PENDEKATAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

PENDEKATAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Perbuatan belajar ingin menguasai dan memperoleh sistem respons berupa perilaku yang mengait domein (ranah) kognitif, efektif dan psikomotorik. rincian tujuan secara operasional akan menentukan strategi, pendekatan dan metode-metode mengajar atau juga model-model pembelajar dalam pengembangan kegiatan belajar-mengajar- Berikut ini akan memperlihatkan pendekatan konsep dalam kegiatan belajar-mengajar.

1. Konsep dan Ciri-ciri Konsep
Apakah konsep itu ? Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiiiki ciri-ciri tertentu yang sama. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Manifestasi (perwujudan) proses kognitif melalui tahap-tahap.
a. Mengklasifikasikan pengalaman untuk menguasai konsep tertentu.
b. Menafsirkan pengalaman dengan jalan menghubungkan konsep yang telah diketahui
untuk menyusun generalisasi.
c. Mengumpulkan informasi untuk menafsirkan pengalaman, tahap im disebut berpikir asosiatif
d. Menginterprestasikan atau menafsirkan pengalaman-pengalaman keadaan yang telah diketahui.
Setiapa konsep yang telah diperoleh mempunyai perbedaan isi dan luasnya. Seseorang yang memiiiki konsep melalui proses yang benar pengalaman dan pengertiannya aican kuat. Kemampuan membedakan sangat dibutuhkan dalam penguasaan konsep. Dapat membedakan konsep berarti dapat melihat ciri-ciri setiap konsep.
2. Ciri-ciri suatu konsep adalah

a. . Konsep memiliki gejala-gejala tertentu
b. Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman laagsung.
c. Konsep berbeda dalam isi dan luasnya.
d. Koasep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalarnan.

e. Konsep yang benar membentuk pengertian.
f. Setiap konsep berbeda dengan melihat ‘ciri-ciri tertentu.
3. Pendekatnn Konsep dalam Kegiatan Belajar Mengajar
– Konsep dasar adalah konsep yang diperoleh melalui pengalaman yang benar. Konsep dasar berkembang melalui bimbingan pendidikan dan proses belajar mengajar.
Contoh : Perkembangan konsep bahasa anak. Dimulai dari suaru-suara yang tak ada artinya (berceloteh) menjadi suara.huruf, lambat laun menjadi suku kata.
– Konsep dimulai dengan memperkenalkan benda konkret, berkembang menjadi simbol sehingga menjadi abstrak yang berupa ucapan atau tulisan yang mengandung konsep yang lebih kompleks.

Konsep yang kompleks memerlukan permunculan berulang kali dalam satu pertemuan dalam kelas, didukung media atau sarana yang tepat.
contoh : Kalau pengajar menjelaskan konsep “mata”, maka pembelajar dapat memperlihatkan mata mereka secara konkret. Pengajar bertanya. inana matamu ? Apa gunanya mata. Berapa matamu ? Dan pertanyaan-pertanyaan ini pembelajar dapat menghubungakan benda konkret dengan fungsinya dan kegiatannya. Semua ini memunculkan pengalaman baru. Dalam proses internalisasi suatu konsep perlu diperhatikan dari beberapa hal; antara lain.
– Memperkenalkan benda-benda yang semula tak bernama .menjadi bernama.
– Memperkenalkan unsur benda, sehingga memberi kemungkinan unsur lain.
Contoh : bunga-berbau (harum/tak hariim)
berwarna (bermacam-macam)
berdaun (kecil, besar, bergerigi)
berduri (lunak. keras)
– Menunjukkan ciri-ciri khusus pada benda yang diperlihatkan.
– Menunjukkan persetujuan dengan membandingkan contoh dan bukan contoh
Contoh : pakaian: kain-kain yang dibuat dan dipakai di badan
bukan contoh : tas, kalung, giwang; barang-barang ini dipakai tetapi bukan pakaian, melainkan pelengkap pakaian.
Oleh karena itu kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah
1. Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkunean.
2. Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang tienar yang mudah dimengerti.
3. Memperkenalkan konsep yang spesiflk dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep
yang kompleks.
4. Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.

4. Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu,
a. Tahap enaktik
b. Tahap simbolik
c. Tahap ikonik
4. a. Tahap enaktik dimulai dari,
– Pengenalan benda konkret.
– Menghubungkan dengan pengalaman lama atau berupa pengalaman bam.
– Pengamatan, penafsiran tentang benda baru.
b. Tahap simbolik, dengan memperkenalkan,
– Simbol, lambang, kode, seperti angka, huruf. kode, seperti (? = ,/) dll
– Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah siswa
cukup mengerti akan ciri-cirinya.
– Memberi nama, dan istilah serta defmisi
c. Tahap ikonik, tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak; seperti,
– Menyebut nama, istilah, defmisi, apakah siswa sudah mampu mengatakannya.
Penjelasan langkah-langkah pendekatan Konsep
1) Tahap Enaktik
a. Pengajar memperlihatkan barang-barang yang sering dipakai orang sehari-hari untuk
menutup badan dan perlengkapannya. Pembelajar diminta mengamati dan
menghubungkan dengan apa yang pernah dialaminya atau barangkali ada kreasi baru.
b. Pengajar bertanya agar mendapat respons tentang barang-barang tersebut. Apakah
kamu pernah mengenakan barang seperti ini Jawabnya ya atau tidak. Apakah barang-
barang ini sambil diperagakan, di pakai di badan, di sebagian badan atau di seluruh
badan atau di kaki, di tangan atau di leher ? Jawabnya = ya atau tidak. Kegiatan ini
diulang-ulang sehingga jelas dan pembelajar ada yang merespons betul dan ada juga yang salah
2) Tahap Simbolik
a. pengajar memperlihatkan gambar tentang barang-barang yang ditunjukkan pada a
dan b. Pembelajar menunjuk dan menyebut ciri-ciri khusus tiap-tiap benda tersebut,
misalnya,
– terbuat dari: kain, kulit, plastik dsb.
– bermacam-macam warna : putih, cokelat,
– berbeda-beda model: berlengan, berkerah
b. Pengajar menempel kertas bergambar yang ada tulisannya BAJU”. Tulisan di bawah
baju. Pengajar sambil rnenunjuk gambar dan tulisan secara bergantian. Kegiatan ini
diulang ulang dan tekanan pada ucapan (membaca) kata BAJU itu.
c. Pengajar menunjuk sekali lagi gambar yang telah dikelompokkan. sebagai contoh
gambar : kemeja, blus, kebaya, celana, rok dan lain sebagainya yang dikelompokkan
dengan gambar tas, sepatu, ikat pinggang, topi dsb. Pengelompokan ini berdasarkan
contoh (sebenarnya) dan berdasarkan bukan contoh (sebagai pelengkap atau yang
berkesan mirip). Pembelajar menganiutidan mencamkan.
d. Pengajar bersama pembelajar memberi sebuah nama atau istilah. Gambar ini atau
barang yang termasuk baju dan gambar atau barang yang bukan baju tetapi sebagai
pelengkap. Pembelajar secara lisan dapat menyebut dengan nama “BAJU” dan defmisi

Menurut Jerome Bruner strategi pengolahan informasi perolehan konsep dilakukan dengan pendekatan konsep secara cermat. Imbauan J. Bruner ialah agar pembelajar memiliki kemampuan berpikir induktif dan pada pembelajar terbentuk konsep yang benar. Selain memiliki konsep yang benar juga memiliki konsep yang kuat pada din pembelajar. Akan tetapi jangan tergesa-gesa mengambil menyimpulkan menjadi simbol. Dampaknya pembelajar hanya akan meniru yang diucapkan pengajar. Jika konsep dasar yang dimiliki pembelajar kuat maka dengan mudah ia akan memberi pengertian sesuai dengan situasi. Dengan proses pembelajaran, proses bimbingari, proses pendidikan yang kontinyu akhimya konsep-konsep dasar akan dapat diperhalus. Kedewasaan pembelajar yang makin bertamball dan meningkat, pengajar dapat mempercepat proses pembentukan konsep dalam pembelajaran.

4) Cara Mempercepat Konsep

a. Contoh dan bukan contoh diharapkan sedapat mungkin dengan kehidupan sehari-hari.
b. Memberi nama, istilah dan definisi sesuai dengan contoh yang konkret.
c. Menghindari konsep yang tertutup atau yang sulit dipahami oleh pembelajar, dengan
alasan kemampuan berpikir si pembelajar masih sederhana.
d. Memberi kesempatan lebih banyak untuk menghubungkan dengan pengalaman atau memperoleh pengalaman.
e. Memberi latihan-latihan secara teratur, dan memberi kesempatan untuk berhasil.
f. Membantu menemukan simbol dalam konsep itu dan menyusunnya dalam suatu kata
atau kalimat yang dapat diterima oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain.

“BAJU”.

3) Tahap Ikonik

a. Pengajar menunjuk tulisan “BAJU”, pembelajar mengucapkan “BAJU”.
b. Pengajar mengucapkan kai., “BAJU”, pembelajar dapat menjelaskan pengertian
“BAJU”.
c. Kalau pengajr menyuruh seorang pembelajar, “Lipatlah baju mil pembelajarpun akan
mengambil salah satu baju dan dilipat. Ini suatu pertanda bahwa pembelajar telah
memiliki konsep.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s