Sumbangan Teori Belajar Kognitif pada Pembelajaran Kooperatif

Sumbangan Teori Belajar Kognitif pada Pembelajaran Kooperatif

Pada kesempatan ini akan dibahas dua teori yang berhubungan dengan teori belajar kognitif, yaitu teori Piaget dan teori Vygotsky. Karena kedua banyak menyumbang dalam pembentukan pembelajaran Kooperatif.
1. Teori Piaget
Jean Piaget adalah ahli psikologi yang pertama menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar. Ia menjelaskan bagaimana proses pengetahuan seseorang dalam teori perkembangan intelektual yaitu berpikir dari konkrit ke abstrak.
Menurut Piaget, tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel, terutama selama masa transisi dari periode yang satu ke periode berikutnya. Umur kronologis itu dapat saling tindih tergantung kepada individu.
Skema adalah suatu struktur mental atau kognitif yang dengan seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Menurut Piaget, adaptasi adalah proses penyesuaian skema dalam merespon lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, ataupun pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya. Akomodasi adalah proses pengintegrasian stimulus baru kedalam skema yang telah terbentuk secara tidak langsung. Selanjutnya dalam proses perkembangan kognitif seseorang diperlukan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Keadaan ini disebut dengan equilibrium.
Pada bagian lain Slavin menegaskan bahwa teori perkembangan Piaget mewakili konstruktivisme, yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Hal ini berarti bahwa anak-anak mengkontruksi pengetahuan secara terus-menerus dengan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi-informasi baru.
Sumbangan penting dari teori belajar Piaget dalam pembelajaran kooperatif, adalah pada saat siswa mengkonstruk dalam penyelesaian tugas-tugas secara individu dan secara kelompok saat siswa bekerja dalam kelompok. Salah satu syarat keanggotaan kelompok belajar adalah mempertimbangkan kemajuan perkembangan anak. Dalam kelompoknya siswa saling berdiskusi tentang masalah-masalah yang menjadi tugas kelompoknya masing-masing. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar yang mendapat kesulitan pada saat mereka mengerjakan tugas.

2. Teori Vygotsky
Vygotsky mengemukakan ada empat prinsip kunci dalam pembelajaran, yaitu: (1) penekanan pada hakekat sosio-kultural pada pembelajaran (the sosiocultural of learning), (2) zona perkembangan terdekat (zone of proximal development), (3) pemagangan kognitif (cognitive appreticeship), dan (4) perancahan (scaffolding). Keempat prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini.
Prinsip pertama menurut Vygotsky siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang lain dalam proses pembelajaran.
Prinsip kedua menurut Vygotsky dalam proses perkembangan kemampuan kognitif setiap anak memiliki apa yang disebut zona perkembangan proksimal (zone of proximal development) yang didefinisikan sebagai jarak atau selisih antara tingkat perkembangan anak yang aktual dengan tingkat perkembangan potensial yang lebih tinggi yang bisa dicapai si anak jika ia mendapat bimbingan atau bantuan dari seseorang yang lebih dewasa atau lebih berkompeten.
Prinsip ketiga menurut Vygotsky adalah pemagangan kognitif, yaitu suatu proses dimana seorang siswa belajar setahap demi setahap akan memperoleh keahlian dalam interaksinya dengan seorang ahli. Seorang ahli bisa orang dewasa atau orang yang lebih tua atau teman sebaya yang telah menguasai permasalahannya.
Prinsip keempat menurut Vygotsky adalah perancahan atau scaffolding, merupakan satu ide kunci yang ditemukan dari gagasan pembelajaran sosial Vygotsky. Perancahan berarti pemberian sejumlah besar bantuan kepada seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian secara perlahan bantuan tersebut dikurangi dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab setelah ia mampu mengerjakan sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, maka implikasi utama dari teori Vygotsky terhadap pembelajaran adalah kemampuan untuk mewujudkan tatanan pembelajaran kooperatif dengan dibentuk kelompok-kelompok belajar yang mempunyai tingkat kemampuan berbeda dan penekanan perancahan dalam pembelajaran supaya siswa mempunyai tanggungjawab terhadap belajar.
(dari berbagai sumber)

Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dan Pembelajaran Konvensional

Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dan Pembelajaran Konvensional

Kooperatif adalah suatu gambaran kerjasama antara individu yang satu dengan lainnya dalam suatu ikatan tertentu. Ikatan–ikatan tersebut yang menyebabkan antara satu dengan yang lainnya merasa berada dalam satu tempat dengan tujuan–tujuan yang secara bersama–sama diharapkan oleh setiap orang yang berada dalam ikatan itu. Pemikiran tersebut hanya merupakan suatu gambaran sederhana apa yang tersirat tentang kooperatif.
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang berlandaskan konstruktivis. Konstruktivisme dalam pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa mampu menemukan dan memahami konsep–konsep sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Di dalam model pembelajaran tersebut pada aspek masyarakat belajar diharapkan bahwa setiap individu dalam kelompok harus berperan agar tujuan yang telah digariskan dapat tercapai.
Unsur–unsur dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
1. Siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama“.
2. Siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompok disamping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
3. Siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
4. Siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggungjawab sama besarnya di antara para anggota kelompok.
5. Siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berperan terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6. Siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar.
7. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif yang kita gunakan merupakan hal baru bagi guru dan siswa karena memiliki perbedaaan–perbedaan yang mendasar dibandingkan dengan model pembelajaran selama ini, di mana peranan guru sangat dominan.
Hasil–hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik–teknik pembelajaran kooperatif lebih banyak meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pembelajaran konvensional

Beberapa perbedaan yang mendasar antara pembelajaran kooperatif dan pembelajaran konvensioanal adalah bahwa pada pembelajaran Kooperatif mempunyai sifat:
1 Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.
2. Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan
3. Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan
4. Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok
5. Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong-royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan
6. Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok.
7. Guru memperhatikan secara proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
8. Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai)

Sedangkan pada pembelajaran Konvensional mempunyai sifat:
1. Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok
2. Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok sedangkan anggota kelompok lainnya hanya “mendompleng” keberhasilan “pemborong”.
3. Kelompok belajar biasanya homogen.
4. Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing.
5. Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan.
6. Pemantauan melalui onservasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung.
7. Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar
8. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas.

Pembelajaran kooperatif merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang interaksi antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru. Kondisi seperti inilah yang sangat diharapkan agar interaksi berjalan baik demi kelancaran pembelajaran. Contextual Teaching and Learning (CTL) yang dikembangkan oleh CORD dan menyatakan bahwa kebanyakan siswa belajar jauh lebih efektif pada saat mereka diberi kesempatan bekerja secara kooperatif dengan siswa–siswa lain dalam kelompok atau tim. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Linda Lundgren, menunjukkan bahwa dalam “setting” kelas kooperatif, siswa belajar lebih banyak dari satu teman ke teman lain diantara sesama siswa daripada dari guru. Penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya.
Ada lima hal dasar yang perlu diperhatikan agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan dengan baik
1. Kemandirian yang positif
Kemandirian yang positif akan berhasil dengan baik apabila setiap anggota kelompok merasa sejajar dengan anggota yang lain. Artinya satu orang tidak akan berhasil kecuali anggota yang lain merasakan juga keberhasilannya. Apapun usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri tetapi untuk semua anggota kelompok. Kemandirian yang positif merupakan inti pembelajaran kooperatif.
2. Peningkatan interaksi
Pada saat guru menekankan kemandirian yang positif, selayaknya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling mengenal, tolong menolong, saling bantu, saling mendukung, memberi semangat dan saling memberi pujian atas usahanya dalam belajar. Aktivitas kognitif dan dinamika kelompok terjadi pada saat siswa diikutsertakan untuk belajar mengenal satu sama lain. Termasuk dalam hal ini menjelaskan bagaimana memecahkan masalah, mendiskusikan konsep yang akan dikerjakan, menjelaskan pada teman sekelas dan menghubungkan dengan pelajaran yang terakhir dipelajari.
3. Pertanggungjawaban individu
Tujuan kelompok dalam pembelajaran kooperatif adalah agar masing-masing anggota menjadi lebih kuat pengetahuannya. Siswa belajar bersama sehingga setelah itu mereka dapat melakukan yang lebih baik sebagai individu. Untuk memastikan bahwa masing-masing anggota lebih kuat, siswa harus membuat pertanggungjawaban secara individu terhadap tugas yang menjadi bagiannya dalam bekerja. Pertanggungjawaban individu akan terlaksana jika perbuatan masing-masing individu dinilai dan hasilnya diberitahukan pada individu dan kelompok.
Pertanggungjawaban individu berguna bagi setiap anggota kelompok untuk mengetahui:
a. siapa yang memerlukan lebih banyak bantuan, dukungan dan dorongan semangat dalam melengkapi tugas,
b. bahwa mereka tidak hanya “membonceng” pada pekerjaan teman.
4. Interpersonal dan kemampuan grup kecil
Dalam pembelajaran kooperatif, selain materi pelajaran (tugas kerja) siswa juga harus belajar tentang kerja kelompok. Nilai lebih pembelajaran kooperatif adalah siswa belajar tentang keterampilan sosial. Penempatan sosial bagi individu yang tidak terlatih, walaupun disertai penjelasan bagaimana mereka harus bekerjasama tidak menjamin bahwa mereka akan bekerja secara efektif. Agar tercapai kualitas kerjasama yang tinggi setiap anggota kelompok harus mempelajari keterampilan sosial. Kepemimpinan, membuat keputusan, membangun kepercayaan, komunikasi dan keahlian menggelola konflik juga harus dipelajari seperti halnya tujuan mereka mempelajari materi pelajaran.
5. Pengelolaan kelompok
Pengelolaan kelompok akan berhasil jika setiap anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka mencapai tujuan dan bagaimana mempertahankan hubungan kerja secara efektif. Kelompok perlu menggambarkan tindakan-tindakan apa yang akan membantu atau tidak akan membantu, selanjutnya membuat keputusan mengenai tingkah laku yang harus dilanjutkan atau diganti. (dari berbagai Sumber)

Baca Artikel Lain

Beban Kerja Guru ;>>>>> Baca

Langkah dalam melaksanakan BP di sekolah;>>> Baca

Pendekatan Pembelajaran Menulis;>>>>>>>>>>>> Baca

Enzim dan Bioaktif sebagai Penopang Devisa Negara ;>>>>>>>>> Baca

Disonansi Moral AnakMasa Kini >> Baca

RUANG LINGKUP DAN PROSES PEMBELAJARAN IPS

PENDAHULUAN

 

Keluarga merupakan kelompok perdana / primary group) dalam pembenrtukan kepribadian seseorang.(ch H. Cooley)

Keluarga memiliki kekuatan psikologi langsung dalam pembentukan kepribadian

 

Sedangkan gudep pramuka, karang taruna, kelompok organisasi merupakan scondary group yang mempengaruhi secara sekunder terhadap pembentukan kepribadian.Untuk memahami ini silakan menghayati sendiri betapa besar pengaruh keluarga terhadap pembentukan kepribadian anada (kedisiplinan, kepedulian, kebersihan,etos kerja, harga diri )

Ditinjau dari lingkup IPS, Kemajuan IPTEK di bidang elektronika yang menghasilkan telpon, TV, HP dll telah memperpendek jarak relatif suatu bagian dunia dengan bagian dunia lainnya, hal ini sangat berpengaruh pada terhadap proses budaya dalam kehidupan sosial.

 

Perkembangan IPTEK di bidang transportasi-komunikasi meningkatkan hubungan sosial manusia dari satu ruang geografi ke ruang geografi lainnya tidak saja satu arah tapi timbal balik ”interaksi sosial” proses ini tidak hanya trbatas pada proses budaya tapi telah meluas ke aspek-aspek lainya sperti aspek politik, terutama ekonomi.

 

Ruang lingkup IPS

 

Ditinjau dari aspek-aspeknya meliputi hubungan sosial,ekonomi, psikologi sosial, budaya, sejarah, gegrafi dan politik.

Ditinjau kelompoknya meliputi keluarga,RT,RW,WK,Warga Desa, ormasy. Sampai ke tingkat desa. Lokal, nasional,regional, global.

Proses interakksi sosial meliputi interaksi bid. Kekkbudayaan, politik dan ekonomi.

Mengingat luasnya cakupan IPS maka guruIPS wajib melakukan sseleksi agar sesuai dg tingkat jenajng dan kemampuan peserta didik.

Wajib mengenali sumber dan apendekatan yang sesuai dg peserta didik

 

NILAI-BILAI yang DIKEMBANGKAN IPS

Nilai edukatif

Nilai praktis

Nilai teoritis

Nilai filsafat

Nilai ketuhanan

 

NILAI EDUKATIF

Salah satu tolok ukur keberhasilan pelaksanaan pendidikan IPS adalah addanya perubahan tingkah laku sosial peserta didik kearah yang lebih baik.

Menanamkan perasaan, kesadaran, penghayatan, sikap, kepedulian dan tanggung jawab sosial melalui pendidikan IPS, fakta sosial diproses melalui metode dan pendekatan IPS untuk membangkitkan sikap + di atas.

Sikap positif dia tas terus dikembangngkan dalam penddilan IPS untuk mengubah perilaku peserta didik kearah kerja sama, gotong royong, dan membantu pihak2 yang membutuhkan.

Proses pembelajaran IPS tiidak hanya terbatas di kelas dan sekolah pada umummnya melainkan lebih jauh dari itu b dlaksanakan dalam kekhidupan prakttis sehari-hari

 

NILAI PRAKTIS

Pelajaran dan pendidikan tidak memiliki makna yang baik jk tidak memiliki nilai praktis.

Pokok bahasan IPS tidak hanya konsep teoritis belaka, tapi digali dari kehidupan sehari2 (disesuikan dg umur dan kegiatan siswa)

Penget IPS bermanfaat scr praktis dalam kehidupan masa depan

 

NILAI TEORITIS

Pendidikan IPS tak hanya menyajikan fakta & data yang terlepas tp menelaah keterkaitan suatu aspek kehidupan sosial dg lainnya

Dibina +dikkembangkan kemampuan nalar kearah sense of rality, sense of discovery, sense of inquiry, kemampuan mengajukan hipotesis thd suatu masalah.

Dalam menghadapai kehidupan sosial yang berubah ini kemampuan berteori sangat berguna dan strategis. Disini pensdidikan membina dan mengembangkan.

 

NILAI FILSAFAT

Menumbuhkan kemampuan merenung kan keberadaannya dan pernannya di tengah masyrakat shg tumbuh kesadaran mrk srlaku anggota msy. Atau sebagai makhluk sosial

 

NILAI KETUHANAN

Selaku guru IPS harus menyadari bahwa materi proses pembelajaran apapun pada pendidikan IPS wajib berlandaskan nilai ketuhanan.

Kekaguman akan ciptaa-Nya akan menumbuhkan rasa syukur kepadaNYA ssebagaikunci kebahagiaan manusia lahir dan bathin.

 

PROSES PEMBELAJARAN BERTAHAP

Sejarah

Ekonomi

Budaya

Psikologi

Hub sosial

Politik

Geografi

 

PROSES PEMBELAJARAN IPS

1. Penguasaan materi sebagai landasan kepercayaan

2. Anak didik kita tidak kosong sama sekali oleh pengetahuan sosial

3. Proses pembelajaran mengkaitkan fenomena yang ada di sekitar anak, dapat memperkaya pengetahuan, mempertajam penalaran-

Anak mempunyai pengetahuan sesuai dengan penghayatan dan pegalamannya

Kejadian sosial yang nyata dialami dan diamati dapat ditarik ke dalam kelas sebagai bahasan yang menarik

4. Makna yang wajib dihayati dalam proses pembelajaran IPS yaitu nilai-2 kehidupan yang menjadi landasan kebahagiaan hidup di masyarakat sebagai makluk sosial.-

5. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh nilai2 yang bermakna, akan menjadikan siswa yang berkemampuan intelektual tinggi namun emosinya tumpul-

Nilai yang wajib dihayati nialai filsafat yang menjadi kaesadaran keberadaan manusia di masyarakat dan lingkungan.

Nilai keTuhanan yang mjd landasan IMTAQ, baersyukur atas nikmat, kekaguman atas makhluk ciptaan Tuhan,

Emosi tumpul berarti lebih mementingkan nilai material dari pada nilai moral

Atau mengobankan nilai moral demi tercapainya nilai maaterial.

 

YANG HARUS DIHINDARI GURU IPS

1.Proses pembelajaran IPS yang makin membuat siswa asing tehadap kehidupan yang sesungguhnya.

2.Mendidik siswa hafal materi IPS yang diperoleh di sekolah namun tidak mengetahui hal tsb dalam kehidupan sehari2 –

Untuk memningkatkan nalar penghayatan dan kepedullian siswa thd masalah2an sosial yang terjadi di masyarakat materi pembelajaran dapat diberikan sebagai tantangan, materi tidak saja dilontarkan

 

KESIMPULAN

1.Untuk memningkatkan nalar penghayatan dan kepedullian siswa thd masalah2an sosial yang terjadi di masyarakat materi pembelajaran dapat diberikan sebagai tantangan, materoi toidak saja dilontarkan

2.Dalam proses pembelajaaran IPS ragamm pendekaatan dan metode yang diterapkan disesusikan dg kondisi lingkup msyarakat serta aspek yang menjadi pokok bahasan.

Keragaman penekatan dan metode yang ditrapka pada proses pembelajaran IPS, dapat mempr tahankan suasana hangat dan menarik

3. Empat landasan dalam proses pembelajaran IPS adalah telah dimilki

1)mental psikologis yang melekat pada diri peserta didik,

2)pEngetahuan sosial yang scr spontan

3) Ruang lingkup IPS sangat luas

4) Nilai-nilai yang melekat pada pendidikan IPS