MENCARI PRINSIP PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA YANG KOKOH

MENCARI PRINSIP PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA YANG KOKOH
Oleh: Gunawan

Komunikasi antarbangsa, negara, dan masyarakat internasional telah, sedang, dan akan terus terjadi. Untuk itu, warga masyarakat tersebut perlu menguasai satu atau lebih bahasa asing, khususnya bahasa internasional.
Kebutuhan ini akan makin meningkat dengan makin luasnya hubungan kerja sama antarbangsa, negara, dan masyarakat internasional yang telah makin
sadar akan arti penting kerjasama itu sendiri. Konsep globalisasi merupakan salah satu bentuk perumusan sifat saling ketergantungan tersebut.
Dengan makin meluasnya hubungan kerjasama antarbangsa, negara, dan masyarakat internasional, maka terasa makin perlu pula untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi komunikasinya. Peningkatan tersebut antara lain
adalah sarana komunikasi. Ditinjau dari proses pembelajarannya bagi warga masyarakat
dunia, maka pembelajaran bahasa internasional akan jatuh pada bentuk pembelajaran bahasa kedua/asing. Selanjutnya, usaha peningkatan penguasaan
bahasa kedua/asing ini menuntut tersedianya metode atau pendekatan yang makin efektif dan efisien. Namun, seberapa jauh hal itu dapat dijangkau selama ini Tulisan ini mencoba melihat kedudukan metode, pendekatan, dan atau prinsip
pembelajaran bahasa kedua/asing ditinjau dari aspek keefektifan dalam pembelajarannya.

B. Telaah Brown
H. Douglas Brown, yang dengan jelas menggunakan kata principles of yang dikaitkan dengan pembelajaran bahasa, bagi bukunya yang berjudul Principles of Language Learning and Teaching (1987) ternyata sarna sekali tidak menyediakan
prinsip-prinsip yang jelas untuk membangun metode, teknik, atau cara melaksanakan pembelajaran bahasa. Hal itu, menurut Brown, memang belum dimungkinkan, mengingat sifat pembelajaran bahasa sendiri yang sangat
kompleks di satu pihak, dan masih terlalu mudanya pengetahuan manusia
tentang pemerolehan bahasa, khususnya bahasa kedua, di pihak yang lain.
Belajar bahasa kedua merupakan proses rumit yang menyertakan jumlah faktor yang boleh dikata tak terbatas (Brown, 1987: 1). Isi buku Brown tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai teori mengajar atau pembelajaran, melainkan
sebagai bahan pertimbangan utama dalam merumuskan suatu toori atau prinsip pembelajaran (Brown, 1987: 7).
Setiap pembelajar, pengajar, dan hubungan pengajar pembelajar adalah unik, dan tugas guru adalah menemukan, memahami, dan memanfaatkan
keunikan-keunikan tersebut dalam kegiatan pembelajarannya. Jadi, menurut Brown, bagaimanapun menarik, peka, dan praktisnya suatu metode yang di,tawarkan namun bagi soorang guru, metode yang terbaik tetap juga metode
yang dirumuskannya sendiri secara cermat berdasar pengalaman mencobakan, merevisi, mwemperhalus, serta mempertajamnya. Kalau tidak demikian maka
guru akan menjadi budak dari suatu pola berfikir tertentu bagai bayangan tanpa kendali-diri (self-control) (Brown, 1987: 13).
Setelah mengupas secara panjang lebar hal-hal yang terkait dengan pembelajar,
di bagian akhir bukunya, Brown menuliskan bahwa teori pemerolehan bahasa kedua yang utuh masih harus dikembangkan. Hasil penelitian hingga
waktu ini baru mengarah pada ditemukannya pokok-pokok pikiran menuju terbentuknya teori umum pembelajaran bahasa kedua (Brown, 1987: 240).
Mekanismebarapannya adalah basil penelitian yangmenyaran pada pembelajaran yang lebih efektif akan mendorong munculnya berbagai metode baru yang
makinbaik, sedang praktik-praktik penggunaan metode tersebut, akan memberikan dataesensial yang berkelanjutan untuk melaksanakanpenelitian lebih lanjut (Brown, 1987: 246).
Semacam revolusi dalam bidang pengetahuan pembelajaran bahasa kedua yang tetjadi pada waktu ini adalah, penama, munculnyapandang eklektik yang
mengakuiadanya variasi yang sangat beragam dalam diri pembelajar, sebingga tersimpul bahwa tidak akan ada satu metode tunggal yang dapat menjawab
seluruh kebutuhan belajar bagi seluruh pembelajardan di setiap waktu. Kedua, iImuwan tidak lagi berusaha melibat adanya kemungkinan hubungan langsung antara linguistik, psikologi, dan pendidikan dengan pembelajaran bahasa,
melainkanmembangun hubungan tak langsung melalui pandang dalam (insight) terhadap bahasa, perilaku manusia, dan pendidikan yang melandasi praktik praktik pembelajaran bahasa. Ketiga, para iImuwan telah mencapai kesamaan kerangka penelitian yang tepat dalam mengamati proses pemeroleban bahasa
kedua. Keempat, pembelajaran bahasa memperhatikan perbedaan individu, sehinggaranab afektif, sebagai faktor penting dalam komunikasi antarindividu dalam interaksi sosial, mendapat perhatian yang besar. Kelima, terakhir dan
nampaknya terpenting, adalah praktik- praktik pembelajaran bahasa kini memfokus pada aspek komunikasi sehingga fungsi bahasa yang alami dan
autentik masuk dalam kegiatan pembelajaran di kelas, walaupun cara mengajarkan semua sisi komunikasi babasa ini masih sangat kabur (Brown, 1987:246). Sisi khusus yang diajukan oleh Brown pada bagian akhir bukunya adalah arti penting intuisi dalam meneari kesesuaian (the search of relevance) antara dunia teori dan praktik. Dikatakan bahwa intuisi dapat mendukung penanganan
metode dalam situasi yang kritis. Situasi kritis di sini diartikan sebagai suatu keadaanyang menuntut diambilnya tindakan ataukeputusan dalam suatu sistem
kegiatan, namun kemampuan dan data analisis tidak mencukupi untuk membangun pertimbangan yang matang. Pada waktu atau keadaan seperti ini intuisi tepat danbams digunakan. Kedudukan intuisi, pada hakikatnya, sejajar dengan
analisis dalam memecahkan suatu masalah. Bedanya adalah babwa analisis memerIukan waktu relatif lama dan data pendukung yang akurat serta harus
tersedia pula kemampuan untuk melakukan analisis itu sendiri, sedangkan bila keadaanberada dalam situasi sebaliknya pemecahanmasalah menuntut digunakannya dan memang hanya menggunakan intuisi saja yang mungkin dalam menyelesaikan masalah tersebut (Brown, 1987: 248-250). Dalam bal ini tersimpul babwa penggunaan intuisi dalam mengembangkan dan menerapkan suatu metode adalah sah adanya.
Uraian di atas menunjukkan bah~¥9buku Brown, terbitan tahun 1987 yang menyertakan kutipan clan 591 publikasi dan 313 ::.hIi,menyatakan bahwa prinsip yang baku dalam pembelajaran bahasa kedua belum bisa dengan demikian, metode yang memadai yang diturunkannya juga belum ada. Dalam keadaan
seperti ini, guru dipersilakan memilih sendiri metode yang ada dan melakukan modifikasi seperlunya berdasar situasi dan kondisi nyata kelas yang diasuhnya.

c. Telaah Subyakto
Buku Metodologi PengajaranBahasa araban Sri Utari Subyakto-N (1987) menunjukkan, walaupun tidak sangat menonjol, aspek reaktif atau antisipatif
kebadiran suatu metoda terhadap metoda lain yang telah ada sebelumnya. Subyakto menuJiskan, misalnya, menjelang abad ke 19 ada beberapa faktor
yang menyebabkan penolakan atau ketidakpuasan terhadap metode tata bahasalterjemahan atau the Grammar-Translation Method. … dst. Hal ini
membuka jalan bagi usaha penggunaan Metode baru yang disebut “Metode Langsung” atau Direct Method (Subyakto, 1987: 12). Menjelang tahun 1920-
an, penggunaan Metode Langsung mulai berkurang. Di Amerika, Metode Langsung dianggap kurang memuaskan karena waktu yang tersedia untuk
bahasa tujuan hanya sedikit. Karena itu tujuan utama program digeser ke ketrampilan mambaca. Dan sini muncullah Metode Membaca (Reading Method)
(Subyakto, 1987: 16-17). Pada waktu yang bersamaan, di negeri Inggris dikembangkan Pendekatan Lisan (Oral Aproach) dan Pengajaran Bahasa Menurut Situasi (Situasional Language ‘leaching) (Subyakto, 1987: 18).
Alinea di atas menunjukkan bahwa para ahli metode telah banyak mencoba mendapatkan metode-metode pembelajaran bahasa kedua yang lebih baik.
Namun, cara yang ditempuh masih bersifat reaktif atau antisipatif terhadap kelemahan metode yang telah ada sebelumnya, dan bukan mencari atau
mengembangkan pril1sip-prinsip umum pembelajaran bahasa kedua secara komprehensif. Tentu saja metode yang dibasilkan masih bercorak sangat spesifik dan relatif sempit.

D. Telaah Larser-Freeman
Buku berjudul Techniques and Principles in Language Teaching (1986) araban Diane Larser-Freeman mencoba memunculkan pnnsip-prinsip pembelajaran bahasa secara lebih operasional, dengan cara menarik jawaban dari sepuluh peitanyaan penggali prinsip pembelajaran yang digunakan berbagai metode atau pendekatan. Dalam buku tersebut Larsen-Freeman mengamati delapan metode, yaitu, The Grammar-TranslationMethod, TheDirect Method, The Audio-Lingual Method, The Silent Way, Suggestopedia, Commullity
Language Learning, The Total Physical Response Method, dan The Communi-cative Approach (Larsen-Freeman, 1986: 4-138). Masing-masing metode
dikenai sepuluh pertanyaan yang sarna. Jawaban atas sepuluh pertanyaan ini dianggap sebagai prinsip pembelajaran yang digunakan oleh masing-masing metode tersebut (Larsen-Freeman, 1986: 2). Jadi, yang didapat bukanlah prinsip umum pembelajaran bahasa kedua.
Sepuluh pertanyaan penggali termaksud adalah: (1) Apa sasaran pembelajaran yang hendak dicapai guru dengan menggunakan metode tersebut?; (2) Apa
peranan guru dan apa peranan murid dalam metode tersebut?; (3) Apa ciri khusus pengajaran guru dan belajar siswa dalam metode tersebut?; (4) Bagaimana sifat interaksi guru-murid dan murid-murid dalam metode tersebut?; (5) Bagaimana perasaan pembelajar dilayani dalam metode tersebut?; (6) Bagaimanakah pandangan dasar metode tersebut terhadap bahasa dan terhadap budaya?; (7) Bagian bahasa dan ketrampilan bahasa yang mana yang mendapat tekanan dalam metode tersebut?; (8) Apa peranan bahasa pertama pembelajar dalam metode tersebut?; (9) Bagaimana evaluasi dilakukan dalam metode tersebut?;
dan (10) Bagaimana cara guru menanggapi kesalahan pembelajar? (Larsen- Freeman, 1986: 2-3). Dengan memberikanjawaban terhadap sepuluh pertanyaan
tersebut berdasar data pengamatan di kelas, Larsen-Freeman bukanlah bermaksud menunjukkan kelebihan dan/atau kelemahan masing-masing metode
ataupun untuk membujuk guru agar menggunakan salah satu dari metode yang ditampilkan, melainkan untuk memberikan berbagai informasi tentang prinsip pembelajaran berbagai metode yang ada agar kemudian yang bersangkutan dapat memetik manfaat dari padanya untuk memperkuat keyakinan terhadap perilaku pembelajarannya selama ini (Larsen-Freeman, 1986: 1). Di sini tampak lagi bahwa buku termaksud, walaupun mencantumkan kata
principles pada judulnya, ternyata tidak menyediakan prinsip umum pembelajaran bahasa kedua, melainkan prinsip pembelajaran yang digunakan oleh masingmasing metode yang diamati. Sedangkan landasan umum digunakannya prinsip
tertentu dalam suatu metode, nampaknya, merupakan hak prerogatif pengembang metode itu sendiri.

E. Telaah Palmer
Prinsip Pembelajaran Bahasa Palmer tertulis dalam bukunya berjudul The Pri1lciples of Language Study edisi cetak ulang tahun 1974 yang hampir tidak berubah dari terbitan pertamanya pada tahun 1921, dibliwaheditor R. Mackin. Alasan penerbitan ulang buku tersebut dalam bentuk yang sangat dekat dengan aslinya, seperti yang dinyatakan sendiri oleh editornya, adalah karena relevansinya
yang sangat kuat dengan masalah yang justru sekarang baru muncul dan banyak dibicarakan para abli. Editor buku tersebut menyatakan betapa tajam
am..!!in Palmer yang 50 tahun lebih dulu dapat menjelaskan masalah prinsip pembelajaran bahasa kedua. Dalam buk.u ters.e..b”ut Palm.er menyatakan bahwa pengetahuan yang masih muda. Namun, prinsip-prinsip yang telah banyak
disetujui oleh mereka yang telah melaksanakan studi-studi yang terkait dengan penyelenggaraan pengajaran bahasa adalah sebagai berikut.
a. Melaksanakan penyiapan awal bagi para pembelajar dalam hal melatih kemampuan bahasa spontannya untuk mengasimilasi bahasa lisan yang dipelajari.
b. Melaksanakan pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru seeara tepat dengan memanfaatkankebiasaan-kebiasaan yang telah dimiliki sebelumnya.
e. Melaksanakan latihan-Iatihan dengan eermat untuk menghindari terjadinya pembentukan kebiasaan-kebiasaan yang buruk.
d. Melaksanakan penjenjangan, penahapan, dan pembobotan kegiatan sedemikian sehingga dapat menghasilkan kemajuan yang terus meningkat.
e. Memberikan proporsi pelatihan yang berimbang dalam berbagai aspek dan eabang-cabang dari bahan ajar.
f. Mengutamakan presentasi bahan bahasa yang konkret dan sedapat mungkin menjauhi yang bersifat abstrak.
g. Memastikan adanya dan menjaga minat pembelajar agar dapat mempereepat kemajuan belajamya.
b. Memegang urutan pertumbuhan kemajuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip psikologi percakapan.
1. Menggunakan berbagai pendekatan terhadap materi pembelajaran secara
simultan yang diambil dari berbagai sisi seeara tepat (Palmer, 1974: 131-132).
Uraian yang lebih rinei dari masing-masing prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
Penyiapan Awal (Initial Preparation). Pembelajar dewasa yang kemampuan spontannya dalam membangun kebiasaan baru telah beku dapat dibangunkan
kembali dengan menggunakan latihan-Iatihan yang tepat. Latihan-Iatiban tersebut adalah sebagai berikut.
a. Latihan mendengar, yang akan memberikan penguasaan penerimaan seeara tepat apa yang didengar.
b. Latihan artikulasi, yang melatih kegiatan otot-otot alat bieara bekerja secara benar.
e. Latihan mimikri, yang akan membangkitkan kemampuan untuk dapat meniru dan mereproduksi seeara baik kata atau sekelompok kata yang
diueapkan oleh penutur asli yang dijadikan model pada proses pembelajaran.
d. Pemahaman langsung, yang melatih pembelajar untuk mengira-ira arti atau maksud hal-hal yang didengarnya tanpa melakukan kegiatan penerjemahan
secara mental atau melakukan analisis sebelumnya.
e. Latihan membentuk hubungan yang benar antara kata dan arti yang dikandungnya sehingga pembelajar mampu untuk mengekspresikan ide yang ada dalam pikirannya.
Gabungan dari kelima ragam latihan tersebut akan mengembangkan kemampuan pembelajar dalam hal menggunakan bahasa lisan. (Palmer, 1974: 133)
Pembentukan Kebiasaan (Habit-forming and Habit-adapting). Seorang pembelajar belum dapat dikatakan menguasai suatu kata atau kalimat bahasa
asing kecuali bila dia telah dapat menggunakannya secara otomatis atau spontan.
Pembelajar dewasa umumnya tidak menyukai latihan-Iatihan menguasai kebiasaan-kebiasaan baru, dan berusaba menggantikannya dengan bentukbentuk
pembelajaran yang lebih berg antung pada kemampuan intelektual, karena mereka khawatir akan terjerumus dalam kegiatan yang hanya bersifat
mekanistik. Kekhawatiran ini tentu saja tidak beralasan, karena walaupun keotomatisan memang barus dicapai melalui pengulangan-pengulangan, namun tidak perlu berarti bahwa pengulangan-pengulangan tersebut akan selalu monoton seperti peniruan oleh burung boo atau kakaktua, karena banyak sekali cara-cara pengulangan yang secara psikologis dapat dipertanggungjawabkan
dan bervariasi sedemikian sehingga dapat menjamin terbentuknya keotomatisan namun teIjaga tetap menarik.
Pembelajar jangan hanya dituntut untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan bam, melainkanjuga hams dibantu untuk menggunakan kemampuan-kemampuan
yang telah ada pada dirinya; bahkan hal ini merupakan kuajiban pengajar untuk membantu para pembelajar untuk dapat memilih bagian-bagian kebiasaan yang telah dimiliki sebelumnya itu yang dirasakan dapat berguna sebagai pendukung proses belajarnya (Palmer, 1974: 134).
Kecermatan (Accuracy). Prinsip kecermatan atau accurac.ymengarah kepada pembel~ar jangan sampai berkesempatan membuat kesalahan sebelum mereka
sampai pada keadaan yang memaksa hal itu harus terjadi. Bila guru memaksa siswa mengucapkan kata asing sebelum mereka cukup menguasai bunyi-bunyi
yang membentuk kata tersebut, atau bila guru memaksa siswa untuk menulis karangan sebelum siswa cukup menguasai cara membuat kalimat, atau guru memaksa siswa berbicara sebelum siswa mendapat cukup latihan berbicara, maka berarti guru tersebut memaksa siswa tersebut berbahasa yang buruk (pidgin form the language). Dalam memberikan latihan-Iatihan khusus untuk
menanamkan kecermatan terhadap bagian-bagian bahasa tertentu, guru harus mempertimbangkan sejumlah aturan umum yang terkait dengan hal penahapan bobot (gradation). (Palmer, ]974: 135)
Tahapan Bobot (Gradation). Pada suatu program pembelajaran memiliki penahapan yang baik maka kecepatan kemajuan belajar pembelajar akan seiring
dengan kesertaannya dalam program tersebut. Dalam suatu program pembelajaran dengan penahapan yang ideal maka pembelajar seharusnya cukup melihat
pertumbuhan, yang kalau dapat diasiniilasikan secara sempuma nantinya akan berkembang sendiri mengikuti semacam hukum bola salju yang menggelinding.

Prinsip-prinsip dalam penahapan adalah sebagai berikut.
a. Telinga sebelum Mata
b. Resepsi sebelum Reproduksi
c. Pengulangan Lisan sebelum Membaca
d. Ingatan Sesaat sebelum Ingatan Berlanjut
e. Latihan Bersama sebelum Latihan Perseorangan
f. Latihan Terpimpin sebelum Latihan Bebas

Masing-masing butir potongan pembelajaran harus ditahapkan, dan demikian pula pembelajaran secara keseluruhan harus ditahapkan menjadi tingkatan
atau fase-fase sedemikain sehingga kegiatan pada suatu fase selalu mendukung kegiatan pada fase atau fase-faseberikutnya. (Palmer, 1974: 135-136)
Proporsi (Proportion). Tujuan akhir pembelajar ada empat lapis, yaitu,
a.memahami apa yang dikatakan dalam bahasa asing oleh penutur aslinya,
b.berbicara dalam bahasa asing seperti penutur aslinya,
c. memahami tulisan seperti yang ditulis penutur aslinya, dan
d. menulis dalam bahasa asing seperti penutur aslinya. Peogertian proporsi di sini mengarah kepada perhatian secara cukup terbadaP masing-masing dari keempat bal tersebut di atas tanpa melebihlebihkan yang satu terhadap yang lain.
Kekonkretan (Co1lcrete1less).Araban prinsip kekonkretan dalam pembelajaran bahasa kedua adalah sebaiknya pengajaran lebih ban yak menggunakancontoh daripada menggunakan penjelasan mentalistik. Namun hal ini pun belum cukup,
karena contoh~ontoh sendiri masih dapat beragam dalam hal kekonkretannya, dan karena itu guru harus menyeleksi berbagai cara memberi contoh yang palingjelas dan menjelaskan masalah yang diajarkan dan cenderung menggunakan pengertian
seman tis yang terdekat. Guru harus menggunakan sebanyak mungkin lingkungan siswa yang nyata, misalnya, tata bahasa bagi kata benda akan paling mudah dipahami bila menggunakankata-katabuku, pensil, kursi, dsb.; tata bahasa bagi kata
ketja akan paling mudah ditangkap bila contoh~ontohnya menggunakan kata-kata
kerja yang dapat dicobakan; demikian pula tata bahasa kata keadaan, maka misalnya,
kata-kata hitam, putih, bulat, bujursangkar akan lebih konkret daripada katakatakaya, miskin, bebal, rajin, dsb.

Ada empat cara untuk mengajarkanarti kata, yaitu, sebagai berikut.
a. Dengan asosiasi langsung, seperti misalnya, menunjuk ke benda-benda yang
dimaksud oleh kata-kata benda yang diajarkan
b. Dengan terjemahan, seperti misalnya, memberikan kata dalam bahasa si
pembelajar yang mempunyai arti paling dekat dengan kata yang dipelajarinya.
c. Dengan mendefinisikan, seperti misainya, mendeskripsikan kata tersebut
menggunakan kata-kata lain yang bercorak sinonim terhaditp kata yang dipelajari. .
d. Dengan menggunakan konteks, seperti misalnya, memasukkan kata yang dipelajari ke dalam suatu kalimat contoh sehingga artinya dapat ditangkap
oleh siswa.
Keempat cara tersebut ditunjukkan di sini sesuai dengan tingkat kekonkretannya;
dan perlu dicatat bahwa arti terjemahan dalam hal ini tidaklah sedekat seperti teljemahan (kata per kata) yang sangat dikhawatirkan oleh para
pengikut direct method. Maka gurulah yang harus memutuskan manakah yang perlu digunakan dari keempat cara tersebut sesuai dengan kondisi nyata yang dihadapi di kelas. (Palmer, 1974: 137)
Kemenarikan (Interest). Nampaknya tidak akan ada hasil yang baik yang dapat dicapai bila pembelajar tidak tertarik akan pekeljaan yang dilakukannya, namun dalam usaha pengajar untuk menarik pembelajar ini haruslah selalu
menjaga jangan sampai usaha tersebut sempat menodai kualitas dari pengajarannya sendiri.
Ada enam unsur yang dapat diketengahkan untuk membuat pengajaran yang menarik yang seiring dengan delapan prinsip yang lain, yaitu:
a. Menekan kebingungan. Kebingungan tidak sarna dengan kesulitan. Pembelajar harus, dalam kegiatan umumnya,. dihadapkan pada kesulitan-kesulitan, tetapi mereka jangan sekali-kali menghadapi masalah yang tak terpecabkan.
Penjelasan yang beralasan dan penahapan kegiatan secara baik akan menekan teljadinya kebingungan dan, dengan demikian, akan membuat program
menjadi menarik.
b. Merasa Mencapai Kemajuan. Bila pembelajar merasa bahwa mereka mendapat kemajuan, mereka jarang tidak menyukai atau tidak tertarik
dengan kegiatannya.
c. Lomba atau Persaingan Sehat. Semangat berlomba menambah kenikmatan dalam segala bentuk pembelajaran.
d. Latihan berbentuk lomba. Banyak bentuk latihan-Iatihan ketrampilan yang digarap sedemikian sehingga dirasakan oleh pembelajar sebagai hal yang menarik semenarik berrnain catur atau permainan-perrnainan pengisi waktu yang lain.
e. Hubungan Pengajar dan Pembelajar. Sikap yang positif antara pengajar terhadap pembelajar akan menyumbang kemenarikan yang sangat besar
dalam kegiatan belajar.
f. Bervariasi. Pergantian kegiatau umumnya juga menambah kemenarikan program: memvariasikan pcJaksanaankegiatan yang sesungguhnya bercorak
monoton. Pelaksanaan kegiatan dril misalnya, haruslah disisipi dengan kegiatan-kegiatan lain yang berwrak tidak atau kurang monoton. (Palmer,
1974: 138)
Urutan Pefigembangan yang Rasional (A Rational Order Progression).
Pengajar dapat me!a..lcukanpelatihan dari bentuk lisa..ike bentuk tuEs atau sebaliknya dari tertulis ke lis:n; mulai dari latihan mendengar dan latihan-latihan artikulasi atau lebih suka meiaks3nakanl1ya nanti dibagian akhir program;
menganggap latihan penguasaan intonasi sebagai hal penting untuk didahulukan atau sebaliknya menunggu hingga tingkatan yang lebih lanjut; memulai pengajaran dari kalimat baru kata atau sebaliknya; memasukkan ketidakteraturan
dalam latihan-Iatihan awal atau menyisihkannya; melatihkan terlebih dahulu kecepatan dan kelancaran baru kemudian memperlambatnya atau sebaliknya.
Pedagogi modern cenderung memilih yang depan dari masing-masing pasangan tcrsebut (Palmer, 1974: 139- 140).
Pendekatan Beragam (The Multiple Line Approach). Istilah pendekatan beragam mengandung arti menuju kesatu akhir yang sama melalui berbagai titik awal secara serentak; menggunakan masih asing cara, proses, latihan, dril, atau unsur-unsur lain yang akan membawa ke pencapaian tujuan-tujuan
antara dan mendekatkan ke arah tujuan akhir; memanfaatkan setiap ide yang bagus dan tetap terbuka untuk segala kemungkinan pengembangan; tidak menolak bentuk-bentuk kt:giatan apapun kecuali kegiatan yang tidak berguna atau memsak.
Pendekatan beragam memberi bentuk bagi prinsip- prinsip eklektik, karena mendorong pengajar untuk memilih secara bijak tanpa prasangka semua hal
yang dirasakan mungkin dapat membantu mereka dalam tugas. Baik untuk tujuan penguasaan yang tuntas, ataupun tujuan-tujuan yang lebih khusus tampaknya prinsip tersebut akan sangat bermanfaat; pengajar mengadopsi cara-cara
yang terbaik untuk mencapai hasil yang direncanakan (Palmer, 1974: 140).

F. Kesimpulan
1. Prinsip yang kokoh pembelajaran bahasa kedua/asing masih dalam keadaan berkembang.
2. Prinsip pembelajaran bahasa kedua/asing yang umumnya digunakan untuk mengembangkan metode atau pendekatan ada selama ini cenderung memberikan
tekanan yang berlebihan pada aspek bentuk atau fungsi bahasa tertentu.

3. Semacam prinsip umum pembelajaran bahasa kedua yang telah ada adalah sembiIan prinsip pembelajaran bahasa kedua/asing karya Palmer, walaupun kehadirannya belum didukung oleh teori-teori yang dibangun dari hasil penelitian.
4. Sebelum prinsip umum yang kokoh tentang pembelajaran bahasa kedua/asing ada maka penerapan metode dan kualitas pembelajarannya sangat tergantung pada semangat dan tanggungjawab guru yang langsung menangani proses belajar-mengajar di kelas dan tidak tergantung pada metode atau pendekatan apa yang digunakan.

Kepustakaan
Brown, H.D. (1987). Principles of Language Lear1ling and 1eaching. Englewood
Clifts, N.J.: Prentice-Hall.
Larsen-Freeman, Diane. (1986). Techniques and Principles in Language Teaching,
New York: Oxford University Press.
Palmer, H.E. (1974). The Principles of Language Study. Oxford: Oxford University Press.
Subyakto, Sri Utari N. (1988). Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Dikti P2LPTK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s