• Download Software Komputer
    Untuk anda yang ingin tahu, ingin belajar, mengubah ketertinggalan menjadi modern. Mengubah kemelataran menjadi kemakmuran.
    Mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Terus aktifitas takkan pernah lelah untuk belajar. CARI ILMU dimana saja, kapan saja dan berguru kepada siapa saja
    Google Groups
    Pencariilmu
    Kunjungi grup ini
    *Melihat Kota tempat weblog ini dikelola dari Satelit
  • Sepuluh Masukan Terkini

    Fatma di Download Diktat Buku Akuntansi…
    rendy di Download Diktat Buku Akuntansi…
    Rina Monika Dewi di Pengertian Etika, Moral dan…
    Dwi gita di Pengertian Politik dan Ilmu…
    mifta di Studi Kasus Umum Perpajak…
    mifta di Studi Kasus Umum Perpajak…
    mifta di Studi Kasus Umum Perpajak…
    mifta di Studi Kasus Umum Perpajak…
    Anonymous di PEMBELAJARAN DENGAN MODEL SIKL…
    Linguistik Umum | bo… di Cakupan Semantik
  • Admin

  • Model Pembelajaran Kreatif dari Treffinger

    Model Pembelajaran Kreatif dari Treffinger

    Dalam pembelajaran kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang
    penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah pengembangan fungsi pemikiran divergen; tingkat kedua, adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang majemuhk; Tingkat ketiga, adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian dari masing tingkatan-tingkatan tesebut disajikan sebagai berikut :

    a. Teknik-teknik kreatif tingkat pertama

    Teknik pembelajaran kreatif tingkat pertama yang menekankan
    pada fungsi-fungsi divergen ini antara lain menggunakan teknik
    pemanasaan, pemikiran dan perasaan terbuka, sumbang saran dan
    penangguhan kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang dipaksakan.

    Metode pembelajaran kreatif tingkat pertama
    ini mempunyai beberapa ciri umum sebagai berikut:

    1) Pengahiran terbuka (oopen endedess).kegiatan-kegiatan pada tingkat ini menghendaki ditemukanya sejumlah kemungkinan jawaban.
    Bukan dikemukakanya sebuah jawaban yang benar.

    2) Penerimaan banyak gagasan dan jawaban yang berbeda. Konsekuensi dari bervariasinya jawaban yang diinginkan adalah ditemukanya jawaban-jawaban yang bervariasi, yang kadang-kadang ada yang tidak lazim, aneh, atau luar biasa. Terhadap yang demikian itu kita harus membina dan menghargai, sebagimana kita menghargai gagsan yang wajar.

    3) Gagasan-gagasan tingkat satu meminta kita untuk menerima
    pandangan yang baru dan melihat melebihi pemikiran biasa atau
    pikiran yang terikat dengan kebiasaan kita.

    4) Guru mencoba bertindak sebagai kamera yang menangkap sebanyak
    mungkin dalam setiap situasi.

    Beberapa teknik kreatif tingkat pertama seperti disebutkan diatas
    diuraikan sebagai berikut:

    1) Pemanasan
    Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan
    prabelajar yang digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap
    pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran
    pebelajar dengan cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Pembelajar dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan tepat, dari batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide.
    Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar
    sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal
    dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
    berikutnya.

    2) Pemikiran dan perasaan berahir terbuka

    Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin
    mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku
    divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan
    pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala
    peraaan dan pikiran sebagai jawaban.

    Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengakhiran terbuka (oopen-ended thoughtand feeling) dapat dicontohkan sebagai berikut :
    a) Andaikata
    Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang
    situasi yang tidak benar atau sesuatu yang bertentangan dengan
    fakta. Contoh: andaikata pemberantasan korupsi tidak bisa tuntas ditahun-tahun ini, apa yang bakal terjadi ditahun 2012 nanti?
    b) Peningkatan suatu produk.
    Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui pengungkapn
    pemikiran pengembangan atau peningkatan terhadap suatu kondisi
    yang telah ada. Contoh: bagaimana cara memperbaiki cara belajar
    yang biasa dilakukan sekarang.
    c) Permulaan yang tidak selesai.
    Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu
    kondisi yang belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan
    kemungkinan penyelesaian atau penyempurnaanya. Contoh:
    penyelesaian sebuah kasus, cerita, desain, rancangan dan
    sebagainya.
    d) Pengguna baru dari objek-objek umum.
    Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda
    atau hal untuk dipikirkan fungsi lainya dilain fungsi yang lazim.
    Contoh: tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya.
    e) Alternatif judul.
    Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu
    stimulasi untuk dipikirkan judulnya yang tepat. Contoh: kepada
    pembelajar ditunjukkan naskah sebuah cerita, dan bisa lukisan
    atau gambar-gambar tentang sesuatu.
    f) Membantu siswa atau anak untuk mengajukan pertanyaan.
    Kegiatan ini dilakukan mengingat pada biasanya siswa
    beranggapan bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan
    dalam konteks pembelajaran. Di sini siswa diberikan kesempatan
    banyak untuk memikirkan banyak pertanyaan. Melalui strategi
    pemikiran dan perasan terbuka ini diharapkan pembelajar akan
    terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan
    menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.

    3) Sumbang Saran
    Teknik sumbang saran (brainstorming) yang dikemukakakan oleh
    Osborn ini mengkondisikan agar pembelajar lebih bersikap terbuka,
    lebih terbuka terhadap lingkungan, dan produktif dalam melahirkan
    gagasan-gagasan.
    Agar teknik sumbang saran ni dapat membuahkan hasil yang
    lebih baik, dalam pelaksanaanya perlu memperhatikan aturan-aturan
    sebagai berikut:
    a) Kritik harus tepat waktu
    Dalam kegiatan pemecahan masalah dengan tehnik sumbang saran
    ada dua tahapan yang penting diperhatikan, yaitu tahap
    pengungkapan gagasan, dan tahap penilaian dan kritik. Urutan
    tahapan ini harus dilaksana akan secara disiplin, karena sering kali terjadi, begitu seseorang/siswa tertentu melontarkan gagasanya, secepat itu muncul kritik dari pihak lain. Ini tidak dibenarkan, karena kritik secara dini akan berakibat mematikan ide, atau akan menghambat spontanitas pelahiran gagasan-gagasan baru. Karena itu, kritik seharusnya dilakukan setelah acara keseluruhan pembelajar telah menyampaikan ide atau gagasan-gagasanya.
    b) Kebebasan dalam memberikan gagasan
    Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam teknik sumbang
    saran ini keutamaanya terletak pada kuantitas ide, terlepas dari
    kualitasnya. Karena itu, pembelajar perlu diberikan kesempatan
    sebanyak-banyaknya untuk mencetuskan ide-gagasanya secara
    murni dan berani. Tentu akan terlahir gagasan dan ide yang
    beraneka ragam, yang sifatnya ada yang wajar, ada yang tidak atau
    kurang wajar atau bahkan tidak masuk akal sama sekali. Hal
    seperti itu tidak dipersoalkan, sebab dalam proses akan terjadi
    rangsang-merangsang, artinya, dari ide yang aneh tadi akan
    tertelaah oleh pihak lain yang dalam tingkat atau saat tertentu akan mengakibatkan ide atau gagasan baru sebagai tindak lanjutnya.
    c) Penekanan pada kuantitas
    Hal terpenting dalam teknik ini adalah banyaknya ide-gagasan.
    d) Kombinasi dan peningkatan gagasan

    Berawal dari banyaknya gagasan sebagai orientasi dalam teknik
    ini, ada peluang kemungkinan untuk mengkombinasi gagasangagasan
    yang telah ada yang diperkirakan akan lahir gagasan yang
    lebih bermutu.
    e) Penekanan pada kualitas
    Diantara banyaknya gagasan, diharapkan akan adanya gagasan
    yang lebih berkualitas.
    f) Tidak perlu mempersoalkan adanya gagasan yang sama. Hal
    tersebut tidak dipersoalkan, mengingat bahwa adanya gagasan itu
    akan lahir gagasan yang baru.

    4) Daftar penulisan gagasan
    Teknik daftar penulisan gagasan ini mengkondisikan agar
    pembelajar menyalurkan kemampuanya untuk melihat hubunganhubungan
    baru, memanipulasi informasi dan gagasan agar menghasilkan gagasan-gagasan baru yang orisinil. Dasar pemikiran
    teknik ini ialah bahwa melalui kombinasi dari unsur yang sebelumnya tidak ada hubungan, gagasan-gagasan yang kreatif itu lahir. Karena itu, dalam teknik disiapkan daftar kata kerja dan masalahnya, kemudian pembelajar diminta untuk menuliskan gagasan-gagasan yang muncul sebagai hasil penghubungan dari kata kerja tersebut dengan masalahnya. Penyusunan kata kerja menurut Osborn sebagai berikut:
    a) Mengganti (substitute): siapa dan apa yang dapat diganti (unsurunsur, bahan, atau proses).
    b) Mengkombinasi(combine): mengkombinasikan tujuan-tujuan, ideide
    dan sebagainya.
    c) Mengubah (modify): Mengubah arti, warna, corak baru, suara, dan sebagainya.
    d) Memperbesar (magnify): menambahkan apa saja seperti: waktu,
    bentuk, kekeuatan, bahan, dan sebagainya.
    e) Memperkecil (minify): apa saja yang dapat dikurangi seperti :
    penden, lebih kecil, ringan, dan sebagainya.
    f) Menyusun kembali (rearrange): komponen yang saling dapat
    menggantikan seperti: pola, tata letak, urutan, dan sebagainya.
    Pada dasarnya, kata kerja tersebut dapat disusun sendiri dengan
    menyesuaikan dengan konteks atau masalah yang relevan.
    5) Penyusunan sifat
    Seperti halnya teknik yang lain, teknik penyusunan sifat ini
    memiliki ciri guna tersendiri, yaitu untuk merangsang munculnya
    banyak gagasan dalam memecahkan atau menganalisis satu objek.
    Langkah-langkah penting dalam teknik ini adalah pertama,
    mengidentifikasi sifat atau ciri suatu objek atau masalah; kedua,
    meninjau satu persatu dari setiap ciri atau sifat untuk dipertimbangkan kemungkinan perubahan yang bisa terjadi; ketiga, menampung adanya berbagai gagasan dengan melakukan pencatatan; keempat, melakukan penilaian terhadap setiap gagasan dengan catatan bahwa penilaian ini baru boleh dilakukan apabila pencacatan terhadap semua gagasan telah selesai.
    Terdapat beberapa bidang atau masalah yang dapat didekati
    dengan teknik penyusunan sifat ini antara lain:
    a) Perbandingan, misalnya: membandingkan cara belajar siswa
    perkotaan dan siswa pedesaan.
    b) Analisis peristiwa atau pola-pola sejarah, misalnya: dampak
    reformasi terhadap mutu pendidikan.
    c) Menyadari nilai dan memperjelas perasaan, misalnya:
    mempelajari ciri-ciri orang jujur, bahagia, penjahat, pengecut dan sebagainya.
    d) Menentukan kriteria penilaian, misalnya: ciri-ciri karya ilmiah, karangan, novel, dan sebagainya
    6) Hubungan yang dipaksakan
    Teknik hubungan yang dipaksakan (forcedrelationships) kini
    merupakan teknik kreatif yang mencakup beberapa cara untuk melihat kemungkinan dan kombinasi baru dari objek atau gagasan, yang tidak pernah kelihatan ada jika tidak dicoba untuk dipaksakan. Ada babarapa cara yang dapat digunakan, antara lain adalah teknik mendaftar dan teknik katalog.

    b. Teknik-teknik kreatif tingkat kedua

    Dalam teknik-teknik kreatif tingkat kedua ini pada intinya ingin
    mengupayakan agar pembelajar lebih meluaskan pemikiranya serta
    melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan yang lebih majemuk dan menantang. Dalam teknik ini akan lebih terasa betapa penting pola berpikir divergen untuk memecahkan masalah secara efektif.
    Secara seingkat berikut ini akan menguraikan beberapa teknik
    kreatif tingkat kedua, antara lain: Teknik analisis morfologis, bermain peran dan sosiodrama, serta synectics.
    1) Teknis analis morfologis
    Teknik analis morfologis ini merupakan gabungan teknik-teknik
    kreatif tingkat pertama yang telah dikemukakan, yaitu teknik sumbang saran, teknik hubungan yang dipaksakan, dan teknik penyusunan sifat.
    Teknik ini bertujuan agar pembelajar mampu mengidentifikasi ide-ide baru, dengan cara mengkaji secara cermat bentuk dan struktur
    masalah. Dengan mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari
    masalah, pembelajar dapat mengembangkan berbegai alternatif atau
    gagasan-gagasan dari kombinasi unsur-unsur yang baru.

    2) Teknik bermain peran dan sosiodrama
    Bermain peran dan sosiodrama merupakan teknik pembelajaran
    untuk menghadapi proses pemikiran dan perasaan yang majemuk
    secara efektif. Teknik ini mengupayakan agar pembelajar dapat
    menangani konflik, stres, dan masalah yang timbul dari pengalaman
    dalam kehidupanya.

    3) Synectics
    Oleh penemuan synectics ini W.j.j. Gordon (1980), teknik
    synectics merupakan teknik mempertemukan bersama berbagai
    macam unsur dengan menggunakan kiasan (metafor) untuk
    memperoleh suatu pandangan yang baru. Ada dua prinsip dasar dalam
    teknik ini adalah, pertama, membuat yang asing menjadi yang lazim; dan kedua,membuat yang lazim menjadi yang asing, keduanya
    melalui kiasan dan analogi. Analogi disini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mengungkapkan kesamaan antara hal-hal atau
    gagasan-gagasan atas dasar pembandingan.

    c. Teknik kreatif tingkat ketiga

    Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan keterlibatan
    pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar
    kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK) secara kreatif.
    PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi
    dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan terlibat keras dalam teknik ini.
    Merancang suatu desain pembelajaran yang sifatnya amat khusus
    bagi anak kreatif adalah tugas yang paling kompleks dan yang paling sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh dari pada sempurna. Namun begitu ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh dalam merancang kegiatan ini.
    Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak kreatif terus menerus
    memerlukan stimulasi mental untuk mencapai perkembangan unik yang
    optimal, maka Renzulli ( Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci dalam merancang suatu desain pembelajaran, yaitu mencakup :
    1) Seleksi dan latihan guru;
    2) Pengembangan kurikulum berdiferensiasi dalam berbagai bidang
    untuk memenuhi kebutuhan belajar dalam segi akademis dan seni;
    3) Prosedur identifikasi jamak;
    4) Pematokan sasaran program yang sifatnya terdiferensiasi;
    5) Orientasi staf dan peningkatan sikap kerja sama;
    6) Rencana evaluasi
    7) Peningkatan administrative.
    Suatu panitia khusus dalam setiap sekolah perlu diadakan, terdiri
    dari kepala sekolah, guru, orang tua, konselor dan pegawai administrasi yang bertanggung jawab atas kegiatan sehari-hari perlu dibentuk dalam merancang program ini.
    Program seperti itu harus memenuhi beberapa kriteria kunci (Clark,1986), yaitu program itu harus:
    1) Memberi kesempatan dan pengalaman yang sifatnya khusus sehingga mereka terus-menerus dapat mengembangkan potensinya;
    2) Mengembangkan lingkungan bermutu untuk meningkatkan
    intelegensi, bakat, perkembangan afektif dan intuitif;
    3) Memberi peluang untuk pertisipasi aktif dan kooperatif antar siswa maupun dengan orang tua;
    4) Menyiapkan tempat, waktu, dan stimulasi bagi siswa berbakat untuk menentukan sendiri kemampuanya;
    5) Memberi peluang pada siswa berbakat untuk bertemu berbagai
    individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya;
    6) Memberi stimulasi pada siswa berbakat untuk menentukan bidang
    yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa
    yang dapat mereka kontribusikan.

    7 Tanggapan

    1. Artikel menarik dan blog yang sangat edukatif plus bermanfaat..
      Saya Kak Zepe…Salam Kenal…
      Saya juga punya tisp pendidikan kreatif…
      banyak lagu anak yang bisa dipakai untuk gerak
      dan lagu..dan masih banyak lagu anak-anak lainnya..
      Lagu2 saya sudah banyak dpakai di TK dan PAUD seluruh Indonesia..
      Mari berkunjung di blog saya
      Di http://lagu2anak.blogspot.com
      Kalau mau bertukar link, silakan lho…

    2. pak, saya mau mengangkat tentang model treffinger dalam skripsi saya, buku apa yg bisa dijadikan refrensi, terimakasih

    3. Model treffinger ya. coba dulu aja

    4. thanks pak ats infox,

    5. ada bukunya gak pak??? buat mengajukan judul skripsi

    6. buku yang memuat model treffingernya pak

    7. ass.
      boleh saya tahu buku referensinya pak?!

    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

    Bergabunglah dengan 323 pengikut lainnya

    %d blogger menyukai ini: