Metode Berlizt dalam Pengajaran Bahasa

Metode Berlizt dalam Pengajaran Bahasa

Metode Berlizt adalah salah satu contoh pemakaian metode langsung. Dasar-dasar yang menjadi landasan metode ini adalah sebagai berikut :
1) Hubungan langsung antara bahasa yang diajarkan dan pikiran pembelajar selalu dijaga. Pembelajar dibawa berpikir dalam bahasan yang diajarkan itu.
2) Bahasa ibu pembelajar tidak dipakai sama sekali.
3) Kata-kata benda konkret diajarkan dengan memperlihatkan benda atau gambarnya, atau tiruannya.
4) Kata-kata benda abstrak diajarkan dengan menghubungkan pengertian dengan demonstrasi.
5) Tata bahasa diajarkan dengan contoh-contoh.
6) Sejak permulaan segala sesuatu diajarkan secara lisan.
7) Pada umumnya kata-kata diberikan dalam hubungan kalimat, bukan dalam bentuk benda, diajukan pertanyaan-pertanyaan : apa ini ? Ini pensil (sambil memperlihatkan bendanya), dan sebagainya.
Kebaikan metode ini adalah sebagai berikut:
1) Oleh karena titik berat pelajaran diletakkan pada latihan mendengar (menangkap) dan berbicara (menghasilkan) bahasa yang sedang dipelajari, maka metode ini baik sekali untuk tujuan mempelajari bahasa lisan.
2) Oleh karena pembelajar sudah memperoleh dasar berbahasa lisan yang baik, maka metode ini juga baik untuk bahasa tertulis. Dibanding dengan metode terjemahan, anak anak akan lebih mudah belajar membaca dan menulis dengan metode ini.
3) Pengajar yang mengetahui hanya bahasa yang akan diajarkannya itu saja akan dapat mengajar kelas yang pembelajarnya berbeda-beda bahasa ibunya, seperti kebanyakan sekolah yang terdapat di kota-kota.

Kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ini adalah :
a) Oleh karena semua pelajaran diberikan secara lisan dalam bahasa yang diajarkan itu, maka pengajar harus sungguh-sungguh fasih (menguasai) berbicara dalam bahasa itu. Dalam prakteknya syarat ini umumnya sukar dapat dipenuhi.
b) Jumlah pembelajar dalam suatu kelas tidak boleh besar.
c) Demonstrasi yang diperlukan untuk mejelaskan pelajaran sangat membantu pengajar, terlebih lagi jika pengajar harus mengajar banyak. Selain dari pada itu bahaya lain, bahwa realisasi pembelajar mungkin berlainan dari pada yang diduga. sehingga ada kemungkinan pelajaran akan berubah menjadi sandiwara lelucon saja, yaitu pengajar yang bertindak sebagai pelaku utamanya.
d) Seringkali memberikan keterangan dan mendemonstrasikan berarti membuang-buang waktu, karena dapat berjalan lebih pesat dan salah pengertian dapat dihindarkan dan ketelitian pengajar dapat dikurangi.
e) Susuanan pelajaran sebagian dipengaruhi oleh apa yang mudah diajarkan saja.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s