Download Ebook Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi

AGAMA ISLAM UNTUK PERGURUAN TINGGI

Buku tersebut berisi:

1 Mengenal Islam (Ma’rifatul Islam)

1.1.Definisi Islam

1.1.1 Islam Menurut Bahasa (Etimologi)

1.1.2 Islam Menurut Terminology (Istilah)

1.2. Kesempurnaan Islam

1.3. Islam adalah Pedoman Hidup

1.4. Islam adalah Solusi

1.5. Karakteristik Islam

1.5.1 Bersumber dari Allah SWT (Rabbaniyyah)

1.5.2 Syari’at Islam Bersifat Seimbang (Tawazuniyyah)

1.5.3 Berlaku untuk Umum atau Mendunia (’alamiyyah)

1.5.4 Bersifat Universal (Syumuliyyah)

1.6 Kisah Teladan Seputar Ma’rifatul Islam

1.7. Evaluasi

2 Mengenal Allah (Ma’rifatullah)

2.1. Urgensi Ma’rifatullah

2.2 Dalil-dalil yang Menunjukkan Eksistensi Allah

2.2.1 Dalil Fitrah (Kecenderungan Bertauhid)

2.2.2. Dalil Akal

2.2.3.Dalil Syar’I (Naqli)

2.3. Jalan untuk Ma’rifatullah

2.3.1. Melalui ayat-ayat Qur’aniyyah

2.3.2. Melalui ayat-ayat kauniyyah

2.4 Kebersamaan Allah (Maiyyatullah) dalam Kehidupan Manusia

2.4.1. Ma’iyah Umum

2.4.2. Ma’iyah Khusus

2.5 Tanda kekuasaan Allah dalam kehidupan manusia dan keberadaan alam

3 Dua Kalimat Syahadat (Syahadatain)

3.1.Makna Syahadat

3.1.1. Keutamaan Syahadat Tauhid

3.1.2. Syahadat Kebenaran

3.2. Urgensi Syahadatain

3.3 Kandungan Syahadat (Madlul Syahadatain)

3.4 Kisah Teladan Seputar Ma’rifatullah

3.5. Evaluasi

4 Mengenal Rasul (Ma’rifatur Rasul)

4.1 Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul (Hajatul Insaan ilarrasul)

4.1.1 Makna Risalah dan Rasul

4.1.2 Tanda-tanda kerasulan Muhammad SAW

4.1.3. Kedudukan Rasulullah SAW

4.2 Sifat-Sifat Dasar Rasulullah SAW

4.2.1.. Jujur (Shiddiq).

4.2.2 Amanah dengan Apa yang Didakwahkan

4.2.3. Menyampaikan (Tabligh)

4.2.4.. Cerdas (Fathanah)

4.3 Kisah Teladan Seputar Ma’rifaur Rasul

4.4. Evaluasi

5 Mengenal Al-Qur’an (Ma’rifatul Qur’an)

5.1. Al-Qur’an telah Ditinggalkan

5.2 Turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an)

5.3. Nama-nama Al-Qur’an

5.4 Meningkatkan Keimanan dengan Al-Qur’an

5.5. Keutamaan Al-Qur’an

5.6 Kisah Teladan Seputar Ma’rifatul Qur`an

5.7. Evaluasi

6 Mengenal Manusia (Ma’rifatul insan)

6.1.Definisi (ta’rif) Insan

6.2. Hakekat Insan (Manusia)

6.3 Potensi Manusia (Thaqatul insan)

6.3.1 Pendengaran, Penglihatan dan Hati

6.3.2. Akal

6.3.3. Jasad

6.4. Hakekat Ibadah

6.4.1. Makna Ibadah

6.4.2. Rukun-rukun Ibadah

6.4.3.. Syarat diterimanya Ibadah

6.4.4. Tujuan Ibadah

6.5 Kisah Teladan Seputar Ma’rifatul Insan

6.6… Evaluasi

7. Shalat dan Philosofinya

7.1.Kedudukan Shalat dalam Islam

7.2.Philosofi Shalat

7.2.1. Untuk Mengingat Allah

7.2.2 Mencegah dari Perbuatan Keji dan Munkar

7.3 Makna-makna Batin dalam Shalat

7.4. Sebab-Sebab Makna Bathin

7.5 Hal-hal yang Dimakruhkan dalam Shalat

7.6 Cara untuk Menghadirkan Hati dalam Shalat

7.7. Kisah Teladan Seputar Shalat

7.8. Evaluasi

8 Zakat

8.1. Pengertian Zakat

8.2 Arahan untuk Menunaikan Zakat

8.3 Jenis-Jenis Harta yang Wajib Zakat

8.4 Orang-orang yang Berhak Menerima Zakat (Mustahik Zakat)

8.5 Syarat-Syarat Dzahir dan Batin dalam Menunaikan Zakat

8.5.1. Syarat-Syarat Dzahir

8.5.2.Syarat-Syarat Bathin

8.6. Kisah Teladan Seputar Zakat

8.7. Evaluasi

9. Shaum dan Filosofinya

9.1. Pengertian Shaum

9.2. Pembagian Shaum

9.2.1. Shaum Wajib

9.2.2.Shaum Sunnah

9.3.Rahasia Shaum

9.3.1.Aspek Ruhiyyah

9.3.2. Aspek Sosial

9.3.3. Aspek Kesehatan

9.4 Syarat-Syarat Batin dalam Shaum

9.5. Kisah Teladan Seputar Shaum

9.6.Evaluasi

10. Haji dan Filosofinya

10.1.Pengertian Haji

10.2.Keutamaan Haji

10.3 Keutamaan Mengeluarkan Biaya Haji

10.4 Menunaikan Ibadah Haji Wajibnya Hanya Satu Kali

10.5 Haji Wajib Dilaksanakan Baik Segera Ataupun Ditangguhkan

10.6.. Etika Pelaksanaan Ibadah Haji

10.7. Adab-Adab Ibadah Haji

10.8 Amal-Amal Batin dalam Melaksanakan Ibadah Haji

10.9. Kisah Teladan Seputar Haji

10.10.Evaluasi

11 Berbuat Baik Kepada Orang Tua (Birrul Walidain)

11.1.Pengertian Birrul Walidain

11.2 Bentuk-Bentuk Birrul Walidain

11.2.1 Bersikap Lemah Lembut kepada Keduanya

11.2.2 Memberi Nafkah kepada Kedua Orang Tua

11.2.3 Meminta Izin kepada Kedua Orang Tua

11.2.4 Mendo’akan Kedua Orang Tua dan Memintakan Ampunan untuk Keduanya

11.2.5 Menghubungkan Persahabatan

11.3. Durhaka Kepada Orang Tua

11.4 Adzab Bagi Pelaku Durhaka kepada Kedua Orang Tua

11.5 Keutamaan (Fadhilah) Birrul Walidain

11.6 Kisah Teladan Seputar Birrul Walidain

11.7. Evaluasi

12 Etika Hubungan dengan Sesama Manusia (Hablum Minannas)

12.1 Pergaulan Sesama Manusia Secara Umum

12.2. Hak-Hak Sesama Muslim

12.2.1. Mengucapkan Salam

12.3.. Memenuhi Undangan

12.4 Memberikan Nasehat kepada Orang yang Memintanya

12.4.1 Mendoakan Seorang Muslim yang Bersin

12.4.2 Menengok Orang Islam Manakala Sakit

12.4.3. Mengantarkan Jenazahnya

12.5 Hak-Hak Kedua Orang Tua dan Anak

12.5.1. Hak-Hak Kedua Orang Tua

12.5.2.Hak-Hak Anak

12.6 Hak-Hak Kerabat dan Sanak Keluarga

12.6.1 Menyambungkan Silaturahim

12.6.2.Memberikan Sedekah

12.6.3. Mengetahui Nasab Kerabat

12.7.Hak-Hak Tetangga

12.8 Kisah Teladan Seputar Hablum Minannas

12.9. Evaluasi

13 Menjaga Lisan (Hifzhul Lisan)

13.1 Hal-Hal yang Membahayakan Lisan

13.1.1Membicarakan Sesuatu Yang Tidak Bermanfaat

13.1.2 Ucapan-Ucapan yang Berlebihan

13.1.3. Larut dalam Kebatilan

13.1.4. Bertengkar dan Berdebat

13.1.5. Bermusuh-musuhan

13.1.6 Memaksakan Perkataan Kepada Orang Lain

13.1.7 Berkata Keji, Kasar Melaknat dan Memaki

13.1.8. Menyanyi dan Bersyair

13.1.9.Bercanda/Bersenda Gurau

13.1.10 Memperolok-Olok dan Mengejek

13.1.11 Membeberkan Rahasia Orang Lain

13.1.12.Janji Dusta

13.1.13 Dusta dalam Berkata dan Bersumpah

13.1.14.Menggunjing (Ghibah)

13.1.15 Mengadu Domba (Namimah)

13.1.16 Ucapan Orang Yang Berlidah Dua

13.1.17.Memuji (Menyanjung)

13.1.18 Kisah Teladan Seputar Menjaga Lisan

13.1.19.Evaluasi

  • Anda yang menginginkan buku tsb silakan;>>>DOWNLOAD
  • BAB II LANDASAN TEORI Analisis Psikologi Sastra dalam Novel Bumi Cinta

    BAB II LANDASAN TEORI
    Analisis Psikologi Sastra dalam Novel Bumi Cinta
    Karya Hesti Lisiawati Mahasiswa UBT

    A. Unsur Pembangun Novel
    Ahli sastra sering menyebut prosa dengan istilah fiksi, istilah fiksi dipergunakan untuk menyebut
    karya sastra yang isinya perpaduan antara kenyataan dan imajinasi. Fiksi yang baik menggambarkan kehidupan yang mengundang simpati pembaca, tanggapan pembaca, dan mendidik moral pembaca.
    Seperti sebuah novel yang merupakan suatu totalitas mempunyai bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berkaitan dengan yang lain secara erat dan saling bergantung. Unsur-unsur inilah yang kemudian menjadi pembangun sebuah novel, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.
    Unsur intrinsik ialah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah
    yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan
    dijumpai jika orang membaca karya sastra.
    Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra namun mempengaruhi kehadiran karya sastra sebagai karya seni. Unsur ekstrinsik karya fiksi sebagai aspek yang berada di luar sastra seolah-olah berpisah atau berdiri sendiri dan tidak memiliki kaitan dengan unsur intrinsik.
    Namun sebenarnya antara unsur intrinsik dan ekstrinsik itu saling berhubungan tidak terlepas antara yang satu dengan yang lain. Unsur ekstrinsik antara lain aspek historis yaitu kaitannya antara sastra dan latar belakang sejarah, aspek sosiologis berkaitan antara sastra dengan masyarakat dalam berinteraksi satu dengan yang lain, aspek psikologis yang berkaitan antara sastra dengan kejiwaan manusia, aspek budaya yang berkaitan antara sastra dengan adat istiadat atau kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, aspek agama/religius kaitannya dengan sastra sangat erat karena keyakinan adanya nilai religius dalam karya sasrta sudah ada sejak lama, keyakinan adanya nilai religius dalam karya sastra merupakan akibat logis dari kenyataan bahwa sastra dari pengarang yang homoreligius (dalam skripsi Chairiah, 2010:19-20).

    Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa unsur pembangun novel ada dua,
    yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur tersebut memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lain untuk menciptakan suatu karya sastra yang bernilai seni.

    B. Tokoh dan Penokohan
    Struktur yang hendak dikaji dalam novel ini hanya akan dititikberatkan pada tokoh dan penokohan.
    Tokoh dalam suatu cerita rekaan merupakan unsur penting yang menghidupkan cerita. Kehadiran tokoh
    dalam cerita berkaitan dengan terciptanya konflik, dalam hal ini tokoh berperan membuat konflik dalam sebuah cerita rekaan (Wiyatmi, 2006: 30).
    Pembicaraan mengenai penokohan dalam cerita rekaan memiliki keterkaitan dengan tokoh. Istilah
    ‘tokoh’ menunjuk pada pelaku dalam cerita sedangkan ‘penokohan’ menunjukkan pada sifat, watak atau karakter yang melingkupi diri tokoh yang ada. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Wiyatmi, 2006: 31).
    Penokohan dapat juga dikatakan sebagai proses penampilan tokoh sebagai pembawa peran watak
    tokoh dalam suatu cerita. “Penokohan harus mampu menciptakan citra tokoh. Oleh karena itu, tokohtokoh harus dihidupkan” (Wardani, 2009: 40).
    Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan. Penciptaan citra
    atau karakter ini merupakan hasil imajinasi pengarang untuk dimunculkan dalam cerita sesuai dengan keadaan yang diinginkan.
    Penokohan dalam cerita dapat disajikan melalui dua metode, yaitu metode langsung (analitik) dan
    metode tidak langsung (dramatik). Metode langsung (analitik) adalah teknik pelukisan tokoh cerita
    yang memberikan deskripsi, uraian atau penjelasan langsung. Pengarang memberikan komentar tentang tokoh cerita berupa lukisan sikap, sifat, watak, tingkah laku, dan ciri fisiknya. Metode tidak langsung (dramatik) adalah teknik pengarang mendeskripsikan tokoh dengan membiarkan tokoh-tokoh tersebut saling menunjukkan kepribadiannya masing-masing, melalui berbagai aktivitas yang dilakukan baik secara verbal maupun nonverbal, seperti tingkah laku, sikap dan peristiwa yang terjadi (Wiyatmi, 2006:32).
    Setiap tokoh mempunyai wataknya sendiri-sendiri. Tokoh adalah bahan yang paling aktif menjadi
    penggerak jalan cerita karena tokoh ini berpribadi, berwatak, dan memiliki sifat-sifat karakteristik tiga dimensional, yaitu :

    1. Dimensi fisiologis ialah ciri-ciri badan, misalnya usia (tingkat kedewasaan), jenis kelamin, keadaan tubuhnya, ciri-ciri muka dan ciri-ciri badani yang lain.
    2. Dimensi sosiologis ialah ciri-ciri kehidupan masyarakat, misalnya status sosial, pekerjaan, jabatan atau peran dalam masyarakat, tingkat pendidikan, pandangan hidup, agama, sosial, suku bangsa dan keturunan.
    3. Dimensi psikologis ialah latar belakang kejiwaan, misalnya mentalitas, ukuran moral, temperamen, keinginan, perasaan pribadi, IQ dan tingkat kecerdasan keahlian khusus (Wardani, 2009: 41).

    C. Psikologi Sastra
    Psikologi berasal dari perkataan Yunani ‘psyche’ yang artinya jiwa, dan ‘logos’ yang artinya ilmu
    pengetahuan. Jadi secara etimologis (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari
    tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi.Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik (Ahmadi, 2003: 1). Psikologi sastra merupakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan segi-segi kejiwaan dan menyangkut batiniah manusia. Lewat tinjauan psikologi akan nampak bahwa fungsi dan peran sastra adalah untuk menghidangkan citra manusia yang seadil-adilnya dan sehidup-hidupnya atau paling sedikit untuk memancarkan bahwa karya sastra pada hakikatnya bertujuan untuk melukiskan kehidupan manusia (Endraswara, 2008: 6).
    Dengan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa Psikologi sastra adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara sastra dengan kejiwaan. Dalam penelitian ini, ada beberapa peristiwakejiwaan yang perlu dipahami antara lain.

    a. Konflik
    Konflik terjadi bila ada tujuan yang ingin dicapai sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
    Konflik terjadi akibat perbedaan yang tidak dapat diatasi antara kebutuhan individu dan
    kemampuan potensial. Konflik dapat diselesaikan melalui keputusan hati. Konflik dapat dibagi
    menjadi empat macam, yaitu:

    1) Approach-approach conflict, yaitu konflik-konflik psikis yang dialami oleh individu karena
    individu tersebut mengalami dua atau lebih motif yang positif dan sama kuat. Misalnya, seorang
    mahasiswa pergi kuliah atau menemui temannya karena sudah berjanji.

    2) Approach avoidance conflict, yaitu konflik psikis yang dialami individu karena dalam waktu
    yang bersamaan menghadapi situasi yang mengandung motif positif dan motif negatif yang sama kuat. Misalnya, mahasiswa diangkat menjadi pegawai negeri (positif) di daerah terpencil (negatif).

    3) Avoidance-avoidance conflict, yaitu konflik psikis yang dialami individu karena menghadapi
    dua motif yang sama-sama negatif dan sama-sama kuat. Misalnya, seorang penjahat yang tertangkap dan harus membuka rahasia kelompoknya dan apabila ia melakukan akan mendapat ancaman dari kelompoknya.

    4) Double approach avoidance conflict, yaitu konflik psikis yang dialami individu karena
    menghadapi dua situasi yang masing-masing mengandung motif negatif dan motif positif yang
    sama kuat. Misalnya, seorang mahasiswa harus menikah dengan orang yang tidak disukai
    (negatif) atau melanjutkan studi (positif).

    D. Teori Kepribadian Psikoanalisis Sigmund Freud
    Psikologi lazim disebut sebagai psikoanalisa, yang menekankan penyelidikannya pada proses
    kejiwaan dalam ketidaksadaran manusia. Dalam ketidaksadaran inilah menurut Freud berkembang
    insting hidup yang paling berperan dalam diri manusia yaitu insting seks, dan selama tahun-tahun
    pertama perkembangan psikoanalisa, segala sesuatu yang dilakukan manusia dianggap berasal dari
    dorongan ini. Seks dan insting-insting hidup yang lain, mempunyai bentuk energi yang menopangnya
    yaitu libido yang artinya syahwat yang bersifat naluri (Gardner, 1993: 73).
    Struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu id, (das es), ego (das ich), dan super ego (das ueber ich). Perilaku manusia pada hakikatnya merupakan hasil interaksi substansi dalam kepribadian manusia id, ego, dan super ego yang ketiganya selalu bekerja, jarang salah satu di antaranya terlepas atau bekerja sendiri.

    1. Id adalah aspek biologis yang merupakan sistem asli dalam kepribadian, dari sini aspek kepribadian yang lain tumbuh. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir dan yang menjadi pedoman id dalam berfungsi adalah menghindarkan diri dari ketidaknyamanan dan mengejar kenikmatan. Untuk mengejar kenikmatan itu id mempunyai dua cara, yaitu: tindakan refleks dan proses primer, tindakan refleks seperti bersin atau berkedip, sedangkan proses primer seperti saat orang lapar membayangkan makanan.

    2. Ego adalah adalah aspek psikologis dari kepribadian yang timbul karena kebutuhan individu untuk berhubungan baik dengan dunia nyata. Dalam berfungsinya ego berpegang pada prinsip kenyataan
    atau realitas. Ego dapat pula dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol
    jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya. Dalam berfungsinya sering kali ego harus mempersatukan pertentangan-pertentangan
    antara id dan super ego. Peran ego ialah menjadi perantara antara kebutuhan-kebutuhan instingtif
    dan keadaan lingkungan.

    3. Super ego adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta citacita masyarakat sebagaimana yang ditafsirkan orang tua kepada anaknya lewat perintah-perintah atau larangan-larangan. Super ego dapat pula dianggap sebagai aspek moral kepribadian, fungsinya menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, pantas atau tidak, sesuai dengan moralitas yang berlaku di masyarakat. Fungsi pokok super ego adalah merintangi dorongan id terutama dorongan seksual dan agresif yang ditentang oleh masyarakat. Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralistis dari pada realistis, dan megejar kesempurnaan. Jadi super ego cenderung untuk menentang id maupun ego dan membuat konsepsi yang ideal.
    Demikianlah struktur kepribadian menurut Freud, yang terdiri dari tiga aspek yaitu id, ego dan
    super ego yang ketiganya tidak dapat dipisahkan. Secara umum, id bisa dipandang sebagai komponen
    biologis kepribadian, ego sebagai komponen psikologisnya sedangkan super ego adalah komponen
    sosialnya.

    E. Novel
    Novel berasal dari bahasa latin yaitu novellus dibentuk dari kata novus yang berarti baru.
    Dikatakan baru karena bentuk novel adalah bentuk karya sastra yang datang dari bentuk karya sastra
    lainnya seperti puisi dan drama. Sedangkan dari bahasa Italia yaitu novella yang artinya cerita pendek dalam bentuk prosa. Kehadiran novel sebagai bentuk salah satu karya sastra berawal dari kesusastraan Inggris pada awal abad ke-18. Timbulnya akibat pengaruh tumbuhnya filsafat yang dikembangkan John Locke (1632-1704) yang menekankan pentingnya fakta atau pengalaman (dalam skripsi Chairiah 2010:17).
    Suyitno (dalam skripsi Chairiah 2010: 17) menyatakan novel adalah sastra cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang mewakili dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut.
    Tarigan (2000: 164) menyatakan bahwa novel adalah suatu cerita dengan suatu alur cukup panjang
    mengisi satu buku atau lebih yang menggarap kehidupan pria dan wanita yang bersifat imajinatif.
    Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa novel adalah suatu
    cerita prosa yang panjang dengan alur cukup panjang yang melukiskan kehidupan pelaku mulai waktu muda sampai mereka menjadi tua yang masih memiliki nilai-nilai otentik.

    Contoh Jenis Pertanyaan Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

    Contoh Jenis Pertanyaan Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

    Sering kita mengamati guru yang mengajukan banyak pertanyaan dalam proses pembelajarannya di dalam kelas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang sangat banyak sehingga terkesan bahwa guru itu sedang menguji siswanya. Namun, apabila dicermati, jenis-jenis pertanyaan yang dilontarkan hanya sebatas pertanyaan yang membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, atau pertanyaan yang membutuhkan hanya satu jawaban tertentu. Pertanyaan tersebut sama sekali tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir kreatif, yaitu kurang menuntut siswa untuk mengemukakan gagasannya sendiri.
    Jenis pertanyaan yang diajukan atau tugas yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berpikir siswa. Pertanyaan/tugas tersebut bukan hanya untuk memfokuskan siswa pada kegiatan, tetapi juga untuk menggali potensi belajar mereka. Pertanyaan atau tugas yang memicu siswa untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif.
    Kondisi di atas akan terjadi apabila guru cukup selektif dalam menggunakan jenis pertanyaan yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa. Pada tahun 1950, Benjamin S. Bloom memperkenalkan konsep tingkatan dalam berpikir. Tingkatan berpikir tersebut dapat dipakai guru dalam menyusun pertanyaan atau tugas yang akan diberikan kepada siswa. Berikut adalah tingkatan berpikir Bloom versi perbaikan.


    Mengkreasi

    Menghasilkan ide-ide baru, produk, atau cara memandang terhadap sesuatu.
    Kegiatan: mendisain, membangun, merencanakan, menemukan.


    Mengevaluasi

    Menilai suatu keputusan atau tindakan.
    Kegiatan: memeriksa, membuat hipotesa, mengkritik, bereksperimen, memberi penilaian.


    Menganalisis

    Mengolah informasi untuk memahami sesuatu dan mencari hubungan.
    Kegiatan: membandingkan, mengorganisasi, menata ulang, mengajukan pertanyaan, menemukan.


    Menerapkan

    Menggunakan informasi dalam situasi lain.
    Kegiatan: menerapkan, melaksanakan, menggunakan, melakukan..


    Memahami

    Menerangkan ide atau konsep.
    Kegiatan: menginterpretasi, merangkum, mengelompokkan, menerangkan.


    Mengingat

    Kegiatan: mengenali, membuat daftar, menggambarkan, menyebutkan

    Coba cermmati contoh pertanyaan/tugas berdasarkan tingkatan berpikir Taksonomi Bloom

    Mata Pelajaran Matematika
    Bangun 3 Dimensi

    Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
    Rancanglah suatu bangun baru yang memiliki bagian-bagian yang berasal dari bangun yang kamu pilih tadi. Beri nama untuk bangun barumu dan namailah bagian-bagiannya.

    Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
    Menurutmu, apakah bangun tersebut tepat digunakan di tempat kamu menemukannya
    tadi? Mengapa?

    Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
    Terangkan mengapa bangun tadi digunakan di tempat dimana kamu menemukannya.

    Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
    Gambarlah bangun yang kamu pilih tadi.

    Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
    Carilah benda-benda yang memiliki bentuk yang sama dengan bangun yang kamu
    pilih tersebut.

    Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
    Sebutkan ciri-ciri dari bangun yang kamu pilih.

    Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
    Serangga

    Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
    Buatlah jenis serangga baru dari bagian-bagian tubuh serangga yang ada. Gambar dan beri nama bagian-bagian tersebut.

    Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
    Kalau kamu ingin menjadi serangga, serangga apa yang jadi pilihanmu? Sebutkan alasannya, paling sedikit lima alasan.

    Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
    Pilih dua macam serangga, bandingkan. Tulislah hasil perbandinganmu.

    Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
    Wawancarailah 10 orang untuk mengetahui serangga yang paling tidak disukai. Buatlah
    grafik dari hasil wawancara tersebut dan simpulkan hasilnya.

    Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
    Pilihlah satu nama serangga. Buatlah 10 pernyataan tentang serangga tersebut.
    5 pernyataan tentang fakta dari serangga tersebut dan 5 lainnya merupakan opini. Tulis di atas kertas yang berbeda. Berikan kepada temanmu dan minta temanmu untuk
    memeriksa pekerjaanmu.

    Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
    Buatlah daftar nama-nama serangga, kelompokkan berdasarkan jenis serangga yang
    membahayakan dan tidak membahayakan.

    Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
    Pasar

    Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
    Buatlah usulan perubahan/perbaikan yang dapat membuat pasar di sekitar rumahmu
    menjadi lebih baik. Kirimkan surat itu kepada pemerintah setempat.

    Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
    Setujukah kamu apabila semua pasar tradisional diganti dengan pasar modern? Mengapa?

    Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
    Bandingkan kondisi beberapa jenis pasar, carilah apa saja kekuatan dan kelemahan masingmasing jenis pasar?

    Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
    Misalkan kamu adalah salah seorang anggota Panitia Peringatan Kemerdekaan RI di
    sekolahmu dan merencanakan untuk membuat pesta. Buatlah daftar barang-barang yang kamu butuhkan dan putuskan di pasar jenis apa kamu akan membelinya. Berikan alasanmu.

    Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
    Cari nama-nama pasar yang kamu ketahui dan kelompokkan menurut jenisnya.

    Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
    Sebutkan jenis-jenis pasar yang kamu ketahui dan ciri-cirinya.

    Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
    Sempurna

    Kau begitu sempurna
    Di mataku kau begitu indah
    Kau membuat diriku
    Akan selalu memujamu
    Di setiap langkahku
    ku kan selalu merindukan dirimu
    Tapi satu bayangkan hidup tanpa cintamu
    Janganlah kau tinggal diriku
    Ku tak akan mampu semua
    Hanya bersamamu ku akan bisa
    Kau adalah darahku
    Kau adalah jantungku
    Kau adalah hidupku
    Engkau di diriku, oh sayangku
    Engkau begitu sempurna
    Dinyanyikan oleh: Gita Gutawa


    Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
    Tulislah sebuah puisi tentang seseorang yang kamu kirimi surat!

    Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
    Selama ini sikap baik apa yang sudah kamu lakukan kepada seseorang yang kamu kirimi surat?

    Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
    Bandingkan perasaanmu antara kepada temanmu dengan kepada seseorang yang kamu kirimi surat!

    Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
    Tulislah surat untuk seseorang, mungkin ibu atau gurumu yang sesuai dengan isi lagu tersebut!

    Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
    Rangkumlah isi lagu tersebut!

    Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
    Temukan dua kata yang bermakna kias!

    Mata Pelajaran Bahasa Inggris
    Kancil and Crocodile

    Kancil was a clever mousedeer. He had many enemies. One of them was Crocodile. Crocodile lived in a river in the forest. Now, one day, Kancil went to the river. It was a very hot day, and he wanted to have a bath. Kancil bathed and splashed about in the water. Crocodile saw Kancil. “A nice meal,” he thought. Then, he crawled behind Kancil
    and grabbed him. He caught one of Kancil’s legs. Kancil was errified. Then, he had an idea. He saw a twig floating near him. He picked it up and said, “You stupid fool! So you think you’ve got me. You’re biting a twig – not my leg. Here, this is my leg.” And with that, he showed Crocodile the twig. Crocodile could not see well. He was a very stupid creature, too. He believed the cunning mouse-deer. He freed the mousedeer’s leg and snapped upon the twig. Kancil ran out of the water immediately.” Ha! Ha!” he laughed.
    “I tricked you!”.

    Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
    Compose a letter of apology from Kancil to Crocodile.

    Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
    Do you think Kancil has done the right thing? Why?

    Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
    In what ways are Kancil and Crocodile different?

    Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
    Change the sentences in one of the paragraphs into the present tense.

    Pada tingkatan berpikir memahami contoh:
    What examples from the story show that Kancil was a cunning animal?

    Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
    Why did Kancil go to the river?

    Contoh Judul Skripsi Bidang Olah Raga

    Contoh Judul Skripsi Bidang Olah Raga


    1.HUBUNGAN KEKUATAN OTOT PERUT DAN KELENTUKAN TOGOK DENGAN KEMAMPUAN MENYUNDUL BOLA POSISI BERDIRI

    2.HUBUNGAN KETERAMPILAN MOTORIK DENGAN HASIL MENENDANG BOLA KE ARAH GAWANG

    3. HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT PERUT, DAYA LEDAK OTOT LENGAN BAHU, DAN KEKUATAN OTOT PERAS DENGAN HASIL PUKULAN SMASH PADA PEMAIN PEMULA

    4. SUMBANGAN KECEPATAN KELINCAHAN DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI TERHADAP HASIL TENDANGAN JARAK JAUH MELAMBUNG KURA-KURA KAKI BAGIAN DALAM

    5. SURVAI TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWI KELAS II SMK PANGUDI LUHUR TARCISIUS SEMARANG

    6. POLA PEMBINAAN PRESTASI ATLET PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PELAJAR DI SALATIGA

    7. SURVAI TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA KELAS II SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI SE KECAMATAN BREBES KABUPATEN BREBES

    8. SURVEI TINGKAT KESEHATAN PRIBADI SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SEPULUH NOPEMBER 2 SEMARANG

    9. SUMBANGAN KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PRESTASI RENANG GAYA DADA

    10. HUBUNGAN ANTARA KESEGARAN JASMANI DAN TES EVALUASI BELAJAR KETRAMPILAN BULUTANGKIS DENGAN KEMAMPUAN BERMAIN BULUTANGKIS PADA PEMAIN PUTRA

    11. HUBUNGAN KESEGARAN JASMANI DENGAN KETRAMPILAN TAEGUK PADA TAEKWONDOIN PPUTRA PRAYUNIOR SABUK BIRU KOTA SEMARANG

    12. PENGARUH LATIHAN BERANGKAI 4 POS TERHADAP TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA PUTRI KELAS IV DAN V SD

    13 PENGARUH LATIHAN BERANGKAI 4 POS TERHADAP TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA PUTRA KELAS V SD

    14.PENGARUH LATIHAN SENAM AYO BERSATU TERHADAP TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA PUTERA KELAS IV DAN KELAS V SEKOLAH DASAR

    15.HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN (STRENGHT) OTOT LENGAN DAN KEKUATAN (STRENGHT) OTOT TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN TEKNIK ANGKATAN KAKI PADA PEGULAT KOTA

    16. Status Gizi Dan Tingkat Kesegaran Jasmani Anak Dari Keluarga Pra-Sejahtera

    17. MANAJEMEN PENGURUS DAERAH PERSATUAN SEPAKBOLA SELURUH INDONESIA (PENGDA PSSI) JAWA TENGAH

    18. MOTIVASI PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DALAM MENGIKUTI KEGIATAN OLAHRAGA PADA ANGGOTA PERSATUAN DIABETES INDONESIA (PERSADIA)

    19. MANAJEMEN KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA (KONI) PROPINSI JAWA TENGAH

    20. TINGKAT KESEGARAN JASMANI ANGGOTA PAGUYUBAN LANSIA SEHAT DI KECAMATAN CANDISARI SEMARANG

    21. HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KELINCAHAN DENGAN KECEPATAN MENGGIRING BOLA PADA SISWA

    22. PERBEDAAN LATIHAN SMESH KEDENG ANTARA BOLA DIGANTUNG DAN DIUMPAN DENGAN KAKI TERHADAP KEMAMPUAN SMESH SEPAK TAKRAW BAGI PEMAIN YUNIOR PUTERA KLUB PADANG JAGAD KABUPATEN DEMAK

    23. HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KELENTUKAN PERGELANGAN KAKI DENGAN KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA PADA PERMAINAN SEPAKBOLA BAGI PEMAIN KLUB INVESTINDO PURBALINGGA

    24. HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DENGAN START RENANG GAYA KUPU-KUPU PADA ATLET PERKUMPULAN RENANG SPECTRUM SEMARANG

    25. PENGARUH LATIHAN LOMPAT DENGAN RINTANGAN DAN MERAIH SASARAN DIATAS TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

    26. PERBANDINGAN PENGARUH FREKUENSI LATIHAN SENAM KESEGARAN JASMANI USIA SEKOLAH DASAR ANTARA TIGA KALI DENGAN EMPAT KALI DALAM SATU MINGGU TERHADAP TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA PUTRI KELAS VI SD

    27. PERBANDINGAN HASIL TENDANGAN BOLA ANTARA TUNGKAI PANJANG DAN TUNGKAI PENDEK PADA PEMAIN SEPAK BOLA SENIOR

    28. PERBEDAAN HASIL LATIHAN FOREHAND DRIVE MENGGUNAKAN ARAH BOLA DEPAN BELAKANG DAN POSISI PEMAIN MAJU MUNDUR TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN FOREHAND DRIVE TENIS LAPANGAN PADA PETENIS PUTRA

    29. PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI BERGANTIAN DENGAN DUA KAKI TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA KELAS V

    30. PENGARUH LATIHAN JUMP SHOOT DARI SISI KANAN DAN KIRI PADA POSISI 150 TERHADAP HASIL TEMBAKAN PADA SISWA PUTRA EKSTRAKURIKULER BOLA BASKET

    31.HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI, PANJANG TUNGKAI DAN KECEPATAN DRIBEL BERLARI DENGAN HASIL LAY UP SHOOT

    32. HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT PERUT DAN KETERAMPILAN TIMANG -TIMANG BOLA TERHADAP KETEPATAN TENDANGAN KEARAH GAWANG

    33. PENGARUH LATIHAN AWALAN 9 DAN 11 LANGKAH TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRI SD NEGERI BANJAREJO KECAMATAN BOJA KABUPATEN KENDAL TAHUN PELAJARAN

    34. PENGARUH LATIHAN LONCAT KATAK DAN LONCAT NAIK TURUN BANGKU TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA KELAS V SD NEGERI KALIREJO 01 KEC. UNGARAN KAB.SEMARANG

    35. HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KELENTUKAN PERGELANGAN TANGAN DENGAN HASIL TEMBAKAN BEBAS DALAM PERMAINAN BOLA BASKET

    Kiat Menjadi Fasilitator Pelatihan yg Handal

    Kiat Menjadi Fasilitator Pelatihan yg Handal

    Seorang fasilitator harus menguasai berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan agarmampu memberikan fasilitasi yang optimal kepada peserta pelatihan. Secara garis besar, ada tiga tahapan yang harus dilakukan oleh fasilitator yang efektif yaitu (1) Tahap persiapan; (2) Tahap pelaksanaan, dan (3) Tahap pasca-pelaksanaan.
    Pada tahap persiapan, seorang fasilitator harus mampu menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan untuk memperlancar pelaksanaan pelatihan. Persiapan di sini termasuk penyiapan dari segi fisik maupun non fisik yang digunakan selama proses pelatihan. Persiapan yang baik dan matang akan sangat mempengaruhi keberhasilan tahap berikutnya sekaligus memberikan kontribusi yang berarti terhadap keberhasilan pelatihan secara menyeluruh.

    Walaupun perencanaan sudah dilakukan dengan baik, namun apabila pelaksanaannya tidak sesuai dengan rencana, maka sangat mungkin tujuan pelatihan tidak akan bisa dicapai dengan baik.
    Banyak hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh fasilitator selama
    pelaksanaan pelatihan agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal.
    Setelah pelaksanaan pelatihan selesai, bukan berarti semua proses telah selesai. Fasilitator masih mempunyai tugas lain yang harus dilakukan. Fasilitator harus mengetahui sejauh mana ketercapaian pelatihan, menemukenali berbagai permasalahan yang muncul selama pelatihan, menindaklanjuti hasil dan masalah yang terjadi selama pelatihan, dan lain sebagainya.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang fasilitator dalam melaksanakan program pelatihan:

    1. Sedapat mungkin patuhilah rencana sekuen panduan pelatihan

    Setelah sekuen panduan disusun dengan mempertimbangkan beberapa faktor yang mungkin timbul dan mempengaruhi tercapai tidaknya program panduan. Karena itu, hindarilah penyimpangan dari rencana sekuen panduan, terutama bagi pemandu pemula. Pemandu yang telah berulang kali menjalankan program panduan, sering kali mampu menyiapkan dan mengembangkan alternatif sekuen panduan, menukar sekuen latihan karena melihat peluang-peluang belajar yang
    timbul selama proses pelatihan berlangsung.

    2. Hafalkan nama peserta

    Berusahalah untuk memanggil peserta dengan nama mereka (siapkan label nama peserta yang
    terbaca). Hal ini mengurangi rasa formil yang seringkali menimbulkan ketegangan dan secara tidak
    langsung menghambat proses pembelajaran.

    3. Libatkan peserta secara aktif
    Usahakan agar peserta terlibat aktif mulai mencari, menggali data, menganalisis alternatif temuan,memecahkan masalah, mengambil keputusan atau simpulan. Biarkan peserta mengambil simpulan
    sendiri, pertanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu, kuatkan dan
    tekankan simpulan itu.
    4. Jangan tergesa-gesa menjawab pertanyaan

    • jangan jawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya.
    •• jangan jawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya.
    •• jangan jawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh pemandu. Bila jawaban itu
    mungkin diberikan oleh peserta lain, biarkan peserta lain menjawab pertanyaan itu. Bila
    jawaban terhadap pertanyaan itu dapat diberikan peserta dan mereka tidak menyadari
    data tertentu, ingatkan peserta pada data tersebut, dan biarkan mereka menjawab itu.

    5. Hindari perdebatan dengan peserta

    Hal ini dimaksudkan agar sekuen panduan yang telah disusun dapat tercapai tidak menyimpang
    dan waktu habis untuk berdebat. Selain itu, aktivitas peserta akan terhambat gara-gara kita terpancing perdebatan. Lemparkan saja pada peserta lain bila ada perbedaan persepsi terhadap
    suatu masalah tertentu.

    6. Ajukan pertanyaan sesering mungkin

    Kenyataan bahwa peserta dapat belajar melalui kegiatan menjawab pertanyaan, dan hal ini memberikan peserta lebih banyak kepuasan daripada jika ia langsung diberitahukan materi pembelajaran yang harus ia terima begitu saja. Sehubungan dengan itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengajukan pertanyaan.
    •• Ajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta. Jangan mengajukan pertanyaan yang terlalu sulit, sehingga peserta menjadi “resah” karena tidak bisa menjawab.
    •• Jangan ajukan pertanyaan yang terlalu mudah. Dengan pertanyaan yang terlalu mudah
    mengurangi motivasi peserta untuk memberikan jawabannya, dan seringkali peserta jadi ragu
    apakah jawaban yang ia pikirkan adalah jawaban yang benar.
    •• Ajukan pertanyaan secara sistematis. Jawaban terhadap pertanyaan pertama hendaknya
    merupakan data yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan kedua, dan jawaban
    terhadap pertanyaan kedua hendaknya merupakan data bagi jawaban terhadap pertanyaan
    ketiga demikian seterusnya. Sebaliknya, bila suatu pertanyaan tidak dapat segera dijawab oleh
    para peserta, ajukan pertanyaan lain yang lebih mudah. Hal ini dapat digunakan sebagai bahan
    untuk menjawab pertanyaan yang lebih sukar.

    7. Gunakan umpan balik (feed back)

    Dalam melaksanakan program pelatihan, kita perlu mencari tahu apakah peserta telah menangkap
    hal-hal yang telah kita sampaikan. Karena itu, kita perlu mencari dan memanfaatkan umpan balik
    (feed back). Umpan balik bisa berasal dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta, sikap
    mereka dalam mengikuti program pelatihan, saran-saran yang mereka kemukakan, bahkan dari ’air muka’ mereka.

    8. Sadari keterbatasan Anda

    Jangan melakukan hal-hal di luar batas kemampuan Anda. Jangan mencoba menjelaskan hal-hal
    yang tidak Anda pahami. Persiapkan diri Anda sebelum memulai kegiatan dan yang paling penting:
    Jangan Pernah Mengira bahwa Andalah Orang Terpandai di dalam Kelas. Dalam beberapa hal tertentu, mungkin ada peserta yang lebih menguasai bahan dari pada Anda. Jangan musuhi orang ini, gunakan dia sebagai pembantu Anda.

    Sebagai koordinator dan anggota tim pelatihan, seorang fasilitator mempunyai tugas yang sangat kompleks. Mulai dari tugas menyiapkan bahan pelatihan, melaksanakan pelatihan, mengevaluasi hasil pelatihan dan jurnal. Adakalanya seorang fasilitator memberi perintah, menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, melakukan pencatatan, mengundang tanggapan, memberi konfirmasi, memancing data, merangkai induksi, memberi konsekuensi.
    Tugas dan Aktivitas Fasilitator

    1. Menyiapkan bahan pelatihan.
    Banyak fasilitator pemula yang mengira bahwa tugas menyiapkan bahan pelatihan hanya terbatas pada pengecekan peralatan yang dibutuhkan. Hal ini menyebabkan mereka memasuki ruang pelatihan tampak sungguh-sungguh siap untuk memandu proses belajar, yang sebetulnya membutuhkan persiapan yang betul-betul matang.

    Berikut ini ada beberapa tugas minimal yang seharusnya dikerjakan fasilitator sebagai bagian dari persiapan pelatihan.
    a. Mempelajari rencana pelatihan
    Karena tidak semua tujuan pelatihan telah terumuskan secara baik, fasilitator tidak cukup hanya membaca apa yang yang tersurat dalam tujuan pelatihan. Fasilitator harus mempelajari rencana
    pelatihan dengan lebih seksama untuk mengantisipasi berbagai hal yang mungkin muncul selama kegiatan pelatihan berlangsung. Antisipasi itu perlu agar fasilitator tidak mengalami kesulitan dalam memandu pelatihan sesuai rencana.

    b. Menyiapkan kerangka diskusi
    Diskusi yang berlangsung antara fasilitator dengan peserta, peserta dengan peserta selama
    pelatihan, bukan diskusi bebas tetapi bertujuan. Untuk itu, diskusi (pasangan, kelompok, kelas/
    pleno) seharusnya mengikuti alur yang sudah direncanakan, yaitu:
    •• mengumpulkan fakta-fakta / temuan-temuan.
    •• penyaringan fakta/temuan yang relevan dengan tujuan pelatihan
    • mengaitkan fakta/temuan menjadi suatu simpulan
    •• mengaitkan simpulan dengan kehidupan sehari-hari Agar diskusi berjalan sesuai dengan alur yang direncanakan, maka fasilitator bertugas menyiapkan kerangka diskusi dengan mempertimbangkan:
    •• fakta / temuan apa yang seharusnya dimunculkan/terungkap dalam diskusi?
    • pertanyaan-pertanyaan apa yang perlu dikemukakan untuk memperbesar terungkapnya fakta/temuan tersebut?
    • bagaimana cara menghubungkan fakta/temuan tersebut menjadi suatu simpulan?
    •• mengungkap contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari peserta untuk memperjelas
    pemahaman terhadap konsep yang dibahas.

    c. Menyiapkan kerangka observasi
    Penyiapan kerangka observasi akan lebih mudah dilakukan bila fasilitator benar-benar memahami struktur dari kegiatan yang akan berlangsung.
    d. Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
    Di kalangan fasilitator senior ada pomeo yang berbunyi “Seorang fasilitator harus mampu menggunakan peralatan apapun untuk menjalankan ide-idenya”. Hal ini tidak salah, karena seorangfasilitator tidak boleh terlalu tergantung pada peralatan. Akan tetapi, bila peralatan itu tidaksukar untuk diperoleh, sebaiknya tidak menggunakan pomeo itu untuk menutupi kemalasannya.

    2. Melaksanakan pelatihan fasilitator
    Dalam melaksanakan pelatihan tugas fasilitator dapat dirinci a.l. sebagai berikut: memberiperintah/instruksi, mengamati kegiatan peserta, memimpin diskusi dan memberi ceramah singkat, memberikan komentar, mempertanyakan pendapat, memuji, memberi penguatan, dan memberi umpan balik.

    3. Memberi instruksi/perintah
    Karena progam pelatihan umumnya merupakan progam belajar melalui kegiatan, maka dengan
    sendirinya ada sejumlah besar kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta. Kegiatan yang akan
    dilakukan peserta sesungguhnya kegiatan-kegiatan yang sengaja diberikan dengan harapan agar
    muncul sejumlah temuan/fakta yang dapat digunakan untuk mendukung simpulan-simpulan
    tertentu. Untuk memperbesar kemungkinan munculnya temuan/fakta yang diharapkan, fasilitator harus memberikan instruksi (untuk melakukan kegiatan ybs.) secara seksama.

    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian instruksi al:

    a. peserta perlu tahu hasil (out-put) yang diharapkan dari mereka.
    b. peserta perlu tahu sistem-skoring yang berlaku (kalau ada perhitungan nilai)
    c. peserta perlu tahu tata-tertib yang berlaku, baik yang menyangkut batas waktu, maupun
    aturan lain seperti boleh tidaknya mereka berbicara dengan teman, boleh tidaknya bertanya
    pada fasilitator setelah mulai bekerja dsb.
    d. Peserta harus mendapat jawaban/penjelasan mengenai hal-hal yang mereka tanyakan.
    e. Instruksi perlu disampaikan sesingkat mungkin tanpa mengurangi kelengkapan dan kejelasannya.
    f. Bila mungkin, instruksi sebaiknya disampaikan secara tertulis
    g. Sedapat mungkin jangan menggabungkan dua atau lebih satuan instruksi yang sesungguhnya
    dapat dipisahkan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan satu satuan instruksi adalah sejumlah
    penjelasan yang dibutuhkan peserta agar mereka dapat mengerjakan tugas yang tidak boleh diinterupsi oleh informasi baru.

    4. Mengawasi Kegiatan Pelatihan
    Selama peserta melakukan kegiatan yang diintruksikan kepada mereka fasilitator harus aktif melakukan pencatatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengamatan ini antara lain:

    a. Fasilitator harus ingat bahwa kegiatan ini dilakukan dalam rangka mengumpulkan fakta/ temuan yang akan digunakan dalam pembahasan konsep atau prinsip-prinsip.
    b. Fasilitator harus mengingat tujuan dari kegiatan dan fakta/temuan apa saja yang diharapkan muncul untuk dijadikan bahan pembahasan.
    c. Fasilitator sebaiknya mencatat fakta/temuan yang berhasil dijumpainya. Catatan harus meliputi: kapan suatu tingkah laku masing-masing peserta, dan mengapa mereka mereka menampilkan tingkah laku tersebut.
    d. Fasilitator sudah harus membayangkan cara-cara yang akan digunakan. Untuk mengolah fakta/temuan tersebut dalam diskusi kelas yang seharusnya dilakukan sebagai lanjutan kegiatan ini.

    5. Memimpin diskusi
    Memimpin diskusi (pasangan, kelompok, kelas) merupakan salah satu tugas utama fasilitator. Selama memimpin diskusi, fasilitator sesungguhnya melakukan sejumlah interaksi dengan peserta.
    Kalau diperhatikan lebih seksama, maka unit-unit interaksi dapat dihimpun ke dalam unit-unit aktivitas. Satu unit interaksi adalah serangkaian interaksi yang dimulai dengan suatu persoalan/pertanyaan baik yang diajukan oleh fasilitator atau peserta yang berakhir dengan munculnya persoalan baru.

    Suatu unit interaksi bisa saja berakhir secara tidak mulus/tuntas, yakni bila interaksi berakhir tanpa terpecahkannya persoalan yang diajukan. Tuntas tidaknya unit-unit interaksi dalam diskusi, merupakan salah satu faktor yang turut menentukan efektif tidaknya fasilitator dalam memimpin diskusi (proses dan hasil pelatihan).

    Satu unit interaksi dalam pembelajaran dapat tersusun dari sejumlah unit aktivitas (unitas) yaitu kesatuan terkecil dari tingkah laku seorang fasilitator.

    Ada sejumlah besar unit aktivitas yang mungkin dilakukan seorang fasilitator, diantaranya;

    a. Memberi instruksi
    Fasilitator memerintahkan peserta untuk melakukan aktivitas tertentu. Misal, “tutup mata anda
    dan bayangkan anda berada di padang pasir”. Contoh lain, “sekarang jumlahkan kolom ketiga dan
    ke empat, kemudian tuliskan hasilnya di kolom lima”.
    b. Menjawab pertanyaan
    Fasilitator memberikan jawaban langsung/melemparkan ke peserta lain terhadap pertanyaan yang diajukan peserta.
    Contoh, “motivasi itu apaan sih pak? Adakah diantara kalian yang tahu arti
    motivasi? Jadi, motivasi itu artinya ……
    c. Mengundang tanggapan
    Aktivitas fasilitator melontarkan pertanyaan yang umum atau memberi kesempatan peserta
    mengajukan komentar. Biasanya aktivitas ini berupa pertanyaan tentang kesan-kesan peserta
    yang dilanjutkan dengan kata-kata, “ada komentar lain, ada yang mau menambahkan?
    Undangan untuk memberi tanggapan dapat ditujukan pada salah satu fasilitator (tim teaching),
    atau kepada peserta lain yang dinilai kurang aktif.
    Contoh, Bu Siska barangkali punya pandangan
    lain? Mba Siti punya pendapat?
    d. Menjelaskan definisi
    Fasilitator menguraikan arti suatu istilah/konsep/pengertian dari sesuatu yang kurang dipahami
    peserta, tanpa memberi contoh konkret.
    Contoh, “Jadi, yang dimaksud prestasi adalah.. Perbedaan antara asessment dengan evaluasi adalah …….
    e. Mengajukan contoh
    Aktivitas ini umumnya merupakan kelanjutan dari aktivitas menjelaskan definisi. Fasilitator berusaha mengajukan contoh dari hal-hal yang telah dijelaskan sebelumnya.
    f. Memberikan konfirmasi
    Aktivitas fasilitator meng-iya-kan atau penguatan, baik dugaan suatu konsep, tindakan yang harus dilakukan, atau dugaan hubungan kausalitas.
    Peserta : Kalau begitu, Pakem identik dengan belajar kelompok?
    Fasilitator : Salah satu prosesnya iya, bisa juga berpasangan.
    g. Menanyakan maksud peserta
    Aktivitas fasilitator untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dari hal-hal yang
    dilontarkan peserta. Dapat pula untuk menemukan latar belakang dari pertanyaan itu.
    Peserta : Jadi, dalam Pakem lebih mengaktifkan fisik daripada mental-intelektual?
    Fasilitator : Yang kamu maksud aktif fisik dan mental-intelektual itu apa?
    Peserta : Dalam Pakem yang penting karya siswa (pajangan)?
    Fasilitator : Ehm, mengapa kamu menyimpulkan begitu?
    h. Mengendalikan arah diskusi
    Seringkali fasilitator terbawa arus oleh perdebatan yang berlarut-larut antar peserta, atau bila jawaban peserta lain menyimpang. Untuk itu, fasilitator harus berusaha mengembalikan arah diskusi ke jalur yang direncanakan.
    Contoh 1: “mengapa kita harus berlarut-larut membicarakan hal yang sebetulnya tidak bermakna?
    Contoh 2: “ yang saya minta, buat diagram, bandingkan, dan uraikan dengan menggunakan katakata anda sendiri kan?
    i. Menekankan jawaban peserta
    Unit aktivitas ini merupakan usaha fasilitator agar peserta memusatkan perhatian atau
    meningkatkan kesadaran pada suatu simpulan/temuan oleh peserta lain. Penekanan ini biasanya
    diiringi dengan penulisan inti pertanyaan/jawaban peserta di papan tulis.
    j. Memancing data
    Aktivitas fasilitator yang berusaha memperoleh fakta/temuan yang nantinya dibutuhkan untuk pembuktian suatu simpulan. ‘Unitas’ ini biasanya berupa rangkaian pertanyaan yang “menggiring”
    peserta ke arah jawaban tertentu. Boleh jadi, rangkuman/simpulan bukan datang dari fasilitator.
    Contoh:
    Fasilitator dari hasil observasinya telah mencatat bahwa peserta membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakan soal A daripada waktu yang dibutuhkan untuk menjawab soal B. Padahal, soal lebih banyak mengandung unsur yang tidak diketahui.
    Fasilitator : Tugas mana yang memerlukan waktu lebih?
    Peserta: Tugas A
    Fasilitator : Tugas mana yang mengandung lebih banyak unsur yang tidak diketahui?
    Peserta: Tugas B
    Fasilitator: Apa yang bisa anda simpulkan dari kedua fakta itu?
    Peserta : ………. (tidak menjawab)
    Fasilitator : Apakah tugas yang lebih banyak unsur yang tidak diketahui selalu membutuhkan lebih banyak waktu?
    Peserta : Tidak
    Fasilitator : Jadi……….?

    k. Merangkai induksi
    Aktivitas monolog fasilitator yang menghubungkan berbagai temuan yang diperoleh peserta untuk merancang simpulan.
    Contoh: tadi kalian sudah menyimpulkan bahwa A lebih besar dari B. Kita juga sudah buktikan bahwa A lebih kecil dari C. Simpulannya: (bahwa C > dari B … peserta yang menyimpulkan).
    l. Memberi konsekuensi
    Aktivitas fasilitator yang secara khusus diberikan untuk menghargai atau “mencela” tindakan tertentu dari peserta/kelompok peserta, bisa juga diberikan pada seluruh peserta. Aktivitas ini dilakukan secara khusus, agar peserta benar-benar merasa dipuji/dicela. (pujian bisa acungan jempol/tepuk tangan. Aktivitas ini mirip dengan konfirmasi, kalau konfirmasi hanya membenarkan dugaan peserta, tanpa memberikan penghargaan pada temuanya.
    Dari berbagai unit aktivitas, unitas yang sebaiknya dikurangi (menjelaskan definisi, menjawab pertanyaan, memberi konfirmasi). Ada unitas yang sebaiknya ditambah (memancing data,
    mengendalikan arah diskusi, menanyakan maksud peserta). Ada pula unitas yang sangat tergantung
    dari respons peserta, walau stimulus sudah cukup diberikan.

    6. Memberi ceramah singkat
    Berbeda dengan kegiatan memimpin diskusi, ceramah singkat merupakan kegiatan monolog, untuk
    menjelaskan konsep/prinsip yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Satu ceramah
    sesungguhnya terdiri dari sejumlah unit penjelasan yang bertujuan menjelaskan memberikan
    pemahaman terhadap satu prinsip/konsep.
    Satu ceramah singkat yang utuh sebaiknya terdiri dari:
    a. Rumusan : inti dari konsep/prinsip yang diajukan.
    Contoh: Persepsi bersifat subyektif
    b. Elaborasi : penjelasan lebih jauh dari rumusan yang diajukan
    Contoh: artinya persepsi itu tidak tergantung pada objek yang dipersepsikan, melainkan
    dari subjek yang mempersepi.
    c. Argumentasi : pembuktian terhadap rumusan yang diajukan.
    Bila pembuktian ini tidak dapat dilakukan dengan mudah, fasilitator dapat meminjam
    otoritas para ahli yang membuktikan rumusan tersebut. Menurut hasil penelitian R.J.Marzano, bahwa persepsi….
    d. Contoh : yang konkret dari kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan konsep/
    prinsip yang dibahas.
    e. Humor : digunakan bilamana perlu untuk lebih menguatkan habits of mind.
    Untuk mengingat ke lima unsur ini, ingatlah bahwa setiap ceramah singkat seharusnya
    berusaha untuk menjangkau (R-E-A-C-H) para peserta (pendengarnya).

    Jadi ceramah singkat tidak diharamkan dalam pelatihan, justru penting karena berfungsi
    menjelaskan konsep yang sulit untuk dipahami melalui pengalaman terkendali/diskusi kelompok. Di samping itu, ceramah singkat dapat digunakan sebagai media untuk meminjam otoritas para ahli dalam mendukung kebenaran yang tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman terkendali.

    7. Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran serta jurnal belajar

    Salah satu cara untuk mengevaluasi proses dan hasil pelatihan (dalam waktu yang singkat) adalah
    mengevaluasi kegiatan pelatihan (walaupun sesungguhnya evaluasi itu harus dilakukan terhadap
    hasil pelatihan). Caranya dengan melihat adakah perubahan pengetahuan, keterampilan, nilai dan
    norma dalam wujud tingkah laku yang ditampilkan oleh peserta dalam waktu pendampingan (3
    bulan setelah pembelajaran).

    Ada beberapa cara untuk mengevaluasi efektivitas fasilitator dalam menjalankan tugas dan aktivitasnya:

    a. Sejauh mana fasilitator menyimpang dari rencana panduan (hasil rapat koordinasi tim
    fasilitator sebelum pelatihan).
    b. membandingkan proporsi modus-modus panduan pelatihan.
    Gunakan rumus:
    • waktu instruksi harus lebih singkat dari waktu kerja (pasangan-klp)
    • • waktu kerja harus lebih singkat dari waktu diskusi
    • • waktu diskusi harus lebih panjang dari waktu ceramah.
    c. Beri kesempatan kepada peserta untuk setiap akhir pertemuan menuliskan jurnal belajar (apa yang sudah diketahui, apa yang ingin diketahui lebih lanjut, dan kesulitan apa yang dihadapi selama pelatihan).
    d. sejauh mana fasilitator telah memberikan instruksi, memimpin diskusi, dan memberi
    ceramah dengan baik.
    .

    Diproteksi: Tugas Mata Kuliah Komputer

    Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

    Peran Kepala Sekolah dalam Mendorong Perubahan Pembelajaran di Kelas

    Peran Kepala Sekolah dalam Mendorong Perubahan Pembelajaran di Kelas

    Dalam banyak kesempatan, ide-ide perubahan pembelajaran telah dikenalkan. Akan tetapi, ide tersebut seakan-akan hanya menjadi milik peserta pelatihan dan tidak diterapkan di dalam kelas. Uang, tenaga, dan waktu yang tak ternilai harganya hanya disia-siakan saja. Pembelajaran tetap tidak tersentuh perubahan, dan berjalan seperti biasanya (business as usual). Untuk mendorong terjadinya perubahan, kehadiran seorang pemimpin sangat diperlukan.
    Pemimpin yang baik mampu menumbuhkembangkan keberanian orang yang dipimpin untuk mencobakan ide tanpa takut salah. Pemimpin yang baik juga mampu menciptakan suasana kolegialitas dan persaudaraan yang baik di sekolah.
    Di negeri seberang, ada seorang Kepala Sekolah yang mengembangkan program “Make New Mistakes”. Dengan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dia mendorong gurugurunya melakukan sesuatu yang baru dan melakukan kesalahan. Dia mengungkapkan kata-kata berikut: “Saya tidak ingin melihat pelajaran yang sempurna. Saya hanya ingin melihat Anda melakukan sesuatu yang baru dan mengalami kesalahan. Tidak perlu takut dengan kesalahan itu. Yang peling penting adalah apa yang bisa kita petik dari melakukan sesuatu yang baru tersebut”.
    Akibatnya, sungguh luar biasa. Guru-guru di sekolah itu, termotivasi melakukan hal-hal baru sehingga inovasi pembelajaran seakan berlangsung tiada henti. Sekolah yang dahulunya berstatus “under achiever” berubah menjadi sekolah yang maju.

    Di negeri sendiri, seorang Kepala Sekolah mengembangkan berbagai program antara lain: Who Am I, Kolaborasi Atas Bawah, Fleksidi, dll. Tujuannya hanya satu, yaitu tumbuhnya kesejawatan yang mendorong terjadinya perubahan dalam pembelajaran di sekolah. Hasilnya juga sungguh menakjubkan. Proses belajar mengajar berubah dari biasanya. Pembelajaran menjadi bermutu. Sekolah yang semula “tidak terdengar” berubah menjadi sekolah rujukan. Karena itu, pada sesi ini, para kepala sekolah, pengawas, dan para pemimpin lainnya di sekolah, perlu memiliki kiat-kiat kepemimpinan yang mampu mendorong terjadinya perubahan proses belajar mengajar di kelas. Untuk itu, di dalam sesi ini, para peserta diharapkan menggali berbagai ide yang mampu mendorong terjadinya perubahan dalam proses belajar mengajar di kelas.

    Kepala Sekolah merupakan kunci keberhasilan usaha-usaha sekolah. Kepala Sekolah merupakan penentu bagi terciptanya iklim sekolah yang lebih kondusif untuk meningkatnya mutu pendidikan. Kepala Sekolah tidak hanya dituntut mahir mengelola sarana, prasarana, tetapi juga harus memiliki kiat-kiat menarik yang mendorong guru-gurunya mau secara ikhlas dan penuh percaya diri meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Karena itu, kiat-kiat yang dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah berikut layak untuk dijadikan pelajaran bagi kita bersama.

    Berikut beberapa kiat kepala sekolah tersebut.

    • Supervisi Klinis 

    Kegiatan ini dilakukan dengan cara Kepala Sekolah melakukan supervisi atau pengamatan terhadap guru-guru/kelas maupun terhadap aktivitas sekolah secara keseluruhan. Hasil temuan baik positif maupun negatif dibahas di dalam pertemuan/rapat dewan guru. Jika di dalam pertemuan/rapat tersebut masalah tidak dapat di atasi maka kepala sekolah segera mengambil inisiatif untuk mencari bantuan pemecahan ke luar sekolah.
    Misalnya guru kelas 1 sulit untuk membuat pembelajaran tematik. Dalam pertemuan/rapat dewan guru tidak ada yang bisa memberi contoh. Satu-satunya jalan yaitu mendatangkan fasilitator atau nara sumber kelas awal. Tetapi setelah rencana akan mendatangkan fasilitator kelas awal sekolah tidak memiliki dana untuk mengadakan pelatihan tersebut, maka jalan keluarnya adalah mengadakan kerja sama dengan beberapa sekolah untuk mendatangkan fasilitator tersebut. Masalah pendanaan sudah barang tentu dipikul bersama-sama.

    • Curhat Nonformal

    Curhat nonformal adalah mencurahkan isi hati atau uneg-uneg yang dilakukan secara
    nonformal. Waktu dan tempat sudah barang tentu tidak terikat. Waktu bisa dilakukan pada jam-jam santai atau waktu luang. Masalah tempat bisa di sekolah maupun di luar sekolah.
    Topik bahasannya berkisar aktivitas sekolah. Jika kepala sekolah ingin menyampaikan ide-ide tentang model pembelajaran atau aktivitas sekolah, kepala sekolah tidak langsung menyampaikannya pada pertemuan/rapat resmi dewan guru. Tetapi kepala sekolah dapat melakukan lobi-lobi ke beberapa guru untuk didiskusikan terlebih dahulu.

    • Kolaborasi Atas-Bawah

    Kolaborasi ‘Atas – Bawah’ merupakan model kerja sama antara kepala sekolah selaku
    supervisor dan guru selaku yang disupervisi. Bentuk kerja sama itu contohnya adalah jika ada salah satu guru sulit dalam menerapkan model PAKEM/CTL pada materi tertentu, maka kepala sekolah bersama-sama membuat skenario pembelajaran. Setelah selesai, skenario tersebut dijalankan secara bersama-sama oleh guru dan kepala sekolah. Jika sekali pelaksanaan ternyata belum cukup bagus, maka perlu dilakukan kolaborasi sekali lagi, sampai diperoleh hasil yang bagus.

    • Who am I

    Jika kepala sekolah dalam melakukan supervisi melihat ada beberapa guru telah berhasil melakukan model PAKEM/CTL dan manajemen kelas yang kreatif, kepala sekolah segera memberitahu kepada guru tersebut bahwa kelasnya akan dijadikan sasaran studi banding antarkelas. Dalam acara studi banding antar kelas tersebut para pengunjungnya adalah teman-temannya sendiri. Setelah harinya disepakati, guru yang menjadi sasaran studi banding tersebut menjelaskan berbagai hal yang telah dilakukan, baik itu tentang model pembelajarannya, skenario pembelajarannya, manajemen kelasnya, dan hasil karya anak, terutama yang dilakukan selama satu minggu sebelumnya. Selain itu, guru tersebut diminta untuk menyampaikan berbagai hal dan ide-ide satu minggu ke depan. Masalah-masalah atau kendala-kendala yang dihadapinya juga turut disampaikan pada acara tersebut. Dalam acara ini kepala sekolah posisinya sebagai pendamping guru yang menjadi sasaran studi banding.
    Tetapi pembicaraan hak penuh guru tersebut.

    • Fleksi diri

    Hampir jarang dilakukan oleh kebanyakan guru adalah melakukan refleksi diri setelah melakukan kegiatan pembelajaran. Cara untuk melakukan refleksi diri ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Misalnya, jika sekolah memiliki perangkat keras seperti handy cam, kepala sekolah dapat mengambil gambar beberapa kegiatan guru, khususnya dalam melakukan pembelajaran. Setelah itu, hasil rekaman tersebut diamati bersama-sama. Hal-hal apa saja yang seharusnya perlu dilakukan dan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, biar guru yang bersangkutan yang merefleksi dirinya sendiri. Guru-guru yang lain mencoba membahas hal-hal positif yang dapat diadopsi dan diterapkan di kelasnya.

    • Kontes Hasil Karya Siswa dan Kelas

    Untuk memotivasi agar guru-guru dan para siswanya kreatif maka dalam setiap minggu
    sekolah perlu mengadakan kontes. Macam-macam kontes di antaranya adalah lomba pidato, bercerita, drama, menggambar, mengarang, menyanyi/karaoke, kerapian dan kebersihan kelas, dan display atau pameran hasil karya siswa. Para pemenang dapat diumumkan pada saat upacara bendera hari Senin.

    • Kultum Bergilir

    Dalam setiap pertemuan/rapat dewan guru atau kegiatan apa saja selalu diawali kegiatan santapan rohani atau dinamakan kultum (kuliah tujuh menit). Orang yang menyampaikan kultum tersebut tidak harus guru agama atau guru senior. Kultum ini disampaikan siapa saja secara bergilir, baik guru senior maupun junior. Tujuannya agar semuanya dapat belajar atau mendidik diri sendiri sebelum memberitahu orang lain. Materi kultum bebas, bisa masalah agama, rumah tangga, sekolah, pekerjaan, dan kehidupan lainnya.

    • Go Public atau Open School

    Untuk memperkuat dan mendorong guru-guru agar mau berbuat lebih meningkat lagi,
    kepala sekolah dapat bekerja sama dengan sekolah lain. Artinya sekolah lain diminta untuk mengadakan kunjungan ke sekolahannya. Tapi ingat: guru-guru tidak perlu diberitahu strategi ini, karena ini merupakan rahasia strategi kepala sekolah dengan kepala sekolah lain. Mereka diharapkan melakukan kunjungan, khususnya berkunjung ke kelas mengamati model PAKEM/CTL yang diterapkan oleh guru-gurunya. Dengan demikian guru-guru yang akan dikunjungi akan berbenah diri, karena mereka akan dikunjungi oleh sekolah lain.

    • Retreat

    Makan biasanya dilakukan di rumah pada tempat dan situasi yang sama. Suatu saat dilakukan di tempat lain dengan suasana lain pula. Jika perlu dilakukan dengan seluruh anggota keluarga (anak dan istri/suami mereka). Di sini biasanya muncul ide-ide segar dan fress. Retreat merupakan wisata di waktu liburan yang dilakukan kepala sekolah, guru, dan staf lainnya di suatu tempat. Di sana mereka merancang suatu kegiatan tentang pendidikan di sekolah sambil berlibur.

    • Napak Tilas

    Sekolah dan kelas sering mendapat kunjungan guru-guru hampir di seantero nusantara. Suka duka telah banyak dialami guru-guru dan warga sekolah lainnya. Kecapekan dan kebosanan kadang-kadang menghantui guru-guru dan warga sekolah lainnya. Mengapa tidak? Karena hampir setiap saat mereka dituntut harus menemukan berbagai hal inovasi dalam pembelajarannya. Hal ini tampak di saat awal tahun pelajaan baru tiba. Guru-guru seakan tampak tidak bergairah lagi untuk berinovasi, seakan kehabisan daya kreativitas lagi.

    Maka kepala sekolah di saat-saat inilah sangat dibutuhkan daya kreativitasnya. Melalui
    diskusi kelompok, guru-guru diajak untuk mengingat kembali berbagai inovasi dan hal-hal positif yang dulu pernah sukses dilakukannya. Lalu mereka membuat kesepakatan untuk pengembangan inovasi dan bahkan mencoba inovasi baru lagi. Hasilnya sungguh luar biasa. Guru-guru bergairah kembali, karena mereka merasa tersuntik dan termotivasi kembali untuk melakukan tugasnya.