KARL MANNHEIM, ROBERT EZRA PARK dan ALFRED SCHUTZ

KARL MANNHEIM, ROBERT EZRA PARK dan

ALFRED SCHUTZ


Konsep Sosiologi Pengetahuan Mannheim

Sosiologi pengetahuan merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hubungan antara pengetahuan dan masyarakat yang fokus kajiannya adalah kondisi sosial dan kondisi eksistensial dari pengetahuan, terutama yang menyangkut eksistensi sosiologis dari pengetahuan dan masyarakat. Menurut Mannheim, analisis struktural dari teori-teori pengetahuan itu sebenarnya tidak dirancang untuk membedakan teori pengetahuan dengan berbagai bentuk elemen pendukung dan katrakteristik yang ada pada setiap teori. Oleh karenanya, harus diupayakan untuk mengurangi perbedaan-perbedaan antara konsep liberalisme sebagai suatu sistem politik dan liberalisme sebagai suatu struktur pengetahuan. Atas dasar itu, harus ada keseimbangan antara konflik atau krisis dengan kompromi terutama yang menyangkut masalah-masalah politik dan kehidupan sosial. Di situ, harus ada keseimbangan antara janji-janji dan ancaman secara bersama-sama. Mannheim memang berbicara mengenai konsep-konsep yang menyangkut sosiologi pengetahuan, ideologi, politik, kehidupan sosial, dan sebagainya. Ia mengadaptasi konsepnya Marx mengenai kesadaran kelas. Dalam kaitan ini ada dua hal penting yang harus diperhatikan, pertama adalah adanya konsep-konsep ideologi sebagai struktur kognitif yang dianggap lemah, karena hanya memiliki perspektif tunggal yang memerlukan koreksi dari perspektif lain. Kedua adalah bahwa sosiologi pengetahuan itu muncul dari isu-isu substansial yang terwujud karena berbagai ideologi yang ada memberikan kontribusinya secara langsung di dalam orientasi dan kehidupan politik.


Konsep Sosiologi Politik Mannheim

Di dalam Ideologie und Utopie Mannheim membahas mengenai betapa rumitnya gagasan-gagasan dan pemikiran politik dengan berbagai interpretasinya dilihat dari kacamata sosiologis. Sedangkan di dalam Man and Society in an Age of Reconstruction, ia mengemukakan suatu rancangan untuk melakukan reorganisasi tatanan sosial demi mengatasi krisis yang melanda kehidupan masyarakat. Baginya, pengawasan dan pengendalian ‘totalitarian’ yang terkontrol bukanlah merupakan antitesis atau pengingkaran atas kebebasan dalam kaitannya dengan modernisme, sehingga melalui perencanaan itulah masyarakat memiliki kemungkinan untuk dapat menentukan pilihannya secara bebas tanpa ada sorangpun yang akan ‘mengatur’ dan memaksanya. Dengan demikian, ‘social control’ yang merupakan alat ‘dehumanisasi’, bagi Mannheim justru membuat hidup ini semakin ‘alami’ (natural) dan bukan merupakan proses eliminasi atas kualitas sifat-sifat manusia. Sebagai sebuah teori politik, konsep Mannheim sebenarnya memiliki kelemahan-kelemahan, karena ia gagal untuk mengungkapkan gagasan dan pikirannya secara langsung berkaitan dengan kekuatan dan kekerasan sebagai sebuah aspek dari suatu pengawasan dan pengendalian sosial. Teori politik Mannheim tidak dapat menunjukkan keterkaitannya dengan fakta-fakta politik (yang paling jelas sekalipun). Ia juga tidak dapat menunjukkan keterkaitan dengan sejarah politik yang bergerak menuju masa-masa yang mempengaruhi (konsep) negara modern menuju liberalisme. Selain itu, teori politiknya juga tidak dapat menunjukkan konsep pemerintahan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan ide-ide atau fakta-fakta yang berguna mengenai bentuk-bentuk maupun proses pemerintahan sehingga semua proses dan konsep itu menjadi mandeg. Mannheim memang memberikan penegasan mengenai alasan kebijakan politik yang memunculkan berbagai pertanyaan mengenai otoritas, legitimasi, hukum, kewarganegaraan, isu mengenai undang-undang, masalah yang berkaitan dengan ideologi dan sosiologi, serta masalah yang menyangkut sosiologi politik, elit politik, dan para penyelenggara negara. Selain itu, ia juga membicarakan mengenai teknik-teknik pengawasan masyarakat, mengenai perintah, dan upaya dalam melakukan tekanan serta kekerasan terhadap masyarakat oleh pihak penguasa, serta masalah-masalah integrasi dan koordinasi. Hal-hal itulah yang telah ‘mengukuhkan’ Mannheim sebagai seorang ahli teori sosiologi politik.

ROBERT EZRA PARK
Perjalanan Hidup Park

Robert Ezra Park lahir di Harveyville, Pennsylvania pada tanggal 14 Pebruari 1864, dari keluarga yang sukses berkecimpung di dunia bisnis. Dalam hidupnya Park telah melewati periode sebagai wartawan, aktivis, dan sebagai akademisi. Di mana semuanya itu memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam perkembangan pemikiran Robert Ezra Park. Terdapat beberapa tokoh yang sedikit banyak memberikan pengaruh pada pemikiran Park, antara lain John Dewey, Fraklin Ford, Georg Simmel, Ferdinand Tonnies, serta William Windelband.

Robert Ezra Park merupakan salah satu tokoh yang ikut membesarkan Chicago School. Chicago School mengacu pada percobaan besar yang pertama dalam mempelajari lingkungan perkotaan dengan mengombinasikan antara teori dengan etnografi lapangan di Chicago. Peneliti besar dalam Chicago School ini meliputi W.I. Thomas, Florian Znaniecki, Robert Ezra Park, Louis Wirth, Ernest Burgess, Everett Hugher, dan Robert McKenzie. Dari tahun 1920-an sampai dengan 1930-an, sosiologi perkotaan menjadi sesuatu yang diidentikkan sebagai hasil kerja dari Chicago School.


Konsep-konsep Utama dari Robert Ezra park

Robert Ezra Park mengemukakan beberapa konsep yang dianggap sebagai fokus perhatian dalam sosiologi, antara lain perilaku kolektif, kontrol sosial, proses sosial, perubahan sosial, tatanan biotik dan tatanan sosial, serta jarak sosial.

Menurut Park, sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari perilaku kolektif, sehingga masyarakat dilihat sebagai produk dari interaksi yang terjadi antarsetiap individu yang dikontrol oleh seperangkat tradisi dan norma yang muncul dalam proses interaksi tersebut. Kontrol sosial mengacu pada berbagai cara di mana perilaku kolektif itu diatur, disalurkan dan ditahan. Park membedakan empat proses sosial yang utama yaitu kompetisi, konflik, penyesuaian diri/accomodation dan asimilasi.

Park meyakini bahwa perubahan sosial melewati tiga tahap, yang dimulai dari ketidakpuasan, kerusuhan yang mengarah pada adanya gerakan sosial, dan kemudian berakhir pada penyesuaian baru dengan aturan yang telah diperbaharui.

Beranjak dari pemikiran Darwin tentang tatanan biotik, Park memunculkan konsep tentang komunitas. Dalam setiap kehidupan di komunitas dominasi umumnya merupakan hasil dari perjuangan di antara spesies yang berbeda untuk sesuatu yang langka. Sedangkan suksesi merupakan beragam tahapan, tahap perubahan yang teratur di mana komunitas biotik melewatinya dalam tahapan-tahapan perkembangannya. Dalam tatanan sosial, yang berbeda dengan tatanan ekologi, manusia berpartisipasi sebagai individu yang memiliki kesadaran diri dalam berkomunikasi dengan yang lainnya dan kemudian terlibat dalam tindakan kolektif. Tatanan sosial memperhalus dampak dari kompetisi untuk bertahan melalui kontrol sosial dan keterlibatan dalam menjalankan tugas di masyarakat.

Sedangkan jarak sosial, mengacu pada konsep adanya tingkat kedekatan yang muncul antarkelompok dan individu. Semakin jauh jarak sosial antarindividu dan kelompok, maka semakin sedikit kemungkinan bagi mereka untuk dapat saling mempengaruhi satu sama lain.


ALFRED SCHUTZ

Schutz dan Fenomenologi Husserl

Schutz, yang lahir di Vienna tahun 1899 dan meninggal di New York tahun 1959, sangat terpesona pada karya-karya Weber dan Husserl. Teori-teorinya cenderung berciri Weberian, kental dengan ajarannya Weber, terutama yang menyangkut action atau tindakan. Meskipun Schutz berkecimpung di dalam dunia akademik dan banyak menghasilkan karya-karya sosiologi dan filosofi, tetapi kalangan intelektual tetap menganggapnya sebagai seorang sosiolog yang tanggung, karena teori-teori sosiologinya dianggap sangat abstrak dan tidak relevan dengan realitas keseharian, yaitu kenyataan yang sesungguhnya dihadapi manusia. Schutz memang pantas berutang budi pada Weber dan Husserl. Ia memang berupaya keras untuk menjelaskan ajarannya Weber melalui fenomenologi yang dikemukakan oleh Husserl. Bagi Schutz, pengetahuan yang diperoleh manusia itu didapat melalui pengalaman inderawi semata dengan menggunakan ‘saringan’ kesadaran mental (mental consciousness). Demikian juga mengenai eksistensi orang lain, termasuk di dalamnya berbagai nilai dan norma, serta semua benda fisik, dapat diidentifikasi melalui berbagai pengalaman inderawi yang direkam di dalam kesadaran manusia. Bila semua berdasarkan pemahaman dan kesadaran, lalu bagaimana dengan eksistensi ilmu pengetahuan? Bagaimana mengukur keberadaan dunia nyata ini? Bagaimana pula ilmu pengetahuan dapat mengukur dunia nyata atau dunia keseharian? Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa pertanyaan fenomenologis yang sangat mendasar, yaitu apa sesungguhnya sesuatu yang nyata itu? (What is real?), apa yang sebenarnya yang ada di dunia ini? (What actually exists in the world?), dan apakah mungkin mengetahui sesuatu yang ada itu? (How is it possible to know what exists?) Fenomenologi Schutz memang condong ke arah sosiologi yang kajiannya memfokuskan kepada dunia sosial yang mempertemukan ajaran Weber dengan konsep Husserl, di mana intersubjektivitas atau realitas subjektif yang tercipta dalam interaksi individu dianggapnya unsur yang paling penting di dalam realitas sosial.


Fenomenologi Schutz

Sekali lagi, Schutz memang berhutang budi pada Husserl dan Weber, di mana atas jasa kedua orang itu Schutz dapat ‘mengawinkan’ antara fenomenologi transendental Husserl dengan konsepnya Weber mengenai verstehen. Konsep Schutz mengenai dunia sosial sesungguhnya dilandasi oleh kesadaran (consciousness) karena menurutnya di dalam kesadaran itu terdapat hubungan antara orang (orang-orang) dengan objek-objek. Dengan kesadaran itu pulalah kita dapat memberi makna atas berbagai objek yang ada. Tindakan sosial yang dimaksudkan oleh Schutz sebenarnya merujuk kepada konsepnya Weber dan sementara itu konsep intersubjektivitas Husserl juga sangat kental terasa. Di mana intersubjektivitas dianggap oleh Schutz sebagai suatu konsep atau model yang ideal yang menggambarkan pengetahuan atau pengalaman kita di dalam dunia keseharian. Bagi Schutz memang pengetahuan mengenai dunia sosial itu merupakan pengetahuan yang sifatnya inderawi belaka dan tidak lengkap, tidak akan pernah utuh, karena kemampuan indera manusia dalam menyerap pengetahuan itu memang memiliki keterbatasan. Fenomenologi memang memfokuskan pada pemahaman dan pemberian makna atas berbagai tindakan yang dilakukan seseorang atau orang lain di dalam kehidupan keseharian sehingga fenomenologi memang merupakan pengetahuan yang sangat praktis serta bukan merupakan pengetahuan yang sifatnya intuitif dan metafisis. Sosiologi memang termasuk ke dalam pengetahuan yang sifatnya praktis tadi karena sosiologi dapat memberikan penjelasan mengenai dunia sosial. Oleh karena itu, apa yang dinamakan lifeworld sesungguhnya dilandasi oleh pengetahuan dan ini selalu berkaitan dengan apa yang dinamakan dengan tipifikasi, karena tipifikasi ini merupakan komponen utama dari ilmu pengetahuan. Hanya saja Schutz membedakan antara ilmu (science) dengan ilmu sosial (social science) di mana di dalam fenomenologi konsep ilmu sosial selalu berkaitan dengan tipifikasi karena tipifikasi merupakan suatu fenomena atau gambaran nyata dari suatu objek ideal yang ‘berada di luar sana’

Sumber Buku Teori Sosiologi Klasik Karya Boedhi Oetoyo, dkk.

 

4 Comments

  1. pak saya lagimenyusun skripsi tentang pemahaman wartawan tentang hukum and etika pers (studi fenomenologi ) menurut bapak saya bisa memakai dari teori sapa ya pak?? biar pas dengan judul skripsi tersebut?

    Mohon bantuannya pak…

    tulisan bapak bagus!!! lumayan menambah pengetahuan tentang fenomenologi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s