• Download Software Komputer
    Untuk anda yang ingin tahu, ingin belajar, mengubah ketertinggalan menjadi modern. Mengubah kemelataran menjadi kemakmuran.
    Mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Terus aktifitas takkan pernah lelah untuk belajar. CARI ILMU dimana saja, kapan saja dan berguru kepada siapa saja
    Google Groups
    Pencariilmu
    Kunjungi grup ini
    *Melihat Kota tempat weblog ini dikelola dari Satelit
  • Sepuluh Masukan Terkini

    Fatma di Download Diktat Buku Akuntansi…
    rendy di Download Diktat Buku Akuntansi…
    Rina Monika Dewi di Pengertian Etika, Moral dan…
    Dwi gita di Pengertian Politik dan Ilmu…
    mifta di Studi Kasus Umum Perpajak…
    mifta di Studi Kasus Umum Perpajak…
    mifta di Studi Kasus Umum Perpajak…
    mifta di Studi Kasus Umum Perpajak…
    Anonymous di PEMBELAJARAN DENGAN MODEL SIKL…
    Linguistik Umum | bo… di Cakupan Semantik
  • Admin

  • INTERFERENSI BAHASA INDONESIA OLEH PENUTUR BAHASA TORAJA DI SDN 013 TARAKAN (BAB II )

    INTERFERENSI BAHASA INDONESIA OLEH PENUTUR BAHASA TORAJA DI SDN 013 TARAKAN (BAB II )

    Oleh MARTINA S.
    A. Bahasa
    Soekono (91984 :1) berpendapat bahwa bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat yang berupa bunyi suara. Maksud dari pendapat tersebut pada dasarnya menyatakan bahwa bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh manusia lainnya. Dengan demikian dapat di katakan bahwa manusia tidak dapat berinteraksi satu sama lain tanpa adanya bahasa.
    Keraf (1995 : 1:2) mengatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyi, yang di hasilkan oleh alat ucap manusia. Pendapat tersebut menyatakan bahwa bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi berupa lambang bunyi ujaran yang mempunyai makna dan arti. Dengan demikian, dapat di katakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi manusia yang berupa lamnbang bunyi ujaran, yang memiliki makna dan arti.
    Chaer (1995 : 159) mangatakan bahwa bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu di bentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat di kaidahkan. Maksud pernyataan tersebut menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah sistem yang tersusun menurut pola-pola tertentu dan terdiri atas beberapa kaidah yakni kaidah fonologi, morfologi, dan sintaksis.
    B. Interferensi Bahasa
    Chaer (1995 : 159) mengatakan bahwa interferensi merupakan perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Pernyataan

    tersebut pada dasamya menyatakan bahwa interferensi adalah perubahan sistem suatu bahasa akibat adanya pengaruh bahasa lain.
    Interferensi merupakan salah satu gejala yang sering terjadi dalam pemakaian bahasa karena adanya dua system bahasa yang dikuasai. Yakni bahasa pertama (bahasa ibu) dan bahasa kedua. Seseorang yang menguasai dua bahasa (dwi bahasa) dalam berbahasa kedua sangat dipengaruhi oleh penguasaan bahasa pertama. Jadi bahasa pertama berinterferensi pada bahasa kedua. Interferensi lebih bersifat individual.
    Interferensi yang terjadi berupa pengucapan baik secara lisan maupun tulisan. Interferensi bahasa lisan terdapat dalam ujaran seorang dwi bahasa, akibat penguasaan bahasa pertama. Penutur bilingual menggunakan dua bahasa secara bergantian. Hal ini menunjukkan bahwa setiap penutur memiliki variasi bahasa. Ada penutur yang menguasai Bl dan B2 sama baiknya, ada pula yang tidak, serta ada pula yang kemampuan B2-nya sangat minim. Penuturan bilingual yang mempunyai kemampuan bahasa pertama (Bl) dan bahasa kedua (B2) sama baiknya tentu tidak mengalami kesulitan untuk menggunakan kedua bahasa itu kapan saja diperlukan (kemampuan bahasa sejajar), sedangkan yang mempunyai kemampuan terhadap B2 jauh lebih rendah (tidak sama) dari kemampuan Bl-nya disebut kemampuan bahasa majemuk (Chaer, 1995:159). Penutur yang mempunyai kemampuan majemuk biasanya mempunyai kesulitan dalam menggunakan B2-nya karena dipengaruhi oleh kemampuan B1 -nya.
    Interferensinya terjadi pada beberapa bidang kebahasaan yaitu bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis.

    C.Fonologi
    1.1 Klasifikasi Vokal (Bahasa Toraja)
    Bunyi vocal biasanya di klasifikasikan dan di beri nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertical dan biasa bersifat horizontal. Secara vertical di bedakan adanya vokal tinggi misalnya bunyi {i} dan {«} : vocal tengah , misalnya bunyi {e} dan {9} dan vocal rendah, misalnya bunyi {a}, secara horizontal di bedakan adanya vocal depan, misalnya bunyi {/} dan {e} vocal pusat, misalnya bunyi {3} dan vocal belakang, misalnya bunyi {M} dan {o}. Kemudian menurut bentuk mulut di bedakan adanya vocal bundar dan vocal tak bundar. Di sebut vocal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya vocal {o} dan {«}. di sebut vocal tak bundar karena bentuk mulut tak membundar, melainkan melebar ketika mengucapkan vocal tersebut, misalnya vocal {/’} dan {e} (Chaer, 1993:113).
    1.2 Klasifikasi Vocal (Bahasa Toraja)
    Klasifikasi vocal bahasa Toraja bertujuan untuk member! gambaran mengenai posisi ata tempat setoap fonem di wilayah alat-alat ucap berdasarkan pembentuknya,yaitu alat ucap mana yang aktif dalam proses terjadinya bunyi-bunyi vocal itu. Fonem vocal dalam bahasa Toraja sebanyak lima buah, yakni {i}, {u}, {e}, {o}, dan {a}.
    Selain itu bahasa Toraja yang memiliki rangkaian vocal, baik itu rangkaian vokal yang sama (kembar) maupun rangkaian vocal yang berbeda
    1.2.1 Klarifikasi Konsonan (Bahasa Toraja)
    Konsonan adalah bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan (Keraf, 1990 ; 25). Berikut klarifikasi konsonan dalam bahasa Indonesia.
    1.1.2 Klarifikasi Konsonan (Bahasa Toraja)
    Bahasa Toraja memiliki tujuh belas konsonan termasuk satu konsonan serapan yaitu (c) (sande, 1990 : 47).
    Bahasa toraja juga memiliki rangkaian konsonan yang di namakan konsonan kembar (geminate). Rangkaian ini memiliki ciri spesifik dan unik dalam bahasa toraja karena secara fonetis merupakan bunyi panjang yang kelihatannya sebagai suatu konsonan terdiri (Sander, 1990:55)
    D. Morfologi
    Ramlan (2001:21) mendefinisikan morfologi sebagai bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata baik secara gramatukal maupun leksikal. Ramlan mengatakan bahwa perubahan-prubahan bentuk kata terjadi padabentuk dasar yang mengikutinya. Perubahan-perubahan tersebut terjadi pada afiksasi dan reduplikasi. Komponen tersebut juga terjadi pada interferensi bahasa.

    1. Afiksasi
    Afiks atau imbuhan ada tiga, yakni imbuhan awal, imbuhan tengah, dan imbuhan akhir (Soekono, 198:92).
    a. Imbuhan awal
    1. Awalan / perfiks : me-, her-, di-, ter-, pe-, per-, se-, ke-
    2. Prokilis : ku, kau
    b. Imbuhan tengah Sisipan / infiks : -el-, -em-, -er-,
    c. Imbuhan akhir
    1. Akhiran / supfiks : -/, -kan, -an, -man, -wan, -wati, -is
    2. Partikel : -lah, -kah, -tah, -pun
    3. Eknis : -ku, -mu, -dal, -ndal, -anda
    d. Konfiks : ke-an, me-kan, mem-per-i, mem-per-kan, di-i, di-kan, di-per-i, di-
    per- kan.
    2. Reduplikasi
    Mansoer (1996:143) menjelaskan adanya bentuk ulang dan bentuk ulang kata. Ulangan kata adalah kata yang di ulang-ulang, misalnya “mana,mana yang kau maksud?” kalinat tersebut terdapat kata ‘mantf yang diulang beberapa kali. Sedangkan kata ‘mand’ dalam kalimat “mana-mana yang kau sukai, ambil saja”. adalah kata ulang yang menyatakan benda atau bahan apa saja kata ulang (reduplikasi) adalah proses morfemis yang megulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi (Chaer, 1994:182).

    £. Sintaksis
    Sintaksis merupakan bidang tataran linguistic yang membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain, atau unsure-unsur lain sebagai satuan. Objek kajian sintaksis adalah frasa, klausa, dan kalimat.
    1. Frasa
    Frasa merupakan suatu kesatuan yang terdiri atas dua kata atau lebih, yang masing-masing mempertahankan makna dasar katanya (kreaft, 1991: 175).
    Setiap frasa memiliki satu unsur yang di sebut inti atau pusat, sedangkan unsur yang lain menjadi penjelas atau pembatas, misalnya: petani muda, tepi sawah, lereng gunung. Kata ‘petani’, ‘tepi’, ‘lereng’, adalah inti atau pusat, sedangkan kata ‘muda”, ‘sawah’, ‘gunung’, adalah unsur penjelas atau pembatasnya.
    2. Klausa
    Klausa adalah sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi prodikatif. Artinya, di adalam konstruksi itu ada komponen lain yang berfungsi sebagai subjek, sebgai objek, dan keterangan. Selain fungsi predikat yang harus ada dalam konstruksi klausa ini, fungsi subjek boleh di katakan bersifat wajib, sedangkan yang lainnya bersifat tidak wajib (chaer, 1994:231). Misalnya ‘kamar mandi’ dan ‘adik mandi’. Konstruksi ‘kamar mandi’ bukanlah sebuah klausa karena hubungan komponen ‘kamar’ dan ; ‘mandi’ tidak bersifat perdikatif. Sedangkan konsruksi ‘nenek mandi’ adalah klausa karena hubungan komponen ‘nenek’ dan ‘mandi ‘ bersifat predikatif; ‘nenek’ adalah subjak dan ‘mandi’ pengisi predikat.
    3. Kalimat
    Bahasa dalam setiap hari, sering terjadi hubungan antar kata yang satu dengan kata yang lain. Hubungan antara kata-kata dapat menimbulkan kelompok kata atau kalimat. Kelompok kata merupakan bagian kalimat, tetapi tidak semua kelompok kata dapat di namai kalimat (Soekono, 1984:231).

    Baca Artikel Lain

    Bahasa Ragam Media Pada Kolom Coffee Break Harian Radar Tarakan Edisi Juli 2008 ( Bab Ii)>>>>> Baca

    bahasa ragam media-pada kolom coffee break harian radar Tarakan-edisi juli-2008 bab 1;>>>>> Baca

    Analisis Butir Soal Ujian Semester Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V sdn 010 Tarakan (bab I );>>>>>>>>>>>> Baca

    elemen statistik;>>>>>>>>> Baca

    Pendidikan Kesenian Di Taman Kanak-kanak>> Baca

    Satu Tanggapan

    1. Saya bukan termasuk yang pandai dalam hal bahasa. Tapi sepengetahuan saya, selain Bahasa Melayu yang mirip dengan Bahasa Indonesia yang kita pakai sekarang, selanjutnya adalah bahasa yang dipakai di daerah saya, yaitu Bahasa Banjar Kuala (Kalsel ; Banjarmasin, Banjarbaru, Kab. Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru). Kosa kata dalam bahasa daerah kami sebagian besar sama dengan Bahasa Indonesia. Bila ingin tahu banyak, mari mampir ke http://www.independen.co.cc

    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

    Bergabunglah dengan 323 pengikut lainnya

    %d blogger menyukai ini: