PENGGUNAAN HURUF KAPITAL DALAM MENGARANG BEBAS SISWA KELAS V SD NEGERI 020 SEBENGKOK TARAKAN

PENGGUNAAN HURUF KAPITAL DALAM MENGARANG BEBAS
SISWA KELAS V SD NEGERI 020 SEBENGKOK TARAKAN
TAHUN PEMBELAJARAN 2008/2009

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang berkaitan dengan pengungkapan pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan tersebut adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis sebagai keterampilan berbahasa yang bersifat produktif-aktif merupakan salah satu kompetensi dasar berbahasa yang harus dimiliki siswa agar terampil berkomunikasi secara tertulis. Siswa akan terampil mengorganisasikan gagasan dengan runtut, menggunakan kosakata yang tepat dan sesuai, memperhatikan ejaan dan tanda baca yang benar, serta menggunakan ragam kalimat yang variatif dalam menulis jika memiliki kompetensi menulis yang baik.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan di kelas, ditemukan bahwa menulis kerap kali menjadi suatu hal yang kurang diminati dan kurang mendapat respon yang baik dari siswa. Siswa tampak mengalami kesulitan ketika harus menulis. Siswa tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika pembelajaran menulis dimulai. Mereka terkadang sulit sekali menggunakan ejaan yang tepat di didalam karangan. Siswa kerap menghadapi sindrom kertas kosong (blank page syndrome) tidak tahu apa yang akan ditulisnya. Mereka takut salah, takut berbeda dengan apa yang diinstruksikan gurunya.
Keterampilan menulis di kelas terkadang juga hanya diajarkan pada saat
-1-

pembelajaran menulis saja, pahadal pembelajan keterampilan menulis dapat dipadukan atau diintegrasikan dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Pengintegrasian itu dapat bersifat internal dan eksternal. Pengintegrasian internal berati pembelajaran menulis diintegrasikan dalam pembelajaran keterampilan bebahasa yang lain. Menulis dapat pula diintegrasikan secara eksternal dengan mata pelajaran lain diluar mata pelajaran bahasa Indonesia.
Kecenderungan lain yang terjadi adalah pola pembelajaran menulis di kelas yang dikembangkan dengan sangat terstruktur dan mekanis, mulai dari menentukan topik, membuat kerangka, menentukan ide pokok paragraf, kalimat utama, kalimat penjelas, ketepatan penggunaan pungtuasi dan sebagainya. Pola tersebut selalu berulang tiap kali pembelajaran menulis. Pola tersebut tidak salah, tetapi pola itu menjadi kurang bermakna jika diterapkan tanpa variasi strategi dan teknil lain. Akibatnya, waktu pembelajaran pun lebih tersita untuk kegiatan tersebut, sementara kegiatan menulis yang sebenarnya tidak terlaksana atau sekedar menjadi tugas di rumah. Kegiatan menulis seperti ini bagi siswa menjadi suatu kegiatan yang prosedural dan menjadi tidak menarik. Penekanan pada hal yang bersifat mekanis adakalanya membuat kreatifitas menulis tidak berkembang karena hal itu tidak mengizinkan gagasan tercurah secara alami. Bahkan, Tompokins (1994:105) menegaskan bahwa terlalu menuntut kesempurnaan hasil tulisan dari siswa justru dapat menghentikan kemauan siswa untuk menulis.
Pembelajaran menulis juga sering membingungkan siswa karena
-2-

pemilahan-pemilihan yang kaku dalam mengajarkan jenis-jenis tulisan atau jenis-jenis paragraf, seperti narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi. Pengategorian yang kaku itu membuat siswa menulis terlalu berhati-hati karena takut salah, tidak sesuai dengan jenis karangan yang dituntut. Padahal, ketakutan untuk berbuat salah tersebut dapat mematikan kreativitas siswa untuk menulis.
Dalam pelajaran bahasa Indonesia, Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tertulis. Menulis merupakan suatu kegiatan bahasa yang produktif dan ekspresif. Seorang penulis haruslah terampil memanfaatkan, mempergunakan struktur bahasa, kosakata, dan ejaan bahasa yang tepat. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik menulis secara teratur.
Keterampilan menulis merupakan ciri dari orang yang memiliki tingkat intelektual yang tinggi. Keterampilan menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa (menulis, membaca, berbicara, dan mendengarkan). Menulis bukanlah pekerjaan yang mudah, menulis haruslah penuh ketelitian, kesabaran, keuletan, serta mampu mencari dan menemukan ide, gagasan yang dapat dituangkan ke dalam tulisan.
Di lingkungan pendidikan (sekolah), tingkat kemampuan siswa dalam menyerap serta memahami pelajaran sangatlah berbeda. Ada siswa yang begitu cepat mengerti pelajaran, tetapi ada juga yang lambat. Jika guru mampu melihat
-3-

potensi ini, sepatutnya siswa diarahkan dan dibekali ilmu yang sesuai dengan daya tangkapnya, sehingga kemampuan siswa akan benar-benar dapat diketahui dan diukur untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam menulis karangan.
Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada saat ini lebih cenderung diarahkan pada hal-hal yang bersifat praktik. Siswa dituntut terampil dalam menulis, membaca, mendengarkan, dan berbicara. Menulis karangan, tidak semua siswa dapat mengerjakannya dengan baik. Mereka cenderung merasa bingung dan banyak menunggu arahan dari guru yang bersangkutan. Hal ini disebabkan banyak siswa kurang suka menulis atau membaca, sehingga semua pengalaman dan ide kreatif mereka tidak dikembangkan.
Siswa pada saat ini, kurang suka pada kegiatan menulis karangan itu sendiri. Kurangnya kegiatan membaca buku bisa juga menjadi penyebab dan jangan lupa pemahaman serta penguasaan terhadap kaidah-kaidah penulisan yang berkaitan dengan ejaan dalam bahasa Indonesia (EYD) turut mempengaruhi. Oleh karena itu, pemahaman dan penguasaan terhadap ejaan dan kaidah penulisan harus benar-benar dikuasai, agar dapat menulis karangan dengan baik dan benar.
Penguasaan EYD Bahasa Indonesia, tidaklah mudah. Perlu dipelajari terus-menerus dan ditambah lagi dengan pengajaran dari guru yang benar-benar menguasai dan mengerti EYD dan Tata Bahasa Indonesia. Penguasaan EYD semakin baik apabila ditunjang dengan latihan mengarang. Dalam proses pembelajaran di kelas V SD, materi mengenai menulis karangan
-4-

bebas dengan menggunakan huruf kapital harus di ajarkan dengan baik. Guru harus mampu memotivasi siswa, supaya mampu menyerap materi serta mempraktikkannya. Pada saat menulis karangan bebas, haruslah dengan hati-hati pada saat menggunakan huruf kapital. Seorang guru, apabila mengoreksi pekerjaan siswa (menulis karangan) harus dengan teliti, hati-hati, dan cermat. Janganlah membiarkan kesalahan sekecil apapun (mengenai penggunaan huruf kapital) dibiarkan begitu saja.
Kesalahan-kesalahan menggunakan huruf kapital yang terdapat dalam karangan siswa, tidak sepenuhnya kesalahan mereka. Banyak faktor yang membuat mereka melakukan kesalahan itu, di antaranya kurangnya menguasai materi menulis karangan, malas untuk mempelajari EYD, serta malu untuk bertanya kepada gurunya. Pada saat siswa mengerjakan karangan, mereka mengerjaknnya sembarangan, yang terpenting cepat selesai, tanpa memikirkan bagaimana hasil dari yang di kerjakan itu.
Kemampuan menulis karangan dan penguasaan dalam menggunakan huruf kapital yang dituangkan pada saat menulis, belumlah sepenuhnya dikuasai dan dipahami oleh siswa kelas V SD Negeri 020 Sebengkok Tarakan. Kesalahan menggunakan huruf kapital sering mereka lakukan.
Berdasarkan kenyataan tersebut, peneliti berusaha meneliti penggunaan huruf kapital mengarang bebas siswa kelas SD Negeri 020 Sebengkok Tarakan
-5-

B. Alasan Pemilihan Judul
Penulis memilih judul Penggunaan Huruf Kapital Dalam Mengarang bebas Siswa Kelas V SD Negeri 020 Sebengkok Tarakan. Pemilihan judul ini didasari oleh kenyataan yang ada pada saat ini, yaitu masih banyak kesalahan yang dilakukan siswa terutama dalam menggunakan huruf kapital. Mereka mengarang tanpa memperdulikan ejaan serta kaidah-kaidah penulisan yang sesuai dengan ejaan yang telah ditetapkan (EYD).
C. Batasan Masalah
Ada beberapa masalah dalam mengarang, di antaranya mengenai ide, kerangka karangan, penentuan jenis karangan, paragraf, dan ejaan. Penulis membatasi masalah dalam penelitian ini yaitu masalah penggunaan huruf kapital dalam mengarang bebas siswa kelas V SD Negeri 020 Sebengkok Tarakan.
D. Rumusan Masalah
Setiap penelitian mempunyai rumusan masalah yang akan dijadikan inti permasalahan dalam penelitian itu. Adapun permasalahan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimanakah bentuk kesalahan menggunakan huruf kapital dalam karangan bebas siswa kelas V SD Negeri 020 Sebengkok Tarakan
-6-

E. Tujuan Penelitian
Adapun penelitian ini bertujuan untuk;
1. Menemukan jenis-jenis kesalahan penggunaan huruf kapital dalam
karangan bebas siswa kelas V SD Negeri 020 Sebengkok Tarakan
2. Mendeskripsikan penggunaan huruf kapital dalam karangan
bebas siswa kelas V SD Negeri 020 Sebengkok Tarakan tahun
ajaran 2008/2009.

BAB 1 INTERFERENSI BAHASA INDONESIA OLEH PENUTUR BAHASA TORAJA DI SDN 013 TARAKAN

INTERFERENSI BAHASA INDONESIA OLEH PENUTUR BAHASA TORAJA DI SDN 013 TARAKAN

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Bahasa adalah bagian dari hidup manusia yang sangat membantu aktivitas. Bahasa daerah merupakan bahasa Ibu yang mampu mendominasi penggunaan bahasa lain, sehingga interferensi bahasa pada dwibahasa sering terjadi pada saat berkomunikasi. Hal itu disebabkan oleh adanya kontak dua bahasa yang dikuasai, yaitu antara bahasa daerah atau bahasa Ibu (BI) dengan bahasa persatuan atau bahasa Indonesia (B2).
Interferensi terjadi pada beberapa bidang bahasa yaitu bidang fonologi, morfologi dan sintaksis. Interferensi juga bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, misalnya pada tenaga pengajar (guru) pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Salah satunya adalah tenaga pengajar penutur bahasa Toraja. Berikut adalah contoh penggunaan bahasa oleh penutur bahasa Toraja pada saat berlangsungnya KBM :
1. “Kemudian kalau menurut Lawa, itu proses pembelajaran itu tentang
mempelajari
tentang norma-norma”. Kalimat tersebut terdapat kesalahan berbahasa, yakni terjadinya ulangan kata.
2. “Kemudian ada disitu pola-pola sosialisasi itu ada yang bersipat represif.”
Pada kalimat tersebut terjadi kesalahan bahasa pada bidang fonologi, yakni
terjadi penggantian fonem /f/ menjadi /p/ pada kata ‘bersifat’.

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk interferensi bahasa yang digunakan oleh penutur bahasa Toraja.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1) Dapat memperjelas bentuk interferensi bahasa,
2) Dapat dijadikan acuan penelitian selanjutnya.
G. Penegasan Judul
Judul penelitian ini adalah Penggunaan Bahasa Indonesia oleh Penutur Bahasa Toraja. Penegasan judul bertujuan untuk memperjelas maksud judul penelitian. Penegasan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan Bahasa Indonesia
Penggunaan bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bahasa lisan yang penyampaiannya dilakukan dengan berbicara. Dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
2. Penutur Bahasa Toraja
Orang-orang yang menggunakan bahasa Toraja. Bahasa Toraja adalah salah satu bahasa yang digunakan oleh suku Toraja yang bermukim di Bagian Utara Provinsi Sulawesi-Selatan.
3. SDN013Tarakan
SD N 013 yang dimaksud adalah salah satu sekolah negri yang terletak di Kampung Enam Tarakan Timur.

H. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dilakukan untuk mengatur penyajian skripsi. Adapun sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut:
Bab I pendahuluan. Bab ini berisikan latar belakang masalah , penegasan judul, dan sitematika penulisan
Bab II landasan teori. Bab ini berisikan pengertian bahasa, fungsi bahasa, dan interferensi bahasa.
Bab HI metode penelitian. Bab ini berisikan pengertian metode penelitian, variable penelitian, waktu dan lokasi penelitian, populasi dan teknik pengambilan sample, data dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metose analis data.
Bab IV pembahsan. Bab ini berisikan penyajian data, analisia data,dan hasil penelitian.
Bab V penutup. Bab ini berisikan simpulan data dan saran-saran.

BAB II PENGGUNAAN RAGAM BAHASA GAUL DIKALANGAN REMAJA DI TAMAN OVAL MARKONI KOTA TARAKAN

BAB II PENGGUNAAN RAGAM BAHASA GAUL DIKALANGAN REMAJA DI TAMAN OVAL MARKONI KOTA TARAKAN
Oleh: LISTA NOVITAYANTI
BAB II
LANDANSAN TEORI
A. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah suatu sistem lanuang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur unti’k bekerja sama. berkornunikasi, dan mengindenfikasi diri (Chaer, 2000:1). Menurut pendapat di atas rnaka dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah berupa bunyi yang digunakan oleh rnasyarakat untuk berkornunikasi.
Keraf (1991:1) mengatakan bahwa bahasa mencakup dua bidang, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap berupa arus bunyi, yang mempunyai makna. Menerangkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antaranggota masyarakat terdiri atas dua bagian utama yaitu bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Menurut pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap yang merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa bentuk dan makna.
B. Fungsi Bahasa
Fungsi Bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan manusia berrnasyarakat (Chaer, 2000:2).
Bahasa Indonesia sendiri, yang mempunyai kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi Negara di tengah-tengali berbagai rnacain bahasa daerah, mempunyai fungsi sebagai berikut:

(1) Alat untuk menjalankan adminislrasi negara. ini bcrarti, segala
kegiatan administrasi kenegaraan, seperti surat-menyurat dinas,
rapat-rapat, pendidikan dan sebagai.iya harus disslenggarakan
dalam bahasa Indonesia.
(2) Alat pemersatu pelbagai suku bangsa di Indonesia. Komunikasi
diantara anggota suku bangsa yang berbeda kurang mungkin
dilakukan dalam salah satu bahasa daerah dari anggota suku
bangsa itu. Komunikasi lebih mungkin diiakukan dalam bahasa
Indonesia. Karena komunikasi antarsuku ini dilakukan dalam
bahasa Indonesia, maka akan terciptaJah perasaan “satu bangsa”
di antara anggota suku-suku bangsa itu.
(3) Media untuk menampung kebudayaan nasiorial. Kebudayaan
daerah dapat ditampung dengan media bahasa daerah, tetapi
kebudayaan nasional Indonesia dapat dan harus ditampung
dengan media bahasa Indonesia
C. Variasi Bahasa
Variasi atau ragam bahasa merupakan bahasan pokok dalam studi sosiolinguistik. Bahasa itu menjadi beragam dan bervariasi bukan hanya penuturnya yang tidak homogen tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam.
Chaer dan Agustina (2004:62) mengatakan bahwa variasi bahasa itu pertama-tama kita bedakan berdasarkan penutur dan penggunanya. Berdasarkan

10
peniitur berarti, siapa yang mengunakan oahasa itu, dirnana tempat tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakan. Berdasarkan penggunanya berarti, bahasa itu
\
digunakan untuk apa, dalam bidang apa, apa jalur dan alatnya, dan bagaimana situasi keformalannya. Adapun penjelasan variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut: 1. Variasi bahasa dari segi penutur
a. Variasi bahasa idiolek
Variasi bahasa idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masing-masing.
b. Variasi bahasa dialek
Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekclompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tenipat, wilayah, atau area tertentu. Umpamanya, bahasa Jawa dialek Bayumas, Pekalongan, Surabaya, dan lain sebagainya
c. Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal
bahasa kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Umpamanya, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan, dan variasi bahasa pada ma^a kini.
d. Variasi bahasa sosiolek

II
Variasi bahasa sosiolek adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini inenyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya.
1. Variasi bahasa berdasarkan usia
masyarakatnya. Misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa dalam b’dang kosakata, seperti kata mati digunakan untuk masyarakat biasa, sedar.gkan para raja menggunakan kata mangkat.
2. Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekcnomi para penutur
Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah variasi bahasa yang mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Misalnya, seseorang yang mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi lemah. Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken (Chaer, dan Agustina, 2004:66). Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:

12
1. akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih
bergengsi dari variasi sosial lainya misalnya: Bokap (panggilan untuk
Ayah);
2. basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau
bahkan dipandang rendah;
3. vulgal adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai
bahasa yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak
berpendidikan, misalnya: reselc;
4. slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia;
5. kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan
sehari-hari yang cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan
bahasa tulis. Misalnya dok (dokter), prof (profesor), let (letnan), dl!;
6. jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara lerbatas oleh
kelompok sosial tertentu. Misalnya, para tukang batu dan bangunan
dengan istilah disiku, ditimbang, dll;
7. argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi
tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang
copet daun dalam arti uang;
8. ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-
rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para
pengemis.
2. Variasi bahasa dari segi pemakaian

13
N;ibab;m (IWI) dal;im chacr dun Agiisliiiii (200<l:68) meiigalukan
o bahwa Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fungsinya disebut
fungsiolek atau register adalah vatiasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnaiistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mcmpunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya mcnekan penggunaan kata dari segi estetis sehirigga dipilih dan digunakanlah kosakata yang tepat.
Ragam bahasa jurnaiistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karer.a harus dipahami dengan mudah komunikatif karena jurnalis harus menyampaikan berila secara tepat; dan ringkas karena keterbatasasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud diatas, adalah ragam bahasa yang menunjukan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut. 3. Variasi bahasa dari segi keformalan
Variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya, Chaer (2004:700) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu: a. Gaya atau ragam beku (frozen);

14
Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan pada situasi-situasi hikmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah dimesjid, dan sebagainya.
b. Gaya atau ragam resmi (formal);
Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, dan lain sebagainya.
c. Gaya atau ragam usaha (konsultatij);
Gaya atau ragam usaha atau ragam konsullatif adalah variasi bahasa yang lazim dalarn pembicaraan biasa di sekolah, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.
d. Gaya atau ragam santai (casual);
Gaya bahasa ragam santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat dan sebagainya.
e. Gaya atau ragam akrab (intimate);
Gaya atau ragam akrab adalah vaiiasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab antar anggota keluarga atau antar teman yang sudah karib. 4. Variasi bahasa dari segi sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukkan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan, salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa

15
lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.
D. Sosiolinguistik
Fishman (1972) dalam Chaer dan Agustina (2004:3) mengatakan bahwa Sosiolinguistik adalah kajian tentang oiri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selaiu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur. Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa. fungsi-fungsi bahasa dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini berkaitan satu sama lain dalam masyarakat tutur.
Chaer dan Agustina (2004:2) mengatakan bahwa Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitar.nya dengan penggunaan bahasa itu didalam masyarakat. Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Sosiolinguistik ada’ah ilmu yang mernpclajari bahasa dalam hubungan dengan pengunaan bahasa didalam masyarakat.
E. Morfologi
Morfologi adalah bagian dari tata ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata (Ramlan, 1985:21) Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu.

16
F. Sintaksis
Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang sudah sangat tua, menyelidiki stuktur kalimat dan kaidah penyusunan kalimat (Suhardi, 1998:1). Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Sintaksis adalah ilmu bahasa yang menyelidiki struktur kalimat dan penyusunan kalimat.
Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara kata atau frase atau klausa atau kalimat yang satu dengan kata atau frase atau (clause atau kalimat yang lain atau tegasnya mempelajari seluk-beluk frase, klause, kalimat dan wacana (Ramlan. 1985:21). Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Sintaksis adalah ihnu bahasa yang menyelidiki struktur kalimat dan penyusunan kalimat.
G. Leksikal
Leksikal merupakan bagian dari cabang ilmu semantik yang berkaitan dengan makna kata atau yang disebut makna ieksikal atau semantik leksikal. Ramlan (1985:289) menyatakan bahwa leksikal adalah makna yang dimiliki atau yang ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun. Maksud yang terdapat pada penjelasan tersebut pada dasarnya menyatakan tentang makna kata walaupun bukan dalam suatu konteks tertentu.

Baca Artikel Lain

Lahirnya Bahasa Indonesia;>>>> Baca

Alat Bantu Mengukur Dan Menghitung;>>> Baca

Prefiks{ Ma- } Dan {a-} Dalam Bahasa Ahasa Bugis;>>>>>>>> Baca

Penggunaan Bahasa Dalam Short Message Service (sms) Di Kalangan Remaja Kota Tarakan;>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

BAB I PENGGUNAAN BAHASA DALAM SHORT MESSAGE SERVICE (SMS) DI KALANGAN REMAJA KOTA TARAKAN

BAB I  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Dpemakainnya bahasa
Indonesia sangat beragam, keragaman tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Ragam bahasa menurut sarananya lazim dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan.
Penggunaan bahasa secara tulisan perlu lebih cermat, hal ini karena pihak yang diajak komunikasi tidak berhadap-hadapan secara langsung. Untuk menjamin efektifnya penyampaian pesan, fimgsi gramatikal seperti subjek, predikat, dan objek,dan hubungan diantara fungsi itu harus lengkap dan nyata. Namun berdasarkan kenyataan sekarang dengan majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahasa tulisan tidaklah digunakan lagi secara cermat, dengan adnya teknologi penggunaan telpon genggam atau handphone (hp) lebih sering dimanfaatkan masyarakat untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan.
Penggunaan bahasa tulisan dalam telpon genggam atau handphone, lebih dikenal dengan short message service (sms), merupakan terobosan baru untuk menyampaikan pesan, informasi secara ringkas dan cepat. Penggunaan bahasa secara tulisan dalam short message service (sms) umumnya pendek-pendek, terputus-putus, penyingkatan-penyingkatan dan terdapat fungsi-fungsi kalimat yang dilesapkan, khususnya di kalangan remaja yang lebih sering menggukan bahasa tulis dalam short message service (sms)

dengan penyingkatan-penyingkatan kosakata. Penggunaan bahasa tulis dalam short message service (sms) oleh kalangan remaja cenderung memunculkan kosakata percakapan, seperti : ” y, t’rah z pi g da mslh k” “lyalah, terserah kamu tapi tidak ada masalah kah ?” , “u knp g dtng, u dah tan to, qt meeting mlm ini, tp ga pal, mngkin u Ig sbuk, mt bb” (Kamu kenapa tidak datang, kamu sudah tahu kan, kita pertemuan malam ini, tapi tidak apa-apa, mungkin kamu lagi sibuk, selamat bobo) dan sebagainya.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, penulis berusaha untuk meneliti punggunaan bahasa terutama dalam short message service (sms) di kalangan remaja Kota Tarakan
B. Alasan Femilihan Judul
Peneliti memilih judul Penggunaan Bahasa Dalam Short Mesagge Service (SMS) Di
Kalangan Remaja Kota Tarakan (Tinjauan Sosiolinguistik). Judul tersebut dipilih karena Penggunaan Bahasa Dalam Short Message Service (SMS) di Kalangan Remaja merupakan bahasa tulis yang menarik untuk diteliti, karena bahasa dalam Short Message Service (SMS) tersebut tidak terdapat dalam bahasa tulisan-tulisna lainnya. Sepengetahuan peneliti, pula belum pernah ada penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan Penggunaan Dalam Short Message Service (Sms) Di Kalangan Remaja Kota Tarakan.

C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya masalah yang berkaitan dengan lingkup penggunaan bahasa
khususnya dalam Short Message Service (SMS), perlu adanya pembatasan masalah. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat lebih terpusat pada tujaun yang ingin dicapai dan mencegah meluasnya kajian penelitian. Masalah dalam kajian ini dibatasi pada :
1. Penggunaan Bahasa Dalam Short Message Service (SMS) Di Kalangan Remaja
Kota Tarakan.
2. Penggunaan kata dan kalimat dalam bahasa Short Message Service (SMS)
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah penggunaan bahasa dalam
Short Message Service (SMS) di kalangan remaja Kota Tarakan.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menegtahui penggunaan bahasa dalam Short
Message Service (SMS) di kalangan remaja Kota Tarakan.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis, sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian teoritis
yang mendukung penelitian lebih lanjut dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang penggunaan bahasa tulis Short Message Service (SMS).

2. Manfaat Praktis, penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan oleh masyarakat dalam mengembangkan kemampuan menggunakan kosa kata agar mewujudkan percakapan bahasa tulis yang akrab dan menarik.
G. Penegasan Judul
Judul penelitian ini adalah Penggunaan Bahasa Dalam Short Message Service (SMS)
Di Kalangan Remaja Kota Tarakan (Tinjauan Sosiolinguistik). Penegasan judul perlu dilaksanakan untuk mempertegas maksud judul penelitian. Adapun penegasan judul dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Penggunaan Bahasa
Penggunaan bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri (Aslinda, 2007:1)
2. Short Message Service (SMS)
Short Message Service (SMS) adalah layanan inovasi handphone yang memudahkan siapa saja untuk mengirimkan pesan kesemua pemakai handphone.
3. Remaja
Remaja adalah usia yang mulai beranjak dewasa dari imur 17-20 tahun. Usia yang mulai tahap emosionalnya mulai labil (KBBI, 1895:813)

4. Kota Tarakan
Kota Tarakan berada di wilayah Kalimantan Timur bagian Utara, tempat peneliti akan mengadakan penelitian mengenai penggunaan bahasa dalam Short Message Service (SMS) di kalangan remaja.
5. Sosiolinguiistik
Sosiolinguistik yang dimaksud dalam penelitian ini adallah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat (Chaer, 2004:2)
H. Sistematika Pen ulisan
Skripsi ini menggunakan sistematika penulisan sebagai berikat:
Bab I pendahuluan, Bab ini terdiri atas latar belakang masalah, alasan memilih judul, batasan maslah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan judul dan sistematika penulisan.
Bab II landasan teori, Bab ini terdiri ata pengertian bahasa, fungsi bahasa, pengertian sosiolinguistik, variasi bahasa dalam tinjauan sosiolinguistik, fonologi, morfologi, leksikal.
Bab III metode penelitian, Bab ini terdiri atas pengertian metode penelitian, variabel penelitian, waktu dan lokasi penelitian, jenis penelitian, sumber data dan data penelitian, pengumpulan data, serta metode analisis data.
Bab IV pembahasan, Bab ini terdri atas penyajian data, analisis data, dan hasil penelitian.
Bab V penutup, Bab ini terdiri atas kesimpulan dan saran.

PENGGUNAAN BAHASA DALAM SHORT MESSAGE SERVICE (SMS) DI KALANGAN REMAJA KOTA TARAKAN

PENGGUNAAN BAHASA DALAM SHORT MESSAGE SERVICE (SMS)
DI KALANGAN REMAJA KOTA TARAKAN
(TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK)

Oleh:  Muhammad Ikram Syakir

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat yang berupa bunyi suara atau tanda/isyarat atau lambang yang dikeluarkan oleh manusia untuk menyampaikan isi hatinya kepada manusia lain (Soekono, 1984:1). Menurut pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah bunyi suara beruapa lambang atau tanda yang dikeluarkan oleh manusia untuk menyampaikan informasi.
Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyi ujaran, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 1990:1). Menurut pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa bentuk dan makna.
Chaer (2004:1) berpendapat bahwa bahasa adalah alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia. Menurut pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan suatu sistem yang berupa lambang dan bunyi bersifat arbitrer sebagai alat komunikasi.
Berdasarkan pendapat tersebut pada dasarnya menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang hanya dimiliki mahluk hidup yang disebut manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mahluk hidup yang lain tidak memiliki bahasa sebagai alat komunikasi.

B. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa seperti alat komunikasi dapat diperinci lebih lanjut dan dapat pula dikajakan balrwa bahasa memiliki fungsi (Keraf, 1991:3). Adapun fungsi bahasa sebagai berikut:
1. Fungsi Informasi
Yaitu uatuk menyampaikan informasi timbal-balik antar anggota masyarakat.
2. Fungsi Ekspresi diri
Yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, dan tekanan-tekanan dalam diri pembicara seperti tampak dari kata ketukan atau tanda seru.
3. Fungsi Adaptasi dan Integrasi
Yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat sekitar.
C. Pengertian Sosiolinguistik
Aslinda (2007:2) sosiolinguistik merupakan bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat. Kridalaksana dalam Rafiek (2005:1) mendefmisikan sosiolinguistik berdasarkan pendapat Fishman adalah ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara bahasanya dengan ciri dan fungsi itu dalam suatu masyarakat bahasa. Dengan demikian sosiolinguistik mempelajari hubungan variasi bahasa dan fungsi bahasa memilki makna tersendiri.
Bedasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa defmisi sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari berbagai variasi bahasa dan fungsi bahasa di dalam masyarakat.

D. Variasi Bahasa
Aslindgf (2007:17) menyatakan bahwa variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induksinya.
Chaer dan Agustina dalam Aslinda (2007:17) membedakan variasi bahasa antara lain : 1. Variasi bahasa dari segi penutur
Variasi dari segi penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu dan variasi bahasa dari kelompok individu yang jumlahnya relatif yang berada pada satu tempat wilayah atau area.
Variasi bahasa dari segi penutur dapat dibedakan menjadi:
a. Variasi bahasa idiolek, yaitu variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep
idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing.
Variasi idiolek ini berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan
kalimat dan sebagianya.
b. Variasi bahasa dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya
relativ, yang berada pada suatu tempat, wilayah atau area tertentu.
c. Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan
oleh kelompok sosial pada masa tertentu.
d. Variasi bahasa sosiolek atau dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan
status, golongan dan kelas sosial para para penuturnya.

g. Variasi bahasa tingkat golongan
Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari
variasi sosial lainya misalnya: mami (panggilan untuk ibu);
2. basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan
dipandang rendah;
3. vulgar adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang
kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan, misalnya: sialan;
4. slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia;
5. kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang
cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok
(dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak), dll;
6. jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial
tertentu. Misalnya, para montir dengan istilah roda gila, didongkrak, dll;
7. argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu dan
bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet kaca mata artinya
polisi;

8. ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh
dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para pengemis. h. Variasi bahasa dari segi penggunaan
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fimgsinya disebutfungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. i. Variasi bahasa dari segi sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukan adanya perbedaan dari variasi bahasa yang digunakan, salah satunya adalah ragam atau variasi bahasa lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.
E. Fonologi
Adalah bagian dari tata bahasa atau ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa disebut fonologi (Keraf, 1990:19).
F. Morfologi
Morfologi Adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan bentuk kata (Keraf, 1990:40). Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang menyelidiki peristiwa-peristiwa umum mengenai seluk beluk bentuk kata terhadap fungsi (tugas) dan arti kata (Soekono, 1984:86). Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang seluk beluk kata dan perubahannya.

G. Leksikal
Leksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vokabuler, kosa kata, perbendaharaan kata) (Chaer, 1989:60). Leksikal mempelajari seluk beluk kata, ialah perbendaraan kata dalam suatu bahasa, pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh pemakai bahasa (Ramlan, 2001:19). Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa leksikal adalah seluk beluk kata dalam perbendaraaan kata dalam suatu bahasa.

Baca Artikel Lain

Bab 2 Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Siswa Kelas Iv SDN 005 Kampung Satu Tarakan Melalui Pendekatan Kontekstual;>>>> Baca

Bab I Penggunaan Ragam Bahasa Gaul Dikalangan Remaja Di Taman Oval Markoni Kota Tarakan;>>> Baca

Nilai Dan Sikap Serta Keterampilan Intelektual Personal Dan Sosial Dalam Kurikulum Ips Sd;>>>>>>>> Baca

Peranan Fisioterapi Dalam Gangguan Perkembangan Anak;>>>>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

PREFIKS{ ma- } dan {a-} DALAM BAHASA AHASA BUGIS

PREFIKS{ ma- } dan {a-} DALAM BAHASA AHASA BUGIS
Tinjauan Deskriptif Bahasa Bugis Dialek Sinjai di Selumit Pantai
Oleh: Darmawati

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Morfologi
Morfologi ialah ilnui bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata baik fungsi gramatik maupun semantlk (Ramlan, 1985:14). Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa inorfologi adalah cabang ilnui bahasa yang mempelajari kata serta fungsi perubahan bentuk kata secara gramatik dan semantik. Morfologi ndalah bagian dan lala bahasa yang membicarakan berinacam-inacani bcntuk bahasa alau morl’em, serta bagaimana nieinbenliik kala deiigan ineiiggiinakaii moifem-morlem iln (Kciaf, 1991 A2). Licrdasarknn pendapat tersebut maka dapat disimpulkan balnva inorfologi merupakan bagian dari tata bahasa yang mempelajari bentuk-beiituk kata atau mortem. Morfologi adalah cabang ilnui bahasa yang menyelidiki peristiwaperistiwa umum mengenai seluk beluk bentuk kata terhadap fungsi (tugas) dan arti
kata (Soekono, 1984:86). Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa inorfologi adalah cabang ilmu bahasa yang menyelidiki seluk-beluk bentuk kata khususnya mengenai fungsi dan arli kata. Berdasarkan beberapa pendapat di alas maka dapat disimpulkan bahwa inorfologi adalah cabang ilmu bahasa yang memepelajari seluk beluk bentuk kata khususnya mengenai fungsi dan aiti kata.

B. Proses Morfologis
Proses morfologis ialah proses pembentukkan kata-kala dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya (Ramlan, 1985:46). Proses morfologis ialah peristiwa-peristiwa morfologi yang terjadi dari input yaitu Ieksem , afiksasi, reduplikasi, serta output berupa kata (Kridalaksana, 2007:12).
Proses morfologis ialah bidang bentuk yang memberi ciri khusus terhadap kata yaitu bidang kesamaan membentuk kata-kata atau kesamaan ciri iinluk membenluk kelompok kata (Putrayasa, 2008:84). Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa proses morfologis ialah peristiwa perubahan bentuk kata melalui proses yaitu afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.
Dari definisi atau pengertian tersebut, dapat kita uraikan tiga proses yaitu:

a. Peristiwa Afiksasi adalah peristiwa perubalian bentuk kata dcngcn perubahan afiks pada bentuk dasar. Peristiwa ini menghasilkan kata jadian berimbuhan seperti:

Prefiks + KD Prefiks + KD + Sufiks
KD + Sufiks KD + Infiks
b. Proses Reduplikasi adalah peristiwa perubalian bentuk kata melalui
pengulangan bentuk dasar. Proses Reduplikasi menghasilkan kata ulang.
Dalam bahasa Indonesia ada 6 jenis kata ulang
1. KU Murni/Ku Ululi/KU Dwilingga
Contoh: meja-meja rumah-rumah
2. KU Senui adalah kata ulang yang tidak mempunyai bentuk dasar
Contoh: kupu-kupu laba-laba
3. KU Berimbuhan
Prefiks + KU = ber + jalan-jalan = berjalan
KU + Sufiks = membagi-bagi -i kan = membagi-bagikan
KU + Infiks = giri – gerigi
4. KU Variasi/Dwilingga Salin Suara
KU berubah bunyi
Contoh: lauk-pmik
morat-marit
5. KU Suku Depan/Dwi Purvva
Contoh: dedaun, rerumput, pepohon
6. KU Kompleks

Contoh: – tendang-menendang
– bersalam-salarnan
– sekali-sekali
c. Proses pemajemukan (Koinposisi)
Dalam bahasa Indonesia kerap kali gabungan dua kata yang ineniinbulkan suatu kata barn. Kata yang terjadi dari gabungan dua kata ini lazim di sebut kata majemuk. Kata majemnk ialah kata yang terdiri dari dua kata scbagai iinsurnya (Ramlan, 1985:69).
Contoh: kolam renang kamar tunggu
Berdasarkan pendapat Ramlan, dan Kridalaksana dapat disimpulkan bahwa proses morfologis dalam bahasa Indonesia adalah

1. Proses pembubuhan afiks (Afiksasi)
2 Proses pengulangan (Recliiplikasi)
3 Proses pemajeimikan (Komposisi).
Di samping liga proses morfologis lersebut di alas dalam bahasa Indonesia masih ada sain proses lagi yang cli scbut |)i’oses penibubulian /.cio. Proses ini hanya meliputi sebagian kata tertentu. (Ramlan, 1985:47).
Contoh: kata-kata makan, minum termasuk golongan kata verbal yang transitif.
Saya makan merupakan kalimat transitif.

C. Afiks
Afiks ialah suatu bentuk yang di dalam suatu kata mernpakan unsur langsnng yang bukan benluk bebas, yang mempunyai leksem melekal pada bentnk lain untuk membentuk kata baru (Soekono, 1984:92).
Afiks ialah suatu satuan gramatikal terkecil yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata atau pokok kata yang memiliki kesanggupan inelekat pada satiian-satuan dari untuk mernbentuk kata pada pokok kata (Ramlan,1985:50).
Afiks yaitu benluk alau modern tenkal yang dipakai untuk inenurunkan kala cliscbul afiks alau inibuhan (Alwi, I99X:3!)

Afiks (imbuhan) terdiri atas:
!. Prefiks (awalan) ialah imbuhan yang menempel di awal kata dasar, seperti :
meng, per, di, yang ber, ter, se, ke.
2. Infiks (sisipan) ialah imbuhan yang mcnempel di tengah kata dasarnya
seperti: er, el, em, in. gerigi, telapak, gemetar, kinerja
3. Sufiks (akhiran) ialah imbuhan yang menempel di akhir kata dasamya
seperti : kan, i, an,
4. Konfiks (imbuhan gabungan) ialah gabungan awalan akhiran yang melekat
pada awal dan akhir kata dasamya yang membentuk satu fungsi dan satu
makna, seperti : peng-an, per-an, ber-an, ber-kan.
5. Siinulfiks, yaitu inorl’eni belah (salu inorl’em) melekat bersama-sama,
seperti: ke+ KD+ an

D. Prefiks dalam Bahasa Bugis
Prefiks adalah unsur afiks yang melekat pada posisi awal kata dasar
(Sikki, 1991:47).
1. Prefiks {Ma-}
a. Bentuk prefiks {ma-} ada dua macam yaitu :
Prefiks {ma-} yang tidak dipengaruhi oleh kondisi fonologis ialah
prefiks {ma-} yangkhusus berfungsi sebagai pembentuk adjektiva.
Contoh :

ma- + pule’ —> mapute1 putih
ma- i lotong -> malotong = hi tain
b. Prefiks {ma-} yang dipengaruhi kondisi fonologis ialah prefiks {ma-}
yang inengalami penibahan bcnluk sesuai dengan Ibnem asal kala dasar
yang dilekatinya.
c. Apabila prefiks {ma-} inelekat pada kata dasar yang berfonem awal
vokal /a/, /i/, /u/, /e’,/o/ dan Id. Prefiks tersebut mempunyai variasi
bentuk (alomorf) sebagai berikut:
1. Prefiks \nui-} dapat muncul dalam bentuk man- yang bcrvariasi
dengan {ma-} apabila inelekat pada kala asal yang berfonem awal
/a/,/i/,/u/,/e’,/o/dan/e/.
Contoh :
man- + ampo —» mangampo —> menabur
man- + itte’ -> mangitte’ -> memungut
2. Prefiks {ma-} dapat mengalami persandian apabila dilekatkan pada
bentuk dasar yang berfonem awal /a/, /i/, /e’,/o/.
Contoh :
ma- + akka -> makka —> mengangkat
ma- i lining > miming -> m i i u im
3 Prefiks {ma-} dapat muncii] dalam bentuk {mar-} apabila dilekatkan
pada kata asal yang berfonem awal /a, /i/, Ai/, /e /, dan lot.
mar- + ambok —> marambok -» Bapak
mar- ^- induk —> marindok -» Ibu

b. Fungsi Prefiks {Ma-}
iMingsi prcfiks {IIKI-} adaiah n n l n k iTicinbcnliik verbal dan adjekliva.
1 . Scbagai pembentuk verba
Contoh :
lipak sailing —» inallipak incniakai sarung
bola = runiah -» inabbola = membuat rumah
pute = putih —* mapute = menjadi putib
Kata lipak dan bola termasuk nomina, sedangkan pule
termasuk adjektiva. Akan tetapi setelah prefiks {ma-} melekat pada
kali) kipak, ho/a dan pule kala-kalii lerscbut mengalami Iranslormasi
menjadi verba.

2. Sebagai pembentuk adjektiva
Contoh :
Bnsa busa — > niabbiis:) -: berbusa
Ban = ban -> mabbau = berbau
Calla = pukiil —> macalla = memukul
Kata hiisa dan hcni termasuk nomina, sedangkan culla
tergolong verba, akan tetapi, setelall mendapat prefiks {ma-}, katakata
tersebut mengalami transformasi menjadi adjektiva.
c. Makna Prefiks {Ma-}
Makna prefiks {ma-} sebagai akibat dari proses penggabunganjya
dengan kata dasar adaiah sebagai berikut:
1. Melakukan pekerjaan seperti pada kata dasar.
Misalnya:
Massering -» menyapu
Mannasn —> incinasak
2. Melakukan pcrbuatan dengan alat.
Misalnya:
Mammeng —> n.cmancing
Mappuka -> ineniukat
3. Mcinakai scsuatu yang disebutkan dalam bentuk dasar.
Misalnya:
Macciccing –> meniakai cincing
Manggeno —> memakai kalung
4. Menyatakan tindakan yang berbalasan.
Misalnya:
Majjamak -» bersulaman
Mabbitte —» berlaga
2. Prefiks {a-}
a. I3cn!uk I’refiks {^-|
1 . Apabila prefiks {«-} melekat pada bentuk dasar yang berfonem awal
vokal, prefiks tersebut mempunyai variasi bentuk {an-},{ag-} atau
{ar-}
Contoh:
an + ampo -» angampo -> menabur
an + itle -> angitte —» memungut

2. Apabila prefiks {a-} melekat pada bentuk dasar yang berfonem awal konsonan /b/, Id, /d/, /bg/, /k/, /!/, /m/, /n/, /n/, /p/, /s/ an /t/, prefiks tersebul akan bernbali bentuk sesuai dengan fonem awal kata dasarnya sehmgga terjadi penebalan konsonan atau geminasi.

Contoh:
ag + baca —> abbaca -> membaca
ag + camming -» accamming -> membaca
b. Fungs! Prefiks ) < v – j
Prefiks {a-} berfungsi membentuk verba, khususnya dalam bentuk kalimat imperatif, larangan meiiyangkut, dan kalimat tanya.

Contoh:
aniki kik ! (silahkan anda menulis !)
a j a miianiki (jangan anda menulis)
c. Makna Prefiks { Makna prefiks {a-} ialah menyatakan perintah atau larangan yang
disebut dalam kata dasar.
Contoh :
Asserrikko !
Menyapu kamu!
(kamu menyapu !)
Aja muannasu! Jangan kamu memasak!

Baca Artikel Lain

Penggunaan Bahasa Dlm SMS Di Kalangan Remaja Kota Tarakan;>>>> Baca

Bab I Penggunaan Ragam Bahasa Gaul Dikalangan Remaja Di Taman Oval Markoni Kota Tarakan;>>> Baca

Bab 1 Interferensi Bahasa Indonesia Oleh Penutur Bahasa Toraja Di Sdn 013 Tarakan;>>>>>>>> Baca

Peranan Fisioterapi Dalam Gangguan Perkembangan Anak;>>>>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

SAP Komputer Dasar

Untuk Kalangan Terbatas

Pert. 1 dan 2 MS WORD
Mengatur halaman, mengaktifkan ruler, memasukkan dan memformat teks, mengatur paragraf, menyalin tek atau gambar, memindahkan teks atau gambar, membatalkan kesalahan, menemukan dan mengganti teks

Pert 3 dan 4 Print View dan pencetakan dokumen, menggunakan find and replace, menggunakan foot note dan header.Mengedit naskah.

Pert 5 dan 6 MS EXCEL
Menambah dan menyembunyikan worksheet, memasukkan dan mengedit data, mengenal format data,

Pert 7 dan 8 Menggunakan cells style, SUM, Multiply dan Average
Pert 9 dan 10 MS Power Point
Menambah slide dan memilih lay out, menentukan template design dan back ground, mengelola slide, menggunakan bullet numbering,
Pert 11 dan 12 Intenet
Browsing, search engine, e-mail, e-trading. Download
13 dan 14 Membuat Blog

Baca Artikel Lain

Teori-teori Dalam Kepemimpinan;>>>> Baca

Konsep Penting dalam Distribusi;>>> Baca

Meningkatkan Efektivitas Kepemimpinan;>>>>>>>> Baca

Pentingnya Promosi;>>>>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca