Perilaku Sosial

Perilaku Sosial

Macam-macam perilaku sosial dibagi menjadi tiga yaitu:
Perilaku sosial (social behavior).
Yang dimaksud perilaku sosial adalah perilaku ini tumbuh dari orang orang yang ada pada masa kecilnya mendapatkan cukup kepuasan akan kebutuhan inklusinya. Ia tidak mempunyai masalah dalam hubungan antar pribadi mereka bersama orang lain pada situasi dan kondisinya. Ia bisa sangat berpartisipasi, tetapi bisa juga tidak ikutikutan,
ia bisa melibatkan diri pada orang lain, bisa juga tidak, secara tidak disadari ia merasa dirinya berharga dan bahwa orang lain pun mengerti akan hal itu tanpa ia menonjolkan-nonjolkan diri. Dengan sendirinya orang lain akan melibatkan dia dalam aktifitas-aktifitas mereka.

Yang dimaksud perilaku yang kurang sosial (under social behavior).
Timbul jika kebutuhan akan inklusi kurang terpenuhi, misalnya: sering tidak diacuhkan oleh keluarga semasa kecilnya. Kecenderungannya orang ini akan menghindari hubungan orang lain, tidak mau ikut dalam kelompok-kelompok, menjaga jarak antara dirinya dengan
orang lain, tidak mau tahu, acuh tak acuh. Pendek kata, ada
kecenderungan introvert dan menarik diri. Bentuk tingkah laku yang
lebih ringan adalah: terlambat dalam pertemuan atau tidak datang
sama sekali, atau tertidur di ruang diskusi dan sebagainya. Kecemasan
yang ada dalam ketidak sadarannya adalah bahwa ia seorang yang
tidak berharga dan tidak ada orang lain yang mau menghargainya.

Yang dimaksud perilaku terlalu sosial (over social behavior).
Psikodinamikanya sama dengan perilaku kurang sosial, yaitu
disebabkan kurang inklusi. Tetapi pernyataan perilakunya sangat
berlawanan. Orang yang terlalu sosial cenderung memamerkan diri
berlebih-lebihan (exhibitonistik). Bicaranya keras, selalu menarik
perhatian orang, memaksakan dirinya untuk diterima dalam kelompok,
sering menyebutkan namanya sendiri, suka mengajukan pertanyaanpertanyaan
yang mengagetkan.

Orang Yang Sosial dan Yang Non Sosial

Orang yang sosial adalah mereka yang perilakunya mencerminkan
keberhasilan di dalam proses sosialaisasi, sehingga mereka cocok
dengan kelompok tempat mereka menggabungkan diri dan diterima
sebagai anggota kelompok.
Orang yang non sosial adalah orang yang perilakunya tidak
mencerminkan keberhasilan dalam proses sosialisasi yang menjadi ciri
khas seorang yang mempunyai sifat sosial.

Perilaku Sosial
Perilaku sosial adalah aktifitas fisik dan psikis seseorang terhadap
orang lain atau sebaliknya dalam rangka memenuhi diri atau orang lain
yang sesuai dengan tuntutan sosial.
Seseorang agar bisa memenuhi tuntutan sosial maka perlu adanya
pengalaman sosial yang menjadi dasar pergaulan.

a. Pentingnya pengalaman sosial
Banyak peristiwa atau pengalaman sosial yang dialami pada masa
anak-anak. Beberapa pandangan pengalaman

1). Pengalaman yang menyenangkan
Pengalaman yang menyenangkan mendorong anak untuk mencari
pengalaman semacam itu lagi.

2). Pengalaman yang tidak menyenangkan
Pengalaman yang tidak menyenangkan dapat menimbulkan sikap
yang tidak sehat terhadap pengalaman sosial dan terhadap orang
lain. Pengalaman yang tidak menyenangkan mendorong anak
menjadi tidak sosial atau anti sosial.

3). Pengalaman dari dalam rumah (keluarga)
Jika lingkungan rumah secara keseluruhan memupuk
perkembangan sikap sosial yang baik, kemungkinan besar anak
akan menjadi pribadi yang sosial atau sebaliknya.

4). Pengalaman dari luar rumah
Pengalaman sosial awal anak di luar rumah melengkapi
pengalaman di dalam rumah dan merupakan penentu penting bagi
sikap sosial dan pola perilaku anak.
Berdasarkan pemahaman diatas, pengalaman sosial pada masa
anak-anak baik itu yang menyenangkan, tidak menyenangkan,
diperoleh dari dalam rumah atau dari luar rumah adalah sangat
penting.

b. Mulainya perilaku sosial
Perilaku sosial dimulai pada masa bayi bulan ketiga. Karena pada waktu lahir, bayi tidak suka bergaul dengan orang lain. Selama kebutuhan fisik mereka terpenuhi, maka mereka
tidak mempunyai minat terhadap orang lain. Sedangkan pada masa usia bulan ketiga bayi sudah dapat membedakan antara manusia dan
benda di lingkungannya dan mereka akan bereaksi secara berbeda
terhadap keduanya. Penglihatan dan pendengaran cukup berkembang
sehingga memungkinkan mereka untuk menatap orang atau benda
juga dapat mengenal suara. Perilaku sosial pada masa bayi merupakan
dasar bagi perkembangan perilaku sosial selanjutnya.

Pola Perilaku Sosial
Bentuk-bentuk perilaku soaial anak menurut Hurlock (1991: 263)
yaitu:

a. Kerjasama. Sejumlah kecil anak belajar bermaian atau bekerja secara
bersama dengan anak lain sampai mereka berumur 4 tahun. Semakin
banyak kesempatan yang mereka miliki untuk melakukan sesuatu
bersama-sama, semakin cepat mereka belajar melakukannya dengan
cara bekerja sama.

b. Persaingan. Jika persaingan merupakan dorongan bagi anak-anak
untuk berusaha sebaik-baiknya, hal ini akan menambah sosialisasi
mereka. Jika hal itu diekspresikan dalam pertengkaran dan
kesombongan, akan mengakibatkan timbulnya sosialisasi yang buruk.

c. Kemurahan hati. Kemurahan hati, sebagaimana terlihat pada
kesedihan untuk berbagi sesuatu dengan anak lain, meningkatkan dan
sikap mementingkan diri sendiri semakin berkurang setelah anak
belajar bahwa kemurahan hati menghasilkan penerimaan sosial.

d. Hasrat akan peneriamaan sosial. Jika hasrat untuk diterima kuat, hal
ini mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial.
Hasrat untuk diterima oleh orang dewasa biasanya timbul lebih awal
dibandingakan dengan hasrat untuk diterima oleh teman sebaya .

e. Simpati. Anak kecil tidak mampu berperilaku simpati sampai mereka
pernah mengalami situasi yang mirip dengan duka cita. Mereka
mengekspresikan simpati dengan berusaha dengan menolong atau
menghibur seseorang yang sedang sedih.

f. Empati.

Empati kemampuan meletakkan diri sendiri dalam posisi
orang lain dan menghayati pengalaman orang tersebut. Hal ini hanya
berkembang jika anak dapat memahami ekspresi wajah atau maksud
pembicaraan orang lain.

g. Ketergantungan.
Ketergantungan terhadap orang lain dalam hal
bantuan, perhatian dan kasih sayang mendorong anak untuk
berperilaku dengan cara yang diterima secara sosial. Anak yang
berjiwa bebas kekurangan motivasi ini.

h. Sikap ramah.
Anak kecil memperlihatkan sikap ramah melalui
kesediaan melakukan sesuatu untuk bersama anak atau orang lain dan
dengan mengekspresikan kasih sayang kepada mereka.

i. Sikap tidak mementingkan diri sendiri. Anak yang mempunyai
kesempatan dan mendapat dorongan untuk membagi apa yang mereka
miliki dan yang tidak terus menerus menjadi pusat perhatian keluarga,
belajar memikirkan orang lain dan berbuat untuk orang lain dan
berbuat untuk orang lain dan bukannya hanya memusatkan perhatian
pada kepentingan dan milik mereka sendiri.

j. Meniru. Dengan meniru seseorang yang diterima baik oleh kelompok
sosial, anak-anak mengembangkan sifat yang menambah penerimaan
kelompok terhadap diri mereka.

Pola perilaku yang tidak sesuai:

a. Negativisme. Negativisme adalah berlawanan terhadap tekanan dari
pihak lain untuk berperilaku tertentu. Biasanya hal ini dimulai pada
usia dua tahun dan mencapai puncaknya antara 3 dan 6 tahun.
Ekspresi fisiknya mirip dengan ledakan kemarahan, tetapi secara
bertahap demi setahap diganti dengan penolakan lisan untuk menurut
perintah.

b. Agresi. Agresi adalah tindakan permusuhan yang nyata atau ancaman
permusuhan, biasanya tidak ditimbulkan oleh orang lain. Anak-anak
mungkin mengekspresikan sikap agresif mereka berupa penyerangan
secara fisik atau lisan terhadap pihak lain, biasanya terhadap anak
yang lebih kecil.

c. Pertengkaran . Pertengkaran merupakan perselisihan pendapat yang
mengandung kemarahan yang umumnya dimulai apabila seseorang
melakukan penyerangan yang tidak beralasan. Pertengkaran berbeda
dari agresi, pertama karena pertengkaran melibatkan dua orang atau
lebih sedangkan agresi merupakan tindakan individu, dan kedua
karena merupakan salah seorang yang terlibat di dalam pertengkaran
memainkan peran bertahan sedangkan dalam agresi peran selalu
agresif.

d. Mengejek dan menggertak. Mengejek merupakan serangan secara
lisan terhadap orang lain, tetapi menggertak merupakan serangan yang
berupa fisik. Dalam kedua hal tersebut si penyerang memperoleh
keputusan dengan menyaksikan ketidak enakkan korban dan usahanya
untuk membalas dendam.

e. Perilaku yang sok kuasa Perilaku sok kuasa adalah kecenderungan
untuk mendominasi orang lain menjadi majikan. Jika diarahkan secara
tepat hal ini dapat menjadikan sifat kepemimpinan, tetapi umumnya
tidak demikian, dan biasanya hal ini mengakibatkan timbulnya
penolakan dari kelompok sosial.

f. Egosentrisme. Hampir semua anak kecil bersifat egosentrik dalam arti
bahwa mereka cenderung berfikir dan berbicara tentang diri mereka
sendiri. Kecenderungan ini akan hilang, menetap atau berkembang
semakin kuat, sebagian tergantung pada kesadaran anak bahwa hal itu
membuat mereka tidak popular dan sebagian lagi tergantung pada kuat
lemahnya keinginan mereka untuk menjadi popular.

g. Prasangka. Landasan prasangka terbentuk pada masa kanak-kanak
awal yaitu pada waktu anak menyadari bahwa sebagian orang berbeda
dari mereka dalam hal penampilan dan perilaku, bahwa perbedaan ini
oleh kelompok sosial diangap sebagai tanda kerendahan. Bagi anak
kecil tidaklah umum mengekspresikan prasangka dengan bersikap
membedakan orang-orang yang mereka kenal.

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Contoh Perjanjian Pinjam Meminjam Rumah ;>>>> Baca

Bab 2 Kesalahan Ejaan pada Krangan SiswaKelas IX ;>>>> Baca

Metode ceramah dalam pembelajaran ;>>>> Baca

Pendekatan Konsep dalam pembelajaran Bahasa ;>>>>>>>>> Baca

Download Contoh soal dan Pembahhasan Sistem Akuntansi ;>>>>>>>>> Baca

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s