Konsep dan Kebijakan Proteksi pada Industri

Konsep dan Kebijakan Proteksi pada Industri

Pembangunan didahului dengan berbagai prasyarat dalam perkembangan ilmu dan teknologi, antara lain menciptakan barang-barang baru untuk dipasarkan. Barang-barang pada tahap awal mendapat perlindungan agar tidak tersingkir dari pasar, namun perlindungan itu tidak mengurangi kemampuannya bersaing. Sejarah Revolusi Industri di Inggris memperlihatkan bukti-bukti tentang terjadinya proses invensi dan inovasi.

Di samping munculnya komoditi baru, keadaan pasar barang-barang makin meluas. Dengan demikian, perdagangan internasional menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. Namun, dengan timbulnya kemerdekaan di negara-negara jajahan (termasuk di bagian Utara benua Amerika) maka di sana terjadi pula proses pembangunan yang bertujuan melepaskan ketergantungan kepada negara-negara lain. Baik di wilayah Amerika Bagian Utara maupun di Eropa muncul politik perlindungan kegiatan ekonominya. Arus volume perdagangan berkaitan pula dengan penghasilan suatu negara, dan memperlihatkan kemampuan membayar utang. Jika nilai ekspor yang diperoleh berkurang maka kemampuan membayar utang pun menurun. Hal ini jelas terlihat pada masa resesi atau depresi 1929-1932.

Perkembangan yang baik di pasar internasional tidak pula selalu diikuti dengan perkembangan kegiatan ekonomi yang berlangsung di dalam negeri yang pesat. Hal ini terbukti bagi Indonesia pada tahun-tahun awal dekade 1960-an. Dalam keadaan yang demikian tergantung pula pada politik ekonomi yang dianut Indonesia, yang ingin serba berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Dengan berkembangnya proses industrialisasi di negara-negara yang sedang berkembang maka komposisi ekspornya mulai beralih, dari ekspor negara-negara tersebut telah menuju ke negara-negara maju dan juga ke negara-negara berkembang lainnya, yang terdiri dari barang-barang industri pengolahan. Bagi negara-negara maju hal ini menimbulkan persaingan terhadap barang-barang yang diproduksi di dalam negeri sehingga timbul proteksi.

Bagi negara-negara yang sedang berkembang, yang dimulai dengan tahap industri pengganti impor maka timbul pula politik perlindungan. Dengan demikian, timbullah perlindungan dalam perdagangan barang-barang yang timbal-balik. Keadaan ini tidak terbatas dalam rintangan tarif, tetapi juga nontarif. Rintangan-rintangan perdagangan, berarti menurunnya kapasitas produksi yang terpakai. Di samping itu, semula kurang dipahami asumsi-asumsi yang tersembunyi dalam strategi industrialisasi pengganti impor sehingga banyak implikasi yang muncul di luar dugaan, seperti berkembangnya ekonomi biaya tinggi, subsidi yang makin meningkat, kemampuan bersaing dengan barang-barang dari luar negeri menurun.

Pada saat industri-industri pengganti impor ini sampai pada tahap kejenuhan maka daya serap pasar di dalam negeri menurun dan kapasitas produksi pun tidak dapat fleksibel, terpaksa juga harus diturunkan. Seyogianya, jika pasar di dalam negeri menurun maka secara perlahan barang-barang itu dapat diekspor. Tetapi karena kemampuan bersaing juga kurang maka ekonomi biaya tinggi makin dijadikan sebagai

Konsep dan Praktik Proteksi

Proteksi meliputi tarif dan nontarif melalui tarif bea masuk, digolongkan atas dua jenis, yakni tarif nominal dan tarif efektif. Tarif nominal dinyatakan beberapa% dari nilai impor (fob), sedangkan tarif efektif dihitung dengan mengetahui lebih dulu nilai tambah suatu komoditi, yang dapat diciptakan di dalam negeri dan nilai tambah komoditi itu di pasar internasional. Kemudian, dihitung persentase perbedaannya. Proteksi nontarif dapat berupa pelarangan impor, membatasi impor, rintangan-rintangan administrasi, dan lisensi impor.

Kebijakan tarif dan nontarif ini berkaitan dengan variabel-variabel ekonomi lainnya, seperti pendapatan pemerintah, harga barang-barang di dalam negeri, termasuk dalam hal bahan baku, kurs mata uang di dalam negeri dan luar negeri, teknologi produksi, kesempatan kerja, dan berkaitan pula dengan produksi sektor pertanian dan efisiensi industri. Tingkat tarif yang relatif tinggi untuk barang-barang konsumsi akan mengurangi daya saing, sedangkan bagi bahan baku, akan menimbulkan harga yang relatif tinggi, dan sukar mendapat daya saing. Dalam batas waktu tertentu proteksi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi jika terus-menerus akan merugikan ekonomi di dalam negeri karena setiap komoditi akan mengalami masa jenuh. Produksi di dalam negeri relatif lebih banyak tersedia, sedangkan harganya relatif mahal maka kemampuan daya beli tidak naik sebagaimana diharapkan. Hal ini dapat menimbulkan keadaan under-capacity yang lebih tinggi, dan makin mendorong ekonomi biaya tinggi.

Dalam berbagai kasus di negara-negara Amerika Latin dan negara berkembang lainnya, proteksi juga menimbulkan konsentrasi pasar dan monopoli, dan malahan di Pakistan menimbulkan pula tekanan terhadap sektor pertanian, dan di Amerika Serikat tahun 1978-1982, telah menurunkan kesempatan kerja 40% pada industri mobil diperlukan proteksi dari saingan luar negeri. Proteksi yang tinggi dapat menimbulkan mata uang dalam negeri menjadi over-valued.

Sumber Buku Ekonomi Industri karya Nurimansjah Hasibuan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s