan atau target yang tinggi dan ketertiban orang tua secara aktif dalam program sekolah merupakan karakteristik sekolah dan kelas yang efektif.

Cremens (1992) Mengingatkan semua pihaknyang berkepentingan dengan sekolah agar mengeluarkan segala sumber daya untuk mendukung terlaksananya proses pengajaran sebagai kunci untuk meningkatkan hasil belajar murid. Sumber daya yang dimaksud ialah 3 m (man, money, material) sebagaimana selama ini kita ketahui pengertian sumber daya dalam dalam cakupan yang lebih luas terdiri dari (Caldwell dan Spink, 1998)
Knowledge (pengetahuan-kurikulum, tujuan sekolah dan pengajaran)

Teachnology (media, teknik, dan akal pembelajaran)

Power (kekerasan dan wewenang)

Material (fasilitas, supplier, peralatan)

People (tenaga kependidikan, administrasi, dan staf pendukung lainnya)

Time (waktu pertahun, perminggu, perhari, perjam pelajaran)

Finance (alokasi dana)
d. Sekolah yang efektif dan berkembang
.J. Caldwell S.J.M. Spinks (1988) sebagai ciri sekolah yang efektif dan berkembang perlu dicatat, ciri-ciri yang disampaikan oleh Caldwell dan Spinks itu tidak otomatis sama dengan ciri-ciri yang terkandung dalam pembaharuan pembelajaran. Apa yang disampaikan oleh mereka berdua dapat kita pakai sebagai konsep dan ciri yang menggarisbawahi perubahan pembelajaran

1. Kurikulum
Sekolah menentukan dengan jelas tujuan pendidikan yang akan dicapai

Sekolah mempunyai rencana yang baik, sampai dengan program yang berimbang dan terorganisir yang dijujukan untuk memenuhi apa yang diperlukan oleh anak didik

Sekolah mempunyai program yang dimaksudkan untuk memeriksa keterampilan pada anak didik. Adanya keterlibatan orang tua yang tinggi dalam kegiatan belajar siswa

2. Pengambilan keputusan
Adanya keterlibatan yang tinggi dikalagan staf dalam mengembangkan tujuan sekolah

Guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan

Adanya keterlibatan yang tinggi dari masyarakat dalam pengambilan keputusan

3. Sumber
Adanya sumber yang memadai disekolah sehingga memungkinkan staf untuk mengajar dengan efektif

Sekolah mempunyai guru yang kapabel dan bermotivasi tinggi

4. Kepemimpinan
Tingkat drop out rendah

Nilai tes menunjukan (angka penyerapan yang tinggi)

Tingkat melanjutkan sekolah tingggi dan daya serap lapangan kerja tinggi

5. Kepemimpinan

Adanya kepala sekolah yang :
Mau berbagi tanggung jawab dan mengolah sumber daya dengan efisien

Yang menjamin bahwa sumber daya teralokasikan sesuai dengan konsisten dengan kepentingan pendidikan

Responsif dan subporsif terhadap kepentingan guru

Pendiri organisasi pengembangan propesional

Mendorong keterampilan staf dalam program pengembangan propesional dan menjadikan pengajaran ini sebagai peluang bagi guru untuk menguasai keterampilan yang mereka perlukan

Menaruh perhatianbyang tinggi mengenai apa yang sedang terjadi disekolah

Membangun relasi yang efektif dengan Depdiknas atau dinas pendidikan, masyarakat, guru dan siswa.

Mempunyai gaya administrasi yang luwes

Bersedia menanggung resiko

Memberikan umpan balik yang bermutu padd guru

Menjamin adanya kaji ulang yang kontinyu tergarap pengajaran sekolah dan melakukan evaluasi kemajuan program kearah pencapaian tujuan sekolah

6. Iklim
Sekolah mempunyai seperangkat nilai etika moralitas dan etos kerja yang dianggap penting

Kepala sekolah guru dan murid menunjukan kepada luar dan loyalitas terhadap tujuan sekolah

Sekolah menjanjikan lingkungan dan suasana yang menyenangkan, menggerakan, dan menantang bagi guru yaitu murid

Adanya iklim saling menghargai dan saling mempercayai sesama dan didampak guru dan murid.

Adanya iklim saling mempercayai dan komunikasi yang terbuka di sekolah

Adanya ekpektasi terhadap semua murid bahwa mereka akan belajar sebaik-baiknya, adanya komitmen yang kuat untuk belajar sungguh-sungguh

Kepala sekolah guru dan murid mempuyai semangat yang tinggi untuk memcapai prestasi belajar yang tinggi

Adanya metode (semangat juang) yang tinggi dikalangan murid

Para murid saling mananam respek terhadap sesamanya dan terhadap barang-barang milik mereka.

Adanya kesempatan bagi murid untuk mengambil tanggung jawab di sekolah

Adanya disiplin yang baik di sekolah

Jarang sekali ada kejadian yang menuntut staf administrasi senior untuk turun tangan menertibkan pelanggran disiplin yang dilakukan oleh murid

Adanya tingkat kemungkinan yang rendah dikalangan murid

Adanya tingkat mengulang kelas yang rendah

Adanya tingkat kenakalan anak yang rendah

Adanya metode (semangat juang) yang tinggi dikalangan guru

Adanya tingkat persenta dan semangat yang tinggi dikalangan guru

Adanya tingkat kemungkiran yang rendah dikalangan guru

Sedikit sekali permohonan untuk pindah guru kesekolah lain.

e. Ciri ciri pembelajaran yang disamakan

Sebagai tambahan ciri-ciri di atas berikut ini saya sajikan pesan sekolah dan guru yang terkait dengan murid Memberikan pemahaman mengenai faktor-faktor yang berpengaruh didalam mengembangkan hidup murid

Mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang penting guru berpartisipasi dalam proses politik

Mengembangkan sikap cinta belajar dan mengembangkan didalam setiap kegiatan yang terjadi sepanjang hidup

Mengembangkan bakat kreatif siswa penuh dalam berbagai bidang kesenian

Khusus yang terkait dengan pengalaman belajar,sekolah guru serta pihak yang berkepentingan dengan pendidikan dituntut bekerja sama dalam hal :

1. Menjamin agar semua siswa mengalami dalam penggunaan dan pemahaman dan kegiatan lainnya yang terkait.

2. Menjamin bahwa pembelajaran dapat mungkin berlangsung melaui pengalaman langsung

3. Menyediakan peluang bagi semua murid mengembangkan kemampuan mereka

4. Memberikan penyaluran bagi murid yang mempunyai hambatan husus agar mampu mengatasi hambatan yang mereka punya.

Khusus yang terkait dengan manajemen sekolah, kepala sekolah dan guru di sarankan untuk :
1. Meyediakan berbagai peluang bagi orang tua murid untuk melibatkan mereka dalam kegiatan sekolah

2. Mengembangkan system pengajaran sesuai dengan umur murid sebgai pengakuan atas prestasi yang mereka capai

3. Mengelola sekolah dengan cara-cara yang merefleksikan keberlangsungan keterlaksanaan hasil belajar

4. Menciptakan cara belajar pemberian informasi kepada orang tua mengenai hal-hal yang terkait dengan sekolah dan kemajuan murid dapat berlangsung secara teratur

Kriteria sekolah dan pembelajaran yang efektif sebagaimana dipaparkan di atas nyata-nyata merefleksikan suatu keyakinan yang fundamental betapa pentingnya pendidikan yang berbasis luas

MANA YANG HARUS DIRENOVASI DALAM REFORMASI PENDIDIKAN

MANA YANG HARUS DIRENOVASI DALAM  REFORMASI PENDIDIKAN

Mengumpamakan reformasi pendidikan dengan mobil, sopir, penumpang, jalan raya serta lingkungannya, dan tempat yang hendak dituju dalam sebuah perjalanan tidaklah dimaksudkan untuk menyederhanakan informasi pendidikan kita semua tahu mereformasi pendidikan bukan suatu upaya yang sederhana. Pengibaratan itu hanya sebatas maksud untuk menvisualisasikan isu-isu pokok dalam pendidikan.

a) Jalan Raya dan Lingkungan Pendidikan

Sebuah “real estate” yang bonafit, bijaksana dan berpandangan kedepan, sebelum ia membangun rumah, bahkan sebelum melakukan pemasaran, ia membuat sarana jalan, menyiapkan jaringan listrik, telepon, saluran air, dan saluran pembuangan limbah kotoran manusia, serta menata lingkungan sekitarnya supaya kellihatan serasi, menarik, nyaman, dan aman. Bahkan ada yang mengundang publik untuk menyampaikan saran-saran perbaikan.

Jalan raya dan lingkungan yang asri,aman nyaman dan terkendali, dalam konteks pendidikan, dapat diibaratkan sistim makro yang langsung atau tidak langsung terkait untuk mengembangkan mutu dan pelayanan serta hasil pendidikan. Sistim politik, kebijaksanaan ekonomi dan keuangan, ekspor-impor, perpajakan, kerjasama luar negri. Rekrutmen kerja sama termasuk pemimpin, sistim inpasi dan pengajuan, pengembangan staf dan karir, dan sistim nilai sosial budaya, merupakan jalan raya dan lingkungan pendidikan. Pendidikan seharusnya disadari sebagai hasil investasi bangsa, sebuah investasi mestinya disepakati lebih penting daripada investasi dalam bidang manapun. Bagaimana mungkin pendidikan Indonesia dapat berkembang jika kebijakan dan prakatek di tanah air sebagaimana yang diilustrasikan oleh Editorial Media (3 Mei 2001) :

“Pendidikan di Indonesia adalah dunia yang sepi dan terbuang. Ia seperti ditakdirkan untuk menderita sendirian dan menanggung kemasyghulan dari penguasa satu ke penguasa yang lain… Yang amat menyedihkan, di republik ini dalam kesulitan ekonomi paling gawat sekallipun, politik selalu bisa dengan mudah menarik orang ramai untuk mendanainya. Sementara itu pendidikan dalam keadaan ekonomi amat bagus sekalipun, dia tetap dalam kepapan”.

Tak kurang pentingnya adalah kebijakan dalam merekrut tenaga kerja baik di sektor pemerintah dan swasta. Kebijakan dan praktek rekrutmen yang lebih terkesan kolusi dan nepotisme sungguh merupakan penyakit kanker yang mematikan pendidikan. Seorang lulusan pendidikan tidak perlu lagi berbekalkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang terpuji untuk mendaptkan pekerjaan. Sebaliknya lulusan dengan hasil yang baik, tidak pernah yakin akan mendapatkan pekerjaan yang ia minati. Sistim dan praktek rekrutment tenaga kerja kurang lebih cenderung menggunakan pendekatan personal dari pada kemampuan profesional, langsung atau tidak langsung ikut menjatuhkan kualitas pendidikan, juga langsung atau tidka langsung telah menghambat pembaharuan pengajaran yang terjadi di Sekolah dna kelas. Dalam jangka panjang akan ikut juga memerosotkan “Strong determination to succeed” atau tekad untuk berhasil. Padahal seperti yang dikemukakan oleh De Boro, tekad yang kuat untuk berhasil inilah yang membawa Singapura menjadi salah satu Negara di dunia yang sangat berhasil.

Pentingnya mutu pendidikan di Indonesia bukanlah semata-mata berasal dari pendidikan sendiri, tapi lebih banyak dan kuat berasal dari lingkungan sekitar

Lemahnya dukungan terutama dukungan politik, kurangnya kaitan antara kebijakan di bidang ekonomi, keuangan, investasi, perpajakan, rekrutmen tenaga kerja, sistem upah dan penggajian, pengembangan karir, dengan pendidikan itulah yang menjadi faktor mengapa mutu pendidikan di Indonesia sukar untuk berkembang

b) Pengemudi Pendidikan

Guru dan kepala sekolah adalah pengemudi pendidikan di lapangan. Semestinya mereka ini direkrut dari calon pengemudi yang berbakat, cerdas, dan bertanggung jawab.

Pembaharuan pengemudi pendidikan harus dilakukan jika mutu pendidikan akan ditingkatkan. Harus ada keputusan politik, keuangan dan anggaran dan ketenaga-kerjaan yang dimaksudkan untuk menjaring dan menyaring calon tenaga pendidikan. Ketika kebijakan pembuatan “Tunjangan Ikatan Dinas (TID)” kepada calon Guru diberlakukan, maka Indonesia mampu merekrut calon Guru yang berbakat dan berkemampuan akademik yang baik.

Rekrutmen, seleksi, pelatihan, dan instruksi guru dengan tingkat pedagogical dan life skills yang tinggi merupakan tanggung yang besar bagi suatu bangsa. Profesi suatu guru harus diduduki oleh mereka yang mempunyai pribadi terpuji dan merupakan “Role models” bagi kaum muda.

Pilihan untuk perbaikan sesunguhnya sudah jelas jika kita berkaca pada pengalaman masa lalu. Dukungan untuk emmeprkuat lembaga pendidikan guru hendaklah dijadikan prioritas Nasional. Melalui TID akan terjadinya lulusan yang terbaik yang berminat untuk meneruskan kelembaga pendidikan guru.

Kebijakan ini akan melahirkan guru-guru dan kepala sekolah yang tangguh. Dair merekalah kita berharap pembaharuan pendidikan, terutama pembaharuan pembelajaran yang terjadi. Dari mereka pulalah kita dapat berharap untuk melahirkan lulusan atau SDM yang juga bermutu tinggi. Dengan SDM yang bermutu tinggi ini pulalah Indonesia membangun dan mengembangkan sector industri, perdagangan, pertanian, dan jasa yang tangguh yang pada gilirannya akan meningkatkan GDP dan GNP rakyatnya. Membenahi jalan raya dan lingkungan, serta mendidik dan melatih para pengemudi seharusnya menjadi prioritas utama. Idealnya, bahkan lebih tinggi skalanya dari pada sektor-sektor lainnya.

c) Mobil

Dengan jalan raya dan lingkungan yang kondusif dan pengemudi yang tangguh maka dengan mobil (kurikulum, bahan ajar, dan tehnik serta media pembelajaran). Seandainyapun kita masih dapat berharap penumpangnya akan sampai ke tempat tujuan. Artinya jika dukungan politik dna kebijakan makro yang diambil oleh pemerintah itu mendukung, dan guru-guru kita di rekrut dengan cara yang frofesional, maka betapapun belum sempurnyanya kurikulum, kita masih dapat berharap akan terjadi pembaharuan yang positif dan signifikan pada anak didik kita.

Sopir (guru) yang handal bahkan ada kalanya mampu memperbaharui mobil (kurikulum) yang ia bawa. Sementara itu, sesuai dengan kemampuan ekonomi secara bertahap kita mulai meng-upgrade mobil (kurikulum, bahan ajar, dan media pembelajaran) yang ada dan dengan semakin membaiknya ekonomi- keuangan, kita mampu membeli mobil-mobil baru (kurikulum baru) yang lebih canggih.

Bukankah pengalaman telah mengajarkan kepada kita walaupun mobil (kurikulum, bahan ajar, dan tehnik serta media pembelajaran) yang ada telah kita upgrade berkali-kali, namun dengan kemampuan para pengemudinya (guru, kepala sekolah) yang terbatas, hingga saat ini kita belum menyaksikan hasil yang kita harapkan.

d) Penumpang dan Tujuan

Penumpang terpentign pertama adalah anak didik. Penumpang kedua terpenting adalah orang tua murid, dan yang terpenting ketiga adalah pemakai lulusan. Supir (guru) yang bijak dan mobil (kurikulum, bahan ajar, dna tehnik serta media pembelajaran) yang bagus harus membawa ketiga jenis penumpang ini bersama-sama dalam satu mobil.

Lahirnya gagasan yang diberi nama dewan pendidikan, komite sekolah, manajemen berbasiskan sekolah (MBS), pada dasarnya dimaksudkan agar dialog yang sehat, konstruktif dan produktif dapat terjadi. Anak didik, orang tua dan pemakai lulusan (penumpang) berharap agar guru (pengemudi) dengan kurikulum., bahan ajar, dan tehnik serta media pembelajaran (mobil) yang dipercayakan kepadanya harus mampu memberikan layanan yang memuaskan dari segi intelektual, fiskal, emosional, sosial dan spiritual. Dimensi spektif pengembangan perasaan, harus mendapatkan perhatian lebih besar.

Belajar tidaklah terkait dengan aspek intelektual semata-mata, tapi harus dikaitkan pula dengan tindakan yang prkatis dan peluang untuk mencurahkan perasaan pribadi ke anak didik.

Aspek pendidikan harus lebih jauh dari sekedar mengajarkan hal-hal yang rasional, namun tanpa menjadikan mereka mahluk yang irrasional.

Perasaan dan emosi merupakan bagian yang terpenting dalam perkembangan watak manusia dan karenanya menjadi bagian yang sentral dalam pendidikan. Imajinasi dan intelek sam pentingnya, saling isi mengisi, dan slaing membutuhkan. Pendidikan harus mampu melengkapi anak didik untuk mengatasi mamsalah yang timbul akibat hati dan pikiran yang sempit.

Lembaga pendidikan bekerja sama dengan masyarakat dan pihak-pihak lainnya yang berkepentingan lainnya, patut memberikan dukungan kepada warga dari berbagai kelompok umur dalam membangun relasi sesamanya secara positif dan bermanfaat. Membangun hubungan dalam diri sendiri secara positif dan sehat juga tak kurang pentingnya.

Pendidikan harus mampu menjadikan setiap anak didik menjadi calon pemimpin untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Goh Cok Tong, Perdana mentri Singapura, seorang pemimpin yang baik harus mempunyai 5 C yang andal yaitu : character atau sifat dan tabiat, capability atau kemampuan profesional, compassion atau perasaan haru, simpati, tidak tega melihat kesusahan, penderitaan, kemelaratan, dan kebobrokan keduniaan (termasuk KKN), conviction atau pendirian yang teguh, tidak mencla mencle, dan commitmen atau tekad untuk menempati janji, ikrar, atau sumpah ketika ia dilantik sebagai pemimpin.

Sekali lagi, pendidikan dengan basis yang kuat snagat diperlukan untuk mengjhasilkan warga dan calon-calon pemimpin sebagaimana digambarkan oleh perdana menteri Singapura. Ingatlah kembali ungkapan masyarakat Afrika yang kemudian dikutif oleh Hillary Clinton : “It takes an empire village to educate a single child”. Secara tersurat dan tersirat ucapan ini berada dalam lahirian berbasis luas.