Memahami Keluarbiasaan

Memahami Keluarbiasaan

Keluarbiasaan merupakan padan kata exceptional dari bahasa Inggris, dan keluarbiasaan tersebut secara harfiah berarti sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang luar biasa bisa berarti positif, bisa juga negatif. Anak luar biasa (ALB) adalah anak yang secara nyata berbeda keadaannya dari pada anak pada umumnya. Oleh karena itu yang dimaksud anak luar biasa meliputi baik anak yang memiliki kelebihan maupun kekurangan.

Di Indonesia belum ada kesepakatan tentang penggunaan istilah yang baku tentang istilah keluarbiasaan. Istilah anak penyandang cacat, anak berkelainan , anak luar biasa, masih sering dipakai secara bergantian. Namun jika dilihat dari penyelenggara pendidikan anak yang berkelainan, yang menggunakan kata luar biasa, maka istilah anak luar biasa sebenarnya telah dapat diterima oleh masyarakat.

Jenis-jenis Keluarbiasaan

Pengelompokan keluarbiasaan dapat didasarkan pada dua aspek, yaitu bidang yang mengalami penyimpangan dan arah penyimpangan. Bidang penyimpangan berkaitan dengan penyebab terjadinya penyimpangan, sedangkan arah penyimpangan untuk melihat apakah posisi keluarbiasaan itu di atas normal atau di bawah normal. Keluarbiasaan di atas normal merupakan kondisi seseorang yang melebihi batas normal dalam bidang kemampuan. Kelompok anak dengan kondisi demikian disebut anak berbakat atau gifted. Di Indonesia, anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata ini dikelompokkan pada pendidikan khusus yang sering disebut sekolah unggulan.

Jika keluarbiasaan di atas normal hanya dikenal dengan satu istilah, tidak demikian halnya dengan istilah keluarbiasaan di bawah normal. Jenis-jenis keluarbiasaan di bawah normal meliputi: tunanetra, tunarungu, gangguan komunikasi, tuna grahita, tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, dan tuna ganda.

a. Tunanetra
Tunanetra adalah istilah yang diberikan kepada mereka yang mengalami gangguan berat terhadap penglihatan dan tidak dapat diatasi dengan pemakaian kaca mata.

b. Tunarungu
Tunarungu adalah mereka yang mengalami gangguan pendengaran, mulai dari yang ringan sampai dengan yang berat.

c. Gangguan Komunikasi
Secara garis besar, gangguan komunikasi dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu gangguan bicara dan gangguan bahasa. Gangguan bicara yang sering disebut sebagai tunawicara. Gangguan komunikasi yang terjadi karena gangguan bahasa ditandai dengan munculnya kesulitan bagi anak dalam memahami dan menggunakan bahasa, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis.

d. Tunagrahita
Tunagrahita adalah kondisi dimana kemampuan mentalnya berada di bawah normal. Tunagrahita dapat dikelompokkan sebagai anak tunagrahita ringan, sedang dan berat.

e. Tunadaksa
Tunadaksa atau cacat fisik adalah kondisi anak yang memiliki cacat fisik, sehingga tidak dapat menjalankan fungsi fisik secara normal. Termasuk dalam kelompok tunadaksa adalah anak yang menderita penyakit epilepsi, cerebal palsy, kelainan tulang belakang, gangguan pada tulang dan otot, serta mengalami amputansi.

f. Tunalaras
Anak tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan emosi, sehingga sering menunjukkan adanya penyimpangan perilaku. Penyimpangan tersebut seperti menyakiti diri sendiri, suka menyerang teman dan sebagainya. Termasuk dalam kelompok tunalaras adalah anak-anak penderita autis.

g. Anak Berkesulitan belajar
Anak berkesulitan belajar adalah anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan normal, tetapi prestasi belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan tingkat kemampuannya.

h. Tunaganda
Sesuai dengan istilah tunaganda, adalah kelompok yang menyandang lebih dari satu jenis keluarbiasaan. Misalnya penyandang tunanetra dan tunarungu sekaligus, penyandang tunadaksa disertai tunagrahita, atau bahkan tunadaksa, tunarungu dan tunagrahita sekaligus.

Penyebab dan Dampak Keluarbiasaan

1. Penyebab Terjadinya Keluarbiasaan

Berdasarkan waktu terjadinya penyebab kelurbiasaan dapat dibagi menjadi tiga kategori seperti berikut.
a. Penyebab Prenatal, yaitu penyebab yang terjadi pada saat anak masih dalam kandungan. Pada saat ini mungkin sang ibu terserang virus, mengalami trauma, atau salah minum obat.
b. Penyebab Perinatal, yaitu penyebab yang terjadi pada saat proses kelahiran, seperti terjadinya benturan atau infeksi ketika melahirkan, proses kelahiran dengan penyedotan, atau pemberian oksigen yang terlalu lama bagi anak prematur
c. Penyebab Postnatal, yaitu penyebab yang muncul setelah kelahiran, misalnya kecelakaan, jatuh atau kena penyakit tertentu.

2. Dampak Keluarbiasaan

Dampak keluarbiasaan sangat bervariasi, baik bagi anak, keluarga/orang tua, maupun masyarakat.
a. Dampak Keluarbiasaan Bagi Anak ALB

Keluarbiasaan di atas normal dapat berdampak positif maupun negatif bagai anak. Mereka akan merasa bangga dengan keluarbiasaan yang dimilikinya, tetapi keluarbiasaan tersebut akan menjadi masalah kalau menyebabkan ia sombong dan merasa superior. Anak berbakat juga akan menghadapi masalah apabila ia terpaksa hidup diantara orang dewasa, sementara ia masih merasa sebagai anak-anak. Sebaliknya, bagi anak yang mempunyai keluarbiasaan di bawah normal, pada umumnya akan terhambat perkembangannya, kecuali jika ia mendapat pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan.
Dampak spesifik juga dapat terjadi terhadap anak luar biasa, misalnya penderita tunarungu akan mendapat hambatan dalam berkomunikasi, anak tunanetra mendapat hambatan dalam mobilitas, anak tunagrahita akan mendapat hambatan dalam banyak hal.
Tingkat keluarbiasaan juga menghasilkan dampak yang berbeda bagi anak. Anak yang menderita keluarbiasaan yang bersifat ringan mungkin masih mampu menolong diri sendiri. Makin parah tingkat keluarbiasaan, dampaknya bagi anak juga semakin parah.

b. Dampak Keluarbiasaan bagi Keluarga

Dampak keluarbiasaan anak bagi keluarga bervariasi. Ada orang tua yang merasa terpukul, pasrah menerima keadaan dan ada pula yang acuh terhadap keluarbiasaan tersebut.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi reaksi/sikap keluarga terhadap keluarbiasaan antara lain : tingkat pendidikan, latar belakang budaya, status sosial ekonomi keluarga, dan juga jenis dan tingkat keluarbiasaan.

c. Dampak Keluarbiasaan bagi Masyarakat

Sikap masyarakat terhadap keluarbiasaan mungkin juga akan bervariasi, tergantung dari dari latar belakang budaya dan tingkat pendidikan. Ada masyarakat yang bersimpati , ada yang acuh tak acuh, mungkin juga bersikap antipati.

Kebutuhan serta Hak dan Kewajiban Penyandang Keluarbiasaan

1. Kebutuhan Penyandang Keluarbiasaan

Secara umum tidak terdapat perbedaan kebutuhan antara anak normal dengan anak luar biasa. Namun karena keluarbiasaannya itu ada kebutuhan-kebutuhan spesifik yang lebih dibutuhkan oleh anak luar biasa. Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan fisik/ kesehatan, kebutuhan sosial/emosional, dan kebutuhan pendidikan.

a. Kebutuhan fisik/kesehatan

Kebutuhan fisik bagi penyandang keluarbiasaan akan terkait erat dengan jenis keluarbiasaannya. Bagi penyandang tunadaksa yang menggunakan kursi roda, akan membutuhkan sarana khusus untuk masuk ke gedung-gedung dengan jalan miring, sebagai pengganti tangga. Penyandang tunanetra perlu tongkat dan penyandang tunarungu mungkin memerlukan alat alat bantu dengar.

Berbagai layanan khusus di bidang kesehatan diperlukan bagi para penyandang keluarbiasaan. Layanan tersebut antara lain : physical therapy dan occupational therapy, yang keduanya berkaitan erat dengan keterampilan gerak (motor skills), dan speech theraphy atau bina wicara bagi para tunarungu. Para ahli yang terlibat dalam menangani kesehatan para penyandang keluarbiasaan terdiri dari dokter umum, dokter gigi, ahli physical theraphy dan ahli occupational theraphy, ahli gizi, ahli bedah tulang, ahli THT, dokter spesialis mata dan perawat.

b. Kebutuhan sosial/emosional

Karena keluarbiasaan yang disandangnya, kebutuhan yang diperlukan kadang-kadang sulit dipenuhi. Berbagai kondisi/ keterampilan seperti mencari teman, memasuki masa remaja, mencari kerja, perkawinan, kehidupan seksual, dan membesarkan anak merupakan kondisi yang menimbulkan masalah bagi penyandang keluarbiasaan. Oleh karena itu bantuan para pekerja sosial , para psikolog, dan ahli bimbingan juga dibutuhkan oleh para keluarga.

c. Kebutuhan Pendidikan

Jenis pendidikan yang diperlukan sangat terkait dengan keluar-biasaan yang disandangnya. Secara khusus, penyandang tunarungu memerlukan bina persepsi bunyi yang diberikan oleh speech therapist, tunanetra memerlukan bimbingan khusus dalam mobilitas dan huruf Braille, dan tunagrahita memerlukan bimbingan keterampilan hidup.

2. Hak Keluarbiasaan

Tidak ada perbedaan hak antara penyandang keluarbiasaan dibandingkan dengan anak normal, terutama dalam bidang pendidikan. Dalam pasal 31 UUD 45 disebutkan bahwa semua warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Ketentuan dalam pasal tersebut diatur lebih lanjut pada pasal 6 dan pasal 8 UU No.2/Tahun 1989, dalam Bab III, yang berbunyi:

Pasal 6
Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan , kemampuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan tamatan pendidikan dasar.

Pasal 8

1. Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.
2. Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.

Dari dua pasal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa anak luar biasa berhak atas pendidikan sampai tamatan SMP.

Pendidikan anak luar biasa disamping dijamin oleh UUD 45, secara internasional juga tercantum dalam Deklarasi Umum Hak-Hak Kemanusiaan 1948 (The 1948 Universal Declaration of Human Right) yang diperbaharui pada Konferensi Dunia tentang Pendidikan Untuk Semua (Educational For All). Konferensi tersebut juga menyepakati suatu kerangka kerja untuk Pendidikan Anak Luar Biasa yang dapat dijadikan pegangan bagi setiap negara dalam penyelenggaraan Pendidikan Luar Biasa.

Dalam kerangka kerja tersebut disebutkan bahwa :

a. setiap anak mempunyai hak yang fundamental untuk mendapatkan pendidikan, dan harus diberi kesempatan untuk mencapai dan memelihara tahap belajar yang dapat diterimanya;
b. setiap anak punya karakteristik, minat, kemampuan, dan kebutuhan yang unik;
c. sism pendidikan harus dirancang dan program pendidikan diimplementasikan dengan mempertimbangkan perbedaan yang besar dalam karakteristik dan kebutuhan anak;
d. mereka yang mempunyai kebutuhan belajar khusus (anak luar biasa) harus mempunyai akses ke sekolah biasa yang seyogyanya menerima mereka dalam suasana pendidikan yang berfokus pada anak sehingga mampu memenuhi kebutuhan mereka, serta
e. sekolah biasa dengan orientasi inklusif (terpadu) ini merupakan sarana paling efektif untuk melawan sikap deskriminatif, menciptakan masyarakat yang mau menerima kedatangan anak luar biasa, membangun masyarakat yang utuh terpadu dan mencapai pendidikan untuk semua, dan lebih-lebih lagi sekolah biasa dapat menyediakan pendidikan yang efektif bagi mayoritas anak-anak serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas biaya bagi seluruh sistem pendidikan.

Contoh Judul Skripsi bagian 3;>>>> Baca

Pengetahuan Dasar dan Keterampilan Musik untuk TK;>>>> Baca

Merancang dan Menerapkan Model Pembelajaran IPS Terpadu dengan Menggunakan Pendekatan Humanistik;>>>> Baca

CONTOH SURAT LAMARAN CPNS UMUM;>>>> Baca

Matematika Alam Semesta;>>>>>>>>> Baca buka semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s