Metode Langsung Pengajaran Bahasa

Metode Langsung Pengajaran Bahasa

Metode langsung dalam pengajaran bahasa adalah metode yang didasarkan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Tujuan pengajaran yang ingin dicapai adalah penguasaan dan pengembangan rasa bahasa yang naluriah yang berakar dalam hubungan langsung antara pengalaman dan ekspresi. Rasa bahasa ini bersumber pada bahasan lisan. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya mula-mula diutamakan, sedangkan membaca dan mengarang diberikan kemudian

2. Untuk menjaga hubungan langsung antara pengalaman dan ekspresi. maka pemakaian bahasa lain sebagai perantara tidak dilakukan.
3. Pengajaran diberikan sesuai dengan garis yang dilalui oleh pembelajar dalam belajar bahasa ibunya.
4. Penguasaan struktur dan pemakaian bahasa diajarkan secara induktif.
5. Jumlah waktu yang terbanyak diberikan untuk latihan-latihan berbahasa lisan.
6. Dalam kelas diciptakan suasana belajar yang menguntungkan.
7. Minat belajar pembelajar harus ditimbulkan dalam pelajaran itu sendiri.
8. Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, tampak metode langsung adalah metode bahasa yang dalam pelaksanaannya menolak pemakaian bahasa ibu pembelajar.

Semua aspek bahasa yang diajarkan dan disinggung tidak dalam bentuk formal. Kata-kata diajarkan dengan langsung menghubungkannya dengan benda-benda, situasi-situasi, pekerjaan pekerjaan yang dilukiskan oleh kata-kata itu. Sejak permulaan pengajaran pembelajar dibiasakan mendengarkan pola-pola, irama dan intonasi bahasa itu dan mereka didorong melakukannya sebanyak mungkin. Bahasa itu diajarkan secara fungsional tanpa memberikan tata bahasa secara formal dan berdiri sendiri. Kata-kata dan pola-pola bahasa itu diajarkan dengan menyajikan gambar-gambar, benda-benda atau tiruan bendanya, dengan mendramatisasikan perbuatan-perbuatan yang terkandung di dalamnya. Jika dirasa perlu, memberikan penjelasan-penjelasan dengan bahasa itu, tanpa bantuan terjemahan atau penjelasan dalam bahasa ibu pembelajar. Dengan cara demikian, sejak permulaan pengajaran terbentuklah pada pembelajar hubungan yang rapat antara pengertian-pengertian dan gagasan-gagasan dengan kata-kata dan struktur-struktur bahasa yang diajarkan itu. Sejak permulaan pengajaran pembelajar telah didorong berpikir dalam bahasa itu. Dengan cara demikian paling kurang dalam kelas itu pengajar berusaha menciptakan susasna masyarakat sebagai mana yang terdapat dalam masyarakat bahasa itu. Hal ini sekaligus berarti bahwa pengajar berusaha mengajar pembelajar berbahasa sebagaimana mereka mempelajari bahasa ibunya.

Metode langsung sesungguhnya berdasarkan metode Gouin. Tetapi dalam perkembangannya selanjutnya ada beberapa bagian dari metode Goiun itu yang telah ditinggalkan orang.
Pelaksanaan metode langsung secara murni dapat digambarkan sebagai berikut. Mula mula anak-anak disuruh meniru perbuatan pengajar dan diiringi dengan berbicara (perkataan atau kalimat yang menggambarkan perbuatan itu). Kemudian gerak dan berbicara ini dilanjutkan dengan dialog ringkas, percakapan segi-tiga, berempat, dan seterusnya sampai akhirnya pelajaran menjadi sebuah sandi.wara kecil, penuh dengan gerak gerik dan penggunaan bahasa. Kemudian pelajaran dilanjutkan dengan permainan yang lebih panjang.

Keuntungan yang tampak pada metode ini adalah :
a. Kita dapat menhindarkan diri dari menyuruh pembelajar menghafal bahasa baku yang baku yang kadang-kadang tidak sesuai dengan pemakaian bahasa yang sesungguhnya dalam masyarakat.
b. Perhatian dan kegiatan-kegiatan pembelajar akan lebih besar daripada menerima pelajaran secara verbalistik. Perhatian pembelajar merupakan tumbuh dengan sewajarnya tanpa desakan yang dibuat-buat.
Kritikan-kritikan yang sering dikemukakan orang terhadap metode ini adalah sebagai berikut:
1) Tidak semua vokabuler dapat diajarkan dengan cara menghubungkan secara langsung benda, situasi atau pekerjaan yang digambarkannya. Sebagian harus dijelaskan dengan memberikan sinonim, antonim, defmisi, penjelasan-penjelasan atau dalam pemakaiannya. Oleh karena itu banyak kesukaran yang dihadapi dan kesalahan-kesalahan mudah terjadi.
2) Pembelajar cendcrung secara diam-diam menterjemahkan lebih dahulu dalam hati kata-kata bahasa baru itu ke dalam bahasa ibunya dalam usahanya mencari persamaan pengertian yang dikemukakan dalam bahasa baru itu. Dalam hal ini tampak metode langsung lebih kompleks daripada metode terjemahan.
3) Jika semua kata harus diajarkan demikian, kemajuan dalam pelajaran membaca pada taraf- taraf permulaan cenderung menjadi lambat.
4) Pembelajar memperoleh pengetahuan kata-kata secara berlebih-lebihan. Sedangkan penguasaan dalam pemakaiannya tidak seberapa.
5) Pembelajar memperoleh kesukaran tentang bentuk-bentuk tata bahasa oleh karena media dalam menerangkan bentuk-bentuk i bahasa ini merupakan sumber kesukaran. Hanya di kelas-kelas lebih tinggi pembelajar dapat dianggap mampu berpikir dalam bahasa itu.
6) Jika pengajar dapat menciptakan suasana pembelajar belajar bahasa ibunya, kita dapat mengharapkan hasil pengajaran yang baik, tetapi suasana kelas yang seperti itu hanya berlangsung dalam waktu yang p ndek, sedangkan suasana yang persis sama jarang dapat dipertahankan untuk waktu yang lama.
7) Metode langsung tidak mengemukakan seuatu tentang pemilihan bahan, penentuan urutan bahan dan sangat sedikit mengemukakan cara-cara penyajian bahan, kecuali hanya mengemukakan bahwa pengunaan bahasa ibu dan terjemahan ke dalam bahasa ibu dilarang.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s