Analisis Kesalahan Diksi pada Karangan Siswa Bab 2

ANALISIS KESALAHAN DIKSI PADA KARANGAN

SISWA KELAS V SD NEGERI 035 PAMUSIAN

TAHUN PEMBELAJARAN 2007/2008

Oleh Yuliana

(Mahasiswa Universitas Borneo Tarakan)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Umum

Pemilihan kata atau diksi lebih luas daripada apa yang disusun oleh jalinan kata-kata. Pemilihan kata bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, melainkan juga raeliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan dalam kalimat. Fraseologis mencnkup persoalan kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau yang menyangkut cara-cara khusus berbentuk ungkapan-ungkapan.

Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-ungkapan individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi. Ungkapan dalam kalimat terdiri dari beberapa kata yang mempunyai makna yang sama dengan sebuah kata tertentu (Kridalaksana, 1993:223).

Persoalan pilihan kata bukanhh persoalan yang sederhana. Akan tetapi, persoalan pilihan kata menyangkut persoalan yang bersifai dinamis, inovatif, dan kreatif sejalan dengan perkembangan masyarakat penunturnya. Contohnya siswa yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan ini siswa akan mencari dan menemukan bentuk-bentuk yang sesuai dengan kemampuannya.

Penulis yang belum berpengalaman sangat sulit untuk mengungkapkan ide atau gagasan dan biasanya sangat miskin variasi bahasanya. Akan tetapi, ada pula

penulis yang sangat boros atau tidak efektif menggunakan perbendaharaan kata, sehingga tidak ada isi yang terdapat di balik kata-katanya. Kata-kata atau istilah dapat digunakan penulis menyimpan pesona makna yang terselubung atau simbolis, sehingga jika dipahami memerlukan interpretasi dan renungan-renungan yang dalam. Dengan demikian, kata tidak hanya sekedar mengemban nilai-nilai indah (estetis), melainkan juga nilai-nilai filosofi maupun pedagogis.

Pengarang atau penulis yang hanya memprrhatikan ketepatan diksi tidak selalu membawa hasil seperti yang diinginkan. Pilihan kata tidak hanya mempersoalkan ketepatan pemakaian kata, tetapi juga mernpeisoalkan apakah kata yang dipilih itu dapat juga diterima, atau apakah kata yang dipilih itu tidak merusak susunan yang ada.

Marwoto (1985: 117) menyatakan bahwa diksi mengandung pengertian teknis sebagai pemilihan kata dalam mengarang. Tujuan pemilihan kata tersebut agar orang lain dapat memahami pikiran dan perasaan pemapar karangan secara pasti. Oleh karena itu pemilihan kata merupakan unsur yang sangat penting dalam karang-mengarang.

Berdasarkan pendapat tersebut, disimpulkan bahwa masalah diksi menyangkut kebebasan penulis untuk memilih kata istilah sesuai dengan makna yang tepat, baik makna leksikal, gramatikal, denotasi, konotasi, masalah sinonim, antonim, maupun berbagai variasi majas. Hal ini benar-benar tergantung pada kreativitas menulis atau mengarang anak didik.

8

B. Rambu-rambu Penulisan Diksi

Sebelum menentukan pilihan kata yang diperlukan dalam mengarang, terlebih dahulu penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni masalah makna dan relasi makna.

1. Makna

Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas bebcrapa makna yaitu :

a. Makna Leksikal dan makna Gramatikal

Makna Leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).

Makna Gramatikal adalah untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yang bermakna “s2buah buku,” menjadi buku-buku yang bermakna “‘ banyak buku.”

b. Makna Referensial dan Nonreferensiai

Makna referensial dan nonreferensial perbedaannya adalah berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu dilua^ bahasa yang diacu oleh kata itu, kata

tersebut bermakna refcrensial, kalau tidak mempunyai referen, maka kata disebut kata bermakna nonreferensial. Contoh: Kata meja dan kursi (bermakna referen). Kata karena dan te/opi_(bermakna nonreferensial). c. Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adaiah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem.

Contoh: Kata kurus, bermakna denotatif keadaan tubuhnya yang lebih kecil dan ukuran badannya normal.

Makna konotatif adalah: makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral, irtinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, ni’ai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.

d. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Contoh: Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai”. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hu’oungan kata itu deagan suatu yang berada diluar bahasa . Contoh: Kata melati berasosiasi dengan

10

suatu yang suci atau kesucian. Kata merah berasosiasi berani atau paham komunis.

e. Makna Kata dan Makna Istilah

Makna kata, walaupun secara sinkronis ddak bembah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Contoh: Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan,tapi bisa juga hasil perbuatan menahan. Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.

Makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Contoh: Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.

f. Makna Idiomatikal dan Peribahasa

Yang dimaksud dengan idiom adalah satuan-satuan bahasa (ada berupa kata, frase, maupun kalimat) maknanya tidrk dapat diramalkan dari makna leksikal, unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut.

Contoh: Kata ketakutan, kesedihan, keberanian, dan kebimbangan memiliki makna hal yang disebut makna dasar, Kata rumah kayu bermakna, rumah yang terbuat dari kayu.

11

 

Makna pribahasa bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa.

g. Makna Kias dan Lugas

Makna kias adalah kata, frase maupun kalimat yang tidak merujuk pada

arti sebenarnya.

Contoh: Putri malam, bermakna bulan

Raja siang, bermakna matahari.

h. Relasi Makna

Relasi adalah hubungan makna ini menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi) dan sebagainya.

a. Kesamaan Makna (Sinonim)

Sinonim adalah sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makaa ungkapan lain. Contoh: Kata buruk danjelek, mati dan wafat, bunga dan kembang

b. Kebalikan Makna (Antonim)

Antonim adalah ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna dari ungkapan lain. Contoh: Kata bagus berantonim dengan kata buruk; kata besar berantonim dengan kata kecil.

12

c. Kegandaan Makna (Polisemi dan Ambiguitas)

Polisemi adalah sebagai satuan bahasa (terutana kata, atau frase) yang

memiliki makna lebih dari satu.

Contoh: Kata kepala bermakna ; bagian tubuh dari leher ke atas, seperti

terdapat pada manusia dan hewan, bagian dari suatu yang terletak di

sebelah atas atau depan, seperti kepala susu, kepala meja,dan kepala

kereta api, bagian dari suatu yang berbentuk bulat seperti kepala, kepala

paku dan kepala j arum dan Iain-lain.

Ambiguitas atau ketaksaan adalah sebagai kata yang bermakna ganda

atau mendua arti. Konsep ini tidak salah, tetapi kurang tepat sebab tidak

dapat dibedakan dengan polisemi.

Contoh: – Buku sejarah itu baru terbit

Buku itu berisi sejarah zaman baru.

d. Ketercakupan Makna (Hiponi.ni)

Hiponimi adalah sebagai ungkapan (berupa kata,frase atau kalimaO yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan. Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.

e. Kelebihan Makna (Redundansi)

Redundansi dapat diartikan sebagai ‘berlebih-lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentvk ujaran’.

Contoh : Bola di tendang si Udin, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan Bola ditendang oleh si Udin. Pemakaian kata oleh pada

13

kalimat kedua dianggap sebagai suatu yang redundansi,yang berlebih- lebihan, dan sebenarnya tidak perlu.

3. Ragam Bahasa

Diksi pada karangan siswa dapat dianalisis berdasarkan relasi makna dan ragam bahasa. Hal ini mengingat bahwa ada kemungkinan penggunaan diksi yang kurang tepat pada karangan siswa disebabkan kesalahan dalam memilih ragam bahasa. Ragam bahasa adalah sebuah warna baha^a yang dihasilkan penulis atau pengarang, (Keraf, 1991: 5). Ragam bahasa ikut serta menentukan ketepatan makna baik secara leksikal maupun kontekstual bahkan masalah idiom. Penelitian dengan menggunakan alat analisis ragam bahasa ini bukan untuk mencari ragam bahasa baru yang ada atau yang dihasilkan siswa, tetapi apakah karangan siswa ditinjau dari sudut diksinya menunjukkan adanya keragaman yang mengganggu makna secara keseluruhan teks karangan atau tidak. Misalnya, karangan siswa yang beragam lama sehingga sudah tidak umum atau jarang digunakan, sehingga terasa janggal atau kurang selaras dengan bahasa Indonesia masa kini. Atau, ada kemungkinan karangan siswa yang menggunakan ragam Jakarta sehingga tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Keraf, (1991: 6) menyatakan bahwa ragam bahasa dapat diklasifikasi menjadi beberapa bagian yaitu:

a. Ragam Bahasa Kurun Waktu Penggunaan

Berdasarkan kurun waktu penggunaannya ragam bahasa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ragam Bahasa Indonesia lama dan ragam Bahasa Indonesia

14

baru. Ragam bahasa Indonesia lama digunakan seperti pada karya sastra lama atau zaman raja-raja tempo du!u seperti pada kisah Panji atau Cerita Panji. Sedangkan ragam bahasa Indonesia baru dipergunakan sekiiar zaman pergerakan atau kebangkitan nasional hingga kini.

b. Ragam Bahasa Berdrsarkan Daerab Peinrkaian

Ragam Bahasa berdasarkan daerah pemakaian ini biasa disebut dialek. Ragam bahasa berdasarkan daerah pemakaiannya ada ragam bahasa Medan, Jakarta, Surabaya, Jawa, Sunda, Ambon, Irian dan sebagainya.

c. Ragam Bahasa Berdasarkan Tingkat Keformalan

Ragam bahasa berdasarkan tingkat keformalannya terdiri atas :

1) Ragam Baku

Ragam ini merupakan bentuk pemakaian bahasa yang sudah tidak berubah lagi dari dulu hingga kini. Yang tergolong ragam ini ialah peribahasa, kiasan klise, naskah proklamasi, dan sebagainya. Contoh: Tak aaa gading yang tak retak, Rambutnya seperti mayang tentrai.

2) Ragam Formal.

Ragam ini disebut juga ragam resmi, ragam baku atau ragam standar. Ragam ini disebut ragam resmi karena dipergunakan dalam situasi rcsmi, misalnya pidato, seminar, tajuk rencana surat kabar, bahasa pengantar di sekolah, siaran berita RRI/TVRI dan sebagainya. Adapun ciri-ciri bahasa Indonesia ragam formal tersebut adalah sebagai berikut:

15

*

‘i i

a) Menggunakan awalan {her-} dan {me-} secara ekbplisit (dinyatakan
dengan tulisan atau ucapan), dan konsisten (taat azas).

Contoh: – l&jalan-jalan cari udara segar.

– la berjalan-jalan mencari udara segar.

b) Menggunakan kata tugas secara eksplisit dan konsisten
Contoh: – Saya minta maaf ibu, lahir batin.

– Saya minta maaf kepada ibu, lahlr batin.

c) Menggunakan fungsi-fungsi gramatikal secara eksplisit dan konsisten.
Contoh: – Adik berangkat ke sekolah. Diantar Ibu.

– Adik berangkat ke sekolah. la diantar Ibu

d) Menggunakan bentuk lengkap atau bentuk yang tidf»k disingkat, baik pada
tataran kalimat maupun kata.

Contoh: – Kemana ?

– Akan pergi kemanakah Ibu ?

e) Tidak menggunakan unsur-unsur daerah/dialek
Contoh: – Gua sih nggak pernah nyuci sendiri.

– Saya tidak pernah mencuci sendiri.

f) Menggunakan kata ganti (saya, anda, ia, Bapak, Ibu, saudara) dan
menghindari pemakaian kata ganti tak resmi (sini, situ, sana).

Contoh: – Sini dan situ udah setuju, tapi sana belum setuju.

– Saya dan anda sudah setuju, tapi ia belum setuju.

g) Menggunakan struktur sintesis (padu)

Contoh: – Harga bahan makanan tidak dikasih naik.

16

– Harga bahan makanan tidak dinakkan.

h) Menggunakan pola urutan : “Aspek + Pelaku + Kata Kerja” pada bentuk kata kerja pasif berpelaku. Contoh: – Pekerjaan ini saya akan selesaikan sendiri.

– Pekerjaan ini akan saya selesaikan sendiri.

3) Ragam Konsultatif

Ragam ini disebut juga ragam usaha. Pemakaiannya pada situasi setengah resmi, misalnya : urusan perusahaan, percakapan antara pegawai di luar urusan kantor, konsultasi dengan dokter, dan sebagainya. Ciri-ciri ragam ini sebagian mengikuti ragam formal, dan sebagian lagi mengikuti ciri-ciri ragam informal.

4) Ragam Informal

Ragam ini disebut juga ragam santai atau kasual. Ciri-cirinya kebalikan dari ciri-ciri ragam formal yang telah diketengahkan di atas. Ragam ini biasa dipergunakan dalam situasi santai, misalnya: omong-omong di pinggir jalan, ngobrol di waning, percakapan ringan di dalam keluarga, pembicaraan antar teman dekat dan sebagainya.

5) Ragam Akrab

Ragam ini disebut ragam intim yang biasa dipergunakan antar penutur yang hubungannya sudah sangat akrab, misalnya antara ?uami istri, antara ibu dan anak, dua orang yang sedang berkasih-kasihan dar sebagainya. Ciri-ciri ragam ini adalah:

17

Menggunakan bentuk bahasa yang sangat singkat dan yang pokok-

pokok saja. Banyak kata yang tidak dinyatakan sebab sudah tersirat

dalam situasi pembicaraan.

Tanpa mengetahui situasi dan latar belakang pembicaraan, orang lain

yang mendengar tidak akan mengerti maksudnya.

Contoh:

Siti :”Tolong…!” Andi : “Ya…, tunggu bentar.” Siti : “Cepetan dong…!” Andi: “Iya…ya…, aku datang.”

Orang yang tidak mengetahui situasi pembicaraannya tentu akan berpikir macam-macam dan berteka-teki. “Apa yang sedang dilakukan oleh dua penutur tersebut?” Teka-teki ini baru terpecahkan setelah mengetahui situasi pembicaraan yaitu orang yang takut dengan kecoa.

d. Ragam Bahasa Berdasarkan Medianya

Berdasarkan media atau alat yang dipakai unruk mengungkapkannya, ragam bahasa dapat dibedakan atas ragam lisan dan ragam tulisan. Ragam lisan diungkapkan dengan media suara, sedangkan ragam tulisan diungkapkan dengan media tulisan. Biasanya ragam tulisan lebih lengkap daripada ragam lisan, sebab dalam hal ini penulis tidak dapat bertatap muka langsung dengan lawan komunikasinya sehingga harus memberikan gambaran situasi masalah yang dikomunikasikannya. Ragam lisan relatif pendek karena penutur dapat langsung berhadapan dengan lawan tuturnya.

18

e. Ragam Bahasa Berdasarkan Keperluan atau Pesan yung Dikomunikasikannya

Berdasarkan isi atau amanat yang dikomunikasikan ragam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain: ragam ilmiah, ragam sastra ragam upacara, ragam iklan, ragam pidato, ragam telegram, ragam berita, dan ragam kolokial.

4. Proses Morfologis

Masalah diksi ada kaitannya dengan proses morfclogis. Kesalahan proses morfologis mengakibatkan adanya kejanggalan makna dalam karangan siswa. Oleh karena itu, perlu dikemukakan berbagai teori proses morfologis dari para ahli secara unit.

Menurut Ramlan(1985: 51) yang dimaksud proses morfologis adalah pembentukan kata-kata dari proses satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Proses morfologis meliputi afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan.

a. Afiksasi

Afiksasi adalah satuan gramatikal terikat yang didalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untrJc membentuk kata atau pokok kata baru. Afiks yang terletak di depan bentuk dasar yang disebut prefiks, afiks di tengah bentuk dasar disebut infiks Jan yang letaknya terpisan yang disebut simulfiks.

19

Adapun afiks – afiks tersebut adalah sebagai berikut:

Prefiks

Inftks

Sufiks

Simulfiks

meN-

-el-

-kan

peN-an

Ber-

-er-

-an

pe-an

di-

-em-

-i

ber-an

Ter-

-nya

ke-an

peN-

-wan

se-nya

pe-

-wat

se-

-is

per-

-man

pra-

-da

ke-

-wi

a-

maha-

para-

Bentuk-bentuk seperti ku, mu, nya, kau, dan isme bukan merupakan afiks, melainkan bentuk klitik, karena bentuk-bentuk (morfem) tersebut memiliki makna atau arti leksikal.

v

b. Proses Pengulangan

Ramlan, (1985: 57) menyatakan ada empat jenis pengulangan yakni pengulangan seluruh, pengulangan sebagian, pengulangan yang berkombinasi

20

dengan proses pembubuhan afiks dan pengulangan dengan perubahan fonem.
Macam-macam pengulangan tersebut sebagai berilou:

1) Pengulangan seluruh
Contoh:

  1. makan : makan-makan

  2. buku : buku-buku

  3. kebaikan : kebaikan-kebaikan

  4. pembangunan : pembangunan-pembangunan

2) Pengulangan sebagian
Contoh :

  1. membaca : membaca-baca

  2. mengemasi : mengemasi-ngemasi

  3. mempertunjukkan : mempertunjuk-tunjukkan

3) Pengulangan dengan kombinasi afiks
Contoh:

  1. kereta : kereta-kerataan

  2. anak : anak-anakan

  3. makan : makan-makanan

4) Pengulangan perubahan fonem
Contoh:

l)gerak : gerak-gerik

2) lauk : lauk-pauk

21

c. Proses Pemajemukan

Ramlan, (1985: 69) menyatakan bahwa hasi’ proses pemajemukan adalah kata majemuk. Kata majemuk adalah gabungan dua kai.a atau lebih yang menimbulkan arti baru. Ciri-ciri kata majemuk sebagai berikut:

a. Salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata
Contoh : medan perang

b. Unsur-unsurnya tidak mungkin dipisahkan, atau tidak mungkin diubah
strukturnya.

Contoh : kamar mandi

c. Jenis kata majemuk yang unsurnya berupa morfem nnik
Contoh: simpang siur

5. Gejala Bahasa

Perlu disampaikan bahwa berdasarkan pengalaman selama praktek mengajar, gejala bahasa yang paling banyak muncul adalah kontaminasi dan pleonasme. Untuk jenis gejala bahasa yang lain seperti protesis, epentesis dan sebagainya sangat jarang dijumpai. Oleh karena itu, dalam landasan teori hanya diungkapkan dua gejala bahasa saja, yaitu pleonasme dan kontaminasi. a. Gejala Kontaminasi

Yang dimaksud gejala bahasa kontaminasi adalah gejala bahasa yang terjadi kerancuan atau kekacauan (Badudu, 1981: 47). Keiancuan atau kekacauan yang dimaksud dalam hal ini adalah susunan, perangkaian, atau penggabungan yang seharusnya merupakan bentuk tersendiri, tetapi dipadukan. Seperti, bentuk kata menundukkan kepala dengan membungkukkan badan karena

22

terjadi kekacauan maka terbentuklah menundukkan badan atau membungkukkan kepala. Peristiwa semacam mi sering terjadi, walaupun memang tidak mengganggu makna yang sebenarnya, namun hanya tidak sesuai dengan diksi yang diperlukan dalam konteks tersebut. Oleh karena itu jelas gejala semacam ini termasuk bidang diksi. b. Pleonasme

Gejala pleonasme adalah gejala penggunaan unsur bahasa yang berupa kata yang berlebih-lebihan (Badudu,1981: 55). Ada kecenderungan bahwa gejala pleonasme ini untuk menyatakan unsur emosi atau perasaan penutur. Contoh: maju ke depan

C. Mengarang

1. Mengarang dan Karangan

Mengarang atau menulis menghasilkan karangan atau tulisan. Yang dimaksud karangan atau tulisan adalah kreativitas penulis atau pengarang untuk menulis atau mengarang, sehingga menghasilkan karangan atau tulisan Materi karangan adalah apa yang dipikir, apa yang dirasakan, atau menuliskan pengalaman hidup sehari-hari.

2. Unsur Karangan

Unsur karangan meliputi isi, bahasa, struktur pengembangan yang merupakan bagian dari teknis penulisan. Unsur isi meliputi kreativitas pengarang atau penulis. Adapun unsur bahasa meliputi ketepatan ejaan, diksi, morfologi dan sintaksis. Unsur struktur pengembangan paragraf meliputi ide utama,

23

bagaimanakah pengembangan kalimat menjadi paragraf. Secara garis besar dapat disimak skema di bawah ini. Unsur mengarang :

a. Isi-ide

b. Bahasa

c. Teknik penulisan

Berdasarkan pengembangan paragraf atau alinea, Keraf (1991: 65-66) membedakannya paragraf menjadi tiga macam, yaitu : paragraf pembuka, paragraf penghubung dan paragraf penutup. Untuk lebih jelasnya mengenai ketiga paragraf tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Paragraf pembuka, yaitu paragraf yang berkedudukan pada awal tulisan
sebuah karangan. Paragraf ini bertujuan untuk mengantar pokok pikiran
dalam karangan itu.

b. Paragraf penghubung, yakni sebuah paragraf yang terdapat diantara
paragraf pembuka dan paragraf penutup. Sifat dan tujuan yang harus
dimiliki paragraf penghubung ialah menguraikan ‘nti persoalan yang
menjadi topik karangan.

c. Paragraf penutup, yaitu paragraf yang disusun oleh pengarang dengan
tujuan untuk mengakhiri sebuah karangan atau bagian karangan. Paragraf
penutup yang disusun oleh pengarang ini dengan tujuan untuk memberi
deskripsi atau gambaran pada pembaca bahwa pengungkapan dan isi
karangan itu sudah selesai.

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s