Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia

Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia

 

 

Sanggar bahasa dan sastra Indonesia adalah kegiatan yang mempelajari, mengkaji, memproduksi, dan mengkreasikan bahasa dan sastra Indonesia dalam berbagai ragam dan tujuan. Kegiatan yang berkaitan dengan bahasa Indonesia misalnya majalah sekolah, majalah dinding, penyuntingan bahasa, kepewaraan, dan pidato. Kegiatan yang berkaitan dengan sastra Indonesia misalnya apresiasi puisi, apresiasi cerpen, drama radio, dan drama panggung.
Secara garis besar, fungsi sanggar bahasa dan sastra Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua fungsi: (1) sosial dan (2) personal atau individual. Sanggar bahasa dan sastra Indonesia berfungsi sosial: (a) menjadi alat pemersatu warga sekolah, (b) alat berkomunikasi, (c) alat edukatif. Dalam kaitannya dengan fungsi personal individual, sanggar bahasa dan sastra Indonesia berfungsi ekspresif, regulatori, referensial, heuristik, estetik, dan kreatif.
Ada berbagai tujuan sanggar bahasa dan sastra Indonesia. Tujuan ini meliputi aspek kognitif (pengetahuan), psikomotor (keterampilan), dan afektif (sikap). Tujuan ini dibedakan atas jangka pendek dan jangka panjang.
Tujuan jangka pendek sanggar bahasa dan sastra Indonesia adalah membina siswa dan guru (atau warga sekolah lainnya) untuk mengetahui dan aktif dalam mengelola kegiatan bahasa Indonesia, misalnya majalah sekolah, majalah dinding, penyuntingan, kepewaraan, dan pidato. Selain itu, sanggar bahasa dan sastra Indonesia bertujuan untuk membina siswa dan guru (atau warga sekolah lainnya) untuk mengetahui dan aktif dalam mengelola kegiatan sastra Indonesia misalnya apresiasi puisi, apresiasi cerpen, drama radio, dan drama panggung.
Tujuan jangka panjang sanggar bahasa dan sastra Indonesia adalah sebagai sarana untuk menumbuhkan kreativitas, jiwa mandiri, kritis siswa dan guru (atau warga sekolah lainnya).
Sasaran pengelolaan sanggar bahasa dan sastra Indonesia adalah (1) siswa, (2) guru bahasa dan sastra Indonesia, (3) penutur asli bahasa Indonesia, dan (4) pemakai bahasa Indonesia sebagai bahasa asing.
Ruang lingkup kegiatan sanggar bahasa dan sastra Indonesia meliputi kegiatan produksi dan kreasi bahasa dan sastra Indonesia. Adapun materi sanggar meliputi (1) majalah sekolah, (2) majalah dinding, (3) penyuntingan bahasa, (4) kepewaraan, (5) pidato, (6) apresiasi puisi, (7) apresiasi cerpen, (8) drama radio, dan (9) drama panggung.

Aktivitas Produktif dan Kreatif dalam Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia
Aktivitas produktif dan kreatif merupakan ciri khas sanggar bahasa dan sastra Indonesia. Aktivitas produktif dalam sanggar bahasa dan sastra Indonesia mengharuskan adanya aktivitas yang menghasilkan karya bahasa dan sastra Indonesia. Hasil ini harus bermanfaat baik bagi diri siswa, guru, kepala sekolah, pegawai sekolah, maupun masyarakat pada umumnya. Di dalam sanggar semua yang terlibat juga harus kreatif.
Orang-orang yang terlibat dalam sanggar bahasa dan sastra Indonesia harus kreatif. Mereka merupakan orang-orang kreatif yang mempunyai ide atau produk kreatif, selalu berproses kreatif dan terlibat dalam lingkungan kreatif.
Sanggar bahasa dan sastra Indonesia dikembangkan berdasarkan beberapa prinsip. Prinsip itu adalah (a) berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta sanggar dan lingkungannya; (b) beragam; (c) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (d) relevan dengan kebutuhan kehidupan; (d) menyeluruh dan berkesinambungan; (e) belajar sepanjang hayat.
Dalam pelaksanaan sanggar bahasa dan sastra Indonesia menggunakan beberapa prinsip. Prinsip itu adalah (a) didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta sanggar untuk menguasai potensi yang berguna bagi dirinya; (b) dilaksanakan dengan menegakkan lima pilar belajar; (c) memungkinkan peserta sanggar mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta; (d) dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta sanggar yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat; (e) dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar; (f) dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan secara optimal.

Penulisan Berita, Feature, dan Artikel untuk Majalah Sekolah

Majalah sekolah adalah majalah yang diterbitkan di sebuah sekolah. Secara umum isi majalah sekolah dapat digo¬longkan ke dalam tiga kelompok besar: (1) berita (news), (2) opini (views), dan (3) iklan (advertising).
Berita dapat dikelompokkan atas berita langsung, berita foto, berita suasana ber¬warna, berita menyeluruh, berita mendalam, berita penafsiran, dan berita penyelidikan. Opini dapat dikelompokkan atas tajuk rencana atau editorial, karikatur, pojok, artikel, kolom, dan surat pembaca.
Berita majalah sekolah dapat diartikan sebagai cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat; kabar; laporan di dalam majalah sekolah. Secara umum aspek penentu nilai berita itu adalah aspek: waktu, jarak, penting/ternama, akibat/dampak, keluarbiasaan, pertentangan/komplek, kemajuan/kebaruan, kemanusiawian, dan humor. Struktur berita terdiri atas judul (headline), teras (lead), dan tubuh berita (body). Berita lebih banyak disajikan dalam bentuk piramida terbalik; bentuk penulisan berita dari paragraf yang penting informasinya sampai ke paragraf akhir yang kurang penting informasinya. Bentuk semacam ini memberi kemu¬dahan baik kepada pembaca, wartawan, maupun kepada redaktur.
Feature adalah tulisan yang biasa disebut kisah atau karangan khas yang isinya tentang suatu peristiwa atau permasalahan kehidupan yang menarik ditinjau dari sisi tertentu. Feature disajikan secara kreatif, santai, ringan, menghibur, ka¬dang kadang subjektif. Penyajian permasalahan dalam feature bersifat tidak formal. Ada beberapa jenis feature yang dimuat di majalah. Jenis feature itu adalah feature human interes, sejarah, biografi, perjalanan, petunjuk, dan ilmiah. Struktur feature terdiri atas judul (headline), teras (lead), dan tubuh berita (body). Beberapa ciri feature yaitu adanya unsur: kreativitas, subjektivitas, informatif, dan menghibur.
Artikel majalah sekolah adalah tulisan yang dimuat di majalah sekolah yang berisi pendapat seseorang atau kelompok yang membahas tuntas suatu masalah yang menari, aktual, atau kontroversial dengan tujuan untuk memberi tahu, memengaruhi dan meyakinkan, atau menghibur pembaca.
Ada beberapa karakteristik artikel majalah sekolah. Pertama, artikel ditulis dengan atas nama seseorang atau beberapa orang. Kedua, artikel menyajikan gagasan yang menarik, aktual, atau kontroversial. Ketiga, masalah yang diangkat harus menyangkut kepentingan sebagian besar pembaca. Keempat, disajikan dalam bahasa yang komunikatif, segar, dan populer. Kelima, panjang artikel sekitar 1-3 halaman kuarto (untuk majalah sekolah) dan 4-6 halaman kuarto (untuk surat kabar). Keenam, artikel disajikan secara singkat tetapi dibahas secara tuntas. Ketujuh, isinya berupa pandangan subjektif penulisnya. Kedelapan, gagasan yang disampaikan merupakan gagasan asli penulisnya.

Penyuntingan Tulisan Berita, Feature, dan Artikel Majalah Sekolah

Penyuntingan terhadap tulisan dalam majalah sekolah meliputi segi isi, bahasa, dan ejaan. Isi tulisan akan disunting dari (a) kebenaran fakta atau data yang disajikan, (b) urutan peristiwa, (c) sumber berita, (d) struktur tulisan. Penyuntingan dari segi bahasa harus sesuai dengan ciri bahasa jurnalistik. Ciri utama bahasa jurnalistik di antaranya sederhana, singkat, padat, singkat, jelas, jernih, menarik, demokratis, meng¬utamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari penggu¬naan kata atau istilah istilah. teknis, dan tunduk kepada kaidah serta etika bahasa baku. Penggunaan ejaan dalam majalah sekolah harus benar. Kesalahan tanda baca akan mengubah arti sebuah pernyataan.

Pengorganisasian dan Pengatakan Majalah Sekolah

Organisasi majalah sekolah meliputi tujuan pembinaan majalah sekolah dan manajemen majalah sekolah. Majalah sekolah merupakan wadah untuk menampung kreativitas siswa dan guru, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Majalah sekolah juga bisa digunakan siswa dan guru sebagai media belajar dan sumber belajar.
Kegiatan manajemen majalah sekolah bisa dipilah atas planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan), controlling (pengendalian) majalah sekolah. Kegiatan ini dilakukan oleh penanggung jawab, pembina, dan redaktur majalah sekolah.
Penerbitan majalah sekolah di bawah tanggung jawab kepala sekolah. Pembina majalah sekolah adalah guru yang menangani urusan kesiswaan. Redaktur adalah orang yang menangani, memilih, dan menyusun tulisan atau bahan yang akan dimasukkan ke dalam majalah sekolah. Redaktur majalah sekolah terdiri atas pemimpin redaksi, dewan redaksi, redaksi pelaksana. Pemimpin dan dewan redaksi dipegang oleh guru atau siswa. Sedangkan redaksi pelaksana dipegang oleh siswa. Selain itu, diperlukan bagian sirkulasi atau distribusi dan alamat radaksi.
Pengatakan artinya proses, pembuatan, cara mengatak. Sebagai istilah, pengatakan dapat diartikan sebagai proses, pembuatan, pengaturan, penataan berita dan huruf dalam majalah sekolah. Unsur-unsur pengatakan majalah sekolah adalah teks, gambar, jenis huruf, latar, warna, dan urutannya. Model pengatakan ini berkaitan dengan ukuran, urutan, dan perwajahan setiap halaman majalah sekolah

Penulisan Berita, Feature, dan Artikel untuk Majalah Dinding

Majalah dinding adalah majalah yang ditempelkan di dinding. Yang dimuat di majalah dinding bisa berasal dari tulisan siswa sendiri, bisa juga mengambil dari majalah, surat kabar, internet, atau sumber-sumber lain. Dahulu, majalah dinding berbentuk empat persegi dan dua dimensi. Sekarang, muncul kecenderungan baru, majalah dinding yang berbentuk tiga dimensi, dengan bentuk bermacam-macam. Secara umum isi majalah dinding dapat digo¬longkan ke dalam tiga kelompok besar: (1) berita (news), (2) opini (views), dan (3) iklan (advertising).
Berita majalah dinding dapat dikelompokkan atas berita langsung, berita foto, berita suasana ber¬warna, berita menyeluruh, berita mendalam, berita penafsiran, dan berita penyelidikan. Opini dapat dikelompokkan atas tajuk rencana atau editorial, karikatur, pojok, artikel, kolom, dan surat pembaca.
Berita majalah dinding dapat diartikan sebagai cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat; kabar; laporan di dalam majalah dinding. Secara umum, aspek penentu nilai berita adalah aspek waktu, jarak, penting/ternama, akibat/dampak, keluarbiasaan, pertentangan/kompleks, kemajuan/kebaruan, kemanu-siawian, dan humor.
Struktur berita terdiri atas judul (headline), teras (lead), dan tubuh berita (body). Berita lebih banyak disajikan dalam bentuk piramida terbalik; bentuk penulisan berita dari paragraf yang penting informasinya sampai ke paragraf akhir yang kurang penting informasinya. Bentuk semacam ini memberi kemu¬dahan, baik kepada pembaca, wartawan, maupun kepada redaktur.
Feature majalah dinding adalah tulisan yang biasa disebut kisah atau karangan khas yang isinya tentang suatu peristiwa atau permasalahan kehidupan yang menarik ditinjau dari sisi tertentu yang dimuat di majalah dinding. Feature disajikan secara kreatif, santai, ringan, menghibur, ka¬dang kala subjektif. Penyajian permasalahan dalam feature bersifat tidak formal. Ada beberapa jenis feature yang dimuat di majalah. Jenis feature itu adalah feature human interes, sejarah, biografi, perjalanan, petunjuk, dan ilmiah. Struktur feature terdiri atas judul (headline), teras (lead), dan tubuh berita (body). Beberapa ciri feature, yaitu adanya unsur: kreativitas, subjektivitas, informatif, dan menghibur.
Artikel majalah dinding adalah tulisan yang dimuat di majalah dinding yang berisi pendapat seseorang atau kelompok yang membahas tuntas suatu masalah yang menarik, aktual, atau kontroversial dengan tujuan untuk memberi tahu, memengaruhi dan meyakinkan, atau menghibur pembaca. Artikel dapat dibedakan atas beberapa macam, antara lain artikel praktis, artikel ringan, artikel halaman opini, dan artikel analisis ahli.
Ada beberapa karakteristik artikel majalah dinding. Pertama, artikel ditulis dengan atas nama seseorang atau beberapa orang. Kedua, artikel menyajikan gagasan yang menarik, aktual, atau kontroversial. Ketiga, masalah yang diangkat harus menyangkut kepentingan sebagian besar pembaca. Keempat, disajikan dalam bahasa yang komunikatif, segar, dan populer. Kelima, panjang artikel sekitar 1-2 halaman kuarto dan ditulis 1,5 spasi. Keenam, artikel disajikan secara singkat tetapi dibahas secara tuntas. Ketujuh, isinya berupa pandangan subjektif penulisnya. Kedelapan, artikel itu bisa berupa gagasan asli penulisnya; bisa juga berupa artikel orang lain. Bila artikel itu artikel orang lain maka pemuatannya di majalah dinding harus menyebutkan sumber artikel itu.

Pengorganisasian dan Pengatakan Majalah Dinding

Organisasi majalah dinding meliputi (a) tujuan pembinaan majalah dinding dan (b) manajemen majalah dinding. Majalah dinding merupakan wadah untuk menampung kreativitas siswa dan guru, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Majalah dinding juga bisa digunakan siswa dan guru sebagai media belajar dan sumber belajar.
Kegiatan manajemen majalah dinding bisa dipilah atas planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan), controlling (pengendalian) majalah dinding. Kegiatan ini dilakukan oleh penanggung jawab, pembina, dan redaktur majalah dinding.
Penerbitan majalah dinding di bawah tanggung jawab kepala sekolah. Pembina majalah dinding adalah guru yang menangani urusan kesiswaan. Redaktur adalah orang yang menangani, memilih, dan menyusun tulisan atau bahan yang akan dimasukkan ke dalam majalah dinding. Redaktur majalah dinding terdiri atas pemimpin redaksi, dewan redaksi, redaksi pelaksana. Pemimpin dan dewan redaksi dipegang oleh guru atau siswa. Sedangkan redaksi pelaksana dipegang oleh siswa. Selain itu, diperlukan bagian sirkulasi atau distribusi dan alamat radaksi.
Pengatakan artinya proses, pembuatan, cara mengatak. Sebagai istilah, pengatakan dapat diartikan sebagai proses, pembuatan, pengaturan, penataan berita dan huruf dalam majalah dinding. Unsur-unsur pengatakan majalah dinding adalah teks, gambar, jenis huruf, latar, warna, dan urutannya. Model pengatakan ini berkaitan dengan ukuran, urutan, dan perwajahan majalah dinding

Pewara adalah pembawa acara atau pemandu acara di suatu kegiatan. Dari seorang pewaralah acara itu diatur dan disusun. Kepewaraan adalah hal-hal yang berkenaan dengan masalah pewara.
Ada bermacam-macam kepewaraan. Pengelompokan kepewaraan bisa dilakukan berdasarkan (1) sifatnya, (2) waktunya, dan (3) jenis acaranya, dan strukturnya. Berdasarkan sifatnya, kepewaraan dapat dibedakan atas kepewaraan resmi dan tidak resmi. Kepewaraan resmi adalah kepewaraan yang dilaksanakan di dalam acara resmi. Dalam acara resmi, semua urutan acara dan apa yang harus dilakukan pewara sudah ditentukan. Kepewaraan tidak resmi adalah kepewaraan yang dilaksanakan di dalam acara tidak resmi. Dalam acara tidak resmi, semua urutan acara dan apa yang harus dilakukan pewara tidak ditentukan secara pasti. Berdasarkan waktunya, kepewaraan dapat dibedakan atas kepewaraan langsung dan tidak langsung. Kepewaraan langsung adalah kepewaraan yang dilakukan pada saat acara itu berlangsung.
Ada juga kepewaraan yang tidak langsung. Dengan model ini pewara tidak langsung membawakan acaranya. Ia hanya bertugas mengantarkan acara yang akan datang yang sudah bisa diketahui sebelumnya.
Berdasarkan jenis acaranya, antara lain kepewaraan bisa dibedakan atas kepewaraan dalam acara seminar, perkawinan, peringatan Hari Kemerdekaan dan hari besar, antaracara tv, dalam acara tv, pemandu debat, talk-show.
Secara umum, struktur kepewaraan terdiri atas tiga bagian. Ketiga bagian itu adalah (1) pendahuluan, (2) inti, dan (3) penutup.
Faktor yang berpengaruh pada kepewaraan adalah (1) bakat, (2) motivasi, (3) belajar, dan (4) lingkungan.
Ada beberapa persyaratan untuk menjadi seorang pewara yang baik. Syarat itu adalah (1) mau belajar, (2) ingin selalu maju, (3) mengetahui acara yang akan dibawakannya, (4) mengetahui siapa pendengarnya atau pemirsanya, (5) kreatif dan pandai berimprovisasi, (6) mengetahui cara tampil, serta (7) mempunyai sifar humor.

Pidato

Pidato merupakan pengungkapan pesan baik dalam bentuk pikiran, informasi, gagasan, ataupun perasaan dalam bentuk kata-kata dari pembicara kepada orang banyak. Pidato bisa juga diartikan sebagai wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan pendengar.
Berpidato merupakan salah satu bentuk komunikasi, yaitu komunikasi antara pembicara dan pendengar. Komunikasi ini akan lancar bila kedua belah pihak bertindak aktif. Komunikasi ini lebih banyak bersifat satu arah, yaitu dari orang yang berpidato kepada orang yang mendengarkan.
Ada berbagai jenis pidato. Pidato dibedakan atas (1) pidato resmi, (2) pidato tidak resmi, (3) pidato langsung, dan (4) pidato tidak langsung.
Unsur pidato adalah (1) pembicara, (2) pesan, (3) pendengar, (4) waktu berpidato, (5) tempat berpidato, (6) suasana berpidato, (7) media pidato.
Pembicara adalah orang yang menyampaikan pidato. Isi pidato adalah apa yang dibicarakan atau diucapkan oleh orang yang berpidato. Pendengar pidato adalah orang yang mendengarkan pidato seseorang. Waktu, tempat, suasana, dan media berpidato akan berpengaruh terhadap isi atau cara penyampaian pidato.
Cara atau metode berpidato dapat dikelompokkan atas empat jenis. Keempat jenis cara berpidato itu adalah (1) metode mendadak, (2) metode tanpa persiapan naskah lengkap, (3) metode membaca naskah, dan (4) metode menghafal. Masing-masing metode berpidato mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berpidato adalah (1) memiliki keberanian berpidato, (2) mau belajar dan memiliki pengetahuan yang luas, (3) memahami proses komunikasi massa, (4) menguasai bahasa yang baik dan benar, (5) mengatasi kecemasan.
Sebelum berpidato, perlu persiapan. Persiapan itu bisa berupa persiapan fisik, psikologis, dan persiapan teknis.
Persiapan fisik bisa berkenaan dengan pakaian yang dikenakan pembicara; peralatan (naskah, alat peraga seperti tayangan, model, atau membawa perangkat lainnya); juga berkaitan dengan persiapan yang ada pada saat acara berlangsung (cahaya lampu, podium, pelantang, OHP, atau komputer). Persiapan psikologis adalah persiapan yang berkenaan dengan kejiwaan si pembicara.
Beberapa hal yang berkaitan dengan persiapkan teknis sebelum berpidato adalah (1) menentukan maksud pidato, (2) mempelajari pendengar dan situasi, (3) memilih topik, (4) membuat kerangka, (5) mengumpulkan bahan, (6) menguraikan pidato, dan (7) berlatih.
Struktur pidato terdiri atas (1) pembukaan, (2) isi, dan (3) penutup. Pembukaan (a) salam pembuka, (b) ucapan penghormatan, dan (c) rasa syukur kepada Tuhan. Bagian isi adalah bagian inti dari suatu pidato. Pada bagian ini, Pembicara akan menguraikan secara rinci dari materi yang ingin disampaikan kepada pendengar. Penutup pidato dapat diisi dengan (1) simpulan, (b) permintaan maaf, dan (c) salam penutup.

Pengelolaan Kompetisi Apresiasi Puisi

Kompetisi apresiasi puisi adalah perlombaan untuk memperebutkan suatu kejuaraan dalam bidang apresiasi puisi. Ada beberapa bidang yang dilombakan dalam kompetisi apresiasi puisi. Bidang yang sering dilombakan adalah baca puisi, deklamasi puisi, dramatisasi puisi, atau musikalisasi puisi. Bisa juga kompetisi apresiasi puisi berupa lomba cipta puisi.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan direncanakan dalam kompetisi apresiasi puisi. Hal yang dipersiapkan meliputi (1) personalia, (2) administrasi, (3) sarana, dan (4) biaya.
Perencanaan yang berkenaan dengan personalia adalah pembentukan panitia, penentuan juri, penentuan peserta. Panitia kompetisi terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan bidang-bidang. Bidang-bidang yang diperlukan dalam kompetisi paling tidak terdiri atas bidang: sarana, kesekretariatan, hubungan masyarakat, lomba, dokumentasi.
Panitia harus merencanakan administrasi secara matang. Hal-hal yang dipersiapkan adalah surat izin pelaksanaan kompetisi puisi, proposal kegiatan, pengumuman lomba, kain rentang atau baliho, surat kepada peserta, surat kepada juri, surat kepada undangan, surat koordinasi panitia. Pada saat pelaksanaan kompetisi puisi, juga perlu dipersiapkan daftar peserta, puisi yang dilombakan, tata tertib lomba, hak dan kewajiban peserta, hak dan kewajiban juri, sistem lomba dan pemenangnya, waktu perlombaan, sistem dan kriteria penilaian. Setelah perlombaan, perlu dipersiapkan laporan.
Perlu direncanakan sarana yang sesuai dengan kemampuan panitia dan peserta. Pelaksanaan yang baik adalah pelaksanaan yang menggunakan sarana efektif dan efisien.
Perlu ada perencanaan yang matang tentang pembiayaan. Panitia harus bisa menghitung berapa biaya yang diperolehnya dan biaya yang dikeluarkan. Biaya yang dibutuhkan meliputi biaya untuk sarana, administrasi, honorarium juri dan panitia, hadiah, konsumsi, keamanan, dokumentasi, dan biaya tidak terduga. Biaya yang diperoleh bisa dari uang pendaftaran peserta dan sponsor.
Penyelenggaraan kompetisi apresiasi puisi yang baik hendaknya sesuai dengan yang telah digariskan dalam perencanaannya. Sebelum tiba hari penyelenggaraan kompetisi apresiasi puisi, perlu dilakukan pengecekan kembali persiapan petugas di bidang: sarana, kesekretariatan, hubungan masyarakat, lomba, dan dokumentasi.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan kalau mengikuti kompetisi apresiasi puisi. Pertama, perlu mengenal seluk beluk puisi itu. Kedua, mengetahui jenis kompetisi. Ketiga, mengetahui kriteria penilaian masing-masing kompetisi. Keempat, menyiapkan siswa untuk ikut kompetisi.

Pengelolaan Kompetisi Apresiasi Cerpen

Kompetisi apresiasi cerpen adalah perlombaan untuk memperebutkan suatu kejuaraan dalam bidang apresiasi cerpen. Ada beberapa bidang yang dilombakan dalam kompetisi apresiasi cerpen. Bidang yang sering dilombakan adalah baca cerpen dan lomba cipta cerpen. Masing-masing jenis lomba ini mempunyai kriteria yang berbeda.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan direncanakan dalam kompetisi apresiasi cerpen. Hal yang dipersiapkan meliputi (1) personalia, (2) administrasi, (3) sarana, dan (4) biaya.
Perencanaan yang berkenaan dengan personalia adalah pembentukan panitia, penentuan juri, penentuan peserta. Panitia kompetisi terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan bidang-bidang. Bidang-bidang yang diperlukan dalam kompetisi paling tidak terdiri atas bidang sarana, kesekretariatan, hubungan masyarakat, lomba, dokumentasi.
Perlu direncanakan sarana yang sesuai dengan kemampuan panitia dan peserta. Pelaksanaan yang baik adalah pelaksanaan yang menggunakan sarana efektif dan efisien.
Penyelenggaraan kompetisi apresiasi cerpen yang baik hendaknya sesuai dengan yang telah digariskan dalam perencanaannya. Sebelum tiba hari penyelenggaraan kompetisi apresiasi cerpen, perlu dilakukan pengecekan kembali persiapan petugas di bidang: sarana, kesekretariatan, hubungan masyarakat, lomba, dan dokumentasi.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan kalau mengikuti kompetisi apresiasi cerpen. Pertama, perlu mengenal seluk beluk cerpen itu. Kedua, mengetahui jenis kompetisi. Ketiga, mengetahui kriteria penilaian masing-masing kompetisi. Keempat, menyiapkan siswa untuk ikut kompetisi.

Penyelenggaraan Drama Radio

Drama radio termasuk drama baca, yaitu naskah drama yang hanya cocok untuk dibaca, bukan untuk dipentaskan. Penyelenggaraan drama radio dilakukan dengan cara membacakan naskah drama dengan menggunakan media radio.
Drama radio merupakan wadah untuk menampung kreativitas siswa dan guru. Dengan penyelenggaraan drama radio, siswa dan guru dapat (1) memperoleh pengetahuan tentang drama radio; (2) mengembangkan kemampuan berdrama (3) mengembangkan kemampuan berbahasa; (4) mengembangkan imajinasi, (5) mengembangkan perasaan (humor, keindahan, simpati dan empati); (6) menajamkan daya analisisnya terhadap fakta, peristiwa, gejala yang dapat digunakan sebagai bahan untuk menulis naskah drama radio; (7) media belajar dan sumber belajar; (8) media hiburan serta (9) melestarikan ,kebudayaan.
Penyelenggaraan drama radio bagi siswa dan guru bisa berfungsi sebagai hiburan dan alat untuk mengajak pendengar mencapai sesuatu.
Ada beberapa unsur pergelaran drama radio. Secara umum, unsur drama radio bisa dibagi atas tiga hal: (1) unsur orang, (2) unsur pertunjukan, dan (3) unsur teks drama. Orang yang terlibat di pergelaran drama radio adalah penulis naskah, sutradara, pemain, penata elektronik, dan penata musik. Unsur-unsur drama sebagai seni pertunjukan adalah plot, karakterisasi, dan percakapan. Plot dan karakter tidak didasarkan pada penjelasan pencerita, tetapi dibentuk oleh prolog, dialog, monolog, epilog, dan penjelasan narator. Semua itu merupakan unsur utama dan yang dominan dalam drama radio. Unsur-unsur teks drama, yakni tokoh, watak dan penokohan, latar, gaya bahasa, dan tema atau nilai.
Ada beberapa hal yang bisa dipersiapkan dalam penyelenggaraan drama radio. Persiapan penyelenggaraan drama radio meliputi (1) pendahuluan, (2) pelatihan, (3) pelaksanaan, dan (4) evaluasi.
Kegiatan pendahuluan yang perlu dilakukan dalam penyelenggaraan drama radio adalah pemilihan teks drama, sutradara, dan pemain. Pelatihan meliputi pembukaan atau pemanasan (foreplay), inti, dan penutup. Dalam pelaksanaan penyelenggaraan drama radio, mental pemain harus dipersiapkan. Dalam kegiatan evaluasi perlu dilakukan penilaian terhadap hasil penyelenggaraan yang telah dilakukan.
Hal yang bisa dilatihkan dalam penyelenggaraan drama radio adalah (a) olah naskah, (b) olah suara, dan (c) olah imajinasi. Olah naskah adalah upaya memahami isi teks drama. Olah suara adalah keterampilan melafalkan dan mengekspresikan kata, kalimat, dialog. Olah imajinasi adalah pelatihan untuk mengembangkan daya imajinasi pemainnya agar bisa menghayati tokoh yang akan dimainkan di dalam drama.

Penyelenggaraan Drama Panggung

Drama adalah karya sastra yang menceritakan suatu peristiwa yang diwujudkan dalam bentuk dialog-dialog. Drama yang dipentaskan berhubungan dengan seni pertunjukan (teater atau performance). Drama yang dipentaskan disebut juga seni campuran, yaitu campuran antara seni sastra, seni gerak, seni rupa, dan seni musik.
Tujuan drama panggung adalah untuk mengembangkan dan menampung kreativitas siswa dan guru. Dengan penyelenggaraan drama panggung, siswa dan guru dapat (1) memperoleh pengetahuan tentang drama panggung; (2) mengembangkan kemampuan berdrama; (3) mengembangkan kemampuan berbahasa; (4) mengembangkan imajinasi; (5) mengembangkan perasaan (humor, keindahan, simpati dan empati); (6) menajamkan daya analisisnya terhadap fakta, peristiwa, gejala yang dapat digunakan sebagai bahan untuk menulis naskah drama panggung; (7) media belajar dan sumber belajar; (8) media hiburan; (9) melestarikan kebudayaan.
Penyelenggaraan drama panggung bagi siswa dan guru bisa berfungsi sebagai hiburan dan alat untuk mengajak pendengar mencapai sesuatu.
Secara umum unsur drama panggung bisa dibagi atas tiga unsur: (1) orang; (2) pertunjukan; dan (3) teks drama. Orang yang terlibat di drama adalah penulis naskah, sutradara, pemain, pembisik, penata (panggung, busana, has, lampu, dan musik). Unsur-unsur drama sebagai seni pertunjukan adalah plot, karakterisasi, dialog, tata artistik, dan gerak. Unsur-unsur teks drama yakni tokoh, watak dan penokohan, latar (setting), gaya bahasa, dan tema atau nilai.
Hal yang bisa dilatihkan dalam penyelenggaraan drama antara lain (1) olah suara; (2) olah tubuh; (3) olah imajinasi. Olah suara adalah pelatihan untuk mengolah suara agar sesuai dengan tuntutan drama. Olah tubuh adalah pelatihan gerak tubuh agar pemain lentur dan siap bergerak sesuai dengan tuntutan naskah drama. Olah tubuh meliputi gerak wajah dan gerak tubuh. Olah imajinasi adalah pelatihan untuk mengembangkan daya imajinasi pemainnya agar bisa menghayati tokoh yang akan dimainkan.
Persiapan pementasan drama panggung meliputi (1) pendahuluan; (2) pelatihan; (3) pelaksanaan; (4) evaluasi. Kegiatan pendahuluan adalah kegiatan pemilihan teks drama, sutradara, pemain, dan penyusunan buku kerja. Pelatihan meliputi pembukaan atau pemanasan (foreplay), inti, dan penutup. Kegiatan pemanasan meliputi kegiatan berdoa, olah suara, olah tubuh, dan olah imajinasi. Kegiatan inti bisa berupa kegiatan menghafal dialog atau percakapan, berlatih ekspresi, berlatih gerak tubuh, berlatih menata posisi di panggung sesuai dengan naskah drama dan buku kerja. Di sisi lain, penata (panggung, busana, rias, lampu, dan musik) ikut merancang bagian mereka yang sesuai dengan permainan drama. Kegiatan penutup berupa penenangan, diskusi, dan berdoa.
Dalam pelaksanaan penyelenggaraan drama panggung, mental pemain harus dipersiapkan. Dalam kegiatan evaluasi perlu dilakukan penilaian terhadap hasil penyelenggaraan yang telah dilakukan.
Sumber Buku Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia Karya Wahyudi Siswanto

Baca Artikel Lain

Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran Pkn;>>>> Baca

Teory Biaya Produksi;>>>> Baca

Penyuntingan;>>> Baca

Seluk Beluk Drama Di Indonesia;>>>>>>>> Baca

Hak Anak Di Sekolah Dasar;>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

4 Comments

  1. saya memerlukan buku: Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia Karya Wahyudi Siswanto, di toko buku, dan perpustakaan di Surabaya tidak ada; di mana saya bisa mendapatkannya, kalau seandainya terpaksa fotocopy-an pun saya mau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s