Gaya Belajar Anak

Gaya Belajar Anak

Sama halnya dengan keunikan tiap individu, masing-masing anak ternyata memiliki gaya belajar sendiri. Nah, sudahkah Anda mengenali gaya belajar anak di rumah? Siapa tahu selama ini kita salah menuduhnya malas belajar.

Meski bersekolah di sekolah yang sama dan duduk di kelas yang sama, gaya belajar setiap anak ternyata tidak pernah sama. Perbedaan itu bahkan ada pada anak-anak dari satu keluarga, seperti beda dengan kakak, adik atau saudara kembar sekalipun.

Contohnya saat mengikuti pelajaran di kelas, menurut Ike Sugianto, Psi., ada murid yang begitu tekun menyimak meski si guru menyampaikan materi pelajaran tak ubahnya seperti ceramah selama berjam-jam. Ada yang terkesan hanya memperhatikan sepintas lalu, meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. Namun jangan ditanya berapa banyak anak yang merasa bosan dengan pendekatan belajar yang menempatkan murid sebagai pendengar setia.

Secara keseluruhan, lanjut psikolog dari Klinik Anakku Jakarta, ada anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai praktek. Siswa seperti ini lebih suka berkutat di laboratorium mengamati dan mempelajari berbagai hal nyata ketimbang mendengar penjelasan si guru. Sedangkan temannya yang lain mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Contohnya, guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk tangan.

Tidak hanya itu. Ada anak yang harus bersemedi dan tutup pintu kamar rapat-rapat supaya bisa konsentrasi belajar. Akan tetapi cukup banyak yang mengaku justru terbuka pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik, entah yang mengalun merdu atau malah ingar-bingar. Sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mengubah materi pelajaran menjadi komik atau corat-coret yang gampang “dibaca”.

KONTRIBUSI ORANG TUA

Apa pun gaya belajar yang dipilih pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu agar yang bersangkutan bisa menangkap materi pelajaran dengan sebaik-baiknya dan memberi hasil optimal. Bukankah masing-masing pelajaran juga disampaikan oleh orang yang berbeda dengan karakter mengajar yang berbeda pula.

Itulah mengapa, Ike merasa perlu menggarisbawahi agar setiap orang tua turun tangan mengamati gaya belajar masing-masing anak. Dengan memahami hal itu, sebetulnya orang tua sudah memberi kontribusi besar dalam keberhasilan belajar anaknya karena si anak jadi mudah menangkap materi pelajaran.

Buktinya, ketidakpahaman orang tua dan guru terhadap gaya belajar anak kerap menimbulkan kesalahpahaman. Ada guru yang tidak senang melihat muridnya asyik bikin coretan-coretan selagi di kelas. Atau ada juga guru yang langsung menegur anak yang terlihat tak bisa diam saat sedang diajar.

Padahal, tandasnya, perilaku corat-coret saat belajar tak mesti berarti ia enggan belajar. Bisa jadi, ia justru tengah berusaha menangkap materi pelajaran lewat corat-coretnya tadi. “Tidak sedikit anak yang cepat ngerti kalau materi pelajarannya disampaikan lewat gambar atau ilustrasi. Nah, karena guru tidak membuatnya, maka si anaklah yang tergerak menggambari bukunya semata-mata untuk memudahkan dirinya.”

Demikian pula dengan anak-anak yang terlihat aktif bergerak ke sana kemari selama di kelas. Anak seperti ini boleh jadi merupakan tipe aktif yang selalu kelebihan energi. Ia menyukai aktivitas fisik dan mudah bosan pada omongan/penjelasan panjang lebar.

MASUK TIPE YANG MANA?

Menurut Ike, ada 3 tipe gaya belajar yang biasa dijumpai:

Visual Learner

Gaya belajar visual (visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar si anak paham. Ciri-ciri anak yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum ia memahaminya.

Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain itu, ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya ia memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan.

Untuk mendukung gaya belajar ini, ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai. Caranya, gunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi/materi pelajaran. Perangkat grafis tersebut bisa berupa film, slide, ilustrasi, coretan atau kartu-kartu gambar berseri yang dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan. Ike sendiri pernah memiliki klien yang setiap kali rela mengubah materi pelajaran menjadi sebuah komik menarik agar anaknya bisa menangkap isi pelajaran tersebut.

Auditory Learner

Gaya belajar ini mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.

Untuk membantu anak-anak seperti ini, orang tua bisa membekali anaknya dengan tape untuk merekam semua materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Selain itu, keterlibatan anak dalam diskusi juga sangat cocok untuk anak seperti ini. Bantuan lain yang bisa diberikan adalah mencoba membacakan informasi, kemudian meringkasnya dalam bentuk lisan dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.

Kinesthetic/Tactile Learner

Gaya belajar ini mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya.

Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian pelajaran. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik.

Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta.

Nah, mereka yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal bekerja di lab atau belajar yang membolehkannya bermain. Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya.

Hanya saja dalam kenyataannya, pengelompokan ketiga gaya belajar ini tidaklah sederhana. Terbukti, pada beberapa anak ditemukan kombinasi antara satu gaya belajar dengan gaya belajar lainnya. Contohnya adalah anak-anak yang gemar membuat gambar/ilustrasi selagi belajar, tapi juga sibuk merekam pelajaran gurunya. Kendati begitu, “Pasti ada gaya belajar yang dominan dan subdominan. Untuk mengetahui mana yang dominan dan mana yang subdominan, harus dilakukan observasi menyeluruh.”

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH

Kapan gaya belajar ini mulai dimiliki anak? “Sebenarnya, gaya belajar anak dipengaruhi oleh faktor bawaan atau sudah dari sananya.” Ada anak-anak yang memang memiliki fisik kuat dan prima sehingga cenderung memiliki gaya belajar kinestetik. Atau ada juga anak yang memiliki rasa seni tinggi sehingga gaya belajar visual lebih melekat dalam dirinya.

Ike lantas menganalogikan fenomena ini dengan kompensasi. Jika salah satu indra kurang berfungsi secara maksimal, maka umumnya indra lain akan menggantikannya. Jika penglihatan seorang anak kurang berfungsi, maka indra pendengarannya lebih menonjol sehingga ia lebih peka terhadap suara atau bunyi-bunyian. Contohnya, para penyandang tunanetra biasanya memiliki indra pendengaran yang sangat tajam.

Selain itu, pola asuh juga memegang peran penting dalam kemunculan gaya belajar seseorang. Maksudnya, gaya belajar ditentukan oleh sejauh mana orang tua melakukan stimulasi terhadap masing-masing indra anaknya. Anak yang sejak kecil terbiasa dibacakan dongeng, boleh jadi akan terbiasa untuk mengasah kemampuan pendengarannya. Ia juga bisa cepat mencerna ucapan sang pendongeng. Akibatnya, anak akan cenderung menjadi seorang auditory learner dalam gaya belajarnya. Sementara anak seorang pelukis yang mayoritas waktunya lebih tercurah untuk mengamati detail-detail gambar orang tuanya biasanya akan menjadi seseorang dengan tipe belajar visual. Nah, bagaimana dengan anak Anda?

 

KENALI CIRI-CIRINYA

Secara rinci Ike menyebutkan ciri-ciri dari masing-masing gaya belajar.

* Auditory Learner

– Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.
– Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplet.
– Cenderung banyak omong.
– Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
– Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
– Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.

* Visual Learner

– Senantiasa berusaha melihat bibir guru yang sedang mengajar.
– Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya anak akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.
– Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan sesuatu.
– Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
– Biasanya kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
– Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
– Biasanya dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.

* Kinesthetic/Tactile Learner

– Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.
– Amat sulit untuk berdiam diri/duduk manis.
– Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif.
– Memiliki koordinasi tubuh yang baik.
– Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
– Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dan sebagainya) dirasa amat sulit oleh anak dengan gaya belajar ini.
– Cenderung terlihat “agak tertinggal” dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim diterapkan di sekolah-sekolah.

Sumber : http://www.tabloid-nakita.com

4 Comments

  1. saya sangat tertarik dan mearsa terbantu dengan tulisa-tulisan di blog ini. untuk itu saya mengucapkan terimakasih, dan jika dijinkan apakah boleh saya mengumpulkan tulisan di blog ini untuk saya bukukan dengan tetap mencatumkan alamat blog dan penulisnya, terima kasih,, dan mohon tanggapannya

  2. saya sangat tertarik dan mearsa terbantu dengan tulisa-tulisan di blog ini. untuk itu saya mengucapkan terimakasih, dan jika dijinkan apakah boleh saya mengumpulkan tulisan di blog ini untuk saya bukukan dengan tetap mencatumkan alamat blog dan penulisnya, dan mohon jawabannya dan tanggapannya sebelumnya saya ucapkan terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s