Menilai Pemimpin Kita

Menilai Pemimpin Kita


Oleh Badjoeri Widagdo
Staf ahli Mentrans dan PPH

Pertanyaan penting yang menggugah akal sehat kita adalah, kepemimpinan seperti apa yang kita perlukan di masa yang akan datang? Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, kita bisa saja menderetkan persyaratan, kualifikasi, bahkan membedah kepemimpinan ke dalam aneka tipologi atau sub-tipologi untuk kemudian dikontraskan dengan realitas masyarakat ,termasuk persoalan dan harapan-harapannya.

Tetapi argumen yang sejauh tadi dikemukakan, mengandaikan jawaban bagi kepemimpinan di masa yang akan datang tidaklah ditentukan atau terletak pada pertanyaan di atas, tetapi pada usaha serius kita bersama untuk mengembalikan, memperlakukan dan sekaligus menilai kepemimpinan dalam maknanya seperti yang sudah dijelaskan di atas. Pada gilirannya diperlukan pembina dan wadah pembinaan serius dalam membangun national character building.

Publikasi Menyesatkan

Selama ini kita telah banyak disesatkan untuk menilai pemimpin dari publisitas yang dinikmatinya, bukan dari karya-karya riilnya dalam menemukan, memperkuat dan meningkatkan kualitas motif dan tujuan kolektif yang dipimpinnya. Tegasnya adalah bahwa tujuan pertama dari kepemimpinan adalah kemampuannya membawa ke arah kesadaran masyarakat tentang vision, mission, sense tentang kebutuhan, value dan tujuan-tujuan bersama mereka, dan bukannya ke arah kebesaran pemimpin itu sendiri. Inilah batu ujian moral kepemimpinan yang harus dilewati oleh setiap pemimpin sebelum ia patut mendapatkan predikat sebagai pemimpin.

Dalam keseharian, kita memang telah banyak didominasi kepemimpinan yang oleh Burns dirumuskan sebagai tipe transaction. Hubungan antara kebanyakan pemimpin dan yang dipimpin berjalan dalam kerangka transaksi. Ada kesan bahwa seorang pemimpin mendekati pengikutnya dalam kerangka untuk mempertukarkan sesuatu dengan yang lain; Uang dipertukarkan dengan dukungan suara misalnya, atau dengan proyek, jabatan dan lainnya. Pekerjaan dipertukarkan dengan dukungan suara dan loyalitas dipertukarkan dengan uang, janji dan sebagainya. Karenanya muncullah apa yang disebut sebagai money politics. Akibatnya kita kekurangan kepemimpinan bertipe transforming di mana pemimpin itu seharusnya menyadari dan sekaligus berusaha mengeksploitasi kebutuhan dan tuntutan-tuntutan masyarakat, dan bukannya tuntutan pemuasan diri sendiri.

Mengapa orang tidak bisa hidup sebagai pengikut? Jawabannya sangat sederhana, karena kepemimpinan telah dipraktekkan sebagian properties sebagai thing atau sebagai benda. Karenanya, untuk menjadi pemimpin yang baik, belajarlah jadi pengikut yang baik.

Ketika kita berorientasi kepada reformasi menyadari bahwa kepemimpinan adalah bagian dari dinamika konflik dan kekuasaan, disadari pula semuanya baik ia pemimpin atau bukan, bahwa kepemimpinan bukanlah kepemilikan. Ia merupakan produk dari proses interaksi yang mempertemukan visi, misi, tujuan dan lain-lain dari masyarakat yang menjadi pengikutnya dengan harapan-harapan dan tujuan-tujuan yang dimiliki pemimpin itu sendiri.

Kita harus berani melihat bahwa kepemimpinan hanya akan menemukan maknanya apabila ia terkait dengan tujuan-tujuan bersifat kolektif yang melibatkan sang pemimpin dan pengikutnya. Kita telah terlampau sering dihadapkan pada kenyataan bahwa kepemimpinan, banyak dilepaskan dari konteks organisasi dengan tujuan-tujuan kolektif yang bersifat umum. Kepemimpinan akhirnya dilihat dan menjadi pelayanan bagi diri sendiri, sedangkan tujuan-tujuan bersama justru dimanfaatkan sebagai alat legitimasi yang tak punya nilai moral apa pun.

Lebih dari itu seharusnya pemimpin dapat memahami pada motif-motif potensial dari masyarakat, berusaha untuk menemukan kebutuhan yang lebih mendasar dan melibatkan secara utuh pengikutnya. Hasil dari bekerjanya kepemimpinan transforming adalah terjadinya hubungan stimulasi timbal-balik dan elevasi yang membuka kemungkinan bagi para pengikut untuk menjadi pemimpin dan pada saat yang bersamaan mengkonversi pemimpin menjadi moral agent. Pemimpin dengannya, adalah mereka yang pada tingkat tertinggi mampu menciptakan pemimpin lain-lain.

Pada tingkat ini, kita tidak lagi sedang berbicara soal kepemimpinan, tapi moral kepemimpinan. Konsep moral kepemimpinan tersebut mengasumsikan pada tiga hal mendasar. Pertama, Pemimpin dan mereka yang dipimpin tidak semata-mata dipertautkan oleh hubungan kekuasaan, tetapi oleh visi, misi, kebutuhan, aspirasi dan nilai dari kedua belah pihak dan tujuan bersama. Kedua, dalam merespon seorang pemimpin, pengikut memiliki pengetahuan yang memadai mengenai berbagai alternatif memimpin dan program yang ada. Juga memiliki kapasitas untuk memilih di antara alternatif-alternatif yang tersedia. Oleh karena itu pemimpin bertanggung jawab atas komitmennya. Jika seorang pemimpin menjanjikan sesuatu pada para pengikutnya, maka ia wajib bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Hal terakhir ini, tampaknya sederhana. Tetapi kalau kita mau sabar mendengar, maka akan dengan mudah kita menangkap suara sayup-sayup di tengah masyarakat kita yang mengungkapkan kebangkrutan kebanyakan pemimpin ketika dikonfrontasikan dengan komitmen janji-janjinya sendiri. Kita hidup dalam masyarakat era reformasi di mana cukup banyak pemimpin yang sangat piawai dalam mengobral janji, tapi hampir senantiasa gagal dalam mewujudkannya secara berarti.

Kita perlu menyadari bahwa moral kepemimpinan senantiasa tumbuh dan akan kembali pada visi, misi, keinginan, kebutuhan, aspirasi dan nilai-nilai yang fundamental dari masyarakat yang dipimpinnya. Dalam jargon politik hal ini sering dirumuskan baik sebagai kepemimpinan yang aspiratif ataupun sebagai kepemimpinan yang demokratis. Tanpa ini, kepemimpinan kehilangan legitimasinya.

Kepemimpinan adalah sesuatu yang visioner, rasional, kolektif dan bertujuan. Dengan rumusan seperti itu, memang sangat mudah bagi kita untuk menyimpulkan seakan-akan kepemimpinan adalah kata lain dari kekuasaan. Karena perlu diungkapkan, bahwa memang sama halnya dengan kekuasaan, kepemimpinan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tetapi jangkauan dan domain dari kepemimpinan, lebih terbatas jika dikontraskan dengan jangkauan dan domain dari kekuasaan. Kepemimpinan tidak memanipulasi motif-motif para follower-nya, seperti yang sangat mungkin berlaku di lahan kekuasaan. Pemimpin memimpin manusia, bukan memimpin benda. Kita tidak membutuhkan kepemimpinan untuk mengontrol benda. Dan seperti yang telah dibuktikan oleh sejarah peradaban politik di hampir semua bangsa, terdapat godaan dan kemungkinan yang sangat besar bagi pemilik kekuasaan untuk tega memperlakukan manusia sebagai benda.

Di sinilah bedanya antara kepemimpinan dan kekuasaan. Bangsa Indonesia yang kita cintai ini tentu membutuhkan leadership untuk memimpin manusia. Seorang pemimpin tak pernah akan punya keberanian moral dan kesengajaan untuk memperlakukan para pengikutnya manusia ___ sebagai benda.

Beberapa catatan yang mungkin perlu dipahami bersama untuk membenahi diri sebagai pemimpin yang profesional dan berkarakter sehubungan dengan moral kepemimpinan adalah: Pertama, kepemimpinan sudah saatnya disosialisasikan, dimengerti, diperlukan dan dibina bukan semata-mata sebagai harta milik atau aktivitas dan multitude dari yang dipimpin. Kedua, sudah saatnya kita menyadari bahwa dalam konsep kepemimpinan, interaksi antara pemimpin dengan pengikutnya dipertemukan oleh adanya visi, misi, kesatuan motivasi dan tujuan dari keduanya, bukan merupakan hubungan manipulatif-eksploitatif yang sangat jamak kita jumpai dalam hubungan kekuasaan seperti umumnya terjadi. Ketiga, sudah saatnya kita menyadari bahwa kebanyakan dari motivasi dan tujuan-tujuan di atas adalah umum bagi kebanyakan manusia dalam mayoritas kebudayaan.

Dengan kata lain, terdapat elemen yang bersifat universal dalam setiap konseptualisasi tentang kepemimpinan. Karena itu, visi dalam kepemimpinan, diharapkan bisa memberikan sedikit pemahaman bahwa kepemimpinan sebagai sebuah konsep ____apalagi ketika ia ditempatkan dalam konteks moral tidak bisa dipagari apalagi dibedakan pada tingkat substansi oleh perbedaan level dan segmen analisis yang diambil. Kualifikasi, terutama pada tingkat moral, yang dituntut untuk menjadi bagian sah dari konsep kepemimpinan, akhirnya akan mem-bypas jenjang, segmentasi, dan bahkan waktu

Sumber harian Republika, Jumat 22 Oktober 1999.

Baca Artikel Lain

Apakah Anak Saya Bermasalah ?;>>>> Baca

Komunikasi Dan Self-disclosure;>>>> Baca

Apakah Anak Saya Bermasalah ?;>>>>>>>> Baca

Perkembangan Intelektual dan Emosional Anak;>>>>>>>> Baca

Kumpulan Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s