Pembelajaran Menulis Berita

Pembelajaran Menulis Berita

Pengertian berita sampai saat ini masih belum ada kebulatan. Masih terdapat perbedaan pendapat antara seorang ahli dengan yang lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berita adalah laporan mengenai kejadian atau peristiwa hangat. Yang lain berpendapat bahwa berita bukan hanya sekedar laporan peristiwa tetapi juga merupakan pempublikasiannya. Sebagus dan sepenting apapun sebuah berita , jika tidak dipublikasikan tidak akan menjadi berita. Bukankah adanya berita karena adanya hasil publikasi terhadap suatu kegiatan atau peristiwa?. Adapun cara mempublikasiannya bisa melalui media maupun dari mulut ke mulut. Wujud berita adalah laporan yang disampaikan sehingga diketahui oleh khalayak. Jadi berita adalah laporan kejadian yang dipublikasikan untuk diketahui khalayak ramai. Kata kuncinya adalah kejadian dan pempublikasian.

Ciri-ciri Berita

Suatu tulisan akan dikelompokkan menjadi berita jika mengandung 4 ciri yaitu:
Aktual, faktual, penting, dan menarik.

Aktual artinya hangat, terbaru, terkini atau tidak ketinggalan zaman (up to date) atau masih aktual, masih baru dan masih sesuai untuk dibicarakan. Faktual artinya ada faktanya, benar-benar terjadi, objektif, sumbernya jelas dan dapat dibuktikan. Penting berarti dapat dijelaskan dari dua sisi. Pertama dianggap penting karena sifatnya yang sangat berdampak besar bagi masyarakat atau pemerintah, seperti: kebijakan pemerintah, peristiwa yang sedang melanda negara, atau hal lain yang perlu diketahui semua lapisan masyarakat. Kedua penting dari sisi asal atau sumber berita. Biasanya menyangkut tokoh atau orang yang memberitakan. Menarik artinya memicu rasa ingin tahu pembaca. Rasa ingin tahu pembaca itu dapat dilihat dari sifatnya yang dapat memenuhi keinginan kuat pembaca untuk mengetahuinya. Salah satunya dilihat dari sisi penyajian, kemasan atau penyampaian isi berita itu sendiri.

Struktur (Anatomi Berita)

Di samping memiliki ciri-ciri di atas, berita juga memiliki anatomi seperti layaknya tubuh manusia . Anatomi berita terdiri atas:1) kepala berita (Headline), 2) Waktu (Date line), 3) Teras (Lead) , 4) Tubuh (Body), 5) Kaki (Leg).

Jika diibaratkan manusia, berita adalah keseluruhan organ yang membentuk tubuh. Bagian tubuh manusia paling atas adalah kepala, sedangkan bagian kepala pada berita, diberi nama judul. Bagian tubuh berita masih terbagi lagi dalam tiga bagian, yaitu bagian paling penting diletakkan paling atas di bawah judul namanya teras berita (lead). Hal tersebut biasa dinamakan pembukaan. Di bawah lead ada perangkai. Perangkai adalah bagian berita yang tingkat kepentingannya di bawah lead, disebut bridge. Di bawah bridge disebut body atau tubuh berita. Body atau tubuh berita adalah bagian yang tingkat kepentingannya cukup letaknya di bawah bridge. Terakhir adalah kaki berita atau Leg yang berfungsi sebagai penutup berita. Di antara semua anatomi yang disebutkan, leg adalah bagian yang tingkat kepentingan paling kecil. Oleh sebab sifatnya hanya mengakhiri berita maka disebut penutup. Adapun dateline berada pada keseluruhan berita. Dateline menyangkut waktu dan tempat. Semua unsur berita tidak bisa terlepas dari unsur waktu dan tempat. Bahkan itulah inti suatu berita. Perhatikan gambar anatomi berikut!


Tahapan Menulis Berita

Kegiatan menulis berita dilakukan dalam empat tahap yaitu; menentukan sudut pandang, menulis judul berita, menulis teras berita, dan menulis tubuh berita. Uraian keempat tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

Hal pertama yang harus dilakukan penulis adalah menentukan sudut pandang (angle) terhadap peristiwa yang akan dilaporkan. Angle atau sudut pandang adalah kegiatan menentukan butir-butir dari hal yang paling penting sampai yang kurang penting lalu diurutkan. Tidak ada pola standar dalam menentukan bagian mana yang akan dituliskan sebagai lead, bridge, body atau headline. Semuanya hal tersebut akan terjadi sesuai hasil angle di atas. Bisa saja teras berita dimulai dengan jawaban mengapa, atau siapa, atau bagaimana, atau di mana, atak apa, atau mengapa. Jika lead sudah ada, maka penulis sudah diarahkan dalam menentukan judul dan teras berita. Selanjutnya judul dibuat dengan ketentuan tidak dalam bentuk kalimat. Judul sebaiknya berupa frasa atau kata. Hal yang harus Anda pikirkan adalah bagaimana membuat judul itu menarik minat pembaca untuk mengetahui isi di balik judul. Langkah berikutnya menulis teras berita. Jadikan bagian paling penting dari 5W + 1H itu pada awal paragraf. Isinya berupa pokok pokok-pokok penting berita. Keakuratan fakta tertuang pada teras ini. Terakhir adalah penulisan tubuh berita. Bagian ini akan lebih mudah karena hanya merupakan rincian dan penjelasan dari teras berita. Hal yang perlu Anda ingat adalah jangan sekali-kali Anda memasukkan pendapat sendiri atau menambah penjelasan yang tidak akurat. Penggunaan bahasa dan kekonsistenan dalam menggunakan kaidah bahasa adalah bagian yang tidak boleh diabaikan. Perhatikan contoh berita berikut!

Moskwa
Seratus warga sebuah desa di Rusia menolak menukar paspor lama dengan paspor baru. Pasalnya mereka percaya bahwa kode yang ada di paspor baru mengandung simbol-simbol setan. Demikian dilaporkan televisi negara, Rabu (22/3). ”Kami percaya bahwa paspor baru penuh dengan dosa” kata Valentina Yepifanova, warga Desa Bogolyubovo kepada stasiun televisi Russiya. Dia bertekad tetap mempertahankan paspor lamanya. ”Paspor baru dilengkapi dengan kode (baru) dan orang-orang bilang kode itu mengandung tiga angka enam. Kami menentang hal itu”, ujarnya. Beberapa warga Bogolyubovo yang berarti ”Cinta Tuhan” dalam bahasa Rusia ” juga tidak bersedia mengambil uang pensiun di kantor pos setempat sebab slip pembayaran uang pensiun juga dianggap mengandung simbol-simbol setan. (Kilasan kawat sedunia Kompas, Sabtu, 24 maret 2007).

Cobalah Anda analisis wacana di atas kemudian Anda simpulkan apakah tulisan tersebut sudah layak disebut berita ?

Untuk mengetahui dan menilai kelayakan sebuah wacana dikategorikan berita ada 3 hal yaitu: head, dateline, lead, body, dan leg

Telitilah wacana tersebut adakah headnya? Ya, Anda benar! Headnya terdapat pada tulisan Moskwa yang terletak di paling atas sebagai judul wacana. Jadi wacana ini mengandung head.

Pertanyaan kedua adalah adakah datelinenya? Ya Anda benar lagi! Pada kalimat ketiga tertera bahwa keterangan ini diambil dari televisi negara bernama Russiya pada Hari Rabu tanggal 22 Maret. Meskipun tahun berita ini dibuat tidak tertera secara jelas pada wacana ini, Namun dapat kita tentukan berdasarkan tahun terbitnya surat kabar ini, yaitu Tahun 2007. Jadi datelineberita itu Rabu, 22 Maret 2007. Artinya unsur kedua sudah memenuhi persyaratan berita. Selanjutnya kita akan mengamati unsur ketiga yang terdiri atas tiga penggal yaitu teras, tubuh, dan kaki.

Berdasarkaan hasil pengamatan Anda, adakah Anda melihat salah satu jawaban dari pertanyaan 5W + 1 H itu? Apakah jawaban itu diletakkan pada awal paragraf? Jika Ya, jawaban Anda benar. Kalimat awal pada paragraf pertamanya berbunyi:” Seratus warga sebuah desa di Rusia menolak menukar paspor lama dengan paspor baru.” Pada kalimat pertama ini memuat sekaligus tiga jawaban pertanyaan yaitu 1. Siapa (Who) yang diberitakan? Jawabannya seratus warga sebuah desa. 2. Kejadian apa yang diberitakan(What)? Yaitu warga Rusia secara beramai-ramai menolak menukarkan paspor lama dengan paspor yang baru. 3. Di mana kejadian yang diberitakan itu berlangsung (Where)? Jawabannya di Desa Bogolyubovo-Rusia. Masih ada tiga pertanyaan lagi yang belum ditelusuri yaitu pertanyaan: bilamana (When)?, mengapa (Why)?, dan bagaimana (How)? Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa pernyataan itu adalah : 1. Jawaban pertanyaan bilamana tidak tertera secara tegas di dalam wacana ini kapan waktunya. Jika dihubungkan dengan saat pemuatan berita ini di televisi Russiya akan dapat diketahui yaitu saat pertama kali diberitakan di televisi Rusia. Adapun untuk jawaban kapan diterbitkannya, kita dapat menjawab dengan berpatokan pada kejadian kegiatan penukaran paspor sebagai kegiatan yang memerlukan waktu relatif lama bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Jawaban W kelima yang berkenaan dengan jawaban pertanyaan mengapa (Why), kita dapat merujuk pada pernyataan kalimat berikut: ”Pasalnya mereka percaya bahwa kode yang ada di paspor baru mengandung simbol-simbol setan”. Jadi jawabannya ”Penduduk tidak mau menukarkan paspor lamanya karena paspor baru dianggap mengandung simbol-simbol setan. Untuk menjawab pertanyaan bagaimana (How) dapat dilihat pada pernyataan: ”masyarakat Rusia itu masih tetap tidak mau menukarkan paspor barunya dengan paspor lama yang dimiliki mereka karena alasan keyakinan yang dipercayai tentang simbol setan yang dilambangkan dengan tiga angka enam karena dianggap bertentangan dengan nama desa mereka yang berarti ”Cinta Tuhan.” Jadi wacana berjudul ” Moskwa” ini termasuk jenis berita karena memenuhi persyaratan tahapan berita.

Analisis Kesalahan Diksi pada Karangan Siswa Bab 1;>>>> Baca

Produksi, Konsumsi, Distribusi, dan Ekonomi Kerakyatan;>>>> Baca

Target Pembaca dalam Tulisan Karya Ilmiah;>>>> Baca

Karakteristik Anak Luar Biasa;>>>> Baca

Teknologi Informasi Dan Dampak Sosial;>>>>>>>>> Baca buka semua

Tahapan Menulis Fiksi

Tahapan Menulis Fiksi

Untuk mengetahui sejauh mana tahapan menulis fiksi yang perlu Anda ketahui, berikut ini Akhadiah (2007:7.25) menjelaskan strategi menulis karangan fiksi sebagai berikut:

a. Menentukan tema dan amanat: mau menulis tentang apa? Apakah pesan yang akan disampaikan melalui tulisan itu?
b. Menetapkan sasaran: Siapakah yang akan membaca tulisan itu? Anak-anak, remaja, atau orang dewasa?
c. Merancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur: Kejadian-kejadian apa saja yang akan dimunculkan? Apakah kejadian-kejadian yang akan dimunculkan itu penting? Adakah kejadian penting yang belum tertampilkan?
d. Membagi peristiwa utama itu ke dalam bagian pendahuluan, perkembangan, dan penutup cerita: Peristiwa-peristiwa apa saja yang cocok untuk setiap bagian cerita? Adakah cerita-cerita itu telah tersusun secara logis dan memiliki hubungan sebab akibat yang wajar?
e. Merinci peristiwa-peristiwa utama ke dalam peristiwa-peristiwa pendukung: Kejadian-kejadian penting dan menarik apa saja yang berkaitan dan mendukung peristiwa utama?
f. Menyusun tokoh dan perwatakan, latar, dan pusat pengisahan atau sudut pandang.

Dari keenam strategi yang dikemukakan tersebut dapat kita sederhanakan menjdi tiga tahapan yaitu:

1. Tahapan Pertama
Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mencari topik atau tema. Hal tersebut dilakukan dengan cara pikirkanlah masalah apa yang akan Anda tulis. Kemungkinan Anda akan menemukan topik agak banyak. Hal ini wajar saja. Menemukan ide memang tidak mudah tetapi tidak sesulit yang Anda bayangkan. Tuliskan semua hal yang banyak dan berserakan yang Anda alami dan yang menjadi bahan pikiran Anda di atas kertas.

1. Urutkanlah semua yang telah Anda tuliskan tersebut berdasarkan tingkat kepentingan dan Anda tahu pemecahannya. Letakkanlah urutan tertinggi bagi yang paling memenuhi kriteria penting tadi.
2. Jika itu suatu masalah, pikirkan pula apa solusinya
3. Tuliskan kata kunci dari butir–butir yang telah Anda pilih di atas. Usahakan kata kunci yang Anda pilih adalah yang menurut Anda memiliki kesan positif

Kata kunci yang sudah Anda tuliskan itu merupakan ide, gagasan atau bahan Anda menulis.

Topik yang sudah Anda tulis itu di dalam karya fiksi, lebih sering disebut dengan istilah tema. Adakalanya tema disejajarkan dengan amanat meskipun pada dasarnya tema dan amanat itu berbeda. Untuk memudahkan berlatih, Anda boleh menuangkan kedua-duanya sekaligus atau salah satu saja dari tema atau amanat tersebut.

Misalnya Anda melihat banyak orang yang menyia-nyiakan waktu, tidak mau bekerja keras, dan tidak tekun dalam menghadapi persoalan hidup. Tuliskanlah hal tersebut menjadi kata kunci yang akan Anda jadikan bahan tulisan
1. Hidup mandiri /tidak tergantung pada orang lain
2. Mencari ilmu sepanjang hidup
3. Manfaatkan waktu

2. Tahapan Kedua
Langkah selanjutnya cobalah dari kata kunci yang sudah Anda temukan dari topik itu disusun dan ditambahkan pada setiap butirnya dengan beberapa kalimat penjelas. Kalimat-kalimat penjelas itu bisa terdiri dari beberapa kalimat lain lagi yang fokus pembicaraannya sama. Makin banyak kalimat penjelas yang Anda buat, akan semakin rinci cerita yang akan Anda tulis. Oleh karena itu upayakan dalam menambah kalimat penjelas ini lebih rinci sehingga semua kejadian yang akan Anda tulis tidak terlewatkan. Penulisan kalimat-kalimat penjelas itu merupakan langkah pembuatan kerangka karangan.

Perhatikan contoh berikut!

Keadaan di Negri Orang
– Musim semi sudah tiba.
– Kesibukan
– Lamaran ditolak

Membangun kesadaran
– Menetapkan niat
– Membuat Tempe
– Bekerja keras

Surat dari Kampung
– Berita membahagiakan
– Kejadian Tidak Terduga

3. Tahapan Ketiga
Langkah terakhir, cobalah mencari tokoh, yaitu kira-kira pantas berperan sebagai tokoh yang kita pikirkan itu. Hal ini tidak sulit, Anda dapat menggunakan sejumlah nama orang yang Anda kagumi yang Anda kenal. Atau dapat dapat menjadikan nama Anda atau keluarga Anda sendiri. Usahakan ketika Anda memilih tokoh harus yang sesuai dengan karakter yang Anda ingin tonjolkan agar amanat yang diinginkan tercapai. Misalnya nama tokoh ini ”Chairul Azam.” Jangan lupa bahwa calon tokoh bayangan itu harus memerankan karakter yang kita inginkan yaitu : pekerja keras, gigih, tekun, cekatan, dan sabar. Hal lain yang perlu Anda ingat ketika Anda menemukan nama calon tokoh, Anda juga sudah memikirkan apakah tokoh ini memerankan cerita untuk konsumsi anak-anak, remaja, atau orang dewasa. Tentukan pula profesi sang tokoh tersebut, apakah pendidik, pedagang, pegawai, ustad, petani, atau profesi lainnya. Dalam menentukan profesi sebaiknya bidang yang sangat Anda ketahui, karena Anda akan selalu berkisah dengan dunia yang akrab dengan Anda. Demikian pula ketika Anda akan menentukan latar cerita (waktu dan tempat kejadian) Anda usahakan yang Anda kenal dengan baik. Menentukan latar yang logis juga tidak kalah pentingnya dengan urutan yang lain. Agar cerita yang Anda kembangkan dapat menarik pembaca diperlukan kecermatan Anda dalam memilih sudut pandang yang menarik. Sudut pandang di sini sangat menentukan menariktidaknya cerita karena berhubungan dengan cara penyajian. Di sinilah Anda akan dapat melibatkan pembaca dengan penuh atau hanya akan menjadi pencerita yang didengarkan oleh pembaca. Saran penulis usahakan Anda masuk terlibat ke dalam cerita tersebut sehingga kesannya seolah-olah Andalah yang menjadi tokoh tersebut.

Selanjutnya Anda pilih mana kejadian-kejadian yang Anda anggap penting, setengah penting dan kurang penting. Pengelompokan tingkat kepentingan ini berguna agar Anda dapat langsung menentukan mana yang akan dijadikan pendahuluan, perkembangan, dan penutup. Agar setiap bagian cerita itu menarik, dukunglah semua kejadian penting dan setengah penting itu dengan berbagai peristiwa disertai detail-detail yang lengkap. Carilah detil-detil peristiwa yang mendukung peristiwa yang akan Anda ungkapkan sesuai dengan tingkat kepentingannya Yang harus Anda cermati adalah jangan sampai peristiwa yang Anda ceritakan itu tidak masuk di akal pembaca atau tidak logis. Untuk mempertahankan kelogisan peristiwa panduan yang digunakan harus memenuhi hubungan sebab-akibat yang logis. Ingat jangan membuat peristiwa itu aneh, ajaib atau tidak jelas penyebabnya, karena hal tersebut akan menjadikan tulisan Anda tidak logis. Meskipun cerita fiksi bukanlah kebenaran sejarah tetapi kelogisan tahapan peristiwa sangat utama.

Contoh Judul Skripsi bagian 3;>>>> Baca

Aliran Sastra;>>>> Baca

Mengusir Rasa Malas;>>>> Baca

CONTOH SURAT LAMARAN CPNS UMUM;>>>> Baca

Matematika Alam Semesta;>>>>>>>>> Baca buka semua

Menulis Cerita Pendek bag 1

Menulis Cerita Pendek bag 1

Istilah menulis sering dipertukarkan dengan istilah mengarang. Menurut The Liang Gie (1992 : 17 ) istilah menulis dan mengarang memang bersinonim yaitu dua kata yang mengandung pengertian sama. Pemakaian sinonim dimaksudkan untuk mencegah kesenadaan sehingga baik penulis maupun pembaca akan terhindar dari kebosanan yang berakibat kurang menariknya sebuah tulisan. Oleh karena kesamaan arti inilah untuk selanjutnya penulis menggunakan istilah menulis.

Menulis merupakan suatu perbuatan atau kegiatan komunikatif antara penulis dan pembaca (Ahmadi 1990 :9). Sebuah tulisan sebagaimanapun bagusnya tidak akan dapat diketahui jika tidak dibaca orang lain. Menulis dan membaca seperti sekeping mata uang yang mempunyai dua sisi, yang antara sisi yang satu dengan sisi lainnya saling mendukung dan menyempurnakan. Sebuah gagasan seseorang tidak akan dapat diketahui orang lain jika tidak dituangkan dalam bentuk tulisan.

Menurut Tarigan (1986:8) menulis adalah kegiatan pelukisan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga dapat membaca lambang-lambang tersebut. Penguasaan menulis itu dimulai dari seseorang mencontoh lambang-lambang yang mengarahkankan orang tersebut menemukan kegunaan bahasa. Orang akan semakin menyadari betapa pentingnya bahasa setelah ia dapat menggunakannya dalam berbagai kesempatan, karena menurut Tom Bello, kebiasaan mengubah wujud dari bahasa lisan menjadi tulisan merupakan proses menemukan bahasa yang efektif untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan seseorang. Dengan kata lain menulis merupakan kegiatan penyampaian pesan dengan mengoptimalkan penggunaan bahasa tulis. Bahasa tulis yang menjadi media untuk mengupayakan pembaca memahami apa yang disampaikan. Jika pesan secara tertulis itu sampai tepat sasaran, inilah yang disebut komunikatif.

Cerita pendek adalah karangan berbentuk kisahan yang bersifat naratif dan imajinatif, hanya berisi satu ide, satu situasi atau kejadian, berpusat pada satu tokoh dominan sehingga terkesan tunggal yang jumlah katanya antara 500 sampai dengan 10.000. Jadi cerpen itu dari sisi lembaran berkisar antara 3 sampai 20 halaman. Dari sisi penokohan hanya satu tokoh yang dominan. Tokoh yang lain hanyalah memperjelas tokoh sentral sehingga semakin memperdominan tokoh sentral.

Tujuan penulisan cerpen

Semua kegiatan penulisan didasari tujuan yang ingin disampaikan penulisnya. Untuk karangan berbentuk cerpen, tujuan penulisannya adalah menyalurkan persoalan hidup manusia yang seringkali membebani pikiran baik orang lain ataupun penulisnya sendiri..

Begitu banyaknya persoalan manusia yang dihadapi dalam hidupnya, maka cerpen akan memberikan peluang sebanyak persoalan yang ada. Persoalan yang dianggap membebani hampir semua manusia dalam kehidupannya seperti: cinta yang selalu melekat pada manusia sepanjang usianya, maut, tragedi, harapan, kekuasaan, loyalitas, tujuan, makna hidup, serta hal-hal yang transendental di dalam kehidupan manusia.

Langkah menulis cerpen

Temukan ide dari sejumlah persoalan yang Anda pikirkan. Menemukan ide memang tidak mudah tetapi tidak sesulit yang Anda bayangkan. Anda dapat menemukan ide itu melalui cara berikut:

1. Tuliskan semua hal, yang Anda alami dan yang menjadi bahan pikiran Anda yang banyak dan berserakan di atas kertas.
Urutkanlah semua yang telah Anda tuliskan tersebut berdasarkan tingkat kepentingan dan Anda tahu pemecahannya. Letakkanlah urutan tertinggi bagi yang paling memenuhi kriteria penting tadi.
Jika itu suatu masalah, pikirkan pula apa solusinya
Tuliskan kata kunci dari butir–butir yang telah Anda pilih di atas untuk dijadikan bahan tulisan
Usahakan kata kunci yang Anda pilih adalah yang menurut Anda memiliki kesan positif

Contoh:

1. Misalnya Anda terkesan pada seseorang disebabkan ketekunannya. Ia hanya ingin menjadi seorang yang mandiri, bekerja keras, dan mampu mengembangkan usaha dengan berbagai masalah yang dihadapi.

2. Mengisi waktu dengan berbagai aktivitas

3. Senang menuntut ilmu meskipun untuk itu banyak rintangan yang menghadangnya.

Dari ketiga pengalaman berkesan itu kita tarik kata kuncinya yaitu:
Hidup mandiri /tidak tergantung pada orang lain
Mencari ilmu sepanjang hidup
Manfaatkan waktu

Kita coba mencari tokoh siapa yang akan kita jadikan tokoh ini. Misalnya kita beri nama tokoh ini Chairul Azam. Beri karakter sesuai kesan Anda pada ketiga kata kunci tadi misalnya: pekerja keras, cekatan, dan mudah empati. Tentukan tema cerpen yang akan Anda tulis itu apakah remaja, dewasa, anak-anak, atau manula. Tentukan profesi tokoh tersebut, apakah pendidik, pedagang, pegawai, ustad, petani, atau profesi lainnya. Dalam menentukan profesi sebaiknya bidang yang sangat Anda ketahui, karena Anda akan selalu berkisah dengan dunia yang akrab dengan Anda. Demikian pula dengan ketentuan latar

1. Susunlah ide tersebut dengan meramunya berdasarkan bahan-bahan yang seharusnya telah kita miliki sebagai layaknya sebuah bangunan yaitu:

• pengalaman
• imajinasi
• nilai, dan
• tokoh

2. Ramulah semua yang telah Anda dapatkan pada butir 1 dengan jalinan cerita yang diuraikan dengan kata-kata memikat dengan menempatkan latar yang sesuai dan berteima. Hal tersebut bertujuan agar latar membantu tokoh dalam menjelasgambarkan kepada pembaca.
Perhatikan contoh kutipan cerita berikut.

Chairul Azzam

Musim semi sudah tiba. Banyak orang memanfaatkan musim itu dengan sebaik-baiknya. Ada juga yang bahkan tidak pernah merasakan datangnya musim semi. Semua itu lantaran kerasnya kehidupan yang harus mereka hadapi. Lantaran mereka harus terus memeras otak dan menghadapi hidup dengan kucuran keringat dan bekerja tiada henti. Di antaranya Chairul Azzam dan beberapa orang mahasiswa yang bekerja dengannya.

Malam itu di saat banyak mahluk yang mendendangkan lagu cinta, ia masih juga belum istirahat dari pekerjaanya. Sementara teman-temannya satu rumah sudah lama larut bermesraan dengan mimpi indahnya masing-masing.

Azzam masih sibuk berkutat dengan kacang kedelainya yang telah ia beri ragi. Dengan penuh kesabaran ia harus membungkusnya agar menjadi tempe……. Sejak lamarannya pada Anna Althafunnisa telah didahului oleh sahabatnya sendiri. Azzam memutuskan untuk total bekerja. Sejak Ustadz Mujab menyarankan agar ia mengukur dirinya, ia memutuskan untuk total membaktikan diri pada ibu dan adik-adiknya di Indonesia. Ia niatkan itu semua sebagai ibadah dan rahmah yang tiada duanya. Ia juga meniatkannya sebagai tempaan dan pelajaran hidup yang harus ia tempuh di Universitas Kehidupan. Ia yakin semua itu tidak akan sia-sia. Bukankah Allah tak pernah menciptakan sesuatu dengan kesia-siaan.

Ia tidak lagi memiliki mimpi yang melangit tentang calon istri. Ia sudah bisa mengaca diri. Ia yakin jodohnya telah ada, telah disiapkan oleh Allah Swt. Maka ia tidak perlu kuatir. Jodoh adalah bagian dari rizki. RIzki seseorang sudah ada jatahnya. Dan jatah rezeki seseorang tidak akan diambil oleh orang lain. Begitulah yang tergores dalam pikirannya. Maka ia merasa tenang dan tentEram. Tetapi tempaan hidup dan ilmu hidup harus diusahakan. Allah tidak akan menambah ilmu seseorang kecuali seseorang itu berusaha menambah ilmunya. Ia merasa bekerja serius adalah bagian dari upaya menambah ilmu dan bagian dari usaha mengubah nasib.

Sejak peristiwa itu ia merasa harus lebih serius menghadapi hidup. Ia mulai membangun diri untuk berproses tidak hanya sukses secara bisnis, tapi juga sukses secara akademis. Ia mulai menata diri untuk menyelesaikan S1 tahun ini juga, setelah itu ia tetap akan belajar.

Wajahnya tampak lelah. Kedua matanya telah merah. Namun sepertinya ia tak mau menyerah. Dalam kondisi sangat letih, ia harus tetap bekerja. Ia tak mau kalah oleh keadaan. Ia tak mau semangatnya luntur begitu saja oleh rasa kantuk yang terus menderanya. Bila sudah begitu ia selalu ingat perkataan Al Barudi yang selalu melecut jiwanya.
Orang yang memiliki semangat.
Ia akan mencintai semua yang dihadapinya.

Ia melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ia menghela nafas dalam-dalam. Sudah masuk ujung malam. Dua jam lagi pagi datang. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan segera. Ia harus punya waktu untuk istirahat, meskipun cuma satu jam memejam mata.

Lalu ia berdiri dan menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa linu dan pegal yang begitu terasa. Dua menit ia melakukan gerakan senam ringan, lalu kembali jongkok, dan kembali membungkus kedelai calon tempe dengan penuh ketelitian dan kesabaran.

Tepat pukul tiga kurang lima menit ia berdiri dan bernafas lega. Pekerjaannya telah usai . Masih ada sedikit waktu untuk istirahat sebelum subuh tiba. Alat-alat kerjanya ia rapikan. Ia letakkan pada tempatnya. Segera ia membersihkan tangannya dan mengambil air wudhu. Sebelum tidur ia sempatkan solat tahajjud dua rakaat dan ditutup witir. Ia mengatur jam bekernya lalu perlahan tidur.

Matanya terpejam, tapi pikirannya masih sadar. Telinganya menangkap suara seseorang mengetuk pintunya. Ia tak jadi tidur. Kenyamanannya buyar. Hatinya sedikit marah karena tidurnya diganggu.

”Ada apa?” ucapnya setengah berteriak. ”Maaf Kang, ini ada surat buat Sampean dari Indonesia.”
Mendengar itu rasa marahnya hilang seketika, berganti rasa bahagia yang luar biasa. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya.

”Surat dari Indonesia?” tanyanya seolah tak percaya.
”Iya Kang dari Indonesia.”
”Dari siapa?”
”Biasa, dari adik sampeyan, dari Husna.”
Azzam langsung melompat dan membuka pintu. Di depan pintu kamarnya Ali berdiri sambil menyodorkan sepucuk surat beramplop coklat muda.

”Siapa yang bawa?” tanya Azzam.
”Seperti biasa, surat tadi jatuh ke rumah Miftah di Abdul Rasul, dan yang membawa ke sini si Miftah sendiri. Ia langsung pergi. Katanya sedang punya janji, ”jawab Ali tenang.

Azzam menerima surat itu dengan hati luar biasa bahagia. Azzam membaca surat itu dengan segenap perasaan rindu dan cintanya.
………………………………
Kak Azzam tercinta!
Aku juga masih ingat surat kakak pertama yang menceritakan kepada ayah bahwa kakak adalah satu-satunya mahasiswa dari Indonesia tingkat pertama yang meraih predikat jayyid jiddan. Sebulan setelah menerima surat kakak ayah tabrakan dengan surat itu masih di dalam sakunya. Sejak itu kau datang tiap bulan dengan kirimanmu yang kau transfer lewat bank ke rekening ibu. Tak lama setelah itu aku tahu dengan detail apa yang kakak lakukan di Mesir untuk kami. Kakak kerja keras membuat tempe, berjualan tempe, dan membuat bakso demi kami. Kakak rela mengorbankan studi kakak demi kami. Kami tahu itu pasti sangat berat bagi kaka. sebab kami tahu mental kakak sejatinya adalah mental berkompetisi dan berprestasi. Sejak SD sampai Madrasah Aliyah kakak selalu rangking satu.

Kak Azzam tercinta,
kami tahu sebentar lagi kakak akan menghadapi ujian. Sudah saatnya kakak menatap masa depan kakak. Kami berharap saat ini kakak kembali konsentrasi ke studi kakak. Kakak harus selesai dan segera pulang. Sementara jangan pikirkan kami dulu. Insyaallah kami kini berkecukupan. Aku kini sudah dua bulan menjadi pengisi rubrik psikologi remaja di radio JPMI Solo, juga diminta sebagai asisten dosen di UNS. Dik Lia sudah menjadi pengajar tetap di SDIT. Gaji kami berdua Insyaallah cukup untuk hidup layak.
………………..
Selamat menempuh ujian. Semoga lulus dan segera pulang ke tanah air. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan taufik-Nya kepada Kakak . Amin

Wassalam,
Dengan sepenuh cinta,
Adikmu

Ayatul Husna.

Azzam membaca surat dari adiknya dengan air mata berderai-derai. Ia langsung tersungkur sujud syukur. Ia merasakan keagungan kasih sayang Allah Swt. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia berdoa agar diberi tambahan kekuatan untuk belajar dan diberi tambahan ilmu yang bermanfaat. Ia menguatkan tekad untuk lulus tahun ini juga. Tinggal satu mata kuliah lagi Tafsir halili. Ia harus lebih konsentrasi. Setelah itu baru ia memikirkan biaya untuk pulang.

Pengumuman ujian biasanya keluar bulan Juli. Targetnya awal Agustus ia pulang. Masih ada kira-kira waktu satu bulan. Ia harus memanfaatkannya sebaik-baiknya. Ia ingin menghatamkan belajar Al-Qurannya setiap subuh pada Imam Masjid di dekat apartemennya.. Untuk itu , bisnis tempenya sementara ia percayakan pada Rio. Ia hanya mengontrol dan mengarahkan saja. Namun, ia tetap memerlukan dana untuk pulang. Maka bisnis tempe dan bakso tetap harus jalan sampai hari H ia pulang..

Jam beker Azzam terus berdering. Azzam masih pula pulas. Tiba-tiba ….

Dar…dar…dar..!

Ada suara pintu diketuk dengan keras dan berteriak. Tiga orang polisi menggedor rumahnya mencari pelarian yang diduga bersembunyi dengan salah seorang mahasiswa Indonesia di rumah ini. Kejadian itu membuat Fadhil mahasiswa Aceh yang mengalami trauma berat setelah menyaksikan pembunuhan ayahnya oleh Gam itu pingsan. Ia terus mengalami sakit parah dan menghabiskan uang Azzam hasil jerih payahnya.
(Dikutip dengan perubahan dari Ketika Cinta Bertasbih, Habiburrahman El Shirazy, Republika 2007).

Nah Saudara, sajian tadi hanyalah contoh kecil dari tahapan menulis yang perlu Anda pelajari. Berlatih dan mencoba menulis setiap saat adalah kunci sukses menulis. Tidak ada keterampilan yang tidak memerlukan latihan dan praktik. Demikian pula keterampilan menulis.

Semoga Anda mampu menulis dan mengajarkan siswa Anda menulis dengan baik.

Contoh Judul Skripsi bagian 3;>>>> Baca

Pengetahuan Dasar dan Keterampilan Musik untuk TK;>>>> Baca

Merancang dan Menerapkan Model Pembelajaran IPS Terpadu dengan Menggunakan Pendekatan Humanistik;>>>> Baca

CONTOH SURAT LAMARAN CPNS UMUM;>>>> Baca

Matematika Alam Semesta;>>>>>>>>> Baca buka semua

Pengertian Menulis Wacana Fiksi

Pengertian Menulis Wacana Fiksi

Menulis yang dianggap paling tinggi adalah menulis kreatif. Karya fiksi adalah karangan imajinatif yang memberikan kesempatan kepada Anda untuk belajar menuangkan seluruh ide, khususnya imajinasi Anda, yang banyak dan berserakan di benak setiap orang. Jadi menulis wacana fiksi adalah kegiatan menciptakan bentuk tulisan yang disusun menggunakan kalimat dengan makna lengkap dan utuh diolah dari hasil pemikiran penulisnya.

Wacana dimaknai oleh beberapa kalangan sebagai gagasan awal yang belum matang dan dengan sengaja dilontarkan untuk memperoleh tanggapan (Dadang, dalam Pudji Santosa 2007 ; 8.21). Pengertian wacana tersebut berhubungan dengan istilah wacana yang sekarang sedang muncul ke permukaan, seperti ” Wah, itu kan baru wacana saja. ”Sementara itu Hasan Alwi (2000 : 41) mengemukakan pengertian wacana dari sisi bahasa adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi antar- kalmat-kalimat itu. Pengertian wacana tersebut dapat disimpulkan sebagai kumpulan kalimat yang memiliki satu makna utuh baik dalam susunan kalimatnya maupun dalam kandungan makna yang menyertainya.

Dalam kegiatan bahasa tulis biasanya wacana dikenal dengan berbagai ragam yaitu wacana pemaparan (eksposisi), wacana pemerian (deskripsi), wacana penceritaan (narasi), wacana pembuktian (argumentasi), dan wacana peyakinan (persuasi),

Wacana yang kini disajikan adalah bagian dari wacana penceritaan (narasi).

Pengertian Fiksi

Kata fiksi diturunkan dari bahasa Latin ficti, fictum, yang berarti ”membuat, membentuk, mengadakan, dan menciptakan”. Dengan demikian dapat dianalogikan bahwa kata benda fiksi dalam bahasa Indonesia secara singkat berarti ” sesuatu yang dibentuk, sesuatu yang dibuat, sesuatu yang diciptakan , sesuatu yang diimajinasikan (Tarigan dalam Sayuti :2007, hal 1.3)

Istilah fiksi mengandung pengertian cerita rekaan atau cerita khayalan. Karya fiksi disebut cerita rekaan karena sebagai karya naratif, isi yang terkandung di dalamnya tidak mengacu pada kebenaran sejarah (Abrams dalam Sayuti: 2007, hal 1.3). Karya fiksi menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata. Fiksi adalah sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi di dunia nyata (Nurgiantoro, 2000:2). Dengan demikian kebenaran yang terdapat di dalam karya fiksi tidak harus sama dan memang tidak perlu disamakan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pengarang, kebenaran yang diyakini ”keabsahannya” sesuai dengan pandangan pengarang terhadap masalah hidup dan kehidupan.

Pada sisi yang lain, aspek kebenaran itu juga digunakan sebagai salah satu ukuran untuk menentukan kualitas suatu karya sastra. Karya sastra akan dinilai baik jika di dalamnya terkandung unsur kebenaran, yakni mampu membayangkan atau merefleksikan kehidupan atau peristiwa kehidupan yang (pernah dan akan atau dimungkinkan) terjadi. Artinya, apa yang diungkapkan dalam dan lewat karya sastra bukan merupakan hasil lamunan atau khayalan belaka. Bahkan istilah fiksi bertolak belakang dengan istilah realitas.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karya fiksi merupakan istilah lain untuk menyebut cerita rekaan. Bahkan istilah prosa dalam pengertian kesastraan sering juga disebut dengan istilah fiksi (fiction).

Jadi wacana fiksi adalah wacana yang mengemukakan dunia imajinasi hasil kreativitas pengarang. Sebagai sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia hidup, dan kehidupan. Wacana fiksi pada dasarnya merupakan hasil pengungkapan kembali berbagai permasalahan yang dialami dan dihayati oleh pengarang. Oleh karena itulah, wacana fiksi dapat diartikan sebagai rangkaian kalimat mengenai kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan, dan rangkaian cerita yang bertolak dari hasil imajinasi pengarang.

Tema yang diusung mengenai berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama, interaksi dengan dirinya sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Bahan yang dijadikan sumber fiksi adalah hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Dengan kata lain, penciptaan wacana fiksi memang bertolak dari kehidupan keseharian. Walaupun untuk ukuran kita sebagai calon penulis pemula, tidak mudah mengungkapkannya, tetapi bagi

para sastrawan hal itu bukan kendala, karena sastrawan adalah manusia-manusia bijak yang mampu menjelajahi sisi-sisi wilayah yang paling dalam dari aspek kehidupan. Seringkali wilayah-wilayah itu tidak dapat digapai oleh masyarakat awam pada umumnya. Meskipun tulisan ini tidak bermaksud mencetak Anda menjadi sastrawan tetapi pengalaman berlatih yang disajikan diharapkan dapat menjadi pemicu tumbuhnya minat pembaca dalam menulis fiksi sederhana.

Lingkup wacana fiksi sederhana yang akan disajikan mengingat tujuan mata kuliah ini memberikan pelatihan bagi kita semua terutama mereka yang ingin belajar menulis yang sampai saat ini belum berani mencoba. Sebagai latihan kiranya sangat baik jika dimulai dari tingkat yang sederhana.

Di samping itu, wacana fiksi sering sarat muatan moral, sosial, dan psikologi. Dengan memahami wacana seperti itu ada kemungkinan orang lebih cepat mencapai kematangan sikap. Pada wacana fiksi pembaca sering diajak memasuki segala macam situasi sehingga setidaknya akan ada orang yang dapat menempatkan diri pada kehidupan yang lebih luas dari pada situasi dirinya yang nyata.

Jadi menulis wacana fiksi adalah kegiatan menciptakan karya tulis berdasarkan hasil pemikiran penulis dengan menggunakan kalimat-kalimat yang susunan serta maknan yang utuh. Kegiatan menulis fiksi ini sering juga disebut kegiatan kreatif, karena tulisan yang dihasilkan adalah utuh hasil pemikiran yang luas dan teliti mengenai sisi kehidupan manusia.

Bentuk Wacana Fiksi

Berdasarkan bentuknya, secara sederhana jenis wacana fiksi dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu

(1) novel yaitu suatu cerita prosa yang fiktif dengan panjang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak, serta adegan kehidupan yang representatif dalam suatu alur atau keadaan.

(2) novelette yaitu berasal dari kata novelette yang diturunkan dari kata novel dengan penambahan sufiks – ette, yang berarti kecil. Dengan singkat dapat dinyatakan bahwa novelet mengandung pengertian novel kecil.

(3) cerita pendek (short story) yaitu penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan tunggal pada jiwa pembaca.

Struktur Pasar Oligopoli;>>>> Baca

Istilah Populer Pasar Modal;>>>> Baca

Disonansi Moral Anak Jaman Sekarang;>>>> Baca

Convention The Rights of The Child;>>>> Baca

Apresiasi Prosa Indonesia;>>>>>>>>> Baca buka semua

Pemda sebagai Organisasi Publik


Pemda sebagai Organisasi Publik

Masalah publik yang dihadapi oleh sebagian besar daerah di Indonesia sampai dengan saat
ini adalah menyangkut kemiskinan, kesenjangan sosial, SARA, tingkat pendidikan yang rendah,
fasilitas umum yang belum memadai, sarana transportasi yang masih terbatas, ketidakpastian hukum
sampai kasus korupsi yang tidak pernah terselesaikan dengan tuntas. Masalah publik tersebut dapat
dikelompokkan menjadi masalah pembangunan fisik dan non fisik. Pembangunan fisik pada
dasarnya mudah dilaksanakan asalkan tersedia dana yang memadai. Di Indonesia, kemiskinan
dianggap lingkaran setan, tidak diketahui dari mana untuk memulai memberantasnya dan bagaimana
mengakhiri bentuk kemiskinan di masyarakat. Pemda selalu kesulitan dalam mengatasi
pengangguran karena masalah pengangguran menyangkut berbagai aspek yang harus diatasi,
seperti lapangan kerja, jumlah penganggur, atau tingkat pendidikan.
Organisasi pemda sebagai sub-sistem dari organisasi negara Republik Indonesia adalah
suatu organisasi publik. Kebanyakan orang menganggap organisasi pemerintah sebagai organisasi
yang besar tapi lamban. Ciri yang melekat pada organisasi publik tersebut menyebabkan apapun
bentuk usaha yang dilakukan pemda untuk memperbaiki kinerja organisasi publik menemui kesulitan.
Hal ini terjadi karena kompleksnya permasalahan yang dihadapi, misalnya bagaimana sistem
penerimaan pegawai baru dapat dilaksanakan secara “fair”, sistem penggajian yang tidak adil, dan
ketidak tepatan penempatan orang sesuai dengan keahliannya.
Sebagian dari kegiatan di sektor organisasi publik tidak dapat dikontrol dengan baik karena
karakter permasalahannya yang rumit atau kompleks dan luas. Selain itu untuk mengikuti perubahan
lingkungan yang sangat cepat, organisasi publik sering kesulitan dibanding organisasi swasta
sehingga organisasi publik akan selalu tertinggal. Walaupun demikian dengan kondisi seperti itu tidak
berarti pemda sebagai organisasi publik tidak perlu berusaha untuk memperbaiki dan
mengembangkan organisasi publik untuk melayani kebutuhan masyarakat. Organisasi pemda tetap
perlu melakukan usaha agar tetap eksis dan dapat melayani masyarakat dengan baik. Hal yang perlu
diperhatikan adalah administrator publik harus tetap memiliki kemauan belajar serta disiplin kerja
yang tinggi dan dilakukan upaya perbaikan secara terus menerus sehingga mampu menyesuaikan
diri dengan perubahan lingkungan.
Organisasi pemda dalam menjalankan kegiatannya tidak terlepas dari budaya birokratis
seperti yang tercermin dari ungkapan “Ikuti prosedur yang berlaku, jangan berbuat macam-macam
supaya Saudara tidak mendapat kesulitan”, “ Saya tidak berwenang menangani perkara itu karena ini
bukan bagian saya”, “ Coba Bapak menghubungi bagian Administrasi terlebih dahulu”, dan “ Untuk
apa kerja lembur, toh gajinya juga sama saja”. Mengapa budaya semacam ini muncul dalam
organisasi pemerintah? Jawabannya adalah karena sebagian besar organisasi pemerintah hidup
dalam budaya birokratis.
Berikut ini lima karakteristik organisasi pemerintah yang birokratis:
1. Pemerintahan diorganisasi secara birokratis
Kegiatan yang menyangkut perencanaan dan pemikiran dipisahkan dari aspek pelaksanaan
dimana fungsi pelaksanaan dibagi serta dikelompokkan menurut fungsi, yang dibagi lagi ke
dalam unit yang lebih kecil. Unit dipisahkan ke dalam pekerjaan yang dirinci dalam tugas yang
lebih khusus. Model kegiatan atau pekerjaan seperti ini sudah menjadi sesuatu yang rutin dan
diterima secara meluas serta dianggap sebagai suatu keharusan, bukan lagi sekedar tanggapan
terhadap suatu permasalahan yang muncul harus diselesaikan. Dampak dari fungsi pelaksanaan
tersebut menyebabkan para pegawai terikat dalam mesin birokratis yang monoton, kaku, serta
menjadi tidak kreatif dan tidak responsif.
2. Sistem penggajian organisasi pemerintah yang tidak memadai
Selain jumlah PNS yang sangat besar, sistem penggajian PNS juga tersentralisasi sehingga
beban Negara untuk membayar seluruh PNS sangat besar dan berat. Sampai sekarang negara
kesulitan untuk menerapkan sistem gaji berdasarkan prestasi sehingga pegawai kurang
tertantang dan tidak termotivasi untuk meningkatkan kinerja. Dengan adanya otonomi daerah
maka pemda sebenarnya dapat menerapkan sistem penggajian berdasarkan prestasi.
3. Organisasi pemerintah memiliki monopoli
Pemerintah memiliki kekuasaan atas rakyatnya sehingga pemerintah juga mempunyai hak
memonopoli sebagian atau semua bidang aktivitas yang ada di wilayahnya. Dengan monopoli
tersebut maka pemerintah hanya mendapat tekanan pengaruh yang kecil dari masyarakat,
pelanggan, atau pesaingnya. Monopoli biasanya bersifat negatif di mana hal tersebut dapat menyebabkan hampir tidak adanya konsekuensi apapun terhadap kinerja yang dilakukansehingga mereka lebih memfokuskan perhatian ke dalam, pada diri mereka sendiri (inward looking).
4. Organisasi pemerintah bersifat non profit.
Kegiatan pelayanan umumnya tidak dilakukan oleh organisasi swasta. Pegawai pemerintah lebih
memperhatikan status birokratis, jabatan, kepangkatan, dan anggaran yang tersedia daripada harus memikirkan misi organisasi serta pencapaian hasil kerjanya. Pegawai negeri memperoleh gaji bukan karena prestasi kerja tapi karena lebih sekedar kepantasan yang diberikan pemerintah
sebagai suatu kewajiban untuk membayar pegawai. Jika pemerintah membayar kurang pantas disebabkan karena anggaran yang tidak mencukupi.
5. Organisasi pemerintah diorganisasi dalam hirarki berlapis
Dalam bidang kepegawaian maka aturan kepangkatan akan menentukan wewenang, jabatan, gaji, dan peluang karir. Pada bidang tersebut terdapat kelompok orang yang memberi perintah dan yang melaksanakan perintah. Semakin tinggi jabatan seseorang akan diikuti dengan
semakin tingginya kewenangan memberi perintah. Pegawai pemerintah cenderung takut
melakukan pekerjaannya dan takut berbuat salah. Mereka terbiasa dalam lingkungan kerja yang
menunggu perintah dari pimpinan. Jika mereka ingin mengubah sesuatu atau memiliki inisiatif dalam bekerja maka mereka harus meminta ijin terlebih dahulu kepada atasannya. Dalam birokrasi pemerintah, seorang atasan pada umumnya kurang menginginkan bawahannya memiliki kreatifitas tinggi yang melebihi dirinya karena takut tersaingi. Dalam organisasi pemerintah, orang yang kurang pandai memungkinkan menduduki suatu jabatan dimana dia
dapat memerintah bawahan yang mungkin lebih pandai karena faktor kedekatan dengan pimpinan.
Faktor (politik, hirarki, dan monopoli) tersebut menumbuhkan budaya organisasi yang kurang menguntungkan organisasi pemda. Para pegawai cenderung saling menyalahkan satu sama lain, saling melempar tanggung jawab, kurang berinisiatif, kurang bertanggung jawab, tidak bertindak untuk menyelesaikan permasalahan. Situasi dan kondisi kerja tersebut membuat pegawai takut salah sehingga menghambat kreatifitas dan inovasi kerja. Padahal perubahan yang terjadi di luar sangat dan kompleks serta berlangsung dengan cepat.
Dalam rangka pembenahan kelembagaan birokrasi organisasi pemda, enam hal yang perlu
mendapat perhatian adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas SDM pemda melalui program pendidikan dan pelatihan dengan rencana
pengembangan dan pola karir yang jelas bagi para pegawai. Organisasi yang memiliki SDM
berkualitas akan mudah melakukan perencanaan dan pengembangan organisasi.
2. Menyederhanakan struktur organisasi pemda dengan mengembangkan jabatan fungsional yang
mengarah kepada spesialisasi dan prestasi. Perlu dikembangkan indikator dan parameter yang
jelas bagi pelaksana sebagai panduan dalam reorganisasi sehingga terdapat ukuran yang jelas
dalam rangka melakukan penyederhanaan dan penertiban organisasi.
3. Menyusun berbagai prosedur kerja yang standar (standard operating procedure – SOP) dalam
berbagai bidang pekerjaan sehingga organisasi pemda mempunyai pedoman tetap sebagai acuan kerja para pegawai, sehingga kegiatannya tidak tergantung pada seorang pejabat. Adanya SOP memungkinkan berlangsungnya sistem kerja yang mantap walaupun pejabat berganti.
4. Mengembangkan sistem jaringan kerja (network) yang baik di dalam organisasi atau antar
organisasi pemda dengan institusi lain dengan landasan informal relations sehingga mendorong berkembangnya mekanisme kerjasama yang bersifat saling menguntungkan (mutual adjustment) serta dapat memperlancar arus pekerjaan.
5. Mengembangkan sistem kader pimpinan yang baik sedini mungkin untuk menempati jabatan
atau posisi penting dalam organisasi pemda. Posisikunci yang akan ditempati tersebut harus
dilaksanakan berdasarkan sistem prestasi kerja, diikuti dengan pengakuan, dan penghargaan
bagi yang berprestasi dan menindak bagi yang melanggar atau melakuan penyimpangan.
6. Mengembangkan keterbukaan dan meningkatkan peran

Tulisan di atas merupakan cuplikan dari naskah laporan penelitian
berjudul “ORGANISASI PEMERINTAH DAERAH: MEWUJUDKAN TATA PAMONG YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE ) karya Darmanto jika anda ingin memiliki file selengkapnya silakan klik berikut
Download DI SINI

Melatih Tanggung Jawab;>>>> Baca

Pendekatan kuantitatif;>>>> Baca

Komunikasi Interpersonal;>>>> Baca

Contoh Judul Skripsi bagian 3;>>>> Baca

Metodologi Analisis Kesalahan Berbahasa;>>>>>>>>> Baca buka semua

Interaksi Sosial Antara Guru dengan Murid dalam Kegiatan Kurikuler dan Kaitannya dengan Peningkatan Prestasi Belajar

Interaksi Sosial Antara Guru dengan Murid dalam Kegiatan Kurikuler dan Kaitannya dengan Peningkatan Prestasi Belajar

Oleh Sudjarwo
Pendahuluan
Semenjak manusia dilahirkan akan tumbuh dan berkembang dengan melalui interaksi sosial yang mereka kembangkan. Oleh sebab itu banyak ahli sosiologi mengatakan bahwa inti proses sosial ada pada interaksi sosial. Pada saat itu pula secara berangsur-angsur mulai tumbuh pengenalan akan norma. Norma tersebut antara lain adalah norma sosial, norma keluarga, norma agama (Judistira Ghrama, 1991:4). Norma-norma tadi sebenarnya dapat digeneralisasikan hampir sama pada setiap masyarakat manusia. Hanya yang membedakan adalah nilai-nilai yang melekat.
Pada norma tersebut (Soedjatmoko, 1973:30). Pokok utama pengenalan norma tadi kebanyakan melalui inteaksi sosial. Sebagao contoh kongkrit tentang norma; seseorang dapat dikategorikan berhasil dalam pendidikan formal apabila telah memenuhi tuntutan norma yang melekat. Norma tersebut antara lain lulus ujian pada tingkat tertentu, atau pada jenjang pendidikkan tertentu yang dituntutnya. Norma ini juga akan mengiring seseorang pada tataran/jenjang tertentu dalam proses pendidikan.
Norma pendidikan serupa ini ditegaskan oleh Harahap (1979:17) bahwa norma itu merupakan kriteria atau ukuran tentang sesuatu untuk menentukan sesuatu itu buruk, baik, gagal atau berhasil. Kaitannya dengan dengan tugas guru, berarti guru yang juga bertugas memberikan penilaian, ini berarti juga menerapkan norma pada sesuatu. Sesuatu tadi diantarnya proses hasil belajar. uraian tersebut jika didefenisikan secara padat itulah disebut prestasi belajar. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa prestasi belajar siswa merupakan hasil akhir dari suatu rangkaian proses kegiatan yang merupakan interaksi sejumlah komponen Belajar-Mengajar dengan diri siswa. Kemudian dihubungkan dengan norma tertentu yang distandardisir serta terukur.
Adapun yang termasuk dalam komponen Belajar-Mengajar dari pihak guru ialah, intensitas guru memberikan pelajaran, cara atau metoda mengajar, bimbingan yang diberikan guru sehingga terjadi proses pemahaman dalam belajar. Surahmad (1973:162) lebih jauh menjelaskan bahwa pemahaman belajar itu akan terbentuk apabila:
(1) belajar terjadi dalam kondisi yang berarti secara individual !
(2) adanya interaksi sosial yang intens antara guru dengan murid!
(3) hasil pelajaran adalah kebulatan tingkah laku,
(4) siswa menghadapi secara pribadi,
(5) belajar adalah mengalami.
Berkaitan dengan point dua di atas maka keputusan pemerintah untuk mengembangkan konsep kokurikuler dalam kegiatan Proses Belajar-Mengajar adalah suatu yang tepat. Sebab interaksi sosial paling dimungkinkan dalam rangka pengembangan tugas-tugas kokurikuler. Adapun pengertian kokurikuler sendiri diartikan sebagai kegiatan diluar jam pelajaran biasa yang bertujuan agar siswa lebih mendalami dan menghayati apa yang dipelajarinya pada kegiatan intrakurikuler baik program inti maupun program khusus (Team Penyusun Instruksional Dirjen Dikdasmen, 1985:1). Dengan kegiatan kokurikuler ini akan terjalin interaksi sosial antara guru dan murid, sehingga terbentuklah suasana belajar yang kondusif.
Lebih lanjut dalam petunjuk teknis dijelaskan bahwa kegiatan kokurikuler hendaknya dilaksanakan secara perorangan atau kelompok berupa penugasan yang menjadi pemasangan penugasan tatap muka. Oleh sebab peran interaksi sosial antara guru dengan murid untuk mengembangkan tugas-tugas kokurikuler menjadi begitu penting. Ini dapat dilihat dari porsi waktu yang diberikan untuk kegiatan kokurikuler, seperti yang tertuang dalam Juknis Dikdasmen (1985:3) bahwa banyaknya waktu kegiatan kokurikuler adalah stengah kali kegiatan tatap muka perminggu. Jika guru mampu memanfaatkan pola-pola hubungan interksional dengan muridnya melalui media kokurikuler ini, maka tidak mustahil wibawa guru akan terbentuk. Kewibawaan ini muncul karena murid mengalami sendiri peran bimbingan guru. Kewibawaan sendiri dalam proses belajar-mengajar adalah sesuatu yang diperlukan.
Interaksi Sosial
Peluang seperti ini jika dilihat secara mendalam dengan menggunakan kacamata teori fiducary yang dikemukakan oleh Tallcot Parsons (1978:12), ternyata bahwa medan interaksi sosial dapat membangun kedekatan jarak ini akan membuahkan tingkat keintiman antara pelaku sosial. Dengan keadaan demikian ini berakibat pada sikap saling terbuka untuk saling memahami, saling menghayati antara satu dengan yang lain. Munculnya pemahaman ini karena munculnya empaty antara guru dengan muridnya. Empaty yang dikemukankan mampu merasakan yang orang lain rasakan, adalah suatu tataran tingkat tinggi dari proses sosial melalui interaksi sosial.
lebih jauh teori fiducary menggambar bahwa pada saat orang berinteraksi jika digambarkan akan diperoleh gambaran sebagai berikut



Individu A berinteraksi dengan individu B akan membentuk bangun medan fiducary (C). Semakin inten pergaulan antara A dan B akan semakin melebar medan fiducary. Walaupun tidak mungkin secara signifikan penuh membentuk medan tersebut.
Pada medan fiducary itu dinamika interaksi sosial berlangsung. Oleh sebab itu Soekamto (1990:67) mengatakan proses sosial. Lebih lanjut dijelaskan muatan yang ada dalam medan fiducary ini ialah adanya proses imitasi, sugesti, identifikasi, simpati. Muatan tersebut bisa berjalan sendiri-sendiri atau secara bersamaan. Asalkan dua syarat harus dipenuhi yaitu, (1) adanya kontak sosial yang terus menerus dan, (2) ada komunikasi yang terus menerus. Kegiatan belajar-Mengajar antara guru dengan siswanya merupakan salah satu bentuk kontak sosial yang terus menerus. Kontak sosial ini akan terus terbangun jika komunikasi yang mereka kembangkan juga akan berlangsung secara terus menerus. Kontak sosial yang hanya dibangun pada saat kegiatan kurikuler, belum begitu cukup untuk membentuk medan fiducary yang bermakna dalam pendidikan. Melalui kegiatan kokurikuler, diharapkan akan menambah frekuensi dan makna interaksi sosial, sehingga proses pendidikan untuk menuju kekedewasaan yang mandiri akan segera tercapai.
Pembahasan
Seperti telah disinggung bahwa proses pendidikan berlangsung bahwa proses pendidikan berlangsung atas dasar proses kontak sosial yang berjalan terus menerus juga komunikasi yang terus menerus. Pada proses ini berlangsung transfer ilmu pengetahuan, perilaku, dan sikap sosial. Wujud nyatanya secara sosiologis dapat berawal dari simpati sugesti, identifikasi dan imitasi.
Pendidikan formal yang berlangsung secara non formal melalui kegiatan kokurikuler, akan mempermudah terbentuknya kontak sosial yang menciptakan medan fiducary, dengan seluruh muatannya. Akibat lanjut proses pendidikan akan berjalan menjadi akan berjalan menjadi begitu alami. Keadaan ini akan menjadi semakin baik lagi manakala guru tetap pada koridor gezah. Oleh Langeveld (Mustopa, Achyat, 1978:12) di jelaskan bahwa gezah-lah yang membedakan pergaulan biasa dengan pergaulan pendidikan pergaulan yang bermuatan gezah ini pergaulan yang penuh tanggung jawab antara guru dan murid. Prosesnya penuh dengan muatan pembentukan watak dan kepribadian.
Kepatuhan murid terhadap guru bukan kepatuhan karena takut, akan tetapi kepatuhan karena keprofesionalan guru. Hubungan keprofesionalan ini begitu kental manakala guru mampu menunjukkan dan membimbing muridnya kepada langkah-langkah pendidikan yang telah diprogramkan. Sekaligus dalam hal ini guru menjadi pengasuh agar murid mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perjalanan kodrat manusianya.
Hubungan sosial demikian sangat diperlukan pada dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang penuh muatan interaksi sosial, menjadi sangat positif apabila ada keseimbangan dalam pola hubungan. Pola keseimbangan dimaksud adalah pola hubungan timbal balik yang berlaku dua arah, dalam arti pada posisi tertentu murid dapat bermitra dengan gurunya. Kemitraan dimaksud dalam rangka proses pendidikan. Kemitraan guru dan murid ini dalam pendidikan diwadahi dalam kegiatan kokurikuler.
Hasil penelitian yang dilakukan khusus mengenai kegiatan kokurikuler pada mata pelajaran Bahasa Inggris di SLTP (Sudjarwo, 1993), menunjukan bahwa siswa yang memiliki frekuensi tinggi berhubungan dengan gurunya, memiliki kesempatan yang banyak untuk mempraktekkan bahasa yang dipelajarinya. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan interaksi sosial dengan guru akan mengakibatkan berpeluang besar untuk membesarkan medan fiducary.
Atas dasar itu, maka proses interaksi sosial yang bermuatan pendidikan akan terjadi dengan munculnya proses sosialisasi. Termasuk dalam proses ini meliputi antara lain;
a. Kerjasama
Kerjasama yang diberi makna oleh Soekamto (1990:79) sebagai suatu usaha bersama antara perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.
Kondisi ini jika dilihat di dunia pendidikan,maka kegiatan kokurikuler merupakan media untuk membangun hubungan kerja sama antara guru dengan murid dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
b. Akomodasi.
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti ( Soekamto,1990:82 ) yaitu untuk menunjukkan pada suatu keadaan, dan menunjukan pada suatu proses. Akomodasi yang menunjukan pada suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara para pelaku interaksi dengan nilai-nilai sosial atau norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Akomodasi sebagai suatu proses menunjukan pada usaha-usaha pelaku interaksi untuk meredakan sutu pertentangan karena ketidak sepahaman,guna mencapai suatu kestabilan.
Akomodasi pada paparan ini lebih mengacu kepada akomodasi dalam bentuk proses. Melalui kegiatan kokurikuler diharapkan terbentuk saling pengertian antar guru dengan murid sesuai dengan posisi masing-masig.Pertentangan karena ketidak tahuan keadaan diri pada masing-masing pelaku interaksi. Dapat terjembatani oleh karena adanya kegiatan kokurikuler antara guru dengan murid.
DEngan demikian kegiatan kokurikuler sbenarnya memiliki nilai positif jika dilihat dari aspek proses Belajar- Mengajar.Karena mendudukan guru dan murid pada gari sejajar.
Maksudnya adalah proses belajar-mengajar adalah proses mengorganisir lingkungan kemudian menghubungkannya dengan nak didik sehingga terjadi proses belajar.Proses mengorganisir lingkungan kemudian menghubungkannya dengan murid adalah pekerjaan pendidikan yang cukup sulit.
Guru dituntut untuk selalu jeli dalam rangkamempilah,lingkungan yang bagaimana yang harus diciptakan sehingga kemudian akan menjadikan proses pendidikan berlangsung.Proses penciptaan lingkungan sendiri sudah harus dikaitkan dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. Kedua hal tersebut tidak dapat diabaikan atau ditinggalkan sama sekali.Mengelola keduanya untuk dapat dikaitkan dengan murid sehingga terjadi proses sosialisasi nilai.
Proses sosialisasi nilai-nilai edukatif akan sangat besar peluangnya untuk terjadi jika dilaksanakan dengan pola kokurikuler.Oleh sebab itu kegiatan kokurikuler sangat menunjang untuk dapat menjadikan program pengairan diterima oleh murid.
Dengan demikian itu wujud pengorganisiran lingkungan menjadi bermakna secarasosiologis apabila ada manfaat yang dapat diambi oleh siswa.Manfaat tersebut untukjangka panjang akan membawa murid mencapai kedewasaan yang mandiri.
Kesimpulan
Kegiatan kokurikuler yang dikembangkan untuk proses belajar, adalah suatu yang sangat tepat jika diterapkan secara terprogram. Aktivitas kokurikuler akan berhasil dengan baik manakal guru mampu memprogram kegiatan kokurikuler dengan cara mengoptimalkan potensi yang dimilikioleh siswa. Potensi tersebut meliputi; keinginan untuk berhubungan dengan orang lain,mengaktualisasikan dirinya dengan dunia ,melalui bimbingan guru.
Dengan melaksanakan kegiatan kokurikuler tersebut pekerjaan guru menjadi semakin berat.Diakui bahwa mendesain kegiatan kokurikuler memerlukanpelatihan dan kesiapan yang tidak mudah. Namun demikian jika sistem ini diterapkan sekalipun minimal, maka akan dapat dirasakan dampaknya terhadap kemajuan belajar para murid.

Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 1990. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bina Aksara. Jakarta.
Mustofa, Achyat. 1978. Pembinaan dan Pembangunan Kurikulum. Arixon. Palembang.
Harahap, Nasrun. 1979. Evaluasi Pendidikan. Maarif. Surabaya.
Judistira Gharna. 1991. Perubahan Sosial. Pascasarjana Unpad. Bandung
Soedjatmoko. 1984. Dimensi Manusia Dalam Pembangunan. PK3ES Jakarta.
Soerjono Soekamto. 1990. Pengantar Sosiologi. Rajawali Press. Jakarta
Surakhmad, Winarno. 1974. Dasar dan teknik Interaksi Mengajar Belajar. Tarsito. Bandung.
Sudjarwo. 1997. Bahasa Inggris dan Kokurikuler. Lemlit,\. Unila
Tallcot Parsons. 1978. Sociology. Alfred A Knof. New York.
Tim Dirjen Pendidikan Dasa dan Menengah Umum. 1985. Tujuan Instruksional. jakarta.

Struktur Pasar Oligopoli;>>>> Baca

Analisis Kesalahan Diksi pada Karangan Siswa Bab 1;>>>> Baca

Disonansi Moral Anak Jaman Sekarang;>>>> Baca

KONSEP-KONSEP POKOK DALAM PENELITIAN POLLING;>>>> Baca

CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA;>>>>>>>>> Baca buka semua

Novel Kubah Karya A. Thohari


Novel Kubah Karya Ahmad Thohari

Dia tampak amat canggung dan gamang. Gerak-geriknya serba kikuk sehingga mengundang rasa kasihan. Kepada Komandan, Karman membungkuk berlebihan. Kemudian dia mundur beberapa langkah, lalu berbalik. Kertas-kertas itu dipegangnya dengan hati-hati, tetapi tangannya bergetar. Karman merasa yakin seluruh dirinya ikut terlipat bersama surat-surat tanda pembebasannya itu. Bahkan pada saat itu Karman merasa totalitas dirinya tidak semahal apa yang kini berada dalam genggamannya. Sampai di dekat pintu keluar, Karman kembali gagap dan tertegun. Menoleh ke kiri dan kanan seakan ia merasa sedang ditonton oleh seribu pasang mata. Akhirnya, dengan kaki gemetar ia melangkah menuruni tangga gedung Markas Komando Distrik Militer itu. Terik matahari langsung menyiram tubuhnya begitu Karman mencapai tempat terbuka di halaman gedung. Panas. Rumput dan tanaman hias yang tak terawat tampak kusam dan layu. Banyak daun dan rantingnya yang kering dan mati. Debu mengepul mengikuti langkah-langkah lelaki yang baru datang dari Pulau B itu. Dari jauh Karman melihat lapisan aspal jalan raya memantulkan fatamorgana.
Atap seng gedung olahraga di seberang jalan itu berbinar karena terpanggang panas matahari. Karena kegamangan belum sepenuhnya hilang, Karman berhenti di dekat tonggak pintu halaman. Tubuhnya terpayungi oleh bayang pohon waru yang daundaunnya putih karena debu. Karman makin terpana. Dua belas tahun yang lalu suasana tak seramai itu. Mobil-mobil, sepeda motor, dan kendaraan lain saling berlari serabutan. Anak-anak sekolah membentuk kelompok-kelompok di atas sepeda masing-masing. Mereka bergurau sambil mengayuh sepeda. Dan semua bersepatu serta berpakaian baik, sangat berbeda dengan keadaan ketika Karman belum terbuang selama dua belas tahun di Pulau B.
Karman masih terpaku di tempatnya. Kedua matanya disipitkan. Dilihatnya banyak gedung baru bermunculan. Gedung-gedung lama dipugar atau diganti sama sekali. Oh, kota kabupaten ini benar-benar sudah berubah, pikirnya. Dan anehnya perubahan yang tampak merata di depan mata itu membuat Karman merasa makin terasing. Sangat jelas terasakan ada garis pemisah yang tajam antara dirinya dengan alam sekitar. Ia merasa tidak menjadi bagian dari bumi dan lingkungan yang sedang dipijaknya. Karman merasa dirinya begitu kecil; bukan apa-apa. Semut pun bukan.
“Ya, tentu saja. Aku kan hanya seorang bekas Tapol, tahanan politik!” begitu Karman
berkali-kali meyakinkan dirinya. Lelaki itu masih belum mampu beringsut dari bawah bayangan pohon waru. Ia tidak sadar, Komandan Kodim memperhatikarmya dari dalam gedung. Pak Komandan menduga ada sesuatu yang menyebabkan lelaki itu tidak bisa segera meneruskan perjalanan ke kampungnya. Padahal surat-surat resmi sebagai bekalnya kembali ke tengah masyarakat sudah cukup. Sudah lengkap. Pak Komandan tahu pasti. Maka perwira itu menggapai ajudannya.
“Temui orang yang baru tiba dari Pulau B itu. Dia masih berdiri di pintu halaman.
Suruh dia cepat meneruskan perjalanan. Atau berilah dia dua ratus rupiah, barangkali
ia kehabisan bekal.”
“Siap!” Ajudan keluar, langsung melangkah ke arah Karman yang masih berdiri, bingung karena tak yakin apa yang sebaiknya dia lakukan. Kesadaran Karman benar-benar sedang berada di luar dirinya. Maka ia tak mendengar suara langkah sepatu tentara yang sedang mendekat. Ketika ajudan yang berpangkat sersan itu menepuk pundaknya, Karman terkejut. Darah langsung lenyap dari wajahnya. Sikap santun Pak Sersan tak mampu menepis rasa takut yang mendadak mencengkeram hati Karman.
“Atas perintah Komandan, saya menemui Anda. Surat-surat pembebasan Anda
sudah lengkap. Kata Komandan, sebaiknya Anda segera meneruskan perjalanan.
Apabila uang jalan sudah habis, Komandan memberikan ini untuk Anda.”
Karman sedikit pun tidak memperhatikan lembaran uang yang ditawarkan oleh sersan itu. Ia masih tercengang. “Oh, untunglah Komandan bukan memanggilku untuk diperiksa kembali,” pikir Karman. Bibirnya gemetar. Setelah detak jantungnya mereda, Karman berkata tergagap.
“Oh. Terima kasih. Anu. Baik. Baiklah. Saya akan meneruskan perjalanan. Terima
kasih. Uang jalan saya masih ada.”
Dengan cara menekuk punggung dalam-dalam, Karman memberi hormat kepada Pak Sersan. Kemudian ia memutar tubuhnya dan berjalan beberapa langkah sampai ke gili-gili. Dan berhenti. Termangu. Lalu-lintas di hadapannya terlalu sibuk dan asing baginya. Namun ia harus menyeberang.
Dari depan gedung Kodim, Karman berjalan ke barat mengikuti iring-iringan orang banyak. Karman, meski ukuran tubuhnya tidak kecil, saat itu merasa menjadi rayap yang berjalan di antara barisan lembu. Ia selalu merasa dirinya tak berarti,
bahkan tiada. Demikian, pada hari pertama dinyatakan menjadi orang bebas, Karman
malah merasa dirinya tak berarti apa-apa, hina-dina. Waktu berjalan ke barat sepanjang gili-gili itu Karman sebenarnya amat tersiksa. Tatapan mata sekilas orangorang yang kebetulan berpapasan terasa sangat menyiksa. Oh, andaikan ada secuil tempat untuk bersembunyi, mungkin Karman akan menyelinap ke sana. Karman akan menyembunyikan diri karena pembebasan dirinya belum mampu mengembalikan dia dari keterasingan. Dan tak lama kemudian lelaki berusia 42 tahun itu mendapatkan apa yang diinginkannya, sebuah tempat yang enak untuk duduk, di bawah pohon beringin
alun-alun Kabupaten.
Sudah beberapa saat lamanya matahari memasuki langit belahan barat. Di sebuah sudut jalan, seorang penjaja rokok terkantuk-kantuk, punggungnya tersandar pada dinding gardu listrik. Dua orang tukang becak bahkan sedang meringkuk lelap di atas jok kendaraan masing-masing. Dan yang sedang duduk menghitung uang recehan adalah seorang lelaki penjual makanan kecil. Bunyi kericik uang aluminium mungkin terdengar bagai suara gambang di mata lelaki itu. Merdu dan penuh arti.
Dari dalam kerimbunan beringin terdengar kicau burung-burung. Ria dan gembira. Unggas-unggas kecil itu meluruhkan buah beringin. Di atas tanah, ratusan butir buah beringin jatuh dan pecah berserakan.
Karman duduk di atas sebuah tonjolan akar. Di sampingnya ada gulungan kertas yang berisi kain sarung, dan masing-masing selembar baju dan celana tua. Itulah semua hartanya yang ia bawa kembali dari Pulau B. Angin bergerak ke utara menggoyangkan daun-daun tanaman hias di halaman Kabupaten. Seorang perempuan muda berjalan dan melintas di hadapan Karman. Alisnya, matanya, sangat mengesankan. Oh, tungkainya enak dipandang. Dan bibirnya. Bibir seperti itu gampang mengundang gairah lelaki. “Mungkin dia seorang guru sekolah,” piker Karman yang merasa jantungnya berdebar lebih keras. “Bila guru secantik itu, setiap murid lelaki akan betah tinggal di kelas.” Oh, Karman tersenyum. Dan kaget sendiri ketika menyadari kelelakiannya ternyata masih tersisa pada dirinya.
Keramaian kota sedang surut. Beringin besar di pojok alun-alun itu seakan memayungi wilayah kecil yang sepi dan sejuk. Maka siapa pun yang berada di sana bisa duduk terkantuk atau bahkan lelap dalam mimpin. Tetapi Karman tidak.
Karman sama sekali tidak terpengaruh oleh kesejukan di pojok alun-alun itu dan pikirannya sudah lebih dulu melayang sampai ke kampungnya, tiga puluh kilometer dari tempat di mana kini ia duduk. Boleh jadi Pegaten, kampung halamannya, juga sudah banyak berubah. Boleh jadi semuanya menjadi bertambah baik di sana. Tetapi Karman tidak tertarik untuk memikirkannya. Yang sedang menguasai seluruh lamunan Karman adalah Parta, seorang teman sekampung. Tujuh tahun yang lalu, ketika Karman masih menjadi penghuni pulau buangan, Parta menceraikan istrinya dan kemudian mengawini Marni. Meskipun sudah punya tiga anak, Marni memang lebih cantik daripada istri Parta yangdiceraikan. Hal ini tidak akan dibantah oleh siapa pun di Pegaten, tidak juga oleh Karman. Juga, semua orang percaya bahwa kecantikan Marni adalah sebab utama mengapa Parta sampai hati melepas istri pertamanya…..
Tulisan di atas cuplikan dari Novel Kubah karya Ahmad Thohari untuk membaca selengkapnya silakan download klik berikut
Download Tulisan Lengkap Novel KUBAH

Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran;>>>> Baca

Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya;>>>> Baca

Penguatan, Variasi dan Ketrampilan Menjelaskan dalam Mengajar;>>>> Baca

Hakikat dan Teknik Bertanya dalam Mengajar;>>>> Baca

Kumpulan Link Artikel yang lain;>>>>>>>>> Baca buka semua

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 308 pengikut lainnya.