Fitur Umum Anak Anak dalam Mempelajari Bahasa Inggris di SD

 

Fitur Umum Anak Anak dalam Mempelajari Bahasa Bahasa Inggris di SD

 

Mengingat perkembangan intelektual anak (sampai usia 8 tahun) masih dalam tahap intelektual yang disebut oleh Piaget operasional konkrit, guru harus selalu mengingat keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada anak di tahapan ini. Aturan, penjelasan, dan beberapa pembicaraan abstrak tentang bahasa harus betul-betul memakai pendekatan yang ekstra hati-hati. Anak-anak terfokus kepada apa yang terjadi saat ini, tidak terlalu mementingkan untuk tahu atau mengerti apa yang akan terjadi nanti, atau apa yang sudah mereka alami. Hal ini berimplikasi signifikan pada pembelajaran. Anak juga peduli pada tujuan fungsional bahasa (untuk apa kalimat itu dipakai) namun tidak terlalu peduli terhadap “kebenaran” (correctness) yang dikehendaki oleh orang dewasa dan tidak bisa memahami bahasa rumit yang digunakan orang dewasa untuk menjelaskan konsep-konsep linguistik. Berikut adalah beberapa rambu-rambu umum yang bisa diterapkan guru di dalam kelas bahasa Inggris di SD

1) Jangan menjelaskan grammar secara eksplisit menggunakan istilah-istilah seperti past tense, relative clause, dsb. Alangkah lebih baiknya guru mencontohkan pola-pola kalimat termaksud dengan ilustrasi konkrit bisa berupa gambar, perilaku guru atau lainnya (Hadley, 2001). Hal inilah yang dinamakan konktretisasi dan kontekstualisasi (akan dibahas kemudian)
2) Aturan yang abstrak dan sulit dibayangkan siswa alasannya, mutlak harus dihindari, misal: untuk membuat pernyataan menjadi pertanyaan tambahkanlah do atau does. Lebih baik guru memberikan contoh kalimat dengan mengulang-ulangnya. Mengulang-ulang contoh kalimatnya lebih baik dibanding mengulang-ulang penjelasan/aturan yang dimaksud. Anak akan mampu memformulasikan sendiri aturan yang dimaksud jika contoh yang diberikan guru jelas.
3) Beberapa konsep gramatika bisa lebih menarik perhatian siswa jika guru mendemonstrasikannya, misal: sampai berjalan ke depan pintu, guru berkata I‟m walking to the door.
4) Beberapa konsep atau pola-pola yang sulit perlu diulang-ulang agar otak dan telinga anak mudah berkoordinasi.

2. Rentang Perhatian
Salah satu perbedaan menonjol anak dan orang dewasa adalah dari sisi rentang perhatiannya. Pertama, kita harus memahami apa itu rentang perhatian. Simpan anak di depan tivi yang menayangkan film kartun favoritnya, maka dia akan tahan berjam-jam di depan tivi. Jadi jangan membuat asumsi bahwa anak memiliki rentang perhatian yang pendek. Tapi rentang perhatian yang pendek akan muncul jika anak terlibat dalam satu aktivitas yang membosankan, tidak berguna atau terlalu sulit. Aktivitas belajar yang membosankan sangat mungkin tercipta di atmosfir pembelajaran kita, disadari ataupun tidak. Gaya mengajar guru di kelas misalnya, yang hanya memakai one way teaching, atau guru mentransfer apa yang diketahui kepada siswa dan siswa tidak aktif „memanipulasi‟ pembelajaran, bisa menjadi penyebab atmosfir kebosanan melanda suasana pembelajaran. Pembelajaran yang tidak memfasilitasi anak untuk bergerak dari tempat duduknya, memegang, meraba atau memanipulasi sesuatu melainkan hanya memaku mereka di tempat duduk, akan membuat rentang perhatian anak menjadi pendek, cepat bosan dan „terpicu‟ untuk membuat keributan. Lalu, gaya mengajar yang terlalu „dewasa‟ baik dari sisi bahasa yang digunakan guru maupun dari sisi penyajian konten pembelajaran akan membuat siswa merasa aktivitas yang mereka lakukan tak berguna. Hal inipun akan memicu rentang perhatian yang pendek tadi. Lalu, kondisi pembelajaran yang tidak berhasil dikondisikan guru untuk sesuai dengan usia dan kemampuan siswa akan menjadikan pembelajaran terlalu sulit ataupun terlalu mudah. Pembelajaran yang terlalu sulit ataupun terlalu mudah bagi siswa, juga akan memicu rentang perhatian yang pendek. Karena belajar bahasa Inggris bisa jadi terlalu sulit untuk anak, maka tugas gurulah untuk membuat pembelajaran bahasa Inggris bisa terkemas menarik, hidup dan menyenangkan.
Bagaimana caranya mengenai pemilihan materi dan model pembelajaran bahasa Inggris. Secara umum, berikut beberapa gambaran tips sederhananya.

1) Karena anak selalu terfokus pada saat ini dan sekarang, maka aktivitas harus dirancang untuk menangkap minat mereka dengan segera. Hindari aktivitas yang membuat mereka harus mengingat kejadian lalu atau kejadian yang akan datang dalam durasi yang cukup lama. Ketikapun mereka mampu melakukannya, aktivitas sejenis ini tak akan terlalu menarik minat mereka.
2) Kegiatan harus beragam agar minat anak terjaga dan perhatian anak tetap ada. Anak secara umum memiliki beragam gaya belajar. Pastikan kegiatan pembelajaran mengakomodir kebutuhan setiap siswa yang berbeda berdasarkan gaya belajarnya.
3) Guru harus “hidup” dan antusias terhadap pelajaran. Bayangkan ruang kelas itu adalah panggung dimana guru sebagai aktornya. Jika harus menjadi komedian, maka jadilah komedian, Pembelajaran mengharuskan guru menyanyi, mendongeng bahkan menari sekalipun, maka itu yang sebaiknya dilakukan demi untuk menjaga antusiasme siswa.
4) Guru harus memiliki rasa humor yang tinggi untuk tetap tertawa sambil belajar. Karena selera humor anak berbeda dengan orang dewasa, maka pastikan humor anda sesuai dengan selera anak. „Kesalahan‟ yang diperbuat siswa ketika belajar bahasa Inggris, bisa „diperbaiki‟ tanpa menyakiti si anak, dengan penuh candaan namun tidak menjadikannya bahan tertawaan.
5) Anak memiliki sejumlah besar rasa penasaran. Pastikan guru mengeksplorasi rasa itu sejauh mungkin agar perhatian anak tetap terfokus pada kegiatan pembelajaran. Rasa penasaran terkait erat dengan antusiasme siswa. Semakin ia penasaran dengan apa saja yang mungkin ia dapati di pembelajaran, semakin hal tersebut menunjukkan antusiasmenya terhadap pembelajaran. Jangan lewatkan rasa penasaran yang sebenarnya ada si setiap anak, dengan menyajikan aktivitas yang monoton di setiap pembelajaran.

3. Input Sensor
Anak harus terstimulasi seluruh inderanya. Aktivitas guru harus melibatkan organ visual dan auditori anak, dengan porsi yang cukup. Caranya:
1) Berikan aktivitas fisik yang cukup dalam pembelajaran. Misal dengan aktivitas bermain peran (role play). Bermain peran untuk anak seusia SD tidak harus yang kompleks dan berdurasi lama. Percakapan sederhana untuk mengkontekstualisasikan kapan ekspresi-ekspresi tertentu digunakan, untuk apa fungsinya, bagaimana mengucapkannya, itu bisa dibelajarkan dengan role play. Aktivitas fisik bisa pula dieksplorasi dengan cara siswa diminta ke depan, memperagakan atau menunjuk kosa kata yang kita ajarkan. Atau aktivitas-aktivitas lain sejenis.
2) Aktivitas praktis yang lain harus sejalan dengan tujuan membantu anak menginternalisasi bahasa. Aktivitas berkelompok misalnya merupakan cara yang baik agar anak belajar kata dan struktur kata dan mempraktikan bahasa yang bermakna. Bahasa tidak akan lengkap dipelajari jika tidak diajarkan dengan konteks penggunaannya. Menggunakan bahasa membutuhkan partner sebagai pendengar. Aktivitas kelompok bisa diaplikasikan untuk membuat anak saling mengeksplorasi penggunaan bahasa yang mereka ketahui.
3) Alat sensor membantu anak menginternalisasi konsep-konsep. Misalnya: mencium harum bunga, menyentuh tumbuhan dan buah-buahan, merasai makanan, melihat video, gambar, mendengarkan tape recorder, musik—semuanya adalah elemen penting untuk pembelajaran bahasa bagi anak. Penting untuk diingat, bahasa verbal guru juga penting, karena anak akan
tertarik juga pada mimik muka, gesture (gerak tubuh), serta sentuhan guru. Oleh karenanya, dalam pembelajaran, usahakan semua alat sensor ini dieksplorasi penggunaannya oleh guru melalui konteks-konteks pembelajaran yang menarik. Aktivitas penyampaian bahan ajar harus mengoptimalkan sebanyak mungkin input sensor siswa bekerja.

4. Faktor Afektif
Mitos yang sangat umum bahwa anak-anak relatif tidak terpengaruhi oleh rintangan-rintangan yang biasanya menghambat orang dewasa untuk belajar. Tidak selalu begitu! Anak-anak cenderung inovatif dalam produk bahasa, tapi tetap saja menghadapi banyak rintangan. Mereka sangat sensitif terutama kepada teman sebayanya: apa yang orang lain pikirkan tentang saya. Apa yang dipikirkan orang lain saat saya berbicara bahasa Inggris? Ketakutan jika ditertawakan atau diolok-olok saat salah mengucapkan satu kosakata misalnya, bisa mencegah mereka dari berlatih pronunciation. Seharusnya siswa SD yang belajar bahasa Inggris dihindarkan dari ketakutan semacam ini. Dalam beberapa hal anak cenderung lebih rentan dari orang dewasa. Ego mereka masih sedang terbentuk sehingga nuansa komunikasi yang tidak jelas bisa diinterpretasikan secara negatif. Guru harus menolong mereka untuk mengatasi rintangan tersebut yang sangat potensial akan menghambat mereka.

1) Bantu siswa anda untuk dengan ringan tertawa jika mereka membuat kesalahan. Jangan pojokkan mereka dengan kesalahan yang sebenar-benarnya—seperti diungkap di atas—bukan kesalahan.
2) Guru harus sabar dan supportif untuk membangun kepercayaan diri anak, tapi harus tegas dalam hal harapan-harapan terhadap siswa. Meski dalam satu dua hal guru menunjukkan kelembutan sikap dalam rangka menumbuhkan
semangat siswa untuk belajar, namun tak lantas kesalahan siswa tak dikoreksi karena takut menyakiti hati, Tetap saja, upaya perbaikan harus menjadi targetan guru di setiap pembelajaran apapun kondisinya.
3) Rangsang partisipasi secara oral sebanyak mungkin terutama untuk siswa yang pendiam, agar mereka berkesempatan untuk mencoba sesuatu yang menarik. Eksplorasi antusiasme mereka dengan sebaik-baiknya. Desain bentuk pembelajaran yang membuat mereka banyak berlatih, terutama berlatih mengucapkan kosakata baru atau ekspresi-ekspresi sederhana dalam Bahasa Inggris. Pada saat mereka berpartisipasi secara oral, utamakan kesenangan mereka dalam hal mencoba hal-hal baru tersebut, luaskan toleransi dari guru jika mereka salah mengucapkan, karena memang sistem bunyi nyang sangat berbeda antara bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.

5. Bahasa yang Otentik dan Bermakna

Anak-anak terfokus kepada apa yang bisa dilakukan bahasa baru ini, disini dan saat ini. Mereka tidak tertarik untuk berurusan dengan bahasa yang tidak berguna bagi mereka saat itu. Bahasa-bahasa yang menurut mereka tidak akan mereka gunakan saat itu, tak begitu menarik minat mereka. Guru harus bekerja keras untuk memberikan pembelajaran bahasa yang bermakna bagi anak.
1) Anak memiliki sensitivitas tinggi terhadap bahasa yang tidak otentik, sehingga beberapa kosakata yang resmi atau kaku di dunia mereka, akan tertolak.
2) Bahasa harus benar-benar diberikan dengan konteksnya. Cerita, situasi dan karakter yang biasa dikenal anak, percakapan sehari-hari, tujuan-tujuan bermakna dalam penggunaan bahasa—semua ini akan memberikan konteks dimana bahasa bisa diterima dan dipahami sehingga hal ini
bisa meningkatkan perhatian dan daya ingat. Oleh karenanya, sangat dianjurkan guru bahasa Inggris di SD untuk memberikan bantuan konteks terhadap apapun yang diajarkan melalui dukungan media; gambar, permainan, nyanyian dan bentuk-bentuk lain yang sekiranya menarik minat anak.
3) Pendekatan bahasa secara keseluruhan sangat penting. Jika bahasa dipecah-pecah menjadi potongan-potongan kecil maka siswa tidak akan melihat kaitannya terhadap keseluruhan. Contoh seperti chunk words yang dicontohkan di atas. Jangan pernah berpikir bahwa dalam konteks percakapan sederhana, mengenalkan kata demi kata lebih baik dibanding mengenalkan ekspresi-ekspresinya secara keseluruhan. Juga tekankan aktivitas yang berhubungan antar keempat skill (membaca, mendengar, menulis dan berbicara) agar anak melihat dengan jelas korelasinya satu sama lain.

6. Bakat

Beberapa siswa bisa belajar bahasa lebih baik dibanding yang lain. Pada tahun 1950-1960an, pandangan bahwa anak memiliki bakat linguistik menjadi semakin terkristal dan semakin banyak diyakini. Konsekuensi dari pandangan ini, maka kemampuan dan kemajuan berbahasa siswa di masa depan bisa diprediksi dengan apa yang disebut tes bakat. Namun tes bakat dalam linguistik nampaknya tidak mampu mengukur banyak hal selain kemampuan intelektual umum meskipun memang tes ini dimaksudkan untuk mencari bakat-bakat linguistik. Tes ini hanya tepat bila dihadapkan kepada mereka yang memiliki kemampuan grammar.

7. Sifat Pemelajar

Beberapa siswa usia sekolah dasar, beberapa ahli mencirikan kategori tipe pemelajar yang baik sbb:

1. Memiliki toleransi terhadap ambiguitas. Artinya, jika ada sesuatu yang tidak bisa langsung dia akomodasi (tidak sesuai dengan yang pernah ia terima sebelumnya) maka ia tidak lantas menolaknya, tetapi mencari cara untuk menemukan alasan ambiguitas tersebut dan baru menerima atau menolaknya.
2. Siap untuk menghadapi tugas-tugas dengan cara yang positif. Tidak takut atau gelisah menghadapi tugas-tugas, Tidak mengandalkan orang lain kecuali jika benar-benar membutuhkan. Tidak terpikir untuk mengerjakan tugas pembelajaran dengan cara yang negatif, misal mencontek dari teman.
3. Memiliki ego untuk sukses. Tidak puas dengan pencapaian yang minimal. Ingin senantiasa meningkatkan diri dan prestasi.
4. Memiliki aspirasi tinggi. Selalu ingin bertanya, menjawab, mengajukan pendapat, membantu, menginisisasi, mendorong, dan berkontribusi secara positif pada pembelajaran.
5. Berorientasi kepada tujuan.Tahu mengapa ia harus belajar sesuatu yang baru setiap waktu, dan bagaimana dampak hal yang dipelajarinya itu di kehidupannya yang akan datang.
6. Sabar menghadapi tantangan. Tidak lekas mengeluh, menyerah, bahkan berputus asa. Hal-hal sulit dianggapnya menjadi tantangan.

Ada pula yang menambahkan karakteristik pemelajar yang baik yaitu mereka yang:
1. Mampu mencari cara sendiri tanpa selalu dibimbing oleh guru saat mengerjakan tugas-tugas.
2. Kreatif.
3. Membuat tebakan-tebakan yang cerdik. Sebelum guru menyampaikan jawaban terhadap permasalahan apapaun, ia berusaha menebaknya.
4. Menciptakan kesempatan sendiri untuk berlatih. Tidak selalu harus disuruh oleh guru saat harus melatih kemampuan diri seperti mengerjakan tugas dan lain-lain.
5. Memanfaatkan kesalahan untuk memperbaiki diri. Tidak meratapi kesalahan secara berlebihan, melainkan menjadikannya titik awal (starting point) untuk berubah menjadi jauh lebih baik.
6. Menggunakan petunjuk-petunjuk kontekstual. Apapun yang ada di sekelilingnya (gambar, tulisan, poster, dll) bisa membantunya belajar sesuatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s