Ketegaran Harga dan Efisiensi

Ketegaran Harga dan Efisiensi

Pada masa depresi tahun 1930-an terjadi perkembangan harga-harga yang tidak fleksibel. Dalam hal ini seyogianya tingkat harga semua komoditi menurun, tetapi ternyata ada harga komoditi turun dengan sangat tajam, tetapi di pihak lain ada yang relatif tetap. Hal terakhir ini disebut ketegaran harga. Hipotesis Means menjelaskan bahwa ketegaran itu berkaitan dengan struktur pasar industri. Semakin tinggi tingkat konsentrasi industri, semakin tegar tingkat harga. Teori ini menjadi kontroversi sampai saat ini.

Ketegaran harga ini mempunyai pengaruh terhadap efisiensi industri. Secara teoretik sudah sering digambarkan bahwa dengan struktur industri semakin terkonsentrasi (katakanlah baik monopoli maupun oligopoli) maka alokasi sumber daya ekonomi tidak optimal, oleh karena dengan sengaja industri melakukan tindakan mengurangi produksi. Hal ini dilakukan oleh karena pasar dapat dikontrol, penawaran dapat dibatasi untuk menjaga tingkat laba yang tinggi. Harberger telah melakukan penelitian terhadap perilaku yang demikian. Ada bagian kesejahteraan konsumen yang hilang (welfare-loss) dan ada bagian produksi yang menganggur, tetapi beban ini dipikul oleh konsumen.

Secara ilustratif dapat dijelaskan mengapa industri yang konsentrasi tinggi, semakin mengalami ketegaran harga, seperti perlunya tambahan biaya informasi untuk konsumen, perubahan-perubahan dalam advertensi dan perubahan-perubahan harga yang mungkin timbul dari input produksi, pergudangan, transpor dan sebagainya, tetapi di pihak lain ada peluang untuk membeli, mengangkut, dan mengolah dalam jumlah besar sehingga perusahaan lebih efisien. Namun demikian, Means mempunyai pendapat bahwa motivasi laba maksimum dari kekuatan yang dapat mengontrol pasar membawa tingkat harga relatif semakin tegar. Ketegaran itu semakin sulit menurunkan harga, tetapi cenderung menaikkan harga. Berbagai usaha untuk menguji hipotesis ini sebagian telah membenarkannya, tetapi berbagai kelemahan dalam metodologi dan definisi masih ditemui sehingga masih tetap menjadi kontroversi.


Ketegaran Harga dan Stabilitas Makro

Ketegaran harga timbul terutama disebabkan oleh struktur pasar industri atau konsentrasi industri membawa berbagai kaitan dengan variabel ekonomi makro. Variabel-variabel itu, antara lain adalah inflasi, investasi, kesempatan kerja, konsumsi, pendapatan dan distribusi pendapatan. Dalam uraian pada kegiatan belajar ke-2 diutamakan pada uraian kaitannya dengan inflasi, kesempatan kerja, investasi, permintaan dan konsentrasi industri itu sendiri. Pandangan tentang terjadinya ketegaran harga memang masih tetap merupakan pandangan yang kontroversi. Namun demikian, telah banyak penelitian yang membenarkan pandangan itu.

Kaitan antara ketegaran harga dengan tingkat inflasi, sering dikaitkan dengan terjadinya tingkat harga yang tegar untuk turun, tetapi relatif fleksibel untuk meningkat, tetapi dapat juga dikaitkan dengan adanya desakan tuntutan upah atau gaji dari kaum pekerja. Hal ini semakin berpengaruh kalau serikat pekerja mempunyai organisasi yang relatif fleksibel untuk meningkat.

Kekuatan monopoli atau oligopoli diimbangi oleh organisasi pekerja sehingga mempercepat timbulnya cost-push inflation yang didorong oleh wage-push inflation dan profit-push inflation. Kekuatan mana yang lebih besar tergantung pada tingkat margin mana yang lebih besar dan peranan industri pengolahan dalam struktur ekonomi.

Kaitan ketegaran harga dengan investasi telah dibuktikan akan membawa akibat ketidakstabilan investasi. Kurva MCC dan MEI akan berjalan di bawah MCC dan MEI dalam kondisi harga yang fleksibel. Hal ini terjadi oleh karena tingkat harga yang besar dan tegar itu tetap tinggi. Tingkat harga tinggi oleh karena margin laba yang tinggi, akibatnya pemegang saham mendapat dividen yang tinggi pula. Jumlah dividen ini tidak dikonsumsi, tetapi digunakan untuk membeli obligasi atau untuk menabung sehingga biaya (bunga) menurun. Kalau investasi terus dilakukan maka pengembalian investasi pun menurun.

Pengaruh ketegaran harga terhadap pembagian pendapatan tingkat konsumsi dapat dilihat kembali pada cash-balance effect dari Pigou. Pengaruh distribusi secara fungsional adalah kembali pada bagian laba, upah dan bunga. Oleh karena margin laba yang tinggi maka margin untuk upah dan bunga atau sewa menurun.

Sumber Buku Ekonomi Industri karya Nurimansjah Hasibuan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s