Mengenal HAMKA

Mengenal HAMKA

HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji
Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di
alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung
Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh
Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal
sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di
Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
HAMKA lebih banyak belajar sendiri dan melakukan penyelidikan
meliputi pelbagai bidang ilmu pengetahuan seperti falsafah,
kesusasteraan, sejarah, sosiologi dan politik, sama ada Islam ataupun
Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat
menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti
Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-‘Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan
Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya
sarjana Perancis, Inggeris dan Jerman seperti Albert Camus, William
James, Freud, Toynbee, Jean Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. HAMKA
juga rajin membaca dan bertukar-tukar fikiran dengan tokoh-tokoh
terkenal Jakarta seperti HOS Chokroaminoto, Raden Mas
Surjoparonoto, Haji Fakrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus
Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang
pemidato yang handal.
HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan
Muhammadiyah. Beliau menyertai pertubuhan itu mulai tahu 1925
bagi menentang khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di
Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cawangan
Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, HAMKA
mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun
kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makasar.
Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan
Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah,
menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau
menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-
31 di Jogjakarta pada tahun 1950. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih
sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Julai 1957,
Menteri Agama Indonesia iaitu Mukti Ali melantik HAMKA sebagai
ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya
meletak jawatan pada tahun 1981 kerana nasihatnya diketepikan oleh
kerajaan Indonesia.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan
Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di
Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang
pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang
Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau
diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor
Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960,
beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama
Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya
memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik
Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).
Hamka dikenal sebagai seorang petualang. Ayahnya bahkan
menyebutnya “Si Bujang Jauh”. Pada 1924, dalam usia 16 tahun, ia
pergi ke Jawa untuk mempelajari seluk-beluk gerakan Islam modern
dari H. Oemar Said Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo (ketua
Muhammadiyah 1944-1952), RM. Soerjopranoto (1871-1959), dan KH.
Fakhfuddin (ayah KH. Abdur Rozzaq Fakhruddin). Kursus-kursus
pergerakan itu diadakan di Gedung Abdi Dharmo, Pakualaman,
Yogyakarta. Setelah beberapa lama di sana, ia berangkat ke
Pekalongan dan menemui kakak ipamya, AR. Sutan Mansur, yang
waktu itu menjadi ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Di kota
ini ia berkenalan dengan tokoh-tokoh ulama setempat.
Pada bulan Juli 1925, ia kembali ke rumah ayahnya di Gatangan,
Padangpanjang. Sejak itulah ia mulai berkiprah dalam organisasi
Muhammadiyah.
Pada Februari 1927, Hamka berangkat ke Makkah untuk
menunaikan ibadah haji dan bermukim lebih kurang 6 bulan.
Selama di Makkah, ia bekerja di sebuah percetakan. Pada bulan
Juli, Hamka kembali ke tanah air dengan tujuan Medan. Di Medan
ia menjadi guru agama pada sebuah perkebunan selama
beberapa bulan. Pada akhir 1927, ia kembali ke kampung
halamannya.
Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik
Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi,
beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur
Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa
al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau
meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert
Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul
Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan
bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti
HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar
Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya
sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.
Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi
Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai
tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan
sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang
Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka
mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun
kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar.
Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan
Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah,
menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau
menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-
31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat
Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr.
Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia
tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena
nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Pada 1928, Hamka menjadi peserta Muktamar Muhammadiyah di Solo,
dan sejak itu hampir tidak pernah absen dalam Muktamar
Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Sepulang dari Solo, ia mulai
memangku beberapa jabatan, mulai dari ketua bagian Taman Pustaka,
ketua Tabligh, sampai menjadi ketua Muhammadiyah Cabang
Padangpanjang. Pada 1930, ia diutus oleh Pengurus Cabang
Padangpanjang untuk mendirikan Muhammadiyah di Bengkalis. Pada
1931, ia diutus oleh Pengurus Pusat Muhammadiyah ke Ujungpandang
untuk menjadi mubaligh Muhammadiyah dalam rangka menggerakkan
semangat menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-21 (Mei 1932) di
Ujungpandang.
Hamka pindah ke Jakarta pada tahun 1950, dan memulai karirnya
sebagai pegawai negeri golongan F di Kementerian Agama yang
dipimpin KH. Abdul Wahid Hasyim.
Tahun 1950 itu juga HAMKA mengadakan lawatan ke beberapa negara
Arab sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Sepulang
dari lawatan ini ia mengarang apa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di
Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajah.
Sebelumnya Hamka menulis Di Bawah Naungan Ka’bah (1938),
Tenggelamrrya Kapal van der Wljk (1939), Merantau ke Deli (1940),
Di Dalam Lembah Kehidupan (1940), dan biografi orang tuanya
berjudul Ayahku (1949).
Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau
menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau
membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke
Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam
hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua
Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota
Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan
Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh
pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun
1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-
Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir
al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar
dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah
Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji
Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan
seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an,
Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita
Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah.
Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan
Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan
majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor
majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

Tulisan di atas merupakan cuplikan dari buku Biografi HAMKA
Jika Anda ingin ambil buku tersebut selengkapnya silakan langsung klik download ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s