MENGENAL ANAK DIDIK ADALAH BAGIAN DARI STRATEGI MENGAJAR

MENGENAL ANAK DIDIK ADALAH BAGIAN DARI STRATEGI MENGAJAR

Guru yang bijak merasa wajib untuk mengenal anak didiknya dengan baik tanpa itu, amat sulit bagi kita untuk membuat keputusan yang terkait dengan pembelajaran yang akan kita pilih. Uraian berikut ini diambil dari Dot Walker (1995) sebagai bahan pertimbangan bagi Anda.

Salah atau betulkan pernyataan berikut ini?

Keberagaman atau “diversity” adalah kreatif?

Etnisiti adalah sesuatu yang berkaitan dengan dimana Anda tinggal?

Diskriminasi perlu ditantang?

Pengajaran hendaknya sebagai respon terhadap konteks sosial dan kultural ?

Warganegara yang aktif dan informed (mempunyai informasi yang benar dan lengkap) adalah yang mengerti mengenai politik dan pemerintah?

Anak didik yang cacat tidak belajar sebaik anak-anak yang normal?

Para guru perlu menghadapi tantangan (challenge) dan mempunyai harapan yang realistis terhadap semua siswa?

Satu bagian terpenting dalam pembelajaran adalah menjadikan siswa mampu dalam merespon perubahan yang terjadi?

Gaya Belajar

Jika Anda amati dengan seksama bagaimana siswa-siswa Anda belajar, maka Anda sampai pada empat gaya belajar. Coba Anda simak skenario pembelajaran berikut ini.

Anda baru saja membeli alat dapur yang modern dari sebuah toko elektronik. Alat ini multiguna, dapat dipakai mulai dari membuka kaleng, memasukkan buah dalam botol, sampai dengan menimbang makan melalui sistem digital. Sebagai percobaan, alat ini Anda bawa ke kelas dan meminta siswa Anda mencoba bagaimana cara menggunakannya.

a) Active learners atau pembelajar aktif

Siswa yang termasuk kategori ini tidak suka menggunakan buku petunjuk. Mereka lebih senang mencari sendiri, trial and error – coba-coba, bagaimana mengoperasikan alat tersebut.

b) Structured learners atau pembelajar terstruktur

Siswa termasuk kategori ini mengikuti satu per satu, langkah demi langkah sebagaimana yang tercantum dalam manual.

c) Pembelajar personal

Siswa termasuk kategori ini lebih senang belajar dengan cara berbincang-bincang dan bertanya pada orang lain. Ia memerlukan seseorang berada di sampingnya.

d) Pembelajar terfokus

Siswa kategori ini senang dengan adanya tantangan. Dengan atau tanpa menggunakan manual ia ingin melakukan sesuatu yang memukau, diluar dugaan.

Contoh Kasus

Simaklah dengan seksama, kemudian pikirkanlah strategi pembelajaran yang tepat untuk memecahkan kasus-kasus tersebut. Kalau Anda cermati, kasus-kasus ini mengangkat berbagai isu yang terkait dengan hak asasi manusia, toleransi, kerja sama, dan gender. Semua isu ini akan dapat Anda tangani dengan baik, jika masyarakat sekolah Anda berwawasan luas, mengakui kenyataan adanya keberagaman dan perbedaan.

Kasus 1

Anda diminta untuk menerima seorang anak yang menderita penyakit lumpuh, yang terpaksa menggunakan kursi roda. Sejumlah siswa di kelas Anda berkomentar sangat negatif ketika Anda memberitahukan kedatangan anak yang kurang beruntung itu. Tentu saja anak ini tidak mampu berbuat apa-apa. Ini bakal menyeret anak cacat ini ke keadaan sangat tidak menyenangkan, bahkan merasa terhinakan.

Strategi apakah yang bakal Anda pakai untuk mendorong para siswa yang bersikap tidak pada tempatnya ini, sehingga bisa menerima anak itu sebagaimana adanya?

Kasus 2

Seorang siswa di kelas Anda terus-menerus mencuri alat-alat tulis teman-temannya. Anda tahu anak ini mencuri karena ia tidak mempunyai alat tulis yang ia perlukan. Keadaan keluarganya begitu rupa sehingga kalau Anda memberitahu orang tuanya, maka kemungkinan besar anak itu akan dipukul. Sementara itu siswa-siswa Anda yang lain semakin marah dengan keadaan ini dan tidak mau lagi bertegur sapa dengan anak tersebut.

Bagaimana caranya Anda menangani masalah ini dengan cara yang ekuitabel yaitu adil dan tidak memihak?

Kasus 3

Sebuah keluarga Kubu dari pedalaman, dengan 5 anak-anaknya baru saja pindah ke sebuah sekolah di sebuah desa kecil. Anda pernah mendengar siswa-siswa di kelas Anda memanggil keluarga yang baru pindah ini dengan sebutan-sebutan yang bernada menghina seperti “orang hutan, tarzan kampung, dan sebagainya.

Apa yang dapat Anda lakukan agar anak-anak di kelas 5 ini dapat menerima adanya perbedaan kebudayaan?

Kasus 4

Anda seorang guru kelas 6 yang prestasi akademik siswa-siswanya di atas rata-rata. Namun ada seorang anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, dan hambatan dalam berbicara yang sangat serius. Tidak satupun siswa-siswa yang ingin bekerja sama dengan anak ini. Oleh beberapa teman-temannya sekelas, anak ini sering dikatai-katai sebagai anak bebal.

Bagaimana Anda meyakinkan siswa-siswa lainnya bahwa anak inipun mempunyai kesempatan dan hak yang sama dengan mereka dalam mengikuti proses belajar?

Kasus 5

Dalam kelas 6 yang Anda ajar hanya ada tiga siswa perempuan. Anak laki-laki mendominir hampir semua kerja kelompok dan diskusi kelas. Dalam pendidikan olahraga anak perempuan ini selalu yang terakhir untuk dipilih sebagai anggota tim. Anda juga mengamati sering kali ada komentar yang bernada anti gender dari siswa laki-laki.

Strategi mengajar apakah yang dapat Anda terapkan untuk memperbaiki keadaan ini?

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s