Fungsi Self-Disclosure

Fungsi Self-Disclosure


1. Pengetahuan tentang Diri
Seperti saat kita membangun dan membaca konsep diri yang membutuhkan orang lain, begitu juga halnya saat kita berusaha memahami siapa diri kita. Kita membutuhkan orang lain. Dengan melakukan self-disclosure kita bisa memahami diri kita secara lebih baik atau memandang diri kita dengan perspektif yang baru
2. Kemampuan Mengatasi Masalah
Kita kembali saja pada Kisah Ica di atas. Self-disclosure yang dilakukannya memberi manfaat meningkatkan kemampuannya dalam mengatasi masalah yang dihadapinya yakni rasa bersalah sekaligus rasa malu dan benci terhadap orang yang berbuat salah terhadap Ica. Kawan Ica ternyata memberikan dukungan pada Ica, bukan menyalahkan Ica, setelah Ica melakukan self-disclosure.
3. Pelepasan Energi
Di sini juga kita bisa kembali pada kisah Ica di atas. Ica lama-lama tidak tahan menghabiskan energi untuk menyimpan rahasianya. Ica melakukan self-disclosure sehingga energi yang biasa digunakan untuk menyimpan rahasia itu dipergunakan untuk hal lain yang dipandang akan lebih bermanfaat bagi kehidupan Ica. Di sini, self-disclosure membuat Ica merasa terlepas dari beban yang menghimpitnya sehingga memiliki kesempatan untuk melakukan tindakan tanpa dihantui atau dihimpit beban tersebut
4. Meningkatkan Efektivitas Komunikasi
Dengan self-disclosure membuat orang lain lebih memahami diri kita dan kita pun lebih memahami orang lain. Kondisi saling memahami diri lawan komunikasi merupakan salah satu prasyarat untuk membangun efektivitas komunikasi. Oleh karena itu, self-disclosure menjadi sangat penting dalam upaya kita membangun komunikasi yang efektif itu.
5. Membangun Hubungan yang Bermakna
Apabila dua orang yang berhubungan baik melakukan self-disclosure maka keterbukaan, kejujuran dan ketulusan akan bisa berkembang. Hubungan di antara kedua orang itu tidak sekadar hubungan fungsional melainkan hubungan yang personal. Hubungan personal yang dilandasi kejujuran, ketulusan, dan keterbukaan itu tentunya akan membangkitkan makna tersendiri. Hal tersebut bisa terjadi manakala pihak-pihak yang berhubungan saling melakukan self-disclosure. Komunikasi antarpribadi yang dibangun keduanya pun menjadi komunikasi yang bermakna, yakni komunikasi yang memungkinkan pertukaran gaul, pertukaran kata, pertukaran pikiran, dan pertukaran hati seperti yang diuraikan Yoseph (1986:42).
6.Kesehatan Psikologis
Dengan self-disclosure memungkinkan manusia bisa melepaskan diri dari himpitan beban psikologis. Stres atau depresi merupakan penyakit psikologis yang membutuhkan self-disclosure untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, orang yang biasa melakukan self-disclosure relatif terlepas dari penyakit-penyakit psikologis seperti itu.
Seperti halnya setiap komunikasi manusia yang melibatkan pesan-pesan nonverbal maka self-disclosure pun tidak semuanya menggunakan pesan-pesan verbal. Pesan-pesan nonverbal, seperti ekspresi wajah, sikap tubuh, pakaian, nada bicara atau isyarat-isyarat nonverbal dikemukakan dalam self-disclosure. Dengan demikian, dalam self-disclosure itu kita berkomunikasi dengan lawan komunikasi kita dengan menggunakan pesan verbal dan nonverbal.
Dengan self-disclosure ini manusia mengungkapkan siapa dirinya pada lawan komunikasinya. Bisa saja apa yang dikemukakan itu sesuatu yang dipandang aib menurut persepsinya. Namun, dengan self-disclosure itu bukan berarti manusia hendak menunjukkan sisi-sisi yang dipersepsinya sebagai sisi negatif dirinya pada orang lain. Meski ada juga orang yang berpandangan bahwa lebih memilih mati ketimbang mengungkapkan dirinya pada orang lain seperti yang pernah terpikir oleh Ica dalam Kisah Ica di atas.
Akan tetapi, mengapa manusia melakukan self-disclosure? Menurut Tubbs dan Moss (2000:13) self-disclosure itu dilakukan guna membiarkan otentisitas masuk ke dalam hubungan sosial kita. Selain itu, self-disclosure juga terkait dengan kesehatan mental dan pengembangan konsep diri. Artinya, self-disclosure itu memang memiliki banyak manfaat untuk mengembangkan pribadi yang sehat sehingga kita mengemukakan diri kita sendiri terhadap orang lain. Bisa saja melalui self-disclosure ini manusia berusaha menjaga atau mencari keseimbangan (homeostasis) dalam dirinya.
Dalam prosesnya, self-disclosure ini bersifat timbal balik (Griffin, 2003:135). Artinya, keterbukaan kita akan diimbangi juga oleh keterbukaan lawan komunikasi kita atau sebaliknya. Hal seperti ini berlangsung terutama pada awal relasi di antara dua manusia. Berdasarkan pandangan ini maka self-disclosure tidak akan terjadi apabila salah satu pihak yang terlibat dalam komunikasi menunjukkan ketertutupan dirinya. Dengan demikian, apabila kita ingin melangsungkan komunikasi antarpribadi yang mengembangkan relasi pribadi yang baik maka diperlukan self-disclosure dari kedua belah pihak. Oleh karena itu, Tubbs dan Moss (2000:13) menyatakan bahwa self-disclosure merupakan bagian integral dari komunikasi di antara dua orang sekaligus menjadi ciri dari komunikasi antarpribadi.
Melalui self-disclosure itu manusia bisa mengembangkan dirinya secara sehat. Pada manusia modern, self-disclosure yang dibangun melalui komunikasi antarpribadi merupakan salah satu permasalahan yang perlu dipecahkan. Mengingat lunturnya komunikasi antarpribadi di antara manusia. Renggangnya hubungan antarmanusia menjadi kendala terbangunnya komunikasi antarpribadi yang memungkinkan terjadinya self-disclosure.
Padahal komunikasi antarpribadi itu diperlukan untuk mewujudkan watak kemanusiaan seseorang.

Yoseph (1986:42) menyebutkan (4) empat cara komunikasi antarmanusia, yaitu:

1. pertukaran gaul atau kontak;
2. pertukaran kata atau bicara;
3. pertukaran pikiran atau diskusi;
4. pertukaran hati atau kasih.

Apabila diperhatikan secara saksama, pertukaran hati atau kasih itu sebagai salah satu cara komunikasi antarpribadi hanya mungkin bisa berlangsung apabila terjadi penyingkapan diri (self-disclosure). Tanpa ada pihak yang saling membuka diri maka pertukaran hati itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan bisa saja dinyatakan mustahil terjadi pertukaran hati apabila pihak-pihak yang berkomunikasi saling menutup diri, saling menjauh, dan saling tidak mau tahu.

Baca Artikel Lain

Melatih Tanggung Jawab;>>>> Baca

Kebutuhan Anak Usia SD;>>>> Baca

Makna Pertanyaan Dan Rasa Ingin Tahu;>>>>>>>> Baca

Komunikasi Persuasif Dalam Iklan;>>>>>>>>> Baca

Strategic Management Untuk Humas;>>>>>>>>> Baca

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s