Sumber kesalahan Berbahasa

Sumber kesalahan Berbahasa

 

Pernahkah terpikirkan  di benak  Anda  mengapa murid  Anda berbuat kesalahan pada waktu berbicara atau menulis? Apakah kesalahan  itu disebabkan oleh strategi kognitif siswa atau disebabkan oleh gaya belajar siswa, atau mungkin disebabkan oleh variabel yang lain, misalnya, kepribadian siswa?

Pada tahap awal, Anda sebagai guru mungkin hanya dapat menebak-nebak penyebab kesalahan berbahasa siswa Anda. Untuk dapat menjawabnya dengan tepat, Anda mungkin harus mengumpulkan data kesalahan berbahasa siswa Anda, baik dari data lisan maupun dari data tertulis. Dengan data tersebut, Anda dapat mengidentifikasi sumber kesalahan berbahasa Indonesia siswa Anda. Ujungnya Anda dapat menarik simpulan tentang dugaan sementara bagaimana aspek kognitif dan afektif siswa berhubungan dengan sistem kebahasaan. Anda juga dapat merumuskan proses belajar bahasa bagi siswa, khususnya bagi mereka yang belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua.

Melacak sumber kesalahan berbahasa sebenarnya bukan tugas yang ringan. Sesungguhnya ada ratusan sumber kesalahan berbahasa. Tetapi, Anda tidak harus mengidentifikasi ratusan sumber kesalahan berbahasa tersebut karena Anda dapat merangkum sumber kesalahan berbahasa tersebut dalam garis besarnya saja. Gambaran kasar tentang sumber kesalahan berbahasa itu benar-benar merupakan faktor yang signifikan bagi guru untuk memahami sistem pembelaja-ran bahasa siswa. Artinya, dengan mengetahui gejala-gejala yang muncul dalam bentuk kesalahan berbahasa, Anda dapat menyimpulkan bagaimana sebenarnya anak-anak itu belajar bahasa (Dulay, dkk., 1982). Misalnya, Anda akan mengetahui bahwa kata-kata yang mengandung makna leksikal akan dikuasai lebih dulu oleh anak daripada kata-kata yang mempunyai makna gramatikal. Kata daripada, karena, dengan, bahwa, maka, oleh, dan sebagainya merupakan kata-kata yang mengandung makna gramatikal. Kata-kata semacam itu tidak mengandung makna leksikal. Apa makna leksikal kata-kata itu? Maknanya tidak ada. Anda ambil saja kata daripada. Apa maknanya? Kata itu hanya mempunyai makna dalam konteks gramatikal. Maknanya dalam konteks gramatikal ialah ‘untuk menyatakan perbandingan’. Kata-kata semacam itu baru memperoleh maknanya dalam proses tata bahasa. Kata-kata semacam itu ternyata sulit dikuasai oleh pembelajar bahasa. Demikian juga kata-kata yang disebut sebagai deiksis, yakni kata yang rujukannya berubah-ubah sesuai dengan pembicara dan konteksnya (Purwo, 1985), ternyata juga sulit dikuasai anak. Kata-kata semacam itu ialah saya, aku, engkau, kamu, mereka, di sini, di sana, di situ, sekarang, besok, nanti, rujukannya berubah-ubah. Ambillah sebagai contoh kata saya. Siapakah saya itu? Kata saya rujukannya berubah-ubah bergantung pada siapa yang berbicara. Jika kata itu digunakan oleh Ali, maka saya itu mengacu pada Ali. Tetapi, apabila kata itu digunakan oleh Umar, saya itu mengacu pada Umar. Kata saya dapat mengacu pada Ali, Umar, dan bahkan pada siapa saja yang menggunakan kata itu.

Berdasarkan gambaran kasar tentang sumber kesalahan berbahasa itu dapat dilihat bahwa sumber kesalahan berbahasa itu meliputi (1) transfer interlingual dan (2) transfer intralingual (cf. Brown, 1980). Berikut ini Anda akan mempelajari tiap-tiap sumber kesalahan berbahasa tersebut.

Transfer Interlingual

Tahap awal pembelajaran bahasa lazimnya ditandai oleh transfer interlingual, yakni pemindahan unsur-unsur bahasa pertama atau bahasa ibu ke dalam bahasa kedua atau bahasa yang sedang dipelajari siswa. Misalnya, murid Anda adalah seorang anak yang berbahasa ibu bahasa Jawa. Pada tahap awal pembelajaran anak itu akan tampak masuknya unsur-unsur bahasa pertamanya, yaitu bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Artinya, ketika anak itu berbicara atau menulis dalam bahasa Indonesia, akan terdapat unsur-unsur bahasa Jawa yang digunakan dalam tuturan atau tulisannya. Misalnya, pada saat berbicara, tampak dengan jelas masuknya unsur intonasi bahasa Jawa ketika anak itu berbahasa Indonesia. Bahkan mungkin juga tampak jelas masuknya unsur tata bentuk, tata kalimat, bahkan unsur leksikal bahasa pertama ke dalam bahasa Indonesia. Mengapa hal itu terjadi? Pada tahap awal itu, sebelum sistem bahasa kedua, yakni sistem bahasa Indonesia dikuasai dengan baik oleh si anak, hanya bahasa pertamalah yang ada dalam benak pembelajar. Sistem yang sudah akrab itu digunakannya untuk membantu memperlancar proses komunikasi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sumber kesalahan berbahasa anak dapat disebabkan oleh masuknya unsur-unsur bahasa pertama atau bahasa ibu ke dalam bahasa kedua, yakni bahasa Indonesia. Kesalahan berbahasa anak dapat dilacak dari bahasa pertama anak yang belajar bahasa Indonesia.

Contoh-contoh transfer dari bahasa Jawa, bahasa Batak, dan bahasa Bali berikut ini akan dapat memberikan gambaran tentang transfer interlingual tersebut.

Transfer dari Bahasa Jawa

Ayah pergi ke sawah mencari dhadhuk.

Kata dhadhuk adalah kosakata bahasa Jawa yang ditransfer ke dalam bahasa Indonesia. Anak mengalami kesulitan untuk menyebutkan kata itu dalam bahasa Indonesia karena dalam bahasa Indonesia padanan yang cocok untuk kata itu tidak ada. Lazimnya kata itu harus dikatakan sebagai daun tebu yang sudah kering. Tidak ada padanan satu lawan satu kata dhadhuk dalam bahasa Indonesia. Bandingkan, misalnya, kata klambi, pitik, manuk, dan sebagainya yang mempunyai padanan satu lawan satu dalam bahasa Indonesia, yakni baju, ayam, burung. Karena terdapat perbedaan antara kosakata bahasa Indonesia dengan kosakata bahasa Jawa tersebut, si anak cenderung memindahkan begitu saja kosakata bahasa Jawa itu ke dalam tuturan bahasa Indonesianya. Muncullah juga kata dhadhuk dalam bahasa Indonesia

Transfer dari Bahasa Batak

 Yang sering terjadi transfer dari bahasa Batak itu adalah dalam ragam  lisan.

Anak-anak yang berbahasa pertama bahasa Batak cenderung untuk melafalkan e lemah seperti pada /kera/ menjadi /e/ keras seperti pada kata /sate/. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila anak-anak yang berbahasa pertama bahasa Batak akan melafalkan kata-kata di bawah ini sebagai berikut.

<mesra>

<tenang>

<perang>

<pilek>

<telaga>

Seharusnya huruf <e> pada kata-kata tersebut di atas dilafalkan  sebagai /e/ lemah.  dan tidak sebagai /e/ keras.

Transfer dari Bahasa Bali

Dalam ragam lisan siswa dari Bali cenderung untuk mentransfer bunyi [th] Bali ke dalam bahasa Indonesia. Perhatikan anak-anak Bali melafalkan kata-kata berikut

mi.

<pasti>

<tentu>

<atur>

<teman>

<telah>

[pasthi]

[thenthu]

[athur]

[theman]

[thelah]

Bahasa Indonesia hanya mengenal bunyi [t] dan tidak mengenal bunyi [th]. Tetapi, sebaliknya, bahasa Bali hanya mengenal bunyi [th] dan tidak mengenal bunyi [t].

 

Transfer Intralingual

Sumber kesalahan berbahasa dapat dilacak dari sistem bahasa kedua yang dipelajari oleh siswa. Jika siswa itu belajar bahasa Indonesia, sumber kesalahan berbahasanya dapat dilacak dari sistem atau kaidah-kaidah dalam bahasa Indone­sia itu sendiri. Kaidah itu dapat meliputi kaidah tata bunyi, tata bentuk, tata kalimat, kaidah leksikal, bahkan kaidah semantik. Berdasarkan hasil penelitian, tampak bahwa sumber kesalahan ini merupakan sumber kesalahan terbesar. Bahasa pertama atau bahasa ibu yang sering dituduh sebagai sumber kesalahan terbesar berbahasa kedua itu ternyata hanya menjadi faktor penyebab yang kecil saja, yakni kira-kira 13 persen; sedangkan selebihnya adalah sumber dari sistem bahasa kedua itu sendiri (Dulay, 1982).

Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi karena transfer intralingual itu di antaranya sebagai berikut.

Penghilangan Morfem-morfem Gramatikal

Termasuk ke dalam morfem gramatikal yang sering dihilangkan ialah:

(1)  Penghilangan awalan me- dan her- dalam bentuk-bentuk bahasa Indonesia.
Contoh:

Saya suka nonton sepak bola. Kakak saya kuliah di FKIP. Sekarang ia tidak kerja lagi. Kalau demikian, ia tidak jalan. Presiden resrnikan pabrik baru.

Bentuk-bentuk nonton, kuliah, kerja, jalan, resrnikan merupakan bentuk yang kehilangan morfem gramatikal, yakni kehilangan awalan me- pada nonton, resrnikan dan kehilangan awalan ber- pada bentuk kuliah, kerja, jalan. Seharusnya bentuk-bentuk itu menjadi menonton, berkuliah, bekerja, berjalan, meresmikan.

 (2) Penghilangan akhiran -kan.

Contoh:

Saya mengajar bahasa Indonesia.

Orang itu paling suka memberi nasihat.

Saya tidak biasa memberi keterangan semacam itu.

Ada penghilangan akhiran -kan pada bentuk mengajar dan memberi pada contoh-contoh di atas. Seharusnya bentuknya adalah mengajarkan bahasa Indonesia, memberikan nasihat, dan memberikan keterangan.

(3) Penghilangan partikel.

Sesuai pendapat saya, hal itu dapat diterima. la pergi Surabaya.

Bapak ada rumah.

Ada partikel yang dihilangkan pada contoh di atas, yakni partikel dengan, ke, dan di pada bentuk sesuai pendapat, pergi Surabaya, dan ada rumah. Seharusnya bentuk tersebut adalah sesuai dengan pendapat, pergi ke Surabaya, dan ada di rumah.

Penandaan Ganda atau Penggunaan Unsur Secara Berlebihan Termasuk ke dalam bentuk ini di antaranya ialah:

(1) Penggunaan gaya bahasa tautologi, yakni penggunaan kata yang sama atau mirip maknanya secara bersamaan. Contoh:

Jumlah orang yang hadir berjumlah 30 orang. Demi untuk pacarnya ia rela berkorban harta dan jiwa. Agar supaya berhasil ia bekerja keras. Pancasila adalah merupakan dasar negara. Sejak dari kecil ia sakit-sakitan.

Pada tiap-tiap kalimat di atas terdapat kata yang mempunyai makna yang sama, yakni:

berjumlah untuk

Selayaknya penutur memilih satu bentuk untuk tiap-tiap kalimat. Jadi, kalimat tersebut akan menjadi benar apabila dibenahi menjadi seperti .ini. Jumlah orang yang hadir 30 orang. Yang hadir berjumlah 30 orang. Demi pacarnya, ia rela berkorban harta dan jiwa. Untuk pacarnya, ia rela berkorban harta dan jiwa. Agar berhasil, ia bekerja keras. Supaya berhasil, ia bekerja keras. Pancasila merupakan dasar negara. Pancasila adalah dasar negara. Sejak kecil ia sakit-sakitan. Dari kecil ia sakit-sakitan.

(2) Penggunaan gaya bahasa pleonasme Contoh: la naik ke atas. All sedang  turun ke bawah. Murid yang rajin itu disuruh gurunya maju ke depan.

Kata naik sudah mengandung pengertian ‘ke atas’. Demikian juga turun, maju sudah mengandung pengertian ‘ke bawah’ dan ‘ke depan’. Oleh sebab itu, penggunaan kata ke atas, ke bawah, ke depan tidak diperlukan lagi. Kalimat itu akan menjadi baku bila dibenahi sebagai berikut. la naik. la ke atas. AH sedang turun. Ali sedang ke bawah.

Anak yang rajin itu disuruh gurunya maju. Anak yang rajin itu disuruh gurunya ke depan.

(3) Penggunaan kata dari dan daripada untuk menyatakan kepunyaan Contoh:

Ceramah daripada presiden kita menarik perhatian daripada anggota DPR. Undangan dari rektornya sangat diperhatikannya. Hasil daripada panen petani berlimpah ruah.

Bentuk genitif atau frase kepunyaan dalam bahasa Indonesia tidak perlu menggunakan bentuk daripada atau dari. Jadi, sebaiknya kalimat di atas dibenahi menjadi seperti ini. Ceramah presiden kita menarik perhatian anggota DPR.

Undangan rektornya sangat diperhatikannya. Hasil panen petani berlimpah ruah.

Kesalahan Analogi atau  Generalisasi yang Berlebihan

Contoh:

la yang melola perusahaan itu sekarang.

Kita harus mengkikis habis racun-racun komunisme

 

Bentuk melola dan mengkikis merupakan bentuk yang salah karena analog! yang keliru. Bentuk kelola yang merupakan bentuk dasar diduga oleh pembelajar sebagai bentuk turunan yang berasal dari bentuk lola yang mendapatkan awalan ke-, seperti bentuk lain, yakni kekasih, ketua, kehendak yang memang berasal dari tua, kasih, dan hendak yang dapat dibentuk menjadi dituakan, dikasihi, hendaknya. Dengan menganalogikan bentuk-bentuk tersebut lahirlah bentuk melola. Demikian juga bentuk mengkikis merupakan analogi yang salah dari bentuk mengkaji. Jika dari kaji dapat dibentuk mengkaji, mengapa kikis tidak dapat dijadidkan mengkikis? Begitulah pola pikir pembelajar bahasa dan terjadilah kesalahan yang disebut analogi yang keliru atau generalisasi yang berlebihan.

Kesalahan Menyusun Bentuk Dalam Sebuah Konstruksi

Contoh:

la yang harus mempertanggungkan jawab pekerjaan itu.

Masalah kemacetan kredit Bimas saya ingin laporkan kepada Bapak.

Tugas itu Saudara dapat kerjakan setiap saat.

Adat-istiadat daerah kita harus perkenalkan kepada bangsa-bangsa di luar negeri

untuk menarik minat wisatawan mancanegara.

Ini malam filmnya bagus sekali.

Seminar itu diselenggarakan di Surabaya Hotel

Bentuk mempertanggungkan jawab merupakan bentuk yang salah. Jika kata majemuk mendapatkan awalan dan akhiran, maka awalan dan akhiran itu akan mempersenyawakan unsur-unsurnya. Oleh sebab itu, bentuk yang benar ialah mempertanggungjawabkan.

Kalimat yang dalam bentuk pasif persona, yakni bentuk pasif yang pelakunya kata ganti orang, urutan predikatnya adalah aspek + agen + verba (keterangan + pelaku – kata kerja). Jadi, bentuk saya ingin laporkan, Saudara dapat kerjakan, kita harus perkenalkan seharusnya diubah menjadi ingin saya laporkan, dapat Saudara kerjakan, harus kita perkenalkan.

Frase bahasa Indonesia berkaidah  DM, yakni diterangkan-menerangkan. Bentuk yang diterangkan mendahului bentuk yang menerangkan. Jadi, bentuk ini malam, Surabaya Hotel tidak selaras dengan kaidah DM dan harus diubah menjadi malam ini dan Hotel Surabaya

Iklan

ANALISIS LETAK KALIMAT UTAMA DALAM KARANGAN SISWA KELAS I SMA BAB II

BAB II LANDASAN TEORI
A. Karangan
Tarigan (1982:3) mengatakan bahwa menulis atau mcngarang merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipcrgunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak sccara tatap rnuka dengan orang Iain. Dalam kegiatan menulis penulis haruslah terampil memanfaatkan struktur bahasa dan kosa kata. Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur.
Karangan adalah hasil dari Inspirasi seseorang yang dituangkan melalui tulisan. Nurdin (2005:231) mengatakan bahwa karangan adalah bcntuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh.
Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti menyimpulkan karangan adalah hasil dari inspirasi seseorang yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang.
Keraf (1979:107) menyatakan bahwa tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Untuk menulis suatu karangan, penulis harus memilih suatu topik atau pokok pembicaraan. Langkah-langkah dalam menyusun karangan adalah sebagai berikut. 1. Menentukan topik dan tema
Ciri-ciri topik yang baik adalah sebagai berikut:
a menarik perhatian penulis;
b. dikuasai oleh penuiis;
c. menarik dan aktuai;
d. ruang lingkupnya tcrbatas.
Topik yang dapat dijadikan inspirasi dalam mengarang, diantaranya:
a. pengalaman pribadi;
b. hobi dan keterampilan;
d. pendapat pribadi;
e. peristiwa aktuai;
f. masalah-masalah umum, seperti keagamaan, sosial, dan politik;
g. kilasan biografis;
h. kejadian khusus.
Setelah pencntuan topik, langkah selanjutnya adalah merumuskan tema. Perumusan tema hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
1.Kejelasan, tema hendaknya dirumuskan dengan kalimat yang jelas, tidak
bertele-tcle dan berbeiit-belit. Kejelasan tema sangat menentukan arah
pengembangan karangan.
2.Kesatuan, tema yang baik memiliki satu gagasan sentral. Sentralitas gagasan
ditandai oleh jumlah masalah pokok yang hendak digarap pcnulis.
3. Keaslian dapat diukur dari beberapa sudut, pertama dari pilihan pokok persoalan, dari sudut pandang, pendekatannya, dari rangkaian kalimat-kalimatn, dan dari pilihan kata. 2. Merumuskan judul karangan
Judul karangan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut.
3.Relevan, ada hubungan dengan isi karangan.
4.Provokatif, dapat menimbulkan hasrat keingintahuan pcmbaca.
5.Singkat mudah dipahami dan mudah pu!a diingat.
B. Alinea
Ah’nea bukanlah suatu pembagian secara konvensional dari suatu bab yang terdiri dari kalimat-kalimat, tetapi lebih dalam maknanya dari kesatuan kalimat saja. Alinea tidak lain dari suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. la merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk scbuah gagasan. Alinca akan menjadi lebih jelas oleh uraian-uraian tambahan, untuk menampilkan pokok pikiran secara lebih jelas (Keraf,1979 : 62 ).
Pendapat lain Nurdin, (2005:137) mengatakan paragraf (alinca) adalah suatu kesatuan pikiran yang merupakan kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Paragraf merupakan himpunan dari berbagai kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk suatu gagasan. Dalam suatu paragraf, gagasan tersebut menjadi lebih jelas oleh uraian-uraian tambahan untuk menampilkan pokok pikiran secara lebih jelas.
Berdasarkan dua pendapat di atas, dapat disimpulam bahwa alinea dan paragraf mengandung pengertian yang sama mengungkapkan satu ide pokok.. Oleh karena itu, kita dapat menggunakan kata paragraf atau kata alinca. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa alinea suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat dengan uraian-uraian tambahan maksud dan tujuannya untuk menampilkan pokok pikiran secara lebih jelas, yang dalam ragam tulis ditandai
10
olch baris pertama menjorok kedalam. Pendapat lain dikemukakan oleh Hayon ( 2007 : 32 ), seberapa besar jumlah kalimat yang mengisi sebuah paragraf tidak dapat ditetapkan secara pasti. Yang diketahui hanyalah sebuah paragraf memiliki kalimat utama yang berisi gagasan utama.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diambil suatu pengertian bahwa sebuah paragraf seharusnya terdiri atas lebih dari satu kalimat. Walaupun demikian, kadangkala ditemukan sebuah paragraf hanya dibentuk oleh sebuah kalimat bahkan banyak kalimat sampai menempati satu halaman.
Pembahasan suatu gagasan yang sama dalam suatu rangkaian kalimat memudahkan orang untuk mengerti pokok pembicaraan pada paragraf itu. Orang akan mudah memahami isi tulisan atau karangan secara kcseluruhan dan akan tertarik untuk mencruskan bacaannya.
Telah diuraikan sebelumnya bahwa paragraf biasanya diartikan sebagai kumpulan beberapa kalimat, namun ada paragraf hanya dibentuk oleh sebuah kalimat. Menurut Keraf,( 1979:63) hal tersebut disebabkan karena pertama, paragraf itu kurang baik dikembangkan oleh penulisnya ; penulis kurang memahami alinea. Kedua, memang sengaja dibuat oleh pengarang, karena ia sekcdar mengemukakan gagasan itu bukan untuk di kembangkan, atau pengembangannya terdapat pada paragraf berikutnya.
C. Macam-macam Alinea
Keraf (1979:63) dalam bukunya yang berjudul Komposisi menyatakan bahwa berdasarkan sifat dan tujuannya alinea dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
11
1. Alinea Pembuka
Alinea pembuka berfungsi sebagai pembuka, pengantar karangan atau pokok pikiran dalam bagian karangan. Sifat-sifat dari alinea ini harus menarik minat dan perhatian pembaca. Alinea pembuka yang pendek jauh lebih baik, karena alinea-alinea yang panjang akan menimbulkan kebosanan pembaca.
2. Alinea penghubung
Yang dimaksud dengan alinea penghubung adalah semua alinea yang terdapat antara alinea pembuka dan alinea penutup. Inti persoalan yang akan dikemukakan terdapat dalam alinea-alinea penghubung. Oleh karena itu, dalam membentuk alinea-alinca penghubung harus diperhatikan agar hubungan antara alinea dengan alinea itu teratur, serta disusun secara logis. Sifat alinea-alinea penghubung tergantung pula dari jenis karangannya. Dalam karangan yang bersifat deskriptif, naratif atau eksposisi, argumentasi dan persuasi, alinea-alinca itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa alinea disiapkan sebagai dasar atau landasan, untuk kemudian melangkah kcpada alinea-alinea yang menekankan pendapat pengarang
3. Alinea Penutup
Alinea penutup adalah alinea yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan. Dengan kata lain alinea ini mengandung kesimpulan pendapat yang telah diuraikan dalam alinea-alinea penghubung.
Alinea yang baik menurut Keraf ( 1979:67) harus memenuhi tiga syarat, yaitu: kohesif, koherensi, dan pengcmbangan alinea.
12
a. Kohesif
Yang dimaksud dengan kohesif dalam alinea adalah keterikatan atau hubungan yang erat semua yang membina alinea itu secara bersama-sama menyatakan satu hal, suatu tcma tertentu. Dengan demikian, tiap alinea hanya mengandung satu pikiran utama atau satu tema. Oleh sebab itu, dalam pengembangannya tidak boleh terdapat unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan tema atau pikiran tersebut akan menyulitkan pembaca dalam memahami. Jadi, dalam tiap alinea hanya boleh ada satu pikiran utama atau kalimat utama.
b. Koherensi
Yang dimaksud dengan koherensi adalah hubungan yang logis antar bagian karangan. Kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain membentuk alinea. Kepaduan yang baik itu terjadi apabila hubungan timbal balik antara kalimat-kalimat yang membangun alinea itu baik, wajar dan mudah dipahami tanpa kesulitan. Gunanya agar pembaca dengan mudah mengikuti jalan pikiran penulis.
c. Pengembangan alinea
Yang dimaksud pengembangan alinea adalah penyusunan atau perincian gagasan-gagasan yang membangun alinea. Pengembangan alinea mencakup dua persoalan utama yaitu pertama, kemampuan memerinci secara maksimal gagasan utama alinea ke dalam gagasan-gagasan bavvahan, dan kedua, kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan bawahan ke dalam suatu uraian yang teratur. Berdasarkan pola mengembangan alinea di bagi menjadi sepuluh, yaitu Generalis,
15
alinea ini. Semua kalimat sama penting, dan bersam-saraa membentuk kesatuan alinea.

Baca Artikel Lain

Fungsi dan Makna Afiks dari Bahasa Asing>>>>> Baca

Membaca Karya Sastra ;>>>>> Baca

Pendekatan-Pembelajaran Bbhs Indonesia Masa Depan;>>>>>>>>>>>> Baca

Pengorganisasian-Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia;>>>>>>>>> Baca

Istilah Populer dalam Pasar Modal >> Baca

ANALISIS LETAK KALIMAT UTAMA DALAM KARANGAN SISWA KELAS I SMA

ANALISIS LETAK KALIMAT UTAMA DALAM KARANGAN
SISWA KELAS I SMA  BAB I

oleh Agustina

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mengarang merupakan salah satu materi yang sudah dipelajari di sekolah baik di tingkat SD, SMP, SMA, tnaupun di perguruan tinggi . Banyak siswa mengatakan mengarang adaJah hal yang sulit, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa mengarang adalah hal yang menyenangkan.
Kebanyakan siswa tidak suka menulis atau mengarang. Jika keadaan ini terus bcrlanjut, suatu saat nanti anak didik di sekolah mencngah atas dikhawatirkan menjadi pasif tidak mempunyai keterampilan berbicara dan menulis (mengarang). Keadaan seperti ini dirasakan ketika guru mcmberikan tugas mengarang. Siswa menampakkan ekspresi wajah tidak mau dan tidak pcduli. Peristiwa ini terjadi hampir di semua tingkat kelas dan sekolah.
Menulis atau mengarang sebagai suatu bentuk ekspresi diri seorang penulis. Bahkan melalui menulis scseorang akan mcnemukan sebuah jati diri. Berdasarkan fakta tersebut alangkah sulitnya menumbuhkan kesadaran menulis dan betapa besar manfaatnya menulis dan betapa pentingnya tulisan.
Penulis harus memahami alinea atau paragraf dalam karangan. Sebuah paragraf dalam karangan berisi kalimat utama dan bebcrapa kalimat penjelas. Kalimat utama berisi gagasan utama atau gagasan pokok, sedangkan kalimat penjelas merupakan rincian dari gagasan utama.
Penulis harus memahami bahwa dalam setiap paragraf terdapat lebih dari satu kalimat. Karena itu, perlu juga dipikirkan ide-ide penjelas dari setiap ide
pokok yang teSah ditentukan.
Penulis pcrlu mengctahui bahwa setiap kalimat harus memiliki hubungan dengan kalimat lainnya dalam satu paragraf agar dapat membentuk sebuah paragraf yang padu. Kepaduan itu juga terlihat dalam hubungan antara satu paragraf dengan paragraf lainnya.
Cara meletakkan kalimat utama dalam sebuah paragraf ada empat macam yaitu ada di avval, akhir, awal dan akhir dan menyebar di seluruh paragraf. Siswa dapat mcnentukan sendiri dalam karangannya apakah kalimat utama diletakkan di awal paragraf, di akhir paragraf, di awal dan akhir paragraf atau diletakkan menyebar di seluruh paragraf. Oleh karena itu, peneliti berusaha meneliti dan mempelajari letak kalimat utama dalam karangan siswa kelas I SMA Mulawarman Tahun pembelajaran 2007/2008
B. Alasan Pemilihan Judul
Penulis memilih judul Analisis Letak kalimat Utama dalam Karangan Siswa Kelas I SMA Mulawarman, Tahun Pembelajaran 2007/2008, dengan pcrtimbangan sebagai berikut:
1.alinea atau paragraf merupakan unsur penting dalam karangan;
2.setiap penulis memilih gaya tersendiri dalam meletakkan kalimat utama dalam
paragraf.
3.belum ada penelitian sebelumnya mengenai analisis letak kalimat utama dalam
karangan siswa terutama siswa kelas I Mulawarman, Tarakan.
F. Manfaat Peneiitian
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
Adapun manfaat terscbut adalah sebagai berikut
4.Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bcrmanfat dalam
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengarang dan bermanfaat
sebagai dasar teori bagi penelitian ianjutan.
5.Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan
guru dalam pembelajaran sekaligus dapat digunakan sebagai cvaluasi hasil
pembelajaran mengarang.
G. Penegasan Judul
Judul skripsi ini adalah Analisis Letak Kalimat Utama dalam Karangan Siswa Kelas ISMA Mulawarman, Tahun pembelajaran 2007 / 2008. Pencgasan judul sangat diperlukan untuk mcmperjelas maksud skripsi ini. Adapun penegasan judul tersebut adalah sebagai berikut:
1. Analisis
Analisis adalah hasil dari kegiatan yang berlangsung sejak seseorang mulai mencliti kemudian mengkaji dan menjabarkannya serta mempertimbangkan (Usman, 1995:52)
2. Letak Kalimat utama
Letak kalimat utama adalah letak dari gagasan yang dikembangkan dalam scbuah paragraf ( Keraf, 1979:70 )
3. Karangan
Karangan adalah bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan
pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh (Nurdin, 2005:23). 4 Siswa Kelas I
Siswa Kelas I adalah siswa yang akan dijadikan subjek dalam penelitian 5. SMA Mulawarman Tarakan
SMA Mulawarman Tarakan adalah sekolah yang terletak di Jalan
Mulawarman, RT 42 Kelurahan Karang Anyar
Berdasarkan penegasan judul tersebut, peneliti berusaha menentukan letak kalimat utama dalam karangan siswa kelas I SMA Mulawarman Tarakan, Tahun pembelajaran 2007/2008.
H. Sistematika Penulisan
Gambaran secara umum penelitian ini disampaikan dalam sistimatika penulisan skripsi ini scbagai berikut:
Bab I adalah pendahuluan. Bab ini terdiri atas latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, mantaat penelitian penegasan judul dan sistematika penulisan. Bab II adalah landasan teori. Bab ini terdiri atas karangan, alinca, macam-macam alinea, kalimat utama. Bab III adalah mctode penelitian. Bab ini terdiri atas pengertian metode penelitian, waktu dan lokasi penelitian, jenis penelitian, populasi dan teknik pengambilan sampel, data dan sumber data, teknik pcngumpulan data, teknik analisis data.
Bab IV adalah pembahasan. Bab ini terdiri atas penyajian data dan anaiisis data. Bab V adalah pcnutup. Bab ini terdiri atas kcsimpulan dan saran.

PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM ACARA PLANET DANGDUT DI RADIO GRASS TARAKAN (TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK) BAB II

PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM ACARA
PLANET DANGDUT DI RADIO GRASS TARAKAN
(TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK)

oleh IRA MAYA SOPHA

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Bahasa
Bahasa memang bukan sesuatu yang langka untuk didengar. Namun, bukan berarti semua orang memahami tentang pengertian bahasa tersebut. Umumnya orang mengetahui bahwa bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari. Namun, untuk lebih jelasnya disampaikan beberapa pendapat tentang pengertian bahasa.
Chaer (2004:1) berpendapat bahwa bahasa adalah alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia. Maksud dari pendapat tersebut pada dasarnya menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang hanya dimiliki mahluk hidup yang disebut manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mahluk hidup yang lain tidak memiliki bahasa sebagai alat komunikasinya.
Sumarsono (2007:18) berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang berupa bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer) yang dipakai oleh anggota-anggota masyarakat untuk saling berhubungan dan berinteraksi. Pada hakikatnya pendapat yang disampaikan oleh Sumarsono tidak jauh berbeda dengan pendapat sebelumnya, hanya saja pendapat yang disampaikan oleh Sumarsono lebih menekankan bahwa bahasa merupakan alat untuk melakukan hubungan antara manusia satu dengan yang lain.
Aslinda (2007:1) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentiflkasikan diri. Berdasarkari beberapa pendapat yang telah dikemukakan tersebut dapat diambil sebuah kcsimpulan tentang penegcrtian bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia, yang berwujucl lambang bunyi, yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentiflkasikan diri.
B. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa sccara tradisional dapat dikatakan scbagai alat komunikasi verbal yang digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi. Akan tetapi, fungsi bahasa tidak hanya semata-mata sebagai alat komunikasi. Bagi Sosiolinguistik konsep bahasa adalah alat yang fungsinya menyampaikan pikiran saja dianggap terlalu sempit.
Chaer (2004:15) berpendapat bahwa fungsi yang menjadi persoalan Sosiolingustik adalah dari segi penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan. Maksud dari pernyataan tersebut pada intinya bahwa fungsi bahasa akan berbeda apabila ditinjau dari sudut pandang yang berbeda sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Adapun penjelasan tentang fungsi-fungsi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Segi penutur
Dilihat dari segi penutur maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi. Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya, bukan hanya menyatakan sikap lewat bahasa tetapi juga memperlihatkan sikap itu sewaktu menyampaikan tuturannya, baik sedang marah, sedih, ataupun gembira.
2. Segi pendengar
Dilihat dari segi pendengar maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Dalam hal ini, bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan hal sesuai dengan keinginan si pembieara.
3. Segi topik
Dilihat dari segi topik maka bahasa itu berfungsi referensial. Dalam hal ini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada di sekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya.
4. Segi kode
Dilihat dari segi kode maka bahasa itu berfungsi metalingual atau metalinguistik, yaitu bahasa digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri, seperti pada saat mengajarkan tentang kaidah-kaidah atau aturan-aturan bahasa yang dijelaskan dengan menggunakan bahasa.
5. Segi amanat
Dilihat dari segi amanat yang disampaikan maka bahasa itu berfungsi imaginatif, yakni bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan
10
perasaan (baik sebenarnya maupun khayalan/rekaan). Fungsi imagi ini biasanya
berbentuk karya-karya sastra.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan tentang fungsi bahasa. Fungsi bahasa dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu segi penutur, segi pendengar, segi topik, segi kode, dan segi amanat.
C. Sosiolinguistik
Sosiolinguistik jika ditinjau dari segi bahasa maka ilmu antardisiplin, yaitu sosiologi dan linguistik yang merupakan dua bidang ilmu yang berkaitan erat. Oleh karena itu, untuk memahami tentang Sosiolinguistik, perlu terlebih dahulu disampaikan apa yang dimaksud dengan sosiologi dan linguistik itu. Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat, mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat, sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.
Sumarsono (2007:2) mendefinisikan Sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu. Maksud dari penjelasan tersebut pada dasarnya menyatakan
11
bahwa para pcmakai bahasa tenlulah mempunyai perbedaan dari berbagai aspck. seperti jumlah, sikap, adat istiadat, dan budayanya.
Rafiek (2005:1) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam pelaksanaannya itu bermaksud/bertujuan untuk mempelajari bagaimana konvensi-konvensi tcntang relasi penggunaan bahasa untuk aspek-aspek lain tcntang perilaku sosial. Lebih lanjut, Booiji (Rafiek, 2005:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan.
Wijana (2006:7) berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat. Pendapat tersebut pada intinya berpegang pada satu kenyalaan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu, akan tetapi sebagai masyarakat sosial
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, dapat disimpulkan pengertian tentang sosiolinguistik. Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara para pengguna bahasa dengan fungsi variasi bahasa itu di dalam suatu masyarakat bahasa.
D. Variasi Bahasa
Variasi atau ragam bahasa merupakan bahasan pokok dalam studi sosiolinguistik. Bahasa itu menjadi beragam dan bervariasi bukan hanya penuturnya
12
yang tidak homogen lelapi juga karena kegialan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam.
Chaer (2004:62) mengatakan bahwa variasi bahasa itu pertama-tama kita bedakan berdasarkan penutur dan penggunanya. Berdasarkan penutur berarti, siapa yang mengunakan bahasa itu, di mana tempat tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakan. Berdasarkan penggunanya berarti, bahasa itu digunakan untuk apa, dalam bidang apa, apa jalur dan alatnya, dan bagaimana situasi keformalannya. Adapun penjelasan variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut: 1. Variasi bahasa dari segi penutur 1. 1 Variasi bahasa idioiek
Variasi bahasa idioiek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idioiek. setiap orang mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masing-masing. 1. 2 Variasi bahasa dialek
Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Umpamanya, bahasa Jawa dialek Bayumas, Pekalongan, Surabaya, dan lain sebagainya. 1. 3 Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal
Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya, variasi
13
bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan, dan variasi bahasa pada masa kini. 1. 4 Variasi bahasa sosiolek
adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain scbagainya. 1. 4. 1 Variasi bahasa berdasarkan usia
Variasi bahasa berdasarkan usia yaitu varisi bahasa yang digunakan berdasarkan tingkat usia. Misalnya variasi bahasa anak-anak akan berbeda dengan variasi remaja atau orang dewasa.
1. 4. 2 Variasi bahasa berdasarkan pendidikan, yaitu variasi bahasa yang terkait dengan tingkat pendidikan si pengguna bahasa. Misalnya, orang yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar akan berbeda variasi bahasanya dengan orang yang lulus sekolah tingkal atas. Demikian pula, orang lulus pada tingkat sekolah menengah atas akan berbeda penggunaan variasi bahasanya dengan mahasiswa atau para sarjana.
1.4.3 Variasi bahasa berdasarkan seks
Variasi bahasa berdasarkan seks adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis kelamin dalam hal ini pria atau wanita. Misalnya, variasi
I-I
bahasa yang digunakan o!eh ibu-ibu akan berbeda dengan varisi bahasa yang digunakan oleh bapak-bapak.
1. 4. 4 Variasi bahasa berdasarkan profesi, pekerjaan, atau tugas para penutur Variasi bahasa berdasarkan profesi adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis profesi, pekerjaan dan tugas para penguna bahasa tersebut. Misalnya, variasi yang digunakan oleh para buruh, guru, mubalik, dokter, dan lain sebagninya tentu mempunyai perbedaan variasi bahasa.
1. 4. 5 Variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan
Variasi bahasa berdasarkan lingkal kebangsawanan adaiah variasi yang lerkail dengan lingkat dan kedudukan penuliir (kebangsawanan atau raja-raja) dalam masyarakatnya. Misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa dalam bidang kosa kata, seperti kata mati digunakan untuk masyarakat biasa, sedangkan para raja menggunakan kata mangkat.
1. 4. 6 Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur
Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah variasi bahasa yang mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Misalnya, seseorang yang mempunyai tingkat
15
ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi lemah. Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kulokial, jargon, argoi, dan ken. Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1.akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari
variasi sosial lainya;
2.basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan
dipandang rendah;
3.vulgal adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang
kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan;
4.slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia;
5.kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang
cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok
(dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak), dll;
6.jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial
tertentu. Misalnya, para montir dengan istilah roda gila, didongkrak, dll;
7.argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu
dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet kaca mata
artinya polisi;
16
8. ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para pengemis.
3) Variasi bahasa dari segi pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau funsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya menekan penggunaan kata dari segi estetis sehingga dipilih dan digunakanlah kosakata yang tepat.
Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komunikatif karena jurnalis harus menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karena keterbatasasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud di atas, adalah ragam bahasa yang menunjukan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut.
4) Variasi bahasa dari segi keformalan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya, Chaer (2004:700) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu:
17
8.gaya atau ragam beku (frozen);
9.gaya atau ragam resmi (formal);
10.gaya atau ragam usaha (konsultatif)
11.gaya atau ragam santai (casual)
12.gaya atau ragam akrab (intimate)
Adapun penjelasan terhadap gaya atau ragam bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Gaya atau ragam beku (frozen)
Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan pada situasi-situasi hikmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah, dan sebagai nya.
2. Gaya atau ragam resmi (formal);
Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat, dan lain sebagainya.
3. Gaya atau ragam usaha (konsultatif)
Gaya atau ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan biasa di sekoiah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.
4. Gaya atau ragam santai (casual)
Gaya bahasa ragam santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat dan sebagainya.
5. Gaya atau ragam akrab (intimate)
Gaya atau ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan leh para penutur yang hubungannya sudah akrab. Variasi bahasa ini biasanya pendek-pendek dan tidak jelas.
5) Variasi bahasa dari segi sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan. salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.
E. Siaran Radio
Siaran radio bukanlah suatu hal yang barn untuk didcngar, nanum sudah menjadi suatu hal yang lumrah. K.BBI (2001:1060) mengatakan bahwa siaran adalah sesuatu yang disiarkan, sedangkan pengertian radio adalah pengiriman suara atau bunyi melalui udara atau pesawat radio. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan pengertian siaran radio. Siaran radio adalah sesuatu yang disiarkan atau dikirim melaui udara yang dapat didengar dengan menggunakan pesawat radio.

Baca Tulisan Lain

Teori Belajar Konsep-dan Strategi penerapannya-di-kelas ;>> Baca

Tugas Guru dalam evaluasi pembelajaran;>>>>>> Baca

Birokrasi Pemerintahan >>>>>> Baca

Sejarah Filsafat Yunani >>> Baca

PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM ACARA PLANET DANGDUT DI RADIO GRASS TARAKAN (TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK)

PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM ACARA
PLANET DANGDUT DI RADIO GRASS TARAKAN
(TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK)

oleh  IRA MAYA SOPHA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Bahasa tidak hanya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dipcrlukan dalam menjalankan segala aktivitas hidup manusia, seperti: penelitian, penyuluhan, pembcritaan, siaran radio dan sebagainya.
Bahasa menjadi sangat penting dalam kehidupan. Dengan bahasa, orang dapal mengkomunikasikan segala hal. Bahasa dalam kehidupan berkembang sesuai dengan keadaan yang terjadi pada saat bahasa itu digunakan. Seperti seorang politikus, dokter, praktisi hukum, pembaca berita, dan penyiar radio, tentunya menggunakan bahasa yang berbeda. Bahkan, sesama penyiar radio pun akan menggunakan bahasa yang berbeda dalam melaksanakan tugasnya. Misalnya, seorang dokter biasa menggunakan kosakata, seperti: amputasi, infeksi, dan sebagainya. Seorang paraktisi hukum biasa menggunakan kosakata, seperti: vonis, dijatuhi hukuman, pidana, dan sebagainya. Seorang pembaca berita sering menggunakan kosakata, seperti: pemirsa, jumpa lagi bersama saya, dan sebagainya. Demikian pula seorang penyiar radio, khususnya dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan sering menggunakan kosakata, seperti: sobat dengar, masih dijalur yang sama, dan sebagainya. Perbedaan bahasa dari segi pemakaian seperti inilah yang menyebabkan timbulnya ragam atau register.
Mengenai Ragam atau register yang terdapat dalam acara Planet Dangdut di radio Grass Tarakan merupakan salah satu acara permintaan lagu-lagu dangdut oleh pendengar melalui SMS. Pada acara tersebut bahasa yang digunakan sesuai dengan fungsinya. Ragam bahasa yang digunakan khas yang tentunya berbeda dengan acara yang lain. Contohnya “Kita dengar request dari teman udara kila…”. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kata yang khas, yaitu request, teman udara, sobat udara, dan sebagainya. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, penulis berusaha untuk meneliti penggunaan ragam bahasa register terutama dalam acara Planet Dangdut di Radio Crass Tarakan.
B. Alasan Pcmilihan Judul
Peneliti memilih judul Penggunaan Ragam Bahasa Register dalam Acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan (1’injauan Sosiolinguistik). Judul tersebut dipilih karena Planet Dangdut merupakan ragam bahasa register yang menarik untuk diteliti karena ragam bahasa register dalam acara tersebut tidak terdapat dalam acara-acara yang lain, misalnya kalimat “Paling pas goyangnya”. Sepengetahuan peneliti, pula belum pernah ada penelitian sebelumnya berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan. Selain itu pemilihan judul penelitian ini juga beralasan pada waktu penyiaran acara Planet Dangdut tersebut sesuai dengan waktu luang yang di miliki oleh peneliti, yaitu pukul 09.00-12.00 WiTe sehingga tidak mengganggu aktivitas yang lain dan penelitian pun dapat dilakukan secara maksimal.
C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya masalah yang berkaitan dengan lingkup penggunaan bahasa, khususnya dalam siaran radio, perlu adanya pembatasan masalah. Hal ini dilakukan agar penelitian dapat lebih terpusat pada tujuan yang ingin dicapai dan mencegah mcluasnya kajian penelitian. Masalah dalam kajian penelitian ini dibatasi pada:
1) penelitian ini mengambil bahasa yang digunakan acara Planet Dangdut sebagai
bahan penelitian. Planet Dangdut yang dimaksud dalam penelitian ini adalah acara yang disiarkan oleh radio Grass Tarakan yang disiarkan setiap hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 09.00-12.00 WiTe dengan pembawa aeara Siska Kodong;
2) ragam bahasa yang diteliti dibatasi pada penggunaan kata dan kalimat yang
digunakan dalam bahasa lisan.
D. kumusan Masalah
Rumusan masalah dikemukakan agar penelitian yang dilakukan dapat lebih terarah dan mudah dalam rr.enganalisis. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah penggunaan ragam bahasa register dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan ragam bahasa register dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan.
F. Manfaat Penelitian
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1.dapat memperjelas ragam atau register dalam acara di radio;
2.dapat menjadi bahan kajian bagi para peneliti berikutnya, khususnya yang
berkaitan dengan penggunaan ragam bahasa.
G. Penegasan Judul Penelitian
Judul penelitian ini adalah. Penggunaan Ragam Bahasa Register dalam Acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan (Tinjauan Sosiolinguistik). Penegasan judul perlu dilakukan untuk mempertegas maksud judul penelitian. Adapun penegasan judul dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Penggunaan Bahasa
Penggunaan bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Aslinda, 2007:1)
2. Ragam Bahasa
Ragam bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok masyarakat (Chaer, 2004:61)
3. Register
Register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian.
perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata. (Chaer, 2004:68).
4. Acara Planet Dangdut
Acara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan yang dipertunjukkan, disiarkan, atau diperlombakan; program (televisi, radio, dan sebagainya) (KBBI. 2001:4). Sedangkan Planet Dangdut adalah salah satu acara di radio Crass Tarakan yang berupa permintaan lagu-lagu dangdut. Acara tersebut disiarkan pada hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 09.00-12.00 WiTe.
5. Radio Grass
Radio Grass yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nama dari sebuah penyiaran radio yang merupakan akronim dari graha swara sakti yang berada di Kota Tarakan Jalan Slamet Riyadi nomor 28.
6. Sosiolinguistik
Sosiolinguistik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bidang ilmu antardisplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat (Chaer, 2004:2).
Berdasarkan penjelasan judul di atas, penelitian ini bermaksud meneliti
penggunaan bahasa dalam acara Planet Dangdut di Radio Grass Tarakan melalui
kajian Sosiolinguistik
H. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran secara umum penelitian ini, perlu disampaikan sistematika penulisan. Sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut :
Bab I pendahuluan. Bab ini terdiri atas latar belakang masalah, alasan memilih judul, batasan masalah, rumusan masalah, lujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan judul, dan sistematika penulisan.
Bab II landasan teori. Bab ini terdiri atas pengertian bahasa, fungsi bahasa, pengertian sosiolinguistik, variasi bahasa dalam tinjauan sosiolinguistik, pengertian siaran radio.
Bab III metode penelitian. Bab ini terdiri atas pengertian metode penelitian, variabel penelitian, waktu dan lokasi penelitian, jenis penelitian, populasi dan tcknik pengambilan sampel, data dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metode analisis data.
Bab IV pembahasan. Bab ini terdiri atas penyajian data, analisis data, dan liasil penelitian.
Bab V penutup. Bab ini terdiri atas kesimpulan dan saran

Baca Tulisan Lain

Teori Belajar Konsep-dan Strategi penerapannya-di-kelas ;>> Baca

Tugas Guru dalam evaluasi pembelajaran;>>>>>> Baca

pengorganisasian materi pembelajaran bahasa Jndonesia >>>>>> Baca

Strategi-pembelajaran Membaca >>> Baca