Menajemen Berbasis Sekolah

Manajemen Berbasis Sekolah


Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen Berbasis Sekolah sebagai terjemahan dari School Based Management (SBM) adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk mendesain pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan kepada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru, kepala sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat. MBS mengubah sistem pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap kelompok yang berkepentingan di tingkat lokal (local stakeholders). Dengan konsep MBS diharapkan setiap sekolah dapat melakukan perbaikan mutu yang berkelanjutan (quality continuous improvement) dan memiliki kemandirian sehingga dapat lebih akuntabel.

Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah

MBS adalah bentuk reformasi pendidikan di mana pada prinsipnya sekolah memperoleh kewajiban (responsibility), wewenang (authority), dan tanggung jawab (accountability) dalam meningkatkan kinerja sekolah. Oleh sebab itu MBS menyediakan layanan pendidikan yang menyeluruh dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat sekolah. Prinsip pemerataan (equality), dan keadilan (equity) untuk memperoleh kesempatan pendidikan, efisiensi, dan mutu pembelajaran merupakan karakteristik utama MBS yang dimiliki oleh pendekatan ini. Dalam kaitan ini persyaratan utama yang diperlukan adalah (1) adanya kebutuhan untuk berubah (send of change) atau inovasi, (2) adanya restrukturisasi organisasi pendidikan, dan (3) proses perubahan sebagai proses belajar, serta (4) adanya budaya profesional (corporate culture) di sekolah.

Paradigma Konsep Manajemen Berbasis Sekolah

Paradigma konsep MBS mempunyai multidimensi, baik dilihat dari dimensi politik, edukatif, administratif, dan finansial. Dilihat dari dimensi politik, konsep MBS mempunyai 4 aspek, yaitu (1) perwujudan nilai sosial, (2) sumber kekuatan politik, (3) wahana pengujian kekuatan, dan (4) senjata politik. MBS dalam banyak hal telah membawa pengaruh positif dalam (a) peningkatan dan perbaikan pendidikan, (b) efisiensi, (c) pencapaian tujuan politik, serta (d) terciptanya keadilan dan pemerataan untuk memperoleh pendidikan. Indonesia sebagai negara yang majemuk perlu memperhitungkan berbagai variabel dalam penerapan konsep MBS agar pelaksanaannya mencapai efisiensi dan efektivitas yang diinginkan.

PENDEKATAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Strategi Manajemen Berbasis Sekolah

MBS merupakan model pengelolaan pendidikan di sekolah dengan pendekatan yang baru dan memerlukan perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai aspek. Oleh karena kondisi persekolahan dan daerah yang bervariasi maka diperlukan strategi atau tahapan yang sistematis dan sistemik dalam implementasinya.

Efektivitas keberhasilan pendekatan MBS memerlukan upaya yang strategis, mulai dari perencanaan, implementasi sampai pada evaluasinya yang didasarkan pada analisis kekuatan dan kelemahan sebagai kegiatan evaluasi diri. Hal yang menjadi fokus perbaikan dalam evaluasi diri adalah ketersediaan sumber daya di sekolah dan daerah, serta apa yang menjadi program prioritas.

Rencana strategis MBS mengacu kepada indikator output sekolah atas kinerja sekolah yang terdiri dari (1) mutu, (2) efektivitas, (3) efisiensi, (4) produktivitas, (5) inovasi, dan (6) kepuasan kerja pegawai.

Pentahapan Manajemen Berbasis Sekolah

Sebagai pendekatan sistem pengelolaan yang baru, MBS perlu memperhatikan berbagai aspek dalam tahap pelaksanaannya. Penerapan MBS secara menyeluruh harus dilakukan secara bertahap. Pelaksanaan dapat dibagi ke dalam 3 tahap, yaitu (1) tahap sosialiasi, (2) tahap piloting atau uji coba, dan (3) tahap diseminasi. Dengan mempertimbangkan kondisi sekolah yang beragam, tingkat kemampuan manajemennya maka tahap sosialisasi dapat dilakukan melalui strategi jangka pendek, tahap uji coba melalui strategi jangka menengah, dan tahap diseminasi melalui strategi jangka panjang.

Penahapan tersebut didasarkan pada asumsi-asumsi bahwa baik sekolah maupun masyarakat pada saat ini belum mengenal konsep dan prinsip-prinsip MBS. Demikian pula dalam hal aspek-aspek yang menyangkut ketenagaan, keuangan, kurikulum, sarana prasarana, dan partisipasi masyarakat, memerlukan perubahan yang mendasar dan tingkat kesiapan.

Perangkat Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah

Perangkat pelaksanaan MBS merupakan seperangkat peraturan/ kebijakan yang dapat mendukung terlaksananya MBS. Sebagai guidelines, pedoman ini berfungsi agar sasaran MBS dapat dicapai secara efektif dan efisien yang perlu dikenalkan melalui sosialisasi.

Hal pokok yang diperlukan dalam perangkat pelaksanaan adalah rencana sekolah yang memuat visi, misi, dan tujuan sekolah, serta program yang menjadi prioritas dan strategi pencapaiannya.

Dalam perangkat pelaksanaan unsur-unsur pokok yang menjadi fokus perhatian adalah (1) kesiapan sumber daya, (2) tingkat keuangan sekolah, (3) jenis peraturan/pedoman, (4) pembiayaan, (5) teknik monitoring dan evaluasi, dan (6) sistem pelaporan sebagai pertanggungjawaban (akuntabilitas)


MODEL-MODEL MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Aspek Kewenangan dalam Model-model Manajemen Berbasis Sekolah

MBS merupakan model yang relatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang akan dijadikan kebijakan nasional. MBS sebagai model otonomi pendidikan di tingkat sekolah meredesain pengelolaan sekolah dalam kekuasaan kewenangan, merencanakan sekolah, melaksanakan dan menilai (self evaluation), serta akuntabilitasnya.

Model-model MBS di beberapa negara maju, yaitu di Amerika Serikat dan Australia memiliki kesamaan dalam prinsip-prinsip pemberian otonomi kepada sekolah, yaitu mutu, efisiensi, dan akuntabilitas. Setiap tingkatan pengelola pendidikan (pusat, kabupaten, dan sekolah) harus memiliki kejelasan dalam kekuasaan dan kewenangannya. Sebagai contoh, pusat mempunyai kewenangan dalam melaksanakan kendali mutu, sedangkan kabupaten dan sekolah memperoleh informasi tentang kinerja sekolah.

Adanya pembagian kewenangan dalam pengelolaan sekolah mengacu kepada visi dan misi nasional, visi dan misi daerah, visi dan misi sekolah yang dipersepsikan oleh setiap level pengelola sehingga MBS tetap tidak menimbulkan konflik kebijakan antara pusat dan daerah dalam pengelolaan sekolah.

Faktor-faktor Kinerja Sekolah

Faktor yang mempengaruhi kinerja sekolah, yaitu (1) kurikulum yang fleksibel, (2) proses belajar mengajar yang efektif, (3) lingkungan sekolah yang mendukung, (4) SDM (Guru, Kepala Sekolah) dan sumber daya lain yang memadai, dan (5) adanya standardisasi pengajaran dan penilaian. Namun demikian, perlu untuk diketahui dari sekian banyak faktor, faktor masalah yang paling berpengaruh terhadap kinerja sekolah. Hal ini memerlukan evaluasi dengan cara menganalisis faktor-faktor tersebut dan kontribusinya terhadap peningkatan kinerja sekolah.

Belajar berdasarkan sumber (resources based learning) (RBL) merupakan strategi belajar yang relevan dengan model MBS. Dengan strategi RBL siswa dituntut lebih aktif dan mandiri, menentukan sendiri tentang konsep-konsep yang dipelajari, sedangkan guru berfungsi sebagai fasilitator. Strategi ini memotivasi dan menuntut siswa untuk terus belajar.

Pengelola sekolah perlu kemampuan dalam mengidentifikasikan berbagai faktor internal sekolah sebagai potensi (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (lingkungan sekolah). Kemampuan ini sangat dibutuhkan karena model MBS menuntut strategi pemberdayaan lingkungan secara optimal sehingga dapat mencapai kinerja sekolah sesuai harapan.

Akuntabilitas

Pada dasarnya akuntabilitas sekolah merupakan kondisi yang dinilai oleh stakeholders karena mutu kinerja (performance) dalam mencapai tujuan-tujuan belajar menjadi tanggung jawabnya. Makna yang terkandung dalam akuntabilitas terutama kesesuaian antara peran yang dilaksanakan (actual role) dengan peran yang diharapkan (expected role) dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan.

Sekolah yang akuntabel adalah sekolah yang (1) mampu mengontrak performance, (2) memiliki kunci dalam membentuk arah performance, (3) audit dilakukan oleh pihak yang independen, (4) memiliki jaminan mutu (quality assurance) dan (5) memiliki sistem insentif yang memadai.

Akuntabilitas mempunyai fungsi kendali yang tidak memberikan peluang untuk mengubah konsep dan implementasi rencana, baik terhadap kurikulum atau program yang telah ditentukan, fasilitas belajar dan sumber belajar yang telah ditentukan, fasilitas belajar dan sumber belajar yang digunakan, anggaran yang telah dialokasikan, dan beban kerja guru yang telah ditetapkan.

Implikasi dari akuntabilitas sekolah adalah diperlukan profesionalisasi guru dan kepala sekolah. Dimensi penting dari profesionalisme guru adalah mutu profesionalitas guru dan keserasian antara tugas mengajar dengan bidang studi keahliannya. Sedangkan bagi kepala sekolah adalah kemampuan manajerial dalam menyusun rencana sekolah, mengambil keputusan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya.


SEKOLAH BERKEMAMPUAN UNGGUL

Pengertian Sekolah Berpenampilan Unggul

Sekolah berpenampilan unggul adalah sekolah yang efektif dalam menggunakan strategi peningkatan budaya mutu, pengembangan kesempatan belajar, memelihara kendali mutu, penggunaan kekuasaan, pengetahuan dan informasi secara efisien.

Indikator utama yang dapat diwujudkan sekolah berpenampilan unggul adalah (1) visi dan misi untuk meraih prestasi tinggi, (2) komitmen kepala sekolah, guru dan siswa untuk berprestasi, (3) program pengembangan staf sesuai dengan perkembangan iptek, (4) adanya kendali mutu (quality control), (5) adanya perbaikan mutu yang berkelanjutan, dan (6) komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua siswa dan masyarakat.

Untuk menuju sekolah unggul diperlukan komitmen yang terkoordinasi dari setiap komponen mulai dari siswa, guru, kepala sekolah, orang tua siswa, masyarakat dan pemerintah daerah adalah satu sistem yang saling memperkuat, mengukuhkan dalam membangun sikap, pengetahuan, keterampilan dan sharing informasi.

Konsep Perbaikan Mutu Berkelanjutan

Perbaikan mutu berkelanjutan adalah pendekatan yang menjadi salah satu paradigma MBS. Pendekatan ini bertujuan agar seluruh sumber daya dapat dioptimalkan secara efektif, efisien, kreatif dan inovatif untuk peningkatan mutu. Upaya perbaikan mutu berkelanjutan memerlukan perubahan sikap, komitmen dan profesionalisme seluruh personel sekolah.

Strategi yang harus dilakukan adalah (1) peningkatan secara bertahap, (2) perubahan budaya, (3) hubungan internal, (4) Hubungan sekolah dengan stakeholders, (5) pemecahan masalah internal.

Faktor kunci keberhasilan pendekatan ini adalah kemampuan profesional kepala sekolah dan guru terutama dalam menganalisis masalah mengonseptualkan arah baru perubahan dan mengelola perubahan.

Strategi Manajemen Sekolah Unggulan

TQM (Total Quality Management) atau Manajemen Mutu Terpadu di bidang pendidikan merupakan konsep yang relatif baru diperkenalkan dalam meningkatkan mutu sekolah. Paradigma TQM beranggapan bahwa upaya peningkatan mutu secara total dapat diterapkan di segala bidang termasuk di bidang pendidikan. TQM sebagai suatu konsep memasukkan rencana atau perencanaan, pelaksanaan, koreksi, dan tindakan atas kekeliruan atau penyimpangan. Penerapan TQM dalam pendidikan sangat relevan dengan model MBS yang menghendaki perubahan budaya, pola pikir dan tindakan yang dinamis dari setiap pelaku sistem pendidikan di setiap unsur kelembagaan, mulai dari pembina pengelola, pelaksana dan orang tua atau pengurus dewan sekolah .

Penyebab utama kegagalan TQM yaitu pengelola pendidikan (kepala sekolah dan guru), kurang fokus terhadap kebutuhan siswa. Keadaan ini ditunjukkan oleh adanya kecenderungan umum bahwa guru dalam mengajar belum berorientasi kepada siswa. Demikian pula program-program yang disiapkan belum memungkinkan bagi siswa melakukan pilihan sesuai dengan minat dan bakat masing-masing siswa (belum vokus pada customer).

Sumber Buku Managemen Berbasis Sekolah Karya Nanang Fattah dan Mohammad Ali

4 Comments

  1. Menarik juga membahas School Based Management (SBM/MBS)… apalagi saya bekerja di bidang perbukuan (publishing khusus buku pelajaran) ….

    Kalau bisa dibahas juga mengenai perkembangan pendidikan, apalagi dilihat dari sudut pandang kemajuan teknologi, yang mana pemerintah dalam hal ini Mendiknas sudah mulai merambah e-book… bagaimana kaitannya/dampak dengan kami sebagai produsen di buku pelajaran?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s