MANA YANG HARUS DIRENOVASI DALAM REFORMASI PENDIDIKAN

MANA YANG HARUS DIRENOVASI DALAM  REFORMASI PENDIDIKAN

Mengumpamakan reformasi pendidikan dengan mobil, sopir, penumpang, jalan raya serta lingkungannya, dan tempat yang hendak dituju dalam sebuah perjalanan tidaklah dimaksudkan untuk menyederhanakan informasi pendidikan kita semua tahu mereformasi pendidikan bukan suatu upaya yang sederhana. Pengibaratan itu hanya sebatas maksud untuk menvisualisasikan isu-isu pokok dalam pendidikan.

a) Jalan Raya dan Lingkungan Pendidikan

Sebuah “real estate” yang bonafit, bijaksana dan berpandangan kedepan, sebelum ia membangun rumah, bahkan sebelum melakukan pemasaran, ia membuat sarana jalan, menyiapkan jaringan listrik, telepon, saluran air, dan saluran pembuangan limbah kotoran manusia, serta menata lingkungan sekitarnya supaya kellihatan serasi, menarik, nyaman, dan aman. Bahkan ada yang mengundang publik untuk menyampaikan saran-saran perbaikan.

Jalan raya dan lingkungan yang asri,aman nyaman dan terkendali, dalam konteks pendidikan, dapat diibaratkan sistim makro yang langsung atau tidak langsung terkait untuk mengembangkan mutu dan pelayanan serta hasil pendidikan. Sistim politik, kebijaksanaan ekonomi dan keuangan, ekspor-impor, perpajakan, kerjasama luar negri. Rekrutmen kerja sama termasuk pemimpin, sistim inpasi dan pengajuan, pengembangan staf dan karir, dan sistim nilai sosial budaya, merupakan jalan raya dan lingkungan pendidikan. Pendidikan seharusnya disadari sebagai hasil investasi bangsa, sebuah investasi mestinya disepakati lebih penting daripada investasi dalam bidang manapun. Bagaimana mungkin pendidikan Indonesia dapat berkembang jika kebijakan dan prakatek di tanah air sebagaimana yang diilustrasikan oleh Editorial Media (3 Mei 2001) :

“Pendidikan di Indonesia adalah dunia yang sepi dan terbuang. Ia seperti ditakdirkan untuk menderita sendirian dan menanggung kemasyghulan dari penguasa satu ke penguasa yang lain… Yang amat menyedihkan, di republik ini dalam kesulitan ekonomi paling gawat sekallipun, politik selalu bisa dengan mudah menarik orang ramai untuk mendanainya. Sementara itu pendidikan dalam keadaan ekonomi amat bagus sekalipun, dia tetap dalam kepapan”.

Tak kurang pentingnya adalah kebijakan dalam merekrut tenaga kerja baik di sektor pemerintah dan swasta. Kebijakan dan praktek rekrutmen yang lebih terkesan kolusi dan nepotisme sungguh merupakan penyakit kanker yang mematikan pendidikan. Seorang lulusan pendidikan tidak perlu lagi berbekalkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang terpuji untuk mendaptkan pekerjaan. Sebaliknya lulusan dengan hasil yang baik, tidak pernah yakin akan mendapatkan pekerjaan yang ia minati. Sistim dan praktek rekrutment tenaga kerja kurang lebih cenderung menggunakan pendekatan personal dari pada kemampuan profesional, langsung atau tidak langsung ikut menjatuhkan kualitas pendidikan, juga langsung atau tidka langsung telah menghambat pembaharuan pengajaran yang terjadi di Sekolah dna kelas. Dalam jangka panjang akan ikut juga memerosotkan “Strong determination to succeed” atau tekad untuk berhasil. Padahal seperti yang dikemukakan oleh De Boro, tekad yang kuat untuk berhasil inilah yang membawa Singapura menjadi salah satu Negara di dunia yang sangat berhasil.

Pentingnya mutu pendidikan di Indonesia bukanlah semata-mata berasal dari pendidikan sendiri, tapi lebih banyak dan kuat berasal dari lingkungan sekitar

Lemahnya dukungan terutama dukungan politik, kurangnya kaitan antara kebijakan di bidang ekonomi, keuangan, investasi, perpajakan, rekrutmen tenaga kerja, sistem upah dan penggajian, pengembangan karir, dengan pendidikan itulah yang menjadi faktor mengapa mutu pendidikan di Indonesia sukar untuk berkembang

b) Pengemudi Pendidikan

Guru dan kepala sekolah adalah pengemudi pendidikan di lapangan. Semestinya mereka ini direkrut dari calon pengemudi yang berbakat, cerdas, dan bertanggung jawab.

Pembaharuan pengemudi pendidikan harus dilakukan jika mutu pendidikan akan ditingkatkan. Harus ada keputusan politik, keuangan dan anggaran dan ketenaga-kerjaan yang dimaksudkan untuk menjaring dan menyaring calon tenaga pendidikan. Ketika kebijakan pembuatan “Tunjangan Ikatan Dinas (TID)” kepada calon Guru diberlakukan, maka Indonesia mampu merekrut calon Guru yang berbakat dan berkemampuan akademik yang baik.

Rekrutmen, seleksi, pelatihan, dan instruksi guru dengan tingkat pedagogical dan life skills yang tinggi merupakan tanggung yang besar bagi suatu bangsa. Profesi suatu guru harus diduduki oleh mereka yang mempunyai pribadi terpuji dan merupakan “Role models” bagi kaum muda.

Pilihan untuk perbaikan sesunguhnya sudah jelas jika kita berkaca pada pengalaman masa lalu. Dukungan untuk emmeprkuat lembaga pendidikan guru hendaklah dijadikan prioritas Nasional. Melalui TID akan terjadinya lulusan yang terbaik yang berminat untuk meneruskan kelembaga pendidikan guru.

Kebijakan ini akan melahirkan guru-guru dan kepala sekolah yang tangguh. Dair merekalah kita berharap pembaharuan pendidikan, terutama pembaharuan pembelajaran yang terjadi. Dari mereka pulalah kita dapat berharap untuk melahirkan lulusan atau SDM yang juga bermutu tinggi. Dengan SDM yang bermutu tinggi ini pulalah Indonesia membangun dan mengembangkan sector industri, perdagangan, pertanian, dan jasa yang tangguh yang pada gilirannya akan meningkatkan GDP dan GNP rakyatnya. Membenahi jalan raya dan lingkungan, serta mendidik dan melatih para pengemudi seharusnya menjadi prioritas utama. Idealnya, bahkan lebih tinggi skalanya dari pada sektor-sektor lainnya.

c) Mobil

Dengan jalan raya dan lingkungan yang kondusif dan pengemudi yang tangguh maka dengan mobil (kurikulum, bahan ajar, dan tehnik serta media pembelajaran). Seandainyapun kita masih dapat berharap penumpangnya akan sampai ke tempat tujuan. Artinya jika dukungan politik dna kebijakan makro yang diambil oleh pemerintah itu mendukung, dan guru-guru kita di rekrut dengan cara yang frofesional, maka betapapun belum sempurnyanya kurikulum, kita masih dapat berharap akan terjadi pembaharuan yang positif dan signifikan pada anak didik kita.

Sopir (guru) yang handal bahkan ada kalanya mampu memperbaharui mobil (kurikulum) yang ia bawa. Sementara itu, sesuai dengan kemampuan ekonomi secara bertahap kita mulai meng-upgrade mobil (kurikulum, bahan ajar, dan media pembelajaran) yang ada dan dengan semakin membaiknya ekonomi- keuangan, kita mampu membeli mobil-mobil baru (kurikulum baru) yang lebih canggih.

Bukankah pengalaman telah mengajarkan kepada kita walaupun mobil (kurikulum, bahan ajar, dan tehnik serta media pembelajaran) yang ada telah kita upgrade berkali-kali, namun dengan kemampuan para pengemudinya (guru, kepala sekolah) yang terbatas, hingga saat ini kita belum menyaksikan hasil yang kita harapkan.

d) Penumpang dan Tujuan

Penumpang terpentign pertama adalah anak didik. Penumpang kedua terpenting adalah orang tua murid, dan yang terpenting ketiga adalah pemakai lulusan. Supir (guru) yang bijak dan mobil (kurikulum, bahan ajar, dna tehnik serta media pembelajaran) yang bagus harus membawa ketiga jenis penumpang ini bersama-sama dalam satu mobil.

Lahirnya gagasan yang diberi nama dewan pendidikan, komite sekolah, manajemen berbasiskan sekolah (MBS), pada dasarnya dimaksudkan agar dialog yang sehat, konstruktif dan produktif dapat terjadi. Anak didik, orang tua dan pemakai lulusan (penumpang) berharap agar guru (pengemudi) dengan kurikulum., bahan ajar, dan tehnik serta media pembelajaran (mobil) yang dipercayakan kepadanya harus mampu memberikan layanan yang memuaskan dari segi intelektual, fiskal, emosional, sosial dan spiritual. Dimensi spektif pengembangan perasaan, harus mendapatkan perhatian lebih besar.

Belajar tidaklah terkait dengan aspek intelektual semata-mata, tapi harus dikaitkan pula dengan tindakan yang prkatis dan peluang untuk mencurahkan perasaan pribadi ke anak didik.

Aspek pendidikan harus lebih jauh dari sekedar mengajarkan hal-hal yang rasional, namun tanpa menjadikan mereka mahluk yang irrasional.

Perasaan dan emosi merupakan bagian yang terpenting dalam perkembangan watak manusia dan karenanya menjadi bagian yang sentral dalam pendidikan. Imajinasi dan intelek sam pentingnya, saling isi mengisi, dan slaing membutuhkan. Pendidikan harus mampu melengkapi anak didik untuk mengatasi mamsalah yang timbul akibat hati dan pikiran yang sempit.

Lembaga pendidikan bekerja sama dengan masyarakat dan pihak-pihak lainnya yang berkepentingan lainnya, patut memberikan dukungan kepada warga dari berbagai kelompok umur dalam membangun relasi sesamanya secara positif dan bermanfaat. Membangun hubungan dalam diri sendiri secara positif dan sehat juga tak kurang pentingnya.

Pendidikan harus mampu menjadikan setiap anak didik menjadi calon pemimpin untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Goh Cok Tong, Perdana mentri Singapura, seorang pemimpin yang baik harus mempunyai 5 C yang andal yaitu : character atau sifat dan tabiat, capability atau kemampuan profesional, compassion atau perasaan haru, simpati, tidak tega melihat kesusahan, penderitaan, kemelaratan, dan kebobrokan keduniaan (termasuk KKN), conviction atau pendirian yang teguh, tidak mencla mencle, dan commitmen atau tekad untuk menempati janji, ikrar, atau sumpah ketika ia dilantik sebagai pemimpin.

Sekali lagi, pendidikan dengan basis yang kuat snagat diperlukan untuk mengjhasilkan warga dan calon-calon pemimpin sebagaimana digambarkan oleh perdana menteri Singapura. Ingatlah kembali ungkapan masyarakat Afrika yang kemudian dikutif oleh Hillary Clinton : “It takes an empire village to educate a single child”. Secara tersurat dan tersirat ucapan ini berada dalam lahirian berbasis luas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s