Upah Tenaga Kerja dan Konsentrasi Sektor Industri

Upah Tenaga Kerja dan Konsentrasi Sektor Industri

Hasil telaah singkat ini masih mengundang penelitian-penelitian yang lebih mendalam tentang sebab-sebab perbedaan upah pada berbagai sektor ekonomi baik karena perbedaan-perbedaan keterampilan, pendidikan, lokasi (wilayah), jenis kelamin, pengalaman, dan faktor-faktor institusional lainnya. Namun, beberapa kesimpulan masih dapat ditarik. Pertama, terdapat tanda-tanda masih ada relevansi teori upah terhadap realitas di Indonesia. Masalahnya, mungkin menerjemahkan apa yang dimaksudkan dengan pengertian relevansi tersebut. Dalam studi ini setidak-tidaknya pengertian relevansi itu adalah memberikan petunjuk terhadap apa dan bagaimana melakukannya, kemudian barulah melihat hasilnya. Beberapa bukti menunjukkan bahwa apa yang dikemukakan oleh Adam Smith lebih 200 tahun yang lalu dapat ditemukan di Indonesia. Lapisan pekerja terbawah pada umumnya tidak dan kurang terampil dan dari waktu ke waktu tingkat upahnya secara nyata tidak banyak berubah malah mengalami penurunan secara terus-menerus. Bila sewaktu-waktu dilakukan penyesuaian, tindakan ini dapat memperkuat keadaan ketimpangan yang telah ada. Gejala-gejala ini tidak hanya pada pertanian sebagai sektor tradisional, tetapi juga terdapat pada sektor industri. Sebagian besar tenaga kerja merupakan masyarakat yang sedang melakukan maraton mengejar kaki langit, hampir tak bergerak dalam arti daya beli dan mungkin inilah yang disebut sebagai tingkat upah sekadar dapat hidup.

Apabila dilakukan segmentasi, sebagaimana pada kasus sektor industri sedang dan besar, semakin jelas terlihat bahwa semakin sedikit bagian tenaga kerja yang dapat menikmati tingkat upah yang relatif tinggi. Tetapi sebaliknya, semakin terjadi persaingan keras untuk memperebutkan tingkat upah yang rendah. Keadaan ini dipertajam dengan semakin tingginya menyebabkan kebutuhan kualitas tenaga kerja yang semakin tinggi, penggunaan kapital, dan teknologi. Hal ini telah diramalkan dan dapat dijelaskan melalui berbagai teori.

Kesimpulan kedua, lebih bersifat implikasi yaitu terjadinya konsentrasi tanpa diimbangi kekuatan lain dapat diperkirakan akan bersifat kumulatif dan kolusif. Sifat terakhir ini mungkin lebih berbahaya dari pada onopoli. Diharapkan pemerintah akan dapat mengimbanginya, tetapi lingkupnya yang sangat luas, misalnya dalam masalah upah sehingga tidak mungkin pemerintah dapat mengendalikannya secara efektif.

Salah satu kekuatan lain yang mulai bangkit adalah Organisasi Serikat Buruh yang kuat dan bertanggung jawab untuk upah tenaga kerja sehingga berbagai ketimpangan dapat dikurangi sementara hasrat meningkatkan produktivitas tetap tidak diabaikan.


Perkembangan dan Pendalaman Struktur Industri di Indonesia

Perkembangan perubahan struktur ekonomi Indonesia selama waktu yang diteliti dalam makalah ini relatif lambat, jika dilihat pergeseran dari sektor A ke sektor M dan S. Proses industrialisasi Indonesia masih tertinggal dari negeri-negeri ASEAN, apalagi dengan negeri Korea Selatan. Hal ini terlihat dengan jelas dan andil nilai tambah sektor industri pengolahan terhadap PDB dan nilai tambah per kapita sektor industri pengolahan yang masih relatif rendah. Namun, potensi-potensi ekonomi dan industri Indonesia masih luas, baik dari segi sumber daya yang masih menganggur maupun jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang besar sebagai salah satu faktor produksi, juga sebagai pasar yang luas, tetapi permintaan efektifnya masih rendah terhadap berbagai barang industri modern. Pengembangan industri di dalam negeri yang mendorong tingkat harga yang mahal haruslah dipikirkan dengan cermat karena pasar di dalam negeri relatif cepat jenuh. Hal ini bukan karena ekonomi dalam keadaan depresi saja, tetapi karena daya beli masyarakat yang rendah. Setiap barang mempunyai segmentasi pasar, malah dalam beberapa hal memperlihatkan kondisi ekonomi yang dualistik. Keadaan ekonomi yang terbelah ini dapat dipertajam oleh aspek teknologi yang kurang dipertimbangkan sehingga sektor formal industri kurang mampu menyerap tenaga kerja sebagaimana yang diharapkan. Penggunaan teknologi padat modal dalam rangka kelangsungan proses industrialisasi di Indonesia tidak dapat dihindarkan, tetapi dengan memperhatikan jumlah tenaga kerja yang menganggur maka penggunaan teknologi produksi sejauh mungkin mempertimbangkan faktor dan kondisi ini.

Pengembangan industri selama dekade 1970-an kurang berkaitan sehingga beberapa industri yang seyogianya mempunyai BLR dan FLR relatif tinggi ternyata rendah. Hal ini merupakan tantangan proses industrialisasi baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Dengan mengembangkan industri yang keterkaitannya relatif tinggi, tidak dapat tidak akan menunjang tingkat efisiensi industri yang lebih tinggi dan mendukung daya saing pasar komoditinya. Diperkuatnya kembali orientasi ekspor industri dalam negeri untuk kepentingan menopang kebutuhan neraca pembayaran, menciptakan nilai tambah, dan membuka kesempatan kerja dan membuka peluang-peluang baru dengan tidak mengabaikan kesulitan dalam mengundang investor dan pasar yang harus bersaing keras. Hal ini tidak dapat dihindarkan, kalau komoditi yang akan diproduksi Indonesia telah terlebih dahulu dikuasai negeri-negeri maju. Pemasaran barang-barang tersebut lazimnya dikuasai oleh perusahaan monopologi dan oligopoli internasional yang sangat tangguh. Jadi, kalau Indonesia ingin ke sana, masalah rintangan masuk (barrier to entry) tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu, usaha pertama adalah bergabung dengan mereka. Ini membutuhkan garansi, bukan hanya sekadar rangsangan-rangsangan ekonomis saja. Semua negeri yang sedang berkembang dewasa ini sedang berlomba memberikannya, namun berbagai daya tarik investor mungkin terletak di luar itu.

Secara berangsur-angsur telah terlihat pendalaman struktur industri Indonesia. Namun demikian, terlihat gejala-gejala kesempatan kerja yang kurang proporsional, oleh karena pergeseran struktur internal industri pengolahan cenderung semakin padat modal. Dalam hal ini masalah trade off tidak dapat dihindarkan, namun pertimbangan mana yang akan dipilih tentunya tidak terlepas dari kondisi objektif Indonesia. Sementara itu, berlangsungnya proses pendalaman struktur industri Indonesia telah mendorong permintaan terhadap kebutuhan impor yang semakin tinggi baik dalam hal barang-barang modal, bahan baku, dan bahan penolong.

Sumber Buku Ekonomi Industri karya Nurimansjah Hasibuan

1 Comment

  1. Bertambahnya usia penduduk produktif menimbulkan banyaknya peningkatan tenaga kerja. Hal ini bisa menjadi potensi positif dalam meningkatkan produktivitas, namun di sisi lain akan menimbulkan semakin membengkaknya jumlah pengangguran di negeri ini. Belakangan ini juga diketahui bahwa adanya fenomena industri manufaktur yg semakin terkonsentrasi di wilayah tertentu yang mengakibatkan timbulnya aglomerasi yang ditandai dengan konsep externalitas atau penghematan ekxternal baik berupa penghematan internal maupun penghematan external. Timbulnya aglomerasi ini juga diakibatkan karena semakin menumpuknya jumlah tenaga kerja dan proses industrialisasi di wilayah tertentu, sehingga hal ini pun akan mengakibatkan struktur tenaga kerja menjadi tidak seimbang. Nah…coba hal ini dikaitkan dengan tingkat upah….bagaimana pengaruh upah terhadap konsentrasi spasial industri manufaktur….????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s