Pola Asuh Orang Tua

Pola Asuh Orang Tua

Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh orang tua adalah perilaku orang tua dalam mendidik
anak-anak mereka. Ada juga yang mengartikan pola asuh sebagai sikap orang tua terhadap anaknya. Berdasarkan kedua pengertian tersebut penulis mendefinisikan bahwa pola asuh adalah cara dan sikap serta perilaku orang tua dalam mendidik anak.
Untuk membina atau mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan, atau secara kebetulan saja, tetapi orang tua harus mengadakan kontak sosial dengan anak. dengan kontak sosial itulah akan menimbulkan tingkah laku lekat terhadap anaknya. Tingkah laku lekat merupakan tingkah laku yang khusus
bagi bayi, yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain, untuk mencari kepuasan dalam hubungan dengan orang lain tersebut.
Untuk menimbulkan tingkah laku lekat terhadap seseorang atau
khususnya anak, maka ada faktor yang mempengaruhi, yaitu:
a. Sering mengadakan reaksi terhadap tingkah laku anak, yang
dimaksudkan yaitu untuk menarik perhatian dari anak tersebut.
b. Sering membuat interaksi dengan anak secara spontan.
Biasanya tingkah laku kelekatan tidak hanya pada satu orang
saja, namun dapat timbul lebih banyak tergantung dari banyak
sedikitnya orang yang mengasuh anak tersebut. Tetapi tingkah laku
lekat yang utama biasanya yang ada di rumah tersebut.
Dengan tingkah laku lekat inilah anak akan meniru apa yang
dilakukan oleh orang yang dilekatinya, dan dari sinilah pola asuh orang tua mulai diberikan kepada anaknya.

Macam-Macam Pola Asuh

Ketika mendidik anak ditemukan bermacam-macam perilaku
orang tua. Secara teoritis perilaku orang tua tersebut dapat
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu otoriter, demokratis, laissez-faire.
Masing-masing dari ketiga perilaku orang tua tersebut memiliki
ciri-ciri tersendiri dan berkaitan erat dengan peranan orang tua sebagai pendidik dalam hubungannya dengan pola asuh. Ketiga pola asuh tersebut dapat dijelaskan di bawah ini:

1) Otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang diterapkan orang
tua dengan bercirikan kekuasaan. Segala peraturan yang dianut oleh orang tua harus dikerjakan oleh anak dan tidak boleh dibantah, ciricirinya adalah sebagai berikut:

(a) Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan tidak
boleh membantah;
(b) Orang tua cenderung mencari kesalahan-kesalahan pada pihak
anak, dan kemungkinan menghukumnya;
(c) Kalau terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dengan
anak, maka anak dianggap melawan atau membangkang;
(d) Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan
terhadap anak;
(e) Orang tua cenderung memaksakan disiplin;
(f) Orang tua cenderung menentukan segala sesuatu untuk anak,
dan anak hanya sebagai pelaksana.

2) Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang diterapkan oleh
orangtua secara fleksibel/luwes. Anak diberi kesempatan untuk
menyampaikan pendapat dan diikursertakan dalam pemecahan
masalah yang muncul dalam keluarga juga dihadapi dengan tenang,
sabar dan terbuka. Ciri-ciri dari perilaku tersebut adalah sebagai berikut :
(a) Melakukan sesuatu dalam keluarga dengan cara musyawarah.
(b) Menentukan peraturan-peraturan dan disiplin dengan
mempertimbangkan keadaan, perasaan dan pendapat anak serta
memberikan alasan-alasan yang dapat diterima, dipahami dan
dimengerti oleh anak;
(c) Kalau terjadi sesuatu pada anggota keluarga selalu dicari jalan keluarnya secara musyawarah, juga dihadapi dengan tenang,
wajar dan terbuka;
(d) Hubungan antara keluarga saling menghormati : pergaulan
antara ibu dan ayah juga saling menghormati, demikian pula
orang tua menghormati anak sebagai manusia yang sedang
bertumbuh dan berkembang;
(e) Ada komunikasi dua arah, yaitu anak juga dapat mengusulkan,
menyarankan sesuatu pada orang tuanya dan orang tua
mempertimbangkan;
(f) Semua larangan dan perintah yang disampaikan kepada anak
selalu menggunakan kata-kata yang mendidik, bukan
menggunakan kata-kata kasar;
(g) Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu
dipertimbangkan dan yang tidak baik ditinggalkan;
(h) Keinginan dan pendapat anak diperhatikan apabila sesuai
dengan norma-norma dan kemampuan orang tua;
(i) Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian.

3) Laissez-faire
Orang tua bersikap percaya bahwa mereka selalu
menganggap anak sebagai pribadi dan mendorong mereka dengan
memberikan kebebasan penuh, bersikap longgar, tidak pernah
menghukum maupun memberi ganjaran pada anak, kurang kontrol
terhadap anak pada saat berada dirumah, kurang membimbing
terhadap anak, anak lebih berperan daripada orangtua dalam
menyelesaikan tugas atau masalah, kurang tegas, dalam memberikan
peraturan dan kedisiplinan dan hanya berperan sebagai pemberi
fasilitas maka tidak akan peduli terhadap kelakuan anak sehingga
kurang adanya komunikasi. Pola asuh Laissez-faire memiliki ciriciri sebagai berikut:

(a) Membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan
membimbingnya;
(b) Medidik anak acuh-tak acuh, pasif dan masa bodoh;
(c) Terutama memberikan kebutuhan material saja;
(d) Membiarkan saja apa yang dilakukan anak atau terlalu
memberikan kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri tanpa
ada aturan dan norma-norma yang digariskan oleh orang tua;
(e) Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam
keluarga.
Ada tiga model pola asuh orangtua, yaitu: otoriter, demokratis dan permisif. Masing-masing pola asuh tersebut mempunyai ciri-ciri sebagaimana dijelaskan berikut ini:

a. Pola Asuh Otoriter

1) Tidak menerangkan kepada anak tentang alasan-alasan mana
yang dapat dilakukan.
2) Mengabaikan alasan-alasan yang masuk akal dan anak tidak
diberi kesempatan untuk menjelaskan.
3) “Punishment” atau hukuman selalu diberikan pada perbuatan
yang salah dan melanggar aturan.
4) “Reward” atau penghargaan jarang diberikan pada perbuatan
yang benar, baik dan berprestasi.

b. Pola Asuh Demokratik
1) Ada pengertian bahwa anak punya hak untuk mengetahui
mengapa suatu aturan dikenakan kepadanya.
2) Anak diberi kesempatan untuk menjelaskan mengapa ia
melanggar peraturan sebelum hukuman dijatuhkan.
3) “Punishment” diberikan kepada perilaku yang salah dan
melanggar peraturan.
4) “Reward” yang berupa pujian dan penghargaan diberikan
kepada perilaku yang benar dan berprestasi.

c. Pola Asuh Permisif
1) Tidak ada aturan ketat dari orang tua, dan anak diperbolehkan
melakukan sesuatu yang dianggap benar.
2) “Punishment” tidak diberikan karena memang tidak ada aturan
yang mengikat.
3) “Reward” tidak diberikan untuk perilaku yang baik, karena ada
anggapan bahwa persetujuan sosial sebagai reward.
4) Ada pengertian bahwa perbuatan yang baik akan dipelajari dari
perbuatan yang salah. Dalam hal ini anak tidak dituntut untuk
bertindak untuk memperbaiki kesalahannya, namun orangtua
membiarkan anak untuk merubahnya sendiri. Dengan demikian
tanggung jawab anak terhadap diri mereka tidak menjadi besar.
Istilah otoriter, demokratis dan permisif biasanya digunakan
dalam kepemimpinan. Namun demikian istilah tersebut telah digunakan dalam layanan orang tua kepada anaknya yang disebut pola asuh.

Ketiga pola asuh tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pola asuh otoriter, memiliki ciri-ciri: kaku, suka menghukum, tidak menunjukkan kasih sayang dan tidak simpatik.
b. Pola asuh demokratik, memiliki ciri-ciri yaitu: hak dan kewajiban antara anak dan orang tua adalah sama, secara bertahap orang tua bermusyawarah dengan anaknya. Adanya saling memberi dan menerima, dan selalu mendengarkan keluhan-keluhan atau keberatan-keberatan yang dikemukakan oleh anak-anaknya.
c. Pola asuh permisif, yaitu cenderung memberikan kebebasan kepada anak tanpa kontrol sama sekali, anak sedikit sekali dituntut suatu kewajiban atau tanggung jawab, mempunyai hak yang sama dengan orang tua.

Disini kita bisa menyimpulkan ciriciri ketiga pola asuh tersebut dengan mendasarkan pada beberapa penjelasan di atas yaitu:

1. Pola asuh otoriter
– Pemaksaan kepada anak untuk memenuhi keinginan orang tua
– Tidak ada kebebasan pada anak dalam menjalankan aktivitasnya
– Adanya ancaman atau hukuman fisik
– Jarang sekali memberikan pujian kepada anak
– Orang tua berhak mengatur masa depan anak
– Sering menakut-nakuti anak dengan ancaman

2. Pola asuh demokratis
– Mau meluangkan waktu kepada anak
– Mambatasi anak terhadap bahaya yang dapat mengancam anak
– Memberi toleransi waktu bermain anak
– Memberikan hadiah kepada anak jika berprestasi.

– Sering mendampingi anak-anak
– Pemberian tugas kepada anggota keluarga sesuai dengan
kemampuan.
3. Pola asuh laizzes faire
– Orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat
sesuai keinginan mereka.
– Memberikan kebutuhan meteri kepada anak.
– Anggapan bahwa anak memiliki hak yang sama besarnya
dengan orangtua.
– Tidak ada hukuman kepada anak
– Tidak ada pujian kepada anak.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s