Hakikat Cerita Rekaan

Hakekat Cerita Rekaan

Cerita rekaan (cerkan) menceritakan sesuatu yang bersifat imajinatif, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata. Dengan demikian, kebenaran yang terdapat dalam cerkan tidak harus sama dan memang tidak perlu disamakan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Oleh karena itulah, cerkan dapat diartikan sebagai kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita yang bertolak dari hasil imajinasi pengarang.
Melalui cerkan, seperti cerpen atau novel, sering dapat diketahui keadaan, cuplikan kehidupan. Bahkan tak jarang sebuah suasana tertentu dapat lebih dihayati dengan membaca sebuah novel atau cerpen daripada membaca laporan-laporan ilmiah. Melalui cerkan yang menyarankan berbagai kemungkinan moral, sosial, dan psikologi itu, orang dapat lebih cepat mencapai kematangan bersikap. Dengan memasuki “segala macam situasi” dalam cerkan, orang pun akan dapat menempatkan diri pada kehidupan yang lebih luas daripada situasi dirinya yang nyata.

Aliran-aliran dalam Cerita Rekaan
Perubahan zaman juga menyebabkan perubahan sikap hidup manusia. Perubahan sikap hidup tersebut pada gilirannya akan melahirkan paham atau aliran pemikiran baru. Setiap zaman akan melahirkan aliran dan paham baru yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan zaman sebelumnya.
Aliran dalam konteks ini diartikan sebagai suatu keyakinan atau paham. Dalam dunia seni, termasuk seni sastra, keyakinan atau paham tersebut akan terpancar dalam seluruh hasil penciptaan, baik dalam aspek bentuk maupun isi. Bahkan tidak jarang aliran tersebut juga mempengaruhi gaya dan sikap pengarang.
Romantisme adalah aliran kesenian-kesusastraan yang mengutamakan perasaan. Pengarang berusaha mengidealisasikan kehidupan dan pengalaman manusia dengan menekankan pada hal yang lebih baik, lebih enak, lebih indah, dan serba menyenangkan.
Realisme adalalah aliran dalam kesusastraan (seni pada umumnya) yang melukiskan suatu keadaan atau kenyataan secara sesungguhnya. Para tokoh aliran ini berpendapat bahwa tujuan seni adalah untuk menggambarkan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif.
Pengarang naturalisme juga melukiskan dengan cermat dan teliti apa yang dapat dilihat dan dirasa oleh pancaindra. Hal yang membedakannya, dalam aliran naturalisme, umumnya, para pengarang terutama memusatkan perhatian pada alam, pada manifestasi kebendaan dari kehidupan manusia.
Sebagai sebuah aliran kesenian, simbolisme muncul sebagai reaksi terhadap realisme dan naturalisme. Dalam realisme dan naturalisme seorang pengarang atau sastrawan melukiskan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif. Sebaliknya, dalam aliran simbolisme mementingkan hadirnya simbol atau lambang sebagai media pengungkapan sesuatu. Yang ingin ditampilkan secara simbolis adalah pengalaman batin.
Aliran absurdisme muncul sebagai suatu bentuk respon untuk menggambarkan kehidupan manusia modern yang seringkali sukar dipahami. Kehidupan manusia modern dengan segala problematikanya yang serba membingungkan, sulit dipahami, dan simpang siur.

Cerkan Melayu Klasik
Kehidupan sastra tidak terlepas dari kehidupan masyarakat. Pemahaman terhadap perkembangan sastra, khususnya sastra Melayu Klasik, harus dihubungkan dengan perkembangan kebudayaan masyarakat pada masa itu. Sementara itu, kehidupan sastra Melayu itu sendiri dapat dikaitkan dengan kesusasteraan rakyat. Selanjutnya, pembahasan sejarah sastra (cerkan) Melayu Klasik berkaitan dengan keberadaan kesusasteraan rakyat tersebut.
Kesusasteraan rakyat adalah sastra yang hidup di tengah-tengah rakyat, dituturkan oleh ibu kepada anaknya yang dalam buaian, dituturkan tukang cerita kepada penduduk-penduduk sekitarnya. Jenis-jenis cerita yang dimaksud, yaitu (1) cerita asal-usul, (2) cerita binatang, (3) cerita jenaka, (4) cerita pelipur lara, dan (5) cerita berbingkai.
Cerita asal-usul adalah cerita yang berisi gambaran kejadian atau peristiwa tentang asal mula suatu tempat atau wilayah geografis, nama suatu tempat atau wilayah, benda, tumbuh-tumbuhan, buah, dan sebagainya. Cerita binatang adalah cerita yang pendek dan sederhana, biasanya dengan tokoh binatang atau benda yang berkelakuan seperti manusia. Cerita jenaka adalah cerita yang lucu atau jenaka yang mengandung perbandingan atau sindiran. Sesuai dengan namanya, cerita pelipur lara ialah cerita yang dipakai untuk menghibur hati yang lara. Cerita untuk menghibur hati yang berduka dan hati yang nestapa. Cerita berbingkai adalah bentuk cerita yang di dalamnya terdapat pula cerita lain, sehingga cerita pertama merupakan bingkai dari cerita kedua, cerita kedua sebagai bingkai cerita ketiga dan seterusnya.

Cerkan Pra-Kemerdekaan
Kesusastraan Indonesia Modern lahir pada sekitar tahun 1920. Penyebutan tahun 1920 sebagai awal perkembangan sastra Indonesia Modern berdasarkan dua hal pokok, yaitu (1) media bahasa yang digunakan, dan (2) corak isi yang ada dalam karya. Penggunaan kata modern pada Sastra Indonesia Modern pada prinsipnya tidak dipertentangkan dengan kata klasik. Kata modern dipergunakan sekedar menunjukkan betapa intensifnya pengaruh Barat pada perkembangan dan kehidupan kesusasteraan pada masa itu.
Perkembangan cerkan dalam sastra Indonesia ditandai dengan terbitnya Azab dan Sengsara karya Merari Siregar dan Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Dengan terbitnya kedua novel tersebut dianggap mulailah masa baru dalam perkembangan sastra Indonesia. Kedua novel tersebut dianggap sebagai bentuk sastra baru yang berbeda dari hasil sastra yang pernah ada dan dikenal sebelumnya. Kedua novel tersebut tidak lagi dapat disebut sebagai suatu hikayat.
Tradisi penulisan cerpen di Indonesia dimulai oleh Mohamad Kasim sekitar tahun 1930-an, pada saat ia menulis cerita pendek untuk majalah Panji Pustaka. M. Kasim menulis cerpen berdasarkan cerita-cerita lucu yang hidup di masyarakat, cerita dari mulut ke mulut dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengetahui bahwa warga masyarakat suka pada cerita-cerita lucu, maka dengan cerita-cerita tersebut orang diajak untuk tertawa. Cerita-cerita lucu tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan oleh Balai Pustaka dengan judul Teman Duduk.

Cerkan Paska Kemerdekaan
Persoalan zaman dan kemasyarakatan dari kurun waktu tertentu berpengaruh pada pemilihan tema-tema yang diungkapkan para sastrawan dalam karya-karyanya. Perges¬eran persoalan zaman dan persoalan kemasyarakatan akan menyebabkan pergeseran pemilihan tema. Perkembangan kesusastraan Indonesia, termasuk di dalamnya novel, merupakan suatu proses yang wajar. Dengan kata lain, bagaimanapun hebat dan bervariasinya perkembangan sastra, ia masih tetap merupakan gambaran dan lanjutan dari proses masyarakat yang sedang berubah.
Uraian tentang sejarah cerkan masa pascakemerdekaan dilakukan dengan membahas pengarang dan karyanya, yang dianggap membawa perubahan pada kurun waktu tertentu. Melalui pembahasan terhadap pengarang dan karyanya itu diharapkan dapat diperoleh informasi yang terkait dengan perjalanan dan perkembangan tradisi penulisan cerkan.
Jenis Cerita Rekaan
Berdasarkan bentuknya, secara sederhana jenis cerkan dikelompok¬kan dalam tiga jenis, yaitu (1) novel, (2) novelet (novelette), dan (3) cerita pendek (short story). Novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dengan panjang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak, serta adegan kehidupan yang representatif dalam suatu alur atau keadaan. Kata novelet berasal dari novelette yang diturunkan dari kata novel dengan penambahan sufiks – ette, yang berarti kecil. Dengan singkat dapat dinyatakan bahwa novelet mengandung pengertian novel kecil. Cerita pendek adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan tunggal pada jiwa pembaca.

Perbedaan antara Cerpen dan Novel
Plot, tokoh, latar, dan lain-lainnya merupakan elemen yang biasanya membentuk kedua jenis karya cerkan itu. Akan tetapi, pengalaman pembaca dan apresiator cerpen dapat berbeda dalam beberapa hal, jika dibandingkan dengan pengalamannya tatkala berhadapan dengan novel.
Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya. Sementara itu, novel memungkinkan adanya penyajian secara panjang lebar mengenai tempat (ruang) tertentu. Oleh karena itu, tidaklah mengheran¬kan jika posisi manusia dalam masyarakat menjadi pokok perma¬salahan yang selalu menarik per¬hatian para novelis. Masyara¬kat¬ memiliki dimensi ruang dan waktu.
Jika umumnya cerpen mencapai keutuhan (unity) secara eksklusi (exclusion), artinya cerpenis membiarkan hal-hal yang dianggap tidak esensial; novel mencapai keutuhannya seca¬ra inklusi (inclusion), yakni bahwa novelis mengukuhkan keseluruh¬annya dengan kendali tema karyanya. Dalam kaitan ini, harus dicatat bahwa berbagai hal yang sudah dikemukakan tersebut cenderung dapat dijumpai pada cerkan konvensional.

Novel Populer dan Novel Serius
Dalam dunia kesastraan sering ada usaha untuk membedakan antara novel serius dan novel populer. Kenyataannya, usaha pembedaan tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Penggolongan novel menjadi novel serius dan novel populer seringkali dipengaruhi oleh kesan yang bersifat subjektif, seperti siapa pengarangnya dan siapa penerbitnya.
Pada dasarnya novel populer merupakan kelanjutan dari apa yang dinamai novel picisan sejak sebelum perang dunia kedua. Penamaan novel atau roman picisan berasal dari Parada Harahap, seorang wartawan, pada tahun 1939 ketika terjadi polemik dengan pengarang roman picisan Matu Mona. Istilah itu kemudian berubah menjadi “hiburan” pada tahun 1960-an, seiring dengan berkembangnya majalah-majalah yang dinamai majalah hiburan. Selanjutnya pada dekade 70-an itulah berubah lagi menjadi kata populer.
Disebut dengan novel populer karena karya tersebut baik dari sisi tema, cara penyajian, teknik, bahasa, maupun gaya meniru pola umum yang digemari masyarakat pembacanya. Corak novel pop cenderung seragam dan dikerjakan secara tergesa-gesa karena desakan pasar. Akibatnya, corak novel populer hampir sama di suatu kurun waktu tertentu.

Unsur Intrinsik Cerita Rekaan
Sebuah karya sastra, termasuk cerkan pada dasarnya merupakan sebuah totalitas, suatu kesatuan menyeluruh yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, cerkan mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur, yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun cerkan itu sendiri dari dalam. Unsur-unsur itulah yang menegaskan sebuah karya dapat disebut atau dikelompokkan dalam karya sastra (cerkan). Dengan demikian, unsur intrinsik merupakan salah satu acuan untuk menentukan keberadaan suatu cerkan. Robert Stanton mengelom¬pokkan elemen-elemen pembangun cerkan menjadi tiga bagian, yaitu (1) fakta cerita, (2) sarana cerita, dan (3) tema.

Unsur Intrinsik Cerita Rekaan
Unsur intrinsik dapat disebut mempunyai nilai estetik, jika pengarang mampu menuangkannya dalam satu rangkaian ide yang termanifestasi dari karakter tokoh, persoalan yang dihadapi, pemecahan persoalan. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar cerkan, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisasi cerkan. Dengan kata lain, unsur ekstrinsik adalah unsur yang mempengaruhi bangun cerita, namun unsur tersebut tidak menjadi bagian di dalamnya. Meskipun demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh pada totalitas bangun cerita yang dihasilkan. Oleh karena itu, unsur ekstrinsik sebuah cerkan, haruslah tetap dipandang sebagai sesuatu yang penting.

Membaca Cerita Rekaan
Istilah membaca dapat mencakup pengertian yang luas sekali. Hal itu terjadi karena membaca dapat dibedakan dalam berbagai ragam sesuai dengan (1) tujuan, (2) proses kegiatan, (3) objek bacaan, dan (4) media yang digunakan. Secara umum dapat dinyatakan bahwa hakikat membaca mencakup beberapa hal, yaitu (1) membaca adalah kegiatan mereaksi, (2) membaca merupakan suatu proses, dan (3) membaca adalah upaya pemecahan kode dan penerimaan pesan.
Membaca diartikan sebagai proses pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan tersebut.
Dalam kegiatan membaca cerkan, pembaca berada dalam posisi aktif dan bukan pasif. Keaktifan tersebut bukan sekedar aktif memahami bacaan, melainkan keaktifan yang penuh kreativitas, yang membuat membaca itu mempunyai nilai tersendiri bagi pembaca. Hal itu mengindikasikan bahwa dengan membaca cerkan, pembaca akan memperoleh “sesuatu” yang bernilai bagi kehidupan.

Menikmati Cerita Rekaan
Kegiatan membaca cerkan dapat dilakukan dengan berbagai motivasi. Sebagian besar orang membaca cerkan sebagai pengisi waktu. Ada pula yang membaca cerkan sebagai sarana memperoleh hiburan. Selanjutnya, pembaca yang serius ingin memperoleh suatu pengalaman baru dari cerkan yang dibacanya. Kegiatan membaca cerkan dilakukan untuk memperoleh pengalaman literer.
Jika kita membaca cerkan dan mencoba menghayati, sesungguhnya kita untuk sementara waktu memutuskan hubungan dengan dunia nyata, masuk ke dalam dunia tak nyata yang bersifat pribadi. Pengalaman emosional dan intelektual inilah yang disebut pengalaman literer.
Kegiatan membaca cerkan pada dasarnya juga merupakan kegiatan berapresiasi sastra secara langsung. Membaca adalah aktivitas pertama dari serangkaian aktivitas lainnya dalam kaitannya dengan upaya menikmati cerkan.

Tokoh, Penokohan, dan Teknik Penceritaan
Peristiwa dalam cerkan seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerkan sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh.
Berdasarkan keterlibatannya dalam cerita, tokoh dibedakan menjadi dua, yakni tokoh sentral atau tokoh utama dan tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan). Berdasarkan watak atau karakternya, dikenal adanya tokoh sederhana dan tokoh kompleks. Berdasarkan fungsi penampilan, terdapat tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan, dibedakan menjadi tokoh statis dan tokoh berkembang.
Persoalan seorang pengarang tidak hanya dalam hal memilih jenis tokoh yang akan disajikan dalam ceritanya, tetapi juga dengan cara apakah ia akan me¬nya¬jikan tokoh ciptaannya. Dalam hubungan ini, dikenal sejumlah cara yang se¬ring dapat dipergunakan, masing-masing dengan kelebihan dan keku¬rang¬an¬nya. Ada yang membedakan cara-cara yang sering dipakai itu menjadi cara analitik dan dramatik; metode langsung dan tak langsung; metode uraian dan ragaan; dan metode diskursif, dramatik, dan campuran.

Latar Belakang Cerita dan Waktu Penceritaan
Sebuah cerkan, baik cerpen maupun novel, harus terjadi pada suatu tempat dan dalam suatu waktu, seperti halnya kehidupan ini yang juga berlangsung dalam ruang dan waktu. Elemen cerkan yang menunjukkan kepada kita di mana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung disebut setting ’latar.’
Deskripsi latar cerkan secara garis besar dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yakni latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat adalah hal yang berkaitan dengan masalah geografis, latar waktu berkaitan dengan masalah historis, dan latar sosial berkaitan dengan kehidupan kemasya¬rakatan.
Terdapat empat elemen/unsur yang membentuk latar cerkan. Pertama, lokasi geografis yang sesungguhnya, termasuk di dalamnya ialah topografi, scenery ‘pemandangan’ tertentu, bahkan detail-detail interior sebuah kamar/ruangan. Kedua, pekerjaan dan cara-cara hidup tokoh sehari-hari. Ketiga, waktu terjadinya action ‘tindakan’ atau peristiwa, termasuk periode historis, musim, tahun, dan sebagainya. Keempat, lingkungan religius, moral, intelektual, sosial, dan emosional tokoh-tokohnya.
Latar suatu cerkan, biasanya, dibedakan menjadi dua tipe, yaitu neutral setting ‘latar netral’ dan spiritual setting ‘latar spiritual’. Ada beberapa fungsi yang dapat ditempati oleh latar dalam cerkan, misalnya latar sebagai metafora, latar sebagai atmosfer, dan latar sebagai pengedepanan (foregrounding).

Sudut Pandang dan Fokus Pengisahan
Untuk menceritakan suatu hal dalam cerkan, pengarang dapat memilih dari sudut manakah ia akan bercerita. Bisa saja pengarang berdiri sebagai orang yang berada di luar cerita dan mungkin pula ia mengambil peran serta dalam cerita itu. Sudut pandang atau pusat pengisahan (point of view) dipergunakan untuk menentukan arah pandang pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita, sehingga tercipta suatu kesatuan cerita yang utuh.
Sudut pandang pada dasarnya adalah visi pengarang. Artinya, ia merupa¬kan sudut pandangan yang diambil oleh pengarang untuk melihat peristiwa dan kejadian dalam cerita. Dalam kaitan ini, hendaknya dibedakan antara pandangan yang diambil oleh pengarang itu dengan pandangan pengarang sebagai pribadi. Karena, sebuah cerkan sesungguhnya merupakan pandangan pengarang terhadap kehidupan.
Lazimnya, sudut pandang yang umum dipergunakan oleh para pengarang dibagi menjadi empat jenis, yakni (1) sudut pandang first person-central atau akuan-sertaan; (2) sudut pandang first-person peripheral atau akuan-taksertaan; (3) sudut pandang third-person-omniscient atau diaan-mahatahu; (4) sudut pandang third-person-limited atau diaan-terbatas. Di samping jenis-jenis sudut pan¬dang di atas, sering dijumpai pula cerkan yang mempergunakan sudut pandang campuran: dalam sebuah cerkan dijumpai lebih dari sebuah sudut pandang.

Alur dan Struktur
Seorang penulis cerita harus menciptakan plot atau alur bagi ceritanya itu. Hal ini berarti bahwa plot atau alur cerita sebuah cerkan menyajikan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian kepada pembaca tidak hanya dalam sifat kewaktuan atau temporalnya, tetapi juga dalam hubungan-hubungan yang sudah diperhitungkan. Plot sebuah cerita akan membuat pembaca sadar terhadap peristiwa-peristiwa yang dihadapi atau dibacanya tidak hanya sebagai subelemen-elemen yang jalin-menjalin dalam rangkaian temporal, tetapi juga sebagai suatu pola yang majemuk dan memiliki hubungan kausalitas atau sebab-akibat.
Struktur plot sebuah cerkan dapat dibagi secara kasar menjadi tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir. Berkaitan dengan penyusunan alur dalam cerkan dikenal beberapa kaidah, yaitu (1) kemasukakalan, (2) kejutan, (3) ketidaktentuan, dan (4) keutuhan. Jenis alur dapat dibedakan dengan beberapa kriteria, (1) berdasarkan penyusunan peristiwa, dikenal alur kronologis dan alur sorot balik, (2) berdasarkan segi akhir cerita, terdapat alur terbuka dan alur tertutup, (3) dari segi kuantitasnya, dikenal alur tunggal dan alur jamak, dan (4) dari segi kuali¬tasnya, terdapat alur rapat dan alur longgar.

Tema dan Amanat
Dalam pengertiannya yang paling sederhana, tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Tema lebih merupakan sebagai sejenis komentar terhadap subjek atau pokok masalah, baik secara eksplisit maupun implisit. Jadi, di dalam tema terkandung sikap pengarang terhadap subjek atau pokok cerita. Dalam kaitannya dengan pengalaman pengarang, tema adalah suatu yang diciptakan oleh pengarang sehubungan dengan pengalaman total yang dinyatakannya.
Di samping fungsinya memberi kontribusi bagi elemen struktural lain seperti plot, tokoh, dan latar; fungsi tema dalam cerkan yang terpenting ialah menjadi elemen penyatu terakhir bagi keseluruhan cerkan itu. Artinya, pengarang menciptakan dan membentuk plot, membawa tokohnya menjadi ada, baik secara sadar maupun tidak, eksplisit maupun implisit, pada dasarnya merupakan peri¬laku responsifnya terhadap tema yang telah dipilih dan telah mengarahkannya.
Tema cerkan umumnya diklasifikasikan menjadi lima jenis, yakni tema physical ‘jasmaniah’, tema organic ‘moral’, social ‘sosial’, egoic ‘egoik’, dan divine ‘ketuhanan’. Tentu, tema cerkan masih dapat diklasifikasikan dengan ca¬ra selain ini, misalnya tema tradisional dan tema modern. Klasifikasi di atas lebih merupakan pembagian yang didasarkan pada subjek atau pokok pembicaraan da¬lam cerkan.

Bahasa Dalam Cerkan
Gaya merupakan cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa gaya adalah orangnya: gaya pengarang adalah suara-suara pribadi pengarang yang terekam dalam karyanya.
Menganalisis gaya sebuah cerkan berarti menganalisis wujud verbal cerkan itu. Dinyatakan demikian karena gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata-kata, kelompok kata, kalimat, dan ungkapan yang pada akhirnya akan ikut menentukan keberhasilan, keindahan, dan kemasukakalan suatu karya yang menjadi hasil ekspresi dirinya itu.

Respon Cerkan

Apresiasi sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah terwujud dalam tingkah laku. Dalam pengertian apresiasi tersirat adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara konkret. Perilaku kegiatan itu dalam hal ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) kegiatan secara langsung, dan (2) kegiatan secara tidak langsung.
Karya sastra menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya. Di samping itu, sastra juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin, baik yang berhubungan dengan masalah agama, filsafat, politik maupun macam-macam problematika kehidupan. Kandungan makna yang kompleks dan keindahan dalam karya sastra tergambar lewat media kebahasaan atau aspek verbal. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikemukakan bahwa karya sastra mengandung berbagai unsur yang kompleks, yaitu (1) unsur keindahan, (2) unsur kontemplatif, yang berhubungan dengan nilai keagamaan, filsafat, politik, serta realitas kehidupan lainnya, (3) media pemaparan, yaitu berupa aspek kebahasaan, dan (4) unsur-unsur intrinsik yang menandai eksistensi karya sastra.

Meresensi Cerkan

Kata “resensi” berarti pertimbangan atau pembicaraan. Jadi, resensi buku berarti pertimbangan atau pembicaraan terhadap suatu buku. Istilah lain yang sering dipakai sebagai padanan resensi buku di antaranya adalah timbangan, bedah, atau ulasan buku. Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah karya atau buku. Tujuan resensi yaitu menyampaikan kepada pada pembaca, apakah sebuah buku atau hasil karya itu layak mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
Seorang penulis resensi harus bertolak dari tujuan untuk membantu pada pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca karya cerkan tertentu. Dengan demikian, peresensi harus secara terus-menerus berusaha menyesuaikan pertimbangannya dengan selera pembaca. Penulis resensi harus memperhatikan hal pokok yang perlu diperhatikan, yaitu (1) tanggung jawabnya terhadap pembaca dan (2) bagaimana penilaian terhadap buku dilakukan.

Konsep Pembacaan Cerita

Secara konseptual, pembacaan cerita dapat dikaitkan dengan dua ragam atau bentuk membaca, yaitu membaca teknik dan membaca estetis. Istilah membaca teknik sering juga disebut membaca lisan (oral reading) atau membaca nyaring (reading aloud). Membaca teknik dapat dihubungkan dengan kegiatan membaca cerkan, seperti story telling, yang bersifat redeskriptif
Pembacaan sastra merupakan kegiatan membaca yang bersifat redeskriptif. Artinya, bunyi ujar atau suara tidak muncul secara sewenang-wenang, tetapi harus mampu menggambarkan isi cerita serta suasana awal yang dipaparkan pengarang dalam teks tertulis. Dengan demikian, dalam membacakan cerita, seorang pembaca dituntut untuk mengetahui dan memahami maksud dan suasana yang dibangun pengarang melalui teks verbal cerita.

Kegiatan Pembacaan Cerita

Terdapat tiga unsur utama yang harus diperhatikan dalam melakukan kegiatan membaca teks cerkan secara lisan. Ketiga unsur utama yang dimaksud, yaitu (1) pemahaman, (2) penghayatan, dan (3) pemaparan.
Pemahaman berkaitan dengan kemampuan memahami makna dalam bacaan cerkan, memahami suasana penuturan dalam cerkan yang dibaca, sikap pengarang, serta intensi yang mendasarinya. Kemampuan menghayati juga berkaitan dengan aspek (1) makna, (2) suasana penuturan, (3) sikap pengarang, dan (4) intensi pengarang. Wujud konkret dari kemampuan memahami dan menghayati isi bacaan akan tampak dalam pemaparan atau penampilan. Dengan kata lain, pemaparan atau penampilan sangat ditentukan oleh kualitas pemahaman dan penghayatan.

Hakikat Menulis Kreatif

Terdapat dua tujuan yang dapat dicapai melalui kegiatan pengembangan penulisan kreatif, yakni yang bersifat apresiatif dan yang bersifat ekspresif. Kedua tujuan utama tersebut sekaligus memberikan peluang bagi pembentukan pribadi yang kreatif. Berdasarkan kenyataan, harus diakui bahwa ciri-ciri yang melekat pada pribadi kreatif sering tidak dapat dipisahkan secara tegas antara ciri yang satu dan ciri yang lainnya.
Karya kreatif yang baik bukanlah suatu formula, rumus-rumus, atau jurus-jurus kehidupan, tetapi ia merupakan model-model kreatif tentang kemanusiaan. Karya-karya tersebut akan menyarankan berbagai kemungkinan yang berhubungan dengan moral, psikologi, dan masalah-masalah sosial budaya.
Terdapat tiga daerah fundamental kehidupan manusia yang menjadi sumber penciptaan teks kreatif, yakni bidang agama, bidang sosial, dan bidang individual. Dengan kata lain, teks kreatif akan senantiasa berurusan dengan masalah manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, dalam hubungannya dengan manusia lain atau alam, dan dalam hubungannya dengan diri sendiri.

Menulis Cerkan

Anggapan bahwa keterampilan menulis muncul hanya karena adanya bakat istimewa tidak benar. Demikian juga, anggapan bahwa sastrawan itu dilahirkan dan bukan dibentuk tidak sepenuhnya benar. Seperti tukang jahit atau tukang bengkel, keterampilan menulis itu juga dapat dipelajari.
Menulis cerpen pada dasarnya menyam¬paikan sebuah pengalaman kepada pembacanya. Menulis cerpen bukan sekedar “memberitahukan” sebuah cerita. sebuah cerpen bukan hanya menyampaikan cerita, melainkan juga menggambarkan sebuah pengalaman dalam bentuk cerita. Oleh karena itu, salah satu syarat agar cerpen dianggap berhasil yaitu bagaimana membawa pembacanya memasuki pengalaman cerita itu.
Semua cerita pada dasarnya memiliki sebuah pola atau struktur bentuk. Struktur ini melibatkan berbagai macam unsur yang membentuk suatu kesatuan atau satu keutuhan. Struktur sebuah cerita secara mudah dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yaitu (1) bagian permulaan, (2) bagian tengah, dan (3) bagian akhir. Struktur bentuk cerita itulah yang pada akhirnya membentuk sebuah tatanan yang disebut alur atau plot

Pengertian dan Ciri Cerita Remaja

Kurikulum sastra sekolah menengah perlu menyediakan ruang untuk sastra yang diproduksi oleh remaja, sastra yang diucapkan dengan gaya remaja, dan sastra yang dipenuhi oleh tema-tema dunia remaja. Sudah waktunya, pengertian dan ruang lingkup sastra di sekolah menengah diperluas, sehingga tidak didominasi oleh kategori-kategori sastra kanonik atau sastra adiluhung.
Sastra remaja adalah hasil karya sastra yang menampilkan permasalahan remaja dan berusaha untuk memenuhi selera remaja. Tema atau permasalahan yang diangkat, tokoh-tokoh, serta gaya bahasanya disesuaikan dengan selera dan dunia remaja. Ada beberapa istilah untuk menyebut sastra remaja, antara lain chicklit (akronim dari chick literature) dan teenlit (akronim dari teen literature), yang dapat diartikan sebagai literatur remaja. .
Cerita remaja mempunyai ciri-ciri tersendiri sesuai dengan selera penikmatnya. Tidak ada pengarang cerita remaja yang sanggup berkarya dengan mengabaikan dunia remaja. Dunia remaja tidak dapat diremehkan dalam proses kreatif penciptaan sastra remaja. Oleh karena itu, walaupun cerita remaja diciptakan oleh orang dewasa, seolah-olah cerita tersebut merupakan ekspresi diri remaja lewat idiom-idiom bahasa remaja.

Jenis-jenis Cerita Remaja
Berdasarkan persoalan yang digambarkan, cerita remaja dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu (1) cerita detektif, (2) cerita petualangan, dan (3) cerita drama percintaan atau kehidupan keluarga. Ketiga kelompok jenis cerita tersebut tidaklah terpisah satu sama lain, melainkan dapat bertumpang tindih.
Cerita detektif adalah cerita yang berisi mengenai berbagai usaha pelacakan dan penyingkapan terhadap berbagai macam kemungkinan objek tertentu yang tidak mudah tertangkap secara inderawi. Sesuai dengan kemung¬kinan makna di atas, di dalam cerita detektif terdapat beberapa unsur yang penting. Pertama, orang yang melakukan pelacakan. Kedua, objek yang dilacak. Ketiga, faktor-faktor yang menyebabkan tersembunyinya objek yang dilacak. Keempat, alat-alat atau cara-cara yang ditempuh dalam proses pelacakan sehingga berbagai faktor yang menyebabkan tersembunyinya objek yang bersangkutan dapat diatasi.
Petualangan merupakan kata benda abstrak dari kata kerja berpetualang, segala hal yang bersangkutan dengan kegiatan bertualang. Bertualang sendiri berarti tindakan yang dilakukan untuk mengalami hal-hal yang belum diketahui, belum dialami, yang luar biasa, mengejutkan, menakutkan, atau yang mengandung bahaya. Sebagaimana halnya dalam cerita detektif, dalam cerita petualangan akan selalu terdapat tokoh hang berpetualang. Ada daerah atau objek petualangan. Adanya rintangan-rintangan di dalam dan di sekitar objek petualangan. Ada cara mengatasi tantangan itu.
Cerita drama berusaha menciptakan keterlibatan emosional atau perasaan pembaca, mengajak pembaca ikut merasakan kebahagiaan atau kesedihan hati tokoh-tokoh cerita. Persoalan utama dalam cerita detektif berkisar pada masalah tahu atau tidak tahu, persoalan utama dalam cerita petualangan adalah hidup atau mati, malu atau terhormat, persoalan utama dalam cerita drama adalah bahagia atau menderita. Oleh karena menyangkut bahagia atau derita, gembira atau sedih, cerita drama tidak mengenal hubungan antara subjek dengan objek, subjek yang mendeteksi dan objek yang dideteksi, subjek yang berpetualang dan objek petualangan. Hubungan dalam drama cenderung intersubjektif, yaitu hubungan antara subjek dengan subjek lain.

Mereproduksi Cerita
Ringkasan (precis) adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat. Oleh karena ringkasan bertolak dari penyajian suatu karya asli secara singkat, pembuatan ringkasan merupakan suatu keterampilan melakukan kegiatan reproduksi.
Seorang pengarang atau penulis ringkasan harus berbicara atau bertutur dalam suara pengarang asli. Oleh sebab itu, pengunaan kata dalam memulai menulis ringkasan harus diperhatikan. Penulis ringkasan dapat secara langsung mulai dengan merangkai intisari cerita dalam kalimat, alinea, dan bagian yang dianggap penting.
Tujuan utama membuat ringkasan cerita yaitu sebagai salah satu sarana untuk mengetahui dan memahami isi sebuah buku atau karya cerkan. Dengan membuat ringkasan, sebenarnya kita sedang mempelajari bagaimana seorang penulis yang baik menyusun karangannya, bagaimana ia menyamaikan gagasan gagasan dalam bahasa dan susunan yang baik, bagaimana ia dapat menampilkan permasalahan sekaligus memecahkan masalah tersebut, dan sebagainya.

Cerita-Ulang Cerita
Penceritaan adalah pemindahan cerita atau penyampaianya kepada penyimak atau pendengar. Terdapat perbedaan besar antara pembacaan dengan penyampaian cerita. Penceritaan atau bercerita yang baik akan menyebarkan ruh baru yang kuat dan menampakkan gambaran yang hidup di hadapan pendengar. Memberikan potret yang jelas dan menarik, intonasi, gerakan-gerakan, dan emosinya. Ia dapat menghidupkan setiap tokoh dengan karakter seperti yang dituntut dalam cerita.
Kita menganggap bahwa bercerita dengan cara yang baik, rata-rata, adalah sesuatu yang lebih bersifat alami daripada dibuat-buat. Namun, kita juga hendaknya tidak melupakan manfaat dari latihan dan belajar dalam mengusahakan metode yang tepat. Untuk itu, membaca petunjuk-petunjuk yang tertulis saja tidak cukup. Harus ditambah pula dengan praktek dan melampaui pengalaman dalam waktu yang tidak singkat. Jika guru telah selesai bercerita dengan memperhatikan poin-poin terdahulu, maka guru dapat meminta para siswa untuk mengungkap ulang cerita dengan salah satu cara – dan banyak cara – pengungkapan cerita.
Buku sumber Cerita Rekaan Karya Prof. Dr. Suminto A. Sayuti

Baca Artikel Lain

Konsep Diri;>>>> Baca

Sosiologi Konsumsi Apa itu?;>>> Baca

Krisis dalam Organisasi/perusahaan;>>>>>>>> Baca

Komunikasi Persuasif dalam Iklan;>>>>>>>> Baca

Kumpulan Link Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s