Beban Guru ”tidak” Berat

Beban Guru ”tidak” Berat

Oleh AHMAD ZENI, S.S.

SEORANG guru, ketika memasuki kelas, yang pertama dilihatnya adalah bagaimana respons yang diperlihatkan anak didiknya. Inilah yang menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan guru akan penerimaan murid-muridnya. Siswa akan menilai bagaimana penampilan guru saat memasuki kelas, ketika membuka pelajaran, waktu memberikan materi, sampai menutup pelajaran.

Guru yang memasuki kelas untuk mengajar dalam keadaan semrawut, sarat dengan masalah pribadi, adakalanya tanpa sadar membawa persoalan tersebut ke hadapan siswa binaannya. Guru itu bukannya mengajarkan kebijakan malah mentransfer ‘ruwetnya’ problem kehidupan yang belum tentu dipahami peserta didiknya. Di sinilah dituntut sikap profesional seorang guru. Guru harus mampu ‘bermain peran’ dengan tidak menampakkan beban seberat apa pun yang sedang dialaminya, tetapi terlihat seperti tanpa masalah, dan memang bagi guru “jangan ada masalah”.

Mendidik anak zaman sekarang sangat berbeda dengan dahulu. Sosok guru pada waktu itu terkesan ‘angker’ karena wibawanya. Murid tidak ada pilihan dalam memperoleh pelajaran, selain ajaran dari orang tuanya di rumah, maka gurulah yang dominan dalam hal pendidikannya.

Problem berat yang dialami guru sekarang adalah bersaing dengan media audio visual. Televisi telah menyihir anak-anak maupun orang tua untuk tetap setia menyaksikan setiap episode atau program kesayangannya. Film, sinetron, musik, infotainment, maupun reality show telah menjadi konsumsi wajib yang tidak boleh dilewatkan. Sayangnya, pemirsa yang sebagian di antaranya pelajar, sering mengesampingkan waktu belajarnya.

Oleh karena itu, posisi guru menjadi ‘terancam’ kehadiran pesaing tangguh yang tidak bisa dilawan, kecuali dikendalikan. Maksudnya, guru bisa mengarahkan dan memberikan pemahaman serta memilih dan memilah layak tidaknya suatu tayangan. Guru juga harus bisa menanamkan tanggung jawab kepada siswanya akan kewajibannya sebagai pelajar.

Tantangan lain, guru dituntut memasuki ‘dunia’ anak didiknya. Perkembangan musik, misalnya, terutama menyangkut lirik lagu, nama artis, sampai aliran musiknya, guru harus hafal. Bukan berarti menjadi keremaja-remajaan, tapi sekadar tahu dan paham kesukaan mereka.

Guru memang harus kreatif. Metode mengajar guru yang penuh inovasi akan selalu ditunggu para muridnya. Tentunya, kreasi dan inovasi positif. Bagaimana mungkin seorang guru mengajarkan muridnya supaya aktif kalau dia sendiri kontraproduktif.

Guru sebenarnya bukan profesi atau jabatan. Guru lebih merupakan panggilan seseorang yang senang menularkan ilmu, membagikan pengalaman, atau memberikan pemahaman kepada manusia lain dengan dasar cinta kasih dan pengorbanan. Mengapa demikian? Tidak mudah bagi seseorang untuk mengajak atau memahamkan orang lain tanpa didasari rasa sayang yang besar.

Peran guru adalah membimbing dan mengarahkan siswa binaannya menjadi pribadi-pribadi yang berakhlak baik dan berprestasi pada bidang yang ditekuninya nanti. Keberhasilan guru adalah dapat mengantarkan anak didiknya menjadi cendekiawan, politisi, pejabat, pengusaha, dan profesi lain yang menjadi standar kesuksesan seseorang. Bila anak didiknya berhasil, guru hanya cukup merasa bangga. Kegagalan siswanya pun hanya disikapi rasa prihatin. Tidak lebih dari itu. Masalah rezeki adalah urusan Sang Maha Pengatur.

Akan tetapi, apabila berkaitan dengan menciptakan generasi yang maju secara total, itu adalah tugas dan kewajiban pengelola negara dalam mengurus warganya. Pemerintah memiliki peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara dengan segala daya dan upaya berusaha memfasilitasi sektor pendidikan ini dari daun hingga akarnya. Gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, buku-buku, biaya pendidikan yang murah, sampai gaji guru dan perangkatnya yang sangat memadai, menjadi prioritas utama kebijakan pembangunan.

Dengan demikian, tujuan negara dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa tidak dibebankan kepada institusi pendidikan dan jajaran pengelolanya. Guru, sebagai pengajar dan pendidik tidak perlu menanggung beban tersebut. Rendahnya kualitas sistem pendidikan kita adalah dampak kebijakan pemerintah yang kurang maksimal dalam memperhatikan sektor ini. Kita senantiasa menuntut peran negara untuk lebih optimal menangani pendidikan sampai tercipta kemajuan dunia pendidikan dan kesejahteraan pengelolanya.*** 

Penulis, Pembantu Direktur II (SDM) Yayasan Pendidikan Al Ma’soem.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s