Proses Membaca dan Hubungannya dengan Proses Berpikir

Proses Membaca dan Hubungannya dengan Proses Berpikir

Membaca biasanya dipergunakan sebagai langkah awal untuk memahami text yang dibaca. Sekarang, film dan televisi menantang kemampuan membaca untuk ditempatkan pada tempat yang istimewa dalam kehidupan para orang tua. Di sekolah, bagaimanapun, membaca mulai kehilangan fungsi utamanya sebagai alat manakala guru dan murid telah melibatkan diri dalam kesusastraan. Bagimana para murid membaca, tiada lain bergantung pada perhatian yang diberikan para guru sewaktu berkesusastraan. Kira-kira lima belas tahun yang lalu, para peneliti diguncangkan oleh perkembangan perkembangan pandangan dalam bidang psikologi kognitif dan temuan-temuan dalam pemerolehan bahasa, para peneliti dibidang “membaca” mengalihkan perhatian mereka dari pemerolehan hasil suatu instruksional membaca ke aktivitas membaca itu sendiri. Mereka mempertanyakan bagaimana para pembaca dari berbagai tingkatan mampu menyimak/memahami berbagai jenis sumber wacana. Jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diberikan pembaca menjadi kurang begitu penting dibandingkan dengan bagaimana proses memperoleh atau mendapatkan jawaban-jawaban itu.

Beberapa jawaban yang diberikan pembaca, khususnya jawaban-jawaban yang diluar dugaan atau perkiraan, telah memicu para peneliti untuk segera bertindak atau melangkah lebih jauh dalam kegiatan penelitiannya, atau mencocokkan dengan hasil-hasil penelitian atau teori-teori yang berhubungan denga hal-hal apa yang terjadi sewaktu para pembaca memahami pesan tertulis. Penelitian model baru dalam membaca ini, pelik/teliti dan mahal, bahkan lebih menyerupai penelitian yang dilakukan oleh case studi jika dibandingkan denganpenelitian yang menggunakan “statistik” sebagai pembuktiannya. Kenyataannya, banyak sekali hal-hal yang harus terjadi sewaktu seseorang berkosentrasi melakukan aktivitas membaca. Sekalipun demikian, tanpa harus berpihak, pengamatan peneliti dalam proses membaca telah mampu menyegarkan pemahaman para guru tentang bagaimana para murid membaca kesusastraan khususnya yang berkaitan pengambilan kesimpulan dan penguatan intuisi dari pengalaman mereka sendiri dan dari pengetahuan mereka yang berkaitan dengan teori kesusastraan.

Para guru kesusastraan mengemukakan bahwa penelitian model baru dalam membaca banyak memberikan sumbangan pemikiran kepada mereka selama mereka mau memanfaatkan hasil-hasil temuannya. Pada saat yang bersamaan, saran titik penekanan, keragaman, perubahan petunjuk/perintah dalam kegiatan membaca merupakan salah satu ciri pembaharuan dan penyegaran. Jika tidak hal ini dianggap sebagai suatu yang mengejutkan, kendati para peneliti
membaca dan para guru kesusastraan jarang meggunakan gagasan secara keseluruhan, tapi mereka telah menunjukkan keragaman. Sebagai contoh, sewaktu pengajar membaca membicarakan tentang “urutan pandangan umum”. Para guru kesusastraan kemungkinan akan membeicarakan “keterkaitan dari masing-masing bagian seting”, atau “unsur imaginasi”. Dimana kedua hal itu akan diarahkan untuk membantu murid pada apa yang telah mereka ketahui (pengetahuan bawaan) yang dihubungkan pada bahan bacaan baru. Sebagai peneliti membaca banyak mempelajari tentang bagaimana para pembaca menyimak, mereka akan lebih menyadari, juga bagaimana penulis membagi aktivitas membaca, dan para peneliti mempertanyakan “bagaimana pertimbangan pembaca terhadap text. Sekarang para guru juga, menjadi lebih berhati-hati dalam menyatakan bagaimana kemampuan membaca si Joni. Membaca tentang apa, dan kondisi-kondisi apa yang mempengaruhinya. Oleh karenanya para peneliti telah menambahkan bagian “konteks” untuk mempelajari para pembaca dan text. Dalam kelas, sekolah, komunitas, dan ragam interaksi apa para siswa belajar? Bagaimana para guru memberikan seruan, petunjuk, pengecualian yang mempengaruhi bagaimana para pembaca menyimak?

Dalam bab ini, akan dibicarakan tiga masalah yang menjadi objek penelitian membaca, yaitu: pembaca, text dan konteks. Disini tidak akan menyajikan ulang tentang hasil penelitian, namun beberapa kutipan akan berhasil dipilih dan dianggap layak. Di samping itu kami akan menyajikan dasar-dasar umum penelitian, yang secara luas banyak dipergunakan para pelajar dalam membaca pada dekade ini, yang mana hal itu berpengaruh pada bagaimana kita mengajarkan kesusastraan.

1. Para pembaca membuat makna. Mereka menggunakan pengetahuan tentang dunia yang ada pada mereka, dan isyarat-isyarat yang diberikan oleh text.

Isu baru yang disuarakan oleh para peneliti membaca, yakni masalah yang berhubungan dengan “prior knowledge” (pengetahuan laten / pengetahuan bawaan) dalam menyimak yang harus disadari oleh para guru pengajar kesusastraan. Pengetahuan laten yang ada pada pembaca dapat melebihi ragam teks yang dibacanya, juga kadar kesusastraan yang ada di dalamnya; pengetahuan laten pembaca dapat menggambarkan kesusastraan yang berhubungan dengan manusia dan tempat, periodesasi sejarah dan budaya, bahasa lisan dan tulisan, peradaban manusia, sejarah tata bahasa, dan bentuk sastra.

Konsep “pengetahuan laten” dikembangkan dari “teori schema”, yang mempunyai hipotesa bahwa pengetahuan manusia tentang dunia dihimpun atau tersusun dalam suatu struktur yang saling berhubungan , yang kemudian disebut “Schemata” (Rumelhart, 1980). Para pembaca akan menggunakan schemata mereka dalam menyimak apa yang sedang mereka baca. Apa yang para pembaca ketahui tentang isi dalam cerita maka pemahaman tentang pemandangan disebuah ruang pengadilan, bergantung juga sejauh mana tingkat pemahaman tentang apa yang mereka ketahui tentang hal itu. Hal ini mereka mulai memfungsikan “schema” nya khususnya tentang pemeriksaan di pengadilan. Demikian juga halnya apabila pembaca membaca cerita rakyat, maka schemata-nya harus dihubungkan dengan kehidupan di sebuah ladang peternakan, hubungan kekerabatan antara anak dengan orang tua dan tentang kuda.

Teori schema menghipotesakan dua proses yang saling mengisi: pembaca akan menerima informasi baru dari teks yang kemudian disimpan pada schemata (mereka akan membentuk suatu bekas yang permanen) dan mereka memodifikasi susunan schemata untuk mengakomodasikan informasi dari teks, juga memilih hal yang dianggap tidak sesuai. Keberhasilan pembaca mengatur proses asimilasi dan akomodasi, ditentukan sejauh mana pembaca merekomendasikan makna yang dikorespondensikan dalam text dan kemungkinan makna yang dimaksudkan oleh penulis melalui textnya. Maka langkah yang dapat dilakukan oleh guru adalah untuk merangsang aktivitas kemampuan laten yang ada pada para siswa, pada suatu waktu dan tempat tertentu atau bagaimana orang mau berperilaku tertentu dibawah keadaan tertentu. Guru mempunyai dua alasan untuk melakukan diskusi pramembaca: yakni pertama membantu para siswa menata sumber-sumber yang ada pada mereka, dan kedua, untuk menguji kesenjangan pada pengetahuan laten sebelum melakukan aktivitas membaca.

Seorang guru di sekolah menengah, melalui aktivitas membaca tentang “My Brother Sam is Dead”, akan mengajak para siswanya untuk berbicara atau membicarakan tentang kehidupan pada masa kolonial Amerika semalam sebelum terjadi revolusi. Dia menemukan bahwa banyak diantara mereka akan membayangkan keadaan masyarakat pada zaman itu dengan para cowboy, Indian, dan petualang-petualang bersenjata seperti yang terlihat dalam televisi. Koloni Inggris Baru yang berada jauh dari kehidupan di Kansas, dan kedelapan tahap studi sosial tidak mampu merubah keberadaan schemata sesuai dengan kemampuan yang diasumsikan oleh guru bahasa Inggris. Untuk menanggulangi kesenjangan itu maka guru dapat membantunya melalui gambargambar, peta, urutan kronologis kejadian, filmstrips, atau film-film lebar; singkatnya sebuah buku yang mudah untuk direkomendasikan oleh setiap individu; yang sarat dengan informasi yang ada hubungannya dengan sajian. Hal yang tidak kalah pentingnya, pengetahuan yang dikandung dalam sebuah novel ringkas itu harus mampu mengantarkan keterikatannya pada hal familiar, hal-hal yang susah dan mudah untuk dipahami. Guru hendaknya mampu mengarahkan aktifitasnya dengan hal-hal yang akan ada hubungannya dengan pokok bahasan, dia bisa menggunakan penyajian melalui teknik role playing singkat. Untuk beberapa pembaca, nilai novel itu bisa dijadikan informasi induk untuk memahami Revolusi Amerika; untuk yang lain novel itu dapat menumbuhkan emosi yang kuat dan kenangan yang indah. Kebanyakan para pembaca muda akan mempunyai pandangan yang bervariasi terhadap masanya Louise Rosenblatt dari segi aesotiknya jika mereka dikehendaki untuk mendefinisikan tujuan-tujuan mereka sesuai dengan keinginan gurunya. (Rosenblatt, 1987, pp 22-47).

Satu aspek penting yang bertalian dengan masalah “pengetahuan laten (prior knowledge)” adalah kefamiliaran para siswa dengan pola-pola bahasa dan ragam “discourse”. Pembaca yang baik akan mengatisipasi kata-kata dan prase-prase sebab mereka memahami bagaiman fungsifungsi bahasa pada abad pertengahan, demikian yang berhubungan dengan gagasan yang disampaikan melalui bahasa. (Penelitian terhadap proses menyimak menggunakan teknik “cloze” – siswa diminta untuk mengisikan kata-kata secara sistematis yang dibatasi kesesuaiannya oleh pernyataan untuk menguatkan bahwa keterampilan pembaca diarahkan oleh pengetahuan laten mereka sewaktu mereka membaca, ketepatan pengambilan kata-kata kunci dapat membantu mereka membuat prediksi yang tepat tentang apa yag akan muncul berikunya.) Text dari abad yang berbeda, bagaimanapun, akan membatasi kemampuan membuat ramalan-ramalan, sekalipun dia seorang pembaca yang baik, dan hal itu akan menurunkan kemampuan penyimakan mereka. Hal lain yang tidak kalah penting berkaitan dengan “schemata” adalah kosakata dan konsep, para pembaca juga mempunyai schemata, atau seperangkat pengetahuan dan pengharapan, untuk bentuk-bentuk kesusastraan (Applebee, 1978; Ericson 1985; Galda; 1982; Mauro 1984) dan untuk memperlancar kegiatan membaca. Sebagai contoh pengharapan siswa untuk cerita fiksi akan dikembangkan dari pengalaman mereka yang paling awal berdasarkan cerita-cerita yang mereka dengan, lihat di televisi, dan yang dibacanya sendiri. Demikian juga pengharapan mereka terhadap “puisi”, dimungkinkan beberapa di antara itu ada yang salah dan tidak sesuai.

Pengharapan-pengharapan untuk karya-karya sastra, menyikapi tujuan-tujuan yang diinginkan oleh penulis dan tujuan-tujuan yang diinginioleh para siswa dalam melakukan aktivitas membaca akan dapat mempengaruhi kualitas penyimakan. Frank Smith mendeskripsikan proses membaca kedalam dua sumber informasi; yakni visual dan non-visual, (1978). Informasi visual adalah apa yang seorang pembaca dapat lihat dan kemudia dikirimkan ke otaknya – yakni kata-kata yang tercetak pada suatu halaman. Informasi non-visual adalah apa yang seorang pembaca telah ketahui dan berhubungan dengan bahan bacaan yang dibacanya. Jika seorang membaca memiliki ketidak seimbangan terhadap kedua hal tersebut, apakah itu informasi visual, maupun nonvisualnya akan menurunkan tingkat keberhasilan dalam menyimak. (Hal ini dapat dibuktikan oleh keberhasilan seseorang/seorang murid sewaktu membaca hal yang kontenporer dan text berisikan sejarah).
Kita tentunya pernah mengamati para siswa yang mendapat kesulitan untuk memahami kalimat, kesulitan-kesulitan itu terjadi lebih diakibatkan karena ketidak familiaran terhadap pemahaman “kosa kata” mana kala mereka melakukan penyandian informasi non-visualnya.

Salah satu upaya untuk menyikapi kenyataan ini maka pemilihan text hendaknya disesuaikan dengan tingkatan kemampuan pengembangan kosa kata siswa dan kemampuan memaknai kata-kata itu sesuai dengan keinginan mereka. Hasil bukti penelitian yang mempelajari keterpahaman kosa kata terhadap penyandian informasi visual dan non visual dapat mempengaruhi daya simak. Kesusastraan banyak menuntut kejambaran pemahaman kosa kata, jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain yang terdapat dalam kurikulum, pengembangan kosa kata adalah non teknikal dan perluasan melalui penerapan.

Cara terbaik belajar membaca adalah melalui membaca

Untuk merealisasikan yang hampir dianggap sebagai suatu slogan: “cara terbaik belajar membaca adalah melalui membaca”, suatu hasil temuan dari penelitian dalam membaca permulaan adalah suatu peringatan bagi para guru kesusastraan dalam perlunya memperluas daya baca pada tingkat-tingkat yang lebih atas. Demikian juga slogan yang lainnya, yang ini memang nampaknya lebih sederhana, namun kebenarannya mempunyai bukti tersendiri sewaktu kami meneliti profil para murid yang mendemonstrasikan penguasaan terhadap keterampilan membaca pada tingkatan yang lebih tinggi untuk Nasional Assesment of educational Progress (1981).Di antara hasilnya banyak para murid yang telah membaca dengan luas, memilih buku-buku yang bersifat fiksi dan buku-buku non-fiksi yang dianjurkan oleh sekolah.

Pengaruh dari pengetahuan laten (prior knowledge) dalam menyimak bahan bacaan memberikan gambaran kepada kita bahwa mengapa para murid harus belajar membaca melalui membaca. Untuk menambahkan bukti yang cukup perlunya pengetahuan laten untuk menambahkan bukti yang cukup perlunya pengetahuan laten untuk membaca teks baru, para siswa harus mampu membaca dengan luas sebab hanya friksasi pengetahuan tentang dunia dapat mendatangkan pengalaman-pengalaman yang lain dari aneka sumber yang ada disekitar kehidupan mereka. Mulanya pengetahuan laten meliputi keterpahaman atau kefamilitasan terhadap berbagai model discourse demikian juga terhadap konsep-konsep dan label-label yang ada disekitar mereka, kami menyadari mengapa para murid yang tidak membaca (sekalipun mereka tidak mendapatkan kesulitan dalam penyandian kata-kata) adalah mendapatkan kesulitan sewaktu memasuki pendekatan kesusastraan (khususnya yang pemilihan materinya ditentukan oleh orang lain) melalui kegiatan membaca yang harus mereka lakukan sendiri. Dampak-dampak yang ditimbulkan untuk para guru kesusastraan kini nampak jelas.

Khususnya bagi kelas-kelas tingkat menengah dan pada kelas-kelas awal tingkat lanjutan, keseimbangan antara bacaan yang tidak umum dan bacaan yang bersifat perorangan harus disajikan kemudian atau diakhir. Bacaan yang tidak umum hendaknya dipilihkan oleh guru dan diarahkan kepada hal-hal yang sekiranya sudah dikenal siswa yang berkaitan dengan konsep dan bentuk kesusastraan termasuk pengembangan sesibilitasnya hendaknya relatif ringkas. Kemampuan membaca perorangan hendaknya dibimbing oleh guru dengan memperhatikan kemampuan-kemampuan membaca, sikap, dan minat yang dimiliki oleh masing-masing pribadi siswa. Pembimbingan kemampuan membaca individu harus tersedianya waktu yang cukup lama/luang baik di kelas maupun diluar kelas. Pengorganisasian hal-hal yang mendukung theme, merupakan bentuk sumbangan dari membaca untuk tujuan-tujuan yang khusus dan hal ini tidak berarti tidak dilakukan secara struktural dan acak. Apa yang sedang sekarang diperdebatkan disini, tentu tentang “the matic unit (pembentukan unit thema)”, merupakan sumbangan dari hasil penelitian dan teori yang sudah berlangsung lebih dari enam puluh tahun dan kenyataannya secara luas masih tetap diingkari atau tidak mau dilanggar oleh para guru penerbit, dan para perancang kurikulum.
Dikarenakan anak-anak dan para remaja belajar membaca melalui membaca, maka program kesusastraan yang menghendaki pengembangan keterampilan membaca hampir semua bergantung kepada para guru dalam menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya untuk membimbing para siswanya.

Kesenangan membaca yang tumbuh pada para siswa adalah merupakan syarat mutlak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dalam hidupnya termasuk kesusastraan. Namun kebiasaan membaca juga akan dipengaruhi pula oleh ragam buku yang dibacanya, murid yang mempunyai kesempatan membaca yang lebih luas hal ini akan berpengaruh manakala harus menginterprestasikan karya-karya sastra secara resonabel. Mereka juga akan belajar merespon secara utuh terhadap kesusastraan. Tanpa pengalaman membaca dengan luas selama atau sewaktu mereka masih dalam masa sekolah, para siswa rasa-rasanya tidak akan mampu mencapai satupun dari tiga tujuan yang saling berkaitan.

Untuk membentuk makna, pembaca membutuhkan pengalaman untuk seluruh text

Hasil dari penelitian terhadap membaca permulaan dapat juga berpengaruh strategi pembelajaran membaca pada tahap-tahap selanjutnya. Kepada para guru pengajar membaca pada tingkat rendah, ini merupakan peringatan tegas bahwa mereka terlalu menekankan perhatiannya untuk memisah-misahkan keterampilan dan terlalu kecil perhatiannya untuk melakukan suatu proses yang holistik dimana terjadi perpaduan antara pengetahuan dengan berbagai strategi.

Untuk para guru kesusastraan yang juga masih melakukan cara yang sama dengan dimaksudkan di atas sewaktu para siswa diharapkan memahami karya sastra, menurut hasil temuan penelitian disarankan: fokuskan ke dalam/kepada keseluruhan text kapanpun selama itu memungkinkan. Hal ini merupakan suatu yang bisa dilakukan, hanya saja bergantung pada panjang – pendeknya text. Maka, khususnya berhubungan dengan para pembaca kesusastraan yang belum cukup matang, baik itu dari faktor usia ataupun tingkat para guru kesusastraan lebih senang memilih cerpen, puisi atau drama.Setelah diberikan pengarahan pengantar seperlunya, para siswa membaca seluruh bagian secara singkat berdasarkan caranya masing-masing sehingga diharapkan akan mudah menemukan masalah-masalah atau kendala-kendala awal. Mereka kemudian dapat mengulangi kegiatan membacanya lagi secara keseluruhan atau pada bagianbagian yang mereka anggap kurang terpahami, mengapa atau bagaimana penulis berbuat hal itu, sewaktu mereka melakukan kegiatan membaca yang pertama tadi.

Kadang-kadang tidak semua atau setiap text karya sastra dapat diperlakukan secara holistik.
Sewaktu-waktu, sebagaimana kami sajikan berikut ini, para guru berkeinginan untuk memberikan tertentu pada bagaimana memprediksikan dan menguji hasil penilaian menurut hasil penyimakan sendiri. Mereka juga mengingini para siswa untuk memiliki pengalaman yang permanen, tentang seluk beluk novel atau lima kegiatan dalam drama seperti yang disampaikan oleh Shakespear. Untuk bisa memenuhi tujuan tersebut tentunya mereka membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mempelajari bagian demi bagian, pelatihan, pengenalan masing-masing bagian melalui kegiatan-kegiatan pra-baca. Para guru sebaiknya menghindari untuk mempertanyakan bagian-bagian yang sekecil-kecilnya dari keseluruhan text, terkecuali bila dianggap sangat diperlukan, maka bisa ditempuh dengan pendemonstrasian, hal ini dimaksudkan agar tidak kembali kepada keterpahaman yang sebagian-sebagian.

4. Para Pembaca yang baik mengerti bagaimana mereka harus memaknai dan menyadari bahwa mereka akan luluh dalam proses itu.

Banyak alasan peneliti dalam bidang membaca yang dihubungkan dengan pemahaman/penyimakan yang dilakukan oleh monitoring. Para pembaca yang baik akan mengetahui kapan harus membaca dengan pemahaman dan kapan bila tidak. Sewaktu pemahaman telah mereka peroleh, maka mereka akan melakukan kegiatan membaca sekilas, namun apabila terjadi sebaliknya, mereka belum mendapatkan pemahaman, maka mereka akan mencurahkan strateginya dengan sangat seksama (Brown 1980 ; Olshavsky 1977; Wagoner; 1983).

Ada dua aspek yang mempengaruhi kerja penyimakan melalui monitoring. Pertama adalah kesadaran penentuan yang dianggap mudah dan mana yang dianggap sulit. Ketika seorang pembaca diharapkan pada soneta buah karyanya Shakespear, sebagai contohnya, para siswa barangkali berkomentar :”Saya tidak memahami itu,” atau”Dia tidak dapat mengartikan itu” atau “Oh, sekarang saya tahu tentang apa ini.” Penentuan tentang hasil simakan, walaupun tanpa disadari, telah mengarahkan pada tujuan membaca. Jika para siswa dihadapkan pada bahan bacaan berjudul apa yang terjadi pada Kino, Juanan, dan Coyotito, mereka akan mulai diingatkan pada alur ceritanya, mereka akan dengan cepat dapat mengurutkan pada bagian-bagian yang lebih detail dari keseluruhan bahan itu. Dengan kata lain, jika tujuan mereka adalah untuk memahami motivasi untuk masing-masing karakter yang berbeda atau menguji makna tersirat dari the Pearl, keputusan yang akan mereka buat tentunya tinggal menguji apa kesimpulan dan keputusan yang mereka buat tentang hal itu.

Aspek kedua yang berhubungan dengan penyimakan melalui monitoring adalah penerapan berbagai ragam strategi yang tepat, sehingga akan bisa membimbing kesadaran pemahaman pada bagian mana yang dianggap perlu dan bagian mana yang tidak. Peneliti telah mengidentifikasi peranan pemilihan strategi untuk kegiatan membaca, apakah perlu diadakan pengulangan membaca atau kembali lagi kebagian tertentu di bagian belakang atau kegiatan membaca itu dilanjutkan, penggunaan konteks guna memaknai kata-kata, penyimpulan, menghubungkan pada pengalaman seseorang, dan membuat dugaan-dugaan. Berdasarkan dokumen hasil penelitian kami berasumsi bahwa pembaca yang lincah atau mahir tiada lain adalah mereka yang mahir dalam penggunaan aneka “corrective Strategies” dibandingkan dengan mereka yang kurang mahir atau lincah, dan kecenderungan penggunaannya akan lebih sering bagi mereka yang lincah (Garner Reis 1981; Olshavsky 1977).

Para pembaca yang kurang mahir dalam membaca biasanya tidak menyadari bahwa mereka memiliki kekurangan dalam pemahaman, atau sekalipun mereka menyadari kekurang mampuan dalam menerapkan suatu strategi korektif yang tepat. Banyak murid yang tidak bisa dikatagorikan kedalam kelompok ini sebab mereka tidak mengetahui bagaimana menerapkan hal itu. Dan para guru biasanya mendapatkan kesulitan untuk mengelompokkannya sebab mereka sendiri kurang begitu terampil dalam menggunakan penyimakan monitonya yang benar-benar tidak mereka sadari akan bisa mempengaruhi pada proses seperti itu.
Bagaimana para guru mampu menyediakan strategi-strategi penyimakan monitor (demikian juga untuk aspek-aspek lain dalam proses membaca) yang telah banyak dijadikan obyek penelitian, hanyalah terserah pada generasi yang akan datang.

Proses Membaca

Bagian ini akan membahas membaca tentang proses membaca, mulai dari pengertian membaca, alasan orang membaca, dan kegiatan-kegiatan praktis agar orang bisa membaca text bacaan dengan mudah. Jika pada membaca permulaan, siswa lebih diarahkan pada kelancaran membaca pada membaca lanjut, siswa selain diarahkan pada kelancaran membaca, juga diarahkan pada pemahaman text. Dengan demikian pembelajaran membaca lanjut sangat penting bagi siswa agar siswa dapat memahami berbagai text dalam berbagai mata pelajaran pada khususnya, dan dalam mehami ilmu pengetahuan pada umumnya.

1. Definisi Membaca
Berbagai penafsiran terhadap istilah membaca. Sebagai langkah awal sebaiknya kita samakan persepsi kita. Buatlah definisi mneurut pendapat anda.
Penafsiran istilah membaca dapat dikelompokan seperti dibawah ini :
a. Mengerti, interprestasi, makna, nilai rasa
b. Decode, identifikasi, menguraikan
c. Artikulasi, berbicara, mengucapkan.

Jika Anda menafsirkan (b) berarti Anda ingin mengemukakan hal yang terpenting dalam membaca yakni jika kita tidak tahu arti kata dengan benar kita tidak dapat memahami bacaan. Jika anda menafsirkan (c) berarti Anda ingin menggambarkan pengalaman bahwa pengajaranmembaca digunakan kesempatan untuk mengajarkan lafal dan berbicara. Ini mungkin perlu bagi pemula dan guru tingkat awal. Sebelum membahas kelompok (a) akan sangat membantu jika dibuat daftar bacaan yang pernah anda baca, dan apa yang membuat anda tertarik.

2. Alasan Membaca

2.1. Membaca dengan cara yang berbeda dengan tujuan yang berbeda
Baca kembali daftar bacaan yang sudah dibuat! Mengapa teman anda membacanya ? Bandingkan dengan daftar teman anda. Anda akan menemukan alasan yang berbeda. Alasanalasan kita untuk membaca akan mempengaruhi cara membaca kita. Membaca buku telepon akan berbeda dengan membaca buku dokumen. Tujuan membaca seseorang tidak akan sama dengan tujuan orang lain dalam kegiatan membaca, karena jenis buku bacaan yang dibaca orang berbeda.

2.2. Alasan Autentik Membaca
Kembali ke daftar bacaan yang kita buat. Kita membaca karena ingin mendapatkan sesuatu (fakta, pendapat, hiburan atau bahkan perasaan) bukan sekedar karena tertarik carapengucapannya atau tatabahasanya.

2.3. Mengapa kita membaca bahasa asing ?
Ini akan bermasalah jika dalam daftar yang kita buat tidak ada bacaan asing. Berarti uraian ini hanya akan kita gunakan sebagai pengayaan. Jika pembelajar tidak memerlukan bahasa asing sebagai alat komunikasi berarti bahasa asing hanya untk dipelajari. Satu-satunya alasan adalah untuk belajar membaca. Bahasa asing ini akan eksis untuk pembelajar bahasa asing sebab mereka punya alasan yang autentik untuk membaca, seperti halnya kita membaca.

3. Memperoleh pesan dari teks
Yang kita bahas adalah membaca untuk mendapatkan informasi atau pesan dari teks. Yang penting bagaimana cara pembelajar menangkap pesan dari teks. Sehingga kita harus tahu apa yang dimaksud pesan.
4. Proses Komunikasi
Membaca teks berarti menangkap pesan yang disampaikan penulis dalam teks, sedapatnya mendekati maksud penulis dalam teks. Kesalahan-kesalahan dapat terjadi dalam proses ini

4.1. Apakah pesan pembaca pasif ?
Teks berisi penuh arti. Ini dilakukan penulis, pembaca bertugas membuka pikirannya dan membiarkan arti-arti terserap. Namun belum semua arti terserap. Arti semua bacaan dalam teks tetapi ini bukan jaminan bahwa pembaca akan memahami secara keseluruhan.

4.2. Apa yang menyebabkan teks itu sulit ?
Kesulitan itu mungkin disebabkan
a. Kode yang ada pada teks
b. Pengetahuan pembaca
c. Kompleksitas konsep yang dimaksud
d. Keterbatasan kosakata yang dimiliki atau mungkin kesan intelektual yang harus dibangun.

4.3. Asumsi Penerimaan
Proses komunikasi akan berlangsung dengan baik jika penulis dan pembaca : memiliki kode yang sama, kemampuan kosakata yang dimiliki tidak terlalu jauh, memiliki asumsi yang sama dalam bidang-bidang tertentu. Kesamaan asumsi akan mempermudah penerimaan pembaca.

4.4. Mengidentifikasi Presuppositions
(Perkiraan penulis terhadap yang diketahui pembaca) Presuppositions dapat juga berarti asumsi penulis yang mungkin diketahui pembaca sebelum membaca teks. Ketika menulis artikel penulis harus betul-betul mempertimbangkan hal-hal yang sementara ini diketahui da dirasakan pembaca.

4.5. Memahami keseluruhan
Kesamaan latar belakang antara penulis dan pembaca akan memudahkan komunikasi /menginterprestasi teks. Pembaca tidak banyak mengalami kesulitan. Yang mungkin terjadiadalah kesalahpahaman. Kadang-kadang pembaca mempunyai persepsi yang berlebihan atau bahkan kurang. Kesulitan memahami teks mungkin pula disebabkan asumsi yang keliru dari penulis. Alasan membaca adalah untuk mengerti ide orang lain. Jika antara pembaca dan penulistidak ada perbedaan maka aktivitas membaca seolah tak ada gunanya. Tetapi sebaliknya jika kita tidak mengerti sama sekali, membaca tidak berarti apa-apa. Membaca tidak harus mengerti keseluruhan ? tetapi kita paham apa yang tertulis dari buku yang kita baca

4.6. Keterlibatan pembaca secara aktif
Makna teks tidak hanya tersedia dalam teks tanpa harus diserap secara aktif. Pembaca harus bekerja keras untuk memahami makna yang tercetak. Meskipun benturan-benturan harus banyak dihadapi misalnya penggunaan bahasa kosakata. Pembaca yang baik harus sadar bahwa ia tidak mengerti. Kemudian berusaha memecahkan masalahnya dengan semangat dan semua kelengkapannya, sebagaimana yang dilakukan penulis.

Prinsip kooperatif dikembangkan.
Pembaca berasumsi :
a. Pembaca dan penulis menggunakan kode yang sama
b. Penulis mempnyai kesan
c. Penulis ingin pembacanya memahami pesan yang disampaikan.
Pembaca yang tidak baik kadang-kadang tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti.

4.7. Membaca sebagai interaksi
Membaca tidak sekedar proses yang aktif, tetapi merupakan suatu interaksi. Interaksi dalam membaca agak berbeda dengan interaksi dalam berbicara. Ini yang membuat pembaca dan penulis agak sulit. Karena tidak memperoleh timbal balik, penulis tidak tahu baian teks yang mana yang menyebabkan salah pengertian. Dia harus menebak dimana masalah ditempatkan dan urutannya.

4.8. Membuat teks dapat dimengerti
Penulis lebih beruntung dibanding pembicara. Penulis punya waktu untuk membuat teks secara efektif. Pembaca juga mempunyai banyak waktu untuk menyelesaikannya. Pembaca dapat mengulangi kembali ke bagian yang sulit. Pembaca dapat membangun prasangka yang benar dan obyektif.
Model proses membaca mungin dapat dianalogkan dengan mengatur selembar mebel yang telah dirancang dengan sempurna lengkap dengan komponen-komponennya. Penulis dapat mengatur komponen-komponen itu misalnya dengan koherensi dan alat kohesif.

4.9. Prediksi
Perasaan dan pengalaman pembaca akan sangat membantu memprediksi apa yang akan dikatakan penulis selanjutnya. Jika kita terhenti karena ada kata yang tidak dimengerti penyusunan hipotesis akan dapat membantu.
Kita dapat menggunakan pengetahuan baru untuk mengembangkan prediksi berikutnya.Kita dapat melihat kembali bagian teks sebelumnya dan tetap menyimpan di pikiran serta mengrganisasikannya. Jika prediksi kita tepat, kita bisa melihat seberappa banyak kita dapat memprediksi. Ini membantu pula untuk menginterprestsi makna ungkapan yang tidak diketahui.

5. Teks dan Wacana
5.1. Signifikasi dan Nilai
Konsep nilai lebih mudah diilustrasikan melalui percakapan dan mungkin relevan untuk mempelajari teks tulis. Perhatikan ungkapan ini : (Apakah anda dingin ?)
Kita dapat membayangkan berbagai situasi dimana ungkapan ini dikatakan. Pada semua situasi ungkapan ini mempunyai arti sama, satu rasa. Pada keadaan lain mungkin artinya berbeda apa dan mengapa kita mengucapkannya.
Widdowson (1978) menggunakan istilah signifikasi untuk menerangkan arti umum untuksemua ungkapan dan value untuk menerangkan pentingnya ungkapan itu untuk pembicara / situasi tertentu.
Pembaca yang cakap tidak hanya mengerti yang dibaca tetapi juga nilainya. Contoh ungkapan : Udara panas naik

Akan mudah memperkirakan konteks ini dengan variasi nilai misalnya :
– Sebagai alasan
– Sebagai ilustrasi
– Sebagai penolakan
– Sebagai kesimpulan
– Sebagai satu dugaan
– Sebagai penjelasan

Untuk engerti teks memerlukan pengertian tentang nilai setiap ungkapan yang dibuat. Signifikasi dan value sebagaimana perbedaan kalimat lepas dan kalimat dalam penggunaan /konteks.
Pembaca harus meyakini bahwa memahami signifikasi dan value, tugas penulis melakukan
pekerjakaannya dengan baik sehingga menghasilkan teks yang baik.

5.2. Teks dan Bukan Teks
Teks merupakan inti proses membaca, sarana yang membawa pesan penulis kepada pembaca. Kita perlu mempelajari karakteristiknya.

Sebagai contoh :
I. Tidak ada kemungkinan berjalan lagi hari itu.
Angka pajak pendapatan untuk tahun 1984 sudah diumumkan. Apakah ciri-ciri tertentu ungulates ? Kamu yakin kalau kamu tidak memberitahu dia bagaiman ini terjadi ?

II. Seorang lelaki meletakkan beberapa parfum di laci.
James Brown lupa beberapa parfum
Seorang lelaki membelikan parfum untuk Ny. Brown

III. Seorang lelaki membeli parfum untuk Ny. Brown.
Seorang lelaki meletakkan parfum di laci.
James Brown lupa parfum

IV. Suatu hari, James Brown membeli parfum untuk istrinya. Akan tetapi dia meletakkan di
laci dan melupakannya
Dari contoh di atas kita dapat mengidentifikasi yang disebut teks dan bukan teks.

5.3. Koherensi dan Kohesi
Dari teks umum, kita bisa melihat koherensi antar kalimat dan menggunakan alat kohesiuntuk menentukan hubungan antar elemen.Sekilas kita lihat bagaimana koherensi dibuat oleh alat linguistik.
a. Gunakan kata ganti daripada mengulang kata
b. Gunakan “the” untuk hal yang sudah disebut
c. Kata-kata yang berlebihan disembunyikan
d. Hubungan diselipkan untuk menunjukkan bagaimanabagian dari teks saling berhubungan dan memberi indikasi nilai pada setiap bagian.
e. Pilihan kata memberi sumbangan pada koherensi kadang-kadang menggunakan “Variasi Elegant”.
Alat-alat kohesif ini dipakai untuk melihat koherensi teks. Secara tegas Widdowson berpendapat wacana memiliki koherensi sedang teks mempunyai kohesi.

5.4. Koherensi tanpa Kohesi
Koherensi tergantung pada nilai ungkapan yang membentuk wacana bukan pada pengguanaan alat kohesif. Konteks situasi sangat menentukan.
Koheren tanpa kohesi tidak begitu sering muncul dalam wacana tulis. Bagi pembaca mahir ketidakmunculan kohesi mungkin tidak menjadi masalah, tetapi bagi pembaca yang kurang baik tidak adanya kohesi bisa menganggap bacaan tersebut kelihatan tidak koheren. Koheren suatuteks tergantung pada banyak hal termasuk urutan kalimat, referensi, elipsis, hubungan leksikal, penanda wacana yang eksplisit (jadi, dan, akan tetapi, meskipun).

6. Membaca dan Makna
Pembaca memiliki penanda wacana eksplisit untuk mengetahui makna teks, selain itu juga perlu kemampuan lain misalnya kemampuan interprelatif, terutama untuk teks ilmu pengetahuan.Membaca merupakan proses pemindahan pesan. Penulis, pembaca, teks mempunyai sumbangan yang unik dalam komunikasi. Pembaca tidak dapat sekedar duduk dan mengharapkan menyerap arti tanpa usaha, kecuali jika hanya membatasi diri pada fiksi murahan atau bacaan yang sudah diketahui.
Pandangan tentang membaca sebagaimana dikemukakan sebelumnya berkenaan dengan arti,
khususnya dengan pemindahan arti / pesan. Yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana mengembangkan kemampuan membaca siswa tingkat menengah.
Penutup :
Bahasan di atas menguraikan membaca dalam arti yang sebenarnya, mengapa kita
melakukannya dan bagaiman caranya. Tangung jawab kita adalah memberikan perhatian terhadap pengajaran membaca agar dapat munculkan pembaca-pembaca mahir.

Membaca Pemahaman

Membaca Pemahaman

Tulisan ini secara khusus membahas proses pengajaran membaca pemahaman untuk siswa sekolah dasar. Agar pengajaran membaca tersebut dapat benar-benar berhasil maka guru perlu memahami bagaimana cara mengajarkannya. Mengingat pentingnya pengajaran membaca, khususnya membaca pemahaman perlu diajarkan di sekolah dasar dengan baik. Guru sebelum melaksanakan proses pengajaran membaca terlebih dahulu perlu memahami subketerampilan-subketerampilan membaca pemahaman. Apabila keterampilan membaca pemahaman sudah dikuasai siswa, diharapkan mereka mampu memahami teks bacaan mata pelajaran lain.

Definisi Membaca Pemahaman

Memahami bahan tertulis bergantung pada karakteristik bahan itu dan pembacanya. Faktor yang mempengaruhi membaca pemahaman antara lain kemampuan mengurai pesan (decoding), pengetahuan tentang kosakata, pengetahuan tentang konsep-konsep dan perkembangan kognitif. Membaca pemahaman merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi keterampilan-keterampilan yang perlu dipahami dan menerapkan informasi yang ada dalam bahan-bahan tertulis. Proses membaca itu sulit didefinisikan secara tepat karena proses itu dipengaruhi banyak faktor. Terdapat sejumlah teori tentang proses pemahaman dengan memperhatikan perbedaan berbagai faktor. Sebagai contoh, penelitian Geyer (1972) menemukan sejumlah 77 model membaca. Model-model itu dapat digolongkan dalam dua kategori :

(1) Komponen-komponen yang digabung bersam-sama dan tidak memiliki identitas individual didalam keseluruhan proses membaca yang disebut dengan proses total.
(2) Komponen-komponen yang merupakan bagian-bagian yang berfungsi dalam hubungannya dengan bagian lainnya tetapi dapat dengan mudah dilacak dari mana asalnya, yang disebut dengan proses membaca disusun atas kombinasi sub keterampilan yang dapat dipisah-pisahkan.

Membaca dipandang sebagai proses total

Peneliti seperti Thorndike (1973) percaya bahwa membaca merupakan proses berfikir dan upaya untuk meningkatkan pemahaman harus memusatkan pada keterampilan berfikir itu. Beery (1967) menyatakan bahwa keterampilan itu ada tetapi tidak dapat digunakan secara terpisah. Seorang pembaca tidaklah membaca hanya untuk memperoleh gagasan utama atau gagasan rincian tetapi menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara bersama-sama, berpindah dari satu keterampilan ke keterampilan yang lain agar ia dapat memperoleh pemahaman.

Goodman (1973) mendeskripsikan membaca sebagai proses psikolinguistik, yakni pikiran dan bahasa saling berhubungan tetapi keduannya tidaklah sama. Pembaca mengalami siklus berfikir reflektif dalam menanggapi kata-kata yang tercetak, siklus ini bukanlah dipandang sebagai bagian dari proses membaca itu sendiri. Membaca merupakan pemrosesan informasi. Pembaca berinteraksi dengan masukan yang berupa tulisan dan pembaca berupaya untuk merekontruksi pesan yang disampaikan oleh penulis. Pembaca mengkonsentrasikan keseluruhan pengalaman dan belajar yang dimiliki pada tugas membaca ini, menggambarkan pengalamanpengalaman dan konsep yang telah dia peroleh dan juga kompetensi bahasa yang telah dicapai. Keberhasilan pemahaman bergantung kepada seberapa jauh pesan yang direkonstruksi pembaca itu cocok dengan pesan yang dimaksudkan penulis.

Smith (1973) yang juga psikologis, menyatakan bahwa membaca itu merupakan kegiatan
visual dan non visual. Kegiatan visual berasal dari apa-apa yang dilihatnya, yakni halaman yang tercetak. Kegiatan nonvisual datang dari apa yang dipikirkan otak. Informasi nonvisual adalah apa yang telah diketahui pembaca tentang membaca, bahasa dan dunia pada umumnya. Selanjutnya terjadi tukar-menukar antara visual dan nonvisual. Semakin banyak yang diketahi otak, semakin sedikit informasi visual yang disyaratkan untuk mengidentifikasi huruf, kata, atau makna dan sebaliknya.

Membaca dipandang sebagai subketerampilan yang dapat dipisah-pisahkan

(1) Definisi subketerampilan yang dapat dipisah-pisahkan Kategori kedua teori membaca pemahaman menyatakan bahwa subketerampilan atau tugas terpisah dapat diidentifikasi, baik digunakan secara sendiri-sendiri maupun gabungan yang mengarah kepada pemahaman bahan-bahan tertulis. Perhatian penelitian selama tiga puluh tahun terakhir ini mengarah kepada verifikasi keberadaan keterampilan yang dapat dipisah-pisah. Salah satu karya yang penting dalam membaca pemahaman dilakukan oleh Davis (1968). Dia menyusun butir-butir tes untuk mengukur delapan keterampilan membaca pemahaman dan menganalisisnya dengan teknik statistik. Delapan komponen utama membaca pemahaman yang dapat dipisah-pisahkan itu adalah :
a. Mengingat kembali makna kata
b. Menggambarkan inferensi makna kata dari konteks.
c. Menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dijawab secara eksplisit atau
dengan parafrase.
d. Merangkai gagasan dalam konteks.
e. Menggambarkan inferensi dari konteks.
f. Mengenali tujuan, sikap, nada dan mood penulis.
g. Mengikuti struktur bacaan.

(2) Pengorganisasian subketerampilan yang dapat dipisah-pisahkan untuk tujuan pengajaran
Berkaitan dengan keterampilan khusus yang dapat diidentifikasikan diatas kalau
keterampilan memahami dikelompokkan agar keterampilan itu mudah diajarkan pada anak-anak, keterampilan itu umumnya dimasukkan dalam tiga sistem klasifikasi utama yakni panjangnya unit, urutan taksonomi, dan sekumpulan keterampilan. Panjangnya unit, menekankan teknik pengajaran yang melibatkan pertama-tama pemahaman kata, kemudian kalimat, dan terakhir paragraf dan unit-unit yang lebih panjang. Makna masing-masing unit itu bebas sebagai bagian dari makna kata yang mengelilinginya. Sebagai contoh, mula-mula anak harus memahami bahwa kata lari memiliki makna yang
beragam sebelum anak itu dapat memahami maksud dari suatu kalimat. Selanjutnya, anak-anak harus memahami kata lari dalam kalimat agar keseluruhan paragraf dapat terpahami. Artinya, kata lari akan memiliki makna yang berbeda jika kata-kata lain dalam kalimat itu menyangkut permainan baseball dibandingkan jika kalimat itu mendeskripsikan balapan kuda.
Urutan taksonomi mencakup pembagian ketrampilan ke dalam kelompok-kelompok yang
hirarkis. Walaupun tidak ada perbedaan tingkat kesulitan ketrampilan dalam masing-masing kelompok setiap kelompok dalam hirarki itu dipandang lebih sulit dari pada kelompok sebelumnya. Setiap kelompok keterampilan dirancang untuk diajarkan sebelum salah satu kelompok itu berhasil dipahami. Sebagai contoh ketrampilan “mereorganisasi rincian” dalam kelompok “pemahaman literal” harus diajarkan sebelum ketrampilan “mengklasifikasi rincian” dalam kelompok reorganisasi (lihat taksonomi Barret).
Sistem klasifikasi sekumpulan ketrampilan menyajikan ketrampilan-ketrampilan dalam satu tampilan, tetapi suatu hirarki dalam arti satu ketrampilan harus dipelajari setelah ketrampilan yang lain tidak dilukiskan. Sebagai contoh, walaupun “memahami gagasan utama” ditempatkan lebih dulu dalam daftar taksonomi dibandingkan dengan “memahami urutan waktu, tempat, gagasan, atau tanggapan” itu tidak berarti bahwa “gagasan utama” harus dipelajari sebelum “urutan” dipahami lebih dahulu.

Pandangan dalam tulisan ini

Tulisan ini mengkombinasikan pandangan total maupun subketrampilan dalam membaca
pemahaman. Pemahaman dipandang sebagai proses total akan menjadi lebih mudah untuk diajarkan jika dapat dibagi menjadi unit-unit atau subketrampilan tertentu. Untuk memperoleh proses pemahaman setotal mungkin subketrampilan dibawah ini perlu dipahami.

Dua Belas Subketrampilan Pemahaman

(1) Memahami makna kata
(2) Identifikasi rincian
(3) Identifikasi gagasan utama
(4) Identifikasi urutan
(5) Identifikasi sebab-akibat
(6) Membuat inferensi
(7) Membuat generalisasi dan simpulan
(8) Identifikasi nada dan suasana (mood)
(9) Identifikasi tema
(10) Identifikasi perwatakan
(11) Identifikasi fakta, fiksi dan opini
(12) Identifikasi Propaganda

Strategi Pengajaran Ketrampilan Memahami

Penelitian menunjukkan bahwa bertanya yang efektif dapat digunakan sebagai alat untuk
meningkatkan berfikir anak (Piaget, 1967, Taba dan Elzey, 1964). Oleh karena ada hubungan yang jelas antara membaca pemahaman dan berfikir, masuk akal jika menggabungkan strategi bertanya pada pengajaran membaca pemahaman. Pertanyaan yang baik dapat mengidentifikasikan kebutuhan ketrampilan khusus anak dalam pengajaran, memberikan suatu cara bagi cara mengajar ketrampilan tertentu, dan mendorong ketrampilan yang telah diketahui siswa. Perlu diketahui perbedaan tiga tujuan berikut ini saat merancang pertanyaan membaca pemahaman, yakni : (a) penilaian (assesment), (b). mendorong (reinforcement), (c) pengajaran (instruction).

a) Pertanyaan yang menilai dan mendorong

Seorang murid yang mengetahui bagiaman menggunakan suatu ketrampilan misalnya,
gagasan utama yang mungkin bisa diidentifikasi dengan jawabannya yang benar diberi
pertanyaan penilaian “cerita ini berbicaratentang apa ?” Bagi siwa yang telah siap memiliki ketrampilan membaca, pertanyaan penguasaan/dorongan seperti “bagaimana kamu tahu bahwa yang kamu katakan itu merupakan gagasan utama ?” dapat memperkuat kemampuan siswa tentang ketrampilan itu.

b) Pertanyaan untuk menilai dan mengajar

Siswa yang menjawab tidak tepat terhadap pertanyaan penilaian berarti dia tidak belajar ketrampilan itu kecuali kalau guru mampu mengenali apa yang menjadi latar belakang siswa agar dapat menjawab pertanyaan itu dengan benar. Guru perlu menyusun pertanyaan yang secara khusus dirancang untuk mengajar ketrampilan itu. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyederhanakan pertanyaan dan memandu berfikir siswa yang akan mengarah kepada jawaban benar, yakni dengan menanyai siswa agar menemukan dukungan pertanyaan yang mungkin mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang benar.

Sajian dan Bahasan 12 Subketrampilan Memahami

Untuk memahami dengan baik subketrampilan memahami dan strategi yang disajikan untuk mengajarkan masing-masing subketrampilan itu, aspek-aspek berikut ini harus diperhatikan, yakni urutan pertanyaan, muatan ketrampilan dan perkembangan kognitif, prinsip-prinsip belajar, dan format penyajian setiap ketrampilan.

(1) Urutan Pertanyaan
Perlu dikemukakan lagi bahwa pertanyaan dalam strategi ini adalah diurutkan dari yang paling sulit sampai yang paling sederhana. Secepat siswa mampu menjawab dengan benar terhadap suatu pertanyaan, mereka diasumsikan mengetahui ketrampilan itu dan tidak perlu diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersisa dalam urutan itu. Jika anak-anak belum menjawab dengan benar sesuai dengan urutan pertanyaan itu, guru harus berupaya untuk merumuskan konteks yang lain yang mungkin lebih dikenal siswa bukan sekedar mengatakan “katakan jawabannya.”

(2) Muatan Ketrampilan dan Perkembangan Kognitif
Meskipun dua belas ketrampilan telah dikemukakan, anak-anak yang lebih kecil haus diharapkan untuk belajar semuanya. Jika anak-anak itu bertambah dewasa, kemampuan bernalarnya juga semakin dewasa. Perkembangan ini telah didiskripsikan oleh Piaget dalam teori perkembangan kognitif.

(3) Prinsip-prinsip Belajar

Fokus strategi bertanya adalah membantu anak menghubungkan ketrampilan membaca dengan kata-kata dan gagasan yang telah dimiliki anak-anak. Proses ini berkaitan dengan konsep psikolinguistik yang dikemukakan pada awal bab ini, yakni membaca merupakan pemrosesan informasi dengan cara pembaca menggunakan pengalaman dan konsep yang telah dia peroleh dan juga menggunakan kompetensi bahasan yang telah mereka miliki (Goodman 1973). Contoh yang sederhana pengaruh pengalaman dapat digambarkan dengan menanyai anak yang masih kecil untuk megemukakan makna kata paling tua. Anak umur 6-7 tahun akan menjawab paling tua adalah seperti saya yang paling tua sedangkan Erik yang paling muda. Anak yang lebih dewasa akan lebih abstrak dan dapat merangkai konsep-konsepnya bahwa hidupnya paling lama. Anak-anak kecil harus menerjemahkan sesuatu dengan istilah yang langsung dan konkret. Cara yang paling baik bagi guru adalah melakukan terjemahan ini, yakni menghubungkan ketrampilan baru dnegan latar belakang yang telah diketahui anak.

(4) Format Penyajian Ketrampilan.

Pada bagian berikut ini masing-masing dari 12 ketrampilan memhami dideskripsikan. Ketrampilan-ketrampilan membaca umumnya diajarkan secara langsung dalam kelas membaca tetapi ketrampilan itu harus digunakan anak dalam berbagai bidang pelajaran yang mempersyaratkan mereka harus membaca. Guru bidang studi harus secara langsung mengatakan bahwa ketrampilan memahami sangat perlu pada pelajaran bidang studi yang lain. Melalui penyajian 12 ketrampilan itu sudut pandang teoritis yang menggambarkan teknikteknik yang digunakan akan dibahas. Teori yang disajikan pada format ini didasarkan pada asumsi bahwa teknik yang digunakan pada butir-butir tertentu sangat penting dan perlu ditekankan. Sebagai contoh, saat “memahami makna kata” dideskripsikan. Disini pembaca buku teks didorong untuk mencari sudut pandang teoritis selama membaca bagian berikut ini.
Setelah setiap ketrampilan dideskripsikan, pertanyaan yang dapat digunakan untuk menilai kompetensi anak yang menyangkut ketrampilan itu dikemukakan. Untuk mempermudah, semua pertanyaan didasarkan pada buku Josita’s Dancing cleaner. Akan tetapi guru tidak harus menilai 12 ketrampilan itu pada pelajaran yang sama, tetapi guru hendaknya menilai 2 atau 3 ketrampilan pada satu waktu untuk menjamin diagnosis guru.

Deskripsi dari 12 ketrampilan memahami bacaan adalah sebagai berikut :

(a) Memaknai kata, yakni menanyakan makna denotatif, konotatif, bahasa berkias, ciri
khas bahasa itu (kata-kata pinjaman, singkatan, akronim)
(b) Mengidentifikasi rincian, yakni mencatat isi bacaan, misalnya mencatat ide-ide
penjelas.
(c) Identifikasi gagasan utama, yakni mencari ide pokok bacaan
(d) Identifikasi urutan, yakni menggunakan kata-kata kunci untuk urutan, baik urutan
waktu maupun tempat.
(e) Mengidentifikasi hubungan sebab akibat, yakni menyangkut pertanyaan mengapa dan
bagaimana
(f) Membuat inferensi
Untuk membuat inferensi, pembaca harus mengenali dan memahami hubungan rincian
dengan pesan yang tidak disampaikan oleh penulis. Guru dapat membantu proses ini dengan menyusun pertanyaan yang memusatkan perhatian siswa tentang (1) kata kunci dalam bacaan (2) kemungkinan implikasi makna dibalik kata-kata yang dinyatakan, (3) inferensi yang mungkin dibuat tentang orang atau siuasi yang diambil dari deskripsi yang menyertainya, sekelilingnya, atau tindakannya.
(a) Membuat generalisasi/konklusi, yakni kesimpulan umum
(b) Identifikasi nada dan suasana
Nada dan suasana diciptakan pengarang untuk membantu menyampaikan gagasannya dan
ini umumnya penting pada bidang studi seni sastra dan kajian sosial. Nada didefinisikan secara berbeda-beda oleh para penulis namun umumnya dapat dikatakan bahwa nada itu meyangkut gaya penlis dalam mengekspresikan sikapnya terhadap pokok persoalan pembaca. Nada bukanlah sikap itu sendiri tetapi menyangkut gaya tulisan pengarang yang mencerminkan sikapnya, misalnya keseriusannya, kesimpatikannya, atau ketidaksimpatikannya. Sedangkan mood/suasana, menyangkut karakteristik bahan yang berkaitan dengan perasaan pembacanya, apakah karya itu dapat menciptakan emosi pembaca.

(a) Mengidentifikasi tema, yakni menentukan tema bacaan.
(b) Mengidentifikasi perwatakan, yakni diidentifikasi melalui apa yang dikatakan tokoh, apa yang dilakukan tokoh, apa yang dikatakan pelaku lain tentang tokoh, dan apa yang dikatakan penulis tentang tokoh.
(c) Identifikasi fakta, fiksi, dan opini, yakni mencari dan membedakan hal-hal yang bersifat nyata (fakta), khayalan (fiksi) atau pendapat (opini).
(d) Identifikasi propaganda, yakni mencari kata-kata atau kalimat yang berupa piranti
persuatif dalam bacaan.

3. Simpulan
Dari uraian yang telah dikemukakan diatas, berikut ini akan dikemukakan beberapa
kesimpulan :

(1) Keterampilan memahami dapat dibagi ke dalam subketrampilan agar proses pengajarannya dapat direncanakan dan diajarkan dengan baik

(2) Jika anak sudah siap untuk mempelajari subketrampilan membaca pemahaman, bagianbagian subketrampilan itu harus diajarkan. Anak-anak perlu memahami setiap istilah dari bagian subketrampilan itu agar mereka dapat berkomunikasi secara efektif dengan para guru mereka. Sebagai contoh, mereka harus mengetahui apa itu makna istilah tema, sebelum mereka menyelesaikan kegiatan mengidentifikasi tema bacaan.

(3) Ketrampilan-ketrampilan tersebut harus diajarkan dalam beberapa waktu.

Penyajiannya didasarkan pada prasyarat keterampilan yang harus dipelajari lebih dahulu disamping berdasarkan hakikat bahan yang harus dibaca.

(4) Meskipun pemahamana itu dipisah-pisah ke dalam sub ketrampilan, tetapi keterampilan-keterampilan itu harus diajarkan berdasarkan keterkaitan antar subetrampilan dan hakikat keseluruhan pemahaman. Hubungan antara ketrampilan membaca, gagasan, dan kata-kata yang telah dimiliki sudut pandang psikolinguistik, yakni membaca selalu ditafsirkan sesuai dengan pengalaman pembacanya.

(5) Membaca pemahaman dan berpikir itu merupakan proses yang sama. Dengan demikian pertanyaan yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir dapat digunakan juga untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman.

(6) Pertanyaan dapat dirancang sesuai dengan rentangan dari pertanyaan sederhana sampai yang rmit. Untuk memaksimalkan keefektifan pengajaran dengan proses bertanya itu guru hendaknya mencoba memodifikasi dan menyederhanakan pertanyaan sehinggaanak mampu menjawab secara benar, bukan hanya menuntut jawaban benar dari anak. Rentangan pertanyaan yang lebih sederhana.

(7) Teknik bertanya harus diajarkan kepada anak sebagai strategi belajar ketrampilan. Ini
merupakan salah satu cara bagi anak untuk belajar menjadi pembaca yang baik.

(8) Pelajaran yang relevan dapat bermanfaat untuk membantu anak dalam rangka menginteralisasi ketrampilan membaca.

(9) Anak-anak pada semua umur tidak dapat belajar 12 subketrampilan itu secara keseluruhan. Beberapa ketrampilan terlalu rumit untuk anak-anak yang lebih kecil. Guru hendaklah selalu menyadari perkembangan kognitif anak saat mengajarkan ketrampilan itu. Secara umum anak yang lebih dewasa dapat diberi ketrampilan yang memiliki tingkat abstraksi lebih tinggi. Demikian pula sebaliknya.

(10) Karena anak harus membaca bukan hanya buku teks membaca, tetapi juga buku teks mata pelajaran lain, contoh-contoh bagaimana ketrampilan membaca harus ditekankan pada semua bidang studi. Walaupun ketrampilan membaca sebagian besar pada awalnya hanya dalam pelajaran membaca, guru harus mendorong penggunaan ketrampilan itu kapan saja selama ada pelajaran bidang studi yang lain.

Nilai-nilai Yg Dikembangkan dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Nilai-nilai yang Dikembangkan dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan budaya dan karakter bangsa perlu dikemukakan pengertian istilah budaya, karakter bangsa, dan pendidikan.
Pengertian yang dikemukakan di sini dikemukakan secara teknis dan digunakan dalam mengembangkan pedoman ini. Guru-guru Antropologi, Pendidikan Kewarganegaraan, dan mata pelajaran lain, yang istilah-istilah itu menjadi pokok bahasan dalam matapelajaran terkait, tetap memiliki kebebasan sepenuhnya membahas dan berargumentasi mengenai istilah-istilah tersebut secara akademik.

Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral,norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi dengan sesama manusia dan alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya. Ketika kehidupan manusia terus berkembang, maka yang berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang.
Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa.
Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila; jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain, mendidik budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.

Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya dan karakter bangsa untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan
nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat.

Berdasarkan pengertian budaya, karakter bangsa, dan pendidikan yang telah dikemukakan di atas maka pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif .

Atas dasar pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat
strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang.
Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah; oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.

Landasan Pedagogis Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada, terutama dari lingkungan budayanya, karena peserta didik hidup tak terpishkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah budayanya.
Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip itu akan menyebabkan peserta didik tercerabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi, maka mereka tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing” dalam lingkungan budayanya. Selain menjadi orang asing, yang lebih mengkhawatirkan adalah dia menjadi orang yang tidak menyukai budayanya.
Budaya, yang menyebabkan peserta didik tumbuh dan berkembang, dimulai dari budaya di lingkungan terdekat (kampung, RT, RW, desa) berkembang ke lingkungan yang lebih luas yaitu budaya nasional bangsa dan budaya universal yang dianut oleh ummat manusia. Apabila peserta didik menjadi asing dari budaya terdekat maka dia tidak mengenal dengan baik budaya bangsa dan dia tidak mengenal dirinya sebagai anggota budaya bangsa. Dalam situasi demikian, dia sangat rentan terhadap pengaruh budaya luar dan bahkan cenderung untuk menerima budaya luar tanpa proses pertimbangan (valueing). Kecenderungan itu terjadi karena dia tidak memiliki norma
dan nilai budaya nasionalnya yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pertimbangan (valueing).

Semakin kuat seseorang memiliki dasar pertimbangan, semakin kuat pula kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang baik. Pada titik kulminasinya, norma dan nilai budaya secara kolektif pada tingkat makro akan menjadi norma dan nilai budaya bangsa. Dengan demikian, peserta didik akan menjadi warga negara Indonesia yang memiliki wawasan, cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan norma dan nilai ciri ke-Indonesiaannya.
Hal ini sesuai dengan fungsi utama pendidikan yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas, “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu, aturan dasar yang mengatur pendidikan nasional (UUD 1945 dan UU Sisdiknas) sudah memberikan landasan yang kokoh untuk mengembangkan keseluruhan potensi diri seseorang sebagai anggota masyarakat dan bangsa.

Pendidikan adalah suatu proses enkulturasi, berfungsi mewariskan nilai-nilai dan prestasi masa lalu ke generasi mendatang. Nilai-nilai dan prestasi itu merupakan kebanggaan bangsa dan menjadikan bangsa itu dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Selain mewariskan, pendidikan juga memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu itu menjadi nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter baru bangsa. Oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti dari suatu proses pendidikan.

Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter itu menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani dan olahraga, seni, serta ketrampilan). Dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa, kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting.
Kesadaran tersebut hanya dapat terbangun dengan baik melalui sejarah yang memberikan pencerahan dan penjelasan mengenai siapa diri bangsanya di masa lalu
yang menghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini. Selain itu, pendidikan harus membangun pula kesadaran, pengetahuan, wawasan, dan nilai berkenaan dengan lingkungan tempat diri dan bangsanya hidup (geografi), nilai yang hidup di masyarakat (antropologi), sistem sosial yang berlaku dan sedang berkembang (sosiologi), sistem ketatanegaraan, pemerintahan, dan politik (ketatanegaraan/politik/ kewarganegaraan),
bahasa Indonesia dengan cara berpikirnya, kehidupan perekonomian, ilmu, teknologi, dan seni. Artinya, perlu ada upaya terobosan kurikulum berupa pengembangan nilainilai yang menjadi dasar bagi pendidikan budaya dan karakter bangsa. Dengan terobosan kurikulum yang demikian, nilai dan karakter yang dikembangkan pada diri peserta didik akan sangat kokoh dan memiliki dampak nyata dalam kehidupan diri, masyarakat, bangsa, dan bahkan umat manusia.

Pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu pendidikan budaya dan karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional.

Fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Fungsi pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:

1. pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa;
2. perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
3. penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

Tujuan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Tujuan pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:

1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
2. mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
3. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
4. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Nilai-nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini.

1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

2. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilainilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

4. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini.

1. Nilai Religius yaitu Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Nilai Jujur yaitu Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Nilai Toleransi yaitu Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin yaitu Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

5. Nilai Kerja yaitu Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya

7. Nilai Mandiri yaitu Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Nilai Demokratis yaitu Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Nilai Rasa Ingin Tahu yaitu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar

10. Nilai Semangat Kebangsaan yaitu Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya

11. Nilai Cinta Tanah Air yaitu Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa

12. Nilai Menghargai Prestasi yaitu Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain

13. Nilai Bersahabat/Komuniktif yaitu Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain

14. Nilai Cinta Damai yaitu Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya

15. Gemar Membaca yaitu Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya

16. Nilai Peduli Lingkungan yaitu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Nilai Peduli Sosial yaitu Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan

18. Nilai Tanggung-jawab yaitu Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sekolah dan guru dapat menambah atau pun mengurangi nilai-nilai tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah dan hakekat materi SK/KD dan
materi bahasan suatu mata pelajaran. Meskipun demikian, ada 5 nilai yang diharapkan menjadi nilai minimal yang dikembangkan di setiap sekolah yaitu nyaman, jujur,
peduli, cerdas, dan tangguh/kerjakeras.

Sumber Buku Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Kajian Pokok Ekonomi Mikro

Kajian Pokok Ekonomi Mikro


Preferensi dan Utilitas

Tingkat kemampuan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia dinamakan dengan utilitas. Apabila konsumen mengonsumsi barang dalam jumlah yang semakin banyak maka kepuasan totalnya (TU) semakin meningkat namun tambahan kepuasannya (MU) semakin menurun. Masing-masing unit tambahan output yang dikonsumsi akan menambah kepuasan dengan jumlah yang semakin rendah.
Dengan asumsi kesukaan (tastes) dan preferensi tertentu maka dapat dilukiskan dalam kurva indeferen (IC). Kurva indeferen menunjukkan berbagai kombinasi barang X dan Y yang memberikan kepuasan total yang sama. Kurva IC yang terletak semakin jauh dari titik 0 menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
Slope kurva IC menunjukkan laju substitusi marjinal (Marginal Rate of Substitution, MRS), yang menunjukkan berapa banyak seseorang bersedia mengurangi konsumsi suatu barang untuk ditukar dengan barang lain supaya tingkat kepuasannya tetap (masih berada dalam kurva indeferen yang sama).

Garis anggaran menunjukkan batas jumlah barang-barang yang dapat dibeli konsumen dalam periode waktu tertentu dan ditentukan oleh tingkat harga dan tingkat pendapatan yang dimiliki. Biasa disebut kendala anggaran (budget constraint).
Kenaikan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kanan, sejajar dengan garis anggaran semula (karena harga barang X dan Y tidak berubah). Penurunan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kiri. Kenaikan pendapatan tidak membuat slope garis anggaran berubah. Apabila harga salah satu barang berubah maka garis anggaran akan berotasi, sedangkan slope-nya berubah.

Permintaan Individual

Kepuasan maksimum tercapai pada titik persinggungan antara kurva indiferen dengan garis anggaran. Pada saat itu slope garis anggaran sama dengan slope kurva indiferen. Syarat ini merupakan syarat tercapainya kepuasan maksimum.
Syarat maksimisasi kepuasan adalah , sedangkan slope kurva indiferen, maka . Jadi, untuk maksimisasi dengan kendala anggaran, nilai kepuasan marginal setiap rupiah yang dibelanjakan pada masing-masing barang harus sama.

Apabila pendapatan berubah maka garis anggaran akan bergeser. Pergeseran ini juga akan menghasilkan titik persinggungan antara kurva indiferen dengan garis anggaran. Dengan mengubah tingkat pendapatan berkali-kali dan menemukan keseimbangan konsumen maka kita memperoleh kurva konsumsi pendapatan (income consumption curve, ICC). Kurva ICC merupakan titik-titik persinggungan antara IC dengan garis anggaran atau juga merupakan titik-titik keseimbangan konsumen pada berbagai tingkat pendapatan. Dari kurva ICC ini kita dapat menurunkan kurva Engel.

Kurva Engel menunjukkan pengaruh perubahan pendapatan terhadap pembelian suatu barang. Slope kurva Engel positif menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan diikuti kenaikan jumlah barang yang dibeli. Fenomena ini merupakan gambaran barang normal. Kurva Engel yang tegak menggambarkan bahwa perubahan pendapatan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan jumlah barang yang dibeli. Hal ini menunjukkan bahwa barang tersebut termasuk kelompok barang kebutuhan pokok. Kurva Engel yang semakin landai, menunjukkan kenaikan pendapatan lebih rendah dibandingkan kenaikan
jumlah barang yang dibeli. Kurva seperti ini, menunjukkan bahwa barang yang dibicarakan merupakan barang lux. Kurva Engel mungkin ber-slope negatif, menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan diikuti penurunan jumlah barang yang dibeli. Kasus ini terjadi untuk barang inferior.
Apabila kita mengubah harga barang X, namun harga barang Y tetap, pendapatan dan preferensi konsumen tetap, kita dapat menggambar kurva konsumsi harga (price consumption curve, PCC). Kita menganggap bahwa harga barang X berubah berkali-kali, kemudian kita catat titik persinggungan antara kurva IC dengan garis anggaran yang berotasi. Kurva PCC diperoleh dari titik-titik keseimbangan konsumen apabila kita mengubah tingkat harga barang X, sedangkan harga barang Y, pendapatan dan preferensi konsumen tetap. Dari kurva PCC ini kita dapat menurunkan kurva permintaan barang X.

Permintaan Pasar

Permintaan pasar merupakan penjumlahan horizontal dari permintaan individu dari semua konsumen yang ada di pasar. Kurva permintaan pasar menunjukkan berbagai jumlah barang yang diminta di pasar pada suatu waktu tertentu pada berbagai tingkat harga, ceteris paribus.
Elastisitas adalah persentase perubahan jumlah yang diminta akibat perubahan harga atau %DQ/%DP. Elastisitas harga permintaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu banyaknya barang pengganti (substitusi), dan waktu yang diberikan kepada konsumen untuk melakukan penyesuaian. Apabila konsumen diberi waktu untuk melakukan penyesuaian maka fungsi permintaan akan semakin elastis.
Elastisitas pendapatan permintaan (income elasticity of demand) menunjukkan persentase perubahan jumlah yang diminta akibat perubahan pendapatan sebesar 1 persen atau (DQ/Q)/(DI/I), di mana I adalah pendapatan. Suatu barang termasuk barang normal apabila memiliki elastisitas pendapatan positif (elastis), dan inferior bila elastisitas pendapatannya negatif. Jika elastisitas pendapatannya positif dan kurang dari 1 maka barang tersebut termasuk kebutuhan pokok, sedangkan apabila elastisitas pendapatan lebih dari 1 termasuk barang lux.
Dua buah barang bisa saling menggantikan (substitusi) maupun saling melengkapi (komplementer). Hubungan ini ditentukan oleh nilai elastisitas silang, yang mengukur persentase perubahan jumlah barang X yang diminta akibat perubahan harga barang Y sebesar I persen atau (DQx/Qx)/(DPy/Py).
Permintaan berpengaruh terhadap penerimaan produsen karena pengeluaran konsumen merupakan penerimaan produsen. Penerimaan total perusahaan (produsen) adalah TR (Total Revenue) = P.Q, di mana P adalah harga per unit produk dan Q adalah banyaknya produk. Penerimaan Marjinal (Marginal Revenue, MR) adalah perubahan penerimaan total karena perubahan jumlah yang dijual (DTR/DQ).
Efek Substitusi dan Efek Pendapatan
Apabila harga suatu barang turun, ada dua kekuatan yang menyebabkan jumlah barang yang diminta berubah, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan.
Untuk barang normal, efek pendapatan dan efek substitusi akan mendorong konsumen untuk menambah jumlah barang yang turun harganya.
Untuk barang inferior, efek substitusi akan mendorong konsumen menambah jumlah barang tersebut karena sekarang harganya relatif lebih murah disanding harga barang lain. Efek pendapatan akan berakibat negatif, adanya pendapatan ekstra mendorong konsumen mengurangi pembelian barang yang turun harganya dan berusaha menggantikannya dengan barang yang lebih baik kualitasnya
Apabila harga suatu barang turun, ada dua kekuatan yang menyebabkan jumlah barang yang diminta berubah, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan.
Untuk barang normal, efek pendapatan dan efek substitusi akan mendorong konsumen untuk menambah jumlah barang yang turun harganya.
Untuk barang inferior, efek substitusi akan mendorong konsumen menambah jumlah barang tersebut karena sekarang harganya relatif lebih murah disanding harga barang lain. Efek pendapatan akan berakibat negatif, adanya pendapatan ekstra mendorong konsumen mengurangi pembelian barang yang turun harganya dan berusaha menggantikannya dengan barang yang lebih baik kualitasnya.

Teori revealed Preference

Jika sebuah bundel dipilih ketika bundel lain dapat dipilih maka dikatakan bahwa bundel pertama adalah revealed preference terhadap bundel kedua. Jika pilihan konsumen selalu pada sebuah bundel yang paling dipilih dari bundel yang dapat dipilihnya maka berarti pilihan bundel tersebut harus dipilih daripada bundel lainnya yang dapat dipilih (tetapi tidak dipilih). The Weak Axiom of Revealed Preference (WARP) dan the Strong Axiom of Revealed Preference (SARP) adalah kondisi yang harus ditaati konsumen jika konsumen tersebut konsisten terhadap model ekonomi mengoptimalkan pilihan
Tingkat kemampuan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia dinamakan dengan utilitas. Apabila konsumen mengonsumsi barang dalam jumlah yang semakin banyak maka kepuasan totalnya (TU) semakin meningkat namun tambahan kepuasannya (MU) semakin menurun. Masing-masing unit tambahan output yang dikonsumsi akan menambah kepuasan dengan jumlah yang semakin rendah.
Dengan asumsi kesukaan (tastes) dan preferensi tertentu maka dapat dilukiskan dalam kurva indeferen (IC). Kurva indeferen menunjukkan berbagai kombinasi barang X dan Y yang memberikan kepuasan total yang sama. Kurva IC yang terletak semakin jauh dari titik 0 menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
Slope kurva IC menunjukkan laju substitusi marjinal (Marginal Rate of Substitution, MRS), yang menunjukkan berapa banyak seseorang bersedia mengurangi konsumsi suatu barang untuk ditukar dengan barang lain supaya tingkat kepuasannya tetap (masih berada dalam kurva indeferen yang sama).
Garis anggaran menunjukkan batas jumlah barang-barang yang dapat dibeli konsumen dalam periode waktu tertentu dan ditentukan oleh tingkat harga dan tingkat pendapatan yang dimiliki. Biasa disebut kendala anggaran (budget constraint).
Kenaikan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kanan, sejajar dengan garis anggaran semula (karena harga barang X dan Y tidak berubah). Penurunan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kiri. Kenaikan pendapatan tidak membuat slope garis anggaran berubah.
Apabila harga salah satu barang berubah maka garis anggaran akan berotasi, sedangkan slope-nya berubah.
Produksi dalam Jangka Pendek
Perusahaan memiliki input tetap dalam jangka pendek dan menentukan berapa banyaknya input variabel yang harus dipergunakan. untuk membuat keputusan, pengusaha akan memperhitungkan seberapa besar dampak penambahan input variabel terhadap produksi total.
Produksi Marginal (MP), yaitu tambahan output karena tambahan input sebanyak satu satuan. Produksi rata-rata (AP) adalah rasio antara total produksi dengan input atau produksi per tenaga kerja. Total Produksi (TP) yaitu jumlah seluruh produk yang dihasilkan.
Law of Diminishing Return, LDR adalah hukum pertambahan hasil yang semakin menurun. Apabila input variabel dipergunakan (ditambahkan) pada input tetap terus-menerus maka hasil yang diperoleh akan semakin rendah dengan semakin banyaknya input variabel yang dipergunakan

Produksi dalam Jangka Panjang

Jangka panjang suatu proses produksi adalah jangka waktu, di mana semua input atau faktor produksi bersifat variabel. Dalam jangka panjang tidak ada input tetap.Berbagai kombinasi input yang menghasilkan tingkat output yang sama digambarkan dengan kurva isokuan (isoquant curve). Bentuk kurva isokuan serupa dengan bentuk kurva indiferen. Semakin ke kanan atas kurva isokuan menunjukkan tingkat output yang semakin tinggi. Demikian sebaliknya, semakin ke kiri bawah semakin rendah tingkat outputnya. Apabila isokuan produsen bergerak ke kanan atas, berarti produsen menaikkan skala produksinya atau melakukan perluasan usaha (ekspansi).
MRTSL for K = Marginal Rate of Technical Substitution L for K adalah laju substitusi marginal L terhadap K secara teknis. MRTS ini menunjukkan apabila produsen menambah satu unit L, berapa unit K dapat, dikurangi (digantikan) tanpa mengurangi tingkat produksi. Secara grafis MRTS ini menunjukkan kemiringan (slope) kurva isokuan.
Return to Scale (RTS) adalah suatu ciri dari fungsi produksi yang menunjukkan hubungan antara perbandingan perubahan semua input (dengan skala perubahan yang sama) dan perubahan output yang diakibatkannya. IRTS: Increasing Return to Scale: tambahan output lebih tinggi dibandingkan dengan tambahan input. DRTS: Decreasing Return to Scale: tambahan output lebih rendah dibandingkan dengan tambahan input. CRTS: Constant Return to Scale: tambahan output sama dengan tambahan input .

Teori Biaya

Produksi merupakan kegiatan mengombinasikan input untuk menghasilkan output secara efisien. Biaya produksi perusahaan diperoleh dari penggunaan input dalam proses produksi dan informasi mengenai harga input. Fungsi biaya menunjukkan biaya minimum yang harus ditanggung oleh pengusaha untuk memproduksi berbagai tingkat output. Fungsi biaya tersebut minimum mengingat bahwa pengusaha bekerja secara efisien.
Biaya eksplisit adalah biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh perusahaan untuk membeli atau menyewa input yang dipergunakan dalam proses produksi, termasuk gaji pegawai, sewa tanah atau bangunan, pembelian bahan dan lain-lain. Biaya implisit adalah biaya yang dicerminkan oleh nilai input yang dimiliki dan digunakan sendiri oleh perusahaan di dalam proses produksinya. Perbedaannya adalah perusahaan tidak perlu membayar atas penggunaan input tersebut karena sudah milik sendiri. Meskipun demikian, nilainya perlu diperhitungkan dalam penghitungan biaya. Biaya privat adalah biaya yang ditanggung oleh individu atau perusahaan di dalam proses produksi barang dan jasa. Biaya sosial adalah biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat secara keseluruhan, termasuk misalnya biaya polusi akibat kegiatan perusahaan. Biaya sosial ini dapat menjadi biaya privat melalui peraturan pemerintah, misalnya pemerintah mengatur supaya perusahaan memiliki instalasi pengolah limbah.
Berbagai kombinasi input yang membebani perusahaan dengan biaya dalam jumlah yang sama dinamakan isokos (isocost). Untuk meminimumkan biaya produksi sejumlah output tertentu, perusahaan harus memilih kombinasi input yang membebani biaya minimum (Least Cost Combination). Kombinasi ini terjadi pada saat garis isokos menyinggung kurva isokuan.
Dalam jangka pendek karena minimal terdapat satu input yang bersifat tetap maka akan terdapat biaya yang bersifat tetap. Biaya ini dina makan biaya tetap total (Total Fixed Cost, TFC). Biaya-biaya untuk penggunaan input yang bersifat variabel dinamakan biaya variabel total (Total Variable Cost, TVQ). Biaya total, TC = TFC + TVC.

Biaya jangka panjang

Hukum penambahan hasil yang semakin berkurang (Law of Diminishing Return, LDR), yaitu apabila semakin banyak input variabel dipergunakan pada input tetap maka tambahan output semakin lama semakin rendah.
Biaya tetap rata-rata (Average Fixed Cost, AFC) = TFC/Q. Biaya variabel rata-rata (Average Variable Cost, AVC) adalah biaya variabel total dibagi dengan output total, AVC = TVC/Q. Biaya marginal (Marginal Cost, MC) adalah perubahan biaya total dibagi dengan perubahan output yang diproduksi, MC = DTC/DQ. Biaya rata-rata (Average Cost, AC) adalah biaya total dibagi tingkat output yang dihasilkan, AC = TC/Q.
Kenaikan hasil (increasing returns to scale) berarti output meningkat dengan proporsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi kenaikan penggunaan input sehingga biaya per unit output menurun (dengan anggapan harga input tetap). Penurunan hasil (decreasing returns to scale) berarti output meningkat dengan proporsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi kenaikan penggunaan input sehingga biaya per unit output menurun (dengan anggapan harga input tetap). Increasing returns to scale ditunjukkan oleh LAC yang menurun, sedangkan decreasing returns to scale ditunjukkan oleh kurva LAC yang menaik.
Penerimaan total produsen adalah TR (Total Revenue) = P.Q. Kurva biaya total jangka panjang merupakan kumpulan titik-titik minimum biaya jangka pendek. Keseimbangan produsen tercapai apabila kemampuan teknis dan kemampuan ekonomis sama. Isokuan menggambarkan kemampuan (kendala) produsen secara teknis dan isokos menggambarkan kemampuan (kendala) produsen secara ekonomis maka keseimbangan produsen dicapai dengan menggabungkan kemampuan teknis dengan kemampuan ekonomis. Keseimbangan produsen tercapai jika isokuan bersinggungan dengan isokos. Persinggungan isokuan dengan isokos terjadi pada saat slope isokuan sama dengan slope isokos

Perilaku Menghadapi Ketidakpastian

Ketidakpastian merupakan kenyataan yang harus dihadapi oleh pelaku ekonomi, baik itu konsumen maupun produsen. Perilaku konsumen menghadapi ketidakpastian digambarkan oleh hubungan antara pendapatan dan utilitas konsumen. Pendapatan merupakan unsur pokok yang membuat permintaan konsumen menjadi bersifat efektif. Pembelian yang dilaksanakan memungkinkan konsumen menguasai barang yang dapat dikonsumsikannya. Tindakan konsumen ini memberikan utilitas pada konsumen. Dengan demikian, ada hubungan yang khas antara pendapatan dan utilitas. Perilaku konsumen dalam ketidakpastian bisa diamati dengan menggunakan teori probabilitas. Ilmu statistik dapat membantu untuk menghitung besarnya probabilitas.
Dalam menghadapi ketidakpastian perilaku produsen mirip dengan perilaku konsumen. Hal yang membedakan antara keduanya adalah pada pay off dari perilakunya. Apabila konsumen menginginkan utilitas maka produsen menginginkan pay off dalam bentuk pendapatan (revenue).

Ketidakpastian harga

Teori ekonomi mikro mengasumsikan bahwa dalam kepastian dan dengan mengabaikan struktur pasar, tujuan suatu perusahaan adalah untuk memaksimalkan laba (profit) dengan batasan tertentu. Output optimal diperoleh pada saat marjinal cost perusahaan sama dengan marjinal revenue-nya. Jika ketidakpastian terjadi, tidak ada alasan yang dapat dipercayai bahwa prinsip maksimasi dapat dipertahankan.
Dari model Sandmo dan Leland dapat diambil beberapa kesimpulan utama dari teori perusahaan yang beroperasi di bawah ketidakpastian.
1. Jika suatu perusahaan adalah “penghindar/penolak risiko” output optimalnya lebih kecil dari output nyatanya/pada kondisi kepastian (certainty output).
2. Jika suatu perusahaan memperlihatkan penurunan penghindaran risiko absolut, output optimalnya bervariasi berbanding terbalik dengan biaya tetapnya.
3. Jika suatu perusahaan kompetitif memperlihatkan penurunan penghindaran risiko absolut, hal tersebut mempunyai suatu kurva penawaran miring ke atas.
4. Jika suatu perusahaan adalah penghindar/penolak risiko, suatu ekulibrium akan terjadi, bahkan dalam biaya marjinal yang konstan atau menurun.
5. Jika suatu perusahaan adalah penghindar/penolak risiko, ekuilibrium memerlukan adanya profit yang positif.
6. Jika suatu perusahaan memperlihatkan penurunan penghindaran risiko absolut, output optimalnya bervariasi berbanding terbalik dengan tingkat risiko yang dirasakannya;
7. Jika suatu perusahaan memperlihatkan penurunan penghindaran risiko absolut, output optimalnya bervariasi berbanding terbalik dengan biaya variabelnya.
8. Dalam ketidakpastian perusahaan yang kompetitif akan memproduksi output yang lebih tinggi daripada perusahaan non- kompetitif, yang dijual pada tingkat harga yang sama.

oligopoly

Salah satu hal membedakan bentuk oligopoli dengan bentuk organisasi pasar lainnya adalah ketergantungan atau tingginya persaingan di antara perusahaan anggota yang disebabkan oleh sedikitnya anggota. Dalam menentukan kebijakan harga, iklan, diferensiasi produk, dan lain-lain, perusahaan harus memperhitungkan kemungkinan adanya reaksi perusahaan pesaingnya. Perusahaan pesaing dapat menentukan kebijakan balasan dalam bentuk apa pun maka tidak ada model oligopoli yang standar (unik). Masing-masing kemungkinan reaksi dari pesaing merupakan model oligopoli tersendiri.
Model-model oligopoli, yaitu oligopoli model Cournot, oligopoli model Bertrand, oligopoli model Edgeworth, oligopoli model Chamberlain, oligopoli model Sweezy (kinked demand), oligopoli Berkolusi: model Kartel, oligopoli berkolusi, yaitu kepemimpinan harga (price leadership).

Teori oligopoly

Pasar oligopoli bercirikan jumlah penjual sedikit yang membuat persaingan di antara oligopolis menjadi sangat intensif. Oligopoli adalah bentuk struktur pasar yang relatif banyak dalam sektor manufaktur atau industri suatu perekonomian. Beberapa industri oligopoli adalah mobil, rokok, semen, pupuk, penerbangan, dan lainnya. Berdasar jenis barang yang dijual oligopoli dibedakan 2 macam. Jika produknya homogen disebut oligopoli murni (pure oligopoly). Jika produknya berbeda corak disebut oligopoli beda corak (differentiated oligopoly).
Asumsi yang mendasari kondisi di pasar oligopoli adalah pertama, penjual sebagai price maker. Penjual bukan hanya sebagai price maker, tetapi setiap perusahaan juga mengakui bahwa aksinya akan mempengaruhi harga dan output perusahaan lain, dan sebaliknya. Kedua, penjual bertindak secara strategik. Asumsi ketiga, kemungkinan masuk pasar bervariasi dari mudah (free entry) sampai tidak mungkin masuk pasar (blockade), dan asumsi keempat pembeli sebagai price taker. Setiap pembeli tidak bisa mempengaruhi harga pasar.

Menurut Sweezy (1939), salah satu ciri reaksi oligopolis jika terjadi perubahan harga adalah
(1) jika suatu oligopolis menurunkan harga maka oligopolis cenderung juga akan menurunkan harga karena tidak mau kehilangan konsumen dan
(2) jika oligopolis menaikkan harga maka akan kehilangan konsumen karena oligopolis lain tidak menaikkan harga dan akan mendapat tambahan konsumen dengan tanpa melakukan reaksi apapun. Hal ini menyebabkan kurva permintaan yang dihadapi oligopolis merupakan kurva yang patah (kinked demand curve).

Teori Persaingan Monopolistik
Pasar persaingan monopolistik memiliki karakteristik yang sama dengan yang ada dalam persaingan sempurna, kecuali perusahaan menjual produk diferensiasi dan bukannya produk yang homogen.
Teori persaingan monopolistik didasarkan pada 3 asumsi pokok, yang pertama adalah setiap perusahaan memproduksi satu jenis atau satu merek khas dari produk diferensiasi dalam industri. Asumsi yang kedua, dalam pasar industri monopolistik berisi begitu banyak perusa¬haan yang masing-masing saling bersaing secara ketat sehingga masing-masing mengabaikan reaksi yang mungkin timbul dari para pesaingnya bila ia membuat keputusan terhadap harga output-nya. Asumsi ketiga adalah adanya kebebasan untuk masuk dan keluar dari industri.
Perusahaan dalam persaingan monopolistik menghadapi kurva permintaan yang kemiringannya menurun dan dapat menghasilkan keuntungan monopolis dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, perusahaan baru memasuki industri bila keuntungan bisa diperoleh dan titik keseimbangan mensyaratkan setiap perusahaan memperoleh laba sebesar nol. Kurva permintaan setiap perusahaan menyinggung kurva biaya rata-ratanya. Hal ini berarti bahwa setiap perusahaan berproduksi kurang dari tingkat output yang biayanya minimum.

Ada tiga alternatif penting bagi perusahaan persaingan monopolistik dalam melakukan kegiatan usahanya. Jika biaya total sama dengan pendapatan total maka keuntungan ekonomi perusahaan adalah nol. Perusahaan hanya memperoleh keuntungan normal. Apabila harga lebih kecil dibandingkan dengan biaya total rata-rata namun lebih besar dibandingkan biaya variabel rata-rata maka perusahaan mengalami kerugian namun masih mampu meneruskan produksi karena perusahaan akan mengalami kerugian yang lebih besar apabila menghentikan produksi. Sementara jika harga lebih kecil dibandingkan biaya variabel rata-rata maka lebih baik perusahaan memutuskan untuk gulung tikar atau menutup usahannya.
Persaingan monopolistik tidak harus mengakibatkan terjadinya inefisiensi. Meskipun setiap perusahaan berproduksi dengan biaya yang lebih mahal daripada biaya seminimum mungkin, produknya akhirnya akan dinilai oleh konsumen sehingga perlu dipikirkan untuk menambah biaya.

Persaingan Monopolistik
Persaingan monopolistik merupakan gabungan antara persaingan sempurna dan monopoli. Seperti persaingan sempurna, dalam persaingan monopolistik terdapat beberapa penjual, masing-masing penjual terlalu kecil sehingga tidak bisa mempengaruhi penjual lainnya. Perusahaan juga bisa masuk dan keluar dari pasar dengan agak mudah. Namun, seperti dalam monopoli, perusahaan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga produknya. Kemampuan ini muncul karena adanya diferensiasi produk.
Dalam jangka pendek, perusahaan dalam persaingan monopolistik mungkin memperoleh laba ekonomis, break even atau merugi. Dalam jangka panjang perusahaan bisa mengubah skala produksinya dan ke luar atau masuk industri. Dalam persaingan monopolistik, perusahaan dapat mengubah karakteristik produk untuk mempengaruhi selera konsumen.

Teori Permainan (Game Theory)
Teori permainan merupakan metode analisis ekonomi mikro pada tingkat menengah mengenai pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan terdapat strategi yang bersifat interaktif di antara pelaku-pelaku ekonomi. Proses tersebut dapat dianalisis dalam berbagai model permainan.

Model-model dalam teori permainan, antara lain berikut ini.
1. Model permainan statis dengan informasi lengkap (static games of complete information). Bentuk normal permainan bisa berupa matriks atau tabel. Metode lain untuk melukiskan permainan adalah bentuk ekstensif, yaitu diagram pohon. Setiap strategi dilukiskan sebagai cabang, sedangkan posisi masing-masing pemain dilukiskan sebagai titik simpul.
2. Model permainan dinamis dengan informasi lengkap (dynamic games of complete information). Dalam model ini, diasumsikan kedua pemain mengambil strategi secara bergantian, masing-masing mempunyai informasi yang lengkap, dan hasil yang diperoleh kedua pemain merupakan kombinasi dari strategi yang diambil kedua pemain.
3. Model dynamic games of complete but imperfect information. Dalam model ini, para pemain bergerak dalam satu sequence, semua gerakan diketahui secara umum sebelum gerakan berikutnya dipilih, dan pay-off dari para pemain, dari semua kombinasi gerakan yang feasible telah diketahui secara umum.
3. Dynamic games of incomplete information. Kasus permainan ini sering dijumpai dalam dunia nyata. Dalam model ini terdapat informasi yang tidak simetris di antara para pelaku.
4. Mixed Strategy. Dalam model ini pemain menghadapi dua macam ketidakpastian yaitu ketidakpastian apa strategi yang akan diambil oleh lawan (pesaing) dan ketidakpastian oleh dirinya sendiri dalam arti strategi apa yang akan diambil oleh dirinya sendiri.
5. Two-stages game of complete but imperfect information. dalam model ini perlu dibedakan antara imperfect information dengan incomplete information. Imperfect information digunakan untuk kasus static atau permainan simultan sedangkan incomplete information dipergunakan pada kasus, di mana pemain tidak yakin mengenai pay-off.

Keseimbangan Umum

Suatu perekonomian dikatakan dalam keadaan keseimbangan umum, apabila ada suatu himpunan harga yang dapat menyamakan permintaan dan penawaran sehingga terjadi keseimbangan dalam tiap produk dan faktor pasar serta saling konsisten.
Yang pertama kali mempersoalkan ada atau tidaknya keseimbangan umum itu ialah Leon Walras, akhir abad ke-19.
Secara matematika dapat dibuktikan bahwa titik keseimbangan umum itu memang ada dengan syarat pasar harus kompetitif sempurna.

Ekonomi Kesejahteraan

Kriteria Pareto tak dapat mengevaluasi suatu perubahan yang membuat seseorang sejahtera dan yang lainnya menderita. Oleh karena banyak kebijaksanaan mengenai perubahan cenderung membuat seseorang sejahtera dan lain menderita maka kegunaan criteria Pareto amat terbatas. Keterbatasan ini dicoba untuk dikoreksi oleh Kaldor dengan menggunakan kriteria kompensasi. Oleh yang sejahtera kepada yang menderita.

DAFTAR PUSTAKA
Awh. R.Y. (1976). Microeconomic: Theory and Applications. Santa Barbara: John Wiley & Sons Inc.
Arrow and Debreu. (1954). Econometrica. July 1954.
Catur Sugiyanto. (1995). Ekonomika Mikro, Ringkasan Teori, Soal, Trik, dan Jawaban. Ed. ke-1. Yogyakarta: BPFE.
Quirk and Sapoonik. (1954). Econometrica. July 1954.
Kaldor N. (1939). Welfare Propositions of Economics and Interpersonal Comparisons of Utility. Economic Journal. Vol. 49.
Hicks J.R. (1939). The Foundation of Welfare Economics. Economic Journal Vol. 49.

Penelitian dan Nilai Keilmiahan Ilmu

Penelitian dan Nilai Keilmiahan Ilmu

Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti.

Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang, atau pencarian kembali atas suatu objek, yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian, kecermatan, dan kecerdasan yang memadai. Hubungannya dengan ilmu, kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Sebagai akibatnya, penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu, yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Jadi, ilmu dapat hidup, berkembang, dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus.

Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Oleh karena itu, upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Oleh karena itu pula, kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata, sistematis, dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah .

Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula, penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum, yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial, kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Pertama, scientific objective, yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Kedua, practicial objective, yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu.

Bahwa sebenarnya kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam, yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Dalam menghadapi masalah, penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis, terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan teori dan metode. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem, nalar, dan sesuai dengan objeknya, yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah- inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Kaitannya dengan kehidupan ilmu, kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula, di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti.

Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuliah ini, yaitu penelitian sastra, dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep, teori-teori, dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra.

Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods).

Bahwa penelitian merupakan proses sistematis. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Urutan umum dari proses sistematis penelitian adalah: perumusan masalah, penelaahan informasi, pengumpulan data, analisis data, dan penyajian kesimpulan.

Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual, emosional, social, dan spiritual. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Di samping itu, manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Oleh karena itu, manusia mencari tahu dan mencari makna. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Di samping masalah yang dihadapi, ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain.

Semua itu merupakan rangkaian rangsangan, baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data, fakta, dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya.

Ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas, menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh, termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum.

Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan, kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan), otoritas, intuasi, atau pendapat umum. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metode metode ilmiah. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah, kemudian melakukan proses penemuan, penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi, menggambarkan, dan menafsirkan apa yang diamati.

Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru, atau memperkaya teori yang sudah ada, orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali, melakukan kegiatan penemuan, penyelidikan, atau penelitian. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian.

Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Pertama, penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Kedua, adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi.

Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua, memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Dalam hal ini, para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Oleh karena itu, para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya.

Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore), mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan), rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala.
Penelitian akan menghasilkan teori, sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Teori dapat membantu merumuskan problem, pengajuan hipotesis, penyusunan design, pengembangan instrumen, pengumpulan dan analisis data, serta membantu dalam menginterpretasi data.

Metode Dan Nilai Keilmiahan

Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu, yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Dengan demikian metodenya pun bersifat ilmiah. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas, komunikasi, ketanpapamrihan, dan skeptisisme yang sistematis dan terorganisir.

Dalam kerja penelitian, ilmu-ilmu humaniora, nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria:
(1) berdasarkan fakta,
(2) bebas prasangka,
(3)menggunakan prinsip analisis,
(4) menggunakan hipoteisis apabila ada, dan
(5)menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis).

Penelitian ilmiah memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. Landasan kerja yang dimaksud dapat dirumuskan dalam tiga hal, yaitu:

1. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah;
2. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan;
3. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca, menganalisis, menginterpretasi, dan menyimpulkan; bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian.

Dalam penelitian ilmiah, dituntut langkah-langkah berturut-turut, yaitu:
(1) menetapkan persoalan pokok,
(2) merumuskan dan mendefinisikan masalah,
(3) mengadakan studi pustaka,
(4) merumuskan hipotesis,
(5) mengumpulkan data,
(6) mengolah data,
(7) menganalisis dan menginterpretasi,
(8) membuat generalisasi sesuai sifatnya,
(9) menarik kesimpulan,
(10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian, dan
(11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian.

Pengertian Pendapatan, Modal, Kredit, BPR, dan Fungsi Bank

Pengertian Pendapatan, Modal, Kredit, BPR, dan Fungsi Bank

Tujuan pokok dijalankannya suatu usaha perdagangan adalah untuk memperoleh pendapatan, dimana pendapatan tersebut dapat digunakan untukm memenuhi kebutuhan hidup dan kelangsungan hidup usaha perdagangannya. Pendapatan yang diterima adalah dalam bentuk uang, dimana uang adalah merupakan alat pembayaran atau alat pertukaran (Samuelson dan Nordhaus, 1997).
Selanjutnya, pendapatan juga dapat di definisikan sebagai jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu
(biasanya satu tahun), pendapatan terdiri dari upah, atau penerimaan tenaga kerja, pendapatan dari kekayaan seperti sewa, bunga dan deviden, serta pembayaran transfer atau penerimaan dari pemerintah seperti tujangan sosial atau asuransi pengangguran (Samuelson dan Nordhaus, 1997).
Adapun menurut Lipsey pendapatan terbagi dua macam, yaitu pendapatan perorangan dan pendapatan disposable. Pendapatan perorangan adalah pendapatan yang dihasilkan oleh atau dibayarkan kepada perorangan sebelum dikurangi dengan pajak penghasilan perorangan. Sebagian dari pendapatan peroranganm dibayarkan untuk pajak, sebagian ditabung oleh rumah tangga ; yaitu pendapatan perorangan dikurangi dengan pajak penghasilan. Pendapatan disposible merupakan jumlahpendapatan saat ini yang dapat di belanjakan atau ditabung oleh rumah tangga ; yaitu pendapatan perorangan dikurangi dengan pajak penghasilan (Lipsey, 1991).
Sedangkan menurut Gilarso pendapatan atau penghasilan adalah sebagai balas karya. Pendapatan sebagai balas karya terbagi dalam enam kategori, yaitu upah/gaji yang merupakan balas jasa untuk pekerjaan yang dilaksanakan dalam hubungan kerja dengan orang/instansi lain (sebagai karyawan yang dibayar), laba usaha sendiri yaitu balas karya untuk pekerjaan yang dilakukan sebagai pengusaha yang mengorganisir produksi, mengambil keputusan tentang kombinasi faktor produksi serta menanggung resikonya sendiri entah sebagai petani/ tukang/pedagang dan sebagainya, laba perusahaan (perseroan) atau laba yang diterima atau diperoleh perusahaan yang berbentuk atau badan hokum, sewa atas jasa yang diterima oleh pemilik atas penggunaan hartanya seperti tanah, rumah atau barang-barang tahan lama, penghasilan campuran yaitu penghasilan yang diperoleh dari usaha seperti ; petani, tukang, warungan, pengusaha kecil, dan sebagainya disebut bukan laba, melainkan terdiri dari berbagai kombinasi unsur-unsur pendapatan, serta bunga atau balas jasa untuk pemakaian faktor produksi uang (Gilarso, 1998)
Pass dan Lowes, berpendapat bahwa pendapatan adalah uang yang diterima oleh seseorang dan perusahaan dalam bentuk gaji, upah, sewa, bunga, laba, dan lain sebagainya bersama-sama dengan tunjamgan pengangguran, uang pensiun, dan lain sebagainya (Pass dan Lowes, 1994).

Pengertian Modal

Dalam ilmu ekonomi, istilah modal merupakan konsep yang pengertiannya berbeda-beda, tergantung dari konteks penggunaannya dan aliran pemikiran yang dianut. Secara historis konsep modal juga mengalami perubahan/perkembangan (Snavely, 1980).
Dalam abad ke-16 dan 17 istilah modal dipergunakan untuk menunjukkan
stok uang yang akan dipakai untuk membeli komoditi fisik yang kemudian dijual guna memperoleh keuntungan, atau stok komoditi itu sendiri. Istilah saham dan istilah modal sering dipakai secara sinonim. Perusahaan dagang Inggris yang didirikan atas dasar saham misalnya, dikenal sebagai perusahaan saham gabungan atau perusahaan modal saham.
Smith (1776) menggunakan istilah modal dan modal berputar, yang didasari oleh kriteria sejauh mana suatu unsur modal terkonsumsi dalam jangka waktu tertentu (misal satu tahun). Jika suatu unsur modal dalam jangka waktu tertentu hanya terkonsumsi sebagian sehingga hanya sebagian (kecil) nilainya menjadi susut, maka unsur tersebut disebut modal tetap (misal mesin, bangunan, dan sebagainya). Tetapi jika unsur modal terkonsumsi secara total, maka ia disebut modal berputar (missal tenaga kerja, bahan mentah dan sarana produksi). Pembedaan semacam ini (yang juga masih umum dipergunakan sampai sekarang), mendapat kritik dari Marx (Bottomore, 1983).
Mill (1848) menggunakan istilah modal dengan arti barang fisik yang
dipergunakan untuk menghasilkan barang lain, dan suatu dana yang tersedia untuk mengupah buruh. Pada akhir abad ke-19, modal dalam arti barang fisik yang dipergunakan untuk menghasilkan barang lain, dipandang sebagai salah satu di antara empat faktor utama produksi (tiga lainnya adalah tanah, tenaga kerja dan organisasi atau managemen).
Saat ini, modal sebagai suatu konsep ekonomi dipergunakan dalam konteks yang berbeda-beda. Dalam rumusan yang sederhana, Mubyarto (1973) memberikan definisi modal adalah barang atau uang, yang bersama-sama faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang baru. Dalam artian yang lebih luas, menurut pandangan ekonomi non-Marxian, modal mengacu kepada asset yang dimiliki seseorang sebagai kekayaan yang tidak segera dikonsumsi melainkan, atau disimpan, atau dipakai untuk menghasilkan barang/jasa baru (investasi).
Dengan demikian, modal dapat berwujud barang dan uang. Sejumlah uang
menjadi modal apabila ditanam atau diinvestasikan untuk menjamin adanya suatu kembalian. Dalam arti ini modal juga mengacu kepada investasi itu sendiri yang berupa alat-alat finansial seperti deposito, stok barang, ataupun surat saham yang mencerminkan hak atas sarana produksi, atau dapat pula berupa sarana produksi fisik. Kembalian dapat berupa pembayaran bunga, ataupun klaim atas suatu keuntungan.
Modal yang berupa barang, mencakup modal tetap dalam bentuk bangunan pabrik, mesin-mesin, peralatan transportasi, kemudahan distribusi, dan barang-barang lainnya yang dipergunakan untuk memproduksi barang/jasa baru; dan modal berputar, dalam bentuk barang jadi ataupun setengah jadi yang berada dalam proses untuk diolah menjadi barang jadi.
Ada penggunaan istilah modal untuk mengacu kepada arti yang lebih khusus, misalnya modal sosial dan modal/sumber daya manusia. Istilah yang pertama mengacu kepada jenis modal yang tersedia bagi kepentingan umum, seperti rumah sakit, gedung sekolahan, jalan raya dan sebagainya; sedangkan istilah yang kedua mengacu kepada faktor manusia produtif yang secara inherent meliputi factor kecakapan dan keterampilan manusia. Menyelenggarakan pendidikan misalnya, disebut sebagai suatu investasi dalam modal/sumber daya manusia (Schultz 1961, dalam Mubyarto, 1973).
Para ahli ekonomi non-Marxian, pada umumnya mengikuti pengertian di atas, sedangkan Marx menggunakan istilah modal untuk mengacu kepada konsep yang sama sekali lain. Modal bukanlah barang, melainkan hubungan (produksi) sosial yang menampakkan diri sebagai barang. Berbicara tentang masalah modal berarti berbicara tentang bagaimana membuat uang, asset yang membuat uang tersebut mewadahi hubungan khusus antara si pemilik dengan yang bukan pemilik sedemikian rupa sehingga bukan saja bahwa uang dibuat, tetapi juga bahwa hubungan-hubungan pemilikan pribadi yang melahirkan proses tersebut secara terus-menerus terlestarikan (Bottmore, 1983).
Dengan demikian, modal adalah suatu konsep abstrak yang manifestasinya dapat berupa barang atau uang. Karena tersebut, ia merupakan kategori yang kompleks, yang tidak cukup diterangkan hanya dengan satu definisi. Konseptualisasi Marx mengenai “capital” barangkali dapat dijabarkan secara sederhana dalam enam butir pokok berikut (Bottomore, 1983) yaitu transformasi uang menjadi modal
berjalan melalui proses tertentu, terdiri dari dua rangkaian transaksi dalam suasana sirkulasi, yaitu menjual komoditas (K) dan uang yang diterima (U) dipakai untuk membeli komoditas lain; dan membeli komoditas untuk kemudian dijual lagi (secara bagan K-U-K; dan U-K-U).
Dalam rangkaian transaksi tersebut faktor nilai menjadi penting, terutama dalam U-K-U, sebab transaksi tersebut hanya bermakna jika jumlah uang pada titik akhir menjadi lebih besar daripada jumlah asal. Kalau pertukaran tersebut merupakan pertukaran nilai yang setara, bagaimana tambahan uang bisa diperoleh? Sebaliknya,
kalau tidak setara, berarti nilai tersebut sendiri tidak tercipta. Marx menjawab persoalan ini dengan menerapkan nilai-guna. Nilai guna mempunyai sifat menciptakan nilai tambahan atau nilai lebih. Komoditas yang mempunyai nilai-guna seperti tersebut adalah tenaga kerja.
Jalur K-U-K secara tipikal mengacu kepada transaksi pengupahan tenaga kerja. Buruh menjual tenaganya untuk memperoleh sejumlah uang (berupa upah) yang pada gilirannya dipakai untuk membeli barang lain (pangan dan lain-lain kebutuhan) yang diperlukan untuk dapay mereproduksi tenaganya. Oleh karena itu dalam transaksi ini, uang sama sekali tidak bertindak sebagai modal.Namun, jika dilihat dari arah transaksi yang terbalik, yaitu dari si pengupah, dan nilai dimasukan, maka uang di sini dapat disebut sebagai unsur modal yang oleh Marx disebut dengan istilah modal variabel (MV). Tetapi MV diperoleh dari si pengupah.
Sebaliknya, jalur U-K-U merupakan transaksi yang mencakup pembelian sarana produksi yang kemudian diolah menjadi produk dan dijual untuk memperoleh uang lebih banyak. Berbeda dengan upah yang dibelanjakan untuk membeli barang yang dikonsumsi dan kemudian lenyap sama sekali, dalam jalur U-K-U ini uang hanya merupakan lanjutan untuk kemudian muncul kembali dalam jumlah yang lebih banyak. Disinilah uang ditranformasikan menjadi modal dalam suatu proses historis ketika tenaga kerja menjadi komoditi, terkait dengan konsep kebebasan makna ganda.

Modal dalam konsep Marx adalah nilai yang membengkak sendiri atau nilai dalam gerak, dan sepasang konsep lagi dari Marx yang sering dikacaukan penggunaannya dengan konsep modal tetap dan berputar dari ekonomi non-Marxian, yaitu apa yang disebut modal tetap (MT) dan modal variabel (MV). Kedua pasangan tersebut sama sekali berbeda maknanya. MT adalah bagian dari modal yang dikeluarkan untuk diubah menjadi sarana produksi yang dalam proses produksi tidak mengalami perubahan nilai sedangkan MV adalah bagian dari modal yang dikeluarkan untuk diubah menjadi tenaga kerja yang dalam proses produksi kegiatannya menuju kepada dua arah, yaitu produksi nilai setaranya sendiri, dan di lain pihak menghasilkan nilai tambah, yang besarnya beragam menurut keadaan.
Dengan demikian, dalam konsep Marx, unsur-unsur modal tersebut dapat dibedakan menurut dua macam kriteria. Pertama, dari kriteria proses kerja yaitu faktor obyektif yang berupa sarana produksi, dan faktor subyektif yang berupa tenaga kerja. Kedua, dari segi penetapan nilai, yaitu modal tetap dan modal variabel.

Pengertian Kredit

Salah satu cara untuk memperoleh modal adalah dengan kredit. Kredit merupakan suatu fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan usaha untuk meminjam uang untuk membeli produk dan membayarnya kembali dalam jangka waktu yang ditentukan. UU No. 10 tahun 1998 menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Jika seseorang menggunakan jasa kredit, maka ia akan dikenakan bunga tagihan.
Ketika bank memberikan pinjaman uang kepada nasabah, tentu saja bank mengharapkan uangnya kembali. Untuk memperkecil resiko, dalam memberikan kredit bank harus mempertimbangkan beberapa hal yang terkait dengan itikad baik dan kemampuan membayar nasabah untuk melunasi kembali pinjaman beserta
bunganya. Hal-hal tersebut terdiri dari karakter, kapasitas, modal, jaminan dan keadaan perekonomian.
Karakter merupakan watak, sifat, kebiasaan debitur (pihak yang berutang) sangat berpengaruh pada pemberian kredit. Kreditur (pihak pemberi utang) dapat meneliti apakah calon debitur masuk ke dalam Daftar Orang Tercela (DOT) atau tidak. Untuk itu kreditur juga dapat meneliti biodatanya dan informasi dari lingkungan usahanya.
Kapasitas adalah berhubungan dengan kemampuan seorang debitur untuk mengembalikan pinjaman. Untuk mengukurnya, kreditur dapat meneliti kemampuan debitur dalam bidang manajemen, keuangan, pemasaran, dan lain-lain.Dengan melihat banyaknya modal yang dimiliki debitur atau melihat berapa banyak modal yang ditanamkan debitur dalam usahanya, kreditur dapat menilai modal debitur. Semakin banyak modal yang ditanamkan, debitur akan dipandang semakin serius dalam menjalankan usahanya.
Jaminan dibutuhkan untuk berjaga-jaga seandainya debitur tidak dapat mengembalikan pinjamannya. Biasanya nilai jaminan lebih tinggi dari jumlah pinjaman.
Keadaan perekonomian di sekitar tempat tinggal calon debitur juga harus diperhatikan untuk memperhitungkan kondisi ekonomi yang akan terjadi di masa datang. Kondisi ekonomi yang perlu diperhatikan antara lain masalah daya beli masyarakat, luas pasar, persaingan, perkembangan teknologi, bahan baku, pasar modal, dan lain sebagainya.

Pengertian Bank Perkreditan Rakyat

Salah satu lembaga keuangan yang menyalurkan kredit adalah BPR yang didefinisikan oleh Undang-Undang No.10 Tahun 1998 sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh BPR secara lengkap adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu, memberikan kredit, menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, serta menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, dan tabungan pada bank lain.
Di samping kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh BPR, ada juga kegiatan yang merupakan larangan bagi BPR yaitu menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran, melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing, melakukan penyertaan modal, melakukan usaha perasuransian dan melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud di atas.

Fungsi Bank dan Peranan Bank

Secara umum, fungsi utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan. Secara lebih specifik fungsi bank dapat sebagai agen kepercayaan, agen pengembangan dan agen jasa.
Dasar utama kegiatan perbankan adalah kepercayaan, baik dalam hal penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Masyarakat akan mau menitipkan dananya di bank apabila dilandasi oleh unsur kepercayaan. Masyarakat percaya bahwa uangnya tidak akan disalahgunakan oleh bank dan uangnya akan dikelola dengan baik. Pihak bank sendiri akan mau menempatkan atau menyalurkan dananya pada debitur atau masyarakat apabila dilandasi unsur kepercayaan.
Sektor dalam perekonomian masyarakat yaitu sektor moneter dan sektor riil, tidak dapat dipisahkan. Kedua sektor tersebut berinteraksi saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Sektor riil tidak akan dapat berkinerja dengan baik apabila sektor moneter tidak bekerja dengan baik. Tugas bank sebagai penghimpun dan penyaluran dana sangat diperlukan untuk kelancaran kegiatan perekonomian di sektor riil.
Kegiatan bank tersebut memungkinkan masyarakat melakukan investasi, distribusi, dan juga konsumsi barang dan jasa, mengingat semua kegiatan investasi-distribusikonsumsi selalu berkaitan dengan penggunan uang. Kelancaran kegiatan investasidistribusi-konsumsi tidak lain adalah kegiatan pembangunan perekonomian masyarakat.
Di samping melakukan pengimpunan dana dan penyaluran dana, bank juga memberikan penawaran jasa-jasa perbankan yang lain kepada masyarakat, jasa yang ditawarkan bank ini erat kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat secara umum. Jasa-jasa bank ini antara lain dapat berupa jasa pengiriman uang, jasa penitipan barang berharga, jasa pemberian jaminan bank, dan jasa penyelesaian tagihan.
Ketiga fungsi bank di atas diharapkan dapat memberikan gambaran yang menyeluruh dan lengkap mengenai fungsi bank dalam perekonomian, sehingga bank tidak hanya dapat diartikan sebagai lembaga perantara keuangan.
Bank mempunyai peran yang sangat penting dalam sistem keuangan, peranan tersebut adalah pengalihan aset, bank memberikan pinjaman kepada pihak yang membutuhkan dana dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Sumber dana pinjaman tersebut diperoleh dari pemilik dana yaitu unit surplus yang jangka waktunya dapat diatur sesuai keinginan pemilik dana. Dalam hal ini bank telah berperan sebagai pengalih aset dari unit surplus kepada unit defisit. Dalam kasus yang lain, pengalihan aset dapat pula terjadi jika bank menerbitkan sekuritas sekunder (biro, deposito, promes, kertas berharga dan sebagainya) yang diterbitkan oleh unit defisit.
Bank memberikan berbagai kemudahan kepada pelaku ekonomi untuk melakukan transaksi barang dan jasa. Produk yang dikeluarkan oleh bank merupakan pengganti dari uang dan dapat digunakan sebagai alat pembayaran.
Unit surplus dapat menempatkan dana yang dimilikinya dalam bentuk produk, yang masing-masing mempunyai tingkat likuiditas yang berbeda. Untuk kepentingan likuiditas pemilik dana, mereka dapat menempatkan dananya sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya. Efisiensi bank dapat menurunkan biaya transaksi dengan jangkauan pelayanannya. Peranan bank sebagai broker adalah mempertemukan pemilik dan pengguna modal.