PERUBAHAN BUDAYA PEMBELAJARAN

PERUBAHAN BUDAYA PEMBELAJARAN

Pembelajaran berbasis budaya yang berlandaskan pada konstruktivisme membawa budaya pembelajaran yang berbeda dari pembelajaran yang terjadi selama ini. Brooks & Brooks (1993) menyatakan bahwa

“… making a difference is when students work with adults (i.e., teachers) who continue to view themselves as learners, who ask questions with which they themselves still grapple, who are willing and able to modify both content and practices in the pursuit of meaning, and who treat students and their endeavors as works in progress which are uniques, not uniformed finished products”.

Dalam mengupayakan perubahan tersebut, bukan hanya suasana pembelajaran dan perancangan pembelajaran yang diharapkan dimodifikasi dan dikembangkan, namun juga budaya pembelajarannya.

Pembelajaran merupakan proses pembudayaan, dalam arti pembelajaran menjadi wahana untuk terjadinya penyampaian budaya ilmiah dan budaya kehidupan bangsa kepada siswa sebagai generasi penerus, terjadinya adopsi budaya ilmiah dan budaya kehidupan komunitas oleh siswa, serta pengembangan budaya dalam suatu komunitas. Namun, pembelajaran sendiri memiliki budaya yaitu tradisi, asumsi, kaidah ilmiah, dan lain-lain, yang menjadikan pembelajaran sebagai suatu sistem budaya tersendiri. Dari masa ke masa budaya pembelajaran mengalami perubahan, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, dan beragam kebutuhan masyarakat.

Seruan untuk budaya pembelajaran berubah dari budaya yang berfokus pada guru atau materi bidang ilmu (teacher-centered atau content-centered) menuju budaya pembelajaran yang berfokus pada siswa telah dimulai sekitar akhir tahun 1960-an dan atau awal tahun 1970-an. Namun demikian, sampai sekarang pembelajaran tradisional yang berbasis pada guru atau materi bidang ilmu (pemenuhan kurikulum) masih sangat umum dijumpai. Misalnya dalam pembelajaran MIPA, dengan dalih berbagai kendala dan keterbatasan (peralatan, laboratorium, dan lain-lain.), sangat umum terjadi proses pembelajaran “sastra MIPA” – atau yang disebut oleh Lythcott & Stewart (2001) sebagai inherited language science. Pembelajaran berbasis budaya menyerukan bagaimana guru, siswa, kurikulum, dan proses belajar membuat perbedaan dalam proses pembelajaran maupun hasil pembelajaran, atau secara umum dalam budaya pembelajaran.

Proses Pembelajaran

Berdasarkan konstruktivisme yang mempersyaratkan terjadinya interaksi untuk negosiasi makna dalam proses penciptaan makna atau proses belajar, maka proses belajar tidak dapat dirancang dengan guru berperan sebagai penceramah dan penyampai materi pelajaran, sementara siswa duduk dengan pasif mendengarkan, atau mencatat materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, dan menerima mata pelajaran sebagai bingkisan yang sudah terkotak-kotak.

Proses belajar dalam pembelajaran berbasis budaya berfokus pada:

Strategi atau cara agar siswa dapat melihat keterhubungan antarkonsep/prinsip dalam bidang ilmunya, dengan budaya, dalam beragam konteks yang baru, dan dalam konteks komunitas budayanya;

Strategi atau cara agar siswa memperoleh pemahaman terpadu tentang bidang ilmu dan budaya sebagai landasan untuk berpikir kritis, menyelesaikan beragam permasalahan dalam konteks komunitas budaya, serta mengambil keputusan yang sahih berdasarkan kaidah keilmuan;

Strategi atau cara agar semua siswa dapat berpartisipasi aktif, senang, dan bangga untuk belajar bidang ilmu dalam pembelajaran berbasis budaya;

Strategi atau cara agar siswa dapat menciptakan makna berdasarkan pengetahuan dan pengalaman awal yang dimiliki, melalui beragam interaksi aktif dengan siswa lain, guru, tokoh, dan juga dengan materi atau contoh konkret;

Strategi atau cara agar siswa dapat memperoleh pemahaman bahwa ada kaidah keilmuan dalam kehidupan sehari-hari siswa dan konteks komunitas budayanya, juga ada budaya dalam konteks bidang ilmu, dan bahwa kaidah keilmuan adalah bagian dari budaya mereka;

Strategi atau cara agar siswa dapat memperoleh pemahaman yang terintegrasi dan keterampilan ilmiah (scientific inquiry skills) – dalam mempersepsikan segala sesuatu di sekelilingnya, termasuk dalam budaya dan ragam perwujudan budaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s