Teknik Fisika, Sebuah Etos Kerja?

Teknik Fisika, Sebuah Etos Kerja?
Oleh Ery Djunaedy

Tatkala Prof. Beijerinck, pensiun sebagai guru besar fisika di Universitas Utrecht dan guru besar Teknik Fisika di Technische Universiteit Eindhoven (TUE), tahun 1991, ia menyampaikan sebuah pidato perpisahan yang diberi judul “Teknik Fisika: Fiksi Ataukah Sebuah Bidang Kajian Tersendiri?”

Prof. Beijerinck adalah seorang fisikawan dari jurusan Fisika (murni) yang diminta untuk bergabung dan mengembangkan jurusan Teknik Fisika di TUE. Judul dari pidato perpisahannya merupakan ringkasan dari dua puluh tahun lebih mengembangkan jurusan TF-TUE. Pidato itu dikembangkan dari upaya untuk menjawab apa sesungguhnya makna kata “teknik” dalam kata “teknik fisika” yang membedakannya dengan “fisika” (saja).

Apakah kata “teknik” hanya menunjukkan bahwa bidang ini hanya diajarkan di universitas teknik? Pertanyaan ini penting untuk dikaji, karena di Belanda, bidang TF (Technische Natuurkunde) awalnya hanya diajarkan di universitas teknik (Technische Universiteit) baik di Delft, Eindhoven maupun Twente. Di universitas lain, seperti di Universitas Utrecht tempat asal Prof. Beijerinck, tidak ada jurusan TF. Yang ada adalah jurusan Fisika. Ataukah karena bidang penelitian TF lebih bersifat empirik dan aplikatif, dibandingkan dengan bidang penelitian fisika “murni” yang lebih bersifat ilmu murni dan fundamental? Ataukan kata “teknik” ini mencirikan suatu bidang penelitian saja, bukan bidang pengajaran, ataukah sebaliknya?

Ketika diminta datang ke TUE untuk mengembangkan jurusan TF di awal tahun 70-an, ia menyimpulkan bahwa TF adalah sebuah bidang kajian tersendiri, yang sama sekali terpisah dari fisika. Beberapa tahun berselang, setelah mendalami bidang-bidang penelitian yang ada di TF, ia malah mempertanyakan, jangan-jangan TF hanyalah sebuah fiksi, khayalan belaka, padahal isinya persis sama dengan fisika (murni).

Prof. Beijerinck melakukan perbandingan di bidang pengajaran antara TF-TUE dan jurusan Fisika (murni) di Universitas Utrecht. Ia tidak menemukan perbedaan antara keduanya dalam kurikulum di dua tahun pertama. Kesimpulannya, kata “teknik” itu bukanlah ciri khas bidang pengajaran. Kemudian bidang penelitian pun dibandingkan. Kesimpulan yang sama tetap muncul, bahwa tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara bidang penelitian yang digarap oleh TF dengan bidang penelitian yang digarap oleh jurusan fisika pada umumnya.

Di akhir karirnya sebagai profesor ia menyimpulkan, teknik fisika bukanlah tentang apa, tetapi tentang bagaimana: sebuah kultur kerja (bedrijfcultuur). Bagaimana seorang fisikawan melakukan penelitiannya. Teknik fisika bukanlah sebuah fiksi, tetapi juga bukan sebuah bidang kajian yang tersendiri. “Dengan mata yang selalu terbuka mencari aplikasi di industri. Tidak takut sekalipun harus mengembangkan infrastruktur pendukung, adanya dukungan teknis dalam suatu hubungan horisontal, kerja sama yang hidup dengan disiplin ilmu yang lain seperti informatika dan juga fisika teoretik, itulah pra-syarat yang akan mengubah seorang fisikawan menjadi ahli teknik fisika.” katanya.

Ada dua hal yang menjadi konsekuensi dari apa yang disimpulkannya. Pertama, teknik fisika selalu memerlukan bidang “lain” untuk ber-ko-eksistensi. Kedua, seorang ahli teknik fisika hanya bisa lahir dalam upaya menerapkan kaidah-kaidah fisika di bidang yang lain itu.

Ada beberapa perbedaan penting antara TF-ITB dan TF di Belanda pada umumnya, yang perlu dikemukakan untuk memahami kesimpulan di atas. TF di Belanda bukanlah “jurusan”, tetapi fakultas yang dipimpin oleh seorang dekan. Jadi bukannya Jurusan TF seperti di ITB, tetapi Fakultas TF. Selain itu di universitas yang memiliki Fakultas TF tidak ada Fakultas Fisika (murni). Bidang-bidang fisika murni, termasuk fisika teoretik, juga dipelajari dan diteliti di TF-TUE. Ini berbeda dengan di ITB yang memiliki jurusan TF dan Fisika. TF-ITB tidak memiliki bidang kajian fisika teoretik.

Lepas dari perbedaan antara kondisi di Indonesia dan di Belanda, kita akan selalu tergoda untuk bertanya, apakah perbedaan antara jurusan TF dan jurusan Fisika di ITB? Apakah makna kata “teknik” yang membedakan keduanya itu? Pertanyaan ini ada baiknya kita tunda jawabannya. Dalam tahap ini, kami ingin mengajak pembaca untuk melihat bagaimanakah TF-ITB yang ada sekarang ini.

Di bidang pengajaran, TF-ITB mempunyai misi untuk menghasilkan insinyur yang: mampu merancang, menganalisa, dan mengoperasikan peralatan dan sistem yang melibatkan lebih dari satu fenomena fisis. Serta siap mengembangkan diri untuk melakukan inovasi dalam teknologi dengan memanfaatkan beberapa aspek fisika. Untuk mendukung misi tersebut TF-ITB membagi spesialiasi dalam beberapa fokus penelitian yang didukung staf yang mempunyai minat dan spesialisasi dibidang tertentu. Antara lain instrumentasi untuk aplikasi industri, optik, medik yang dilengkapi dengan keahlihan kontrol otomatik, baik dari sisi teoritis maupun terapannya.

Di bidang Fisika Bangunan, TF-ITB menekuni penelitian untuk ilmu akustik, lighting, termasuk rekayasa termal dalam suatu bangunan dan juga tentang konservasi energi dalam bangunan. Untuk riset dibidang material, mempunyai beberapa staf dengan minat dan spesialisasi pada pada material magnetik, semikonduktor dan fine keramik, dan juga teknik lapisan tipis dan tentang simulasi dinamik molekuler.

Untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan dan riset yang mendukung misi dari TF-ITB, mulai tahun 1999, Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) dengan biaya dari Bank Dunia memberikan QUE-GRANT kepada TF-ITB, dengan salah satu target masa depan TF-ITB menjadi “World Class Education”.

Di mana sajakah alumninya berkiprah?

Secara “tradisional”, jurusan TF sangat diasosiasikan dengan bidang “instrumentasi dan kontrol”. Memang jumlah alumni yang berkiprah di bidang ini cukup signifikan jumlahnya. Tetapi tentu saja, TF agak terlalu luas untuk didefinisikan hanya dengan kata “instrumentasi dan kontrol”. Ada banyak sekali bidang-bidang profesi yang digeluti oleh alumni TF. Bidang-bidangnya sangat beragam, mulai dari fisika bangunan, pencitraan (imaging), instrumentasi medik, optika, teknologi-nano, sampai ke bioteknologi.

Ery Djunaedy

Sumber: Pikiran Rakyat

2 Comments

  1. Bagaimana dengan Geofisika, Teknik Geofisika dan Geofisika Meteorolgi.. ? ketiganya tumpang tindih, walaupun dalam keilmuan masing2 mengklaim punya kajian sendiri..tetapi dalam proyek semuanya sama2 membidik dan berebut mining, oil dan gas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s