Pemda sebagai Organisasi Publik


Pemda sebagai Organisasi Publik

Masalah publik yang dihadapi oleh sebagian besar daerah di Indonesia sampai dengan saat
ini adalah menyangkut kemiskinan, kesenjangan sosial, SARA, tingkat pendidikan yang rendah,
fasilitas umum yang belum memadai, sarana transportasi yang masih terbatas, ketidakpastian hukum
sampai kasus korupsi yang tidak pernah terselesaikan dengan tuntas. Masalah publik tersebut dapat
dikelompokkan menjadi masalah pembangunan fisik dan non fisik. Pembangunan fisik pada
dasarnya mudah dilaksanakan asalkan tersedia dana yang memadai. Di Indonesia, kemiskinan
dianggap lingkaran setan, tidak diketahui dari mana untuk memulai memberantasnya dan bagaimana
mengakhiri bentuk kemiskinan di masyarakat. Pemda selalu kesulitan dalam mengatasi
pengangguran karena masalah pengangguran menyangkut berbagai aspek yang harus diatasi,
seperti lapangan kerja, jumlah penganggur, atau tingkat pendidikan.
Organisasi pemda sebagai sub-sistem dari organisasi negara Republik Indonesia adalah
suatu organisasi publik. Kebanyakan orang menganggap organisasi pemerintah sebagai organisasi
yang besar tapi lamban. Ciri yang melekat pada organisasi publik tersebut menyebabkan apapun
bentuk usaha yang dilakukan pemda untuk memperbaiki kinerja organisasi publik menemui kesulitan.
Hal ini terjadi karena kompleksnya permasalahan yang dihadapi, misalnya bagaimana sistem
penerimaan pegawai baru dapat dilaksanakan secara “fair”, sistem penggajian yang tidak adil, dan
ketidak tepatan penempatan orang sesuai dengan keahliannya.
Sebagian dari kegiatan di sektor organisasi publik tidak dapat dikontrol dengan baik karena
karakter permasalahannya yang rumit atau kompleks dan luas. Selain itu untuk mengikuti perubahan
lingkungan yang sangat cepat, organisasi publik sering kesulitan dibanding organisasi swasta
sehingga organisasi publik akan selalu tertinggal. Walaupun demikian dengan kondisi seperti itu tidak
berarti pemda sebagai organisasi publik tidak perlu berusaha untuk memperbaiki dan
mengembangkan organisasi publik untuk melayani kebutuhan masyarakat. Organisasi pemda tetap
perlu melakukan usaha agar tetap eksis dan dapat melayani masyarakat dengan baik. Hal yang perlu
diperhatikan adalah administrator publik harus tetap memiliki kemauan belajar serta disiplin kerja
yang tinggi dan dilakukan upaya perbaikan secara terus menerus sehingga mampu menyesuaikan
diri dengan perubahan lingkungan.
Organisasi pemda dalam menjalankan kegiatannya tidak terlepas dari budaya birokratis
seperti yang tercermin dari ungkapan “Ikuti prosedur yang berlaku, jangan berbuat macam-macam
supaya Saudara tidak mendapat kesulitan”, “ Saya tidak berwenang menangani perkara itu karena ini
bukan bagian saya”, “ Coba Bapak menghubungi bagian Administrasi terlebih dahulu”, dan “ Untuk
apa kerja lembur, toh gajinya juga sama saja”. Mengapa budaya semacam ini muncul dalam
organisasi pemerintah? Jawabannya adalah karena sebagian besar organisasi pemerintah hidup
dalam budaya birokratis.
Berikut ini lima karakteristik organisasi pemerintah yang birokratis:
1. Pemerintahan diorganisasi secara birokratis
Kegiatan yang menyangkut perencanaan dan pemikiran dipisahkan dari aspek pelaksanaan
dimana fungsi pelaksanaan dibagi serta dikelompokkan menurut fungsi, yang dibagi lagi ke
dalam unit yang lebih kecil. Unit dipisahkan ke dalam pekerjaan yang dirinci dalam tugas yang
lebih khusus. Model kegiatan atau pekerjaan seperti ini sudah menjadi sesuatu yang rutin dan
diterima secara meluas serta dianggap sebagai suatu keharusan, bukan lagi sekedar tanggapan
terhadap suatu permasalahan yang muncul harus diselesaikan. Dampak dari fungsi pelaksanaan
tersebut menyebabkan para pegawai terikat dalam mesin birokratis yang monoton, kaku, serta
menjadi tidak kreatif dan tidak responsif.
2. Sistem penggajian organisasi pemerintah yang tidak memadai
Selain jumlah PNS yang sangat besar, sistem penggajian PNS juga tersentralisasi sehingga
beban Negara untuk membayar seluruh PNS sangat besar dan berat. Sampai sekarang negara
kesulitan untuk menerapkan sistem gaji berdasarkan prestasi sehingga pegawai kurang
tertantang dan tidak termotivasi untuk meningkatkan kinerja. Dengan adanya otonomi daerah
maka pemda sebenarnya dapat menerapkan sistem penggajian berdasarkan prestasi.
3. Organisasi pemerintah memiliki monopoli
Pemerintah memiliki kekuasaan atas rakyatnya sehingga pemerintah juga mempunyai hak
memonopoli sebagian atau semua bidang aktivitas yang ada di wilayahnya. Dengan monopoli
tersebut maka pemerintah hanya mendapat tekanan pengaruh yang kecil dari masyarakat,
pelanggan, atau pesaingnya. Monopoli biasanya bersifat negatif di mana hal tersebut dapat menyebabkan hampir tidak adanya konsekuensi apapun terhadap kinerja yang dilakukansehingga mereka lebih memfokuskan perhatian ke dalam, pada diri mereka sendiri (inward looking).
4. Organisasi pemerintah bersifat non profit.
Kegiatan pelayanan umumnya tidak dilakukan oleh organisasi swasta. Pegawai pemerintah lebih
memperhatikan status birokratis, jabatan, kepangkatan, dan anggaran yang tersedia daripada harus memikirkan misi organisasi serta pencapaian hasil kerjanya. Pegawai negeri memperoleh gaji bukan karena prestasi kerja tapi karena lebih sekedar kepantasan yang diberikan pemerintah
sebagai suatu kewajiban untuk membayar pegawai. Jika pemerintah membayar kurang pantas disebabkan karena anggaran yang tidak mencukupi.
5. Organisasi pemerintah diorganisasi dalam hirarki berlapis
Dalam bidang kepegawaian maka aturan kepangkatan akan menentukan wewenang, jabatan, gaji, dan peluang karir. Pada bidang tersebut terdapat kelompok orang yang memberi perintah dan yang melaksanakan perintah. Semakin tinggi jabatan seseorang akan diikuti dengan
semakin tingginya kewenangan memberi perintah. Pegawai pemerintah cenderung takut
melakukan pekerjaannya dan takut berbuat salah. Mereka terbiasa dalam lingkungan kerja yang
menunggu perintah dari pimpinan. Jika mereka ingin mengubah sesuatu atau memiliki inisiatif dalam bekerja maka mereka harus meminta ijin terlebih dahulu kepada atasannya. Dalam birokrasi pemerintah, seorang atasan pada umumnya kurang menginginkan bawahannya memiliki kreatifitas tinggi yang melebihi dirinya karena takut tersaingi. Dalam organisasi pemerintah, orang yang kurang pandai memungkinkan menduduki suatu jabatan dimana dia
dapat memerintah bawahan yang mungkin lebih pandai karena faktor kedekatan dengan pimpinan.
Faktor (politik, hirarki, dan monopoli) tersebut menumbuhkan budaya organisasi yang kurang menguntungkan organisasi pemda. Para pegawai cenderung saling menyalahkan satu sama lain, saling melempar tanggung jawab, kurang berinisiatif, kurang bertanggung jawab, tidak bertindak untuk menyelesaikan permasalahan. Situasi dan kondisi kerja tersebut membuat pegawai takut salah sehingga menghambat kreatifitas dan inovasi kerja. Padahal perubahan yang terjadi di luar sangat dan kompleks serta berlangsung dengan cepat.
Dalam rangka pembenahan kelembagaan birokrasi organisasi pemda, enam hal yang perlu
mendapat perhatian adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas SDM pemda melalui program pendidikan dan pelatihan dengan rencana
pengembangan dan pola karir yang jelas bagi para pegawai. Organisasi yang memiliki SDM
berkualitas akan mudah melakukan perencanaan dan pengembangan organisasi.
2. Menyederhanakan struktur organisasi pemda dengan mengembangkan jabatan fungsional yang
mengarah kepada spesialisasi dan prestasi. Perlu dikembangkan indikator dan parameter yang
jelas bagi pelaksana sebagai panduan dalam reorganisasi sehingga terdapat ukuran yang jelas
dalam rangka melakukan penyederhanaan dan penertiban organisasi.
3. Menyusun berbagai prosedur kerja yang standar (standard operating procedure – SOP) dalam
berbagai bidang pekerjaan sehingga organisasi pemda mempunyai pedoman tetap sebagai acuan kerja para pegawai, sehingga kegiatannya tidak tergantung pada seorang pejabat. Adanya SOP memungkinkan berlangsungnya sistem kerja yang mantap walaupun pejabat berganti.
4. Mengembangkan sistem jaringan kerja (network) yang baik di dalam organisasi atau antar
organisasi pemda dengan institusi lain dengan landasan informal relations sehingga mendorong berkembangnya mekanisme kerjasama yang bersifat saling menguntungkan (mutual adjustment) serta dapat memperlancar arus pekerjaan.
5. Mengembangkan sistem kader pimpinan yang baik sedini mungkin untuk menempati jabatan
atau posisi penting dalam organisasi pemda. Posisikunci yang akan ditempati tersebut harus
dilaksanakan berdasarkan sistem prestasi kerja, diikuti dengan pengakuan, dan penghargaan
bagi yang berprestasi dan menindak bagi yang melanggar atau melakuan penyimpangan.
6. Mengembangkan keterbukaan dan meningkatkan peran

Tulisan di atas merupakan cuplikan dari naskah laporan penelitian
berjudul “ORGANISASI PEMERINTAH DAERAH: MEWUJUDKAN TATA PAMONG YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE ) karya Darmanto jika anda ingin memiliki file selengkapnya silakan klik berikut
Download DI SINI

Melatih Tanggung Jawab;>>>> Baca

Pendekatan kuantitatif;>>>> Baca

Komunikasi Interpersonal;>>>> Baca

Contoh Judul Skripsi bagian 3;>>>> Baca

Metodologi Analisis Kesalahan Berbahasa;>>>>>>>>> Baca buka semua

Interaksi Sosial Antara Guru dengan Murid dalam Kegiatan Kurikuler dan Kaitannya dengan Peningkatan Prestasi Belajar

Interaksi Sosial Antara Guru dengan Murid dalam Kegiatan Kurikuler dan Kaitannya dengan Peningkatan Prestasi Belajar

Oleh Sudjarwo
Pendahuluan
Semenjak manusia dilahirkan akan tumbuh dan berkembang dengan melalui interaksi sosial yang mereka kembangkan. Oleh sebab itu banyak ahli sosiologi mengatakan bahwa inti proses sosial ada pada interaksi sosial. Pada saat itu pula secara berangsur-angsur mulai tumbuh pengenalan akan norma. Norma tersebut antara lain adalah norma sosial, norma keluarga, norma agama (Judistira Ghrama, 1991:4). Norma-norma tadi sebenarnya dapat digeneralisasikan hampir sama pada setiap masyarakat manusia. Hanya yang membedakan adalah nilai-nilai yang melekat.
Pada norma tersebut (Soedjatmoko, 1973:30). Pokok utama pengenalan norma tadi kebanyakan melalui inteaksi sosial. Sebagao contoh kongkrit tentang norma; seseorang dapat dikategorikan berhasil dalam pendidikan formal apabila telah memenuhi tuntutan norma yang melekat. Norma tersebut antara lain lulus ujian pada tingkat tertentu, atau pada jenjang pendidikkan tertentu yang dituntutnya. Norma ini juga akan mengiring seseorang pada tataran/jenjang tertentu dalam proses pendidikan.
Norma pendidikan serupa ini ditegaskan oleh Harahap (1979:17) bahwa norma itu merupakan kriteria atau ukuran tentang sesuatu untuk menentukan sesuatu itu buruk, baik, gagal atau berhasil. Kaitannya dengan dengan tugas guru, berarti guru yang juga bertugas memberikan penilaian, ini berarti juga menerapkan norma pada sesuatu. Sesuatu tadi diantarnya proses hasil belajar. uraian tersebut jika didefenisikan secara padat itulah disebut prestasi belajar. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa prestasi belajar siswa merupakan hasil akhir dari suatu rangkaian proses kegiatan yang merupakan interaksi sejumlah komponen Belajar-Mengajar dengan diri siswa. Kemudian dihubungkan dengan norma tertentu yang distandardisir serta terukur.
Adapun yang termasuk dalam komponen Belajar-Mengajar dari pihak guru ialah, intensitas guru memberikan pelajaran, cara atau metoda mengajar, bimbingan yang diberikan guru sehingga terjadi proses pemahaman dalam belajar. Surahmad (1973:162) lebih jauh menjelaskan bahwa pemahaman belajar itu akan terbentuk apabila:
(1) belajar terjadi dalam kondisi yang berarti secara individual !
(2) adanya interaksi sosial yang intens antara guru dengan murid!
(3) hasil pelajaran adalah kebulatan tingkah laku,
(4) siswa menghadapi secara pribadi,
(5) belajar adalah mengalami.
Berkaitan dengan point dua di atas maka keputusan pemerintah untuk mengembangkan konsep kokurikuler dalam kegiatan Proses Belajar-Mengajar adalah suatu yang tepat. Sebab interaksi sosial paling dimungkinkan dalam rangka pengembangan tugas-tugas kokurikuler. Adapun pengertian kokurikuler sendiri diartikan sebagai kegiatan diluar jam pelajaran biasa yang bertujuan agar siswa lebih mendalami dan menghayati apa yang dipelajarinya pada kegiatan intrakurikuler baik program inti maupun program khusus (Team Penyusun Instruksional Dirjen Dikdasmen, 1985:1). Dengan kegiatan kokurikuler ini akan terjalin interaksi sosial antara guru dan murid, sehingga terbentuklah suasana belajar yang kondusif.
Lebih lanjut dalam petunjuk teknis dijelaskan bahwa kegiatan kokurikuler hendaknya dilaksanakan secara perorangan atau kelompok berupa penugasan yang menjadi pemasangan penugasan tatap muka. Oleh sebab peran interaksi sosial antara guru dengan murid untuk mengembangkan tugas-tugas kokurikuler menjadi begitu penting. Ini dapat dilihat dari porsi waktu yang diberikan untuk kegiatan kokurikuler, seperti yang tertuang dalam Juknis Dikdasmen (1985:3) bahwa banyaknya waktu kegiatan kokurikuler adalah stengah kali kegiatan tatap muka perminggu. Jika guru mampu memanfaatkan pola-pola hubungan interksional dengan muridnya melalui media kokurikuler ini, maka tidak mustahil wibawa guru akan terbentuk. Kewibawaan ini muncul karena murid mengalami sendiri peran bimbingan guru. Kewibawaan sendiri dalam proses belajar-mengajar adalah sesuatu yang diperlukan.
Interaksi Sosial
Peluang seperti ini jika dilihat secara mendalam dengan menggunakan kacamata teori fiducary yang dikemukakan oleh Tallcot Parsons (1978:12), ternyata bahwa medan interaksi sosial dapat membangun kedekatan jarak ini akan membuahkan tingkat keintiman antara pelaku sosial. Dengan keadaan demikian ini berakibat pada sikap saling terbuka untuk saling memahami, saling menghayati antara satu dengan yang lain. Munculnya pemahaman ini karena munculnya empaty antara guru dengan muridnya. Empaty yang dikemukankan mampu merasakan yang orang lain rasakan, adalah suatu tataran tingkat tinggi dari proses sosial melalui interaksi sosial.
lebih jauh teori fiducary menggambar bahwa pada saat orang berinteraksi jika digambarkan akan diperoleh gambaran sebagai berikut



Individu A berinteraksi dengan individu B akan membentuk bangun medan fiducary (C). Semakin inten pergaulan antara A dan B akan semakin melebar medan fiducary. Walaupun tidak mungkin secara signifikan penuh membentuk medan tersebut.
Pada medan fiducary itu dinamika interaksi sosial berlangsung. Oleh sebab itu Soekamto (1990:67) mengatakan proses sosial. Lebih lanjut dijelaskan muatan yang ada dalam medan fiducary ini ialah adanya proses imitasi, sugesti, identifikasi, simpati. Muatan tersebut bisa berjalan sendiri-sendiri atau secara bersamaan. Asalkan dua syarat harus dipenuhi yaitu, (1) adanya kontak sosial yang terus menerus dan, (2) ada komunikasi yang terus menerus. Kegiatan belajar-Mengajar antara guru dengan siswanya merupakan salah satu bentuk kontak sosial yang terus menerus. Kontak sosial ini akan terus terbangun jika komunikasi yang mereka kembangkan juga akan berlangsung secara terus menerus. Kontak sosial yang hanya dibangun pada saat kegiatan kurikuler, belum begitu cukup untuk membentuk medan fiducary yang bermakna dalam pendidikan. Melalui kegiatan kokurikuler, diharapkan akan menambah frekuensi dan makna interaksi sosial, sehingga proses pendidikan untuk menuju kekedewasaan yang mandiri akan segera tercapai.
Pembahasan
Seperti telah disinggung bahwa proses pendidikan berlangsung bahwa proses pendidikan berlangsung atas dasar proses kontak sosial yang berjalan terus menerus juga komunikasi yang terus menerus. Pada proses ini berlangsung transfer ilmu pengetahuan, perilaku, dan sikap sosial. Wujud nyatanya secara sosiologis dapat berawal dari simpati sugesti, identifikasi dan imitasi.
Pendidikan formal yang berlangsung secara non formal melalui kegiatan kokurikuler, akan mempermudah terbentuknya kontak sosial yang menciptakan medan fiducary, dengan seluruh muatannya. Akibat lanjut proses pendidikan akan berjalan menjadi akan berjalan menjadi begitu alami. Keadaan ini akan menjadi semakin baik lagi manakala guru tetap pada koridor gezah. Oleh Langeveld (Mustopa, Achyat, 1978:12) di jelaskan bahwa gezah-lah yang membedakan pergaulan biasa dengan pergaulan pendidikan pergaulan yang bermuatan gezah ini pergaulan yang penuh tanggung jawab antara guru dan murid. Prosesnya penuh dengan muatan pembentukan watak dan kepribadian.
Kepatuhan murid terhadap guru bukan kepatuhan karena takut, akan tetapi kepatuhan karena keprofesionalan guru. Hubungan keprofesionalan ini begitu kental manakala guru mampu menunjukkan dan membimbing muridnya kepada langkah-langkah pendidikan yang telah diprogramkan. Sekaligus dalam hal ini guru menjadi pengasuh agar murid mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perjalanan kodrat manusianya.
Hubungan sosial demikian sangat diperlukan pada dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang penuh muatan interaksi sosial, menjadi sangat positif apabila ada keseimbangan dalam pola hubungan. Pola keseimbangan dimaksud adalah pola hubungan timbal balik yang berlaku dua arah, dalam arti pada posisi tertentu murid dapat bermitra dengan gurunya. Kemitraan dimaksud dalam rangka proses pendidikan. Kemitraan guru dan murid ini dalam pendidikan diwadahi dalam kegiatan kokurikuler.
Hasil penelitian yang dilakukan khusus mengenai kegiatan kokurikuler pada mata pelajaran Bahasa Inggris di SLTP (Sudjarwo, 1993), menunjukan bahwa siswa yang memiliki frekuensi tinggi berhubungan dengan gurunya, memiliki kesempatan yang banyak untuk mempraktekkan bahasa yang dipelajarinya. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan interaksi sosial dengan guru akan mengakibatkan berpeluang besar untuk membesarkan medan fiducary.
Atas dasar itu, maka proses interaksi sosial yang bermuatan pendidikan akan terjadi dengan munculnya proses sosialisasi. Termasuk dalam proses ini meliputi antara lain;
a. Kerjasama
Kerjasama yang diberi makna oleh Soekamto (1990:79) sebagai suatu usaha bersama antara perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.
Kondisi ini jika dilihat di dunia pendidikan,maka kegiatan kokurikuler merupakan media untuk membangun hubungan kerja sama antara guru dengan murid dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
b. Akomodasi.
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti ( Soekamto,1990:82 ) yaitu untuk menunjukkan pada suatu keadaan, dan menunjukan pada suatu proses. Akomodasi yang menunjukan pada suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara para pelaku interaksi dengan nilai-nilai sosial atau norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Akomodasi sebagai suatu proses menunjukan pada usaha-usaha pelaku interaksi untuk meredakan sutu pertentangan karena ketidak sepahaman,guna mencapai suatu kestabilan.
Akomodasi pada paparan ini lebih mengacu kepada akomodasi dalam bentuk proses. Melalui kegiatan kokurikuler diharapkan terbentuk saling pengertian antar guru dengan murid sesuai dengan posisi masing-masig.Pertentangan karena ketidak tahuan keadaan diri pada masing-masing pelaku interaksi. Dapat terjembatani oleh karena adanya kegiatan kokurikuler antara guru dengan murid.
DEngan demikian kegiatan kokurikuler sbenarnya memiliki nilai positif jika dilihat dari aspek proses Belajar- Mengajar.Karena mendudukan guru dan murid pada gari sejajar.
Maksudnya adalah proses belajar-mengajar adalah proses mengorganisir lingkungan kemudian menghubungkannya dengan nak didik sehingga terjadi proses belajar.Proses mengorganisir lingkungan kemudian menghubungkannya dengan murid adalah pekerjaan pendidikan yang cukup sulit.
Guru dituntut untuk selalu jeli dalam rangkamempilah,lingkungan yang bagaimana yang harus diciptakan sehingga kemudian akan menjadikan proses pendidikan berlangsung.Proses penciptaan lingkungan sendiri sudah harus dikaitkan dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. Kedua hal tersebut tidak dapat diabaikan atau ditinggalkan sama sekali.Mengelola keduanya untuk dapat dikaitkan dengan murid sehingga terjadi proses sosialisasi nilai.
Proses sosialisasi nilai-nilai edukatif akan sangat besar peluangnya untuk terjadi jika dilaksanakan dengan pola kokurikuler.Oleh sebab itu kegiatan kokurikuler sangat menunjang untuk dapat menjadikan program pengairan diterima oleh murid.
Dengan demikian itu wujud pengorganisiran lingkungan menjadi bermakna secarasosiologis apabila ada manfaat yang dapat diambi oleh siswa.Manfaat tersebut untukjangka panjang akan membawa murid mencapai kedewasaan yang mandiri.
Kesimpulan
Kegiatan kokurikuler yang dikembangkan untuk proses belajar, adalah suatu yang sangat tepat jika diterapkan secara terprogram. Aktivitas kokurikuler akan berhasil dengan baik manakal guru mampu memprogram kegiatan kokurikuler dengan cara mengoptimalkan potensi yang dimilikioleh siswa. Potensi tersebut meliputi; keinginan untuk berhubungan dengan orang lain,mengaktualisasikan dirinya dengan dunia ,melalui bimbingan guru.
Dengan melaksanakan kegiatan kokurikuler tersebut pekerjaan guru menjadi semakin berat.Diakui bahwa mendesain kegiatan kokurikuler memerlukanpelatihan dan kesiapan yang tidak mudah. Namun demikian jika sistem ini diterapkan sekalipun minimal, maka akan dapat dirasakan dampaknya terhadap kemajuan belajar para murid.

Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 1990. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bina Aksara. Jakarta.
Mustofa, Achyat. 1978. Pembinaan dan Pembangunan Kurikulum. Arixon. Palembang.
Harahap, Nasrun. 1979. Evaluasi Pendidikan. Maarif. Surabaya.
Judistira Gharna. 1991. Perubahan Sosial. Pascasarjana Unpad. Bandung
Soedjatmoko. 1984. Dimensi Manusia Dalam Pembangunan. PK3ES Jakarta.
Soerjono Soekamto. 1990. Pengantar Sosiologi. Rajawali Press. Jakarta
Surakhmad, Winarno. 1974. Dasar dan teknik Interaksi Mengajar Belajar. Tarsito. Bandung.
Sudjarwo. 1997. Bahasa Inggris dan Kokurikuler. Lemlit,\. Unila
Tallcot Parsons. 1978. Sociology. Alfred A Knof. New York.
Tim Dirjen Pendidikan Dasa dan Menengah Umum. 1985. Tujuan Instruksional. jakarta.

Struktur Pasar Oligopoli;>>>> Baca

Analisis Kesalahan Diksi pada Karangan Siswa Bab 1;>>>> Baca

Disonansi Moral Anak Jaman Sekarang;>>>> Baca

KONSEP-KONSEP POKOK DALAM PENELITIAN POLLING;>>>> Baca

CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA;>>>>>>>>> Baca buka semua

Novel Kubah Karya A. Thohari


Novel Kubah Karya Ahmad Thohari

Dia tampak amat canggung dan gamang. Gerak-geriknya serba kikuk sehingga mengundang rasa kasihan. Kepada Komandan, Karman membungkuk berlebihan. Kemudian dia mundur beberapa langkah, lalu berbalik. Kertas-kertas itu dipegangnya dengan hati-hati, tetapi tangannya bergetar. Karman merasa yakin seluruh dirinya ikut terlipat bersama surat-surat tanda pembebasannya itu. Bahkan pada saat itu Karman merasa totalitas dirinya tidak semahal apa yang kini berada dalam genggamannya. Sampai di dekat pintu keluar, Karman kembali gagap dan tertegun. Menoleh ke kiri dan kanan seakan ia merasa sedang ditonton oleh seribu pasang mata. Akhirnya, dengan kaki gemetar ia melangkah menuruni tangga gedung Markas Komando Distrik Militer itu. Terik matahari langsung menyiram tubuhnya begitu Karman mencapai tempat terbuka di halaman gedung. Panas. Rumput dan tanaman hias yang tak terawat tampak kusam dan layu. Banyak daun dan rantingnya yang kering dan mati. Debu mengepul mengikuti langkah-langkah lelaki yang baru datang dari Pulau B itu. Dari jauh Karman melihat lapisan aspal jalan raya memantulkan fatamorgana.
Atap seng gedung olahraga di seberang jalan itu berbinar karena terpanggang panas matahari. Karena kegamangan belum sepenuhnya hilang, Karman berhenti di dekat tonggak pintu halaman. Tubuhnya terpayungi oleh bayang pohon waru yang daundaunnya putih karena debu. Karman makin terpana. Dua belas tahun yang lalu suasana tak seramai itu. Mobil-mobil, sepeda motor, dan kendaraan lain saling berlari serabutan. Anak-anak sekolah membentuk kelompok-kelompok di atas sepeda masing-masing. Mereka bergurau sambil mengayuh sepeda. Dan semua bersepatu serta berpakaian baik, sangat berbeda dengan keadaan ketika Karman belum terbuang selama dua belas tahun di Pulau B.
Karman masih terpaku di tempatnya. Kedua matanya disipitkan. Dilihatnya banyak gedung baru bermunculan. Gedung-gedung lama dipugar atau diganti sama sekali. Oh, kota kabupaten ini benar-benar sudah berubah, pikirnya. Dan anehnya perubahan yang tampak merata di depan mata itu membuat Karman merasa makin terasing. Sangat jelas terasakan ada garis pemisah yang tajam antara dirinya dengan alam sekitar. Ia merasa tidak menjadi bagian dari bumi dan lingkungan yang sedang dipijaknya. Karman merasa dirinya begitu kecil; bukan apa-apa. Semut pun bukan.
“Ya, tentu saja. Aku kan hanya seorang bekas Tapol, tahanan politik!” begitu Karman
berkali-kali meyakinkan dirinya. Lelaki itu masih belum mampu beringsut dari bawah bayangan pohon waru. Ia tidak sadar, Komandan Kodim memperhatikarmya dari dalam gedung. Pak Komandan menduga ada sesuatu yang menyebabkan lelaki itu tidak bisa segera meneruskan perjalanan ke kampungnya. Padahal surat-surat resmi sebagai bekalnya kembali ke tengah masyarakat sudah cukup. Sudah lengkap. Pak Komandan tahu pasti. Maka perwira itu menggapai ajudannya.
“Temui orang yang baru tiba dari Pulau B itu. Dia masih berdiri di pintu halaman.
Suruh dia cepat meneruskan perjalanan. Atau berilah dia dua ratus rupiah, barangkali
ia kehabisan bekal.”
“Siap!” Ajudan keluar, langsung melangkah ke arah Karman yang masih berdiri, bingung karena tak yakin apa yang sebaiknya dia lakukan. Kesadaran Karman benar-benar sedang berada di luar dirinya. Maka ia tak mendengar suara langkah sepatu tentara yang sedang mendekat. Ketika ajudan yang berpangkat sersan itu menepuk pundaknya, Karman terkejut. Darah langsung lenyap dari wajahnya. Sikap santun Pak Sersan tak mampu menepis rasa takut yang mendadak mencengkeram hati Karman.
“Atas perintah Komandan, saya menemui Anda. Surat-surat pembebasan Anda
sudah lengkap. Kata Komandan, sebaiknya Anda segera meneruskan perjalanan.
Apabila uang jalan sudah habis, Komandan memberikan ini untuk Anda.”
Karman sedikit pun tidak memperhatikan lembaran uang yang ditawarkan oleh sersan itu. Ia masih tercengang. “Oh, untunglah Komandan bukan memanggilku untuk diperiksa kembali,” pikir Karman. Bibirnya gemetar. Setelah detak jantungnya mereda, Karman berkata tergagap.
“Oh. Terima kasih. Anu. Baik. Baiklah. Saya akan meneruskan perjalanan. Terima
kasih. Uang jalan saya masih ada.”
Dengan cara menekuk punggung dalam-dalam, Karman memberi hormat kepada Pak Sersan. Kemudian ia memutar tubuhnya dan berjalan beberapa langkah sampai ke gili-gili. Dan berhenti. Termangu. Lalu-lintas di hadapannya terlalu sibuk dan asing baginya. Namun ia harus menyeberang.
Dari depan gedung Kodim, Karman berjalan ke barat mengikuti iring-iringan orang banyak. Karman, meski ukuran tubuhnya tidak kecil, saat itu merasa menjadi rayap yang berjalan di antara barisan lembu. Ia selalu merasa dirinya tak berarti,
bahkan tiada. Demikian, pada hari pertama dinyatakan menjadi orang bebas, Karman
malah merasa dirinya tak berarti apa-apa, hina-dina. Waktu berjalan ke barat sepanjang gili-gili itu Karman sebenarnya amat tersiksa. Tatapan mata sekilas orangorang yang kebetulan berpapasan terasa sangat menyiksa. Oh, andaikan ada secuil tempat untuk bersembunyi, mungkin Karman akan menyelinap ke sana. Karman akan menyembunyikan diri karena pembebasan dirinya belum mampu mengembalikan dia dari keterasingan. Dan tak lama kemudian lelaki berusia 42 tahun itu mendapatkan apa yang diinginkannya, sebuah tempat yang enak untuk duduk, di bawah pohon beringin
alun-alun Kabupaten.
Sudah beberapa saat lamanya matahari memasuki langit belahan barat. Di sebuah sudut jalan, seorang penjaja rokok terkantuk-kantuk, punggungnya tersandar pada dinding gardu listrik. Dua orang tukang becak bahkan sedang meringkuk lelap di atas jok kendaraan masing-masing. Dan yang sedang duduk menghitung uang recehan adalah seorang lelaki penjual makanan kecil. Bunyi kericik uang aluminium mungkin terdengar bagai suara gambang di mata lelaki itu. Merdu dan penuh arti.
Dari dalam kerimbunan beringin terdengar kicau burung-burung. Ria dan gembira. Unggas-unggas kecil itu meluruhkan buah beringin. Di atas tanah, ratusan butir buah beringin jatuh dan pecah berserakan.
Karman duduk di atas sebuah tonjolan akar. Di sampingnya ada gulungan kertas yang berisi kain sarung, dan masing-masing selembar baju dan celana tua. Itulah semua hartanya yang ia bawa kembali dari Pulau B. Angin bergerak ke utara menggoyangkan daun-daun tanaman hias di halaman Kabupaten. Seorang perempuan muda berjalan dan melintas di hadapan Karman. Alisnya, matanya, sangat mengesankan. Oh, tungkainya enak dipandang. Dan bibirnya. Bibir seperti itu gampang mengundang gairah lelaki. “Mungkin dia seorang guru sekolah,” piker Karman yang merasa jantungnya berdebar lebih keras. “Bila guru secantik itu, setiap murid lelaki akan betah tinggal di kelas.” Oh, Karman tersenyum. Dan kaget sendiri ketika menyadari kelelakiannya ternyata masih tersisa pada dirinya.
Keramaian kota sedang surut. Beringin besar di pojok alun-alun itu seakan memayungi wilayah kecil yang sepi dan sejuk. Maka siapa pun yang berada di sana bisa duduk terkantuk atau bahkan lelap dalam mimpin. Tetapi Karman tidak.
Karman sama sekali tidak terpengaruh oleh kesejukan di pojok alun-alun itu dan pikirannya sudah lebih dulu melayang sampai ke kampungnya, tiga puluh kilometer dari tempat di mana kini ia duduk. Boleh jadi Pegaten, kampung halamannya, juga sudah banyak berubah. Boleh jadi semuanya menjadi bertambah baik di sana. Tetapi Karman tidak tertarik untuk memikirkannya. Yang sedang menguasai seluruh lamunan Karman adalah Parta, seorang teman sekampung. Tujuh tahun yang lalu, ketika Karman masih menjadi penghuni pulau buangan, Parta menceraikan istrinya dan kemudian mengawini Marni. Meskipun sudah punya tiga anak, Marni memang lebih cantik daripada istri Parta yangdiceraikan. Hal ini tidak akan dibantah oleh siapa pun di Pegaten, tidak juga oleh Karman. Juga, semua orang percaya bahwa kecantikan Marni adalah sebab utama mengapa Parta sampai hati melepas istri pertamanya…..
Tulisan di atas cuplikan dari Novel Kubah karya Ahmad Thohari untuk membaca selengkapnya silakan download klik berikut
Download Tulisan Lengkap Novel KUBAH

Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar;>>>> Baca

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar;>>>> Baca

Kumpulan Link Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca buka semua

Sosok Guru yang Profesional

Sosok Guru yang Profesional
Oleh I G. A. K. Wardanti
Pada hakikatnya, pekerjaan guru dianggap sebagai pekerjaan yang mulia, yang sangat berperan dalam pengembangan sumber daya manusia. Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka perlu ditekankan bahwa yang layak menjadi guru adalah orang-orang pilihan yang mampu menjadi panutan bagi anak didiknya. Hal ini sesuai dengan hakikat pekerjaan guru sebagai pekerjaan profesional, yang menurut Darling-Hamond & Goodwin (1993) paling tidak mempunyai tiga ciri utama. Ketiga ciri tersebut adalah: (1) penerapan ilmu dalam pelaksanaan pekerjaan didasarkan pada kepentingan individu pada setiap kasus, (2) mempunyai mekanisme internal yang terstruktur, yang mengatur rekrutmen, pelatihan, pemberian lisensi (ijin kerja), dan ukuran standar untuk praktik yang ethis dan memadai; serta (3) mengemban tanggung jawab utama terhadap kebutuhan kliennya.
Di samping ketiga ciri pekerjaan profesional yang telah diungkapkan di atas, perlu dicatat bahwa keprofesionalan seseorang bukan merupakan dikotomi, tetapi merupakan satu rentangan atau kontinum, mulai dari pemula (novice) sampai kepada pakar (expert). Sejalan dengan konsep ini, seorang guru meniti karir dari entry ke mentor sampai ke master teacher (Riel, 1998). Dikaitkan dengan surat keputusan Menpan no. 26/1989, guru dapat meniti karir mulai dari -guru pratama sampai kepada guru utama. Dari segi penyiapan guru, program pendidikan guru, sebagaimana. halnya suatu profesi, memerlukan waktu. yang relatif lama dalam jenjang perguruan tinggi (Tilaar, 1995), yang paling tidak harus sama dengan program penyiapan profesi lain seperti sekolah kedokteran. Program tersebut haruslah memberikan kesempatan kepada calon guru untuk menimba pendidikan umum yang menantang, mendalami pengetahuan bidang studi yang mendasari praktik, menghayati latihan yang efektif untuk memangku jabatan, serta mengembangkan wawasan/filosofi profesinya (Brameld, Th., 1965).
Profesionalisme ditandai oleh dua pilar penyangga utama, yaitu layanan ahli yang aman yang menjamin kemaslahatan klien, serta pengakuan dan penghargaan dari masyarakat (Raka Joni, 1989; Konsorsium Ilmu Pendidikan, 1993). Pilar yang pertama, yaitu layanan ahli, harus mampu ditunjukkan secara meyakinkan dengan berpegang pada kode etik profesi (Tilaar, 1995) sehingga masyarakat merasa aman menerima layanan tersebut. Di pihak lain, pengakuan dan penghargaan masyarakat terhadap layanan ahli yang diberikan akan memperkokoh kehandalan profesi tersebut. Oleh karena itu, terdapat hubungan timbal balik antara kehandalan layanan dengan pengakuan dan penghargaan masyarakat. Makin handal layanan ahli yang diberikan dan makin tinggi rasa aman yang dirasakan penerima layanan, makin tinggi pula penghargaan dan pengakuan dari masyarakat. Selanjutnya patut pula dicatat bahwa layanan ahli yang diberikan haruslah didasarkan pada bidang ilmu yang diakui sebagai landasan profesi tersebut karena profesionalisme mulai dengan preposisi: knowledge must inform practice (Darling-Harmmond & Goodwin, 1993).
Dengan mengacu kepada ciri-ciri pekerjaan profesional yang digambarkan di atas, maka dapat dipahami bahwa. seorang guru yang profesional bukanlah seorang tehnisi atau seorang tukang yang hanya menunggu perintah dari mandorya. Seorang guru yang profesional seyogyanya mampu mengambil keputusan serta membuat rencana yang disesuaikan dengan kondisi siswa, situasi, wawasannya sendiri, nilai, serta komitmennya (Zumwalt, 1989). Dengan perkataan lain, seorang guru yang profesional harus mampu mengambil keputusan situasional dan transaksional (Raka. Joni, 1989). Keputusan situasional diambil oleh guru ketika merencanakan pembelajaran, sedangkan keputusan transaksional diambil guru ketika melaksanakan pembelajaran. Dengan demikian, seorang guru yang profesional tidak akan pernah menganggap bahwa rencana pembelajaran yang disusunnya dapat digunakan seumur hidup. Ia selalu harus mampu membaca situasi (seperti karakteristik siswa, ruang, waktu, sarana/fasilitas, perkembangan dalam dunia pembelajaran) dan kemudian menyesuaikan rencananya dengan situasi yang akan dihadapi. Ia harus mampu memutuskan sumber dan media belajar apa yang akan digunakan, demikian pula strategi pembelajaran serta evaluasi yang akan dia terapkan. Ketika pembelajaran atau transaksi sedang berlangsung, kembali ia harus mampu membaca situasi dan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. Selanjutnya, setelah pembelajaran berlangsung, guru harus mampu melakukan refleksi/analisis terhadap apa yang telah terjadi di dalam kelas dan apa yang telah dicapai oleh siswa. Akhirnya, guru harus mampu memanfaatkan hasil refleksi/analisis ini untuk memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran berikutnya.
Dari segi pengakuan serta penghargaan masyarakat dan pemerintah, keputusan Menpan No. 26/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru merupakan pengukuhan jabatan guru sebagai jabatan fungsional/profesional, yang mempunyai tugas, wewenang, dan tanggung jawab melaksanakan pendidikan di sekolah. Bidang pekerjaan guru dibagi menjadi empat kelompok, yakni pendidikan, proses belajar-mengajar atau bimbingan dan penyuluhan, pengembangan profesi, dan penunjang proses belajar mengajar atau bimbingan dan penyuluhan.
Bagaimana sosok guru pada abad 21? Secara sederhana pertanyaan ini mungkin akan dijawab dengan enteng: guru pada abad 21 sama saja dengan guru sekarang. Sepintas lalu, jawaban ini ada benarnya karena perbedaan pada tuntutan kemampuan guru pada umumnya sukar ditandai secara jelas, lebih-lebih jika yang dimaksud abad 21 adalah tahun 2000 atau 2001. Namun, perlu diingat satu abad adalah 100 tahun, satu kurun waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu, perlu dipikirkan/direnungkan dari sekarang kira-kira bagaimana sosok atau profil guru abad 21. Renungan ini tentu harus didasarkan pada ciri-ciri abad 21 atau kecenderungan yang perlu diantisipasi dari sekarang.
Secara garis besar, abad 21 ditandai oleh arus globalisasi, yang membuat segala sesuatu akan menjadi mendunia. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat menyebabkan setiap orang yang mempunyai akses kepada informasi akan mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia lain. Sejalan dengan itu, kemajuan teknologi yang bergemuruh akan menyebabkan sebagian besar tenaga manusia digantikan oleh mesin, yang menurut Toffler (1992) akan lebih banyak melakukan tugas rutin; sementara manusia akan lebih banyak bergelut dengan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan kreatif. Perdagangan bebas yang menandai abad 21 membuat persaingan menjadi semakin ketat. Berbarengan dengan itu, berbagai usaha yang mengarah kepada penghancuran nilai-nilai/harkat manusia seperti penggunaan obat-obat terlarang, penyelundupan narkotika dan sejenisnya, kenakalan remaja, serta pencemaran lingkungan juga diperkirakan akan meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Dengan demikian, perubahan besar-besaran akan dan selalu terjadi, sehingga Toffler (1992) menyebut masa depan ,tersebut sebagai satu kejutan (future shock) terutama bagi orang orang yang sukar berubah. Secara singkat, abad mendatang akan ditandai oleh perubahan secara terus menerus yang terjadi di segala bidang. Untuk menghadapi tantangan seperti ini diperlukan manusia yang mampu menilai situasi secara kritis serta mampu mencari jalan sendiri dalam lingkungan baru, di samping mampu menemukan hubungan baru yang mungkin terjadi dalam kenyataan yang sedang berubah dengan cepat (Toffler, 1992).
Berkaitan dengan ciri-ciri/tantangan di atas, dunia pendidikan juga harus mampu melakukan berbagai perubahan. Orientasi pendidikan Tidak lagi hanya ke masa lampau atau masa kini, tetapi lebih terfokus ke masa depan karena individu masa depan akan menghadapi perubahan yang lebih cepat lagi daripada sekarang. Oleh karena itu, sasaran utama pendidikan haruslah diletakkan pada peningkatan cope-ability (kemampuan menanggulangi) setiap individu yang dibarengi dengan peningkatan kecepatan dan efisiensi dalam adaptasinya terhadap perubahan yang terjadi secara terus menerus sebagaimana yang diisyaratkan oleh Toffler (1992). Artinya, agar mampu bertahan hidup (survive), setiap orang harus secara cepat dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Agar peningkatan kemampuan ini dapat berlangsung, setiap individu juga harus mampu membuat asumsi, prediksi, atau ramalan tentang perubahan yang akan terjadi. Tentu saja kemampuan membuat asumsi, prediksi, atau ramalan tersebut didasarkan pada. pengalaman/pengetahuan masa lalu dan masa kini. Oleh karena itu, semestinya orientasi baru ini tidak mengabaikan masa lalu dan masa sekarang; sebaliknya, kedua masa tersebut merupakan acuan yang berharga dalam mempersiapkan individu masa depan.
Sehubungan dengan perubahan orientasi pendidikan yang berfokus ke masa depan, struktur persekolahan juga perlu dipertanyakan kembali. Apakah setiap orang harus menempuh pendidikan formal lewat sekolah ataukah lebih bijaksana jika pendidikan sekolah hanya diperuntukkan bagi mereka yang memerlukan saja, khususnya untuk bidang-bidang yang tidak dapat dipelajari sendiri? Jika pun sekolah masih tetap dianggap sebagai pusat pendidikan, berbagai perubahan juga harus dilakukan. Siswa harus diberi kesempatan untuk berperan lebih aktif, baik dalam bentuk simulasi, eksplorasi, atau kesempatan untuk menghayati/belajar dari kehidupan nyata, sehingga terbuka peluang baginya untuk berlatih membuat prediksi dan menanggulangi satu situasi. Metode ceramah harus, dikurangi, diimbangi dengan metode lain, yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berperan lebih aktif, seperti seminar dan pengahayatan pengalaman yang direncanakan. Hal ini sesuai dengan paradigma baru dunia pendidikan yang menekankan pada pendekatan yang berorientasi pada siswa (student oriented approach), bukan pendekatan yang berfokus pada guru (Brodjonegoro, 1999). Dengan demikian, fokus kegiatan pembelajaran adalah siswa, bukan guru.
Untuk mengantisipasi kecenderungan dan orientasi pendidikan seperti diuraikan di atas, seorang guru seyogyanya memenuhi berbagai persyaratan, dengan asumsi bahwa pendidikan pada abad 21 masih akan berlangsung di sekolah. Hal ini perlu ditegaskan karena bertitik tolak dari kecenderungan masa depan yang diuraikan oleh Toffler, sekolah sebagai tempat pendidikan masih dipertanyakan. Dengan demikian, dalam renungan ini, uraian tentang profil guru masa depan masih dilandasi oleh asumsi bahwa sekolah masih merupakan salah satu pusat berlangsungnya pendidikan. Sehubungan dengan itu, sosok atau profil guru abad 21 kurang lebih dapat digambarkan sebagai berkut.
Secara umum, sebagaimana diungkapkan oleh Tilaar (1995), pada masa Pembangunan Jangka Panjang (PJP) II, masyarakat tidak dapat lagi menerima guru yang tidak profesional. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Unesco, yang ditekankan pada tiga tuntutan yaitu: (1) guru harus dianggap sebagai pekerja profesional yang memberi layanan kepada masyarakat, (2) guru dipersyaratkan menguasai ilmu dan keterampilan spesialis, serta (3) ilmu dan keterampilan tersebut diperoleh dari pendidikan yang mendalam dan berkelanjutan (Tilaar, 1995). Bertitik tolak dari rekomendasi tersebut serta profil guru pada saat ini, seyogyanya guru pada abad 21 benar-benar merupakan guru yang profesional, agar mampu menghadapi tantangan abad 21. Untuk itu, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial seorang guru perlu dikembangkan sehingga mampu mendidik siswa yang mempunyai kemampuan memprediksi dan menanggulangi. Kompetensi kepribadian menuntut guru agar mampu menjadi panutan bagi siswa dan masyarakat. Manusia yang takwa, berbudi luhur, bersikap kritis, menjunjung tinggi kode etik guru, mampu bekerja sama, menghormati sesama, mengembangkan diri, dan sejumlah ciri-ciri kepribadian lain perlu dimodelkan oleh guru bagi para siswanya. Kemampuan profesional yang terutama berlandaskan pada penguasaan bahan ajaran, pemahaman karakteristik peserta didik, landasan kependidikan, serta belajar dan pembelajaran, ditunjukkan guru ketika merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran, guru dituntut agar mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan karena suasana seperti itu merupakan sugesti positif yang mampu membuat “pemercepatan belajar” atau yang disebut sebagai accelerated learning, yang didefinisikan sebagai hal yang memungkinkan siswa belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, serta dibarengi kegembiraan (De Porter & Hernacki, 1999, hal. 14). Suasana yang nyaman dan menyenangkan merupakan faktor penting yang merangsang fungsi otak yang paling efektif Oleh karena. itu, jika siswa merasa nyaman dan senang dalam belajar, mereka akan terpacu untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis seperti menganalis atau menilai situasi dan mengembangkan berbagai prediksi atau asumsi berdasarkan hasil analisis/penilaian tersebut.Akhirnya, kompetensi sosial harus mampu diperagakan oleh guru ketika melakukan interaksi profesional atau interaksi personal dengan teman sejawat dan masyarakat Ciri-ciri keprofesionalan dalam memberikan layanan ahli yang berpangkal pada kemampuan mengambil keputusan perlu dipertajam. Secara singkat, guru masa depan diharapkan mampu membuat suasana belajar menjadi suasana yang nyaman dan menyenangkan serta mampu memodelkan apa yang diharapkan dari para siswanya, seperti ia sendiri harus mampu menilai situasi secara kritis, memprediksi apa yang akan terjadi, dan kemudian mencoba menanggulangi situasi yang dihadapi.
Di sisi lain, tugas-tugas guru yang bersifat profesional harus ditunjang oleh sistem penghargaan yang membetahkan, sehingga guru mampu memfokuskan diri pada peningkatan kualitas layanan yang diberikan. Hal ini sejalan dengan kriteria pekerjaan profesional yang menyebutkan bahwa guru berhak mendapat imbalan yang layak. Imbalan yang layak bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk penghargaan/rasa segan/hormat masyarakat terhadap guru. Jika penghargaan/imbalan ini masih terabaikan, citra guru profesional tidak akan muncul, yang ada adalah guru siluman- pahlawan tanpa tanda jasa, yang tidak diperhitungkan oleh masyarakat.
Berbagai usaha untuk memberdayakan guru
Untuk mewujudkan profil guru yang diinginkan pada abad mendatang, berbagai usaha perlu dilakukan. Menyimak hasil analisis profil guru pada saat ini (Wardani, 1998), tampaknya ciri-ciri keprofesionalan guru masih belum banyak terwujud. Berbagai hasil penelitian (Jiyono, 1992; Nielson, D., dkk, 1996; Nasoetion, 1996; &Wardani, 1996) menunjukkan bahwa kinerja guru masih belum sesuai dengan harapan, baik dalam hal penguasaan materi ajaran maupun dalam pengelolaan pembelajaran. Proses belajar mengajar yang masih banyak didominasi guru, kurangnya kemampuan dan kesadaran guru untuk memfasilitasi dan menumbuhkan dampak pengiring, menyebabkan siswa lebih banyak bergulat dengan bahan hapalan daripada mempertanyakan, memprediksi, atau memecahkan masalah. Citra guru yang masih rendah menyebabkan pekerjaan sebagai guru bukan merupakan pilihan utama, sehingga yang ingin menjadi guru, sebagian besar bukan putra terbaik bangsa. Kondisi ini didukung oleh sangat rendahnya kesejahteraan guru, sehingga guru tidak mampu memfokuskan perhatian pada tugas-tugasnya karena harus mencari pekerjaan sambilan untuk menghidupi keluarga.
Bertitik tolak dari kondisi tersebut, usaha untuk memberdayakan guru haruslah mencakup dua aspek, yaitu aspek yang terkait dengan kemampuan dan aspek yang terkait dengan kesejahteraan guru. Kedua aspek ini harus mendapat penanganan yang proporsional dan memadai, sebab kalau terjadi ketimpangan, profil guru yang dikehendaki juga tidak mungkin terwujud. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, seperti adanya Pemantapan Kerja Guru (PKG) yang kemudian menjadi Musyawarah Guru Bidang Studi (MGBS), penataran/pelatihan berkala, serta pemberian kesempatan untuk melanjutkan studi, (misalnya yang terjadi secara besar-besaran untuk meningkatkan kualifikasi guru SD dan guru SMP).
Demikian pula upaya untuk meningkatkan kesejahteraan guru telah pernah dilakukan meskipun secara terbatas, misalnya dengan pemberian tunjangan fugsional guru serta pemberian insentif bagi guru daerah terpencil. Namun, tampaknya usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang memadai karena pengamatan lapangan serta hasil-hasil penelitian masih menunjukkan adanya kinerja guru yang di bawah standar dan mutu lulusan SD, SLTP, SLTA yang masih dipertanyakan. Oleh karena itu, haruslah dicari upaya yang mampu mengatasi kelemnahan yang terjadi. Beberapa upaya yang mungkin dilakukan adalah sebagai berikut.
Pertama, memperbaiki sistem rekrutmen calon guru, sehingga dapat dijaring calon guru yang memang benar-benar berminat dan mampu menjadi guru. Dalam hal ini, ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) khusus untuk calon mahasiswa yang ingin menjadi guru harus disertai dengan tes minat dan penampilan. Di samping itu, asal daerah calon guru juga harus dijadikan salah satu pertimbangan dalam penerimaan mahasiswa, sehingga daerah-daerah yang memang memerlukan tambahan guru mendapat prioritas dalam penerimaan calon mahasiswa.
Kedua, meningkatkan kemampuan dan minat membaca guru dan calon guru, dapat dilakukan dengan memberi tugas-tugas membaca yang disertai tagihan yang jelas bagi calon guru dan para guru yang sedang mengikuti pelatihan. Di samping itu, penerbitan jurnal, pengembangan perpustakaan sekolah dengan buku-buku yang mutakhir dan menarik, serta perlombaan menulis bagi para guru perlu digalakkan sehingga guru tertarik untuk membaca. Pengumpulan buku bekas dari para dermawan dapat dilakukan untuk mengisi perpustakaan. Jika minat membaca guru sudah meningkat, diharapkan kemampuannya juga akan meningkat, sehingga berdampak positif bagi penguasaan materi ajaran.

Ketiga, membudayakan diskusi ilmiah bagi para guru dan calon guru. Para calon guru secara berkala diwajibkan untuk melaksanakan diskusi ilmiah/seminar topik-topik yang menarik perhatiannya, terutarna topik-topik yang paling mutakhir yang berkaitan dengan mata kuliah tertentu. Para guru dapat didorong metakukan diskusi ilmiah secara berkala pula, misalnya setiap bulan atau menjelang peristiwa tertentu seperti Hari Pendidikan Nasional, Hari Kemerdekaan, Sumpah Pemuda, dan Hari Anak-anak. Topik diskusi dapat dikaitkan dengan peristiwa yang sedang berlangsung atau topik-topik yang berkaitan dengan pembelajaran/masalah yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugasnya. Dalam kaitan ini, lomba menulis artikel dapat mendukung berlangsungnya diskusi ilmiah, dengan cara meminta pemenang menyajikan artikelnya. Upaya ini akan mempunyai nilai tambah karena, wawasan guru akan berkembang, di samping mereka juga akan mendapat kredit untuk kenaikan jabatan.
Keempat, menyajikan model, baik bagi calon guru maupun bagi para guru. Model merupakan media yang sangat efektif untuk menanamkan. keterampilan serta nilai dan sikap, baik bagi anak-anak maupun bagi orang dewasa. De Porter & Hernacki (1999) juga menyebutkan bahwa model memegang peran penting dalam. pembentukan perilaku dan kepribadian seseorang. Mengelola pembelajaran menuntut berbagai keterampilan yang harus ditampilkan guru ketika mengajar. Namun, sering sekali terjadi guru tidak menguasai keterampilan tersebut karena ketika berada, di bangku pendidikan guru, mereka tidak mendapat latihan yang memadai, di samping mungkin tidak pernah menyaksikan pemodelan keterampilan tersebut. Oleh karena itu, berbagai strategi mengajar yang mampu membuat siswa belajar aktif dan menumbuhkan dampak pengiring di samping dampak instruksional perlu dimodelkan oleh dosen, tutor, dan pelatih/penatar. Selain itu, hubungan kolegial yang akrab, sehat dan saling menghargai akan dapat dikembangkan oleh guru, jika dosen, tutor, dan penatar mampu memodelkannya. Penyajian model hendaknya, disertai dengan latihan yang memadai karena penguasaan keterampilan hanya dapat dilakukan melalui latihan.
Kelima, mendorong guru untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (Action Research), yang sudah mulai digalakkan oleh lembaga pendidikan guru. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tampaknya merupakan sesuatu yang menjanjikan dalam usaha pemberdayaan guru karena merupakan “self reflective inquiry” (Stephen Kemmis, dalam. Hopkins, D., 1993 dan McNiff, J., 1992) yang dilakukan guru di dalam kelas untuk memperbaiki praktik pembelajaran serta meningkatkan pemahaman guru terhadap praktik tersebut. Berbeda dengan praktik pembelajaran sehari-hari yang dilakukan guru, PTK mendorong guru mengenal/menyadari masalah yang dihadapinya, kemudian merencanakan upaya untuk mengatasinya. Upaya tersebut dilakukan secara eksplisit dan sistematis yang mengacu kepada kaidah-kaidah penelitian (Raka Joni, 1998). Inilah yang mencirikan PTK sebagai “systematic inquiry made public”. Jika PTK diarahkan dan dikerjakan dengan benar, ia akan mampu mendorong guru terlibat secara aktif dalam pembelajaran yang dikelolanya, di samping mampu mendorong guru menempatkan diri sebagai peneliti di kelasnya sendiri.

Keenam, membenahi program penataran/pelatihan guru dengan cara memfokuskan pada kebutuhan guru serta menghindari ketumpangtindihan. Untuk membuat guru mampu menghadapi tantangan abad 21, penataran/pelatihan guru harus difokuskan pada kebutuhan guru, yang berdasarkan hasil-hasil penelitian dan pengamatan informal berkisar pada dua aspek yaitu penguasaan materi ajaran dan mengelola interaksi di dalam kelas. Di samping itu, program penataran/pelatihan juga harus memberi kesempatan kepada guru untuk berlatih memecahkan masalah/menanggulangi situasi, yang semuanya ini dapat dikaitkan dengan mengelola interaksi di dalam kelas. Dalam hal ini, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dilatihkan sebagai wahana untuk mengenal masalah serta merencanakan pemecahannya melalui berbagai langkah. Agar penataran guru tidak tumpang tindih, berbagai instansi yang menyelenggarakan penataran perlu melakukan koordinasi sehingga kemubaziran dari segi dana dan daya dapat dihindari.

Dari segi kesejahteraan guru, yang dalam hal ini sangat berkaitan erat dengan sistem imbalan yang membetahkan, ada beberapa hal yang dapat diusahakan. Pertama, hentikan segala pungutan liar yang sering dikenakan kepada guru, sehingga gaji guru yang sudah kecil tidak bertambah kecil lagi. Kedua, sudah saatnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan meninjau ulang tunjangan fungsional bagi guru, meskipun keadaan ekonomi negara sedang dalam krisis. Kenaikan tunjangan fungsional diharapkan dapat memacu guru untuk memfokuskan diri pada tugas-tugasnya, sehingga layanan yang diberikannya menjadi semakin handal dan aman. Ketiga, memberi penghargaan kepada guru yang berprestasi, yang didasarkan pada penilaian masyarakat dan siswa, yang dapat dilakukan di tingkat kabupaten dan propinsi secara. berkala. Penghargaan ini diharapkan dapat meningkatkan citra guru di mata masyarakat. Keempat, untuk meningkatkan citra, tampaknya HARI GURU yang selama ini dirayakan setiap tanggal 25 November, perlu diberi makna yang lebih khusus, agar gemanya dapat menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan yang digelar akan lebih bermakna jika diisi dengan hal-hal yang mampu meningkatkan citra guru, seperti memamerkan karya-karya siswa yang berprestasi dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja, memamerkan hasil karya guru yang berprestasi, mengadakan gelar wicara antar guru di televisi, atau menyelenggarakan bakti sosial yang berkaitan dengan tugas guru. Dengan usaha-usaha tersebut diharapkan pilar kedua profesionalisme, yaitu pengakuan dan penghargaan dari masyarakat, dapat terwujud.
Daftar Rujukan
BrodJonegoro, S. S. (1999). Management Change in University toward 21″ Century: The Indonesian Policy. International Seminar Proceedings. Jakarta: Higher Education Project, Ministry of Education and Culture.
Brameld, Th. (1965). Education as Power. New York: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.

Darling-Hammond, L. & Goodwin, A. L. (1993). Progress toward Professionalism in Teaching Dalam: G. Cawelti (ed). Challenges and Achievements of American Education, The 1993 ASCD Year Book. Alexandria: ASCD.
De Porter, B. & Hemacki, M. (1999). Quantum Learning. (Penerjemah: Alwiyah Abdurachman). Bandung: Penerbit Kaifa.
Hopkins, D. (1993). A Teacher’s Guide to Classroom Reseach. Buckingham: Open University Press.
Jiono. (1992). Laporan Penelitian Kemampuan / Pemahaman Guru tentang IPA dan Sarana Pelajaran IPA di SMP. Jakarta: Balitbang-Dikbud.
Konsorsium llmu Pendidikan. (1993). Profesionalisasi Jabatan Guru: tawaran dan tantangannya. Jakarta: Konsorsium llmu Pendidikan.
McNiff, J. (1992). Action Research: Principles and Practice. London: Routledge.
Nasoetion, N. (1996). Laporan Pendidikan IPA dan Teknologi di SMP. (Naskah disajikan pada Seminar Dies Natalis UT, 28 Agustus 1996).
Nielson, D; Somerset, A.; Mahadi, R. & Wardani, I G. A. K. (1996). Sthrengthening Teacher Competency and Student Learning. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Raka Joni, Prof Dr. T. (1989). Mereka Masa Depan, Sekarang. Tantangan bagi Pendidikan dalam Menyongsong Abad Informasi. (Ceramah Ilmiah: disampaikan dalam Upacara Dies Natalis XXXV, Lustrum VII IKIP Malang, 18 Oktober 1989).
_______(1998). Hasil Telaah 6 Usulan PTK PPGSD. (makalah disiapkan untuk
pertemuan PTK di Yogyakarta, 5 Januari 1998).
_______(1998). Pengembangan Model Kurikulum Program DII PGSD: antara kajian akademik vs pengembangan program. (naskah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Model Kurikulum Program Pendidikan Diploma Tenaga Kependidikan (DII PGSD) Tahun 1998/1999). Jakarta: Pubang Kurandik- Balitbang Dikbud, 6-7 Agustus 1998.
_______ (ed). (1992). Pokok-pokok Pikiran Mengenai Pendidikan Guru. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan.
Riel, M. (1998). Teaching and Learning in the Educational Communities of the Future. Dalam: Christ Dede (ed). ASCD Year Book 1998. Pp. 171-195. Alexandria: ASCD.
Surat Keputusan Menpan No. 26 / Menpan / 1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tilaar, H. A. R. (1995). Pembangunan Pendidikan Nasional 1945-1995: Suatu Analisis Kebijakan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Toffler, A. (1992). Future Shock (Kejutan Masa Depan). Alih Bahasa: Dra. Sri Koesdiyatinah SB. Jakarta: PT Panca Simpati.

Wardani, I G. A. K. (1996). Pemantapan Kemampuan Guru dan Belajar Siswa. (Naskah disajikan pada Seminar Dies Natalis UT, 28 Agustus 1996).

______(1998). Pemberdayaan Guru: suatu usaha peningkatan mutu pendidikan. (Orasi Ilmiah, disampaikan dalam Upacara Dies Natalis XIV UniversitasTerbuka, Jakarta: 14 September 1998).

Zumwalt, K. (1989). Beginning Professional Teachers: the Need for a Curricular Vision for Teaching. Dalam M. C. Reynold (ed). Knowledge Base for Beginning Teachers. Pp. 173 -184. New York: Pergamon Press.

Studi Perbandingan Pemerintahan;>>>> Baca

Model-model Analisa Politik;>>>> Baca

Konsep Kerja Cerdas;>>>> Baca

CONTOH SURAT LAMARAN CPNS UMUM;>>>> Baca

Remaja dan Perilaku Konsumtif;>>>>>>>>> Baca buka semua

Karakteristik Anak Luar Biasa

Karakteristik Anak Luar Biasa

Pada umumnya lembaga pendidikan di Indonesia pada saat ini belum dapat memenuhi berbagai tuntutan masyarakat. Walaupun telah cukup lama dicanangkan tentang program pendidikan. Sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan di tingkat dasar memang telah terselenggara hampir di seluruh pelosok tanah air. Lembaga inilah sebagai ujung tombak pendidikan di Indonesia. Melalui lembaga ini pula hampir seluruh anak usia sekolah mengawali pendidikan formal, tanpa terkecuali. Pada hal, tidak semua anak usia sekolah mampu mengikuti proses pembelajaran di SD. Mungkin di antara anak-anak usia sekolah tersebut ada anak-anak luar biasa yang sebenarnya memerlukan pelayanan dan lembaga pendidikan khusus. Namun seperti kita ketahui bersama, mungkinkah pemerintah dapat menyediakan pelayanan tersebut? Dampak dari keadaan yang demikian itu menyebabkan sekolah dasar biasa tidak dapat menolak kehadiran anak luar biasa.

Sebagai guru SD kiranya perlu memahami gejala-gejala anak luar biasa. Berikut ini akan diuraikan gejala-gejala/karakteristik anak luar biasa yang kemungkinan berada di sekolah biasa.

Karakteristik Anak Berbakat
Karakteristik anak berbakat dapat ditinjau dari segi akademik, sosial/ emosi, dan fisik/kesehatan.

1. Karakteristik Akademik
Dari segi akademik, anak berbakat antara lain dapat diketahui dari gejala-gejala berikut.
a. memiliki ketekunan dan rasa ingin tahu yang besar
b. keranjingan membaca
c. menikmati sekolah dan belajar

2. Karakteristik Sosial/Emosi

Beberapa ciri individu yang memiliki keberbakatan sosial
a. diterima oleh mayoritas lingkungan
b. keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial
c. kepemimpinannya diakui
d. tidak defensif, memiliki tenggang rasa
e. mampu mengontrol ekspresi emosionalnya
f. mampu menanggulangi siuasi sosial

3. Karakteristik Fisik/Kesehatan
Dalam segi fisik, anak berbakat memperlihatkan hal-hal sebagai berikut.
a. memiliki penampilan menarik dan rapi
b. kesehatan di atas rata-rata

Karakteristik Anak Tunagrahita

Berdasarkan adaptasi dari James D Page, secara umum karakteristik anak tunagrahita adalah sebagai berikut.

1. Akademik

a. kapasitas belajar sangat terbatas
b. lebih banyak belajar membeo, tanpa pengertian
c. malas berpikir
d. sulit memusatkan perhatian
e. cepat lupa

2. Sosial/emosi
a. tak dapat mengurus diri sendiri
b. cenderung bergaul dengan anak yang lebih muda
c. kehidupan penghayatannya terbatas

Karakteristik Khusus Anak Tunagrahita

Karakteristik khusus anak tunagrahita adalah karakteristik yang dibedakan menurut tingkat ketunagrahitaannya.

1. Karakteristik Tunagrahita Ringan
a. mampu belajar membaca, menulis dan berhitung sederhana
b. usia 16 tahun tingkat kecerdasannya sama dengan anak kelas tiga/lima SD
c. kematangan belajar membaca dicapai pada usia 9 s/d 12 tahun
d. dapat bergaul dan mampu mengerjakan pekerjaan ringan

2. Karakteristik Tunagrahita Sedang
a. tidak mampu mempelajari pelajaran akademik
b. perkembangan bahasa terbatas
c. berkomunikasi dengan beberapa kata
d. mampu menulis nama sendiri, nama orang tua dan alamat
e. mengenal angka tanpa pengertian
f. dapat dilatih bersosialisasi
g. mampu mengenali bahaya
h. tingkat kecerdasan setara anak usia 6 tahun

3. Karakteristik Anak Tunagrahita Berat dan Sangat Berat
a. selalu tergantung pada orang lain
b. tak mampu mengurus diri sendiri
c. tidak mengenali bahaya
d. tingkat kecerdasannya setara anak usia 4 tahun

Karakteristik Anak Tunagrahita pada Masa Sekolah

Anak tunagrahita yang masuk pada usia sekolah biasanya masuk di SD biasa. Oleh karena itu kita perlu mengenali gejala-gejala anak tunagrahita pada masa ini. Gejala-gejala tersebut antara lain :

a. mengalami kesulitan belajar pada hampir semua mata pelajaran
b. prestasi rendah
c. kebiasaan kerja tidak baik
d. tidak dapat konsentrasi
e. kemampuan motorik kurang
f. perkembangan bahasa jelek
g. kesulitan menyesuaikan diri

Karakteristik Anak Tunalaras

Karakteristik anak tunalaras berkaitan dengan segi akademik, sosial/emosional, dan segi fisik/kesehatan.

1. Karakteristik akademik
a. prestasi belajar di bawah rata-rata
b. sering melakukan pelanggaran
c. sering membolos sekolah
d. sering sakit
e. sering melakukan pelanggaran hukum

2. Karakteristik Sosial
a. sering melanggar aturan budaya, aturan sekolah, dan keluarga
b. agresif, suka membangkang dan sering mengganggu
c. melakukan kejahatan

3. Karakteristik Emosional
a. sering merasa tertekan dan cemas
b. gelisah, malu, rendah diri dan sangat sensitif

4. Karakteristik fisik/kesehatan
a. adanya gangguan makan, tidur dan gerakan
b. mudah mendapat kecelakaan, sering cemas
c. gagap, sering ngompol dan jorok

Karakteristik Anak Tunadaksa

1. Karakteristik akademik
a. pada anak yang mengalami gangguan otot, tingkat kecerdasan normal
b. pada anak yang mengalami gangguan sistem cerebral, tingkat kecerdasan tingkat kecerdasannya berentang mulai dari tingkat idiocy sampai dengan gifted

c. terjadi kelainan persepsi, kognisi dan simbolisasi

2. Karakteristik sosial/emosional
a. malas belajar
b. sering salah suai
c. mudah tersinggung, rendah diri, pemalu
d. mudah frustasi dan sering menyendiri

3. Karakteristik fisik/kesehatan
a. fungsi pancaindera terganggu
b. kemampuan bicara rendah
c. fungsi keseimbangan terganggu
d. sulit melakukan kegiatan dengan gerakan halus

E. Karakteristik anak Berkesulitan Belajar
Karakteristik Anak Berkesulitan Belajar Secara Umum

1. Masalah persepsi dan koordinasi
a. tidak dapat membedakan huruf yang mirif (d dan b, sakit dan sabit)
b. sulit membedakan bunyi yang hampir sama (kopi dengan topi)
c. adanya gangguan motorik halus dan kasar

2. Gangguan dalam perhatian

a. sulit berkonsentrasi
b. sulit untuk memusatkan perhatian
c. sulit melakukan kontak mata
d. hiperaktif
e. tak dapat menuntaskan pekerjaan

3. Gangguan dalam mengingat dan berpikir

a. masalah mengingat
1) tak memiliki kemampuan dalam penerapan strategi mengingat
2) sulit mengingat materi secara verbal

b. masalah berpikir
1) sulit memecahkan masalah
2) tidak mampu menemukan/membentuk konsep

4. Kemampuan dalam penyesuaian diri
a. kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
b. kurang percaya diri, cemas dan takut

c. suka mengasingkan diri

Karakteritik Khusus Anak Berkesulitan Membaca
1. Gangguan membaca lisan
2. Kurang mampu membedakan kata-kata yang berbeda secara ortografis
3. Gangguan ingatan jangka pendek
4. Gangguan pemahaman

Perkembangan Intelektual dan Emosional Anak;>>>> Baca

Pertumbuhan Fisik atau Jasmani Anak;>>>> Baca

Pelaksanaan Perpajakan di Indonesiaa;>>>> Baca

Home Visit Tindakan Preventif Mengurangi Permasalahan Sekolah;>>>> Baca

Pengujian Substantif;>>>>>>>>> Baca buka semua

Pelayanan Anak Luar Biasa di Sekolah Biasa

Pelayanan Anak Luar Biasa di Sekolah Biasa

Anak luar biasa adalah anak yang mempunyai sesuatu luar biasa yang secara signifikan membedakannya dengan anak-anak seusia pada umumnya. Keluarbiasaan yang dimiliki anak tersebut dapat merupakan sesuatu yang positif, dapat pula negatif. Dengan demikian, keluarbiasaan itu dapat berada di atas rata-rata anak normal, dapat pula di bawah rata-rata anak normal.

Jika dilihat dari jenis penyimpangan keluarbiasaan, Abdulrakhman dalam Pengantar Pendidikan Luar Biasa membedakan atas kelompok-kelompok berikut.

1. Kelompok yang mengalami penyimpangan dalam bidang intelektual, terdiri dari anak yang luar biasa cerdas (intelellectually superior) dan anak yang tingkat kecerdasannya rendah atau yang disebut tunagrahita.
2. Kelompok yang mengalami penyimpangan atau keluarbiasaan yang terjadi karena hambatan sensoris atau indera, terdiri dari anak tunanetra dan tunarungu.
3. Kelompok anak yang mendapat kesulitan belajar dan gangguan komunikasi
4. Kelompok anak yang mengalami penyimpangan perilaku, yang terdiri dari anak tunalaras dan penyandang gangguan emosi.
5. Kelompok anak yang mempunyai keluarbiasaan/penyimpangan ganda atau berat dan sering disebut tunaganda.
Pada saat ini telah tersedia sekolah-sekolah luar biasa yang dapat melayani pendidikan sesuai dengan jenis keluarbiasaannya. Anak luar biasa cerdas dapat masuk ke sekolah yang memberikan layanan khusus buat anak berbakat, anak tuna rungu dapat masuk ke sekolah yang sesuai. Bagi anak luar biasa yang secara jelas dapat terlihat keluarbiasaannya akan lebih mudah untuk memilihkan sekolah yang sesuai, namun jika keluarbiasaannya itu tidak jelas, besar kemungkinan anak tersebut masuk ke sekolah biasa.
Dari kelima kelompok anak luar biasa di atas, yang sering ditemui pada sekolah biasa adalah kelompok anak yang mengalami penyimpangan perilaku, karena pada kelompok ini tidak secara jelas terlihat gejala-gelaja keluarbiasaannya. Orang tua tidak menyadari bahwa anaknya berbeda dengan anak yang lain. Dengan pertimbangan berbagai faktor, banyak anak yang sebenarnya mengalami gangguan emosi dan perilaku menyimpang (tunalaras) oleh orang tuanya dimasukkan ke sekolah biasa. Jika demikian kasusnya, maka guru di sekolah biasa terutama guru SD harus dapat mengantisipasi keadaan tersebut. Oleh karena itu pada kesempatan ini yang akan dibahas adalah kelompok anak tunalaras dan anak yang mengalami gangguan emosi.

Pengertian, Klasifikasi dan Karakteristik Anak Tunalaras
Dalam Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1991 disebutkan bahwa : tunalaras adalah gangguan atau hambatan atau kelainan tingkah laku, sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Sedangkan menurut Undang-undang tentang PLB di Amerika tunalaras disebut dengan gangguann emosi. Gangguan emosi adalah suatu kondisi yang menunjukkan gejala-gejala, antara lain: ketidakmampuan menjalin hubungan yang menyenangkan teman dan guru, berlaku tidak pantas.

Menurut Rosembera, anak tunalaras dapat dikelompokkan atas tingkah laku yang beresiko tinggi dan rendah. Yang beresiko tinggi yaitu hiperaktif, agresif, pembangkang, delinkuensi dan anak yang menarik diri dari pergaulan sosial, sedangkan yang beresiko rendah yaitu autisme dan skizofrenia.

Untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami gangguan emosional atau tidak, kita dapat menentukan dari ciri-ciri atau karakternya. Dari segi sosial dan emosional, anak tunalaras akan menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut.

1. Perilakunya tidak dapat diterima oleh masyarakat dan biasanya melanggar norma budaya, aturan keluarga dan sekolah
2. Sering mengganggu, bersikap membangkang atau menentang dan tidak dapat bekerjasama.

Jenis Perilaku Menyimpang di Sekolah Biasa

Pada bagian pendahuluan telah dijelaskan bahwa keluarbiasaan anak dapat dibedakan menjadi anak luar biasa yang secara jelas dapat terlihat dan anak luar biasa yang sulit dideteksi. Orang tua yang memiliki anak jenis kedua biasanya tidak menyadari akan keluarbiasaan yang dialami anaknya sehingga memasukkan anak tersebut ke sekolah biasa.

Kelompok anak tersebut dapat diketahui melalui gejala-gejala yang ditunjukkan dengan perilaku yang menyimpang. Penyimpangan-penyimpangan perilaku anak tersebut, seperti anak suka jahil, iri hati, mencela, rewel, agresif, suka protes dan malas belajar. Menghadapi masalah penyimpangan perilaku anak tersebut, tidaklah akan terselesaikan dan anak berubah menjadi anak yang baik, jika saja kita mengatasi masalah tersebut dengan sikap reaktif dan perlakuan keras terhadap anak. Yang harus kita lakukan adalah tindakan proaktif untuk menemukan cara-cara memecahkan dan mengatasi masalah tersebut, dengan cara mengenali dan menganalisa, mengapa anak menunjukkan penyimpangan perilaku, kemudian kita cari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Gejala-gejala perilaku menyimpang
1. Anak yang suka jahil

Perbuatan jahil adalah suatu perbuatan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain dengan maksud mengganggu atau membuat orang lain menjadi tidak nyaman atau membuat orang lain menderita baik secara fisik maupun mental atau mengalami kehilangan sesuatu. Sementara itu si anak jahil begitu asyik menikmati dengan rasa puas melihat si korban menderita.

2. Anak yang suka iri hati

Perasaan iri hati yang berlebihan biasanya diwujudkan dengan perilaku mengganggu teman, berebut mainan, saling bantah dan sebagainya. Hanya karena hal-hal yang sepele anak dapat menjadi agresif atau suka menyerang kepada temannya. Dapat pula dilakukan dengan perbuatan yang sebaliknya dengan menunjukkan rasa murung, suka menyendiri atau bahkan mengurung diri.

3. Anak yang suka menyela
Kita mungkin pernah melihat anak yang suka menyela pembicaraan orang lain/orang tua walaupun orang tua menyuruh anak untuk pergi dan menjauh dengan baik-baik, anak justru menolak dan ngotot untuk terus nimbrung.

4. Anak suka agresif
Anak yang agresif akan menyerang teman/orang yang belum dikenal karena masalah yang sangat sepele, seperti berebut mainan, makanan, atau karena diolok-olok dan sebagainya. Akibat perilaku anak yang suka agresif menyerang temannya itu, dirinya ditakuti, dimusuhi dan dijauhi teman-temannya.

Penyebab Perilaku Menyimpang

Menurut Hendra Surya (Kiat Mengatasi Penyimpangan Perilaku anak 2004) berbagai perilaku menyimpang yang dialami oleh anak usia antara 3 – 12 tahun pada umumnya dilatarbelakangi oleh suatu unsur pemuas ego perasaan seseorang. Perilaku menyimpang tersebut tanpa disadari oleh suatu pertimbangan pemikiran, apakah perbuatan itu baik atau tidak. Perlu disadari, bawa setiap manusia memiliki ego perasaan yang menjadi keinginan bawah sadarnya.

Timbulnya perbuatan menyimpang karena ada suatu keinginan bawah sadar anak yang terhambat atau tidak diperolehnya. Hal ini akan mendorong anak untuk melakukan perbuatan menyimpang tersebut. Yang dimaksud keinginan bawah sadar yang terhambat tersebut adalah keinginan untuk selalu memperoleh perhatian.

Perbuatan menyimpang dilakukan karena merasa dirinya:

1. tidak mendapat perhatian
2. disepelekan
3. kehadirannya dianggap tidak ada
4. tidak mendapat peran apapun
5. sebagai pelengkap penderita
6. takut kehilangan peran dalam lingkungannya

Jika seorang anak memiliki perasaan-perasaan sebagaimana tersebut di atas, maka ia akan merasa terancam keberadaannya, sehingga ia akan melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menarik perhatian orang yang berada di sekitarnya.

Contoh kasus.

1. Anak tidak diajak dalam pemainan oleh saudara/teman-temannya, padahal dirinya ingin sekali turut bermain.
2. Anak merasa dikucilkan dari orang tua/saudara/teman sepermainannya.
3. Anak merasa bahwa orang tua lebih perhatian kepada adik baru
4. Anak merasa terusik dan terancam perannya atas kehadiran orang baru di lingkungannya

Karena rasa atau keinginan bawah sadar yang terhambat inilah, anak ingin membuktikan bahwa dirinya ada dan bisa melakukan sesuatu untuk mencari perhatian atau mempertahankan perhatian. Dia sebagai anak belum dapat mempertimbangkan baik- buruknya atau akibat dari perbuatan tersebut. Yang penting baginya kepuasan untuk dapat menggoda saudara/teman. Sebenarnya si anak akan menyampaikan pesan, bahwa dirinya perlu diperhitungkan keberadaannya dan perlu mendapat perhatian.

Memahami Anak Berperilaku Menyimpang

Pada zaman modern sekarang ini, peran guru sangat besar dalam pendidikan dan kehidupan anak, karena banyak tugas pendidikan yang semestinya dilakukan oleh orang tua dilimpahkan kepada para guru, karena berbagai alasan. Para guru dapat memberikan rasa aman baik secara sosial maupun emosiaonal, terutama untuk siswa-siswa yang memiliki perilaku menyimpang yang pada umumnya tidak dapat menerima perlakukan tersebut di lingkungan keluarga.

Keberadaan anak berperilaku menyimpang sering dihadapi guru pada saat mengajar. Pada saat-saat tertentu mereka tidak ada bedanya dengan anak-anak lain pada umumnya. Mereka memiliki wajah yang manis, sangat menggemaskan, namun ia juga sering terlibat pertentangan dengan peraturan sekolah dan guru. Dia sering menolak untuk mengerjakan tugas, membenahi peralatan atau duduk tertib di kelas. Dia sering berbuat ribut di kelas dan marah-marah tanpa sebab.

Untuk mengatasi permasalahan anak semacam itu, perlu ada kerja sama antar staf dan semua guru di sekolah. Penyimpangan anak tidak semata-mata dilakukan di dalam kelas saja, tapi terjadi juga di luar kelas pada saat jam istirahat. Ketika seorang siswa berbuat nakal di luar kelas, semua staf sekolah harus beranggapan bahwa hal tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab guru yang mengajarnya. Semua staf sekolah berkewajiban untuk mengasuh semua siswa pada saat di luar kelas.

Permasalahannya adalah, bahwa terdapat keengganan dari para guru untuk berbagi masalah dengan guru lain, terutama kepada yang lebih senior, karena takut dianggap gagal. Sebaliknya, guru lain juga enggan untuk menyampaikan tawaran kepada guru lain untuk membantu mengatasi berbagai hal yang terjadi. Namun perlu kita sadari bahwa satu-satunya cara yang efektif untuk menciptakan perilaku positif di seluruh sekolah merupakan tanggung jawab bersama seluruh staf sekolah.

Perlunya Saling Dukung antar Guru

Jika terdapat seorang siswa yang secara signifikan menunjukkan perilaku menyimpang, antar staf sekolah perlu saling memberikan informasi agar dapat ditetapkan langkah-langkah untuk melakukan tindakan bersama dalam mengatasi masalah tersebut. Kegiatan semacam ini harus dibakukan dalam bentuk peraturan sekolah, sehingga semua guru akan mendapat perlakuan yang sama.

Untuk membina budaya saling dukung di sekolah, tidaklah mudah, memerlukan waktu dan contoh dari orang yang lebih senior. Ukungan rekan sekerja bagi para guru dalam menghadapi anak-anak berperilaku menyimpang meliputi hal-hal berikut.

1. Pemahaman dari sekolah secara keseluruhan, bahwa perlunya kebersamaan dalam mengatasi masalah.
2. Pemahaman bahwa masalah-masalah perilaku yang besar membutuhkan pendekatan kelompok
3. Kebersediaan wali kelas untuk menerima dukungan dan pemahaman bahwa dukungan ini bersifat normatif.
4. Penyelenggaraan rapat oleh wali kelas dengan sesama kolega
5. Pengakuan bahwa penyimpangan perilaku seseorang bukanlah semata-mata tanggung jawab guru yang bersangkutan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.
6. Perlunya pembentukan forum sekolah
7. Ketersediaan dukungan sesama rekan di dalam observasi kelas dengan saling bertukar kelas.

Penyimpangan Sebagai Akibat

Pada saat mulai masuk sekolah, seorang anak telah membawa pemgalaman ke dalam lingkungan sekolah yang penuh dengan tuntutan dan peraturan. Kehidupan emosional anak telah terbentuk dari lingkungan keluarga dan telah dibekali pula dengan kepandaian bagaimana cara beradaptasi dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman dalam keluarga dapat dirumuskan melalui pertanyaan-pertannaan berikut.

1. Apakah orang tua menghargai kegemaran membaca, pemecahan masalah?
2. Seperti apakah suri tauladan laki-laki di dalam hidupnya?
3. Bagaimanakah otoritas dan disiplin dipraktikkan?
4. Pilihan apa yang dimiliki si anak berkenaan dengan perilakunya sendiri?
5. Bagaimana pengelolaan konflik di rumah?
6. Untuk hal-hal macam apa ia mendapat perhatian, pujian atau hukuman?

Tidak semua anak yang masuk sekolah, terutama anak kelas satu, dengan pengalaman dari rumah tersebut mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan di sekolah. Beberapa anak mempunyai pengalaman di rumah, bahwa bicara dengan nada keras, bentakan dan teriakan, cemoohan, dan saling menyalahkan merupakan kebiasaan yang dilakukan. Pengalaman di rumah sering di bawa ke sekolah, sehingga terjadi benturan nilai yang akan nampak sebagai perilaku distruktif

Dapatkah Pengaruh Lingkungan Dinetralisir?
Saya pernah mengajar di sekolah swasta yang para siswanya berasal dari daerah kumuh. Para siswa berasal dari lingkungan pelacuran yang penuh dengan dekadensi moral, dari daerah pemulung yang relatif minim dalam masalah ekonomi, lingkungan tukang becak dan sejenisnya.

Umumnya kita akan terjebak pada pernyataan bahwa wajarlah bila anak-anak dari daerah tersebut mempunyai perilaku menyimpang. Dalam keadaan semacam ini, patutkah kita sebagai guru menyalahkan lingkungan keluarga dan tidak berusaha untuk memperbaiki perilaku mereka?

Perlu kita ingat bahwa seorang anak akan menghabiskan sepertiga dari harinya di sekolah. Selama waktu itu kita dapat menyediakan program, pilihan, kerangka kerja disiplin yang dapat mengajarkannya alternatif-altenatif untuk memberi rasa memiliki yang bertujuan dan meningkatkan pengendalian perilaku. Dalam pendekatan ini guru memiliki peran yang sangat penting.

Perilaku distruktif

Di sekolah sering kita temukan anak yang mendapat predikat nakal, karena menunjukkan perilaku yang tidak patut, tidak bertanggung jawab, menyalahi aturan dan tidak bertanggung jawab. Perlaku distruktif tersebut dapat berupa:

1. terus-menerus memanggil guru dan berbicara seenaknya
2. berjalan kesana-kemari di kelas
3. menggerakkan kaki terus-menerus di kursi
4. suara sangat keras
5. tidak mampu konsentrasi, dsb.

Istilah-istilah yang sering diberikan kepada anak-anak seperti itu adalah : conduct-disordered (berperilaku menyimpang), attention-deficit disordered (kurang perhatian), socio-emotionally disturbed (terganggu secara sosial dan emosional), hyperactive (hiperaktif). Semua istilah itu, lebih sering disebut dengan istilah berperilaku menyimpang.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa sekolah memiliki keterbatasan dalam memodifikasi lingkungan rumah.

Perilaku Mengajar

Pada saat anak-anak masuk sekolah, mereka harus belajar bersosialisasi, berbagi, bekerja sama, mengerjakan tugas-tugas belajar, dan menghadapi rasa frustrasi. Perilaku yang buruk sering kali dihubungkan dengan prestasi belajar. Untuk mencapai prestasi belajar yang baik, seorang anak harus dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya, mau mengikuti petunjuk, mengerjakan respons tugas, tetap duduk di tempat, dan mematuhi peraturan kelas.

Contoh pendekatan yang dapat dilakukan guru untuk mengajarkan anak agar berperilaku baik.

1. bagaimana mengangkat tangan tanpa harus memanggil-manggil
2. bagaimana menunggu giliran dari pada menyerobot
3. bagaimana duduk di atas tikar pada jam pelajaran
4. bagaimana duduk di kursi mereka lebih dari beberapa menit
5. bagaimana berbicara dengan lebih perlahan
6. bagaimana berjalan di dalam kelas tanpa mengganggu atau menjengkelkan orang lain
7. bagaimana mempertimbangkan perasaan orang lain
8. apa yang harus dilakukan bila marah.

Dalam program perubahan perilaku hendaknya dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga anak tidak merasa terbebani. Peruhan memerlukan waktu, dan tiap anak akan mempunyai tingkat daya tangkap yang berbeda. Keberhasilan perubahan dapat diukur dari penurunan frekuensi dan intensitas perilaku yang diharapkan. Pemulihan perilaku dapat dilakukan melalui gambar, percontohan, latihan yang ditargetkan, dorongan individual, dan umpan balik.

Cara mengatasi anak yang berperlaku menyimpang.

Reaksi yang biasanya muncul terhadap ulah atau perilaku anak yang tidak biasa adalah teguran, hukuman atau nasehat. Namun dengan cara tersebut anak tidak akan merasa jera. Perlu kita sadari bahwa anak melakukan perbuatan di luar kebiasaan, karena merasa dirinya tidak puas dan telah diperlakukan tidak adil menurut pemikiran anak. Dirinya merasa tertekan akibat tidak diperhatikan dan tidak mendapat peran apa-apa dari lingkungannya atau rasa khawatir kehilangan peran akibat kehadiran orang baru di lingkungannya. Dia memandang bahwa perbuatannya tersebut tidak salah, dia tidak menganggap bukan dirinya sebagai pemicu atau penyebab perbuatan tersebut.

Di balik perbuatan-perbuatan yang ia lakukan diharapkan orang di sekitarnya mau mengakui kekeliruannya . Ia ingin dirangkul dan diajak turut serta atau ambil peranan dalam permainan atau bergaul. Jadi yang anak inginkan adalah pengakuan bukan teguran.

Teguran, nasehat atau hukuman menurut tanggapan anak merupakan upaya orang lain untuk menekan dan memojokkan dirinya semata. Ini tidak adil, sehingga muncul dorongan untuk menolak perlakuan tersebut. Penolakan tersebu akan diwujutkan dalam bentuk perlawanan terhadap orang yang memberikan teguran, nasehat atau hukuman. Perlawanan tersebut dapat berupa reaksi kemarahan langsung maupun secara tersamar. Reaksi kemarahan langsung dapat secara verbal dengan menggunakan kata-kata kasar maupun fisik. Kemarahan secara tidak langsung dapat diwujutkan dalam perilaku seperti wajah cemberut, menangis, atau mengurung diri dan sebagainya. Di benak anak pun tertanam kesan negatif, bahwa dirinya disisihkan dan diperlakukan beda dengan yang lain, sehingga timbul antipati terhadap saudara atau teman.
Dengan demikian , bagaimana cara mengatasi anak yang sering melakukan perilaku menyimpang? Kadang-kadang kita kurang sabar menghadapi anak dengan perilaku yang di luar kebiasaan, sehingga cenderung untuk melakukan tindakan yang bersifat emosional. Padahal tindakan tersebut dapat lebih memperparah keadaan. Oleh karena itu sepatutnyalah kita tidak melakukan hal-hal sebagai berikut.

1. Jangan emosional menghadapi anak.

Walaupun perbuatan anak dianggap sudah lewat batas, sebaiknya tidak perlu dimarahi. Kita harus berusaha untuk menahan diri dan jangan biarkan diri kita terbawa emosi. Hadapi anak yang demikian itu dengan kesabaran dan jiwa yang penuh kearifan.

Bentakan, omelan atau hukuman fisik hanya akan menimbulkan reaksi negatif, sehingga anak akan melakukan perlawanan atau penolakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat lebih jauh, anak akan cenderung untuk mengulangi perbuatan yang tidak baik tersebut secara lebih keras atau brutal sebagai kompensasi ketidaksenangannya itu.

2. Jangan kucilkan anak.
Tindakan pengucilan dapat menimbulkan pemikiran yang negatif pada diri anak. Dengan pengucilan tersebut anak merasa bahwa keinginan-keinginannya tidak terakomodasi dan memandang orang tua tidak dapat memahami serta tidak mau mengerti keinginan-keinginan bawah sadar anak. Keterasingan dari lingkungan sosial dapat menyebabkan si anak cenderung menilai dirinya sebagai orang yang tidak berharga dan dicintai. Putusnya hubungan dengan lingkungan sosial dalam waktu yang panjang dapat menyebabkan depresi atau kehilangan gairah hidup, murung, pesimis, kurang inisiatif, selalu curiga dan membenci orang lain.

Sikap dan tindakan yang sebaiknya kita lakukan dalam mengahadapi anak yang berperilaku menyimpang.

1. Lakukan Pendekatan Kasih Sayang

Sentuhan yang lembut penuh perhatian dapat menimbulkan rasa senang pada anak, karena merasa diperhatikan. Untuk selanjutnya rasa kasih sayang dapat dilakukan dengan cara-cara berikut.
a. Ajaklah anak ke tempat yang dapat menyejukkan hatinya dengan suasana baru dan menyegarkan
b. Buatlah anak sedemikian rupa untuk mengungkapkan isi hatinya dengan suka rela, tanpa ada paksaan
c. Tunjukkan sikap kesediaan kita untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh dengan rasa empati
d. Ciptakan suasana yang menyenangkan
e. Ajak anak untuk menilai semua perbuatan yang telah dilakukan, sehingga anak dapat membayangkan seandainya perlakuan buruk itu menimpa dirinya.

2. Responsif terhadap perasaan anak
Untuk anak yang dilanda irihati, suasana hatinya penuh diliputi oleh nafsu marah, tertekan, kecewa, kesal dan benci, sehingga ia idak mau mendengarkan siapapun. Anak yang iri hati sebenarnya ingin diperhatikan.

3. Dengarkan suara hati anak
Untuk menciptakan suasana hati anak sehingga merasa diperhatikan, kunci utamanya adalah:
a. ciptakan hubungan baik kita dengan anak
b. kesediaan meluangkan waktu untuk anak
c. dengarkan keluh kesah anak

4. Binalah kasih saying antaranak
Langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kasih saying antaranak, antara lain :
a. berbuat adil terhadap semua anak
b. jangan bandingkan anak dengan anak lain
c. melakukan kegiatan bersama

G. Penutup

Menghadapi anak di sekolah dengan karakteristik yang heterogen diperlukan kesabaran yang cukup tinggi bagi para guru, terutama guru Sekolah Dasar. Hubungan antara guru dengan siswa sebaiknya tidak terlalu formil, agar anak tidak merasa asing dengan dunia sekolah. Guru harus dapat berperan sebagai orang tua yang dapat memperlakukan anak penuh kasih sayang. Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelainan sikap dan perilaku anak lebih banyak disebabkan kurangnya perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu dengan rasa penuh kasih dan pengetahuan yang memadai tentang kelainan tingkah laku siswa diharapkan kita sebagai guru akan mampu mengatasi persoalan-persoalan anak di sekolah.

Perkembangan Bahasa Anak;>>>> Baca

PEMANFAATAN MEDIA DAN PERPUSTAKAAN;>>>> Baca

Pertumbuhan Fisik atau Jasmani Anak;>>>> Baca

Perkembangan Intelektual dan Emosional Anak;>>>> Baca

Hakikat Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik;>>>>>>>>> Baca buka semua

Memahami Keluarbiasaan

Memahami Keluarbiasaan

Keluarbiasaan merupakan padan kata exceptional dari bahasa Inggris, dan keluarbiasaan tersebut secara harfiah berarti sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang luar biasa bisa berarti positif, bisa juga negatif. Anak luar biasa (ALB) adalah anak yang secara nyata berbeda keadaannya dari pada anak pada umumnya. Oleh karena itu yang dimaksud anak luar biasa meliputi baik anak yang memiliki kelebihan maupun kekurangan.

Di Indonesia belum ada kesepakatan tentang penggunaan istilah yang baku tentang istilah keluarbiasaan. Istilah anak penyandang cacat, anak berkelainan , anak luar biasa, masih sering dipakai secara bergantian. Namun jika dilihat dari penyelenggara pendidikan anak yang berkelainan, yang menggunakan kata luar biasa, maka istilah anak luar biasa sebenarnya telah dapat diterima oleh masyarakat.

Jenis-jenis Keluarbiasaan

Pengelompokan keluarbiasaan dapat didasarkan pada dua aspek, yaitu bidang yang mengalami penyimpangan dan arah penyimpangan. Bidang penyimpangan berkaitan dengan penyebab terjadinya penyimpangan, sedangkan arah penyimpangan untuk melihat apakah posisi keluarbiasaan itu di atas normal atau di bawah normal. Keluarbiasaan di atas normal merupakan kondisi seseorang yang melebihi batas normal dalam bidang kemampuan. Kelompok anak dengan kondisi demikian disebut anak berbakat atau gifted. Di Indonesia, anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata ini dikelompokkan pada pendidikan khusus yang sering disebut sekolah unggulan.

Jika keluarbiasaan di atas normal hanya dikenal dengan satu istilah, tidak demikian halnya dengan istilah keluarbiasaan di bawah normal. Jenis-jenis keluarbiasaan di bawah normal meliputi: tunanetra, tunarungu, gangguan komunikasi, tuna grahita, tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, dan tuna ganda.

a. Tunanetra
Tunanetra adalah istilah yang diberikan kepada mereka yang mengalami gangguan berat terhadap penglihatan dan tidak dapat diatasi dengan pemakaian kaca mata.

b. Tunarungu
Tunarungu adalah mereka yang mengalami gangguan pendengaran, mulai dari yang ringan sampai dengan yang berat.

c. Gangguan Komunikasi
Secara garis besar, gangguan komunikasi dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu gangguan bicara dan gangguan bahasa. Gangguan bicara yang sering disebut sebagai tunawicara. Gangguan komunikasi yang terjadi karena gangguan bahasa ditandai dengan munculnya kesulitan bagi anak dalam memahami dan menggunakan bahasa, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis.

d. Tunagrahita
Tunagrahita adalah kondisi dimana kemampuan mentalnya berada di bawah normal. Tunagrahita dapat dikelompokkan sebagai anak tunagrahita ringan, sedang dan berat.

e. Tunadaksa
Tunadaksa atau cacat fisik adalah kondisi anak yang memiliki cacat fisik, sehingga tidak dapat menjalankan fungsi fisik secara normal. Termasuk dalam kelompok tunadaksa adalah anak yang menderita penyakit epilepsi, cerebal palsy, kelainan tulang belakang, gangguan pada tulang dan otot, serta mengalami amputansi.

f. Tunalaras
Anak tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan emosi, sehingga sering menunjukkan adanya penyimpangan perilaku. Penyimpangan tersebut seperti menyakiti diri sendiri, suka menyerang teman dan sebagainya. Termasuk dalam kelompok tunalaras adalah anak-anak penderita autis.

g. Anak Berkesulitan belajar
Anak berkesulitan belajar adalah anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan normal, tetapi prestasi belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan tingkat kemampuannya.

h. Tunaganda
Sesuai dengan istilah tunaganda, adalah kelompok yang menyandang lebih dari satu jenis keluarbiasaan. Misalnya penyandang tunanetra dan tunarungu sekaligus, penyandang tunadaksa disertai tunagrahita, atau bahkan tunadaksa, tunarungu dan tunagrahita sekaligus.

Penyebab dan Dampak Keluarbiasaan

1. Penyebab Terjadinya Keluarbiasaan

Berdasarkan waktu terjadinya penyebab kelurbiasaan dapat dibagi menjadi tiga kategori seperti berikut.
a. Penyebab Prenatal, yaitu penyebab yang terjadi pada saat anak masih dalam kandungan. Pada saat ini mungkin sang ibu terserang virus, mengalami trauma, atau salah minum obat.
b. Penyebab Perinatal, yaitu penyebab yang terjadi pada saat proses kelahiran, seperti terjadinya benturan atau infeksi ketika melahirkan, proses kelahiran dengan penyedotan, atau pemberian oksigen yang terlalu lama bagi anak prematur
c. Penyebab Postnatal, yaitu penyebab yang muncul setelah kelahiran, misalnya kecelakaan, jatuh atau kena penyakit tertentu.

2. Dampak Keluarbiasaan

Dampak keluarbiasaan sangat bervariasi, baik bagi anak, keluarga/orang tua, maupun masyarakat.
a. Dampak Keluarbiasaan Bagi Anak ALB

Keluarbiasaan di atas normal dapat berdampak positif maupun negatif bagai anak. Mereka akan merasa bangga dengan keluarbiasaan yang dimilikinya, tetapi keluarbiasaan tersebut akan menjadi masalah kalau menyebabkan ia sombong dan merasa superior. Anak berbakat juga akan menghadapi masalah apabila ia terpaksa hidup diantara orang dewasa, sementara ia masih merasa sebagai anak-anak. Sebaliknya, bagi anak yang mempunyai keluarbiasaan di bawah normal, pada umumnya akan terhambat perkembangannya, kecuali jika ia mendapat pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan.
Dampak spesifik juga dapat terjadi terhadap anak luar biasa, misalnya penderita tunarungu akan mendapat hambatan dalam berkomunikasi, anak tunanetra mendapat hambatan dalam mobilitas, anak tunagrahita akan mendapat hambatan dalam banyak hal.
Tingkat keluarbiasaan juga menghasilkan dampak yang berbeda bagi anak. Anak yang menderita keluarbiasaan yang bersifat ringan mungkin masih mampu menolong diri sendiri. Makin parah tingkat keluarbiasaan, dampaknya bagi anak juga semakin parah.

b. Dampak Keluarbiasaan bagi Keluarga

Dampak keluarbiasaan anak bagi keluarga bervariasi. Ada orang tua yang merasa terpukul, pasrah menerima keadaan dan ada pula yang acuh terhadap keluarbiasaan tersebut.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi reaksi/sikap keluarga terhadap keluarbiasaan antara lain : tingkat pendidikan, latar belakang budaya, status sosial ekonomi keluarga, dan juga jenis dan tingkat keluarbiasaan.

c. Dampak Keluarbiasaan bagi Masyarakat

Sikap masyarakat terhadap keluarbiasaan mungkin juga akan bervariasi, tergantung dari dari latar belakang budaya dan tingkat pendidikan. Ada masyarakat yang bersimpati , ada yang acuh tak acuh, mungkin juga bersikap antipati.

Kebutuhan serta Hak dan Kewajiban Penyandang Keluarbiasaan

1. Kebutuhan Penyandang Keluarbiasaan

Secara umum tidak terdapat perbedaan kebutuhan antara anak normal dengan anak luar biasa. Namun karena keluarbiasaannya itu ada kebutuhan-kebutuhan spesifik yang lebih dibutuhkan oleh anak luar biasa. Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan fisik/ kesehatan, kebutuhan sosial/emosional, dan kebutuhan pendidikan.

a. Kebutuhan fisik/kesehatan

Kebutuhan fisik bagi penyandang keluarbiasaan akan terkait erat dengan jenis keluarbiasaannya. Bagi penyandang tunadaksa yang menggunakan kursi roda, akan membutuhkan sarana khusus untuk masuk ke gedung-gedung dengan jalan miring, sebagai pengganti tangga. Penyandang tunanetra perlu tongkat dan penyandang tunarungu mungkin memerlukan alat alat bantu dengar.

Berbagai layanan khusus di bidang kesehatan diperlukan bagi para penyandang keluarbiasaan. Layanan tersebut antara lain : physical therapy dan occupational therapy, yang keduanya berkaitan erat dengan keterampilan gerak (motor skills), dan speech theraphy atau bina wicara bagi para tunarungu. Para ahli yang terlibat dalam menangani kesehatan para penyandang keluarbiasaan terdiri dari dokter umum, dokter gigi, ahli physical theraphy dan ahli occupational theraphy, ahli gizi, ahli bedah tulang, ahli THT, dokter spesialis mata dan perawat.

b. Kebutuhan sosial/emosional

Karena keluarbiasaan yang disandangnya, kebutuhan yang diperlukan kadang-kadang sulit dipenuhi. Berbagai kondisi/ keterampilan seperti mencari teman, memasuki masa remaja, mencari kerja, perkawinan, kehidupan seksual, dan membesarkan anak merupakan kondisi yang menimbulkan masalah bagi penyandang keluarbiasaan. Oleh karena itu bantuan para pekerja sosial , para psikolog, dan ahli bimbingan juga dibutuhkan oleh para keluarga.

c. Kebutuhan Pendidikan

Jenis pendidikan yang diperlukan sangat terkait dengan keluar-biasaan yang disandangnya. Secara khusus, penyandang tunarungu memerlukan bina persepsi bunyi yang diberikan oleh speech therapist, tunanetra memerlukan bimbingan khusus dalam mobilitas dan huruf Braille, dan tunagrahita memerlukan bimbingan keterampilan hidup.

2. Hak Keluarbiasaan

Tidak ada perbedaan hak antara penyandang keluarbiasaan dibandingkan dengan anak normal, terutama dalam bidang pendidikan. Dalam pasal 31 UUD 45 disebutkan bahwa semua warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Ketentuan dalam pasal tersebut diatur lebih lanjut pada pasal 6 dan pasal 8 UU No.2/Tahun 1989, dalam Bab III, yang berbunyi:

Pasal 6
Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan , kemampuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan tamatan pendidikan dasar.

Pasal 8

1. Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.
2. Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.

Dari dua pasal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa anak luar biasa berhak atas pendidikan sampai tamatan SMP.

Pendidikan anak luar biasa disamping dijamin oleh UUD 45, secara internasional juga tercantum dalam Deklarasi Umum Hak-Hak Kemanusiaan 1948 (The 1948 Universal Declaration of Human Right) yang diperbaharui pada Konferensi Dunia tentang Pendidikan Untuk Semua (Educational For All). Konferensi tersebut juga menyepakati suatu kerangka kerja untuk Pendidikan Anak Luar Biasa yang dapat dijadikan pegangan bagi setiap negara dalam penyelenggaraan Pendidikan Luar Biasa.

Dalam kerangka kerja tersebut disebutkan bahwa :

a. setiap anak mempunyai hak yang fundamental untuk mendapatkan pendidikan, dan harus diberi kesempatan untuk mencapai dan memelihara tahap belajar yang dapat diterimanya;
b. setiap anak punya karakteristik, minat, kemampuan, dan kebutuhan yang unik;
c. sism pendidikan harus dirancang dan program pendidikan diimplementasikan dengan mempertimbangkan perbedaan yang besar dalam karakteristik dan kebutuhan anak;
d. mereka yang mempunyai kebutuhan belajar khusus (anak luar biasa) harus mempunyai akses ke sekolah biasa yang seyogyanya menerima mereka dalam suasana pendidikan yang berfokus pada anak sehingga mampu memenuhi kebutuhan mereka, serta
e. sekolah biasa dengan orientasi inklusif (terpadu) ini merupakan sarana paling efektif untuk melawan sikap deskriminatif, menciptakan masyarakat yang mau menerima kedatangan anak luar biasa, membangun masyarakat yang utuh terpadu dan mencapai pendidikan untuk semua, dan lebih-lebih lagi sekolah biasa dapat menyediakan pendidikan yang efektif bagi mayoritas anak-anak serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas biaya bagi seluruh sistem pendidikan.

Contoh Judul Skripsi bagian 3;>>>> Baca

Pengetahuan Dasar dan Keterampilan Musik untuk TK;>>>> Baca

Merancang dan Menerapkan Model Pembelajaran IPS Terpadu dengan Menggunakan Pendekatan Humanistik;>>>> Baca

CONTOH SURAT LAMARAN CPNS UMUM;>>>> Baca

Matematika Alam Semesta;>>>>>>>>> Baca buka semua