VARIASI DAN JENIS MORFEM


VARIASI DAN JENIS MORFEM

1. Variasi Morfem
a. Morf : 1) anggota morfem yang belum ditentukan distribusinya; mis./i/ pada kenai adalah morf.
2) ujud konkret atau ujud fonemis dari morfem; mis. mem- adalah ujud konkret dari meN- yang bersifat abstrak (mem- adalah morf, sedangkan meN- adalah morfem). (Lihat Kridalaksana, 1982: 110)
b. Alomorf (allomorph/morpheme alternant): anggota morfem telah ditentukan posisinya: mis. /ber/, /be/, /bel/ adalah alomorf dari morfem ber-.
1) Alomorf fonologis (phonologically conditioned allomorph): varian morfem yang muncul dalam lingkungan fonologis tertentu; mis. alomorf /məm/ dan /məŋ/ dari morfem meN- terjadi karena pelbagai fonem yang terdapat pada morfem dasar yang mendahuluinya (kemunculannya teramalkan).
2) Alomorf morfologis (morphologically conditioned allomorph): varian morfem muncul dalam lingkungan morfem lain secara tak teramalkan; mis. alomorf /mən/ muncul dalam /meŋukur/ dan /meŋkukur/ karena ada keinginan untuk tetap mempertahankan identitas morfem ukur dan kukur. (Lihat Kridalaksana, 1982: 9).
3) Alomorf zero (zero; zero allomorph): alomorf yang tidak diujudkan dengan fonem, yang berada dalam satu paradigm bersama alomorf lain yang berujud fonem; mis. dalam kata sheep (ing.) terdapat alomorf plural yang dinyatakan dengan zero (alomorf lainnya ialah /s/, /z/, /ez/, dll.) (Lihat Kridalaksana, 1982: 181).

2. Jenis Morfem
a. Berdasarkan hubungan strukturalnya:
1) Morfem aditif (additive morpheme) ialah morfem yang biasanya ditempeli oleh atau ditempelkan kepada morfem lain, meliputi dasar, afiks (prefix, infiks, sufiks, konfiks, simulfiks, suprafiks) dan pengulangan.
2) Morfem replasif (replacive morpheme) ialah morfem yang menggantikan bagian dari dasar atau akar, biasanya berupa bentuk-bentuk fonemis; mis. dalam bah. Ing. /s/ menggantikan /z/; advise (verba) menjadi advice (nomina). Demikian juga /f/ menjadi /v/ dalal half (num.) dan halve (nom.). Bandingkan dengan kata pemuda dan pemudi, mahasiswa dan mahasiswi, dalam Bahasa Indonesia.
3) Morfem subtraktif (subtractive morpheme) ialah morfem yang berupa penanggalan fonem dari dasar atau akar; mis. dalam bahasa Perancis terdapat penanggalan fonem yang menandai perubahan bentuk feminine ke bentuk maskulin: mauvaise /mov z/ (fem.) menjadi mauvais /mov/ (mask.) ‘buruk, jelek’; `petite /ptit/ (fem.) menjadi petit /pti/ (mask.) ‘kecil’; `fausse /fos/ (fem.) menjadi faux /fo/ (mask.) ‘salah, palsu, sumbang’. (Lihat Kridalaksana, 1982: 110; Nida, 1978: 69-75)

b. Berdasarkan distribusi dan/atau fungsinya:
1) Morfem bebas (free morpheme): morfem yang secara potensional dapat berdiri sendiri: rumah, lari, tanah.
2) Morfem terikat (bound morpheme): morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri dan yang selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk ujaran; mis; juang dalam daya juang, temu dalam temu karya, mayur dalam sayur mayur.
3) Morfem dasar terikat: morfem dasar yang hanya dapat menjadi kata bila bergabung dengan afiks atau dengan morfem lain; mis. juang dalam perjuangan, olah dalam olahan, temu dalam bertemu.
4) Morfem kosong (empty morpheme): morfem yang tidak ikut memberikan makna dalam kalimat; mis. there dalam Bahasa Inggris: there is a cat on the roof. (bandingkan dengan A cat is on the roof).
5) Morfem penyambung (linking morpheme): unsure yang diletakkan antara dua kompositum atau dua morfem lain; mis. -o- dalam psikolinguistik atau sosiolonguistik.
6) Morfem leksikal (lexical morpheme): morfem yang jumlahnya tidak terbatas dan sangat produktif; mencakup kata penuh dan afiks derivative, seperti dalam bahasa Inggirs: fire, eat, un-, dan able-. (cari dalam Bahasa Indonesia!).
7) Morfem gramatikal (grammatical morpheme): morfem yang jumlahnya terbatas dan berfungsi sebagai penghubung antara morfem leksikal; mencakup partikel (function word) dan morfem inflektif, seperti dalam Bahasa Inggris: the (art.), when (part.), my (kli.), -s, -ing, -ed (infl.).

c. Berdasarkan wujudnya:
1) Morfem segmental (segmental morpheme): morfem yang terjadi dari fonem atau susunan fonem segmental.
2) Morfem suprasegmental (suprasegmental morpheme): morfem yang terjadi dari fonem suprasegmental; mis. tekanan dalam Bahasa Inggris: transfer (nomen), transfer (verbum); import (nomen), import (verbum). Dalam Bahasa Indonesia terdapat sendi dan nada yang bersifat morfemis; mis. pada contoh: bapak wartawan dan bapak/ /wartawan; ibu guru dan ibu/ / guru.

Diagnosis Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Sd/mi Melalui Analisis Reading Readiness;>>>> Baca

Hakikat Penelitian Kuantitatif;>>>> Baca

Pembelajaran Menulis Berita;>>>> Baca

Pengertian Menulis Wacana Fiksi;>>>> Baca

Karakteristik Anak Taman Kanak-kanak;>>>>>>>>> Baca buka semua

Iklan

Cara Menulis Laporan Kegiatan

Cara Menulis Laporan Kegiatan

Laporan adalah suatu tulisan yang berisi uraian suatu kegiatan atau peristiwa. Laporan ada beberapa macam yaitu: laporan keuangan koperasi guru, laporan masa akhir jabatan, laporan perkembangan belajar siswa, laporan praktikum, laporan praktik, laporan buku, dll.

Laporan bisa disampaikan secara lisan maupun tertulis. Laporan lisan sesungguhnya bisa dilakukan oleh setiap orang baik terpelajar maupun bukan. Seperti misalnya, Anda meminta seorang pembantu melaporkan kegiatan berbelanja ke pasar atau melaporkan pekerjaan rumah tangga yang telah diselesaikannya, atau laporan setelah seseorang selesai melakukan kerja bakti di lingkungan tempat tinggal. Laporan seperti contoh di atas disampaikan menggunakan bahasa lisan. Tentu sudah dapat Anda bayangkan bagaimana kualitas bahasa laporan yang disampaikan dengan bahasa lisan tersebut. Kecenderungan tidak sistematis dan melanggar kaidah akan banyak terjadi pada laporan yang menggunakan bahasa lisan. Berbeda halnya jika laporan itu dilakukan secara tertulis. Meskipun berpotensi tidak sistematis juga, tetapi kecenderungannya tidak sebesar pada bahasa lisan. Jika pembuatan laporan lisan lebih menunjukkan kekurang- intelekan, maka laporan secara tertulis justru sebaliknya. Laporan tertulis lebih banyak dilakukan oleh kaum terpelajar. Contohnya laporan yang ditulis seorang guru setelah melaksanakan tugas menjadi wali kelas, atau sepulang mengikuti penataran, atau setelah menyelesaikan tugas kepanitiaan, dan lain sebagainya.

Pernahkah Anda menuliskan laporan setiap Anda selesai mengerjakan tugas Anda? Jawaban Anda mungkin sangat bervariasi. Bagi Anda yang jarang membuat laporan atau bahkan tidak pernah sekali pun, sebenarnya Anda belum mengerti bahwa sesungguhnya Anda sudah membuat laporan. Bahkan laporan tersebut sudah Anda sampaikan pada saat di ruang istirahat kepada sesama guru. Kadang pada lain kesempatan diulangi kembali kepada orang berbeda. Oleh karena laporan yang Anda sampaikan secara lisan dan tidak diformat dengan baik, maka keilmiahan laporan tersebut diragukan. Terlebih lagi bahasa lisan yang Anda pergunakan pun tidak sesuai kaidah. Bagaimana mungkin penyampaian laporan yang demikian tidak sistematis dapat dikatakan laporan yang baik? Perhatikan dialog berikut:
Guru A : ”Wah wajah Pak Dodi terlihat murung ada peristiwa apa di kelas?”
Pak Dodi : ”Saya kesal pada kelas 10.1
Guru B :” Memang ada apa?
Pak Dodi : “ Saya kecewa pada kelas 10.1. Saya memberikan tugas menulis ringkasan kepada mereka. Hasilnya hanya 10% siswa yang
mengerjakan dengan benar.
Guru A : ”Maksud Bapak, siswa yang lain tidak mengerjakan begitu?”

Pak Dodi : ”Semua siswa mengerjakan dan mengumpulkan tugas. Namun, kebanyakan mereka mengerjakannya dengan cara mengutip seluruh isi wacana, bukan ringkasan yang saya maksudkan.. Artinya saya gagal mengajar materi itu. Dengan begitu saya harus mengulang materi itu lagi. Itu berarti saya bekerja dua kali. Dan perencanaan pembelajaran yang saya sudah buat menjadi kacau.”

Saudara, tentu Anda pun sering berdialog seperti dialog di atas sekitar permasalahan siswa. Masalah pembelajaran memang seperti tidak pernah kering dari pembicaraan guru. Hampir di semua kesempatan berkumpul antarguru selalu terjadi dialog seperti itu. Bahan pembelajaran tentang siswa dan kasus-kasus pembelajaran lainnya selalu mendominasi pembicaraan santai guru. Tentu saja dialog seperti itu jika dikemas dengan baik dan disempurnakan dengan bahasa dan sistematika yang baik serta dilengkapi dengan data/fakta yang akurat akan menjadi laporan yang baik.

Data yang selalu harus ada dalam format laporan misalnya seperti berikut: identitas sekolah: yaitu nama sekolah, alamat sekolah , jumlah siswa, jam, hari, bulan, dan tahun kejadian, serta apa saja solusi yang dilakukan guru setelah kejadian tersebut. Lebih praktis lagi jika kita mempunyai format yang baku seperti salah satu contoh berikut ini:

Format laporan kegiatan

Alasan /landasan diadakannya kegiatan……………
Nama kegiatan:………………………………………………
Tempat kegiatan:……………………………………………
Waktu kegiatan:………………………………………………
Siapa yang terlibat dalam kegiatan:……………………
Sebagai apa orang-orang itu dilibatkan/apa tugas mereka yang dilibatkan
Ketua:……………………………………………………………
Wakil:……………………………………………………………
Sekertaris:………………………………………………………
Bendahara:……………………………………………………..
Seksi acara: …………………………………………………….
Seksi-seksi:
Acara:…………………………………………………………….
Humas:……………………………………………………………
Konsumsi:……………………………………………………….
Dokumentasi:…………………………………………………….
Dana:…………………………………………………………………
Lainnya…………………………………………………………….

Jika ada biaya, rincilah biaya itu untuk keperluan apa saja. Seperti misalnya biaya persiapan, ATK, konsunsi, dokumentasi, acara, dan lain sebagainya.

Laporan kegiatan boleh dilakukan seperti proposal yang telah Anda buat ketika mengajukan anggaran. Jika pada proposal pengajuan hasil kegiatan dan keperluan dana masih berupa perencanaan, pada laporan hasil kegiatan dana dan hasil sudah merupakan data ril yang sesuai kenyataan saat pelaksanaan.

Macam-macam Laporan

Ada beberapa macam laporan yaitu: laporan administrasi, laporan berkala, laporan cuaca, laporan keuangan, laporan khusus , laporan penelitian, laporan statistik, laporan tahunan, laporan pendidikan, laporan kegiatan, laporan buku, surat, memo, agenda, dan risalah

Hak Asasi Manusia dan Demokrasi;>>>> Baca

Produksi, Konsumsi, Distribusi, dan Ekonomi Kerakyatan;>>>> Baca

Target Pembaca dalam Tulisan Karya Ilmiah;>>>> Baca

Karakteristik Anak Luar Biasa;>>>> Baca

Prinsip Pengorganisasian Pembelajaran IPS yang Berorientasi pada Disiplin Ilmu;>>>>>>>>> Baca buka semua

Pembelajaran Menulis Berita

Pembelajaran Menulis Berita

Pengertian berita sampai saat ini masih belum ada kebulatan. Masih terdapat perbedaan pendapat antara seorang ahli dengan yang lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berita adalah laporan mengenai kejadian atau peristiwa hangat. Yang lain berpendapat bahwa berita bukan hanya sekedar laporan peristiwa tetapi juga merupakan pempublikasiannya. Sebagus dan sepenting apapun sebuah berita , jika tidak dipublikasikan tidak akan menjadi berita. Bukankah adanya berita karena adanya hasil publikasi terhadap suatu kegiatan atau peristiwa?. Adapun cara mempublikasiannya bisa melalui media maupun dari mulut ke mulut. Wujud berita adalah laporan yang disampaikan sehingga diketahui oleh khalayak. Jadi berita adalah laporan kejadian yang dipublikasikan untuk diketahui khalayak ramai. Kata kuncinya adalah kejadian dan pempublikasian.

Ciri-ciri Berita

Suatu tulisan akan dikelompokkan menjadi berita jika mengandung 4 ciri yaitu:
Aktual, faktual, penting, dan menarik.

Aktual artinya hangat, terbaru, terkini atau tidak ketinggalan zaman (up to date) atau masih aktual, masih baru dan masih sesuai untuk dibicarakan. Faktual artinya ada faktanya, benar-benar terjadi, objektif, sumbernya jelas dan dapat dibuktikan. Penting berarti dapat dijelaskan dari dua sisi. Pertama dianggap penting karena sifatnya yang sangat berdampak besar bagi masyarakat atau pemerintah, seperti: kebijakan pemerintah, peristiwa yang sedang melanda negara, atau hal lain yang perlu diketahui semua lapisan masyarakat. Kedua penting dari sisi asal atau sumber berita. Biasanya menyangkut tokoh atau orang yang memberitakan. Menarik artinya memicu rasa ingin tahu pembaca. Rasa ingin tahu pembaca itu dapat dilihat dari sifatnya yang dapat memenuhi keinginan kuat pembaca untuk mengetahuinya. Salah satunya dilihat dari sisi penyajian, kemasan atau penyampaian isi berita itu sendiri.

Struktur (Anatomi Berita)

Di samping memiliki ciri-ciri di atas, berita juga memiliki anatomi seperti layaknya tubuh manusia . Anatomi berita terdiri atas:1) kepala berita (Headline), 2) Waktu (Date line), 3) Teras (Lead) , 4) Tubuh (Body), 5) Kaki (Leg).

Jika diibaratkan manusia, berita adalah keseluruhan organ yang membentuk tubuh. Bagian tubuh manusia paling atas adalah kepala, sedangkan bagian kepala pada berita, diberi nama judul. Bagian tubuh berita masih terbagi lagi dalam tiga bagian, yaitu bagian paling penting diletakkan paling atas di bawah judul namanya teras berita (lead). Hal tersebut biasa dinamakan pembukaan. Di bawah lead ada perangkai. Perangkai adalah bagian berita yang tingkat kepentingannya di bawah lead, disebut bridge. Di bawah bridge disebut body atau tubuh berita. Body atau tubuh berita adalah bagian yang tingkat kepentingannya cukup letaknya di bawah bridge. Terakhir adalah kaki berita atau Leg yang berfungsi sebagai penutup berita. Di antara semua anatomi yang disebutkan, leg adalah bagian yang tingkat kepentingan paling kecil. Oleh sebab sifatnya hanya mengakhiri berita maka disebut penutup. Adapun dateline berada pada keseluruhan berita. Dateline menyangkut waktu dan tempat. Semua unsur berita tidak bisa terlepas dari unsur waktu dan tempat. Bahkan itulah inti suatu berita. Perhatikan gambar anatomi berikut!


Tahapan Menulis Berita

Kegiatan menulis berita dilakukan dalam empat tahap yaitu; menentukan sudut pandang, menulis judul berita, menulis teras berita, dan menulis tubuh berita. Uraian keempat tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

Hal pertama yang harus dilakukan penulis adalah menentukan sudut pandang (angle) terhadap peristiwa yang akan dilaporkan. Angle atau sudut pandang adalah kegiatan menentukan butir-butir dari hal yang paling penting sampai yang kurang penting lalu diurutkan. Tidak ada pola standar dalam menentukan bagian mana yang akan dituliskan sebagai lead, bridge, body atau headline. Semuanya hal tersebut akan terjadi sesuai hasil angle di atas. Bisa saja teras berita dimulai dengan jawaban mengapa, atau siapa, atau bagaimana, atau di mana, atak apa, atau mengapa. Jika lead sudah ada, maka penulis sudah diarahkan dalam menentukan judul dan teras berita. Selanjutnya judul dibuat dengan ketentuan tidak dalam bentuk kalimat. Judul sebaiknya berupa frasa atau kata. Hal yang harus Anda pikirkan adalah bagaimana membuat judul itu menarik minat pembaca untuk mengetahui isi di balik judul. Langkah berikutnya menulis teras berita. Jadikan bagian paling penting dari 5W + 1H itu pada awal paragraf. Isinya berupa pokok pokok-pokok penting berita. Keakuratan fakta tertuang pada teras ini. Terakhir adalah penulisan tubuh berita. Bagian ini akan lebih mudah karena hanya merupakan rincian dan penjelasan dari teras berita. Hal yang perlu Anda ingat adalah jangan sekali-kali Anda memasukkan pendapat sendiri atau menambah penjelasan yang tidak akurat. Penggunaan bahasa dan kekonsistenan dalam menggunakan kaidah bahasa adalah bagian yang tidak boleh diabaikan. Perhatikan contoh berita berikut!

Moskwa
Seratus warga sebuah desa di Rusia menolak menukar paspor lama dengan paspor baru. Pasalnya mereka percaya bahwa kode yang ada di paspor baru mengandung simbol-simbol setan. Demikian dilaporkan televisi negara, Rabu (22/3). ”Kami percaya bahwa paspor baru penuh dengan dosa” kata Valentina Yepifanova, warga Desa Bogolyubovo kepada stasiun televisi Russiya. Dia bertekad tetap mempertahankan paspor lamanya. ”Paspor baru dilengkapi dengan kode (baru) dan orang-orang bilang kode itu mengandung tiga angka enam. Kami menentang hal itu”, ujarnya. Beberapa warga Bogolyubovo yang berarti ”Cinta Tuhan” dalam bahasa Rusia ” juga tidak bersedia mengambil uang pensiun di kantor pos setempat sebab slip pembayaran uang pensiun juga dianggap mengandung simbol-simbol setan. (Kilasan kawat sedunia Kompas, Sabtu, 24 maret 2007).

Cobalah Anda analisis wacana di atas kemudian Anda simpulkan apakah tulisan tersebut sudah layak disebut berita ?

Untuk mengetahui dan menilai kelayakan sebuah wacana dikategorikan berita ada 3 hal yaitu: head, dateline, lead, body, dan leg

Telitilah wacana tersebut adakah headnya? Ya, Anda benar! Headnya terdapat pada tulisan Moskwa yang terletak di paling atas sebagai judul wacana. Jadi wacana ini mengandung head.

Pertanyaan kedua adalah adakah datelinenya? Ya Anda benar lagi! Pada kalimat ketiga tertera bahwa keterangan ini diambil dari televisi negara bernama Russiya pada Hari Rabu tanggal 22 Maret. Meskipun tahun berita ini dibuat tidak tertera secara jelas pada wacana ini, Namun dapat kita tentukan berdasarkan tahun terbitnya surat kabar ini, yaitu Tahun 2007. Jadi datelineberita itu Rabu, 22 Maret 2007. Artinya unsur kedua sudah memenuhi persyaratan berita. Selanjutnya kita akan mengamati unsur ketiga yang terdiri atas tiga penggal yaitu teras, tubuh, dan kaki.

Berdasarkaan hasil pengamatan Anda, adakah Anda melihat salah satu jawaban dari pertanyaan 5W + 1 H itu? Apakah jawaban itu diletakkan pada awal paragraf? Jika Ya, jawaban Anda benar. Kalimat awal pada paragraf pertamanya berbunyi:” Seratus warga sebuah desa di Rusia menolak menukar paspor lama dengan paspor baru.” Pada kalimat pertama ini memuat sekaligus tiga jawaban pertanyaan yaitu 1. Siapa (Who) yang diberitakan? Jawabannya seratus warga sebuah desa. 2. Kejadian apa yang diberitakan(What)? Yaitu warga Rusia secara beramai-ramai menolak menukarkan paspor lama dengan paspor yang baru. 3. Di mana kejadian yang diberitakan itu berlangsung (Where)? Jawabannya di Desa Bogolyubovo-Rusia. Masih ada tiga pertanyaan lagi yang belum ditelusuri yaitu pertanyaan: bilamana (When)?, mengapa (Why)?, dan bagaimana (How)? Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa pernyataan itu adalah : 1. Jawaban pertanyaan bilamana tidak tertera secara tegas di dalam wacana ini kapan waktunya. Jika dihubungkan dengan saat pemuatan berita ini di televisi Russiya akan dapat diketahui yaitu saat pertama kali diberitakan di televisi Rusia. Adapun untuk jawaban kapan diterbitkannya, kita dapat menjawab dengan berpatokan pada kejadian kegiatan penukaran paspor sebagai kegiatan yang memerlukan waktu relatif lama bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Jawaban W kelima yang berkenaan dengan jawaban pertanyaan mengapa (Why), kita dapat merujuk pada pernyataan kalimat berikut: ”Pasalnya mereka percaya bahwa kode yang ada di paspor baru mengandung simbol-simbol setan”. Jadi jawabannya ”Penduduk tidak mau menukarkan paspor lamanya karena paspor baru dianggap mengandung simbol-simbol setan. Untuk menjawab pertanyaan bagaimana (How) dapat dilihat pada pernyataan: ”masyarakat Rusia itu masih tetap tidak mau menukarkan paspor barunya dengan paspor lama yang dimiliki mereka karena alasan keyakinan yang dipercayai tentang simbol setan yang dilambangkan dengan tiga angka enam karena dianggap bertentangan dengan nama desa mereka yang berarti ”Cinta Tuhan.” Jadi wacana berjudul ” Moskwa” ini termasuk jenis berita karena memenuhi persyaratan tahapan berita.

Analisis Kesalahan Diksi pada Karangan Siswa Bab 1;>>>> Baca

Produksi, Konsumsi, Distribusi, dan Ekonomi Kerakyatan;>>>> Baca

Target Pembaca dalam Tulisan Karya Ilmiah;>>>> Baca

Karakteristik Anak Luar Biasa;>>>> Baca

Teknologi Informasi Dan Dampak Sosial;>>>>>>>>> Baca buka semua

Apresiasi Prosa Indonesia

Apresiasi Prosa Indonesia

Hakikat Apresiasi Prosa

Kata apresiasi secara harfiah berarti ‘penghargaan’ terhadap suatu objek, hal, kejadian, atau pun peristiwa. Untuk dapat memberi penghargaan terhadap sesuatu, tentunya kita harus mengenal sesuatu itu dengan baik dan dengan akrab agar kita dapat bertindak dengan seadil-adilnya terhadap sesuatu itu, sebelum kita dapat memberi pertimbangan bagaimana penghargaan yang akan diberikan terhadap sesuam itu. Kalau yang dimaksud dengan sesuatu itu adalah karya sastra, lebih tepat iagi karya sastra prosa, maka apreciasi itu berati memberi penghargaan dengan sebaik-baiknya dan seohjektif mungkin terhadap karya sastra prosa itu. Penghargaan yang seobjektif mungkin, artinya penghargaan itu dilakukan setelah karya sastra itu kita baca, kita telaah unsur-unsur pembentuknya, dan kita tafsirkan berdasarkan wawasan dan visi kita terhadap karya sastra itu.

Seperti sudah dibicarakan, prosa atau prosa fiksi adalah sebuah bentuk karya sastra yang disajikan dalam bentuk bahasa yang tidak terikat oleh jumlah kata dan unsur musikalitas. Bahasa yang tidak terikat itu digunakan untuk menyampaikan tema atau pokok persoalan dengan sebuah amanat yang ingin disampaikan berkenaan dengan tema tersebut. Oleh karena itu, dalam apresiasi dengan tujuan tnembenkan penghargaan terhadap karya prosa itu, kita haruslah bisa “membongkar” dan menerangjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan ukuran keindahan dan “kelebihan” karya prosa itu. Dengan demikian, penghargaan yang diberikan dapat diharapkan bersifat tepat dan objcktif. Suatu apresiasi sastra, menurut Maidar Arsjad dkk dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan. Tahap-tahap itu adalah.

  1. Tahap penikmatan atau menyenangi. Tindakan operasionalnya pada tahap ini adalah
    misahiya membaca karya sastra (puisi maupun novel}, menghadiri acara deklamasi, dan
    sebagainya.

  2. Tahap penghargaan. Tindakan operasionalnya, antara lain, melihat kebaikan, nilai, atau
    manfaat suatu karya sastra, dan merasakan pengaruh suatu karya ke dalam jiwa, dan
    sebagainya.

  3. Tahap pemahaman. Tindakan opersionalnya adalah meneliti dan menganalisis unsur
    intrinsik dan unsur ektrinsik suatu karya: astra, serta berusaha menyimpulkannya.

  4. Tahap penghayatan. Tindakan operasionalnya adalah rnenganalisis lebih lanjut akan suatu
    karya, mencari hakikat atau makna suatu karya beserta argumentasinya; membuat tafsiran
    dan menyusun pendapat berdasarkan analisis yang telah dibuat.

  5. Tahap penerapan. Tindakan operasionalnya adalah mclahirkan ide baru, mengamalkan
    penemuan, atau mendayagunakan hasil operasi dalam mencapai material, moral, dan
    struktural untuk kepentingan sosial, politik, dan budaya.

Khasanah Prosa Indonesia

Kalau prosa kita artikan sebagai karangan dengan bahasa yang tidak terikat sebagai dikotomi dari puisi yang disajikan dalam bahasa yang terikat (dengan jumlah baris dan irama persajakan), maka semua karya sastra prosa dari kesusasteraan lama dapat kita masukkan sebagai prosa Indonesia. Jadi, semua dongeng, legcnua, hikayat, fabel, dan cerita rakyat seperti Dongeng Sang Kancil. Hikayat Si Miskin, Hikayat Pendawa Lima, Hikayat Amir Hamzah, legenda terjadinya Tangkuban Perahu, dan sebagainya adalah termasuk karya prosa Indonesia. Di sini termasuk karya seperti Sejarah MejayiL Kisah Pelayaran Abdullah ke Negari Mekah, dan lain sebagainya.

Karya prosa modem Indonesia dimulai dari buku-buku terbitan Balai Pustaka seperti Si Jamin dan Si Johan, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Saiah PiHhj Sengsara Membawa Nikmat. dan sebagainya. Di luar Balai Pustaka sebenarnya ada pula buku-buku cerita yang diterbitkan; tetapi karena bahasanya “kurang tcrpelihara” maka sering tidak dianggap atau tidak dibicarakan sebagai karya sastra Indonesia. Prosa-prosa produk zaman Balai Pustaka kebanyakan karya mengangkat persoalan adat sebagai tema, dan belurn mengangkat masalah sosial budaya. Oleh karena itu, konflik-konflik yang ierjadi hanyalah seputar pertentangan golongan yang mempertahankan adat dengan golongan yang ingin meninggalkan adat karena dianggap mengekang kebebasan dan kemajuan.

Zaman Balai Pustaka dilanjutkan oleh yang disebut Angkatan Pujangga Baru. Prosa pada angkatan ini sudah tidak banyak lagi bertemakan adat atau pertentangan adat melainkan sudah mengangkat juga persoalan sosial seperti dalam roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana yang mengangkat masalah emansipasi wanita; novel Belenggu karya Armyn pane yang mengangkat masalah kehidupan sosial seorang dokter, istrinya, dan seorang pasien wanita. Sutan Takdir meskipun disebut-sebut sebagai tokoh Pujangga Baru, namun dia sebelumnya sudah menulis prosa jauh sebelum itu, dan karya-karyanya juga banyak dihasilkan setelah itu. Prosanya yang lain adalah Tak Putus Dirundung Malang, dan Grotta dan Azura yang ditulisnya pada tahun enani puluhan.

Zaman Jepang (1940-1945) adalah zaman susah akibat perang Asia Timur Raya dan pendudukan tentara Jepang atas Indonesia. Pada masa ini karya sastra kebanyakan berupa puisi yang bersifat simbolis karena tidak berani berterang-terangan, takut akan ancaman kempetai Jepang. Prosa yang muncul hanyalah berupa corat-caret, sketsa, dan kisah-kisah pendek dari pengarang Idrus. Itu pun baru diumumkan setelah Jepang kalah perang. Judul-judul prosanya antara lain “Corat-Caret di bawah Tanah”. “Kota harmoni”, Sanyo”, “Oh..oh”, dan “Aki”. Kalau Chairil Anwar disebut sebagai pelopor Angkatan ’45 dalam bidang puisi, maka Idrus adalah pelopor Angkatan ’45 dibidang prosa. Keduanya disebut sebagai pelopor karena keduanya membuat pembaharuan dalam memberi corak karya sastra mereka yang berbeda dengan karya angkatan sebelumnya.

Setelah Jepang pergi pada tahun 1945, dan negeri kita diamuk suasana revolusi sejumlah karya prosa muncul. Pada 1948 terbit karya Idrus Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roman yakni kumpulan cerita pendek yang dimulai dengan cerpen “Ave Maria” dan berakhir dengan cerpen “Jalan lain ke Roma” Namun, didalam buku itu pun aoa naskah drama yang berjudul “Kejahatan Membahas dendam”. Pengarang lain adalah Pramudya Ananta Tur yang dalam prosa-prosanya banyak melukiskan kedahsyatan revolusi Indonesia. Karyanya antara lain Keluarga Gerilya (novel), Mereka yang Dilumpuhkan (novel), Percikan Revolusi/kumpulan (cerpen), Perburuan (novel), Subuh (novel), dan Di Tepi Kali Bekasi (novel).

Novel lain yang muncul pada masa revolusi adalah Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja, Tidak Ada Esok dan Jalan Tak ada Ujung karangan Mochtar Lubis.

Terlepas dari ide yang dikandung di dalamnya, H.B. Jassin menyatakan bahwa “Surabaya” karya Idrus, Keluarga Gerilya karya Pramudya dan Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis merupakan puncak kesusastraan angkatan ’45 sampai sakarang.

Revolusi berakhir pada akhir Desember 1949 dan Indonesia secara de facto dan de yure menjadi negara merdeka. Namun, pada awal kemerdekaan ini kegiatan sastra tampaknya lebih banyak pada karya puisi dan cerita pendek. Banyak pengarang muncul bersama cerpennya yang dipublikasikan dalam buku kumpulan cerita pendek. Mereka itu antara lain Subagio Sastrawardaya, N.H. Dini, S.M. Ardan, Sukanto S.A., A.A. Navis, Trisnoyuwono, dan Nugroho Notosusanto.

Karya mereka yang bisa disebutkan di sini antara lain, adalah Terang Bulan Terang di Kali (kumpulan cerpen) dan Nyai Dasima karya S.M. Ardan, Hitam Putin (kumpulan cerpen) karya Mohamad Ali, Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen) karya A.A. Navis, Kawat Berduri karya Trisno Yuwono. Pulang (novel) karya Toha Mochtar, Hati yang Damai dan Dua Dunia karya N.H. Dini, dan Daun Kering karya Trisno Sumardjo.

Scsudah huru-hara G 30S/PKI laluin 1965 khasanah prosa Indonesia tetap didominasi oleh cerpen, meskipun karya novel juga tidak kurang, tetapi lebih banyak pengarang dikenal knrcna karya ccrpennya. Walaupun dcmikian novel-novel yang patut discbutkan scsudah huru-hara G 30 S/PKI itu, antara lain adalah Harimau-Harimau dan Maut dan Cinta keduanya karya Mochtar Lubis, Jalan Terbuka karya Ali Audah, Sepi Terasing karya Aoh K. Hadimadja; Tidak Menyerah. Jentera Lepi, Kubah, dan Bawuk, keempatnya karya Umar Kliayam, Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, Kalah dan Menang karya Sutan takdir Alisyahbana, Telegram karya Putu V/ijaya, Pada Sebuah Kapal karya N.H. Dini; Ziarah dan Merahnya Merah keduanya karya Iwan Simatupang; Karmila karya Marga T; Wajah-Wajah Cinta karya La Rose; dan sejumlah novel lainnya.

Seperti disebutkan di atas bahwa cerita pendek mendominasi prosa Indonesia mutakhir, hal itu tampak dari banyak cerita pendek yang dipublikasikan melalui berbagai majalah sastra maupun majalah umum, serta sejumlah buku kumpulan karya sastra seperti yang diedit oleh para cerpenis seperti Gerson Poyk, Umar Khayam, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Budi Darma, dan Danarto.

Langkah-Langkah Apresiasi Prosa

Dalam berbagai buku sumber ada discbutkan langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan apresiasi sastra secara umum dan apresiasi karya sastra secara khusus. Yang disebut di bawah ini pada dasarnya tidak berbeda dengan yang disebutkan dalam buku-buku sumber itu.

Pertama, membaca novel (cerpen, romai;) itu secara tenang dan seksama. Kalau perlu bisa diiakukan dua tiga kali. Biasanya sebuah karya prosa yang baik akan mengundang kita untuk membacanya berkali-kali karena kita memperoleh kenikmatan dari pembacaan itu. Kediia, mencoba mencari jati diri melalui prosa yang dibacanya.

Ketiga, mencoba menelaah apa tema cerita tersebut, dan mengetahui bagaimana tema itu disajikan, menelaah plot, penokohan, setting/latar, dan berbagai unsur instrinsik lainnya. Keempat mencoba menelaah amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang dengan novel (cerpen, roman) tersebut.

Kelima, mencoba menelaah penggunaan bahasa yang digunakan dalam karya prosa tersebut melihat kekuatannya, dan mencari kekurangannya.

Keenam, mencoba menarik kesimpulan akan nilai karya prosa tersebut berdasarkan telaah objektif terhadap temanya, plotnya, perwatakannya, latarnya, dan sebagainya.

Teknik Pembelajaran Apresiasi Prosa

Pembelajaran apresiasi prosa dapat dilakukan sebagai berikut

Pertama, guru memilih sebuah novel atau cerita pendek yang sesuai dengan usia murid, tingkat kelas, dan norma kehidupan. Mengingat waktu yang terbatas barangkali cukup dipilih sebuah cerpen yang cukup pendek, Guru harus membacanya dulu, mempelajari semua unsui-unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik yang dijalin dalam cerpen tersebut sebaik-baiknya. Juga mencoba mencari informasi yang seluas-luasnya yang berhubungan dengan pengarang dan karya-karya pengarang tersebut.

Kedua, menyuruh murid membaca cerita pendek tersebut dengan serius (Andaikata cerita pendek tersebut cukup panjang, barangkali bisa juga sisv/a disuruh membaca dulu di rumah schari sebelumnya) sctclah selesai guru mengajukan pertanyaan, misalnya:

Bugaimana kesan Anda terhadap cerpen tersebut? hal-hal apa saja yang anda peroleh setelah membaca prosa tersebut?.

Kalau tidak ada yang menjawab, guru mcmberi pertanyaan penegasan: Menarikkah cerita tersebut? Jawaban siswa mungkin bermacam-macam (menarik, tidak menarik, membosankan, tidak tahu, dsb). Dari jawaban ini guru mengajak siswa untuk menelaahnya lebih jauh lagi.

Ketiga, guru membimbing siswa untuk menganalisis lebih jauh lagi mengenai unsur-unsur cerita tersebut, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan secara klasikal, dengan rnemanfaatkan interaksi guru-siswa, siswa-guru,dan siswa-siswa secara maksimal. Urutan penganalisisan dan jenis pertanyaan, pembimbingan dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. mengenai plot (alur) certia tersebut

  2. mengenai tokoh-tokoh dengan wataknya masing-masing

  3. mengenai sudut pandang atau pusat cerita teresebut

  4. mengenai tema dan amanat dari cerita tersebut

  5. mengenai penggunaan bahasa dan gaya bahasa yang dilakukan

  6. mengenai unsur-unsur ektrinsik yang menunjang cerita tersebut

Keempat, setelah analisis selesai dilakukan, setiap siswa diminta menyusun pendapatnya mengenai cerita tersebut lengkap dengan alasannya. Satu dua siswa diminta membacakan pendapatnya di muka kelas.

Evaluasi Pembelajaran Apresiasi Prosa

  1. Evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan pembelajaran. Oleh karena pembelajaran apresiasi merupakan kegiatan praktik, maka evaluasi dilakukan terhadap kegiatan dan keikutsertaan dalam setiap kegiatan apresiasi. Evaluasinya meliputi tingkat informasi,konsep, perspektif dan apresiasi.

  2. Laporan akhir siswa mengenai kegiatan apresiasi dapat pula dikaitkan dengan evaluasi kegiatan menulis sebagai komponen dari keseluruhan pengajaran bahasa.

    Kesimpulan

  1. Apresiasi prosa adalah kegiatan “menggauli” sebuah karya sastra prosa, untuk
    kemudian memberi penghargaan terhadap karya sastra itu berdasarkan pertimbangan-
    pertimbangan objektif atas hasil analisis yang dilakukan terhadap karya prosa tersebut.

  2. Materi prosa untuk bahan pembelajaran apresiasi dapat dipilih dari khazanah prosa
    Indonesia yang cukup banyak.

  3. Pembelajaran apresiasi dimulai dengan (a) guru memilih bahasa yang cocok,
    mempelajari dulu, (b) menyuruh siswa membaca dengan baik, (c ) membimbing siswa
    untuk menelaah unsur-unsur prosa tersebut, dan (d) meminta siswa menyusun laporan
    tentang karya yang dibacam dengan bimbingan guru.

Baca Tulisan Lain

Cakupan Semantik >>>>>>>> Lihat

Kajian Wacana Bahasa Indonesia >>>>>>>>Lihat

Pemerolehan Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua >>> Lihat

Ketrampilan Dasar Mengajar >>>>>>>>>>>>>>>>>>>> Lihat

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya >>>>>>>>>>>>>>>>Lihat

Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran >>>>>>>>>>>> Lihat

Pendidikan Sebagai Konsumsi dan Investasi Ekonomi

Pendidikan Sebagai Konsumsi dan Investasi Ekonomi

Mikro ekonomi pendidikan mempelajari unsur-unsur permintaan, penawaran, dan harga dari produk jasa pendidikan. Pada unsur permintaan dipelajari tentang bagaimana calon siswa/mahasiswa memaksimumkan pendapatan neto seumur hidup yang diharapkan. Sedang pada pihak produsen, yaitu satuan pendidikan dipelajari tentang bagaimana mengkombinasikan input agar dapat memperoleh biaya total terendah, oleh karena itu maka pembahasan juga akan menyangkut pembahasan tentang pendidikan sebagai industri.

Pendidikan diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pendidikan, di mana lembaga pendidikan dapat mendirikan sebuah atau beberapa satuan pendidikan, maka ini berarti bahwa lembaga pendidikan mempunyai kedudukan sebagai badan usaha, dan satuan pendidikan seperti SD, SLTP, SMU, SMK, dan program-program studi di perguruan tinggi berkedudukan sebagai perusahaan (firm).

Di samping itu karena produk pendidikan berupa jasa, maka perlu diketahui pula mengenai karakteristik dari industri jasa, dalam hal ini adalah jasa pendidikan.

Pasar, Permintaan, dan Penawaran Jasa Pendidikan

Pasar pendidikan adalah keseluruhan permintaan dan penawaran terhadap sejenis jasa pendidikan tertentu. Seperti halnya pada bidang ekonomi, maka pasar di dalam pendidikan dapat dibedakan atas pasar konkret dan pasar abstrak. Dilihat dari bentuknya, pasar pendidikan mempunyai kesamaan dengan pasar persaingan monopoli. Berbicara tentang pasar pendidikan, maka paling tidak ada dua unsur penting, yaitu permintaan pendidikan dan penawaran pendidikan.

Tentang pasar pendidikan ada beberapa definisi. Antara lain yang dikemukakan oleh Hector Corea, ia mengemukakan bahwa permintaan pendidikan menggambarkan kebutuhan, dan dimanifestasikan oleh keinginan untuk diberi pelajaran tertentu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan pendidikan seperti budaya, politik, dan ekonomi. Kemudian permintaan pendidikan perorangan secara agregat dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain: pendapatan orang tua, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, biaya pendidikan, kebijaksanaan umum (Pemerintah), kebijaksanaan lembaga, dan persepsi individu terhadap tiap-tiap jenis pendidikan. Permintaan pendidikan juga tergantung kepada cara pandangnya, yaitu apakah pendidikan itu dianggap sebagai konsumsi, sebagai investasi, atau konsumsi dan investasi.

Penawaran pendidikan dapat dilihat secara makro dan secara mikro. Secara makro, pengadaan pendidikan dapat dilaksanakan berdasarkan pendekatan ketenagakerjaan. Sedang secara mikro, yaitu pengadaan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, seperti sebuah SLTP, sebuah SMU, dan sebagainya.Terlepas oleh siapa pendidikan itu diselenggarakan, maka proses pengadaan pendidikan harus dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Tentang harga pendidikan. Untuk menentukan harga dari jasa pendidikan tidak sederhana, seperti halnya pada harga barang-barang. Karena banyak komponen yang harus dihitung, antara lain yaitu uang pendaftaran, uang pangkal (BP3, dan sebagainya), uang tes sumatif, uang laporan pendidikan, uang pendaftaran ulang, dan sebagainya.

Kemudian tentang elastisitas harga. Elastisitas harga atau elastisitas permintaan pendidikan ialah perbandingan antara perubahan relatif dari permintaan jasa pendidikan dengan perubahan relatif dari harganya. Sesuai dengan bentuk pasarnya, yaitu persaingan monopoli, maka sifat elastisitas permintaannya inelastis.

Pendidikan sebagai Barang Publik dan Barang Swasta

Pendidikan dapat merupakan barang publik dan dapat merupakan barang swasta. Barang publik (public goods) adalah suatu jenis barang yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi tak ada seorang pun yang bersedia untuk menghasilkannya. Ada dua sifat pokok dari barang ini, yaitu nonrival consumption dan non-exclusion. Berdasarkan definisi dan sifat-sifat dari barang publik tersebut, agar pendidikan dapat digolongkan sebagai barang publik, maka harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Pendidikan harus merupakan barang/jasa konsumsi.

  2. Pendidikan dibutuhkan oleh semua orang.

  3. Pihak swasta tidak bersedia untuk menghasilkannya.

  4. Pendidikan, konsumsinya mempunyai sifat nonrival consumption dan non-exclusion.

Sesuai dengan kriteria tersebut, maka pendidikan dasar atau pendidikan wajib belajar yang terdiri dari SD dan SLTP dapat digolongkan sebagai barang publik. Ada beberapa teori yang mendasari tentang barang publik. Teori-teori tersebut dikemukakan oleh Bowen, Eric Lindahl, dan Samuelson. Ketiga teori tersebut pada prinsipnya membahas tentang bagaimana pengadaan dan pembebanan biayanya.

Pendidikan juga dapat digolongkan sebagai barang swasta. Barang swasta (private goods) adalah barang yang penyediaannya dilakukan melalui mekanisme pasar. Termasuk ke dalam kategori ini adalah pendidikan pada tingkat setelah pendidikan wajib belajar, yaitu SLTA (SMU dan SMK), dan Perguruan Tinggi. Pada tingkat ini pengadaan pendidikan bukan hanya didorong oleh motivasi-motivasi yang bersifat keagamaan, dan kebangsaan, tetapi juga didorong oleh pertimbangan-pertimbangan bisnis. Sehingga ada atau tidak adanya atau banyak sedikitnya produksi pendidikan dipengaruhi oleh banyak sedikitnya permintaan dan pendapatan yang mungkin diterima oleh penyelenggara/pengelola di masa yang akan datang.


Pendidikan sebagai Konsumsi dan sebagai Investasi

Pendidikan dapat dipandang sebagai konsumsi, sebagai investasi, dan sebagai konsumsi dan investasi secara komplementer. Pendidikan sebagai konsumsi adalah pendidikan sebagai hak dasar manusia. Atau merupakan salah satu hak demokrasi yang dimiliki oleh setiap warga negara. Sehingga sampai tingkat tertentu pengadaan harus dilakukan oleh pemerintah. Oleh karena itu maka di banyak negara pendidikan dasar (SD dan SLTP) dijadikan sebagai pendidikan wajib belajar. Sebagai konsekuensinya pendidikan pada tingkat ini pendidikan bukan hanya sebagai hak, tetapi juga sebagai kewajiban bagi setiap warga negara pada tingkat umur tertentu (di Indonesia antara 6 sampai 15 tahun).

Dilihat dari segi sifat kebutuhan, pengadaannya pendidikan pada tingkat ini merupakan barang publik. Kemudian dilihat dari motivasinya, maka pendidikan sebagai konsumsi ini dimotivasi oleh keinginan untuk memuaskan kebutuhan akan pengembangan kepribadian, kebutuhan sosial, kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman. Selanjutnya mengenai orientasi waktunya adalah sekarang. Permintaan pendidikan ini dipengaruhi oleh besar kecilnya pendapatan disposibel.

Pendidikan sebagai investasi bertujuan untuk memperoleh pendapatan neto atau rate of return yang lebih besar di masa yang akan datang. Biaya pendidikan dalam jenis pendidikan ini dipandang sebagai jumlah uang yang dibelikan untuk memperoleh atau ditanamkan dalam sejumlah modal manusia (human capital) yang dapat memperbesar kemampuan ekonomi di masa yang akan datang. Pendidikan sebagai investasi didasarkan atas anggapan bahwa manusia merupakan suatu bentuk kapital (modal) sebagaimana bentuk-bentuk kapital lainnya yang sangat menentukan terhadap pertumbuhan produktivitas suatu bangsa. Melalui investasi dirinya seseorang dapat memperluas alternatif untuk kegiatan-kegiatan lainnya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya di masa yang akan datang.

Pendidikan sebagai konsumsi dan investasi secara komplementer.

Pendidikan setelah pendidikan wajib belajar mempunyai tujuan bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman, pengembangan kepribadian, dan pemuasan terhadap kebutuhan sosial (status dan gengsi) juga untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, sehingga dapat memperoleh pendapatan neto seumur hidup yang lebih tinggi di masa yang akan datang.

Sesuai dengan uraian tersebut di atas, maka jumlah pendidikan yang diperoleh oleh seseorang akan mempunyai pengaruh terhadap tinggi rendahnya pendapatan yang ia peroleh, walaupun tidak menjamin sepenuhnya. Akan tetapi kecenderungan tersebut cukup besar.


Pengertian dan Pengukuran Human Capital

Pengertian dan pengukuran human capital. Teori human capital adalah suatu pemikiran yang menganggap bahwa manusia merupakan suatu bentuk kapital atau barang modal sebagaimana barang-barang modal lainnya, seperti tanah, gedung, mesin, dan sebagainya. Human capital dapat didefinisikan sebagai jumlah total dari pengetahuan, skill, dan kecerdasan rakyat dari suatu negara.

Investasi tersebut (human capital) dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh tingkat konsumsi yang lebih tinggi di masa yang akan datang. Walaupun kontroversi mengenai diperlakukannya human resources sebagai human capital belum terselesaikan, namun beberapa ekonom klasik dan neo-klasik seperti Adam Smith, Von Threnen, dan Alfred Marshall sependapat bahwa human capital terdiri dari kecakapan-kecakapan yang diperoleh melalui pendidikan dan berguna bagi semua anggota masyarakat. Kecakapan-kecakapan tersebut merupakan kekuatan utama bagi pertumbuhan ekonomi.

Di samping masih adanya perbedaan pendapat mengenai konsep human capital, juga terdapat perbedaan pendapat mengenai pengukurannya. Menurut Mary Jean Bowman perbedaan pendapat tersebut bersumber pada dua hal, yaitu Pertama mengenai persoalan apakah kapital (human capital) itu sebagai persediaan (store) ataukah sebagai input terhadap produksi. Kedua, berkenaan dengan pembobotan. Dalam pembobotan ini terlihat adanya upaya-upaya untuk memperlakukan ukuran-ukuran kuantitatif dan kualitatif dalam satuan-satuan human capital. Namun belum ada kesepakatan mengenai perlakuan pengukuran kuantitatif dalam human capital. Suatu ukuran pendididikan yang diwujudkan dalam labor force dapat digunakan untuk mengubah kualitas menjadi kuantitas. Komponen-komponen pendidikan kemudian menjadi variabel yang spesifik yang dapat dibandingkan dengan kapital fisik, dan ukuran angkatan kerja dalam pertumbuhan ekonomi. Sebagai konsekuensinya, maka satuan kapital didefinisikan dalam pengertian yang terbatas, yaitu dalam labor force, yang dapat diukur dengan beberapa cara, antara lain ialah:

  1. Number of school years

  2. Efficiency-equivalence units

  3. Base-year lifetime earned income

  4. Approximations to base year real cost

  5. Approximations to current real cost

    Ada beberapa persoalan pengukuran pembentukan human capital menurut pendekatan dasar biaya. Ukuran-ukuran pembentukan kapital neto menemui beberapa kesulitan, antara lain.

    1. Berkenaan dengan masalah kompleksnya hubungan antara konsumsi dan investasi.

    2. Adalah berkenaan dengan bagaimana memperlakukan pengangguran dalam memperkirakan opportunity cost.


    Pengembangan Sumber Daya Manusia

    Bahwa sumber daya ada tiga macam, yaitu sumber daya alam (natural resources), sumber daya manusia (human resources), dan sumber daya modal (capital resources).Yang dibahas di sini adalah sumber daya manusia yang titik beratnya pada modal manusia (human capital). Tujuan dari pengembangan sumber daya manusia adalah untuk meningkatkan mutunya dan penggunaannya. Tentang tujuan ini dikemukakan secara singkat dalam Statement Budapest dan Jakarta Plan of Action. Ada dua aspek utama dalam pengembangan sumber daya manusia, yaitu aspek mikro, yaitu yang berkenaan dengan pengembangan pribadi, dan aspek makro, yang berkenaan dengan sarana, fasilitas, dan iklim yang berkenaan dengan pengembangan pribadi.

    Upaya pengembangan tersebut dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan Pelatihan dilakukan dengan maksud untuk membentuk, mempersiapkan, membina, dan meningkatkan kemampuan-kemampuan manusia (peserta didik) dan penggunaannya. Oleh karena pengembangan tersebut dilakukan dengan mengorbankan konsumsi pasa saat pengembangan berlangsung dan ditujukan untuk memperoleh tingkat konsumsi yang lebih tinggi di masa yang akan datang, maka pada hakikatnya kegiatan tersebut merupakan investasi, yaitu investasi dalam sumber daya manusia (human capital). Jadi pendidikan dan latihan mempunyai peranan yang penting, bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga meningkatkan produktivitas kerja. Sebagai human capital, maka pendidikan yang dimaksud di sini adalah pendidikan yang ditempuh setelah sekolah wajib belajar.

    Pendidikan dan latihan dapat dilakukan di luar sekolah, antara lain melalui on the job training, institusional training, apprenticeship traning, dan up-grading training. On the job training diberikan kepada mereka yang resmi berstatus pegawai. Ada dua bentuk pelatihan yaitu in-service training dan pre-service training. Pelatihan kelembagaan (institusional training) dilakukan melalui organisasi dan pengembangan sistem secara integral sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Pelaksanaannya biasanya dilakukan oleh perguruan tinggi. Pelatihan tingkat teknis dan pelatihan tingkat pekerja tangan. Kemudian pelatihan magang. Pelatihan ini diberikan kepada mereka yang akan diangkat menjadi pegawai/pekerja. Selanjutnya pelatihan upgrading. Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kecerdasan dari mereka yang telah mempunyai tugas tertentu.

    1. Peningkatan mutu pendidikan dapat dilaksanakan dengan menetapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan yaitu melalui konsensus nasional antara pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat. Standar hasil pendidikan mungkin akan berbeda antarsekolah dan antardaerah akan menghasilkan standar kompetensi nasional dalam tingkatan standar minimal, normal (mainstream) dan unggulan.

    2. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan mengarah pada pengelolaan pendidikan berbasis sekolah, dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia bagi tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan

    3. Peningkatan relevansi pendidikan mengarah pada pendidikan berbasis masyarakat. Peningkatan peran serta orang tua dan masyarakat pada level kebijakan dan level operasional melalui komite atau dewan sekolah. Komite ini terdiri dari kepala sekolah, guru senior, wakil orang tua, tokoh masyarakat dan perwakilan siswa. Peran komite ini meliputi perencanaan, implementasi, monitoring serta evaluasi program kerja sekolah.

    4. Pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan. Hal ini berkenaan dengan penerapan formula pembiayaan pendidikan yang adil dan transparan, upaya pemerataan mutu pendidikan dengan adanya standar kompetensi minimal serta pemerataan pelayanan pendidikan bagi siswa pada seluruh lapisan masyarakat.

      Wajib Belajar Pendidikan Dasar


  1. Input, Proses, dan Hasil Pendidikan

    Tujuan pendidikan nasional secara makro adalah terwujudnya masyarakat madani sebagai bangsa dan masyarakat Indonesia baru dengan tatanan kehidupan yang sesuai dengan amanat proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui proses pendidikan. Masyarakat Indonesia Baru tersebut memiliki sikap dan wawasan keimanan dan akhlak yang tinggi, kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan menunjung hak azasi manusia serta berpengertian dan berwawasan global.

    Tujuan pendidikan nasional secara mikro adalah terwujudnya individu manusia baru yang memiliki sikap dan wawasan keimanan dan akhlak tinggi, kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan menjunjung hak azasi manusia, saling pengertian dan berwawasan global.

    Misi makro pendidikan nasional jangka panjang adalah menuju masyarakat madani. Dalam bidang pendidikan penyelenggaraan organisasi pelaksanaan pendidikan yang otonom, luas namun adaftif dan fleksibel, bersifat terbuka dan berorientasi pada keperluan dan kepentingan bangsa. Perimbangan wewenang dan partisipasi masyarakat telah berkembang secara alamiah. Pendidikan telah menyelenggarakan kehidupan masyarakat yang berwawasan global, memiliki komitmen nasional dan bertindak secara lokal menuju kepada keunggulan, serta menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat peradaban.

    Misi mikro pendidikan jangka panjang adalah mempersiapkan individu masyarakat Indonesia menuju masyarakat madani. Pendidikan menghasilkan individu yang mandiri, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, terampil berteknologi dan mampu berperan sosial. Kurikulum pendidikan dilaksanakan secara terbuka sehingga dapat memenuhi kebutuhan maya maupun nyata. Pendidikan menghasilkan manusia berwawasan keteladanan, berkomitmen dan disiplin tinggi.

    Relevansi, Efisiensi, Mutu, Pemerataan, dan Kebijakan Pendidikan

  2. Anak adalah tumpuan harapan bangsa, karena anak merupakan generasi penerus. Agar anak menjadi generasi penerus yang memiliki potensi sumber daya manusia yang tangguh, maka tumbuh berkembangnya harus berjalan secara optimal. Dan di sinilah peran pendidikan.

  3. Anak dan masa depan adalah suatu kesatuan yang dapat diwujudkan untuk membentuk suatu generasi yang dibutuhkan oleh bangsa, terutama bangsa yang sedang membangun. Peningkatan keterampilan, pembinaan mental dan moral harus lebih ditingkatkan demikian pula aspek-aspek lainnya.

  4. Kualitas manusia yang tangguh, andal dan unggul harus dipersiapkan oleh pendidikan, sebab menunjang terhadap perikehidupan yang sedang ditempuh. Kualitas unggul dalam proses pendidikan ini, selain memiliki karakteristik abadi seperti ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kejujuran, budi pekerti yang luhur, harus ditambah dengan keuletan, kegigihan, daya saing, kemandirian, keberanian memecahkan masalah dan menghadapi realitas serta rajin dan bekerja keras juga berdisiplin tinggi.

  5. Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harga dan martabat bangsa berlangsung seumur hidup dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Sumer Buku Ekonomi Pendidikan Karya Abdullah N.S.

JADWAL UNAS 2008 SMP/MTs DAN SMA

JADWAL UJIAN NASIOAL 2008

SMP/MTs :
Hari pertama :
5 Mei 2008, Jam 08.00 – 10.00 Bahasa Indonesia
Hari kedua :
6 Mei 2008, Jam 08.00 – 10.00 Matematika
Hari ketiga :
7 Mei 2008, Jam 08.00 – 10.00 Bahasa Inggris
Hari keempat :
8 Mei 2008, Jam 08.00 – 10.00 IPA

SMA/MA :
12 SMA IPA

Hari pertama :
22 April 2008, Jam 08.00 – 10.00 Bahasa Indonesia
Jam 10.30 – 12.30 Matematika
Hari kedua :
23 April 2008, Jam 08.00 – 10.00 Bahasa Inggris
Jam 10.30 – 12.30 Kimia
Hari ketiga :
24 April 2008, Jam 08.00 – 10.00 Fisika
Jam 10.30 – 12.30 Biologi

12 SMA IPS
Hari pertama :
22 April 2008, Jam 08.00 – 10.00 Bahasa Indonesia
Jam 10.30 – 12.30 Matematika
Hari kedua :
23 April 2008, Jam 08.00 – 10.00 Bahasa Inggris
Jam 10.30 – 12.30 Geografi
Hari ketiga :
24 April 2008, Jam 08.00 – 10.00 Ekonomi
Jam 10.30 – 12.30 Sosiologi

JUMLAH SOAL UNAS 2008

SMP/MTs :
Bahasa Indonesia 50 soal 120 menit
Matematika 40 soal 120 menit
Bahasa Inggris 50 soal 120 menit
IPA 50 soal 120 menit

SMA/MA :
12 SMA IPA

Bahasa Indonesia 50 soal 120 menit
Bahasa Inggris 50 soal 120 menit
Matematika 40 soal 120 menit
Fisika 40 soal 120 menit
Kimia 40 soal 120 menit
Biologi 40 soal 120 menit

12 SMA IPS
Bahasa Indonesia 50 soal 120 menit
Bahasa Inggris 50 soal 120 menit
Matematika 40 soal 120 menit
Ekonomi 40 soal 120 menit
Geografi 40 soal 120 menit
Sosiologi 40 soal 120 menit

Standar Kompetensi Lulusan Ujian Nasioanal 2008 SMP

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)

UJIAN NASIONAL 2008 SMP/MTs

  1. BAHASA INDONESIA

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)

URAIAN

  1. MEMBACA

Membaca dan memahami berbagai ragam wacana tulis (artikel, berita, opini/tajuk, tabel, bagan, grafik, peta, denah), berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, novel, dan drama.

  • Membaca dan memahami berbagai bentuk wacana tulis (artikel, berita, opini/tajuk, tabel, bagan, grafik, peta, denah) dan karya satra puisi, cerpen, novel, drama, yang mencakup :

    • gagasan utama paragraf

    • kritikan isi bacaan

    • kesamaan informasi dari beberapa teks berita

    • isi berita

    • perbedaan penyajian beberapa teks berita

    • fakta/pendapat, simpulan bacaan

    • gagasan utama dan pendukung dalam tajuk

    • fakta dalam tajuk

    • keberpihakan penulis

    • simpulan isi tajuk

    • isi tabel, bagan, grafik, peta atau denah

    • unsur intrinsik puisi

    • unsur intrinsik cerpen

    • unsur intrinsik novel

    • unsur intrinsik drama

  1. MENULIS

Menulis karangan nonsastra dengan menggunakan kosakata yang bervariasi dan efektif dalam bentuk buku harian, surat resmi, surat pribadi, pesan singkat, laporan, petunjuk, rangkuman, slogan dan poster, iklan baris, teks pidato, karya ilmiah, dan menyunting serta menulis karya sastra puisi dan drama.

  • Menggunakan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman dalam berbagai wacana tulis berupa:

buku harian – slogan/poster

– surat pribadi – iklan baris

surat resmi – teks pidato

– pesan singkat (memo) – karya ilmiah

– laporan – pantun

– petunjuk melakukan sesuatu – puisi

– rangkuman – drama

  • Menyunting berbagai ragam teks berpedoman pada ketepatan ejaan, tanda baca, pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana

  1. BAHASA INGGRIS

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)

URAIAN

  1. READING (Membaca)

Memahami makna dalam wacana tertulis pendek baik teks fungsional maupun esei sederhana berbentuk deskriptif (descriptive, procedure dan report) dan naratif (narrative dan recount) dalam konteks kehidupan sehari-hari.

    • Memahami makna teks tulis fungsional pendek seperti pesan pendek, pengumuman, kartu ucapan, label, iklan, brosur, surat pribadi, dll. Dan esei sederhana berbentuk deskriptif (descriptive, procedure dan report) dan naratif (narrative dan recount) dalam konteks kehidupan sehari-hari dengan cara mengidentifikasi:

      • gagasan utama (judul, tema, pokok pikiran)

      • informasi rinci tersurat

      • informasi tersirat

      • rujukan kata

      • makna kata, frasa dan kalimat (termasuk kata, tata bahasa dan ciri kebahasaan lainnya yang terkait dengan jenis teks dan tema)

  1. WRITING (Menulis)

Mengungkapkan makna secara tertulis teks fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk deskriptif (descriptive, procedure dan report) dan naratif (narrative dan recount) dalam konteks kehidupan sehari-hari.

    • Mengungkapkan makna dalam bentuk teks tulis fungsional pendek seperti pesan pendek, pengumuman, kartu ucapan, label, iklan, brosur, surat pribadi, dan lain-lain, dan esei sederhana berbentuk deskriptif (descriptive, procedure dan report) dan naratif (narrative dan recount) dalam konteks kehidupan sehari-hari dengan cara:

      • menyusun kata/kalimat acak menjadi kalimat/paragraph yang padu,

      • melengkapi kalimat/paragraph/teks rumpang.

  1. MATEMATIKA

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)

URAIAN

  1. Memahami konsep operasi hitung dan sifat-sifat bilangan, perbandingan, aritmatika social, barisan bilangan, serta mampu menggunakannya dalam pemecahan masalah.

    • Bilangan

      • Operasi hitung bilangan bulat

      • Operasi hitung bilangan pecahan

      • Perbandingan

      • Aritmatika sosial

    • Barisan bilangan

      • Pola bilangan

      • Rumus suku ke-n
  1. Memahami operasi bentuk aljabar, konsep persamaan dan pertidaksamaan linear, persamaan garis, himpunan, relasi fungsi, sistem persamaan linear, serta mampu menggunakannya dalam pemecahan masalah.

    • Operasi bentuk aljabar

    • Persamaan dan pertidaksamaan linear satu variable

    • Himpunan

      • Himpunan bagian

      • Irisan dan gabungan dua himpunan

      • Diagram Venn

    • Relasi dan fungsi

      • Aturan pemetaan

      • Nilai fungsi

      • Grafik fungsi linear

    • Sistem persamaan linear dua variabel

    • Gradien dan persamaan garis lurus

3. Memahami bangun datar, bangun ruang, garis sejajar, dan sudut, serta mampu menggunakannya dalam pemecahan masalah.

  • Bangun datar (Segitiga, Segiempat dan Lingkaran)

– Sifat-sifat

– Sudut

– Luas dan keliling

– Garis singgung lingkaran

– Teorema Pythagoras

– Kesebangunan

– Kongruensi

  • Bangun ruang

– Unsur-unsur

– Model kerangka dan jaring-jaring

– Luas permukaan dan volume

  • Garis sejajar

– Sifat-sifat dan besar sudut

4. Memahami konsep dalam statistika, serta mampu menerapkannya dalam pemecahan masalah

  • Statistika

      • Tendensi sentral/ukuran pemusatan

      • Menyajikan dan menafsirkan data

IV. ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA)

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)

URAIAN

1. Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

    • Besaran dan satuan

    • Pengukuran

  1. Menerapkan konsep zat dan kalor serta kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

  • Wujud zat

  • Massa jenis

  • Pemuaian

  • Kalor dan perpindahan kalor

  1. Mendeskripsikan dasar-dasar mekanika (gerak, gaya, usaha dan energi) serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

  • Gerak lurus, gaya, dan percepatan

  • Tekanan pada benda padat, cair, dan gas

  • Perubahan bentuk energi

  • Usaha dan energi

  • Pesawat sederhana

  1. Memahami konsep-konsep dan penerapan getaran, gelombang, bunyi, dan optik dalam produk teknologi sehari-hari.

  • Getaran dan gelombang

  • Bunyi

  • Optik geometrik (cahaya)

  • Alat-alat optik

5. Memahami konsep kelistrikan dan kemagnetan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

  • Listrik statis

  • Listrik dinamis

  • Energi dan daya listrik

  • Kemagnetan

  • Induksi elektromagnetik

6. Memahami sistem tata surya dan proses yang terjadi di dalamnya.

  • Sistem tata surya

  • Matahari sebagai bintang

  • Gerakan bumi(rotasi dan revolusi)

  • Gerhana, pasang naik, dan pasang surut

7. Mendeskripsikan ciri-ciri dan keanekaragaman makhluk hidup, komponen ekosistem serta interaksi antar makhluk hidup dalam lingkungan, pentingnya pelestarian makhluk hidup dalam kehidupan.

  • Ciri-ciri makhluk hidup

  • Pengelompokan makhluk hidup

  • Keragaman pada tingkat organisasi kehidupan

  • Keanekaragaman makhluk hidup dan upaya pelestariannya

  • Komponen ekosistem, peran dan interaksinya.

  • Pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.

  • Hubungan antara kepadatan populasi manusia dengan lingkungan

8. Mengkaitkan hubungan antara struktur dan fungsi jaringan/organ-organ pada tumbuhan dan manusia.

  • Sistem gerak pada manusia

  • Sistem pencernaan pada manusia

  • Sistem pernapasan pada manusia

  • Sistem peredaran darah pada manusia

  • Sistem ekskresi pada manusia

  • Sistem saraf pada manusia

  • Struktur dan fungsi tubuh tumbuhan

  • Macam-macam gerak pada tumbuhan

  • Proses perolehan nutrisi pada tumbuhan

9. Mengaplikasikan konsep pertumbuhan dan perkembangan, kelangsungan hidup dan pewarisan sifat pada organisme serta kaitannya dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat.

  • Pertumbuhan dan perkembangan

  • Kelangsungan hidup organisme

  • Cara-cara reproduksi

  • Teknologi reproduksi, hubungannya dengan lingkungan dan masyarakat

10. Mengidentifikasi bahan kimia alam dan buatan yang terdapat dalam bahan makanan dan pengaruhnya terhadap kesehatan.

  • Bahan kimia dalam bahan makanan

  • Zat aditif dan psikotropika