Reduplikas Bahasa Tidung di Desa Tanah Merah Bab 2 (bag 1)

Reduplikas Bahasa Tidung di Desa Tanah Merah Bab 2 (bag 1)

Pengertian Reduplikasi
Chaer (1994: 182) reduplikasi merupakan salah satu wujud proses morfologis. Reduplikasi sebagai proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsia), maupun dengan perubahan fonem. Selanjutnya Chaer (1995: 286) mengatakan bahwa reduplikasi merupakan alat morfologi yang produktif di dalam pembentukan kata.
Ramlan (2001: 63) mengatakan bahwa reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak dengan variasi fonem.
Muslich (2008: 48) mengatakan bahwa proses pengulangan atau reduplikasi merupakan peristiwa pembentukan kata dengan jalan mengulang bentuk dasar, baik seluruhnya maupun sebagian, baik bervariasi fonem maupun tidak, baik berkombinasi dengan afiks maupun tidak.

Wirjosoedarmo (1984: 95) berpendapat bahwa kata ulang adalah kata yang mengalami proses duplikasi, yakni proses pengulangan bentuk, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan jalan memberikan imbuhan maupun dengan variasi fonem.
Berdasarkan pendapat-pendapat yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa reduplikasi adalah proses pengulangan bentuk dasar baik seluruhnya, sebagian, pengulangan dengan proses perubahan afiks, maupun pengulangan dengan perubahan fonem.
C. Macam-mucum Pengulangan
Ramlan (1985: 62) mengatakan reduplikasi atau pengulangan kata berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya. Pengulangan dapat digolongkan menjadi empat golongan sebagai berikut:
1. Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh adalah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Contoh:
Sepeda —> sepeda-sepeda
sekali —> sekali-sekali
buku —> buku-buku
kebaikan — kebaikan-kebaikan
pembangunan —> pembangunan-pembangunan

2. Pengulangan Sebagian
Pengulangan sebagian adalah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Hampir semua bentuk dasar pengulangan golongan ini berupa bentuk kompleks. Yang berupa bentuk dasar hanyalah kata lelaki yang bentuk dasarnya laki, tetamu yang bentuk dasarnya tamu, beberapa yang bentuk dasarnya berapa, pertama-tama yang bentuk dasarnya tama, dan segala-gala yang bentuk dasarnya segala.
Katapertama dan segala merupakan bentuk tunggal karena dalam deretan morfologik tidak ada satuan yang lebih kecil dari kedua kata itu.
Apabila bentuk dasar itu berupa bentuk kompleks maka bentuknya sebagai berikut:
1. Bentuk meN-
mengambil-ambil membaca-baca menj alan-j alankan melambai-lambaikan mengemas-ngemasi
Misalnya:
mengambil
membaca
menjalankan
melambaikan
mengemasi 2. Bentuk di-
diusai-usai ditarik-tarik dikemas-kemasi ditanam-tanami
Misalnya:
diusai
ditarik
dikemasi
ditanami

disodorkan
3. Bentuk ber-
Misalnya:
berjalan
bertemu
bermain
bersiap
berlarut
4. Bentuk ter-
Misalnya:
terbentuk
terbentur
tergoncang
tersenyum
terjatuh
5. Bentuk ber-an
Misalnya:
berlarian
berhamburan
berjauhan
berdekatan
berpukulan

disodor-sodorkan
berjalan-jalan
bertemu-temu
bermain-main
bersiap-siap
berlarut-larut
» terbentuk-bentuk »terbentur-bentur »tergoncang-goncang »tersenyum-senyum »terjatuh-jatuh
berlari-larian
berhambur-hamburan
berjauh-jauhan
berdekat-dekatan
berpukul-pukulan

6. bentuk -an
misalnya:
minuman
makanan
tumbuhan
karangan
nyanyian
7. Bentuk ke-
Misalnya:
kedua
ketiga keempat

mmum-mmuman
makan-makanan
tumbuh-tumbuhan
karang-karangan
nyanyi-nyanyian
kedua-dua ketiga-tiga keempat-empat

3. Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks
Dalam golongan ini bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Maksudnya pengulangan ini terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya:
kereta —» kereta-kereta —> kereta-keretaan
anak —> anak-anak —»anak-anakan
rumah —> rumah-rumah —» rumah-rumahan

4. Pengulangan dengan perubahan fonem
Kata ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit. Disamping bolak-balik terdapat kata kebalikan, sebaliknya, dibalik, membalik. Dari perbandingan tersebut dapat disimpulkan bahwa kata bolak-balik dibentuk dari bentuk dasar balik, diulang seluruhnya dengan perubahan fonem /a/ menjadi /o/ da fonem I’ll menjadi /a/.
Chaer (2008: 178) mengatakan bahwa reduplikasi bukan hanya menyangkut masalah morfologi, masalah pembentukan kata, tetapi ada juga reduplikasi yang menyangkut masalah fonologi, sintaksis, dan semantik. Sehingga reduplikasi atau pengulangan kata dibedakan menjadi 8 bagian yaitu:
(1) Reduplikasi Fonologis
Reduplikasi fonologis berlangsung terhadap dasar yang bukan akar atau terhadap bentuk yang statusnya lebih tinggi dari akar. Status bentuk yang diulang tidak jelas dan reduplikasi fonologis ini tidak menghasilkan makna grametikal, melainkan menghasilkan makna leksikal. Yang termasuk reduplikasi fonologis ini seperti:
– kuku, dada, pipi cincin, dan sisi. Bentuk-bentuk tersebut bukan berasal
dari ku, da, pi, cin, dan si. Jadi, bentuk-bentuk tersebut adalah sebuah kata
yang bunyi kedua suku katanya sama.
– foya-foya, tubi-tubi, anai-anai, dan ani-ani. Bentuk-bentuk ini memang
jelas sebagai bentuk ulang, yang diulang secara utuh. Namun bentuk
dasarnya tidak berstatus sebagai akar yang mandiri.

– laba-laba, kupu-kupu, paru-paru, onde-onde, dan rama-rama. Bentuk-
bentuk ini jugajelas sebagai bentuk ulang, tetapi hasil reduplikasinya tidak
melahirkan makna yang gramatikal. Hasil reduplikasinya hanya
meghasilkan makna leksikal.
– monda-mandir, luntang-lantung, lunggang-langgang, kocar-kacir, dan
teka-teki. Bentuk-bentuk ini tidak diketahui mana yang menjadi bentuk
dasar pengulangannya. Sedangkan maknanya pun hanyalah makna
leksikal.
(2) Reduplikasi Sintaksis
Reduplikasi sintaksis adalah proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang biasanya berupa akar, tetapi menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi daripada sebuah kata. Kridalaksana (1989) menyebutnya menghasilkan sebuah “ulangan kata”, bukan “kata ulang”. Contoh:
– suaminya benar- benar jantan.
– jangan- jangan kau dekati pemuda itu.
– panas- panas memang rasa hatiku.
Bentuk-bentuk reduplikasi sintaksis memiliki ikatan yang cukup longgar sehingga kedua unsurnya memiliki potensi untuk dipisahkan. Contoh:
– benar suaminya benar jantan.
– jangan kau dekati pemuda itu, jangan.
– panas memang panas rasa hatiku.

Reduplikasi sintaksis memiliki makna “menegaskan” atau “menguatkan”. Dalam hal ini termasuk juga reduplikasi yang dilakukan terhadap sejumlah kata ganti orang (pronominal persona). Contoh:
– yang tidak datang ternyata dia-dia juga.
– mereka mereka memang sengaja tidak diundang.
– kita kita ini memang termasuk orang yang tidak setuju dengan beliau.
Reduplikasi sintaksis termasuk juga yang dilakukan terhadap akar yang
menyatakan waktu. Contoh:
– besok-besok kamu boleh datang ke sini.
– dalam minggu-minggu ini kabarnya beliau akan datang,
– hari-hari menjelang pilkada beliau tampak sibuk.
(3) Reduplikasi Semantis
Reduplikasi semantis adalah pengulangan ‘makna’ yang sama dari dua buah kata yang bersinonim. Misalnya ilmu pengetahuan, alim ulama, dan cerdik cendekia. Kita lihat kata ilmu dan kata pengetahuan memiliki makna yang sama. Demikian juga kata alim dan ulama, kata cerdik dan cendekia.
Termasuk ke dalam bentuk ini adalah bentuk-bentuk seperti segar bugar, muda belia, tua renta, gelap gulita, dan kering mersik. Namun, bentuk-bentuk seperti ini dalam buku tata bahasa dimasukkan dalam kelompok reduplikasi berubah bunyi (dwilingga) salin suara). Memang bentuk segar bugar perubahan bunyinya masih bias dikenali, tetapi bentuk muda belia, tua renta, gelap gulita,

dan kering mersik tidak tampak sama sekali bahwa unsur pertama berasal dari unsure kedua atau sebaliknya.
(4) Reduplikasi Morfologi
Reduplikasi morfologis dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk berafiks, dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh, pengulangan berubah bunyi, dan pengulangan sebagian.
a. Pengulangan Akar
Bentuk dasar yang berupa akar memiliki tiga macam proses pengulangan sebagai berikut:
1. Pengulangan Utuh, artinya bentuk dasar diulang tanpa melakukan
perubahan bentuk fisik dari akar itu.
Contoh:
meja —> meja-meja
kuning —»kuning-kuning
makan —»• makan-makan
kalau —»• kalau-kalau
sungguh —> sungguh-sungguh
2. Pengulangan Sebagian, artinya yang diulang dari bentuk dasar
hanyalah salah satu suku katanya saja (suku awal kata) disertai dengan
“pelemahan” bunyi.
Contoh:
luhur —* leluhur

tangga —tetangga
jari —jejari
laki —> lelaki
paru — peparu
Bentuk dasar dalam pengulangan sebagaian dapat juga diulang secara utuh, tetapi dengan perbedaan makna gramatikalnya. Contoh:
leluhur —»luhur-luhur
tetangga —»tangga-tangga
jejari —»jari-jari
lelaki —> laki-laki
peparu -» paru-paru
3. Pengulangan dengan perubahan bunyi, artinya bentuk dasar diulang tetapi disertai dengan perubahan bunyi baik bunyi vocal maupun bunyi konsonannya. Bentuk yang berubah bunyi bias menduduki unsur pertama, bisa juga yang menduduki unsure kedua. Contoh:
(a) Unsur pertama bolak-balik larak-lirik langak-longok kelap-kelip corat-coret

Baca Artikel Lain

Reduplikasi Bahasa Tidung Di Desa Tanah Merah Bab 2 (bag 2)>>>>> Baca

Belajar, Mengajar Dan Pembelajaran;>>>>> Baca

Prinsip-prinsip Belajar;>>>>>>>>>>>> Baca

Perbedaan Pembelajaran Kooperatif Dan Pembelajaran Konvensional;>>>>>>>>> Baca

Menambah Pengetahuan Tentang Parasitologi;>>>>>>>>> Baca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s