Category Archives: GURU

DownLoad dan Menginstall Kalkulator Konversi v.1.0

DownLoad Kalkulator Konversi v.1.0
Kalkulator Konversi v.1.0 adalah freeware sangat baik untuk program bantu belajar, semuanya berisi :

1. Konversi energi seperti dalam satuan kalori, watt/jam, erg,joule, electron volt dan BTU

2. Konversi volume seperti dalam satuan liter, galon, kaki kubik, meter kubik dan centimeter kubik

3.Konversi Temperatur seperti dalam satuan celcius, fahrenheit, kalvin dan rankine

4.Konversi Daya seperti dalam satuan dyne, gram force,poundal,joule/cm

5.Konversi Tekanan seperti dalam satuan atm, bar, kg/cm2,k Pascal dll

6.Konversi Panjang seperti dalam satuan km, inchi, mile, yard, kaki dll

7.Konversi massa seperti dalam satuan ton, kg, ons, gram,pound dll

8.Konversi Luas seperti dalam satuan m2, m2, are, hektar, mile2,dll

setelah selesai anda download program ini perlu diinstall ikuti petunjuk, klik next sampai finish selanjutnya jalankan klik start > all program > kalkulator konversi…kapasitas file download hanya 429 kb untuk mengambil file

download di sini

Nilai-nilai Yg Dikembangkan dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Nilai-nilai yang Dikembangkan dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan budaya dan karakter bangsa perlu dikemukakan pengertian istilah budaya, karakter bangsa, dan pendidikan.
Pengertian yang dikemukakan di sini dikemukakan secara teknis dan digunakan dalam mengembangkan pedoman ini. Guru-guru Antropologi, Pendidikan Kewarganegaraan, dan mata pelajaran lain, yang istilah-istilah itu menjadi pokok bahasan dalam matapelajaran terkait, tetap memiliki kebebasan sepenuhnya membahas dan berargumentasi mengenai istilah-istilah tersebut secara akademik.

Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral,norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi dengan sesama manusia dan alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya. Ketika kehidupan manusia terus berkembang, maka yang berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang.
Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa.
Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila; jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain, mendidik budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.

Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya dan karakter bangsa untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan
nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat.

Berdasarkan pengertian budaya, karakter bangsa, dan pendidikan yang telah dikemukakan di atas maka pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif .

Atas dasar pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat
strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang.
Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah; oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.

Landasan Pedagogis Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada, terutama dari lingkungan budayanya, karena peserta didik hidup tak terpishkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah budayanya.
Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip itu akan menyebabkan peserta didik tercerabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi, maka mereka tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing” dalam lingkungan budayanya. Selain menjadi orang asing, yang lebih mengkhawatirkan adalah dia menjadi orang yang tidak menyukai budayanya.
Budaya, yang menyebabkan peserta didik tumbuh dan berkembang, dimulai dari budaya di lingkungan terdekat (kampung, RT, RW, desa) berkembang ke lingkungan yang lebih luas yaitu budaya nasional bangsa dan budaya universal yang dianut oleh ummat manusia. Apabila peserta didik menjadi asing dari budaya terdekat maka dia tidak mengenal dengan baik budaya bangsa dan dia tidak mengenal dirinya sebagai anggota budaya bangsa. Dalam situasi demikian, dia sangat rentan terhadap pengaruh budaya luar dan bahkan cenderung untuk menerima budaya luar tanpa proses pertimbangan (valueing). Kecenderungan itu terjadi karena dia tidak memiliki norma
dan nilai budaya nasionalnya yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pertimbangan (valueing).

Semakin kuat seseorang memiliki dasar pertimbangan, semakin kuat pula kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang baik. Pada titik kulminasinya, norma dan nilai budaya secara kolektif pada tingkat makro akan menjadi norma dan nilai budaya bangsa. Dengan demikian, peserta didik akan menjadi warga negara Indonesia yang memiliki wawasan, cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan norma dan nilai ciri ke-Indonesiaannya.
Hal ini sesuai dengan fungsi utama pendidikan yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas, “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu, aturan dasar yang mengatur pendidikan nasional (UUD 1945 dan UU Sisdiknas) sudah memberikan landasan yang kokoh untuk mengembangkan keseluruhan potensi diri seseorang sebagai anggota masyarakat dan bangsa.

Pendidikan adalah suatu proses enkulturasi, berfungsi mewariskan nilai-nilai dan prestasi masa lalu ke generasi mendatang. Nilai-nilai dan prestasi itu merupakan kebanggaan bangsa dan menjadikan bangsa itu dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Selain mewariskan, pendidikan juga memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu itu menjadi nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter baru bangsa. Oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti dari suatu proses pendidikan.

Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter itu menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani dan olahraga, seni, serta ketrampilan). Dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa, kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting.
Kesadaran tersebut hanya dapat terbangun dengan baik melalui sejarah yang memberikan pencerahan dan penjelasan mengenai siapa diri bangsanya di masa lalu
yang menghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini. Selain itu, pendidikan harus membangun pula kesadaran, pengetahuan, wawasan, dan nilai berkenaan dengan lingkungan tempat diri dan bangsanya hidup (geografi), nilai yang hidup di masyarakat (antropologi), sistem sosial yang berlaku dan sedang berkembang (sosiologi), sistem ketatanegaraan, pemerintahan, dan politik (ketatanegaraan/politik/ kewarganegaraan),
bahasa Indonesia dengan cara berpikirnya, kehidupan perekonomian, ilmu, teknologi, dan seni. Artinya, perlu ada upaya terobosan kurikulum berupa pengembangan nilainilai yang menjadi dasar bagi pendidikan budaya dan karakter bangsa. Dengan terobosan kurikulum yang demikian, nilai dan karakter yang dikembangkan pada diri peserta didik akan sangat kokoh dan memiliki dampak nyata dalam kehidupan diri, masyarakat, bangsa, dan bahkan umat manusia.

Pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu pendidikan budaya dan karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional.

Fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Fungsi pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:

1. pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa;
2. perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
3. penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

Tujuan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Tujuan pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:

1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
2. mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
3. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
4. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Nilai-nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini.

1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

2. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilainilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

4. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini.

1. Nilai Religius yaitu Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Nilai Jujur yaitu Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Nilai Toleransi yaitu Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin yaitu Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

5. Nilai Kerja yaitu Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya

7. Nilai Mandiri yaitu Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Nilai Demokratis yaitu Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Nilai Rasa Ingin Tahu yaitu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar

10. Nilai Semangat Kebangsaan yaitu Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya

11. Nilai Cinta Tanah Air yaitu Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa

12. Nilai Menghargai Prestasi yaitu Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain

13. Nilai Bersahabat/Komuniktif yaitu Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain

14. Nilai Cinta Damai yaitu Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya

15. Gemar Membaca yaitu Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya

16. Nilai Peduli Lingkungan yaitu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Nilai Peduli Sosial yaitu Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan

18. Nilai Tanggung-jawab yaitu Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sekolah dan guru dapat menambah atau pun mengurangi nilai-nilai tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah dan hakekat materi SK/KD dan
materi bahasan suatu mata pelajaran. Meskipun demikian, ada 5 nilai yang diharapkan menjadi nilai minimal yang dikembangkan di setiap sekolah yaitu nyaman, jujur,
peduli, cerdas, dan tangguh/kerjakeras.

Sumber Buku Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Metode Penelitian yg Dapat Digunakan pada Penelitian Sastra

Metode Penelitian yg Dapat Digunakan pada Penelitian Sastra

1. Metode Kualitatif
Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang
berada dalam hubungan konteks keberadaanya. Landasan berpikir metode
kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber, Immanuel kant, dan Wilhlem Dilthey . Objek sosial bukan gejala social sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai.
Dalam ilmu sosial, sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data
penelitiannya adalah tindakan-tindakan. Dalam ilmu sastra, sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks.
Sejalan dengan uraian di atas, ciri-ciri terpenting metode kualitatif . Ciri-ciri yang dimaksud adalah:
1. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan, sesuai dengan hakikat objek, yaitu sebagai studi kultural;
2. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian
sehingga makna selalu berubah;
3. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian, subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya;
4. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian
bersifat terbuka;
5. penelitian bersifat alamiah, terjadi dalam konteks sosial budayanya
masing-masing.

2. Metode Deskriptif

Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status
sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki.
Menurut Whitney metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena
tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti
mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative
survey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status)
fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Metode ini dinamakan juga studi status .

Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar.
Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama
dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan
antarfenomena. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.

Mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah:

A. kriteria umum:
1. masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas
2. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum
3. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini
4. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas

5. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan
6. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam
mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi
kepustakan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya
dengan kerangka teoretis yang digunakan, jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan.

B. kriteria khusus
1. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai
(value)
2. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai
masalah status.
3. sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu tidak ada kontrol
terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau
manipulasi terhadap variabel; variabel dilihat sebagaimana adanya.
Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah:

1. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada
kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada
2. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan; tujuan ini
harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah
3. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian
deskriptif tersebut akan dilaksanakan; seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau
4. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual
5. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan
6. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji, baik secara eksplisit maupun secara implisit
7. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data; gunakan teknik
pengumpulan data yang cocok untuk penelitian
8. membuat tabulasi serta analisis (statistik); dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan
9. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi
yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan
10. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji

Jenis-jenis penelitian deskriptif yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah:
1. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari
gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara
faktual; dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap
hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau
masalah yang serupa
2. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian;
penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail
3. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang
berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan
personalitas; subjek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga,
maupun masyarakat. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta
karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu
yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal
yang bersifat umun
4. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan
menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Dalam studi komparatif ini, sulit diketahui
faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab
penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol; metode yang
digunakan di dalamnya adalah ex post facto, yaitu data dikumpulkan
setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung;

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji
hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

Contoh Jenis Pertanyaan Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Contoh Jenis Pertanyaan Berdasarkan Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Sering kita mengamati guru yang mengajukan banyak pertanyaan dalam proses pembelajarannya di dalam kelas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang sangat banyak sehingga terkesan bahwa guru itu sedang menguji siswanya. Namun, apabila dicermati, jenis-jenis pertanyaan yang dilontarkan hanya sebatas pertanyaan yang membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, atau pertanyaan yang membutuhkan hanya satu jawaban tertentu. Pertanyaan tersebut sama sekali tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir kreatif, yaitu kurang menuntut siswa untuk mengemukakan gagasannya sendiri.
Jenis pertanyaan yang diajukan atau tugas yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berpikir siswa. Pertanyaan/tugas tersebut bukan hanya untuk memfokuskan siswa pada kegiatan, tetapi juga untuk menggali potensi belajar mereka. Pertanyaan atau tugas yang memicu siswa untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif.
Kondisi di atas akan terjadi apabila guru cukup selektif dalam menggunakan jenis pertanyaan yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa. Pada tahun 1950, Benjamin S. Bloom memperkenalkan konsep tingkatan dalam berpikir. Tingkatan berpikir tersebut dapat dipakai guru dalam menyusun pertanyaan atau tugas yang akan diberikan kepada siswa. Berikut adalah tingkatan berpikir Bloom versi perbaikan.


Mengkreasi

Menghasilkan ide-ide baru, produk, atau cara memandang terhadap sesuatu.
Kegiatan: mendisain, membangun, merencanakan, menemukan.


Mengevaluasi

Menilai suatu keputusan atau tindakan.
Kegiatan: memeriksa, membuat hipotesa, mengkritik, bereksperimen, memberi penilaian.


Menganalisis

Mengolah informasi untuk memahami sesuatu dan mencari hubungan.
Kegiatan: membandingkan, mengorganisasi, menata ulang, mengajukan pertanyaan, menemukan.


Menerapkan

Menggunakan informasi dalam situasi lain.
Kegiatan: menerapkan, melaksanakan, menggunakan, melakukan..


Memahami

Menerangkan ide atau konsep.
Kegiatan: menginterpretasi, merangkum, mengelompokkan, menerangkan.


Mengingat

Kegiatan: mengenali, membuat daftar, menggambarkan, menyebutkan

Coba cermmati contoh pertanyaan/tugas berdasarkan tingkatan berpikir Taksonomi Bloom

Mata Pelajaran Matematika
Bangun 3 Dimensi

Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Rancanglah suatu bangun baru yang memiliki bagian-bagian yang berasal dari bangun yang kamu pilih tadi. Beri nama untuk bangun barumu dan namailah bagian-bagiannya.

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Menurutmu, apakah bangun tersebut tepat digunakan di tempat kamu menemukannya
tadi? Mengapa?

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
Terangkan mengapa bangun tadi digunakan di tempat dimana kamu menemukannya.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Gambarlah bangun yang kamu pilih tadi.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Carilah benda-benda yang memiliki bentuk yang sama dengan bangun yang kamu
pilih tersebut.

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Sebutkan ciri-ciri dari bangun yang kamu pilih.

Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
Serangga

Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Buatlah jenis serangga baru dari bagian-bagian tubuh serangga yang ada. Gambar dan beri nama bagian-bagian tersebut.

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Kalau kamu ingin menjadi serangga, serangga apa yang jadi pilihanmu? Sebutkan alasannya, paling sedikit lima alasan.

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
Pilih dua macam serangga, bandingkan. Tulislah hasil perbandinganmu.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Wawancarailah 10 orang untuk mengetahui serangga yang paling tidak disukai. Buatlah
grafik dari hasil wawancara tersebut dan simpulkan hasilnya.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Pilihlah satu nama serangga. Buatlah 10 pernyataan tentang serangga tersebut.
5 pernyataan tentang fakta dari serangga tersebut dan 5 lainnya merupakan opini. Tulis di atas kertas yang berbeda. Berikan kepada temanmu dan minta temanmu untuk
memeriksa pekerjaanmu.

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Buatlah daftar nama-nama serangga, kelompokkan berdasarkan jenis serangga yang
membahayakan dan tidak membahayakan.

Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Pasar

Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Buatlah usulan perubahan/perbaikan yang dapat membuat pasar di sekitar rumahmu
menjadi lebih baik. Kirimkan surat itu kepada pemerintah setempat.

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Setujukah kamu apabila semua pasar tradisional diganti dengan pasar modern? Mengapa?

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
Bandingkan kondisi beberapa jenis pasar, carilah apa saja kekuatan dan kelemahan masingmasing jenis pasar?

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Misalkan kamu adalah salah seorang anggota Panitia Peringatan Kemerdekaan RI di
sekolahmu dan merencanakan untuk membuat pesta. Buatlah daftar barang-barang yang kamu butuhkan dan putuskan di pasar jenis apa kamu akan membelinya. Berikan alasanmu.

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Cari nama-nama pasar yang kamu ketahui dan kelompokkan menurut jenisnya.

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Sebutkan jenis-jenis pasar yang kamu ketahui dan ciri-cirinya.

Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Sempurna

Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu
Di setiap langkahku
ku kan selalu merindukan dirimu
Tapi satu bayangkan hidup tanpa cintamu
Janganlah kau tinggal diriku
Ku tak akan mampu semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Engkau di diriku, oh sayangku
Engkau begitu sempurna
Dinyanyikan oleh: Gita Gutawa


Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Tulislah sebuah puisi tentang seseorang yang kamu kirimi surat!

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Selama ini sikap baik apa yang sudah kamu lakukan kepada seseorang yang kamu kirimi surat?

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
Bandingkan perasaanmu antara kepada temanmu dengan kepada seseorang yang kamu kirimi surat!

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Tulislah surat untuk seseorang, mungkin ibu atau gurumu yang sesuai dengan isi lagu tersebut!

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Rangkumlah isi lagu tersebut!

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Temukan dua kata yang bermakna kias!

Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Kancil and Crocodile

Kancil was a clever mousedeer. He had many enemies. One of them was Crocodile. Crocodile lived in a river in the forest. Now, one day, Kancil went to the river. It was a very hot day, and he wanted to have a bath. Kancil bathed and splashed about in the water. Crocodile saw Kancil. “A nice meal,” he thought. Then, he crawled behind Kancil
and grabbed him. He caught one of Kancil’s legs. Kancil was errified. Then, he had an idea. He saw a twig floating near him. He picked it up and said, “You stupid fool! So you think you’ve got me. You’re biting a twig – not my leg. Here, this is my leg.” And with that, he showed Crocodile the twig. Crocodile could not see well. He was a very stupid creature, too. He believed the cunning mouse-deer. He freed the mousedeer’s leg and snapped upon the twig. Kancil ran out of the water immediately.” Ha! Ha!” he laughed.
“I tricked you!”.

Pada tingkatan berpikir Mengkreasi contoh:
Compose a letter of apology from Kancil to Crocodile.

Pada tingkatan berpikir mengevaluasi contoh:
Do you think Kancil has done the right thing? Why?

Pada tingkatan berpikir menganalisis contoh:
In what ways are Kancil and Crocodile different?

Pada tingkatan berpikir menerapkan contoh:
Change the sentences in one of the paragraphs into the present tense.

Pada tingkatan berpikir memahami contoh:
What examples from the story show that Kancil was a cunning animal?

Pada tingkatan berpikir mengingat contoh:
Why did Kancil go to the river?

Diproteksi: Tugas Mata Kuliah Komputer

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Peran Kepala Sekolah dalam Mendorong Perubahan Pembelajaran di Kelas

Peran Kepala Sekolah dalam Mendorong Perubahan Pembelajaran di Kelas

Dalam banyak kesempatan, ide-ide perubahan pembelajaran telah dikenalkan. Akan tetapi, ide tersebut seakan-akan hanya menjadi milik peserta pelatihan dan tidak diterapkan di dalam kelas. Uang, tenaga, dan waktu yang tak ternilai harganya hanya disia-siakan saja. Pembelajaran tetap tidak tersentuh perubahan, dan berjalan seperti biasanya (business as usual). Untuk mendorong terjadinya perubahan, kehadiran seorang pemimpin sangat diperlukan.
Pemimpin yang baik mampu menumbuhkembangkan keberanian orang yang dipimpin untuk mencobakan ide tanpa takut salah. Pemimpin yang baik juga mampu menciptakan suasana kolegialitas dan persaudaraan yang baik di sekolah.
Di negeri seberang, ada seorang Kepala Sekolah yang mengembangkan program “Make New Mistakes”. Dengan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dia mendorong gurugurunya melakukan sesuatu yang baru dan melakukan kesalahan. Dia mengungkapkan kata-kata berikut: “Saya tidak ingin melihat pelajaran yang sempurna. Saya hanya ingin melihat Anda melakukan sesuatu yang baru dan mengalami kesalahan. Tidak perlu takut dengan kesalahan itu. Yang peling penting adalah apa yang bisa kita petik dari melakukan sesuatu yang baru tersebut”.
Akibatnya, sungguh luar biasa. Guru-guru di sekolah itu, termotivasi melakukan hal-hal baru sehingga inovasi pembelajaran seakan berlangsung tiada henti. Sekolah yang dahulunya berstatus “under achiever” berubah menjadi sekolah yang maju.

Di negeri sendiri, seorang Kepala Sekolah mengembangkan berbagai program antara lain: Who Am I, Kolaborasi Atas Bawah, Fleksidi, dll. Tujuannya hanya satu, yaitu tumbuhnya kesejawatan yang mendorong terjadinya perubahan dalam pembelajaran di sekolah. Hasilnya juga sungguh menakjubkan. Proses belajar mengajar berubah dari biasanya. Pembelajaran menjadi bermutu. Sekolah yang semula “tidak terdengar” berubah menjadi sekolah rujukan. Karena itu, pada sesi ini, para kepala sekolah, pengawas, dan para pemimpin lainnya di sekolah, perlu memiliki kiat-kiat kepemimpinan yang mampu mendorong terjadinya perubahan proses belajar mengajar di kelas. Untuk itu, di dalam sesi ini, para peserta diharapkan menggali berbagai ide yang mampu mendorong terjadinya perubahan dalam proses belajar mengajar di kelas.

Kepala Sekolah merupakan kunci keberhasilan usaha-usaha sekolah. Kepala Sekolah merupakan penentu bagi terciptanya iklim sekolah yang lebih kondusif untuk meningkatnya mutu pendidikan. Kepala Sekolah tidak hanya dituntut mahir mengelola sarana, prasarana, tetapi juga harus memiliki kiat-kiat menarik yang mendorong guru-gurunya mau secara ikhlas dan penuh percaya diri meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Karena itu, kiat-kiat yang dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah berikut layak untuk dijadikan pelajaran bagi kita bersama.

Berikut beberapa kiat kepala sekolah tersebut.

• Supervisi Klinis 

Kegiatan ini dilakukan dengan cara Kepala Sekolah melakukan supervisi atau pengamatan terhadap guru-guru/kelas maupun terhadap aktivitas sekolah secara keseluruhan. Hasil temuan baik positif maupun negatif dibahas di dalam pertemuan/rapat dewan guru. Jika di dalam pertemuan/rapat tersebut masalah tidak dapat di atasi maka kepala sekolah segera mengambil inisiatif untuk mencari bantuan pemecahan ke luar sekolah.
Misalnya guru kelas 1 sulit untuk membuat pembelajaran tematik. Dalam pertemuan/rapat dewan guru tidak ada yang bisa memberi contoh. Satu-satunya jalan yaitu mendatangkan fasilitator atau nara sumber kelas awal. Tetapi setelah rencana akan mendatangkan fasilitator kelas awal sekolah tidak memiliki dana untuk mengadakan pelatihan tersebut, maka jalan keluarnya adalah mengadakan kerja sama dengan beberapa sekolah untuk mendatangkan fasilitator tersebut. Masalah pendanaan sudah barang tentu dipikul bersama-sama.

• Curhat Nonformal

Curhat nonformal adalah mencurahkan isi hati atau uneg-uneg yang dilakukan secara
nonformal. Waktu dan tempat sudah barang tentu tidak terikat. Waktu bisa dilakukan pada jam-jam santai atau waktu luang. Masalah tempat bisa di sekolah maupun di luar sekolah.
Topik bahasannya berkisar aktivitas sekolah. Jika kepala sekolah ingin menyampaikan ide-ide tentang model pembelajaran atau aktivitas sekolah, kepala sekolah tidak langsung menyampaikannya pada pertemuan/rapat resmi dewan guru. Tetapi kepala sekolah dapat melakukan lobi-lobi ke beberapa guru untuk didiskusikan terlebih dahulu.

• Kolaborasi Atas-Bawah

Kolaborasi ‘Atas – Bawah’ merupakan model kerja sama antara kepala sekolah selaku
supervisor dan guru selaku yang disupervisi. Bentuk kerja sama itu contohnya adalah jika ada salah satu guru sulit dalam menerapkan model PAKEM/CTL pada materi tertentu, maka kepala sekolah bersama-sama membuat skenario pembelajaran. Setelah selesai, skenario tersebut dijalankan secara bersama-sama oleh guru dan kepala sekolah. Jika sekali pelaksanaan ternyata belum cukup bagus, maka perlu dilakukan kolaborasi sekali lagi, sampai diperoleh hasil yang bagus.

• Who am I

Jika kepala sekolah dalam melakukan supervisi melihat ada beberapa guru telah berhasil melakukan model PAKEM/CTL dan manajemen kelas yang kreatif, kepala sekolah segera memberitahu kepada guru tersebut bahwa kelasnya akan dijadikan sasaran studi banding antarkelas. Dalam acara studi banding antar kelas tersebut para pengunjungnya adalah teman-temannya sendiri. Setelah harinya disepakati, guru yang menjadi sasaran studi banding tersebut menjelaskan berbagai hal yang telah dilakukan, baik itu tentang model pembelajarannya, skenario pembelajarannya, manajemen kelasnya, dan hasil karya anak, terutama yang dilakukan selama satu minggu sebelumnya. Selain itu, guru tersebut diminta untuk menyampaikan berbagai hal dan ide-ide satu minggu ke depan. Masalah-masalah atau kendala-kendala yang dihadapinya juga turut disampaikan pada acara tersebut. Dalam acara ini kepala sekolah posisinya sebagai pendamping guru yang menjadi sasaran studi banding.
Tetapi pembicaraan hak penuh guru tersebut.

• Fleksi diri

Hampir jarang dilakukan oleh kebanyakan guru adalah melakukan refleksi diri setelah melakukan kegiatan pembelajaran. Cara untuk melakukan refleksi diri ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Misalnya, jika sekolah memiliki perangkat keras seperti handy cam, kepala sekolah dapat mengambil gambar beberapa kegiatan guru, khususnya dalam melakukan pembelajaran. Setelah itu, hasil rekaman tersebut diamati bersama-sama. Hal-hal apa saja yang seharusnya perlu dilakukan dan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, biar guru yang bersangkutan yang merefleksi dirinya sendiri. Guru-guru yang lain mencoba membahas hal-hal positif yang dapat diadopsi dan diterapkan di kelasnya.

• Kontes Hasil Karya Siswa dan Kelas

Untuk memotivasi agar guru-guru dan para siswanya kreatif maka dalam setiap minggu
sekolah perlu mengadakan kontes. Macam-macam kontes di antaranya adalah lomba pidato, bercerita, drama, menggambar, mengarang, menyanyi/karaoke, kerapian dan kebersihan kelas, dan display atau pameran hasil karya siswa. Para pemenang dapat diumumkan pada saat upacara bendera hari Senin.

• Kultum Bergilir

Dalam setiap pertemuan/rapat dewan guru atau kegiatan apa saja selalu diawali kegiatan santapan rohani atau dinamakan kultum (kuliah tujuh menit). Orang yang menyampaikan kultum tersebut tidak harus guru agama atau guru senior. Kultum ini disampaikan siapa saja secara bergilir, baik guru senior maupun junior. Tujuannya agar semuanya dapat belajar atau mendidik diri sendiri sebelum memberitahu orang lain. Materi kultum bebas, bisa masalah agama, rumah tangga, sekolah, pekerjaan, dan kehidupan lainnya.

• Go Public atau Open School

Untuk memperkuat dan mendorong guru-guru agar mau berbuat lebih meningkat lagi,
kepala sekolah dapat bekerja sama dengan sekolah lain. Artinya sekolah lain diminta untuk mengadakan kunjungan ke sekolahannya. Tapi ingat: guru-guru tidak perlu diberitahu strategi ini, karena ini merupakan rahasia strategi kepala sekolah dengan kepala sekolah lain. Mereka diharapkan melakukan kunjungan, khususnya berkunjung ke kelas mengamati model PAKEM/CTL yang diterapkan oleh guru-gurunya. Dengan demikian guru-guru yang akan dikunjungi akan berbenah diri, karena mereka akan dikunjungi oleh sekolah lain.

• Retreat

Makan biasanya dilakukan di rumah pada tempat dan situasi yang sama. Suatu saat dilakukan di tempat lain dengan suasana lain pula. Jika perlu dilakukan dengan seluruh anggota keluarga (anak dan istri/suami mereka). Di sini biasanya muncul ide-ide segar dan fress. Retreat merupakan wisata di waktu liburan yang dilakukan kepala sekolah, guru, dan staf lainnya di suatu tempat. Di sana mereka merancang suatu kegiatan tentang pendidikan di sekolah sambil berlibur.

• Napak Tilas

Sekolah dan kelas sering mendapat kunjungan guru-guru hampir di seantero nusantara. Suka duka telah banyak dialami guru-guru dan warga sekolah lainnya. Kecapekan dan kebosanan kadang-kadang menghantui guru-guru dan warga sekolah lainnya. Mengapa tidak? Karena hampir setiap saat mereka dituntut harus menemukan berbagai hal inovasi dalam pembelajarannya. Hal ini tampak di saat awal tahun pelajaan baru tiba. Guru-guru seakan tampak tidak bergairah lagi untuk berinovasi, seakan kehabisan daya kreativitas lagi.

Maka kepala sekolah di saat-saat inilah sangat dibutuhkan daya kreativitasnya. Melalui
diskusi kelompok, guru-guru diajak untuk mengingat kembali berbagai inovasi dan hal-hal positif yang dulu pernah sukses dilakukannya. Lalu mereka membuat kesepakatan untuk pengembangan inovasi dan bahkan mencoba inovasi baru lagi. Hasilnya sungguh luar biasa. Guru-guru bergairah kembali, karena mereka merasa tersuntik dan termotivasi kembali untuk melakukan tugasnya.

Model Pembelajaran Kreatif dari Treffinger

Model Pembelajaran Kreatif dari Treffinger

Dalam pembelajaran kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang
penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah pengembangan fungsi pemikiran divergen; tingkat kedua, adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang majemuhk; Tingkat ketiga, adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian dari masing tingkatan-tingkatan tesebut disajikan sebagai berikut :

a. Teknik-teknik kreatif tingkat pertama

Teknik pembelajaran kreatif tingkat pertama yang menekankan
pada fungsi-fungsi divergen ini antara lain menggunakan teknik
pemanasaan, pemikiran dan perasaan terbuka, sumbang saran dan
penangguhan kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang dipaksakan.

Metode pembelajaran kreatif tingkat pertama
ini mempunyai beberapa ciri umum sebagai berikut:

1) Pengahiran terbuka (oopen endedess).kegiatan-kegiatan pada tingkat ini menghendaki ditemukanya sejumlah kemungkinan jawaban.
Bukan dikemukakanya sebuah jawaban yang benar.

2) Penerimaan banyak gagasan dan jawaban yang berbeda. Konsekuensi dari bervariasinya jawaban yang diinginkan adalah ditemukanya jawaban-jawaban yang bervariasi, yang kadang-kadang ada yang tidak lazim, aneh, atau luar biasa. Terhadap yang demikian itu kita harus membina dan menghargai, sebagimana kita menghargai gagsan yang wajar.

3) Gagasan-gagasan tingkat satu meminta kita untuk menerima
pandangan yang baru dan melihat melebihi pemikiran biasa atau
pikiran yang terikat dengan kebiasaan kita.

4) Guru mencoba bertindak sebagai kamera yang menangkap sebanyak
mungkin dalam setiap situasi.

Beberapa teknik kreatif tingkat pertama seperti disebutkan diatas
diuraikan sebagai berikut:

1) Pemanasan
Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan
prabelajar yang digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap
pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran
pebelajar dengan cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Pembelajar dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan tepat, dari batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide.
Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar
sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal
dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.

2) Pemikiran dan perasaan berahir terbuka

Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin
mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku
divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan
pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala
peraaan dan pikiran sebagai jawaban.

Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengakhiran terbuka (oopen-ended thoughtand feeling) dapat dicontohkan sebagai berikut :
a) Andaikata
Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang
situasi yang tidak benar atau sesuatu yang bertentangan dengan
fakta. Contoh: andaikata pemberantasan korupsi tidak bisa tuntas ditahun-tahun ini, apa yang bakal terjadi ditahun 2012 nanti?
b) Peningkatan suatu produk.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui pengungkapn
pemikiran pengembangan atau peningkatan terhadap suatu kondisi
yang telah ada. Contoh: bagaimana cara memperbaiki cara belajar
yang biasa dilakukan sekarang.
c) Permulaan yang tidak selesai.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu
kondisi yang belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan
kemungkinan penyelesaian atau penyempurnaanya. Contoh:
penyelesaian sebuah kasus, cerita, desain, rancangan dan
sebagainya.
d) Pengguna baru dari objek-objek umum.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda
atau hal untuk dipikirkan fungsi lainya dilain fungsi yang lazim.
Contoh: tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya.
e) Alternatif judul.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu
stimulasi untuk dipikirkan judulnya yang tepat. Contoh: kepada
pembelajar ditunjukkan naskah sebuah cerita, dan bisa lukisan
atau gambar-gambar tentang sesuatu.
f) Membantu siswa atau anak untuk mengajukan pertanyaan.
Kegiatan ini dilakukan mengingat pada biasanya siswa
beranggapan bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan
dalam konteks pembelajaran. Di sini siswa diberikan kesempatan
banyak untuk memikirkan banyak pertanyaan. Melalui strategi
pemikiran dan perasan terbuka ini diharapkan pembelajar akan
terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan
menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.

3) Sumbang Saran
Teknik sumbang saran (brainstorming) yang dikemukakakan oleh
Osborn ini mengkondisikan agar pembelajar lebih bersikap terbuka,
lebih terbuka terhadap lingkungan, dan produktif dalam melahirkan
gagasan-gagasan.
Agar teknik sumbang saran ni dapat membuahkan hasil yang
lebih baik, dalam pelaksanaanya perlu memperhatikan aturan-aturan
sebagai berikut:
a) Kritik harus tepat waktu
Dalam kegiatan pemecahan masalah dengan tehnik sumbang saran
ada dua tahapan yang penting diperhatikan, yaitu tahap
pengungkapan gagasan, dan tahap penilaian dan kritik. Urutan
tahapan ini harus dilaksana akan secara disiplin, karena sering kali terjadi, begitu seseorang/siswa tertentu melontarkan gagasanya, secepat itu muncul kritik dari pihak lain. Ini tidak dibenarkan, karena kritik secara dini akan berakibat mematikan ide, atau akan menghambat spontanitas pelahiran gagasan-gagasan baru. Karena itu, kritik seharusnya dilakukan setelah acara keseluruhan pembelajar telah menyampaikan ide atau gagasan-gagasanya.
b) Kebebasan dalam memberikan gagasan
Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam teknik sumbang
saran ini keutamaanya terletak pada kuantitas ide, terlepas dari
kualitasnya. Karena itu, pembelajar perlu diberikan kesempatan
sebanyak-banyaknya untuk mencetuskan ide-gagasanya secara
murni dan berani. Tentu akan terlahir gagasan dan ide yang
beraneka ragam, yang sifatnya ada yang wajar, ada yang tidak atau
kurang wajar atau bahkan tidak masuk akal sama sekali. Hal
seperti itu tidak dipersoalkan, sebab dalam proses akan terjadi
rangsang-merangsang, artinya, dari ide yang aneh tadi akan
tertelaah oleh pihak lain yang dalam tingkat atau saat tertentu akan mengakibatkan ide atau gagasan baru sebagai tindak lanjutnya.
c) Penekanan pada kuantitas
Hal terpenting dalam teknik ini adalah banyaknya ide-gagasan.
d) Kombinasi dan peningkatan gagasan

Berawal dari banyaknya gagasan sebagai orientasi dalam teknik
ini, ada peluang kemungkinan untuk mengkombinasi gagasangagasan
yang telah ada yang diperkirakan akan lahir gagasan yang
lebih bermutu.
e) Penekanan pada kualitas
Diantara banyaknya gagasan, diharapkan akan adanya gagasan
yang lebih berkualitas.
f) Tidak perlu mempersoalkan adanya gagasan yang sama. Hal
tersebut tidak dipersoalkan, mengingat bahwa adanya gagasan itu
akan lahir gagasan yang baru.

4) Daftar penulisan gagasan
Teknik daftar penulisan gagasan ini mengkondisikan agar
pembelajar menyalurkan kemampuanya untuk melihat hubunganhubungan
baru, memanipulasi informasi dan gagasan agar menghasilkan gagasan-gagasan baru yang orisinil. Dasar pemikiran
teknik ini ialah bahwa melalui kombinasi dari unsur yang sebelumnya tidak ada hubungan, gagasan-gagasan yang kreatif itu lahir. Karena itu, dalam teknik disiapkan daftar kata kerja dan masalahnya, kemudian pembelajar diminta untuk menuliskan gagasan-gagasan yang muncul sebagai hasil penghubungan dari kata kerja tersebut dengan masalahnya. Penyusunan kata kerja menurut Osborn sebagai berikut:
a) Mengganti (substitute): siapa dan apa yang dapat diganti (unsurunsur, bahan, atau proses).
b) Mengkombinasi(combine): mengkombinasikan tujuan-tujuan, ideide
dan sebagainya.
c) Mengubah (modify): Mengubah arti, warna, corak baru, suara, dan sebagainya.
d) Memperbesar (magnify): menambahkan apa saja seperti: waktu,
bentuk, kekeuatan, bahan, dan sebagainya.
e) Memperkecil (minify): apa saja yang dapat dikurangi seperti :
penden, lebih kecil, ringan, dan sebagainya.
f) Menyusun kembali (rearrange): komponen yang saling dapat
menggantikan seperti: pola, tata letak, urutan, dan sebagainya.
Pada dasarnya, kata kerja tersebut dapat disusun sendiri dengan
menyesuaikan dengan konteks atau masalah yang relevan.
5) Penyusunan sifat
Seperti halnya teknik yang lain, teknik penyusunan sifat ini
memiliki ciri guna tersendiri, yaitu untuk merangsang munculnya
banyak gagasan dalam memecahkan atau menganalisis satu objek.
Langkah-langkah penting dalam teknik ini adalah pertama,
mengidentifikasi sifat atau ciri suatu objek atau masalah; kedua,
meninjau satu persatu dari setiap ciri atau sifat untuk dipertimbangkan kemungkinan perubahan yang bisa terjadi; ketiga, menampung adanya berbagai gagasan dengan melakukan pencatatan; keempat, melakukan penilaian terhadap setiap gagasan dengan catatan bahwa penilaian ini baru boleh dilakukan apabila pencacatan terhadap semua gagasan telah selesai.
Terdapat beberapa bidang atau masalah yang dapat didekati
dengan teknik penyusunan sifat ini antara lain:
a) Perbandingan, misalnya: membandingkan cara belajar siswa
perkotaan dan siswa pedesaan.
b) Analisis peristiwa atau pola-pola sejarah, misalnya: dampak
reformasi terhadap mutu pendidikan.
c) Menyadari nilai dan memperjelas perasaan, misalnya:
mempelajari ciri-ciri orang jujur, bahagia, penjahat, pengecut dan sebagainya.
d) Menentukan kriteria penilaian, misalnya: ciri-ciri karya ilmiah, karangan, novel, dan sebagainya
6) Hubungan yang dipaksakan
Teknik hubungan yang dipaksakan (forcedrelationships) kini
merupakan teknik kreatif yang mencakup beberapa cara untuk melihat kemungkinan dan kombinasi baru dari objek atau gagasan, yang tidak pernah kelihatan ada jika tidak dicoba untuk dipaksakan. Ada babarapa cara yang dapat digunakan, antara lain adalah teknik mendaftar dan teknik katalog.

b. Teknik-teknik kreatif tingkat kedua

Dalam teknik-teknik kreatif tingkat kedua ini pada intinya ingin
mengupayakan agar pembelajar lebih meluaskan pemikiranya serta
melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan yang lebih majemuk dan menantang. Dalam teknik ini akan lebih terasa betapa penting pola berpikir divergen untuk memecahkan masalah secara efektif.
Secara seingkat berikut ini akan menguraikan beberapa teknik
kreatif tingkat kedua, antara lain: Teknik analisis morfologis, bermain peran dan sosiodrama, serta synectics.
1) Teknis analis morfologis
Teknik analis morfologis ini merupakan gabungan teknik-teknik
kreatif tingkat pertama yang telah dikemukakan, yaitu teknik sumbang saran, teknik hubungan yang dipaksakan, dan teknik penyusunan sifat.
Teknik ini bertujuan agar pembelajar mampu mengidentifikasi ide-ide baru, dengan cara mengkaji secara cermat bentuk dan struktur
masalah. Dengan mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari
masalah, pembelajar dapat mengembangkan berbegai alternatif atau
gagasan-gagasan dari kombinasi unsur-unsur yang baru.

2) Teknik bermain peran dan sosiodrama
Bermain peran dan sosiodrama merupakan teknik pembelajaran
untuk menghadapi proses pemikiran dan perasaan yang majemuk
secara efektif. Teknik ini mengupayakan agar pembelajar dapat
menangani konflik, stres, dan masalah yang timbul dari pengalaman
dalam kehidupanya.

3) Synectics
Oleh penemuan synectics ini W.j.j. Gordon (1980), teknik
synectics merupakan teknik mempertemukan bersama berbagai
macam unsur dengan menggunakan kiasan (metafor) untuk
memperoleh suatu pandangan yang baru. Ada dua prinsip dasar dalam
teknik ini adalah, pertama, membuat yang asing menjadi yang lazim; dan kedua,membuat yang lazim menjadi yang asing, keduanya
melalui kiasan dan analogi. Analogi disini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mengungkapkan kesamaan antara hal-hal atau
gagasan-gagasan atas dasar pembandingan.

c. Teknik kreatif tingkat ketiga

Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan keterlibatan
pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar
kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK) secara kreatif.
PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi
dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan terlibat keras dalam teknik ini.
Merancang suatu desain pembelajaran yang sifatnya amat khusus
bagi anak kreatif adalah tugas yang paling kompleks dan yang paling sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh dari pada sempurna. Namun begitu ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh dalam merancang kegiatan ini.
Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak kreatif terus menerus
memerlukan stimulasi mental untuk mencapai perkembangan unik yang
optimal, maka Renzulli ( Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci dalam merancang suatu desain pembelajaran, yaitu mencakup :
1) Seleksi dan latihan guru;
2) Pengembangan kurikulum berdiferensiasi dalam berbagai bidang
untuk memenuhi kebutuhan belajar dalam segi akademis dan seni;
3) Prosedur identifikasi jamak;
4) Pematokan sasaran program yang sifatnya terdiferensiasi;
5) Orientasi staf dan peningkatan sikap kerja sama;
6) Rencana evaluasi
7) Peningkatan administrative.
Suatu panitia khusus dalam setiap sekolah perlu diadakan, terdiri
dari kepala sekolah, guru, orang tua, konselor dan pegawai administrasi yang bertanggung jawab atas kegiatan sehari-hari perlu dibentuk dalam merancang program ini.
Program seperti itu harus memenuhi beberapa kriteria kunci (Clark,1986), yaitu program itu harus:
1) Memberi kesempatan dan pengalaman yang sifatnya khusus sehingga mereka terus-menerus dapat mengembangkan potensinya;
2) Mengembangkan lingkungan bermutu untuk meningkatkan
intelegensi, bakat, perkembangan afektif dan intuitif;
3) Memberi peluang untuk pertisipasi aktif dan kooperatif antar siswa maupun dengan orang tua;
4) Menyiapkan tempat, waktu, dan stimulasi bagi siswa berbakat untuk menentukan sendiri kemampuanya;
5) Memberi peluang pada siswa berbakat untuk bertemu berbagai
individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya;
6) Memberi stimulasi pada siswa berbakat untuk menentukan bidang
yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa
yang dapat mereka kontribusikan.