Reduplikasi Bahasa Tidung di Desa Tanah Merah Bab 2 (bag 2)

Reduplikasi Bahasa Tidung di Desa Tanah Merah Bab 2 (bag 2)

4. Pengulangan dengan infiks, artinya sebuah akar diulang tetapi diberi infikspada unsur ulangnya. Contoh: turun-temurun tali-temali sinar-seminar gunung-gemunung
b. Pengulangan Dasar Berafiks
Berdasarkan proses afiksasi dan reduplikasi, pengulangan dasar berafiks dibagi menjadi tiga macam yaitu:
Pertama, sebuah akar diberi afiks terlebih dahulu, kemudian baru dilakukan pengulangan atau reduplikasi. Misalnya, pada akaar lihat mula-mula diberi afiks me- menjadi melihat, kemudian diulang menjadi melihat-lihat.
Kedua, sebuah akar direduplikasi terlebih dahulu, kemudian baru diberi afiks. Misalnya, akar jalan mula-mula diulang menjadi jalan-jalan, kemudian diberi afiks her- menjadi berjalan-jalan.

Ketiga, sebuah akar diberi afiks dan duulang secara bersamaan. Misalnya, pada akar minggu diberi prefiks her- dan proses pengulangan sekaligus menjadi bentuk berminggu-minggu.
Berikut akan dijelaskan proses pengulangan dasar berafiks sebagai berikut: (1) Akar Berprefiks ber-
Ada dua macam pengulangan akar yang berafiks her- yaitu : (a) Pada akar mula-mula diimbuhkan prefiks her-, lalu dilakukan pengulangan sebagian dan yang diulang hanya akarnya saja. Contoh:
ber + lari —> berlari-lari
ber + teriak —>• berteriak-teriak
ber+jalan —>• berjalan-jalan
ber + Putar —> berputar-putar
ber + seru —>• berseru-seru
(b) Pengulangan dilakukan serentak dengan pengimbuhan prefiks ber-. Contoh:
berhari-hari
bermeter-meter
berliter-liter
berkarung-karung
berton-ton

(2) Akar Berkonjiks ber-an
Contoh:
– berlarian —* berlari-larian
– berkejaran —» bekejar-kejaran
– berpelukan —* berpeluk-pelukan
– bertangisan —>• bertangis-tangisan
– bersenggolan —* bersenggol-senggolan
(3) Akar Berprefiks me-
Akar berprefiks me- yang direduplikasikan hanya akarnya saja. Ada dua macam pengulangan akar berprefiks me- yaitu :
(a) Pengulangan yang bersifat progresif
Contoh:
menebak — menebak-nebak
menari —> menari-nari
mengulang —* mengulang-ulang
melihat —* melihat-lihat
menendang —»menendang-nendang
(b) Pengulangan yang bersifat regresif
menebak —> tebak-menebak
memukul —> pukul-memukul
menendang —>tending-menendang
menari —»tari-menari
menjilid —> jilid-menjilid

(4) Akar Berkonflks me-kan
Akar berkonflks me-kan yang diulang hanya akarnya saja. Contoh:
– membedakan —» membeda-bedakan
– membesarkan —» membesar-besarkan
– melebihkan —>• melebih-lebihkan
– menyamakan —* menyama-nyamakan
– membandingkan —> membanding-bandingkan
(5) Akar Berkonflks me-i
Akar berkonflks me-i yang diulang hanya akarnya saja. Contoh:
– menulisi —» menulis-nulisi
– mengurangi —> mengurang-ngurangi
– melempari —» melempar-lempari
– merintangi —> merintang-rintangi
– menebaki —> menebak-nebaki
(6) Akar Berprefiks pe-
Akar berprefiks/?e- reduplikasinya dilakukan secara utuh. Contoh:
– pemuda-pemuda
– Pembina-pembina
– Pembaca-pembaca
– Pelari-pelari
– Pelajar-pelajar
(7) Akar Berkonfiks pe-an
Akar berkonflks pe-an reduplikasinya dilakukan secara utuh. Contoh:
– Pembangunan-pembangunan
– Penjelasan-penjelasan
– Pembinaan-pembinaan
– Pelatihan-pelatihan
– Penderian-penderian
(8) Akar Berkonfiks per-an
Akar berkonflks per-an reduplikasinya dilakukan secara utuh. Contoh:
– peraturan-peratuaran
– perindustrian-perindustrian
– perdebatan-perdebatan
– pertokoan-pertokoan
– pergudangan-pergudangan
(9) Akar Bersufiks -an
Akar bersufiks -an reduplikasinya dilakukan dengan dua cara yaitu: (a) Pengulangan secara utuh Contoh:
– bangunan-bangunan
– aturan-aturan
– latihan-latihan
– tulisan-tulisan
– lampiran-lampiran
(b) Mengulang akarnya saja yang sekaligus disertai dengan pengulangannya. Contonya:
– obat-obatan
– biji-bijian
– batu-batuan
– mobil-mobilan
– kucing-kucingan
Disamping dua cara di atas masih ada satu cara lagiyang kurang produktif, yaitu dengan mengulang sebagian (hanya suku pertama dari akar).
Contoh:
– bebatuan
– tetumbuhan
– pepohonan
– rerumputan
– reruntuhan
(10) Akar Berpreflks se-
Akar berprefiks se- reduplikasinya dilakukan dengan dua cara yaitu:

(a) diulang secara utuh
– sedikit-sedikit
– seseorang-seseorang
– sekali-sekalu
– sekepal-sekepal
– seelor-ekor
(b) hanya mengulang bentuk akarnya saja
– Sekali-sekali
– Sebaik-baik
– Sepandai-pandai
– Sejauh-jauh
– Sebodoh-bodoh
(11) Akar berprefiks ter-
Akar berprefiks ter- direduplikasikan hanya akarnya saja. Contoh:
– terbawa-bawa
– tersenyum-senyum
– tertawa-tawa
– tersendat-sendat
– tersedu-sedu
(12) Akar Berkonfiks se-nya
Akar berprefiks se-nya reduplikasinya hanya pada akarnya saja.

contoh:
– secepat-cepatnya
– sebaik-baiknya
– sedapat-dapatnya
– setinggi-tingginya
– sebanyak-banyaknya
(13) Akar berkonfiks ke-an
Akar berkonfiks ke-an reduplikasinya hanya pada akarnya saja. Contoh:
– keragu-raguan;
– kemerah-merahan
– kebiru-biruan
– keputih-putihan
– kekuning-kuningan
(14) Akar Berinfiks-em-, -el-, -er-, -m-
Akar berinfiks direduplikasikan sekaligus dalam pengimbuhan infiks dan proses reduplikasinya. Contoh:
tali-temali sinar seminar getar geletar sambung sinambung patuk pelatuk

c. Pengulangan Kompositum
Kompositum secara umum dibedakan menjadi dua yaitu :
(1) Kompositum yang kedua unsurnya sederajat
Contoh:
ayam itik-ayam itik kasur bantal-kasur bantal tua muda-tua muda tebal telinga-tebal telinga buah bibir-buah bibir
(2) Kompositum yang kedua unsurnya tidak sederajat
Contoh:
surat-surat kabar rumah-rumah sakit buku-buku agama jemaah-jemaah haji jalan-jalan protokol
5. Reduplikasi Dasar Nomina
Secara morfologis nomina dapat berbentuk akar, bentuk berpreflks pe-, bentuk berpreflks ke-, bentuk berkofiks pe-an, bentuk berkonfiks per-en, bentuk berkonfiks ke-an, bentuk bersufiks -an, dan berupa gabungan kata. Bentuk nomina bila direduplikasikan antara lain, akan melahirkan makna garametikal yang menyatakan:
(1) banyak
(2) banyak dan bermacam-macam
(3) banyak dengan ukuran tertentu
(4) menyerupai atau seperti
(5) saat atau waktu
6. Reduplikasi Dasar Verba
Secara morfologis verba dapat berbentuk akar, berprefiks her-, berkonfiks ber-an, berprefiks me- inflektif dan derivatif, berprefiks di- derivatif, berprefiks /er-inflektif dan derivatif, berkonfiks me-kan inflektif, berklopiks di-kan inflektif, berklofiks ter-kan inflektif, berkonfiks me-i inflektif, berklofiks di-i inflektif, berkloflkk ter-i inflektif, berprefiks ter- inflektif dan derivatif, berprefiks ke- dan berkonfiks ke-an.
7. Reduplikasi Dasar Adjektif
Ajektif sebagai bentuk dasr dalam proses reduplikasi dan berupa akar seperti merah dan tinggi’, dapat berupa kata turunan ke-an, seperti kemerahan dan kehijauan; dan dapat berupa kata gabungan seperti merah darah, dan kuning telu.
8. Reduplikasi dasar Kelas Tertutup
Reduplikasi dasar kelas tertutup adalah kata-kata yang anggotanya sukar bertambah berkurang, dan jumlah anggotanya relativ terbatas. Contoh:
bukan-bukan
jangan-jangan
sudah-sudah
kali-kali
banyak-banyak
Muslich (2008: 52) mengatakan bahwa pengulangan atau reduplikasi berdasarkan bagaimana bentuk dasar kata ulang itu diulang membagi pengulangan atau reduplikasi menjadi tiga jenis yaitu:
1. Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh adalah prngulangan bentuk dasar secara keseluruhan, tanpa berkombinasi dengan pembubuhan afiks dan tanpa perubahan fonem. Bentuk dasar dari pengulangan seluruh ada yang bermorfem tunggal dan ada yang bermorfem kompleks. Contoh:
bantu —> batu-batu
sembilan —> sembilan-sembilan
persatuan —> persatuan-persatuan
pembangunan —> pembangunan-pembangunan
satuan —> satuam
2. Pengulangan Sebagian
Pengulangan sebagian adalah pengulangan bentuk dasar secara sebagian, tanpa perubahan fonem. Contoh:
memanggil —> memanggil-manggil

menulis —>• menulis-nulis
mengukur —> mengukur-ukur
perlahan —» perlahan-lahan
berkata —> berkata-kata
3. Pengulangan yang Berkombinasi dengan Pembubuhan Afiks
Pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks adalah pengulangan bentuk dasar disertai dengan penambahan afiks secara bersama-sama atau serentak dan bersama-sama pula mendukung satu arti. Contoh:
rumah + -an —> rumah-rumahan
kuda + -an —> kuda-kudaan
kuning + ke-an —>• kekuning-kuningan
baik + se-nya —> sebaik-baiknya
lincah + se-nya —> selincah-lincahnya
4. Pengulangan dengan Perubahan Fonem
Pengulangan dengan perubahan fonem adalah pengulangan bentuk dasar dengan disertai perubahan fonem. Dalam bahasa Indonesia ada dua macam model pengulangan perubahan fonem yaitu : (1) Pengulangan fonem vocal
Contoh:
balik —> bolak-balik
robek -* robak-robek

serba —» serba serbi
(2) Pengulangan fonem konsonan Contoh:
lauk —> lauk-pauk
ramah —+• rama-tamah
beras —> beras-petas
Keraf (1984: 120) berdasarkan macamnya pengulangan dalam bahasa Indonesia menjadi empat macam bentuk kata ulang yaitu : 1. Ulangan atas suku kata awal atau pengulangan dwipurwa
Dalam bentuk perulangan dwipura vocal dari suku kata awal mengalami
pelemahan dan bergeser ke posisi tengah menjadi e (pepet).
Contoh:
tatanaman —>•tetanaman

tatangga — >• tetangga
luluhur — >• leluhur
lalaki — > lelaki
lulusan — » leluasa
titirah — » tetirah
2. Ulangan atas seluruh bentuk dasar atau pengulangan utuh
Ulangan utuh dibagi menjadi dua macam, yaitu ulangan atas bentuk dasar yang berupa kata dasar dan disebut dwilingga, dan ulangan atas bentuk dasar berupa kata jadian berimbuhan.

Contoh:
rumah —> rumah-rumah perbuatan
buah -* buah-buah kejadian
anak —* anak-anak kuda —> kuda-kuda pohon —> pohon-pohon
perbuatan-perbuatan
kejadian-kejadian
pencuri-pencuri
timbangan-timbangan
kekasi-kekasi
pencun timbangan kekasi
– gerak-gerak
– sayur-sayur
– porak-porak
– tegap-tegap
3. Ulangan yang juga terjadi atas seluruh suku kata, namun pada salah satu lingganya terjadi perubahan suara pada suatu fonem atau lebih. Perulangan semacam ini disebut dwilingga salin suara. Contoh:
gerak-gerak sayur-sayur porak-porak tegap-tegap
– bermain-main
– memukul-mukul
– berpukul-pukulan
– main-mainan
– tarik menarik
– gunung-gemunung
4. Ulangan dengan mendapat imbuhan, baik pada lingga pertama, maupun pada lingga kedua. Ulangan semacam ini disebut ulangan berimbuhan. Contoh:
berjalan-jalan melihat-lihat berkejar-kejaran
kuda-kudaan pukul-memukul tali-temali

Wirjosoedarmo (1984: 97) dilihat dari sudut cara mengulang bentuk dasarnya, maka kata ulang dibagi atas empat golongan, yaitu :
1. Kata ulang seluruh ialah kata ulang yang terjadi karena adanya pengulangan
seluruh bentuk dasar, baik yang berupa kata asal maupun kata jadian.
Contoh:
– langit —> langit-langit
– anak —> anak-anak
– pemuda —> pemuda-pemuda
– kebaikan —> kebaikan-kebaikan
– pertunjukan —» pertunjukan-pertunjukan
2. Kata ulang sebagian ialah kata ulang yang terjadi karena adanya
pengulangan sebagian bentuk dasar, baik yang berupa kata asal maupun kata
jadian.
Contoh:
– sama —> sesama
– jaka —>jejaka
– tamu —»tetamu
– tertawa —> tertawa-tawa
– berlari —> berlari-lari
3. Kata ulang bersambungan ialah kata ulang yang terjadi karena adanya
perulangan seluruh bentuk dasar dengan disertai pembubuhan afiks dan
bersama-sama mendukung satu fungsi.

Contoh:
– orang —» orang-orangan
– anak —> anak-anakan
– merah —> merah-merahan
– tinggi -> tinggi-tinggian
– tali —> tali-temali
4. Kata ulang berubah bunyi ialah kata ulang yang terjadi karena adanya pengulangan seluruh bentuk dasar dengan disertai perubahan bunyi pada salah satu unsurnya. Contoh:
– gerak —> gerak-gerik
– serba —>• serba-serbi
– terka —> teka-teki
– balik —> bolak-balik
– lauk —»• lauk-pauk
PPPB (1980: 46) mengatakan bahwa dalam bahasa Tidung terdapat tiga jenis pengulangan yaitu pengulangan bentuk dasar seluruhnya atau pengulangan simetris, pengulangan bentuk dasar yang berkombinasi dengan imbuhan, dan pengulangan dengan perubahan atau variasi fonem.
1. Pengulangan Simetris
Pengulangan simetris ada yang diulang bentuk dasar seutuhnya, dan ada pula yang terjadi dengan pengulangan bentuk dasar diikuti dengan pelesapan fonem.

Apabila suatu bentuk dasar yang diulang itu berakhir dengan vokal, maka
pengulangan itu terjadi secara utuh.
Contoh:
tue tua’ — > tue-tue
due ‘dua’ —> due-due
jiwa ‘pendek’ — >jiwa-jiwa
usi ‘kucing’ — > usi-usi
‘tua-tua’ ‘dua-dua’ ‘pendek-pendek’ ‘kucing-kucing’ Apabila suatu bentuk dasar yang diulang itu berakhir dengan konsonan,
maka konsonan pada bentuk dasar pertama tidak dibunyikan sehingga dalam
bahasa sering tidak dituliskan.
Contoh:
sumpur pagi — » sumpu-sump
gadog ‘cium’ — »• gado-gadog
kiwen ‘malam’ — > kiwe-kiwen
tumay ‘berak’ — » tuma-tumay
kujad ‘kera’ — »• kujat-kujat
bakum ‘bicara’ — »• baku-bakum
ampur ‘pagi’ —* sumpu-sumpur ‘tiap pagi’
‘mencium-cium’ ‘tiap malam’ ‘berak-berak’ ‘kera-kera ‘bicara-bicara’
2. Pengulangan Bentuk Dasar yang Berkombinasi dengan Imbuhan
Dalam bahasa Tidung bentuk ulang berimbuhan, imbuhannya tidak diulang. contoh:

pulu ‘puluh’
singut ‘isak’

+ be- —>• bepulu-pulu ‘berpuluh-puluh’
+ be- —> gesingu-singut ‘terisa-isak’

adow ‘hari’ + be- —* bada-badaw ‘berhari-hari’
piku ‘liku’ + be- —* bepiku-piku ‘berliku-liku’
susu ‘usus’ + in- —> sinusu-nusu ‘disusu-susui
3. Pengulangan dengan Perubahan atau Variasi Fonem
Bentuk ulang ini hampir sama dengan pengulangan dalam bahasa Indonesia seperti kata ualang sama diulang menjadi sesama, pohon diulang menjadi pepohonan.dalam bahasa Tidung kita temukan bentuk ulang seperti itu. Contoh:
padaw ‘perahu’ —> pepadaw ‘perahu-perahu’
sawat ‘tinggi’ —> sesawat ‘tinggi-tinggi’
buwat ‘panjang’ -*• bebuwat ‘panjang-panjang’
tanem ‘tanam’ —* tetanem ‘tanam-tanama’
tukad ‘tangga’ —> tetukad ‘tangga-tangga’
D. Makna dan Fungsi Reduplikasi
Wirjosoedarmo (1984: 99) ada beberapa macam fimgsi dan arti kata ulang, yaitu:
1. Fungsi kata ulang dibagi menjadi tiga, yaitu : a) Membuat bentuk jamak Contoh:
– anak : anak-anak
– lauk : lauk-pauk
– pemuda : pemuda-pemuda

– mmuman : mmum-mmuman
b) Mengeraskan atau menegaskan maksud
Contoh:
– raj in : rajin-rajin
– erat : erat-erat
c) Melemahkan maksud
Contoh:
– tidur : tidur-tidur
– pening : pening-pening
– duduk : duduk-duduk
2. Arti kata ulang dibagi menjadi tujuh, yaitu :
a) Menyatakan banyak
Contoh:
rumah-rumah : banyak rumah
pemuda-pemuda : banyak pemuda (para pemuda)
makan-makanan : banyak makanan (berbagai macam makanan)
lauk-pauk : banyak lauk (bermacam-macam lauk)
b) Menyatakan seperti/ menyerupai
Contoh:
kuda-kuda : seperti/ menyerupai kuda
langit-langit : seperti/ menyerupai langit
anak-anakan : seperti/ menyerupai anak
orang-orangan : seperti/ menyerupai orang

c) Menyatakan berulang-ulang
Contoh:
menggaruk-garuk
memukul-mukul
menjelek-jelekkan
d) Menyatakan saling
Contoh:
tikam-menikam tukar-menukar bertuh-tuduhan berpukul-pukulan
e) Menyatakan sangat
Contoh:
erat-erat
kuat-kuat
sekeras-kerasnya
f) Menyatakan agak
Contoh:
pening-pening kekuning-kuningan
g) Menyatakan meskipun
Contoh:

berulang-ulang menggaruk berulang-ulang memukul berulang-ulang menjelekkan
saling menikam saling menukar saling tuduh saling memukul
sangat erat sangat kuat sangat keras
agak pening agak kuning

Mentah-mentah dimakannya : meskipun mentah dimakannya

Panas-panas diminumnya : meskipun panas diminumnya Keraf (1984: 121) berpendapat bahwa fungsi perulangan adalah untuk menurunkan jenis kata yang sama diulang. Sedangakan arti perulangan, yaitu :
1. Perulangan mengandung arti banyak yang tak tentu, yaitu : kuda-kuda, buku-
buku, dan Iain-lain.
2. Perulangan mengandung arti bermacam-macam, yaitu: pohon-pohonan,
tanam-tanaman, dan buah-buahan.
3. Perulangan mengandung arti menyerupai atau tiruan dari sesuatu, yaitu: kuda-
kuda, anak-anakan, dan langit-langit.
4. Perulangan mengandung arti agak, yaitu: kekanak-kanakan, sakit-sakitan, dan
pening-pening.
5. Perulangan mengandung arti intensitas, baik mengenai kualitas, maupun
mengenai frekuensi, yaitu :kuat-kuat, buah-buah, dan modar-mandir.
6. Perulangan mengandung arti saling, yaitu: berpukul-pukulan, bersalam-
salaman, dan tolong-menolong.
7. Perulangan mengandung arti kolektif, yaitu: dua-dua, tiga-tiga, lima-lima, dan
Iain-lain.
PPPB (1980: 47) dilihat dari segi fungsinya, reduplikasi dalam bahasa Tidung tidak mengubah kedudukan kelas kata bentuk dasarnya.
Arti yang terjadi sebagai akibat reduplikasi dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam yaitu:
1. Menyatakan banyak yang tidak terbatas, misalnya,
pepadaw ‘perahu-perahu’

usi-usi ‘kucing-kucing’
kuja-kujad ‘kera-kera’
bada-badaw ‘berhari-hari bepiku-piku ‘beliku-liku’
2. Menyatakan suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan berkali-kali,
misalnya,
gado-gadog ‘mencium-cium’
baku-bakum ‘bicara-bicara’
tuma-tumay ‘berak-berak’
gesingu-singut ‘terisak-isak’
sinusu-nusu ‘disuss-susui’
3. Menyatakan keterangan waktu yang berulang secara teratur, misalnya,
sumpu-sumpu ‘tiap-tiap’
kiwe-kiwen ‘tiap malam’
subu-subuk ‘tiap subuh’
4. Menyatakan sifat rata-rata sekaligus menyatakan bentuk dasar yang mempunyai sifat rata-rata dalam jumlah banyak. Misalnya,
tue-tue ‘tua-tua’
jiwa-jiwa ‘pendek-pendek’
sesawat ‘tinggi-tinggi
bebuat ‘panjang-panjang’
lasu-lasu ‘panas-panas’

Baca Artikel Lain

Bahasa Ragam Media Pada Kolom Coffee Break Harian Radar Tarakan Edisi Juli 2008 ( Bab Ii)>>>>> Baca

Belajar, Mengajar Dan Pembelajaran;>>>>> Baca

Prinsip-prinsip Belajar;>>>>>>>>>>>> Baca

Lahirnya Bahasa Indonesia;>>>>>>>>> Baca

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s