Bahasa Ragam Media Pada Kolom Coffee Break Harian Radar Tarakan Edisi Juli 2008 ( Bab II)

Bahasa Ragam Media Pada Kolom Coffee Break Harian Radar Tarakan Edisi Juli 2008 ( Bab II)

Oleh ASTUTIK

LANDASAN TEORI
Bahasa ragam media dalam kolom CBHRT adalah bahasa ragam jurnalistik yang sangat dekat dengan masyarakat. Oleh karena itu, perlu dibicarakan secara ringkas tentang hubungan antara bahasa dan masyarakat. Hubungan antara bahasa dan masyarakat itu telah dibicarakan secara rinci oleh banyak pakar dalam kajian ilmiah seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, dan Iain-lain. Dalam bab ini penulis mencoba untuk berbicara sedikit tentang kajian-kajian tersebut yaitu :
A. Sosiolinguistik
Hanya dengan membaca judul itu saja pasti sudah muncul persepsi bahwa kajian sosiolinguistik adalah tentang hubungan antara bahasa dan masyarakat karena kata sosiolinguistik terdiri atas dua kata yaitu ‘sosio’ dan ‘linguistik’ Kata ‘sosio’ berarti masyarakat dan kata ‘linguistik’ berkaiatan dengan bahasa. Dalam KBBI (2001 : 1350) terteran sosiolinguistik adalah salah satu cabang linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat pemakainya (hubungan antara perilaku bahasa dan perilaku social). Nababan dalam Chaer (1995 : 4) mengatakan bahwa sosiolinguistik adalah pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan. Sedangkan Chaer (1995 : 5) mengatakan bahwa sosiolingustik adalah cabang ilmu linguistic yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi dengan objek penelitiannya adalah hubungan antara bahasa dan factor-faktor social di dalam masyarakat tutur.

Sebagai seri-seri cerita dengan berbeda topik, kolom-kolom CBHRT berkaitan erat dengan sosiolinguistik. Seri-seri lelucon itu dihadirkan berdasarkan masalah sosial dan diungkapkan dengan bahasa tulis. Ungkapan cerita dengan bahasa tulis itu tentu menggunakan unsur-unsur linguistk berupa kata dan kalimat. Pemilihan kata yang tepat untuk membangun kalimat disesuaikan dengan masalah sosial yang diangkat. B. Ragam Bahasa
Suatu bahasa memiliki system dan subsistem yang sama-sama dipahami oleh penutur bahasa iru.Namun, karena semua penutur bahasa itu walaupun berada dalam satu masyarakat tutur yang sama tidak merupakan kumpulan manusia yang homogen, wujud bahasa secara praktis menjadi tidak seragam. Chaer (1995 : 80) mengatakan bahwa terjadinya keragaman bahasa ini di samping karena masyarakatnya yang homogen juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam.
Begitu banyak ragam bahasa Indonesia yang hidup subur di seluruh wilayah NKRI ini. Bahasa Indonesia dengan berbagai ragam pemakaiannya itu disebabkan oleh berbagai factor, di antaranya adalah faktor sosial, pendidikan, dan kebiasaan bertutur. Tentang ragam bahasa, berikut penulis kemukakan secara singkat tentang penjelasan Chaer (1995 : 80)yang berlaku secara umum bagi semua bahasa di dunia yaitu ragam bahasa dilihat dari beberapa segi antara lain :
1. Penutur. Ada ragam idiolek dan ragam dialek. Dalam perkembangannya, ada beberapa ragam dialek seperti dialek temporalyang berlaku pada masa-masa

tertentu, dialek sosial, yang muncul karena status sosial pada masyarakat penuturnya.
2. Fungsi bitu sendiri. Ada ragam jurnalistik yang bersifat sederhana, komunikatif dan
ringkas, ada ragam militer yang bersifat ringkas dan tegas , ada ragam ilmiah yang
bersifat lugas, jelas, dan bebas.
3. Keformalan. Ada ragam beku yang bersifat sangat formal, ada ragam resmi yang
bersifat standar, ada ragam santai yang bersifat tidak resmi.
C, Bahasa Tulis dan Bahasa Lisan
Dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, selalu ada unsur pendukung yaitu unsur internal dan unsur eksternal. Unsur internal adalah unsur segmental berupa kata/kata-kata yang membangun kalimat sedangkan unsur eksternal adalah unsur suprasegmental yang berada di luar kebahasaan seperti, tekanan-tekanan, intonasi, gerakan anggota badan (dalam bahasa lisan) dan tanda baca (dalam bahasa tulis). Jadi, dalam komunikasi lisan, yang muncul adalah arus ujaran yang disertai dengan tekanan-tekanan, intonasi, dan perhentiajn-perhentian dalam rangka memperjelas makna gagasan/pikiran yang ada di dalam arus ujaran itu, sedangkan dalam komunikasi tertulis, yang muncul adalah kata/kata-kata yang dirangkaikan untuk membangun kalimat disertai dengan tanda baca dalam rangka menjelaskan makna gagasan yang ada di dalam kalimat itu. Oleh karena itu dalam berkomunikasi, pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses komunikasi jendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

1. Diksi.
Kita harus memilih kata-kata/diksi yang efektif sesuai dengan pokok persoalan, kondisi pembaca/pendengar, dan situasi. Diksi yang baik adalah diksi yang benar-benar selektif, efektif, dan tepat. Ahmadi (1990 : 135) mwngatakan betapa pentingnya diksi di dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Di dalam berkomunikasi secara tertulis, kita membawakan ide/gagasan/opini kita tanpa bantuan ekspresi wajah, intonasi, dan gerakan anggota badan yang lain. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam memilih kata-kata yang tepat. Sebaliknya, dalam berkomunikasi secara lisan, di samping diksinya harus tepat, ekspresi wajah, intonasi, dan gerakan anggota badan ikut membantu memperjelas gagasan yang disampaikan.
Untuk lebih jelas pemahaman kita tentang penggunaan diksi dalam bahasa tulis, berikut ini penulis kemukakan cirri-ciri diksi yang baik yaitu antara lain :
1.1 Siksi harus sesuai. Artinya kata-kata yang kita pilih harus disesuaikan dengan
level/tingkatan pembaca/pendengar.
1.2 Diksi harus tepat. Artinya harus sesuai dengan setting (tempat, waktu, dan suasana)
sehingga mampu menyampaikan pikiran/perasaan atau sikap pembicara/penulis
secara efektif.
1.3 Diksi harus tegas. Artinya harus menggunakan kata-kata yang mampu dengan kuat
menarik perhatian pembaca atau pendengar.
1.4 Diksi harus ekonomis. Artinya menggunakan kata-kata yang hemat dan tidak
berlebih-lebihan seperti kata M.Henshaw dalam Ahmadi (1990 : 137) jangan
menggunakan kata-kata yang seharga dua dolar hanya untuk gagasan yang hanya

seharga sepuluh sen atau Anda memang sedang mengejek/mempermainkan gagasan Anda itu. Pendapat ini mengingatkan kita kembali bahwa dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, kita harus berhati-hati dalam memilih kata-kata/diksi yaitu dengan prinsip sesuai, tepat, tegas, dan ekonomis.
2. Bangun Kalimat
Di samping diksi yang sesuai, tepat, tegas, dan ekonomis, bangun kalimat yang kita pakai pun harus ringkas dan tangkas agar mudah dicerna dan dipahami oleh pendengar atau pembaca. Dalam kegiatan komunikasi baik lisan maupun tulisan, seharusnya prinsip itu tetap menjadi pedoman. Harus diakui bahwa setiap orang memiliki gaya menulis atau berbicara yang berbeda-beda, namun dalam keberbedaan itu masih tetap ada inti pengertian yang sama.
3. Proses Komunikasi
Dalam pembahasab tentang proses komunikasi, penulis menggunakan teori yang diterapkan oleh Abdul Chaer tentang peristiwa tutur dan tindak tutur. Tentu saja penulis akan memilih konsep-konsep yang relevan dengan penelitian ini. Kemampuan berkomunikasi setiap orang selalu bervariasi berdasarkan pendidikan dan pengalaman pergaulan dengan penutur lain di luar lingkungannya. Chaer (1995 : 45) mengatakan bahwa seseorang Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan , mampu menguasai minimal dua bahasa yaitu bahasa ibu dan bahasa Indonesia, artinya dia mampu menguasai ragam-ragam kedua bahasa itu dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang lain di lingkungannya. Kemampun penguasaan

ragam-ragam bahasa di samping dimiliki oleh deorang penutur secara individual} uga dimiliki pula oleh masyarakat tutur secara sosial/keseluruhan (Chaer, 1995 : 46) 41 Kemampuan Komunikasi
Kemampuan penguasaan ragam-ragam bahasa ini akan muncul pada peristiwa tutur dan tindak tutur di dalam suatu proses komunikasi. Di dalam proses ini, penutur menyampaikan pikiran dan perasaannya dan ditanggapi oleh lawan tuturnya, mungkin dengan suatu sikap atau mungkin dengan suatu jawaban atau tindakan. Dalam suatu peristiwa tutur, peran penutur dan lawan tutur dapat berganti-ganti. Pihak yang tadinya menjadi pendengar, sesudah mendengar dan memahami ujaran yang diucapkan oleh penutur akan segera beraksi melakukan tindak tutur sebagai penutur. Sebaliknya yang tadinya sebagai pembicara berubah kind menjadi pendengar. (Chaer, 1995 : 71)
Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa dalam suatu peristiwa tutur terjadilah serentetan tidak tutur. Tindak tutur-tindak tutur itu bisa berwujud tuturan (ucapan pikiran dan perasaan) dan tanggap tutur (imbangan berupa sikap atau jawaban) Kedua tidak tutur itu bisa terjadi karena kemampuan komunikatif yang dimiliki oleh kedua belah pihak, penutur dan lawan tutur. Di samping itu, peristiwa tutur itu dapat terjadi karena distimulasi oleh suatu topic tutur tertentu dan dalam situasi tutur tertentu pula. Antara penutur dan lawan tutur ada pemahaman makna tuturan baik tersirat maupun tersuratsehingga terjadi interaksi linguistic dengan baik.

D. Bahasa Ragam Media
Ragam bahasa Indonesia sangat banyak. Peneliti hanya membicarakan secara singkat tentang keragaman berdasarkan faktor formal dan nonformal. Faktor formal akan menghasilkan bahasa ragam resmi sedangkan factor nonformal akan menghasilkan bahasa ragam tidak resmi/santai. Chaer (1995 : 93) mengatakan bahwa ragam resmi atau formal adalah ragam yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat, dan Iain-lain, sedangkan ragam santai digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang bersama keluarga atau teman karib dengan menggunakan unsur leksikal dialek dan unsur bahasa daerah.
Ragam bahasa Indonesia yang dipakai di dalam kolom CBHRT adalah ragam santai Kata-kata atau istilah yang dipakai untuk membangun kalimat kadang-kadang berupa unsur leksikal dialek dan unsur bahasa daerah bahkan unsur bahasa asing. Hak ini menunjukkan bahwa antara pembicara dan lawan bicara ada hubungan yang sangat akrab baik sebagai suami istri, anggota keluarga, atau pun sahabat karib. Contoh : CBHRT tanggal 13 Juli 2008
TVKecil
SUATUhari seorang anak kecil menonton televise Dengan suarayang sangat keras lain ibu anak itu me Nyuruh untuk mengecilkan televisinya lain anak itu Berkata, Ya, Buuu !! Dipagi harinya ibu melihat tv Nya menjadi kecil. Ibu itu pun bertanya kepada anak Nya, “Mengapa televiainya kok menjadi kecil ? ” “Kan ibu sendiri yang menyuruh untuk mengecilkan Televisinya, jadi say a tukarkan dengan yang lebih ke-Cil. ” Ibu out pun mengeluh sambil berkata, “Hare ge Nepunya anak teler … capek deeeeeh !!!

Dalam contoh di atas, unsur-unsur leksikal dialek seperti hare gene, teler, capeek deeeehyang menunjukkan bahwa peristiwa tutur di atas melibatkan ibu dan anak dalam suatu situasi tutur yang sangat akrab kemungkinan besar leksikal dialek (Betawi) ini tidak semua pembaca dapat memahamin maknanya dengan baik. E. Peristiw Tutur dan Tindak Tutur
Peristiwa tutur yang terjadi di dalam kolom CBHRT edisi Juli 2008 menggunakan bahasa Indonesia ragam santai. Ragam santai atau ragam kasual adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmiuntuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib. Seringkali struktur morfologis dan dan sintaksis yang normatif tidak digunakan, (Chaer 1995 : 94). Kalimat-kalimat yang digunakan adalah kalimat-kalimat yang mampu mengungkapkan sesuatu secara eksplisit dan implicit, (Subiyakto, 1992 : 30), sedangkan Tarigan (1982 : 43) mengatakan bqahwa bahasa lelucon itu bersifat ringkas dan tangkas dengan penekanan pada aksi tokoh (penutur dan lawan tutur) sehingga mampu menggugah rasa geli. Penokohan dalam suatu lelucon kerap kali mencapai sukses dengan memanfaatkan situasi cadangan dan tokoh-tokoh cadangan atau tokoh-tokoh tiruannya.
Lelucon menurut Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (1982) sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia . Dia dapat mengurangi ketegangan, atau hanya sekadar menggelikan hatiteman sejawat, atau hanya ingin menarik perhatian pembaca terhadap peristiwa yang lucu itu. Dalam kegiatan tulis-menulis pun para penulis sering menyelipkan lelucon dengan tujuan agar pembaca bisa terhibur atau sekadar ikut menikmati pengalaman penulis yang lucu itu, (Tarigan, 1982 : 43).

F. Makna Tersirat dan Tersurat
Bahasa Indonesia ragam santai yang digunakan dalam peristiwa tutur berseri kolom CBHRT edisi Juli 2008 adalah bahasa yang ringkas dan tangkas dengan kalimat-kalimat yang mampu mengungkapkansesuatu secara tersirat dan teresirat. Karena kemampuan komunikastif individual yang dimiliki penutur dan lawan tutur serta kemampuan komunikatif yang dimiliki masyarakat pembsca secara social/keseluruhan maka seri lelucon dalam kolom CBHRT dapat bermakna.
Di dalam seri lelucon kolom CBHRT, penutur menyampaikan gagasan/peristiwa dan ditanggapi oleh lawan tutur baik tersurat maupun tersirat. Demikian pula para pembaca HRT Pihak pengelola HRT pasti sudah memperkirakan bahwa seri lelucon itu akan berguna bagi para pembaca HRT, minimal sekadar selingan penghibur hati. Yang jelas, makna tersurat dan tersirat itulah yang terpenting bagi pembaca HRT untuk disimak karena siratan makna itu selalu bernuansa sosial, politik, pendidikan, dan Iain-lain.
Untuk menangkap makna tersirat itu dibutuhkan kemampuan komunikatif yang memadai. Kemampuan komunikatif tersebut dapat dimiliki seseorang melalui pendidikan dan latihan yang terus-menerus. Seorang pelawak dapat melawak dengan baik dan sukses di dunianya karena di samping keterampilan bahasanya yang cukup memadai, kemampuan komunikatifnya yang sangat tinggi, wawasan pengetahuannya yang cukup luas dan kepandaiannya dalam memanfaatkan situasi sehingga dia mampu menciptakan suatu situasi tutur yyang segar dan bermakna bagi penontonya. Begitu juga sebaliknya para penonton, karena kemampuan komunikatif sosial sama-sama

Perlokusi/akibatnya : Pasien merasa sangat aneh karena terlalu mahal, tidak seperti biasanya. Terrnyata, ilokusi dokter berikutnya adalah “Gara-gara teriakan Anda tiga pasien soya yang lain kabur” dan bernilai bagi pasien bahwa pasien harus membayar tambahan sebesar Rp 150 ribu untuk tketiga pasien lain yang telah melarikan diri. H. Unsur-unsur Bacaan/Cerita
Dalam penyajian suatu bacaan atau suatu derita, wujud yang pertama kali dilihat adalah kata-kata yang dijalin untuk membangun kalimat, dan kalimat-kalimat dijalin untuk membangun wacana/cerita secara keseluruhan. Setelah kita membaca rangkaian struktural itu barulah kita akan memperoleh makna yang berwujud implikatur, presuposisi, referensi, dan inferensi. Keempat unsur itu akan dijelaskan sebagai berikut. 1. Implikatur
Implikatur adalah ucapan atau tulisan yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dari yang sebenarnya diucapkan atau yang ditulis. Di dalam Echols (1996 : 313) terdapat kata implication yang berarti ‘maksud’, ‘pengertian’ secara tersimpul. Jadi implikatur memiliki makna yang sama yaitu maksud, pengertian, yang tersimpul. Mulyana (2005 : 11) mengatakan bahwa dalam lingkup analisis wacana, implikatur berarti sesuatu yang terlibat atau menjadi bahan pembicaraan. Dalam suatu tindak tutur, implikatur memiliki peranan yang sangat penting bagi pendengar atau lawan tutur di antaranya adalah menjelaskan pengertian yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, dan menyederhanakan pengertian-pengertian semantik yang terlalu rumit. Lebih jauh, Nababan (1987 : 28) dalam Mulyana (2005 : 11) menyatakan bahwa implikatur berkaitan erat dengan konvensi kebermaknaan yang terjadi di dalam proses komunikasi.

2. Presuposisi
Presuposisi berarti perkiraan, persangkaan, atau peranggapan. Di dalam Echols (1996 : 445) tertera kata presupposition yang berarti perkiraan/persangkaan. Semua yang diucapkan atau yang ditulis memiliki peranggapan berupa rujukan atau referensi dasar. Di dalam suatu peristiwa tutur, peranggapan adalah pengetahuan bersama antara penutur dan lawan tutur. Yang menimbulkan peranggapan adalah penutur, artinya peranggapan tentang sesuatu itu dimulai oleh penutur ketika dia memulai suatu tuturan kemudian ditanggapi oleh lawan tutur sehingga peristiwa tutur itu berlangsung dengan lancar.
3. Referensi
Referensi adalah hubungan antara yang diucapkan atau yang ditulis dengan sesuatu yang dirujuknya. Di dalam suatu peristiwa tutur, yang menentukan referensi tuturan adalah penutur karena penuturlah yang lebih mengetahuimaksud tuturannya. Mulyana (2005 : 15) mengatakan bahwa yang menentukan referensi suatu tuturan adalah adalah pihak pembicarasendiri, sebab hanya pihak pembicara yang paling mengetahui hal yang diujarkan dengan hal yang dirujuk oleh ujarannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa referensi itu merupakan perilaku pembicara atau penulis.
4. Inferebsi.
Inferensi merupakan suatu kesimpulan dari suatu pernyataan atau tutur. Echols (1996 : 320) mengatakan inference berarti kesimpulan. Dalam bidang wacana, inferensi berarti sebagai proses yang harus dilakukan pembaca untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat di dalam wacana yang diungkapkan oleh penulis,

(Mulyana, 2005 : 19). Jadi, pembaca/pendengar harus menyimpulkan sendiri apa yang ditulis atau diucapkan oleh pembicara atau penulis. I. Konteks Bacaan/Cerita
Bacaan/cerita adalah bentuk bahasa tulis yang bersifat komunikatif, interpretatif, dan kontekstual. Suatu bacaan atau cerita selalu bersifat komunikatif karena menyajikan informasi yang sangat dibutuhkan oleh pembaca. Untuk memahami informasi itu, pembaca harus mengadakan interpretasi terhadap apa yang terkandung di dalam bacaan/cerita itu berdasarkan konteksnya. Jadi, konteks merupakan sarana utama bagi pembaca/pendengar untuk mengadakan interpretasi atau penafsiran makna suatu ucapan/tuturan/ujarana/tulisan. Hal ini identik dengan apa yang dikatakan oleh Syafe’i dalam (Mulyana, 2005 : 24) bahwa konteks terjadinya suatu cerita dapat digolongkan menjadi empat macam yaitu 1) konteks linguistik berupa kalimat-kalimat yang ada di dalam bacaan/cerita, 2) konteks epitomi berupa lambang atau kode yang sudah dipahami bersama antara penulis dan pembaca atau antara pembicara dan pendengar, 3) konteks fisik berupa tempat terjadinya cerita, dan objek yang diceritakan, 4) konteks sosial berupa hubungan sosiokultural antarpelaku di dalam cerita.
Berdasarkan pengertian konteks tersebut di atas, dapat kita simpulkan bahwa peranan konteks di dalam suatu bacaan atau cerita sangatlah penting. Tanpa konteks, suatu cerita tidak dapat ditulis, dan tanpa pemahaman konteks yang baik seorang pembaca tidak dapat menerima informasi yang disajikan melalui cerita itu. Hal ini dipertegas oleh Dell Hymes dalam (Chaer, 1995 : 62) bahwa suatu peristiwa tutur terjadi karena didukung oleh delapan komponen yang bila huruf-huruf pertamanya

dirangkaikan akan menjadi sebuah akronim yaitu SPEAKING : S = Setting and scene (setting berkaitan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung dan scene berkaitan dengan situasi). P = participants (pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan itu) E = End/purpose/goal (tujuan pertuturan) A = Act sequence (bentuk dan isi ujaran) K = Key of spirit of act (cara/nada/semangat dalam menyampaikan pesan) I = instrumentalities (Alat /jalur bahasa yang dipakai, lisan/tulisan/kode) N = Norm of interaction/interpretation (norma/aturan berinteraksi G = Genre (jenis/bentuk penyampaian yaitu berupa narasi, puisi, doa dsb.)

Baca Artikel Lain

Fungsi dan Makna Afiks dari Bahasa Asing>>>>> Baca

bahasa ragam media-pada kolom coffee break harian radar Tarakan-edisi juli-2008 bab 1;>>>>> Baca

Tipe Data Statistik ;>>>>>>>>>>>> Baca

elemen statistik;>>>>>>>>> Baca

ilmu Gizi >> Baca

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s