Tentang Variabel dan Hipotesis

Tentang Variabel dan Hipotesis

1. Apakah variabel itu?

 Variabel adalah peubah, yaitu konsep yang dapat berubah atau diubah; kata yang menjelaskan tentang variasi dalam suatu kelompok atau objek, misalnya; kursi, gender, warna mata, hasil belajar, motivasi, kecepatan. Kadang-kadang juga menjelaskan tentang sekelompok orang yang menjadi objek, gaya belajar, harapan hidup
 Ada pula ciri yang bersifat konstanta yang tidak dapat berubah, misalnya bila kita melakukan penelitian di kelas tertentu. Individu dalam kelas ini tidak boleh diubah variasinya  sehingga merupakan sesuatu yang konstan, bukan variabel.
Contoh:
– Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh „reinforcement‟ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.

Peneliti tersebut kemudian membagi secara sistematis kelompok besar kelas 9 menjadi 3 subkelompok (kelas kecil). Kemudian ia melatih 3 orang guru untuk memberikan „reinforcement‟ dengan 3 cara yang berbeda:
(1) dengan pujian verbal
(2) dengan hadiah imbalan uang
(3) dengan nilai ekstra untuk setiap tugas yang berhasil dilakukan siswa.  Maka: „reinforcement‟ merupakan suatu variabel ( yang mengandung tiga variasi perlakuan); sedangkan kelas 9 merupakan sesuatu yang konstan. Kadang-kadang ada konsep yang memerlukan penjelasan, misalnya konsep kursi, sebab ada berbagai jenis kursi yang disesuaikan dengan fungsinya: kursi makan, kursi tamu, kursi malas dsb. Penjelasan untuk „kursi‟ tampaknya mudah. Ada pula konsep yang tidak mudah untuk dijelaskan, misalnya „motivasi‟ yang perlu disepakati artinya. Maka peneliti harus menjelaskan dengan baik agar variabel „motivasi‟ ini dapat diukur. Ada berbagai jenis variabel yang dapat diselidiki; peneliti harus memilih, karena tidak mungkin ia meneliti semua jenis variabel. Variabel diharapkan memiliki hubungan dan jika hubungan ini dapat diungkap, maka pemahaman kita tentang fenomena yang diteliti akan akan lebih jelas dan bermakna.

2. Variabel kuantitatif vs kategorial

a. variabel kuantitatif: tinggi badan (pendek sampai tinggi), kecerdasan (rendah ke tinggi), motivasi belajar (rendah ke tinggi)
b. variabel kategori : gender (laki-laki, prempuan), agama (Islam, kristen, protestan, budha, hindu dsb), bahasa yg digunakan di sekolah (Indonsia, english, Arab, Jerman dsb)

Variabel kuantitatif kadang-kadang menggambarkan variasi derajat atau tingkatan sebagai suatu kontinuum dari yang rendah sampai tinggi misalnya tinggi badan, kecerdasan, motivasi. Melalui cara kuantitatif dapat diukur bahwa A lebih pendek dari B; Ali lebih cerdas daripada Didi; motivasi belajar di kelas A lebih tinggi daripada kelas B. Di samping itu, variabel kuantitatif dapat pula dijelaskan melalui angka, dari 5 – 0, misalnya

o 5(amat sangat berminat),
o 4(sangat berminat),
o 3(berminat),
o 2(cukup berminat),
o 1(kurang berminat),
o 0(tidak berminat)

Variabel kuantitatif dapat dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil yang lazim digunakan untuk mengukur. Untuk ukuran panjang misalnya dapat dibagi menjadi km, meter, sentimeter, milimeter dll. Atau untuk bobot dibagi menjadi ton, kuintal, kg, gram, milligram dll. Variabel kategorial tidak menggambarkan variasi derajat atau jumlah, tetapi menekankan pada perbedaan kualitatif seperti warna mata, gender, agama, pekerjaan atau pada penelitian pendidikan sering kali menentukan “perlakuan” atau “metode”. Jika seorang peneliti hendak membandingkan dua kelas yang dikenai perlakuan berbeda misalnya berbantuan komputer dan tanpa komputer, maka kedua kelas ini harus memiliki kemampuan yang sama. Berikut ini disajikan sejumlah variabel. Manakah yang termasuk variabel kuantitatif dan variabel kategorial?

1) Merek mobil yang dimiliki
2) Kemampuan belajar
3) Etnis
4) Keterpaduan
5) Denyut jantung
6) Gender

Banyak peneliti pendidikan yang mengkaji hubungan antara
1) Dua atau lebih variabel kuantitatif misalnya,
o Usia sekolah dan minat belajar
o Kemampuan membaca dan kemampuan matematika
o Lamanya waktu menonton tv dengan tingkah laku agresif pada anak

2) Satu variabel kategorial dan satu variabel kuantitatif
o Metode mengajar yang digunakan dan hasil belajar yang dicapai
o Pendekatan konseling dan tingkat kecemasan
o Gender siswa dan pujian yang diberikan oleh guru

3) Dua variabel kategorial
o Etnis dan pekerjaan ayah
o Gender guru dan subjek yang diajarkan
o Agama dan keanggotaan partai politik

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti
1) Secara konseptual: variabel „kecemasan‟ menunjukkan derajat kecemasan (tinggi, sedang, rendah) bukan suatu dikotomi „ada‟ atau „tidak ada‟ kecemasan.
2) Membagi variabel menjadi dua atau beberapa kategori akan menghilangkan informasi rinci tentang variabel bila perbedaan individu berdasarkan kategori diabaikan
3) Garis perbedaan pada kelompok misalnya tingkat kecemasan yang dibagi menjadi „tinggi‟, „sedang‟, „rendah‟ dapat diubah sewaktu-waktu (tidak mutlak).

3. Variabel yang dimanipulasi vs variabel hasil

Dalam penelitian eksperimen, peneliti biasanya memberikan dua atau lebih perlakuan yang berbeda, sesuai dengan kondisi eksperimennya. Berarti ia menciptakan variabel Misalnya:
– Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ‘reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.

Untuk itu ia membagi kelas menjadi 3 kelompok dengan perlakuan reinforcement yang berbeda. Peneliti menentukan 3 macam reinforcement yang harus diberikan oleh guru kepada siswa bila siswa menjawab benar. Variabel perlakuan yang „diciptakan‟ oleh peneliti ini disebut variabel eksperimental atau variabel yang dimanipulasi atau variabel perlakuan.

Secara umum:
1 variabel kuantitatif
1 variabel kategorial

Keduanya :
Membandingkan perlakuan atau metode yang berbeda,
Variabel kategorial merupakan „variabel yang dimanipulasi”
Variabel kuantitatif merupakan “variabel hasil”

Variabel hasil merupakan variabel yang dapat diukur sebagai akibat dari adanya perlakuan; misalnya hasil belajar siswa, motivasi, dan minat. Variabel hasil sangat bervariasi, tergantung pada individu atau kelompok yang dikenai perlakuan pada situasi dan kondisi yang berbeda Contoh variabel hasil:
o Rasa tidak nyaman yang dialami pelamar pekerjaan yang tercermin pada saat wawancara
o Kecemasan siswa sebelum ujian berlangsung
o Keterbukaan kelas
o Kemampuan mengungkapkan diri melalui tulisan
o Kelancaran berbahasa asing

4. Variabel bebas (independent) vs variabel tak bebas (dependent)

Hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebas dapat dijelaskan sebagai berikut:
“Variabel bebas (Dugaan penyebab) mempengaruhi Variabel terikat / tak bebas (Dugaan hasil)”
Variabel bebas diasumsikan sebagai dugaan „penyebab‟ sedangkan variabel bebas sebagai dugaan hasil. Tidak semua variabel bebas merupakan variabel yang dimanipulasi. Perhatikan judul berikut: “Hubungan antara keberhasilan siswa dalam matematika dengan pilihan karirnya di masa dewasa”

5. Variabel extraneous (variabel ekstra)

Masalah mendasar dalam penelitian adalah terkadang ada beberapa variabel bebas yang dapat berpengaruh terhadap variabel tak-bebas. Tetapi bila peneliti sudah memutuskan variabel-variabel yang akan diteliti, maka ia juga harus memperhitungkan adanya variabel lain. Variabel ini disebut variabel ekstra. Peneliti perlu mengendalikan variabel ekstra ini, meniadakan atau meminimalkan pengaruhnya. Variabel ekstra adalah variabel bebas yang belum dikendalikan. Misalnya: Variabel apakah yang dapat mempengaruhi pembelajaran sisiwa di kelas? Ada banyak variabel yang berpengaruh dalam pembelajaran, seperti:
 kepribadian guru,
 tingkat kecerdasan siswa,
 posisi jam mengajar,
 buku ajar yang digunakan,
 bentuk kegiatan pembelajaran,
 metode mengajar

Salah satu cara mengendalikan variabel ekstra adalah menjaga agar tetap konstan. Misalnya bila peneliti hanya meneliti anak laki-laki, maka ia harus mengendalikan variabel gender: gender dari subjek penelitian ini tidak bervariasi

Tentang Hipotesis

1. Apakah hipotesis itu?

Hipotesis, secara sederhana merupakan dugaan sementara yang diharapkan terjadi dalam penelitian. Kadang-kadang pertanyaan penelitian dinyatakan sebagai hipotesis, apa bedanya?

Pertanyaan penelitian: “Bagaimanakah perbedaan minat siswa terhadap pelajaran IPA antara siswa yang diajar oleh guru yang sama gendernya dan guru yang berbeda gendernya?” Hipotesis : Siswa yang belajar IPA dari guru yang sama gendernya akan lebih tinggi minatnya dibandingkan dengan siswa yang belajar IPA dari guru yang berbeda gendernya. Pertanyaan penelitian: “Bagaimanakah perbedaan hasil belajar siswa antara kelas dengan model pembelajaran inkuairi dan model pembelajaran tradisional?” Hipotesis: Hasil belajar siswa pada kelas dengan model pembelajaran inkuairi lebih tinggi daripada kelas dengan model pembelajaran tradisional. Atau: Ada perbedaan hasil belajar antara siswa pada kelas yang dikenai model pembelajaran inkuairi dengan siswa yang dikenai model pembelajaran tradisional.

2.Keuntungan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis

a. Hipotesis memfokuskan kita untuk berpikir lebih dalam tentang kemungkinan hasil penelitian. Merumuskan pertanyaan penelitian sebagai pengganti hipotesis membimbing peneliti ke arah pemahaman yang lebih luas tentang implikasi pertanyaan dan variabel yang terlibat. Dengan menentukan hipotesis, peneliti harus berpikir lebih hati-hati.
b. Menentukan pertanyaan penelitian sebagai pengganti hipotesis berkaitan dengan filsafat sains. Rasional yang mendasari filsafat sains: Jika ingin membangun suatu pengetahuan, selain menjawab pertanyaan penelitian maka perumusan hipotesis merupakan strategi yang baik yang memungkinkan seseorang dapat melakukan prediksi spesifik berdasarkan bukti sebelumnya atau argument teoretis Contoh: Berdasarkan teori relativitas Einstein, banyak hipotesis yang dirumuskan sebagai hasil teori Einstein, yang kemudian diverifikasi melalui penelitian. Semakin banyak prediksi yang menjadi kenyataan, berarti semakin memperkuat gagasan awal teori relativitas Einstein.

3.Kelemahan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis

a. Disadari atau tidak, merumuskan hipotesis dapat bersifat bias. Sebab sekali seorang peneliti merumuskan hipotesis, maka ia cenderung untuk menyusun prosedur atau memanipulasi data untuk memperoleh hasil yang diharapkannya. Peneliti diharapkan jujur secara intelektual- meskipun ada kekecualian. Tetapi komitmen terhadap hipotesis dapat menimbulkan distorsi secara tak disadari.

b. Kelemahan kedua, perhatian yang terfokus pada hipotesis, dapat menghalangi peneliti untuk memperhatikan fenomena yang penting dalam penelitiannya. Misalnya: seorang peneliti mengkaji “efek kelas yang humanistic terhadap motivasi siswa” dapat mengarahkan peneliti untuk lebih menggali karakteristik lain seperti jenis kelamin atau cara pengambilan keputusan yang lebih mudah terlihat dan malah tidak terfokus pada motivasi siswa.

4. Hipotesis yang signifikan

Signifikan artinya “bermakna”. Untuk menilai signifikansi suatu hipotesis mari perhatikan contoh berikut:

Hipotesis 1
a. Siswa kelas dua lebih senang menonton tv daripada sekolah
b. Kesenangan Siswa kelas dua terhadap sekolah lebih rendah daripada siswa kelas satu, tetapi lebih tinggi daripada siswa kelas tiga

Hipotesis 2
a. Banyak siswa dengan kemampuan akademik rendah lebih menyukai kelas reguler daripada kelas khusus.
b. Siswa dengan kemampuan akademik rendah akan lebih bersikap negatif tentang dirinya bila ditempatkan di kelas khusus daripada di kelas reguler.

Hipotesis3
a. Guru yang menggunakan model pembelajaran kooperatif akan menghadapi reaksi siswa yang berbeda dibandingkan dengan guru yang menggunakan model pembelajaran tradisional.
b. Siswa yang mengalami pembelajaran kooperatif akan lebih senang belajar dibandingkan dengan siswa yang mengalami model pembelajaran tradisional.

Dari ketiga hipotesis di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis (b) lebih bermakna, karena hubungan yang akan dikaji jelas dan spesifik, mengarahkan peneliti untuk menggali informasi yang bermanfaat bagi peneliti lain yang berminat untuk meneliti lebih lanjut.
5. Hipotesis terarah vs hipotesis tak terarah

Hipotesis terarah adalah hipotesis yang memiliki arah spesifik (lebih tinggi, lebih rendah, tinggi, kurang dsb) yang diharapkan muncul dalam penelitian. Arah khusus yang diharapkan ini akan menjadi dasar bagi landasan teori yang perlu dikaji, hasil penelitian serupa yang pernah dilakukan, dan pengalaman sebelumnya. Bagian (b) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis terarah Kadang-kadang sulit bagi peneliti untuk menentukan hipotesis yang terarah. Jika peneliti menduga ada hubungan tetapi tidak memiliki dasar teori untuk memprediksi hubungan tersebut, maka ia tak dapat membuat hipotesis terarah. Bagian (a) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis tak terarah. Hipotesis (a) dapat diubah menjadi hipotesis terarah bila pernyataannya diubah menjadi:

1a. Siswa kelas 1, 2, dan 3 memiliki perasaan yang berbeda terhadap sekolah
2a. Ada perbedaan sikap pada siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah bila ditempatkan di kelas regular dan kelas khusus.
3a. Ada perbedaan kepuasan pada siswa yang mengalami pembelajaran kooperatif dan siswa yang mengalami pembelajaran tradisional

Tulisan yang Lain Silakan Klik

Pengantar Psikologi Politik;>>>> Baca

Video Tutorial Merakit Komputer;>>>> Baca

Video Mario Teguh ANAK MASA DEPAN KITA Mencuri;>>>> Baca

Video Perkalian Pecahan Campuran;>>>> Baca

Contoh Soal dan Pemecahan Jawababnya;>>>> Baca

Mana yang Harus Direnovasi dalam Reormasi Pendidikan;>>>>>>>>> Baca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s