Anak Jalanan Perempuan

Anak Jalanan Perempuan

Ada berbagai istilah yang digunakan untuk menyebut anak jalanan seperti Kere, gelandangan, anak mandiri, tekyan (setitik tur lumayan, Awalnnya istilah ini digunakan oleh para pencopet di kota besar dan kemudian berkembang sebagai istilah untuk menyebut anak jalanan.) tapi ada juga yang menyebut Anak 505 (Istilah ini sering digunakan oleh anak jalanan di Semarang. 505 diambil nomor pasal dalam KUHP mengenai pelanggaran terhadap ketertiban umum), sedangkan untuk anak jalanan perempuan dikenal istilah ciblek (cilik-cilik betah melek atau cilik-cilik iso digemblek dan rendan ( kere Dandan: Pada awalnya istilah ini sesungguhnya ditunjukkan kepada anak perempuan yang berada dalam prostitusi jalanan. Pada perkembangannya sering digunakan untuk menunjuk anak jalanan perempuan secara keseluruhan). Sejauh ini masih terlihat adanya perbedaan pemahaman atas istilah anak jalanan dikalangan pemerintah, organisasi non pemerintah (orpol), dan masyarakat umum. Perbedaan ini terutama menyangkut batasan umur, hubungan anak dengan keluarga dan kegiatan yang dilakukan. Dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada, yang dimaksud dengan anak jalanan adalah seseorang yang berumur dibawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian atau seluruh waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan guna mendapatkan uang atau guna mempertahankan hidupnya.

Jalanan yang dimaksudkan tidak menunjukkan pada “jalanan” tempat-tempat lain seperti pasar, pusat pertokoan, taman kota, alun-alun, terminal dan stasiun. Pada kasus yang dialami mengenai anak perempuan yang terkadang melakukan kegiatan di dalam mall dan diskotik, yang dikategorikan sebagai anak yang berbasis kelompoknya atau tempat tinggalnya di jalanan.
Arti anak jalanan disebut juga pekerja anak adalah seseorang yang menghabiskan waktu hidupnya di jalanan tetapi masih pulang kepada keluarga mereka. Anak jalanan adalah anak yang hidup di jalanan dan masih melangsungkan hubungan dengan keluarganya dan ditinggalkan ataupun yang lari dari keluarganya (Peran, 1999 November :7).

A. Profil Umum Anak Jalanan Perempuan

Jumlah anak jalanan di Kota Besar dari tahun ke tahun semakin meningkat. Terjadinya krisis ekonomi turut memberikan pengaruh bagi peningkatan jumlah anak jalanan yang sangat pesat. Contoh kasus kehidupan anak jalanan perempuan di Kota Semarang berdasarkan pemetaan kanwil Depsos Jawa Tengah (1999) mencatat sekitar 1500 anak jalanan. Sedangkan sumber lain memperkirakan 2.000 anak jalanan (Tabloid Manunggal, edisiV/ tahun XVII/ April-Mei 1998). Dibandingkan data sebelum krisis, dimana jumlah anak jalanan Semarang diperkirakan 700 anak, berarti ada peningkatan antara 300 %.
Peningkatan jumlah anak jalanan perempuan, dengan bersandarkan pada perkiraan Irwan dan Anwar (1999) bahwa 10% dari seluruh populasi anak jalanan adalah perempuan, maka jumlah anak jalanan di Semarang sekitar antara 150-200 anak. Dibeberapa lokai, keberadaan mereka terlihat menonjol terutama di kawasan Pasar Johar,simpang lima, Tugu Muda dan Manggala.
Tingginya angka putus sekolah yang dijumpai pada kelompok anak jalanan perempuan tidak jauh berbeda dengan kelompok anak jalanan secara umum atau anak-anak yang bekerja. Anak yang putus sekolah cenderung menghabiskan seluruh waktunya dijalanan. Sedangkan bagi anak yang masih bersekolah relatif terbatasi kegiatannya mesti pada perkembangannya dapat terpengaruh lingkungan pergaulan komunitas jalanan. Bila tidak diantisipasi, anak yang bersekolah dapat terdorong untuk keluar dari sekolah dan selanjutnya lebih banyak tinggal dijalanan.
Berdasarkan daerah asalnya, anak perempuan lebih banyak berasal dari kota Semarang sendiri, seperti kawasan Bandarharjo, Gunung Brintik, Tandang-Mrican dan Pandan sari. Keempat daerah ini dikenal pula sebagai basis tempat tinggal anak jalanan. Anak yang berasal dari luar kota sebagian besar berasal dari kota/ kabupaten sekitar Semarang, sedangkan anak yang berasal dari luar propinsi seperti Demak, Salatiga, Kendal yang masih terbatas pada wilayah di Pulau Jawa.
Anak yang berasal dari luar kota seluruhnya tinggal di jalanan. Sedangkan anak yang berasal dari Semarang diketahui hampir setengah dari mereka sudah tidak tinggal bersama keluarganya lagi. Mereka tinggal diberbagai tempat. Tempat-tempat yang diindentifikasikan pernah menjadi tempat tinggal anak jalanan yaitu gedung-gedung kosong yang sudah tidak dipakai atau hendak direnovasi ( Gedung Lawang sewu, Gris, Manggala), emperan toko (emperan plaza Simpang lima), los-los pasar (pasar Johar, Bulu
dan Karang Ayu), lapangan Simpang Lima, taman Tugu Muda dan gerbong-gerbong kereta api di stasiun, pos jaga, halte dan bus yang rusak (Shalahuddin, 2000 : 9 ). Sehubungan dengan perubahan situasi dimana mulai terjadi pengusaan wilayah, anak perempuan yang sebelumnya diketahui seringkali berpindah-pindah tempat, pada saat ini mulai menetap dikawasan tertentu berdasarkan komunitasnya. Anak perempuan berbaur bersama anak
atau komunitas jalanan laki-laki yang bisa menjadi pelindung atau justru menjadi pelaku yang akan mengeksploitasi mereka khususnya secara seksual.

B. Kehidupan Anak Jalanan Perempuan

Meningkatnya jumlah anak jalanan terutama yang berasal dari kota Kota Besar sendiri menyebabkan terjadinya perubahan yang besar dalam kehidupan anak jalanan, yaitu :
1. Lokasi anak jalanan yang semakin meluas.
2. Mulai Terjadinya Penguasaan wilayah.
3. Anak jalanan yang berasal dari luar kota semakin tersisih dan cenderung pindah ke kota lain.
4. Munculnya berbagai kegiatan baru untuk mendapatkan uang seperti lap mobil atau motor dan dominannya kegiatan mengemis.
5. Meningkatnya tindakan kriminal. (Oi Shalahudin; 2000: 14-15)

Kehidupan anak jalanan perempuan yang berasal dari kota Kota Besar (Odi Shalahudin; 2000: 20-22 adalah :

1. Seks bebas dari perilaku seksual usia dini Anak jalanan perempuan yang mulai seks bebas yaitu anak-anak jalanan dengan usia dibawah 14 tahun dan ada yang melakukan dengan saudaranya sendiri. Hal ini menyebabkan anak jalanan rentan terhadap
penyakit kelamin misalnya HIV atau AIDS.
2. Penggunaan Drugs
Anak jalanan perempuan rela melakukan hal apapun ( merampas, mencuri, membeli, hubungan seks) yang penting bisa mendapatkan uang untuk membeli minuman keras, pil dan zat aditif lainnya. Mereka menggunakan itu karena ingin menumbuhkan keberanian saat melakukan kegiatan di jalanan.
3. Tindak Kriminal
Kegiatan-kegiatan yang bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal yang diketahui pernah dilakukan anak jalanan perempuan yaitu memeras, mencuri, mencopet dan pengedaran pil. Tindak kriminal terhadap anak jalanan ini juga dilakukan oleh petugas keamanan seperti Polisi, Satpol PP, TNI, Kantor Informasi dan Komunikasi Pemerintah, DLLAJ. Bagian sosial Pemerintah pada saat melakukan operasi razia ketertiban terhadap anak jalanan, gelandangan, anak yang dilacurkan dan pekerja seks komersial dengan perlakuan tidak manusiawi dan sadis.
4. Eksploitasi Seksual
Keberadaan anak jalanan perempuan yang tinggal dijalanan sangat rentan terhadap eksploitasi khususnya eksploitasi seksual seperti pelecehan, penganiyaan secara seksual, pemerkosaan, penjerumusan anak dalam prostitusi dan adanya indikasi perdagangan anak keluar daerah khususnya Riau dan Batam.
5. Drop out dari sekolah
Anak-anak jalanan yang dulu pernah sekolah ini banyak mengalami kekerasan di sekolah seperti perlakuan salah baik yang dilakukan oleh teman maupun guru mereka.

C. Faktor- faktor Penyebab Anak Jalanan

Faktor- faktor penyebab terjadinya anak jalanan ini bisa digolongkan menjadi dua, yaitu :

1. Faktor Internal
a. Sifat malas dan tidak mau bekerja

b. Adanya cacat-cacat yang bersifat biologis- psikologis Cacat keturunan yang bersifat biologis yaitu kurang berfungsinya organ tubuh untuk memproduksi atau organ genital yang menimpa seseorang. Cacat psikologis adalah kurang berfungsinya mental dan tingkah laku seseorang untuk bersosialisasi di masyarakat.

c. Tidak ada kegemaran, tidak memiliki hobbi yang sehat
Seseorang anak yang tidak memiliki hobbi yang sehat atau kegemaran yang positif untuk mengisi waktu luangnya maka dengan mudah untuk melakukan tindakan negatif.

d. Ketidakmampuan penyesuaian diri terhadap perubahan lingkungan ang baik dan kreatif.
Ketidakmampuan penyesuaian diri atau adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang baik dan kreatif menimbulkan tindakan amoral atau tindakan yang mengarah pada perubahan yang negatif.

e. Impian Kebebasan
Berbagai masalah yang dihadapi anak didalam keluarga dapat menimbulkan pemberotakan didalam dirinya dan berusaha mencari jalan keluar. Seorang anak merasa bosan dan tersiksa dirumah karena setiap hari menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar dan tidak
memperhatikan mereka, pada akhirnya dia memilih kejalanan karena ia merasa memiliki kebebasan dan memiliki banyak kawan yang bisa menampung keluh kesahnya.

f. Ingin memiliki uang sendiri
Berbeda dengan faktor dorongan dari orang tua, uang yang didapatkan anak biasanya digunakan untuk keperluan sendiri. Meskipun anak memberikan sebagian uangnya kepada orang tua mereka, ini lebih bersifat suka rela dan tidak memiliki dampak buruk terhadap anak apabila tidak memberi sebagian uangnya ke orang tua atau keluarganya.

2. Faktor Eksternal

a. Dorongan Keluarga
Keluarga dalam hal ini biasanya adalah ibu atau kakak mereka, adalah pihak yang turut andil mendorong anak pergi kejalanan. Biasanya dorongan dari keluarga dengan cara mengajak anak pergi kejalanan untuk membantu pekerjaan orang tuanya ( biasanya membantu mengemis) dan menyuruh anak unutk melakukan kegiatan-kegiatan di jalanan yang menghasilkan uang.

b. Pengaruh Teman
Pengaruh teman menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anak pergi kejalanan. Pengaruh teman menunjukan dampak besar anak pergi kejalanan, terlebih bila dorongan pergi kejalanan mendapatkan dukungan dari orang tua atau keluarga. Kekerasan dalam keluarga

c. Kekerasan dalam keluarga banyak diungkapkan sebagai salah satu faktor yang mendorong anak lari dari rumah dan pergi kejalanan.
Tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap anak memang dapat terjadi diseluruh lapisan sosial masyarakat. Namun pada lapisan masyarakat bawah atau miskin, kemungkinan terjadi kekerasan akan lebih besar dan tipe kekerasan yang lebih beraneka ragam seperti kesulitan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s