Partikel Lah dalam Bahasa Banjar Bab II

 Partikel Lah dalam Bahasa Banjar

oleh Dayana Mandasari

 

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. Pengertian Bahasa

Chaer (2000:1) mengatakan bahwa bahasa adalah suatu lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Menurut pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan suatu sistem yang berupa lambang dan bunyi bersifat mana suka sebagai alat komunikasi.

Keraf (1991:1) mengatakan bahwa bahasa mencakup dua bidang yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap berupa arus bunyi, dan arti atau makna. Menerangkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antaranggota masyarakat terdiri atas dua bagian utama yaitu bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Menurut pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap yang merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa bentuk dan makna.

Soekono (1984:1) mengatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat yang berupa bunyi suara atau lambang yang dikeluarkan oleh manusia untuk menyampaikan isi hatinya kepada manusiawi yang lain.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat bersifat arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia berupa bunyi atau lambang yang mempunyai arti.

  1. Bahasa Banjar

Bahasa Banjar merupakan bagian budaya bangsa. Bahasa ini digunakan oleh etnis yang berdomisili di Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Hapip (1997:xi) menyatakan, bahasa Banjar digunakan oleh suku Banjar, suku yang mulanya mendiami hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Akibat perpindahan, percampuran penduduk dan kebudayaan dalam proses waktu berabad-abad, suku Banjar berikut bahasanya menyebar sampai ke daerah lain di Kalimantan, termasuk di pulau Sumatra, seperti di Muara Tungkal, Sepat dan Tembilahan.

Bahasa Banjar selain digunakan oleh mereka yang tinggal di pedesaan, juga di perkotaan.Dalam banyak hal, bahasa Banjar memiliki beberapa kemiripan dengan bahasa Indonesia, namun bahasa Banjar tetap memiliki sejumlah ciri khas yang spesifik.

Bahasa Banjar memiliki dialek yang khas. Perbedaan paling mencolok selain dialek, juga huruf atau vokal. Pada Banjar Hulu cenderung memiliki irama variatif, dan hanya memiliki huruf vokal (a), (i), dan (u). Banjar Kuala masih memiliki huruf vokal lainnya, selain vokal itu, yakni (e) dan (o), sama-sama berirama tapi nadanya berbeda.

Karena itu jika Banjar Kuala menyebut kata pender, geteng, lolongkong, koreng kedengarannya begitu signifikan. Kontras dengan Banjar Hulu, jika menyebut istilah yang sama, namun yang terdengar seperti pandir, giting, lalungkang, dan kuring.

Ciri lain dari bahasa Banjar terletak pada abjad dan ejaan, ada beberapa kata bentukan yang mengandung susunan vokal berturut-turut. Seperti kata a’asaan (ragu-ragu), a’anakan (boneka), a’aliman (agak santri), i’ih (ya) dan sebagainya. Susunan vokal seperti itu cukup khas, yang mungkin hanya terdapat pada bahasa Banjar.

Sedangkan secara sintaksis, struktur bahasa Banjar juga memiliki ungkapan yang khas juga. Bahasa Banjar memiliki kata fungsi atau partikel seperti pang, lah atau lih, gan atau gin, ai.

Contoh penggunaan dalam kalimatnya :

  • Umailah samuan barang hari ini harganya malangit.’Aduh, semua barang hari ini harganya naik tinggi = “seperti langit ‘

  • Jadi kaya apa pang wayah ini? ‘jadi bagaimana sekarang‘

  • Sapupu kami gin jua jar diampihi bagawi. ‘sepupu kami juga menurut kabar diberhentikan bekerja’

  • Sama ai jua,kanapa garang sababnya. ‘Aduh, kenapa sebabnya’

  • Akugin lapar. ‘Sayapun lapar‘

Berikut sekedar gambaran, dikutip sepotong pembicaraan beretika antara seorang anak yang baru pulang dengan ibunya yang sudah lama menunggu di rumah,

Ibu : U nak, ka mana ikam tadi maka talambat bulik sakulah.

‘Wahai anak, kemana kamu tadi hingga terlambat pulang sekolah‘

Anak : Singgah di rumah kawal Ma’ai, umpat balajaran, manggawai tugas.

‘Mampir di rumah teman Bu, ikut belajar bersama, ngerjakan tugas‘

Ibu : Sudah makanlah ikam nak?

‘sudah makan kamu nak?‘

Anak : Inggih,ulun sudah Ma’ai pian pang ?

‘Ya, saya sudah Bu, Ibu?‘

Ibu : Sudah jua, lakasi mandi jan, parak dah magriblah, kaina balajar ngaji.

‘Sudah juga, cepat mandi, sudah hampir sholat magrib, nanti belajar ngaji’

Anak : Inggih Ma’ai!

‘Ya, Bu!‘

Begitulah gaya bicara etnis Banjar, dimana saja. Sejauh mereka berbicara dengan sesama etnis Banjar dan dalam suasana informal dapat dipastikan mereka akan menggunakan aksen dan bahasa Banjar. Bahasa Banjar dipakai oleh semua lapisan masyarakat tanpa membedakan kelas.

  1. Pertautan Bahasa Banjar

Pertautan bahasa Banjar dapat dilihat dua sisi berbeda, yakni (1).dalam konteks pemakaian bahasanya (2).dalam konteks posisi pemaknaan/penjelasan terhadap bahasa itu sendiri.

Pada konteks pemakaian bahasa, antara bahasa Indonesia dan bahasa Banjar cenderung saling membutuhkan (interdependent). Sedang dalam konteks pemaknaan cenderung dependent dan independent. Dependent terjadi karena bahasa Banjar tergolong membutuhkan penyerapan untuk itu dalam rangka pengayaan bahasa Banjar perlu menyerap bahasa Indonesia. Hanya saja penyerapan bahasa Indonesia ke bahasa Banjar itu sering dengan dialog lokal, dalam penyerapan itu hanya sedikit yang berubah, yakni huruf atau vokal seperti (e) bisa menjadi (a) atau (i) dan (o) selalu menjadi huruf (u) jika diucapkan, misalnya istilah televisi menjadi tilivisi.

Contoh lain : seperti kata manganggur (menganggur)

sapupu (sepupu)

sabab (sebab)

parusahaan (perusahaan)

samantara (sementara)

kanapa (kenapa)

balum (belum)

sinduk (sendok)

sakulah (sekolah)

dunging (dongeng)

kutur (kotor)

Independent terjadi karena adanya ungkapan bahasa Banjar yang tak dapat dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Contoh: Intilnya ikam ni maandak cangkir di hujung mija. ‘intilnya kamu meletakan gelas di ujung meja’. Kata intil ini menggambarkan posisi gelas yang diletakkan di ujung meja, meski belum jatuh namun kondisi mengkhawatirkan.

Contoh lain : Jangankan handak mangaluarkan zakat, mamakani anak bini gan kababang. ‘Jangankan hendak mengeluarkan zakat, memberi makan anak isteri saja kababang’. Kata ini tidak sekedar susah dan kalang kabut, bisa pula bermakna akumulasi kesulitan hidup.

  1. Pengertian Partikel

Katagori partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam partikel penegas: kah, lah, tah, dan pun.

Pertikel adalah semacam kata tugas yang memiliki bentuk khusus, yaitu sangat ringkas atau kecil, yang mengemban fungsi –fungsi tertentu (Keraf,1991:114). Partikel adalah alat bahasa yang merupakan bagian kalimat yang bersifat afektif (menyatakan perasaan), yang merupakan morfem setengah bebas atau kadang-kadang kata yang berupa morfem terikat (Soekono,1984:151).

Partikel berfungsi menegaskan atau mementingkan kata yang ada dimukanya. Partikel memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Jumlahnya terbatas;

  2. Keanggotaannya tertutup (sebagai oposisi dengan kata);

  3. Biasanya tidak mengalami proses morfomis;

  4. Umumnya tidak memiliki makna leksikal tetapi memiliki makna gramatikal;

  5. Partikel dapat ditemukan datanya pada setiap jenis wacana, percakapan;

  6. Partikel dikuasai oleh para penutur bahasa dengan cara dihafalkan.

Perbedaan antara partikel dan sufiks (dan semua afiks yang lain) adalah sebagai berikut:

    1. Partikel tidak mengubah kelas kata dari kata-kata yang diikutinya: sebaliknya sufiks mengubah kelas kata dari kata yang diikutinya.

Misalnya :

      • Pergilah! (pergi tetap kata kerja)

      • Ayahlah yang berhak! (ayah tetap kata benda)

      • Besarlah harapanku! (besar tetap kata sifat)

Tetapi :

      • Cangkul > cangkulkan! (katabenda > kata kerja)

      • Besar > besarkan! (kata sifat > kata kerja)

      • Sudah > sudahi! (kata tugas > kata kerja)

      • Lari > larikan! (kata kerja intransitif > kata kerja transitif)

    1. Kata-kata yang diikuti sebuah partikel bermacam-macam kelas katanya karena tetap mempertahankan kelas katanya (kaidah I) sebaliknya, sufiks mengubah bermacam-macam kelas kata menjadi kelas baru.

Misalnya :

      • Siapakah dia? (kata ganti tanya)

      • Di manakah barang itu? (kata adverbia)

      • Bapakkah yang datang? (tetap kata benda)

      • Besarkah pulau itu? (kata sifat)

      • Dengarkah olehmu suara itu? (tetap kata kerja)

      • Sudahkah kamu menemuinya? (tetap kata kerja)

Tetapi :

      • Besarkah api itu! (kata sifat > kata kerja)

      • Tidurkan anak itu! (kata kerja intransitif > kata kerja transitif)

      • Tongkatkan pohon itu! (kata benda > kata kerja)

      • Sudahi pertengkaran itu! (kata tugas > kata kerja)

    1. Bidang gerak partikel adalah sintaksis (termasuk frasa dan klausa) sebaliknya bidang gerak sufiks adalah morfologi.

  1. Macam–Macam Partikel dalam Bahasa Indonesia

Bentuk partikel dan macam-macam pertikel adalah sebagai berikut :

  1. Partikel kah

Sama halnya dengan partikel lah, partikel kah, dan tah adalah morfem setengah bebas, karena dalam ucapan yang biasa sebagai bentuk lapas tidak berdiri sendiri, tetapi jika telah dilekatkan pada bentuk dasar yang dimukanya, antara partikel kah dan tah dengan bentuk dasar yang ada dilekatinya dapat disisipkan kata lain (Soekono,1984:152).

Contoh : Apakah = apa (pula ,jua,saja) kah

Apatah = (pula, jua, saja) kah

      1. Partikel kah dan tah berfungsi dua macam ,yaitu :

  1. Menegaskan/mementingkan bentuk dasar yang dilekatinya. Karena itu kedua partikel tersebut dinamai partikel penegas/partikel pementing.

  2. Membentuk kalimat tanya. Karena itu pulalah maka kedua partikel tersebut dinamai partikel tanya.

    1. Partikel kah dan tah di samping mempunyai persamaan, yakni keduanya membentuk kalimat tanya, namun keduanya mempunyai sifat khusus sehingga tampak perbedaan dalam pemakaiannya yakni: partikel kah membentuk kalimat tanya yang memerlukan jawaban, sedangkan partikel tah membentuk kalimat yang tidak memerlukan jawaban.

Contoh :

Luluskah dia dalam ujiannya?

Initah yang kaunamai bekerja?

c. Partikel kah yang berbentuk klitika dan bersifat manasuka dapat menegaskan kalimat introgatif. Berikut ini adalah kaidah pemakaiannya:

          1. Jika dipakai dalam kalimat deklaratif, kah mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat introgatif.

Contoh :

      • Hari inikah pekarjaan itu harus selesai?

      • Diakah yang akan datang?

          1. Jika dalam kalimat introgatif sudah ada kata tanya seperti, apa, di mana, dan bagaimana, maka kah bersifat manasuka. Pemakaian kah menjadikan kalimatnya lebih formal dan sedikit lebih halus.

Contoh :

      • Apa ayahmu sudah datang?

      • Apakah ayahmu sudah datang?

      • Bagaimana penyelesaian soal ini jadinya?

      • Bagaimanakah penyelesaian soal ini terjadi?

      • Ke mana anak-anak pergi?

      • Ke manakah anak-anak pergi?

          1. Jika dalam kalimat tidak ada kata tanya tetapi intonasinya adalah introgatif, maka kah akan memperjelas kalimat itu sebagai kalimat introgatif. Kadang-kadang urutannya terbalik.

Contoh :

      • Akan datang dia nanti malam?

      • Akan datangkah dia nanti malam?

      • Harus aku yang mulai dahulu?

      • Haruskah aku yang mulai dahulu?

      • Tidak dapat dia mengurus soal sekecil itu?

      • Tidak dapatkah dia mengurus sola sekecil itu?

d. Fungsi dan makna partikel kah adalah :

        1. Memberi tekanan pada kata yang dirangkaikan dengan kah dalam kalimat tanya .

Contoh :

      • Sawah atau ladangkah yang digarapnya?

      • Bermalas-malas atau berjalankah dia?

      • Siapakah namamu?

        1. Menyatakan hal yang tak tentu, sebenarnya hal itu merupakan pertanyaan juga, hanya pertanyaan langsung.

Contoh :

      • Datangkah atau tidak,kami tidak tahu.

      • Terserahlah padamu, tinggalkah atau berangkat kami tidak ingin mempengaruhi saudara.

Chaer (2000:194) partikel penegas kah dengan fungsi untuk menegaskan digunakan:

        1. Pada akhir kata tanya dalam kalimat tanya.

Contoh :

          • Apakah isi lemari ini?

          • Siapakah namamu yang sebenarnya?

          • Manakah yang kau pilih, yang merah atau yang hijau?

    1. Pada akhir kata atau bagian kalimat yang dinyatakan pada akhir kalimat tanya.

Contoh :

  • Benarkah dia akan datang hari ini?

  • Hasankah yang mengganggumu tadi?

  • Cukupkah uang sebanyak itu?

  1. Partikel tah

Fungsi partikel tah sama dengan kah, tetapi lebih terbatas pemakaiannya hanya pada kata tanya saja: apatah,manatah,siapatah,. Bentuk-bentuk ini lebih sering dijumpai dalam Melayu Lama. Dewasa ini bentuk itu jarang dipakai. Makna gramtikal partikel tah adalah: meragukan sesuatu atau menanyakan sesuatu yang tak tentu (Keraf,199:115).

Partikel tah, yang juga berbentuk klitika, dipakai dalam kalimat introgatif, tetapi si penanya sebenarnya tidak mengharapkan jawaban. Ia seolah-olah hanya bertanya pada diri sendiri karena keheranan atau kesangsiannya. Partikel tah banyak dipakai dalam sastra lama, tetapi tidak banyak dipakai lagi sekarang (Alwi,1998:309).

Contoh :

      • Apatah artinya hidup ini tanpa engkau?

      • Siapatah gerangan orangnya yang menolongku.

  1. Partikel lah

Partikel lah adalah morfem setengah bebas, karena dalam ucapan yang biasa sebagai bentuk lepas tidak dapat berdiri sendiri, tetapi jika telah dilekatkan pada bentuk yang ada dimukanya, antara partikel lah dan bentuk dasar itu yang dapat disisipkan kata lain (Soekono,1984:152).

Partikel lah dinamai partikel penegas atau pertikel pementing, karena berfungsi menegaskan/mementingkan bentuk dasar yang dilekatinya. Dalam menjalankan fungsi tersebut, umumnya partikel lah dalam kalimat menegaskan predikat, dan kadang-kadang menegaskan subjek.

Contoh : akulah yang bersalah.

Dialah yang dimarai ibu.

Iapun duduklah.

Setelah berbicara pergilah orang itu.

a. Partikel lah, yang juga berbentuk klitika, dipakai dalam imperatif atau kalimat deklaratif. Berikut adalah kaidah pemakaiannya :

          1. Dalamkalimat imperatif, lah dipakai untuk sedikit menghaluskan nada perintahnya.

Contoh :

      • Pergilah sekarang sebelum hujan turun!

      • Bawalah mobil ini ke bengkel besok pagi!

          1. Dalam kalimat deklaratif, lah di pakai untuk memberikan ketegasan yang sedikit keras.

Contoh:

      • Dari ceritamu, jelaslah kamu yang salah.

      • Ambil berapa sajalah yang kamu perlukan.

      • Inilah gerakan pembaruan

      • Dialah yang menggugat soal itu.

          1. Partikel lah yang digunakan di antara subjek dan predikat pada sebuah kalimat verbal atau kalimat ajektiva.

Contoh:

  • Dialah yang mengambil bukumu.

  • Kamilah yang dicurigai.

  • Dialah yang nakal!

Struktur kalimat dengan yang atau lah ini biasanya diikuti oleh anak kalimat penjelas yang diawali oleh kata bukan.

Contoh:

  • Dia yang mengambil bukumu, bukan saya.

  • Dialah yang nakal, bukan anakku.

b. Fungsi dan makna partikel lah sebagai berikut:

          1. Mengeraskan gatra perbuatan baik dalam kalimat berita, kalimat perintah, maupun dalam permintaan atau harapan.

Contoh:

      • Bacalah dengan nyaring.

      • Datanglah ke sini pukul lima.

      • pergilah dia dengan hati yang penuh amarah.

          1. Mengeraskan suatu gatra keterangan

Contoh:

      • Tiadalah aku mau diperlakukan seperti itu.

      • Apa pun yang akan terjadi, pastilah aku akan datang ke sana.

          1. Menekan gatra pangkal, dalam hal ini biasanya ditambah dengan yang.

Contoh:

      • Kamulah yang harus mengerjakan tugas itu.

      • Engkaulah yang bertanggung jawab atas kejadian itu.

Chaer (2000:19) partikel lah digunakan dengan aturan :

        1. Untuk menghaluskan digunakan di belakang kata kerja dalam kalimat perintah.

Contoh :

          • Keluarkanlah buku tulismu!

          • Ambilah mana yang kau sukai!

          • Tenanglah, dan dengarkan pengumuman ini!

    1. Untuk menegaskan digunakan pada kata atau bagian kalimat yang ingin ditegaskan di dalam kalimat berita.

Contoh :

  • Dialah yang mengambil bukumu.

  • Di desa inilah beliau dilahirkan.

Perlu diketahui bahwa diantara satuan-satuan yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan yang biasa, ada yang secara gramatik mempunyai sifat bebas seperti halnya satuan-satuan yang dalam tuturan biasa dapat berdiri sendiri. Satuan-satuan yang dimaksud ialah dari, kepada, sebagai, tentang, meskipun, lah. Sifat bebas dari dan lah misalnya, dapat dilihat dari jajaran-jajaran sebagai berikut :

      • Dari toko

      • Dari suatu toko

      • Dari dua buah toko

      • Dari hampir semua toko

      • Berjalanlah

      • Berjalan cepatlah

      • Berjalan ke utaralah

      • Berjalan ke utara sajalah

Satuan dari kelihatannya terikat pada satuan toko, tetapi dengan adanya frase dari suatu toko, dari dua buah toko, dan dari hampir semua toko, jelaslah bahwa satuan dari secara gramatik dapat dipisahkan dari toko. Demikian pula dengan satuan lah pada berjalanlah. Satuan ini kelihatannya terikat pada berjalan, tetapi dengan adanya frase berjalan cepatlah, berjalan ke utaralah, berjalan keutara sajalah, jelas bahwa lah secara gramatik tidak terikat pada berjalan.

 

  1. Partikel pun

Partikel pun adalah morfem yang berfungsi menegaskan atau mementingkan kata yang dimukanya. Kerena itu partikel pun dinamai pula partikel penegas atau partikel pementing. Dalam menjalankan fungsi tersebut, partikel pun dalam kalimat umumnya meneggaskan subyek dan kadang-kadang terpakai bersama-sama dengan partikel lah yang meneggaskan predikat ( Soekono,1984:153 ).

Contoh :

Setelah dipanggil, aku pun datang.

Setelah disilahkan, aku pun duduklah.

Pemakaian partikel pun pada umumnya dipisahkan dengan kata yang ada di mukanya, namun menurut bentuknya masih tetap merupakan morfem setengah bebas, karena dalam ucapan yang biasa sebagai bentuk lepas tidak dapat berdiri sendiri.

a. Fungsi dan makna partikel pun adalah sebagai berikut :

          1. Mengeraskan atau memberi tekanan pada kata yang bersangkutan dalam hal ini dapat diartikan dengan juga.

Contoh :

    • Dia pun mengetahui persoalan itu.

    • Kapal-kapal yang besar pun dapat berlayar di sungai itu.

          1. Dalam mengeraskan sesuatu, dapat juga terkandung makna perlawanan.

Contoh :

    • Mengorbankan nyawa sekalipun aku rela.

    • Betapapun ia berjuang mempertahankan hidupnya sia-sia belaka.

    1. Gabungan antara pun + lah dapat mengandung aspek inokatif. Pun di antara subjek dan predikat, sedangkan lah dirangkaikan pada predikat yang berupa kata kerja transitif.

Contoh :

  • Mereka pun berjalanlah.

  • Kami pun berangkatlah segera

  • Hujan pun turunlah dengan lebatnya.

  • Ia pun duduklah di bawah pohon yang rindang itu.

b. Partikel pun hanya dipakai dalam kalimat deklaratif dan dalam bentuk tulisan dipisahkan dari kata di mukanya (Alwi,1998:309). Kaidah pemakaiannya adalah sebagai berikut :

          1. Pun dipakai untuk mengeraskan arti kata yang diiringinya.

Contoh:

      • Mereka pun akhirnya setuju dengan usul kami.

      • Yang tidak perlu pun dibelinya juga.

      • Siapa pun yang tidak setuju pasti akan diawasi.

          1. Dengan arti yang sama seperti di atas, pun sering pula dipakai bersama lah untuk menandakan perbuatan atau proses mulai berlaku atau terjadi.

Contoh:

      • Tidak lama kemudian hujan pun turunlah dengan derasnya.

      • Para demonstran itu pun berbarislah dengan teratur.

      • Para anggota yang menolak pun mulailah berpikir-pikir lagi.

          1. Dalam mengeraskan sesuatu, dapat juga terkandung makna perlawanan.

Contoh:

      • Mengorbankan nyawa sekalipun aku rela.

      • Betapun ia berjuang mempertahankan hidupnya sia-sia.

Ada juga partikel pun yang berupa morfem terikat, sehingga pemakaiannya selalu dilekatkan pada bentuk dasar yang dilekatinya secara keseluruhan telah merupakan bentuk yang leksikologis :

      • Adapun

      • Walaupun

      • Biarpun

      • Meskipun

      • Kalaupun

      • Maupun

      • Kendatipun

Pun pada kata-kata diatas, bukanlah partikel penegas. Pun pada kata-kata tersebut merupakan bagian dari kata-kata tersebut yang secara keseluruhan berfungsi sebagai kata penghubung.

Berdasarkan pendapat Keraf, Alwi, Soekono, dan Chaer dapat disimpulkan bahwa partikel penegas yang ada dalam bahasa Indonesia adalah :

        1. Kah

        2. Tah

        3. Lah

        4. Pun

F . Partikel dalam Bahasa Banjar

Kata fungsi atau partikel di sini dimaksudkan pada sejumlah bentuk yang terikat dengan kata lainnya (Hapip,1997:xxxi).

Sejumlah partikel tersebut yang seluruhnya menempati posisi akhir kata sebagai berikut :

  1. Partikel gin

Kata fungsi ini, menunjukkan imbangan makna dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :

      1. Gin , pun, “ juga “;

Contoh : Akugin lapar. ‘Sayapun lapar ‘ ‘Saya juga lapar‘

      1. Gin “ Saja “

Contoh : Ikamgin nang tulak serongan. ‘Kau saja yang berangkat sendiri‘

  1. Partikel pang

Kata fungsi ini menunjukkan imbangan makna dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :

      1. Pang sebagai penegas atau membenarkan dapat diberi imbangan dengan memang .

Contoh : Nanang tu tasohor pang jadi anak muda.‘Nanang itu termasyhur memang, menjadi pemuda(nya )‘

      1. Pang sebagai pelemah dalam kalimat permintaan, sehingga dapat disamakan sebagai akhiran pelembut .

Contoh :

      • Kada kaya itu pang bah ay. ‘Tidak seperti itu sebenarnya pak’

      • Bagamatpang bajalan. ‘Pelan-pelanlah berjalan ‘

      • Cobapang kita lihati. ‘Marilah kita lihat‘.

      1. Pang yang dapat disamakan dengan sih, lah.

Contoh

      • Ayupang lakasi . ‘Ayolah cepat‘.

      • Kada disuruh pang, jadi kada tahuay. ‘Tidak disuruh sih, jadi tidak tahu‘.

      1. Pang sebagai akhiran tanya yang sama dengan tah atau gerangan .

Contoh :

        • Siapapang lagi nang diharap ? ‘Siapa lagi yang diharap‘.

  1. Partikel lah dan kah

Kedua kata fungsi ini mempunyai nilai penggunaan yang sama yaitu pertama-tama sebagai partikel tanya. Perbedaan keduanya terletak pada intonasi tanya. Partikel lah hampir selalu dengan suara menurun, sedangkan kah hampir selalu suara menarik.

Contoh :

——-∕

      • Ikamkah nang maambil duitku? ‘Engkaukah yang mengambil duitku?’

      • Ikamlah nang maabil duitku?

——-∕

      • Tapi kawakah inya menjagai kebonku? ‘Tapi dapatkah dia menjaga kebunku ?’

      • Tapi kawalah inya menjagai kebonku ?

      • Kawa dimakanlah ? ‘Dapat dimakanlah?‘

———⁄ ‾‾‾

————⁄

      • Kawa dimakankah ? ‘Dapat dimakankah ?’

Variasi lah atau kah bisa menjadi ah (Banjar Hulu) atau lai (Banjar Martapura dan Banjar Kuala)

Contoh :

      • Akuah nang disuruh ? ‘Sayakah yang disuruh?‘.

      • Ayulai kita tulakan. ‘Ayolah kita berangkat‘.

Kalau lah itu intonasi menaik, biasanya tidak menyatakan pertanyaan, tapi semacam perintah halus.

Contoh :

      • Bagamatlah bajalan, kalu tajurungkup. ‘Pelan-pelan ya berjalan kalau-kalau terjerembab‘.

Sebaliknya kalau kah intonasi menurun, bukan menyatakan pertanyaan tetapi sebagai pengawas saja.

Contoh :

      • Tikuskah, babikah, apalagi manusia, musti mati kena racunni. ‘Baik tikus, baik babi, apalagi manusia pasti mati terkena racun ini‘.

Disamping lah, kah, atau ah (Banjar Hulu) atau lai (Banjar Kuala) ada lagi alah, dan iih, atau alih yang mempunyai nilai sama dengan lah, kah.

Contoh :

      • Ikam alah mencari’i aku hintadi. ‘Engkaukah yang mencari saya tadi‘.

      • Limaw bali alih . ‘Limau balikah‘.

Ada pula kombinasi lah, alah, dan ai menjadi lahai, atau alah – ai

Contoh :

      • Dimapang alahai maka damia. ‘Bagaimana ya jika begitu’.

  1. Partikel aja, ja, ha

Partikel ja merupakan penyingkatan dari aja dengan nilai makna yang relatif bersamaan partikel ini ada dalam Banjar Kuala dan Banjar hulu.

Contoh :

      • Akujalah nang bagawi serongan.‘Saya sajakah yang bekerja sendirian‘.

      • I’ ihai lamun inija. ‘Baiklah kalau ini saja‘.

Partikel ha dipergunakan khas Banjar Hulu, yang nilai makna bersamaan dengan ja, aja dan lah.

Contoh :

      • Ayuha ikam makan saurangan . ‘Silahkan saja kau makan sendiri ‘

      • Biarha inya tulak.‘Biarlah dia berangkat‘.

      • Kainaha pulang kita gawi.‘Nantilah lagi kita kerjakan‘.

  1. Partikel am

Partikel ini banyak sekali ditemukan dan hampir pada semua jenis kata bisa didapatkan. Dari sejumlah pemakaian am, dapat digolongkan sebagai berikut :

          1. Am = lah

Contoh :

      • Syukuram pian datang.‘Syukurlah engkau datang‘.

      • Takajutam sidin.‘Terkejutlah beliau‘.

          1. Am, menyatakan seruan keterkejutan.

Contoh :

      • Kada tatukaram sirih.‘ Terjadi juga rupanya‘.

      • Nah ikam,guguram .‘ Wah jatuh jadinya‘.

          1. Am, semacam pelamah, keluhan, permohonan.

Contoh :

      • Nah,iyaam. ‘Nah, terjadi juga rupanya‘.

      • Pianam lagi nang diharap-harap.‘Engkaulah lagi yang diharap- harapkan‘.

          1. Am, yang fakulatif, artinya kalau ditinggal tidak akan mengganggu.

Contoh :

      • Habis am bahai duit tadi.‘Habis ayah uang tadi‘.

          1. Am, yang berimbang dengan pang dan sering ditemukan dalam pemakaian Banjar Hulu.

Contoh :

      • Tambaham ding banyunya (Banjar Hulu) yang hampir sama dengan

      • Tulispang nak surat (Banjar Kuala). ‘Tulislah nak surat ‘.

          1. Am, sebagai akhiran tanya yang bersamaan makna dengan gerangan atau tah.

Contoh :

      • Siapaam nang tulak mun kaya ini. ‘Siapa gerangan yang berangkat kalau begini‘.

          1. Am, yang mempunyai nilai makna seperti lah, yang menggambarkan kelanjutan peristiwa sebelumnya.

Contoh :

      • Limbah inya makan, bejalanam pulang.‘Sehabis makan berjalanlah kembali‘.

      • Lamun kaya itu rugiam unda. ‘Kalau seperti itu rugilah saya‘.

  1. Partikel ay

Partikel berimbang banyaknya dengan penggunaan am dalam bahasa Banjar.Dari sejumlah penggunaan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut :

  1. Dengan suara yang meninggi pada akhiran ay, mempunyai imbangan makna membenarkan.

Contoh :

      • Baguslah bajuku ini. ‘Baguskah bajuku ini‘.

      • Bagusay. ‘Bagus saja‘.

  1. Ay, yang menunjukkan pernyataan ragu-ragu.

Contoh :

      • Kalu ikam tulak aku bakirim. ‘Kalau kamu berangkat aku titip’.

      • Kaluay ikam tulak, nyaman aku bakirim. ‘Kalau-kalau kamu berangkat supaya aku titip‘.

  1. Ay, sebagai akhiran inversi yang dapat diganti dengan lah (bahasa Indonesia)

Contoh :

      • Bulikay si Nanang manju’ur. ‘Pulanglah si Nanang tidak menoleh kiri kanan‘.

      • Mandengar kesah si Nanang,mandaruay urang tatawaan. ‘Mendengar cerita si Nanang, berderailah orang tertawa‘.

  1. Ay, sebagai pelemah untuk menyatakan harapan, permintaan.

Contoh :

      • Tukarakanay dingay. ‘Belikan saja dik‘.

      • Disiniay dululah. ‘Disini saja dulu ‘

5 Comments

  1. pak kalau adverbia “mulai” sebagai pemerkah keaspekan dalam bahasa indonesia pemakaiannya seperti apa???saya sudah cari tapi hanya sedikit teorinya.terimakasih.balasnya ke email saya saja.

  2. Saya sdg meneliti bahasa banjar jg… kalau boleh, bagaimana caranya agar saya bisa mendapatkan versi lengkap penelitian ini? karena saya butuh sebagai tinjauan pustaka atau previous study. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s