Insting, Kesadaran dan Bawah Sadar

Insting, Kesadaran dan Bawah Sadar

Insting merupakan jumlah dari energi psikis yang memberikan arah pada proses-proses psikologis, dan bahwa ia memiliki sumber, tujuan, objek dan impetus. Berapa banyakkah insting yang ada? Jumlahnya sama banyaknya dengan kebutuhan-kebutuhan ragawi, semenjak insting merupakan representasi mental dari suatu kebutuhan ragawi. Freud mengatakan bahwa pertanyaan tentang jumlah insting adalah hal yang harus ditentukan oleh penyelidikan biologis.
In his final reckoning, Freud mengenali dua kelompok besar insting, kelompok yang berperan melayani kehidupan, dan kelompok yang melayani kematian. Tujuan akhir dari insting-insting kematian adalah mengembalikan pada keadaan konstan yang dimiliki materi inorganik. Freud berspekulasi bahwa insting-insting kematian were built into living matter at a time in the evolution of the earth ketika kekuatan-kekuatan kosmik melakukan tindakan atas materi inorganik dan mengubahnya menjadi bentuk-bentuk kehidupan. Hal-hal kehidupan yang awali ini barangkali hanya berjalan amat singkat dan kemudian kembali (mengalami regresi) ke keadaan inorganis semula. Kehidupan pada dasarnya terdiri dari keadaan terganggu [disturbed] yang dihasilkan melalui stimulasi ekternal. Ketika gangguan itu mereda percik-percik kehidupan terbit. As a result of these conditions surrounding the creation of life, regresi pada keadaan inorganik menjadi tujuan dari yang organis.
Seiring perjalanan evolusi dunia, bentuk-bentuk energi baru menciptakan gangguan-gangguan yang lebih bertahan lama sehingga rentang hidup pun lebih panjang. Eventually makhluk-makhluk hidup mendapatkan kekuatan untuk bereproduksi. Pada titik dalam evolusi ini penciptaan kehidupan menjadi independen dari stimulasi eksternal. Meski insting reproduksi memastikan [insure] kontinuitas kehidupan, kehadiran suatu insting kematian berarti bahwa tak ada makhluk hidup yang bisa hidup selamanya. Takdir terakhirnya selalulah kembali ke keadaan inorganik. Freud percaya bahwa hidup adalah jalan melingkar menuju kematian.
Insting-insting kematian melaksanakan kerja-kerjanya secara misterius. Sedikit yang diketahui tentang insting-insting itu kecuali bahwa mereka secara tak terelakkan berhasil mencapai misinya. Akan tetapi, derivatif-derivatif dari insting-insting kematian, yang diantara insting terpentingnya adalah destructiveness dan agresi, jauh dari bersifat misterius. Diskusi tentang derivatif-derivatif insting akan ditemukan dalam Bab 4, “The Development of Personality.” Cukuplah untuk mengatakan di sini bahwa derivatif dari suatu insting adalah suatu daya pendorong yang memiliki sumber dan tujuan yang sama dengan insting yang darinya ia diasalkan, tapi berbeda dalam hubungannya dengan cara-cara yang melaluinya tujuan itu dicapai. Dengan kata lain, derivatif dari suatu insting is a substitute object-cathexis.
Insting-insting kehidupan lebih dikenal karena efek-efeknya lebih publik. Semua itu merupakan representatif mental dari segenap kebutuhan-kebutuhan ragawi yang kepuasannya diperlukan untuk survival dan perkembang-biakkan. Insting-insting seks adalah insting kehidupan yang paling mendalam ditelaah dan mengasumsikan artipenting besar dalam teori personalitas psikoanalitik. Insting-insting seks memiliki sumber-sumbernya dalam bermacam zona ragawi, yang disebut zona-zona erogenus. Mulut, anus, dan organ-organ genital merupakan zona-zona erogenus yang utama. Freud memandang bahwa suatu zona erogenus mungkin merupakan bagian tubuh yang dipekakan oleh [peka karena] substansi-substansi kimiawi (hormon-hormon] yang dikeluarkan oleh kelenjar-kelenjar seks [sex glands]. Insting-insting seks muncul secara independen satu sama lain dalam hidup seorang individu, tapi pada pubertas [kematangan seksual] mereka lumrahnya menjadi disintesiskan dalam tugas-tugas reproduksi. Insting-insting seks juga berinteraksi dengan insting-insting kehidupan lainnya. Mulut sebagai portal bagi makanan juga sebagai bagian tubuh yang ketika dirangsang dengan mencukupi akan memunculkan kenikmatan sensual. Anus adalah organ yang melaluinya produk-produk-buangan dieliminir tapi ia juga memberikan kenikmatan ketika ia distimulasi dalam cara tertentu. Derivatif utama insting-insting seks adalah cinta. Kita akan banyak membahas tentang insting-insting seks dan derivatif-derivatifnya dalam bab berikutnya.
Bentuk energi yang digunakan insting-insting kehidupan disebut libido, tapi tak ada nama khusus yang diberikan Freud bagi bentuk energi yang digunakan oleh insting-insting kematian. Dalam tulisan-tulisan yang lebih awalnya, Freud menggunakan term “libido” untuk menyebutkan energi seksual; tapi ketika dia merancang teorinya tentang motivasi, libido didefinisikan sebagai energi dari semua insting-insting kehidupan.
Insting-insting kehidupan dan kematian dan derivatif-derivatif mereka bisa saja melebur satu sama lain, saling menetralisir, atau saling mengganti satu sama lain. Satu contoh dari peleburan [fusion] instingtual adalah tidur, semenjak tidur adalah baik keadaan dimana ketegangan direduksi (a partial return along the road back to the inorganic) dan saat yang ketika itu proses-proses kehidupan sedang direvitalisasi. Kegiatan makan merepresentasikan suatu peleburan insting kehidupan dengan insting destructiveness yang derivatifnya adalah insting kematian, semenjak hidup ditopang oleh makan tapi pada saat yang sama makanan itu sedang dihancurkan dengan digigit, dikunyah, dan ditelan. Cinta, suatu derivatif dari insting-insting seks, seringkali menetralisir rasa benci, derivatif dari insting-insting kematian. Atau mereka bisa saling menggantikan seperti yang terjadi ketika cinta berubah menjadi benci atau benci yang berubah menjadi cinta.
Insting-insting bermukim dalam id, tapi mereka mengungkapkan diri dengan memandu proses-proses dari ego dan superego. Ego merupakan agen pokok dari insting-insting kehidupan. Ego melayani insting-insting kehidupan dalam dua cara penting. Ia lahir pada awalnya karena demi mendapatkan kepuasan bagi kebutuhan-kebutuhan ragawi. Ia melakukan hal ini dengan belajar melakukan transaksi-transaksi realistik dengan lingkungan. Ego juga melayani insting-insting kehidupan dengan mengubah [transforming] insting kematian ke dalam bentuk-bentuk yang tunduk pada tujuan-tujuan kehidupan alih-alih tujuan-tujuan kematian. Sebagai contoh, the primary death wish yang ada dalam id mengalami perubahan dalam ego menjadi agresi melawan musuh-musuh yang ada di dunia eksternal. Dengan melakukan tindakan agresif orang melindungi dirinya dari terluka atau dihancurkan oleh musuh-musuhnya. Agresi juga membantunya mengatasi rintangan-halangan yang tegak di tengah jalan menuju kepuasan yang diidamkan oleh kebutuhan-kebutuhan dasarnya.
Akan tetapi ketika orang sedang agresif dia seringkali menemui kontra-agresi dari tokoh-tokoh otoritas dan musuh-musuh. Untuk menghindari hukuman, orang itu kemudian belajar untuk mengidentifikasi dengan agresor. Ini berarti bahwa dia menjadi agresif terhadap [dalam melawan] impuls-impuls yang membuat dirinya memiliki sikap bermusuhan kepada orang lain. Dengan kata lain, dia mengembangkan superego yang memainkan peran yang sama dalam mengontrol impuls-impulsnya seperti yang dilakukan otoritas eksternal.
Superego dalam perannya sebagai otoritas yang diinternalisasi kemudian mengambil aksi agresif terhadap ego kapanpun ego menimbang-nimbang untuk memiliki sikap bermusuhan atau memberontak terhadap suatu figur otoritas external. Urutan peristiwanya bisa diringkaskan sebagai berikut: (1) anak bersikap agresif kepada ayah, (2) sang ayah membalasnya dengan menghukum si anak, (3) si anak beridentifikasi dengan ayah yang menghukum tersebut, (4) otoritas yang dimiliki sang ayah diinternalisasi dan menjadi superego, dan (5) superego itu menghukum ego ketika ia tak mematuhi aturan moral dari superego. Dalam bentuk yang ekstrim, superego berusaha untuk menghancurkan ego. Inilah apa yang terjadi, contohnya, ketika orang merasa begitu malu akan dirinya sendiri sehingga dia punya kecenderungan untuk bunuh diri.
Semenjak ego merupakan agen kehidupan, superego dengan berusaha menghancurkan ego punya tujuan yang sama dengan the original death wish in the id. Itulah kenapa superego disebut-sebut sebagai agen dari insting-insting kematian

Kesadaran dan Bawah Sadar

Di tahun-tahun awal psikoanalisis konsep sentral dari teori Freud adalah bawah sadar. Dalam rumusan-rumusan Freud belakangan, dimulai sekitar 1920, bawah sadar dilengserkan dari statusnya sebagai wilayah pikiran yang paling besar dan paling penting menjadi semacam kualitas dari fenomena mental. Banyak dari apa yang sebelumnya diacukan pada bawah sadar menjadi [diacukan] pada id, dan distingsi struktural antara kesadaran dan bawah sadar diganti dengan organisasi tiga bagian dari id, ego, dan superego.
Meski bukanlah tujuan kami disini menuliskan sejarah perkembangan gagasan-gagasan Freud dalam hubungannya dengan sejarah psikologi, bisalah ditunjukkan bahwa artipenting bawah sadar yang menyusut itu dalam psikoanalisis berparalel dengan menurunnya signifikansi pikiran sadar dalam psikologi. Sepanjang abad 19 psikologi sibuk menganalisis pikiran sadar, psikoanalisis terlibat dalam eksplorasi-eksplorasi pikiran bawah sadar. Freud merasa kesadaran hanyalah serpihan tipis dari keseluruhan pikiran, seperti puncak gunung es, bagian terbesar darinya yang terkubur dibalik permukaan air kesadaran.
Para psikolog menjawab Freud dengan mengatakan bahwa pandangan akan suatu pikiran bawah sadar merupakan istilah yang kontradiktif; pikiran, berdasarkan definisi, adalah sadar. Kontroversi itu tidak pernah mencapai konklusi final karena baik psikologi maupun psikoanalisis mengubah objektif-objektifnya selama abad 20. Psikologi menjadi ilmu tentang prilaku, dan psikoanalisis menjadi ilmu tentang personalitas. Pada saat ini terdapat banyak indikasi bahwa dua ilmu itu sedang menuju pada titik yang sama untuk bergabung menjadi ilmu yang tunggal.
Dari sudut pandang kita sekarang ini, muncul apa yang telah Freud upayakan selama tiga puluh tahun antara 1890 sampai 1920, ketika pikiran bawah sadar ditinggikan sebagai konsep yang berdaulat dalam sistem psikologisnya, untuk menemukan kekuatan-kekuatan penentu dalam personalitas yang tidak secara langsung diketahui para peneliti. Sama halnya dengan fisika dan kimia memperkenalkan apa yang sebelumnya tak dikenal tentang kodrat benda-benda melalui eksperimen dan demonstrasi, begitu pula tugas psikologi bagi Freud adalah untuk mengungkapkan ke permukaan faktor-faktor dalam personalitas yang sebelumnya tak diketahui. Ini tampaknya menjadi makna statemen Freud ketika mengatakan bahwa “kerja ilmiah kami dalam psikologi terbentuk dalam penerjemahan proses-proses bawah sadar mejadi proses sadar, dan dengan demikian menjembatani gap-gap dalam persepsi-persepsi sadar.”[2] Freud semata-mata mengakui fakta yang dikenal luas bahwa tujuan dari segenap ilmu pengetahuan adalah mensubtitusi pengetahuan untuk keabaian. Sebagai contoh, manusia tidak secara langsung sadar akan proses pencernaan yang berlangsung, tapi fisiologi bisa memberitahukan apa yang terjadi ketika proses pencernaan berlangsung. Pengetahuan ini tidaklah membuat dia bisa mempersepsi (secara langsung sadar akan) proses-proses pencernaannya sendiri sewaktu semua itu berlangsung; meski demikian dia tahu (faham) apa yang terjadi. Dalam cara serupa pula, orang tidak sadar akan proses-proses mental bawah sadar, tapi psikologi bisa mengajarinya tentang apa yang sedang berlangsung dibawah permukaan kesadaran.
Sebagai contoh, orang yang mengalami kecelakaan biasanya tidak sadar bahwa kecelakaan itu merepresentasikan keinginan untuk melukai diri. Akan tetapi inilah tepatnya apa yang ditunjukkan sejumlah studi yang telah dilakukan. Atau orang yang memiliki kegandrungan abnormal pada makanan atau minuman biasanya tidak sadar akan fakta bahwa kegandrungannya itu mungkin tumbuh dari hasrat tertahan akan cinta. Yet this is often the case. Bahkan ketika orang menjadi tahu [learn] bahwa terdapat hubungan antara kecenderungan-untuk-mengalami-kecelakaan [accident proneness] dan rasa perasaan bersalah atau antara alkoholisme dengan cinta yang terhambat, dia barangkali belumlah tentu untuk secara langsung sadar bahwa hubungan ini ada dalam dirinya.
Freud percaya bahwa bila psikologi hendak menjustifikasi diri sebagai sebuah ilmu ia haruslah menyingkapkan sebab-sebab perilaku yang masih belum diketahui [unknown]. Itulah kenapa dia banyak membuat sebab-musabab atau motivasi bawah sadar dalam tahun-tahun awal psikoanalisisnya. Bagi Freud, apa yang bawah sadar adalah apa yang unknown.
Sadar dan bawah sadar dimasukkan dalam teori psikoanalitik setelah 1920 sebagai kualitas-kualitas dari fenomena mental. Apakah isi dari pikiran itu sadar atau bawah sadar tergantung pada the magnitude of the energy invested in it dan intensitas dari daya pembendungnya. Orang merasa sakit atau dia merasa nikmat ketika jika jumlah [the magnitude] rasa sakit atau rasa nikmat itu melampaui nilai cathexis tertentu yang disebut nilai ambang. Seperti itu pula, dia mempersepsi sebuah objek di dunia ketika proses-proses perseptual diberi energi yang melampaui nilai ambang tersebut. Bahkan ketika cathexis melebihi ambang itu, perasaan itu atau persepsi itu bisa tidak memiliki kualitas kesadaran karena efek-efek penghambat dari anti-cathexis yang menjauhkannya untuk menjadi sadar.
Sebagai contoh, kasus-kasus yang diketahui dari orang yang tak bisa melihat terlepas dari fakta bahwa tak ada yang salah dengan mekanisme visualnya. Mereka buta karena mereka tidak ingin melihat. Ini berarti bahwa suatu kekuatan pembendung (anti-cathexis) secara efektif memblokir cathex-cathex visual. Alasan kenapa mereka tidak ingin melihat adalah bahwa melihat adalah terlalu menyakitkan bagi mereka. Mereka secara harfiah takut untuk melihat, seperti orang yang menutupkan mata ketika menonton bioskop agar tidak menyaksikan suatu adegan yang mengerikan.
Persepsi dan perasaan merupakan pengalaman-pengalaman langsung atas sesuatu yang terjadi pada orang at the present time. Ingatan dan gagasan, di lain pihak, merupakan representasi mental dari pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Agar gagasan dan ingatan menjadi sadar, perlulah bagi mereka untuk diasosiasikan dengan bahasa. Orang tidak bisa berpikir atau mengingat kecuali jika apa yang dia pikirkan dan dia ingat telah dikaitkan dengan kata-kata yang pernah dia lihat atau dengar. Consequently orang tidak dapat dengan sadar mengingat pengalaman-pengalaman masa kanak yang berlangsung sebelum perkembangan bahasa dimulai. Akan tetapi, terlepas dari fakta bahwa orang tidak dapat mengingat pengalaman-pengalaman awal tersebut, semua itu bisa memiliki artipenting decisif dalam perkembangan personalitas.
Freud membedakan antara dua kualitas bawahsadar, prasadar dan bawah sadar sejati. Suatu gagasan atau ingatan prasadar adalah yang bisa menjadi sadar dengan lumayan mudah karena resistensi terhadap mereka lemah. Suatu pikiran atau ingatan bawah sadar butuh upaya keras untuk menjadi sadar karena besarnya kekuatan yang membendungnya. Di satu ujung skala tersebut adalah ingatan yang tidak akan pernah menjadi sadar karena ia tidak memiliki asosiasi dengan bahasa; di ujung yang lain adalah ingatan yang ada di ujung lidah.
Semenjak konsentrasi besar dari energi dalam suatu proses mental dibutuhkan agar ia memiliki kualitas untuk menjadi sadar, energi untuk tujuan ini harus diperoleh dengan cara membelokkan pasokan energi dari proses-proses mental lain. Ini berarti bahwa kita hanya bisa menjadi sadar atas satu hal pada suatu saat. Akan tetapi, pergeseran energi yang cepat dari satu gagasan, ingatan, persepsi, atau perasaan pada yang lainnya menyediakan cakupan yang luas akan penyadaran yang sadar dalam waktu yang singkat. Orang bisa memikirkan atau berloncatan dalam mengingat begitu banyak hal dengan cepat dikarenakan mobilitas yang dimiliki energi psikis ketika semua itu diredistribusikan. Sistem perseptual seperti mekanisme sebuah radar yang memindai dengan cepat dan memotret banyak gambar dari dunia. Ketika sistem perseptual memperlihatkan suatu objek yang dibutuhkan atau menangkap keberadaan suatu ancaman potensial dalam dunia eksternal, ia beristirahat dan memfokuskan perhatiannya pada objek atau ancaman tersebut. Ideas and memories are summoned from the preconscious to help the person adjust to the situation confronting him. Ketika ancaman itu berlalu atau kebutuhan sudah dipuaskan, pikiran mengalihkan perhatian pada hal-hal yang lain.

Tulisan Di atas Cuplikan dari Buku Sejarah Ilmu Psikologi buku terjemahan dari A Primer of Freudian Psychology Karya Calvin S. Hall

Jika Anda ingin ambil buku tersebut selengkapnya silakan langsung klik download ini

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s